Tujuh Mata Air Hakikat

 

 

Audhu billahi min ash-Shaytan ir-rajeem. Bismillah ir-rahman ir- raheem. Dastoor ya sayyidi madad. Nawaytul arba`een, nawaytul ‘itikaf, nawaytul khalwa, nawaytul `uzla, nawatul riyaada, nawaytus suluk, fee hadhal masjid lillahi ta`ala al-`adheem.

Oleh Shaykh Muhammad Hisham Kabbani

posting 23 Oktober 2011

 

Al-hal adalah keadaan batin seseorang, yang menetapkan pada level apa dia akan diangkat dan bagaimana dia mengalami inspirasi melalui jantungnya. Sebagian besarnya, al-hal adalah hasil dari amal nya. Al-feyd adalah pancaran lahir atau cahaya surgawi yang semburat yang langsung dikirimkan oleh Allah, yang turun kepada orang itu tanpa pengaruh atau gangguan/interferensi dari nya. Kedua hal (al-hal dan al-feyd) itu menimbulkan perasaan yang berbeda di dalam diri orang itu.

Grandshaykh AbdAllah mengatakan sifat/karakter yang berbeda itu datang kepada seseorang dari tujuh mata air yang berbeda pula, masing masingnya mengalir dari sebuah sumber khas. Pengalaman orang dari berbagai kondisi yang berbeda dipengaruhi oleh jenis khas malaikat yang ditugaskan Allah untuk menolong mereka dari satu level batin yang satu ke level batin lainnya.

Level pertama mata air surgawi di antara tujuh mata air itu diselenggarakan oleh malaikat yang diciptakan khusus dan ditugaskan oleh Allah untuk memberi inspirasi tindakan kepada para abdi Nya. Para malaikat itu mengirimkan pikiran, inspirasi dan kekuatan, yang kesemuanya merubah orang itu sedemikian rupa sehingga nampak secara lahiriyah.

Para malaikat ini pada dasarnya mengarahkan dia melalui inspirasi. Dia mengalami keadaan bahagia dan ekstasi /sukacita yang terkembang (expanded), atau (sebaliknya) keadaan  bingung dan tidak bahagia yang menyesakkan. Pada level ini, dia akan berada dalam salah satu keadaan : melegakan atau menyesakkan. Tergantung kepada bagaimana jantungnya mengolah inspirasi itu yang menggerak kan dirinya ke dalam keadaan yang berbeda beda itu, dia akan tertawa, menangis, atau berada dalam keadaan bingung. Juga, bagaimana jantungnya mengolah inspirasi itu ditentukan oleh amalnya.

Jika dia melakukan suatu kesalahan dia mungkin menangis atau bertobat, jika dia melakukan sesuatu kebaikan dia mungkin berbahagia atau puas bahwa Allah sukacita dengan dirinya. Jika dia berbaik hati dalam setiap peristiwa, mashaAllah, melakukan dhikr,bahagia, menerima tajalli Allah, dia akan berada dalam keadaan ekstasi, tersenyum, atau menangis karena cintanya kepada Allah atau takutnya kepada Nya.

Kesemua macam perasaan itu diinspirasikan oleh para malaikat itu, dan disebut sebagai al-hal: keadaan batin yang dialami oleh abdi Allah. Segala sesuatu di muka bumi ini dipelihara dan diawasi oleh malaikat yang ditugaskan Allah secara khusus dan bertanggung jawab.

Mata air kedua yang mencapai abdi Allah diselenggarakan oleh malaikat jenis lain, yang akan membuatnya menyadari apa yang telah dicapainya, agar supaya dapat maju ke satu level spiritual yang lebih tinggi. Itulah sebabnya beberapa orang mendapati dirinya berada dalam situasi yang buruk yang sangat mereka sesali, dan mendadak situasi itu menuju ke apa yang kami sebut faraj, suatu bukaan/pintu positif yang terbuka baginya dalam kehidupannya, yang membawa kebahagiaan kepada mereka.

