Mu’jizat Shalat

27 Juni 2011

Email dari pak Soeparmono Dasirun berikut ini :

asalamualaikum sh tono. mohon pencerahan.
dlm suhbat di mnctv, mawlana mengatakan bahwa utk knock
Allah’s door, perlu baca atahiyat dulu (?). Apakah maksusnya
selain atahiyatul akhir perlu ada attahiyatul awal, sebelum baca
surat fatiha atau nawaitul arbain dst? Sukran atas pencerahan

hanya bisa dijawab orang yang sudah bisa shalat. Kata penterjemah dalam acara itupun Shaykh Noval (?) ini adalah ilmu para wali. Bagaimana tandanya yang sudah bisa shalat? Yaitu mereka yang ketika berada di posisi duduk tahiyyat melihat Nabi s.a.w. berada di hadapnnya. Saya belum sampai di sana.

Namun pertanyaan pak Samsudin (alias Soeparmono Dasirun) itu memicu keterangan berikut :

Mu’jizat Lain Yang Dibawa Nabi s.a.w.

Selama ini yang dianggap mu’jizat yang dibawa Nabi s.a.w. hanyalah al Qur’an (dan sunnah Nabi s.a.w.).  Tapi menurut saya shalat ini minimal sama mu’jizatnya, mungkin lebih, karena efektiftasnya. Kalau bukan begitu shalat tidak disebut sebagai tiang utama agama. Al Qur’an disampaikan lewat malaikat Jibril a.s., sedang untuk masalah shalat ini, Nabi s.a.w.  diundang langsung menghadap ke hadhirat Ilahiyyah (sidratul muntaha?). Tanpa perantara. Namun karena hadits tentang shalat ini terdengar sangat sederhana :”Shalatlah kalian seperti kalian lihat saya shalat!!”, maka kaum muslimin menganggap shalat ini biasa saja.

Shalat Sebagai Pemelihara Kesehatan

Ketika sedang awal awal proses belajar shalat ini (sekarangpun masih tahap belajar, kan saya belum bisa disebut bisa shalat), saya rasakan betul bahwa shalat ini memulihkan tenaga. Dan dari pengamatan lebih jauh, shalat (bila dilakukan dengan benar dan teratur) memang merupakan metoda pemelihara kesehatan yang bisa diandalkan. Didalamnya terdapat gerak menekan (press) dan meregang (strech) yang penting bagi membuat santai kembali beberapa otot penting : otot punggung, otot paha belakang, betis dan ruas leher  (C7). Membuat lemas (relax) otot sekitar ruas C7 ini ketika sujud, penting untuk merangsang fungsi panglima kelenjar yang berada di otak kecil, di belakang kepala. Sementara itu selama sujud, otot kedua bahu dibuat relaks, sehingga berat tubuh langsung disangga di ruas C7 tulang leher.

Shalat Sebagai Gerak Silat

Bahkan Guru Besar dan Pendiri Persatuan Gerak Badan Bangau Putih, almarhum pak  Subur Rahardja mengatakan kepada saya bahwa shalat itu adalah ilmu silat tingkat tinggi. Dia bilang kalau seorang dengan kemampuan silat seperti dia (seimbang) dan sedang sujud seperti dalam shalat, dia tidak akan berani menyerangnya dalam mode perkelahian dekat (close combat). Karena lawan itu akan dengan mudah menyerang nya dengan pukulan/tendangan yang mematikan/fatal. Wow.

Dan saya pun merubah 10 gerakan dari Olah Gerak, Dzikr dan Olah Napas (OGEDZON) Indonesia Perkasa, (yang mengadopsi al Barokahnya bang Hanafi, yang belajar dari Bang Asfan Panjaitan, pendiri Prana Sakti, Yogjakarta), menjadi 11 gerakan yang terkait dengan kegiatan shalat mulai dari mengambil wudhu sampai salam. Masih ditambah keterangan bahwa untuk shalat fardhu 1 raka’at diulang sekali untuk shalat Subuh, diulang dua kali untuk shalat Maghrib dan diulang tiga kali untuk shalat Ashr dan shalat Isya. Gerak ulang itu diperagakan dengan putaran (whirling), dan untuk shalat  fardhu telapak tangan menghadap ke bawah, dan untuk shalat sunnat telapak tangan menghadap ke atas. Untuk menyatakan fardhu juga, lengan tetap masih merapat ke tubuh selama tiga putaran. Setelah itu baru lengan dikembangkan atau dibentangkan. Sedang untuk shalat sunnat, lengan langsung dibentangkan dan telapak tangan menghadap ke atas. Artinya, shalat sunnat ada yang hanya satu raka’at, jadi lengan langsung dibentangkan.

