BELAJAR MEMAHAMI APA YANG TERJADI PADA DIRI KITA DAN/ATAU PADA SEKITAR

Allahuma shali ala Muhammad wa ala ali Muhammad wa salam

BELAJAR MEMAHAMI APA YANG TERJADI PADA DIRI KITA DAN/ATAU PADA SEKITAR

Supaya bisa memahami prinsipnya, kita akan memakai analisa analogi lagi. Sebuah penyederhanaan. Ibarat sebuah proyektil yang dilemparkan dari asalnya, di sini kita bisa mengetahui bagaimana keadaan proyektil tadi di mana posisinya di ruang pada setiap saat, kalau kita tahu kondisi awal dan kondisi perbatasan. Kondisi awal (initial conditions) yaitu : diarahkan kemana dan didorong dengan daya dorong berapa besar. Kondisi perbatasan (boundary condition), yaitu gaya gaya yang berpengaruh pada proyektil itu dalam lintasannya, yaitu : gravitasi, hambatan udara. Yang kedua ini tergantung kepada bentuk proyektil dan temperatur dan tekanan udara.

Bagaimana dengan perjalanan hidup kita? Kitapun memiliki kondisi awal tertentu. Ketika masih di alam ruh, kita sudah diberi nama yang menunjukkan tugas kita apa. Kemudian ruh kita ditiupkan ke calon bayi didalam rahim ibu kita. Ini alam pre natal (sebelum kelahiran). Kita akan berada di keluarga tertentu, yang ditugaskan untuk membesarkan dan memelihara kita. Selama dalam kandungan kita telah mengalami kondisi perbatasan, yaitu perlakuan ibu kita sejak kita masih dikandungnya. Perlakuan ibu kita kepada bayi dalam kandungan, tergantung kepada kondisi awal ibu, kondisi awal ayah, kondisi perbatasan ibu, kondisi perbatasan ayah.

Kondisi perbatasan itu apa saja ya? Itu menggambarkan  hubungan kita dengan sekitar dan hubungan kita dengan Allah. Hubungan ini diatur oleh Hukum Allah dan hukum positif dan tradisi atau kebiasaan yang berlaku di dalam masyarakat yang dimaksud. Itu semua menjadi kondisi awal bayi, termasuk apakah dia lahir alamiah atau lahir cesar. Karena Allah berkuasa atas segala sesuatu, maka semua boundary yang berhubungan dengan kita juga dalam pengawasan Allah. Ada orang yang berbuat buruk kepada kita, itupun atas sepengetahuan Allah. Ada mereka yang berbuat baik kepada kita, itupun demikian. Ada gempa bumi yang menimpa kita atau bencana alam lainnya, itupun tak luput dari pengawasan Allah. Urusan bisa lancar ataupun urusan tersendat, juga terjadi atas pengawasan Allah. Artinya boundary kita itu bisa direduksi menjadi hanya urusan antara kita dengan Allah.

Jadi jika seseorang berbuat buruk kepada kita. Sebetulnya orang itu hanya digunakan Allah untuk menguji atau mengajari kita. Jika seseorang berbuat baik kepada kita. Sebetulnya orang itu hanya digunakan Allah untukmemberi hadiah kepada kita. Begitulah apapun yang terjadi kepada kita, anggap saja sebagai pelajaran dan sekaligus ujian. Sedang apa yang terjadi pada sekitar kita (atau orang lain), itu adalah sebagai pelajaran bagi kita.

Saya jadi ingat ketika anak anak masih kecil kecil, kami sekeluarga melakukan perjalanan darat Jakarta – Denpasar pp. Berangkat lewat Pantai Utara, pulang lewat Pantai Selatan. Waktu berangkat kami mampir menemui mbah Jamil di Pemalang (Auliya Allah yang pernah saya sebut dalam cerita lain). Pulangnya mampir di tempat kiai Marzuki di Imogiri. Pak Mustafa pernah bilang kalau lewat di kaki Imogiri jangan lupa mampir menjenguk  kiai Marzuki, seorang Auliyya Allah juga kata Pak Mustafa. Itu yang saya lakukan saat itu. Setelah mengunjungi makam Raja2 Mataram, kami bermaksud bertanya pada penduduk lokal yang lewat, di mana kiranya pesantren kiai Marzuki. Orang pertama yang kami tanyai langsung menawarkan diri untuk mengantar kami. Katanya dia (seorang berusia sekitar 35 tahun) adalah salah seorang santri kiai Marzuki.

Sesampainya di tempat kiai Marzuki, kami dapati beliau sedang bersama tamunya, seorang wanita (ibu ibu) di ruang kelas yang besar. Kami menunggu di ruang itu juga, hanya menjauh. Setelah tamunya pergi saya mendekat diantar santrinya tadi. Isteri dan anak anak duduk agak jauh. Kiai Marzuki bertanya ada keperluan apa. Saya bilang hanya mau silaturahim saja. Saya juga bilang beberapa hari lalu kami juga mengunjungi mbah Jamil dari Pemalang, teman beliau. Dia lalu melambaikan tangan agar saya mendekat duduk di sebelahnya, di bangku panjang itu.