Jenis (level) manusia yang akan kita tempati tergantung kepada `amal baik dan buruk kita, kepada posisi baik dan buruk yang kita ambil dalam kehidupan, dan pengaruh baik dan buruk yang ada di sekeliling kita.

Ini adalah dasar dari ilmu/sains psikologi (`amal al-nafs), yang mengungkapkan psikologi dan kepribadian seseorang. Namun, studi seperti itu tidak dapat menetap kan tingkat spiritual seseorang. Sedang mata air surgawi pertama dan kedua diterap kan kepada masing masing orang oleh para malaikat.

Mata air ketiga adalah lain lagi. Pada Hari Perjanjian, ketika semua nya masih dalam bentuk atom di Hadhirat Ilahiyyah, ketika Allah menciptakan sejatinya dirimu, rahasia dirimu, dzat mu, Dia juga menugaskan kamu dibawah bimbingan murshid mu, yang membimbing kamu melalui keadaan batin mu, menjadi peran yang akan kamu tempati di kehidupan ini, dan dalam cara cara untuk memperbaiki dirimu.

Sang murshid tahu apa yang diinspirasikan para malaikat ke dalam jantungmu, membimbingmu untuk menghasilkan yang terbaik, dan menghapuskan kebingungan mu. Ketika al-feyd turun kepadamu, sang murshid menyalurkannya sedemikian rupa yang akan membuatmu mencapai level spiritual yang lebih tinggi.

Jadi, untuk keuntungan si murid, sang murshid membuat keseimbangan antara al-hal dan al-feyd, keadaan batin dan sekaligus pancaran surgawi. Meskipun terdapat ratusan Murshid at-Tabarruk, Murshid at-Tazkiyyah, dan Murshid at-Tasfiyya, dalam setiap abad hanya ada seorang Murshid at-Tarbiyya: seseorang yang membawa Bendera Irshad (bimbingan), yaitu Sultan Al Awliya Muhammad Nazim al Haqqani [Q].

Dia adalah sumber, mata air yang mengalir dari jantung ilmu pengetahuan. Dia menerima bimbingan langsung dari Nabi {s.a.w.} dan menyebarkannya ke semua awliya lainnya. Sementara terdapat 124,000 macam awliya pada setiap saat, namun hanya terdapat satu orang saja pewaris Nabi {s.a.w.}.

Dia memiliki kemampuan dan izin untuk meningkatkan awliya lainnya, dan mereka (selanjutnya) dapat menaikkan kita semua. Ketika seorang Murshid at-Tarbiyya meninggalkan dunia ini, dia menyerahkan warisan yang didapatnya dari Nabi {s.a.w.} kepada wali lainnya. Dengan cara ini, pada setiap saat hanya terdapat seorang Murshid at-Tarbiyya di dunia ini. Allah memberi izin kepada Nabi – dan dari Nabi kepada murshid itu – untuk menyambung kepada semua awliya lainnya, bahkan yang berada di alam hayyat al-Barzakh pun.

Untuk mendapat manfaat dari para awliya itu, Murshid at-Tarbiyya mencacah (identifies) kemampuan dan kekhususan apa yang mereka miliki masing masing, yang diambilnya dari mereka dan meneruskannya kepada Murshid at-Tabarruk, Murshid at-Tazkiyyah, Murshid at- Tasfiyya, dan kepada para pengikutnya.

Namun, hanya mereka yang mencapai tingkat murid di Thariqat Naqshbandi, yang mencapai level bimbingan tertinggi dan yang adalah pencari/pejalan pada jalan itu yang bisa menyerap manfaat dari awliya yang berada di alam Barzakh, dan itupun hanya melalui murshid itu.

Untuk benar benar menyambung dengan dan mendapat manfaat dari ruh yang ada di alam kubur, seseorang harus sudah menaklukkan egonya, dan tujuan satu satunya haruslah berada di Hadhirat Ilahiyyah. Orang orang khusus ini berada di bawah bimbingan Murshid at-Tazkiyya dan mereka telah mencapai level keberadaan yang peka di dunia ini.

Rata rata manusia tidak bisa mendapat manfaat dari mereka yang sudah terkubur (di alam Barzakh), karena mereka tidak memiliki koneksi itu, dan dengan demikian tidak dapat menerima inspirasi atau bimbingan dari awliya yang telah berpindah ke alam berikutnya, yang sudah tidak lagi menggunakan kekuatan fisik mereka. Namun, orang kebanyakan bisa mendapat manfaat besar dari awliya, karena mereka memahami kehidupan melalui hakikat fisik. Sedemikian sehingga, awliya hidup bisa menghubungi mereka pada kedua level fisik dan spiritual.

Ketika seseorang mencari jalan Allah di thariqat manapun di antara empat puluh satu thariqat, dan tidak mencapai level wali tingkat tinggi, perintah akan datang kepadanya untuk menyempurnakan ‘itikafnya di dalam alam kubur. Jangka waktu ‘itikaf itu akan berkisar antara empat puluh hari sampai dengan lima atau tujuh tahun, dan itu adalah 70,000 kali lebih sulit dari pada ‘itikaf di dunia ini.

Seseorang yang menyempurnakan ‘itikafnya di dunia ini dan yang telah mencapai keadaan keberadaan peka di dunia ini, akan berada di level spiritual yang lebih tinggi dibanding dengan mereka yang mencapainya setelah berada di alam kubur.

Mata air ketiga akan datang kepada kita, apabila kita tetap menjaga perintah Murshid at- Tazkiyya, mengikuti petunjuknya, mengikuti jejak kaki Sayyidina Muhammad {s.a.w.}, mengerjakan dzikr (award) harian khusus yang ditetapkan, mempersembahkan dhikr-ullah dan semua shalat pada waktunya, melaksanakan semua sunnah Nabi. Apabila adab lahir ini dicapai, jantung kita mulai bergerak, seperti seseorang yang bernapas dengan cepat.

Jantungnya berdegup dan murid itu akan “terbakar api ” (kiasan). Pada level ini, mata air ke empat akan mencapainya dan dia mulai menerima barakah surgawi, karena dia menerima dari malaikat yang dari mata air pertama dan kedua, dari Murshid at-Tazkiyya, mengikuti awrad dan sunnah, menghasilkan rahmat dan barakah Allah turun kepadanya.

Kini jantungnya mulai berdegup, dan mata air kelima mendatanginya. Setiap Kamis dan Senin, dalam jama’ah awliya-ullah, setiap murshid secara spiritual membeberkan pengikutnya dan amal mereka kepada Nabi Muhammad {s.a.w.}. Para murid yang jantungnya berdegup akan dibawa ke hadhirat Nabi s.a.w., itu dilakukan hanya dengan murshid itu menyatakan, “Ya Sayyidi, ini adalah murid ku dari antara ummat mu. Dia mengikuti perintahmu dan mencari Sirat al-Mustaqeem, mengikuti jejak kaki para awliya.”

Allah mengatakan dalam al Qur`an: Awalnya mereka beriman, kemudian mereka tidak beriman, kemudian mereka benar benar jatuh. Kufra (tidak beriman) di sini tidak menunjuk kepada keadaan kufr, namun hanya sekedar berbuat dosa. Summa amanu di sini berarti dia mulai berbuat (amal) baik, dan kemudian mengikuti jejak langkah Shaytan, kemudian benar benar jatuh.

Dia adalah seorang Muslim, namun masih berbuat dosa. Pada posisi ini, Murshid at- Tazkiyya berada dalam konsentrasi penuh pada jantung para pengikutnya, menyiap kan mereka dan membentuk mereka  agar supaya mereka tidak jatuh lagi ke dalam perbuatan tercela. Itulah sebabnya dia menghadirkan mereka ke hadhirat Nabi {s.a.w.} setiap Kamis dan Senin di dalam majelis para awliya, di mana Nabi s.a.w. memeriksa setiap murshid apa yang mereka capai dengan para murid mereka.