Setelah saya duduk didekatnya, kiai Marzuki lalu memberi nasihat saya tentang kehidupan ini, sambil tangannya menjewer kuping saya yang dekat beliau. Dikatakan bahwa memang pemerin tahan pak Soeharto ini sewenang wenang, tetapi ada juga baiknya. Jadi janganlah saya menengok apa yang dilakukan orang lain saja, katanya kepada saya. Jalanilah hidupmu sendiri dengan sebaik baiknya. Begitulah garis besar nasihatnya. Lama lama kuping saya terasa panas juga dijewer terus selama pak kiai memberi saya nasihat. Maka saya mohon maaf minta interupsi sebentar, apakah saya bisa pindah duduk, sehingga pak kiai bisa menjewer kuping saya yang satu lagim sehingga seimbang. Alhamdulillah, dia ijinkan usul saya itu. Demikianlah  setelah merasa cukup, pak kiai menyuruh kami pamit. Santrinya tadi ikut kami lagi sampai ke tempat tadi dia kami temui awalnya. Dia nampak heran dan semacam iri kepada saya. Mengapa? Rupanya menurut dia kiai Marzuki itu kalau menyayangi seseorang pasti orang tadi dijewer telinganya. Saya yang baru saja bertemu sudah dijewer hampir satu jam. Padahal dia sudah nyantri selama hampir lima belas tahun, belum pernah dijewernya. Ada ada saja.

Kembali ke pokok bahasan, seorang bayi lahir dan tumbuh sampai aqil baliq, dia belum dianggap bertanggung jawab terhadap Hukum Allah dan Hukum Masyarakat (Negara). Baru setelah dia mencapai aqil baliq dia dianggap urusan, dia bisa dimintai tanggung jawabnya. Namun pelaksanaan Hukum Allah pada umumnya ditangguhkan, sampai di Hari Akhir. Dan beberapa kesalahan dan dosa yang terpilih boleh jadi ditukar dengan hukuman ringan, misalnya sakit atau kehilangan sesuatu yang disayangi, dsb. Artinya hak atau rezeki mereka yang melanggar Hukum Allah tidak serta merta dihapus atau dikurangi dengan adanya kesalahan itu. Allah tidak membodohi (mendzalimi) manusia.

Menurut pemahaman saya ini, yang berpengaruh langsung di dalam kehidupan ini adalah Hukum Syukur dan Shabar, sedang skor nya mengikuti penilaian yang terkandung dalam Surat wal Ashr..

Dengan disajikan dalam bentuk algorithme seperti ini, kita bisa lebih meyakini bahwa apapun yang terjadi kepada kita masing masing adalah yang terbaik, sesuai dengan initial and boundary conditions yang terkait diri kita masing masing. Apakah itu terasa sebagai hal yang buruk ataupun hal yang baik, itulah yang terbaik yang dapat terjadi. Mengapa? Karena Allah berkuasa atas segala sesuatu, Dia melihat dan memahami setiap masing masing kita ini. Dan adalah mustahil Allah berbuat kurang dari the best (yang terbaik).

Setelah kita meyakini bahwa apapun yang terjadi kepada kita adalah yang terbaik, sesuai dengan initial and boundary conditions kita masing masing, maka kita tinggal mencoba memahami apa yang terjadi itu. Hanya ada dua macam kejadian : yang baik dan yang buruk. Dan kedua dua hal itu statusnya adalah sama : keduanya adalah pelajaran dan sekaligus ujian buat kita, baik yang buruk ataupun yang baik.

Dan kalau semua yang terjadi bisa direduksi hanya sebagai pelajaran dan cobaan dari Allah untuk kita, maka kita tetap bisa mendapat manfa’at dari kedua jenis ujian itu. Dan itu semua hanya terletak pada penilaian Nya apakah kita bersikap Syukur dan Shabar menghadapi yang terjadi pada diri kita. Ada dua ayat dalam al Qur’an yang kira kira terjemahannya adalah “Tidak berubah keadaan suatu kaum sebelum mereka merubahnya sendiri”, atau semacam itu. Saya menangkapnya yang harus dirubah adalah orientasi mereka terhadap Allah.

Bila orientasi kita terhadap Allah dalam pertimbangan Hukum Syukur dan Shabar berubah, maka keadaan kita juga verubah. Perubahan itu bisa kearah yang lebih baik, namun bisa juga ke arah yang lebih buruk Alhamdulillah. Astaghfirullah. Allah ‘Alam..

Ya Allah ampunkanlah kami semua. Jangan biarkan kami pulang kepada Mu dalam keadaan bangkrut ya Allah. Jadikanlah kami termasuk mereka yang beruntung di dunia dan beruntung di akhirat.

Demi kehormatan Habib. Al Fatiha.

Salam

Sutono

1  Juli 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s