Jadi ketika Nabi {s.a.w.} mengamati para murid mengikuti sunnahnya, meniti jalan para awliya-ullah, dia menjadi sukacita banget dan menerima amal murid itu dan mulai mengarahkan pandangannya kepada murid itu.

Dari sukacita Nabi s.a.w., al- feyd – sukacita Allah, barakah, cahaya ilahiyyah – mulai mendatangi murid itu. Itulah sebabnya Muslims mengatakan, Unzur Alaina Ya Rusul-allah  “Ya Rasul-allah, pandanglah kami, berilah kami satu pandangan, satu lirikan! Kami berada di bawah tajalli mu, dengarkan permohonan kami, du`a kami, karena kami memujimu, dan kami tenggelam di dalam kesukaran yang kami mohon engkau mengangkatnya dari kami.”

Ketika Nabi {s.a.w.} bersuka cita dengan murid shaykh itu, dia akan memandang kepada orang itu, mengangkatnya, dan barakah Allah mendatangi murid itu. Ketika dia diangkat, jantung murid itu akan berdegup dengan kegembiraan, berguling , berputar di dalam cinta penuh Allah.

Kemudian Allah meng-inspirasi murid itu untuk mencapai mata air ke enam. Pada level ini, ketika murid itu mulai membaca al Qur`an – kalimat azali Allah – Allah akan menugaskan sebuah tajalli untuk setiap huruf, kata dan ayat, yang dengan diam diam memasuki sasarannya, jantung murid itu, di mana itu membuatnya berubah.

Tanpa tajalli itu tidak akan ada perubahan. Seseorang dapat membaca al Qur`an siang dan malam, dan memaknai (interpret) apa yang dibacanya sesuai dengan pemahamannya yang terbatas, mengambil kebijakan/kearifan darinya, dan bahkan menjadi tercerahkan. Namun seseorang tidak dapat memiliki sebuah visi kecuali tajalli menyertai pembacaan itu, yang mencapai kamu ketika Nabi menjadi bersuka cita terhadap kamu, yang menghasilkan Allah membuka tajalli itu.

Setelah seseorang memasuki enam level yang berbeda beda ini, Allah memberi mereka kesempatan untuk mencapai mata air ke tujuh, melaluinya Dia membuka rahasia jati diri kelahiran mereka.

 

Mata Air Kesucian

Nabi {s.a.w.} mengatakan: seorang bayi terlahir dalam keadaan suci. Nabi {s.a.w.} juga mengatakan jika saluran (pipa) abdi itu masih tersambung ke (titik) asalnya, dengan sumber surgawinya, Allah membuka baginya “Mata Air Kesucian “, fitrat al-Islam, mata air ke tujuh. Saluran ini adalah seperti suatu rangkaian pipa perumahan (plumbing), air (akan) mengalir langsung dari sumbernya sampai ke kran, yang menyambung murid itu dengan alam al-arwah.

Rangkaian pipa itu selalu ada di sana. Hakikat khas kita datang dari jati diri/essensi (dhat) kita, atom yang diciptakan Allah pada Hari Perjanjian, hari alastu bi rabbikum qalu bala, ketika Allah bertanya kepada masing masing kita, “Apakah Aku bukan Rabb kalian dan kamu adalah abdi Ku?” dan kita menjawab, “Betul!” Sejak hari itu, ibadullah, abdi Allah, berada dalam suatu keadaan peribadatan sampai ruhaniyyah mereka mencapai rahim ibu mereka.

Sejak saat itu setiap ruh tetap dalam keadaan peribadatan berkesinambungan, tanpa berhenti. Pada peristiwa surgawi demikian itu, Allah menetapkan kewajiban  bagi setiap ruh, dan para malaikat yang membantu mereka dalam peribadatan mereka itu. Dalam keadaan peribadatan seperti itu, tiap ruhaniyyah terlibat dalam peribadatan murni kepada Rabb mereka, tanpa shirk.

Allah  berkuasa untuk memilih siapapun untuk menaikkan siapapun dan mengkaru niakan al-feyd  Nya kepada mereka. Dalam setiap saat, Allah menghiasi abdi Nya dengan anwar al-nabi  yang pertama kali datang kepada Nabi {s.a.w.}, dan dari Nabi {s.a.w.} kepada anbiya dan awliya, dan dari awliya kepada siapapun lainnya.

Sebagaimana Sayyidina Adam (a.s.) dihiasi oleh Allah  di Surga, dalam setiap saat Allah menghiasi abdi Nya yang berada di dalam Hadhirat Ilahiyyah Nya dengan 70,000 tajalli yang berbeda beda. Surga adalah selalu menjadi keberadaan hidup, di mana kesakitan dan  bahaya tidak hadir.

Semua abdi Allah, setiap ruh, hidup di Surga sebelum mereka dilahirkan ke dunia ini. Di sana Allah memahkotai mereka dengan kegembiraan surgawi, dan dengan Sifat al- Jamal. Mereka secara murni sempurna berada dalam kegembiraan (ecstasy) itu, dan dari dalam keadaan itu mereka mendambakan cinta dan keindahan tertinggi, dari Sifat (attribute) al-Jamal lillahi ta’ala itu.

Siapapun yang terlahir ke dunia awalnya terlahir di Surga. Ketika tiba saatnya, dia muncul ke dunia melalui rahim ibunya. Inilah sebabnya setiap bayi yang dilahirkan menangis keras pada saat dilahirkan, akibat dari kesakitan dan kejutan karena terpisah dari hadhirat suci. Pada saat kelahiran ke dalam dunia ini, setiap bayi memanjatkan du`a, memohon kepada Allah untuk mengizinkan mereka kembali ke tempat suci itu.

Beberapa bayi langsung meninggal setelah dilahirkan, karena Allah menerima du’a mereka dan mengambil kembali mereka! Tidak seorang bayipun datang ke dunia tertawa atau tersenyum; mereka menangis/menjerit! Hanya Nabi {s.a.w.} tidak menangis ketika dia terlahir ke dunia; dia langsung bergumam “ummati ummati”, “ummat ku, ummat ku,” dan  bersujud, memohon Allah untuk melindungi ummah nya.

Sayyidina Isa (a.s.) tidak menangis ketika datang ke dunia; dia berkata, inni abdullah!  Bayi menangis ketika mereka dilahirkan, karena mereka takut kini mereka tergiur untuk melakukan dosa dan akan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Nabi {s.a.w.} mengatakan bahwa ketika seorang bayi dilahirkan, mungkin orang tua nya akan membuat dirinya menjadi seorang Yahudi, seorang Kristen atau seorang Zoroastrian, sedang kenyataannya bayi itu sudah menjadi Muslim, karena `ilm surgawi yang telah diinstalasi dan peribadatan (yang sudah dilakukan di Surga- penterjemah) tidak dapat digelapkan. Jadi jika bayi itu datang ke dunya dan mulai menyimpang dari apa yang telah diajarkan sebelumnya di Surga, dia menjadi terhalang oleh tirai dari kekuatan surgawi.

Jika orang tua mereka tidak dalam keadaan melaksanakan peribadatan murni dan shalat, jika mereka tersentuh oleh berbagai karakter buruk, dia akan terhalang dari Hakikat Ilahiyyah. Pada saat kelahiran dia masih bisa melihat, dia masih memiliki sambungan yang bening ke Surga, namun ketika dia terselimuti maka tampakan (visi) itu terselimuti sempurna.

Namun, dengan Rahmat Nya, Allah menyimpan semua barakah dan cahaya yang terkait dengan ibadah bayi itu sewaktu di Surga! Jadi ketika dia mencapai usia wajib (ibadah) atau cukup umur, Allah mengembalikan kepadanya keuntungan dari semua ibadahnya yang dilakukannya dalam kehidupan spiritualnya di Hadhirat Ilahiyyah.

Orang itu bisa saja berbuat dosa dan bertaubat, berdosa lagi dan bartaubat lagi, namun dia masih akan mendapat kredit dari ibadah di awal keberadaannya itu. Itulah sebabnya ketika seseorang diberi (itu semua – penterjemah) kembali ke jantungnya, mereka bahagia. Kadang kadang kamu merasa begitu bahagia dan kamu tidak tahu mengapa. Tidak ada penjelasan atau alasan, hanya kebahagiaan. Kamu merasa ringan, tanpa masalah.

Allah tahu kamu adalah seorang abdi yang bersungguh sungguh, dan Dia membuka lebih banyak buat kamu dari hadhirat surgawi itu, ketika mengisi jantungmu, maka kamu mendapati dirimu  berada dalam keadaan terpuaskan. Tentang hal ini Allah berkata, ala bi dhikr-ullahi tatmainnul qulub, “Di dalam mengingat Allah jantung menemukan kepuasan, santai/tenang!”

Tubuh manusia adalah suatu bentuk fisik yang tunduk kepada hukum alam/fisika. Tubuh itu rapat (berat jenisnya) dan gaya tarik bumi menariknya ke bawah, membuatnya tetap menapak bumi. Jika kita menggunakan contoh suatu silinder metal terisi penuh dengan gas helium, silinder itu tetap berat. Namun, jika balon diisi dengan gas helium, balon akan naik ke udara. Ketika Allah mengembalikan semua dhikr awal kamu, itu akan memenuhi dirimu seperti helium memenuhi sebuah balon, dan kamu merasa ringan. Ketika shalat dan dhikr kamu yang lalu itu masuk ke dalam penjara tubuh fisik kamu dan Allah melapas energi suci itu, itu akan membuat kamu seimbang antara dua dunia itu  dan membuat kamu bahagia.

Dengan perintah Allah kepada Nabi {s.a.w.}, dan dari Nabi {s.a.w.} kepada awliya-ullah, Murshid at-Tarbiyya, yang bertanggung jawab untuk mu, energi itu dilepas kan. Itu menaikkan kamu dan merubah sistem kamu, secara sempurna membebas kan kamu dari segala macam depresi, dan kamu menjadi santai. Kamu tersambung dengan hakikatmu sebelumnya. Karena kalau hanya dirimu sendiri dengan kegelap an dunia ini, kamu tidak dapat melihat, dan kini kamu akan mulai melihat hal hal yang orang lain tidak dapat melihatnya.

Mengikuti jalan Sayyidina Jalaluddin Rumi [q], para murid thariqat Mevlavi berlatih sebuah bentuk putaran yang mendorong mereka kepada keadaan ekstasi murni seperti itu, ketika Allah melepaskan kekuatan suci itu kepada Nabi {s.a.w.}, dan Nabi {s.a.w.} melepaskan itu kepada awliya-ullah. Ini adalah yang dialami Sayyidina Jalaluddin Rumi. Ketika kamu naik (mumbul), kamu tidak mengikuti garis lurus – kamu berputar (seperti spiral)!

Ketika satu helicopter naik baling balingnya berputar, menimbulkan gaya yang mendorongnya meninggalkan tanah. Dia bukannya menari, dia berputar mengikuti energi (suci) itu yang mengangkatnya naik. Hakikat putaran spiral itu adalah seperti elektron berputar mengelilingi inti (nucleus) atom. Ketika Allah melepaskan energi itu, Jalaluddin Rumi berputar sekitar jati dirinya (essence), hakikatnya.

Itu menyambungnya langsung ke hakikat dirinya di Hadhirat Ilahiyyah (dari Hari Perjanjian), dan dia terkejut atas apa yang dikaruniakan Allah kepadanya. Ketika Muslims melakukan hajj, kita melakukan tawaf seperti halnya elektron2 itu mengelilingi inti (nucleus) nya, dengan arah melawan arah jarum jam. Ini yang membuat kita berputar (pada poros), agar supaya kita naik ke surga.

Terdapat level tawaf spiritual yang lebih tinggi di atas setiap orang. Awliya- ullah melakukan tawaf (secara spiritual) langsung di atas manusia (rata rata), dan para malaikat melakukan tawaf di atas awliya-ullah, naik langsung ke Baytul Ma’mur, sampai ke Singgasana Ilahiyyah.

Segala sesuatu harus berputar (pada poros) mengelilingi hakikatnya. Hakikat atom itu terletak pada inti (nucleus) nya. Elektron itu, energinya, berlarian mengejar jati  dirinya. Kita harus berputar pada poros di sekitar hakikat kita.

Jika kita membuka jati diri dan energi kita, dan membuat energi kita mengelilingi jati diri kita, pada saat itu kita dapat mengangkat tubuh (fisik) kita – seperti halnya gas yang dimampatkan dilepas ke dalam sebuah balloon. Dalam keadaan ini kita dapat terbang. Ini adalah kekuatan ilmu ke tujuh : “mata air kesucian ” Islam, yang dikaruniakan Allah kepada setiap orang. Dapat ditambahkan, Allah mengkaruniai mukminin dengan semua keuntungan yang dapat dicapai orang kafir melalui cahaya spiritual mereka dari Hari Perjanjian, sampai hari kedatangan ke dunya.

Itulah sebabnya para mukminin diangkat begitu cepat. Sebagai contoh, jika kita harus bilang, “Ini ada seratus uang emas yang harus dibagikan di antara mereka yang membutuhkannya.” Jika terdapat seratus orang yang memerlukan koin itu, setiap orang akan mendapat satu koin. Jika hanya sepuluh orang memerlukan koin itu, masing masing akan mendapat sepuluh koin, dan begitu seterusnya.

Setiap orang yang beriman dan patuh kepada Allah dan Rasul (s.a.w), dan mengikuti risalah Ilahiyyah dan Jalan (tariqat) shaykh mereka, khususnya Murshid at-Tarbiyya, akan mewarisi barakah besar yang dikaruniakan Allah kepada setiap orang pada Hari Perjanjian, dan keuntungan setiap ibadahnya orang kafir dari Hari Perjanjian sampai mereka datang ke dunya.

Lebih lanjut, pada masa ini ketika korupsi begitu meluas, para mukminin mendapat kan lebih banyak keuntungan. Nabi (s.a.w) berkata, min ahiya sunnati inda fasadi ummati falahu ajrun sab’eena shaheed aw miya shaheed, “Ketika semua orang meninggalkan sunnahku, akan terjadi korupsi ke seluruh ummatku, Allah akan memberikan kepada seseorang yang menghidupkan satu sunnahku ganjaran setara dengan ganjaran tujuh puluh shuhada atau seratus shuhada.” Ini berlaku untuk setiap raka’at shalat sunnah, memakai cincin, memelihara jenggot, menggunakan miswak, dan sesungguhnya untuk sunnah Nabi (s.a.w.) yang manapun.

Karena orang orang itu tidak mematuhi janji mereka kepada Allah S.W.T.  untuk beriman dan beribadah hanya kepada Nya, Allah telah memilih/menetapkan untuk memberikan keuntungan ibadah mereka di masa dulu kepada mereka yang memenuhi janji mereka.

Itulah sebabnya besarnya ajrha (ganjaran) naik di hari akhir seperti sekarang ini. Jadi itu adalah ringkasan dari mata air ke tujuh, yang dapat dicapai dengan berputar mengelilingi jati dirimu. Ketika al-feyd mencapai kamu, kamu akan mengalami setiap saat dalam keadaan ekstasi berkesinambungan yang tidak akan terputus sampai kamu meninggalkan dunia ini.

Kamu akan mencapai level yang dimaksud Allah, mutu qabla anta mu’tu, “Matilah (atasi egomu) sebelum kamu mati.” Nabi (s.a.w.) berkata, “Jika kamu mau melihat seorang yang meninggal sebelum dia mati, lihatlah kepada Abu Bakr as-Siddiq.”

Itu artinya Sayyidina Abu Bakr (r) mampu menguasai ego nya dan ke-empat empat musuhnya. Jadi jika seseorang mengikuti jejak langkah Sayyidina Abu Bakr as-Siddiq, itu akan membimbing kamu mencapai Jalan (Thariqat) Sayyidina Muhammad {s.a.w.}, yang mengarahkan kepada keadaan ekstasi itu, di mana seorang berputar mengelilingi jati dirinya dengan suatu kecepatan tinggi yang akan menyebabkan dia untuk terangkat (mengapung)! Ketika mereka mengapung, tiada yang akan menghambat mereka untuk naik lebih tinggi.

Seperti suatu tornado: itu terus menerus berputar sampai dia tidak dapat lagi dilihat, karena dia terangkat dari bumi. Dalam level yang lebih tinggi ini seorang menciptakan suatu lingkungan ideal yang tidak terdapat gesekan (friction), tiada kegelapan, tiada hasrat buruk, tiada dosa, dan tiada dunya. Dalam lingkungan itu seorang akan melanjutkan jalan ke Hadhirat Ilahiyyah yang dikehendaki Allah agar mereka capai. Inilah sebabnya awliya-ullah tidak mengejar dunya, karena itu tidak bernilai buat mereka.

Mereka sibuk dengan kebahagiaan surgawi itu, keadaan ekstasi itu yang berkesinam bungan yang meningkat tiap saat, yang di dalam dunia (pikiran) mereka, mereka menafikan (mengecilkan) semua urusan dunya menjadi nol. Banyak orang mencerca para dervish (para pejalan) yang duduk di pojok membaca dhikr-ullah, karena mereka tidak tahu kebahagiaan apa yang dialami para dervish itu! Jika saja secercah sinar yang terbuka dari Cahaya Ilahiyyah yang mendarat ke para dervish itu , itu akan menenggelamkan semua orang di dunya ini dengan ekstasi itu.

Jadi mengapa para dervish itu mau meninggalkan ekstasi itu untuk (beralih ke) dunya? Sasaran setiap mu’min dan Muslim adalah berbuat (`amal) baik, sehingga ketika dia menghadap Allah di Hari Pengadilan, Allah suka cita dengan nya.

Para dervish itu telah mencapai level seperti itu! Semoga Allah mengampuni kita, dan menolong kita memahami Jalan para awliya-ullah. Janganlah menjadi penjara dari batin kamu sendiri, dari ego dan empat musuhmu – nafs, dunya, hawa, Shaytan – jadilah seorang yang bebas! Jika tidak begitu, kamu akan menjadi pecundang di Hari Pengadilan.

Jangan lah minta untuk menjadi seorang yatim! Sepanjang hidup mereka, para yatim mengalami nar al- hasra, api yang membakar dari dalam, yang disebabkan oleh kehilangan sesuatu yang begitu berharga. Jangan sampai kalian kehilangan ayah pertamamu, murshidmu!

Jangan sampai menjadi yatim tanpa seorang murshid! Carilah pembimbingmu! Carilah Murshid at-Tarbiyya, yang dapat mengangkat kamu. Janganlah membuat salah dengan mengira kamu tidak memerlukan siapapun, bahwa kamu bisa maju terus langsung tanpa seorang pembimbing. Pertahankan ayah spiritual yang membimbing kamu kepada Allah. Murshid at- Tarbiyya akan membuat kamu bahagia di dunia ini dan di akhirat, menarikmu ke maqam ilahiyyah mu melalui bimbingan nya.

Jika kamu mengikuti petunjuknya, kamu akan menarik al-feyd al-ilahi, pancaran dari barakah Allah. Wa min Allah at-Tawfiq. Dan sukses adalah bersama Allah Ta ‘Ala.<<

Bihurmat al habeeb wa bi hurmat al-Fatiha. Demi Yang Paling Disayang, demi dia kita baca al Fatiha Surat Pembuka al Qur`an.

 

About kekji

i am nothing and will stay that way. i live only to serve Allah SWT
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s