OGEDZON ini termasuk olah raga keras, dan menguras keringat meskipun hanya melakukan satu set nomor 1 sampai nomor 11, kaki kiri di depan dan kaki kanan di depan, secara bergantian. Dan latihan ini juga melatih pelakunya untuk melakukan komunikasi non verbal atau lewat qalbu. Itu tadi hasil sampingan belajar shalat. Dan kembali ke shalat.

Shalat Sebagai Saat Charging Tenaga

Dan waktu shalat fardhu itu pas bertepatan dengan titik titik terendah siklus bio rithmik kita sepanjang hari dan malam. Jadi memang waktunya untuk di-charge.

Lalu di Naqshbandi ada keterangan bahwa Ka’bah adalah sebagai simbol/peragaan qalbu/jantung Nabi s.a.w. Jadi ketika kita sedang shalat sesungguhnya kita sedang mencoba menghubungkan qalbu kita dengan qalbu Nabi s.a.w..

Tahun lalu ketika di Singapore, MSH  membuka rahasia makna lain dari fulki masyhun (Surat Yasin ayat 41). Arti fulki masyhun adalah kapal yang memuat penuh supplai atau persediaan yang dibutuhkan dalam perjalanan jauh. Dan dalam ayat itu fulki masyhun menunjuk kepada kapal Nabi Nuh a.s. Tetapi  MSH mengungkapkan bahwa makna khusus fulki masyhun ini adalah qalbu Nabi s.a.w., dan bahwa seluruh ummat Muhammad s.a.w adalah penumpang kapal tersebut.

Sampai disini dapat dimengerti bahwa shalat adalah saat charging. Kita sebagai penumpang kapal boleh mengisi energi “hidup” ketika siklus bio rithme kita sedang minimum. Dan itu dilakukan dengan menghubungkan jantung kita dengan jantung Nabi s.a.w.  yang diperagakan atau disimbolkan dengan Ka’bah.

Bagaimana Supplai Itu Dipertahankan Selalu Penuh?

Yang berikut ini hanya rekaan saya saja agar bisa mencoba mengerti bagaimana duduk perkaranya dengan berbaik sangka. Allah dan para malaikat bershalawat buat Nabi s.a.w. Tentunya kalau Allah bershalawat untuk Nabi s.a.w. tidak hanya sekali atau sesaat saja, namun berkelanjutan sepanjang masa. Dan shalawat itu akan langsung masuk kedalam qalbu Nabi s.a.w. Lalu apa yang kira kira masuk ke dalam qalbu Nabi s.a.w. tersebut? Allah tidak pernah berbuat yang sia sia. Artinya muatan atau isi shalawat itu pasti hal hal yang dibutuhkan Nabi s.a.w.  dalam melakukan tugasnya sebagai Nabi Awal dan Nabi Akhir, dan artinya lebih jauh, shalawat itu pasti yang dibutuhkan ummat Muhammad yang menjadi penumpang perahu itu, penumpang dengan kebutuhan masing masing yang tidak sama.

Inilah mungkin yang dimaksud Nabi Muhammad s.a.w. adalah Rahmatan li ‘l-‘alamin. Beliau s.a.w. adalah satu satunya kran yang menyalurkan Rahmat Allah. Dan memang seluruh makhluq diciptakan menggunakan (kombinasi) Nur Ilahi dengan Nur Muhammad. Dan manusia diciptakan menggunakan (kombinasi) Nur Ilahi, Nur Muhammad s.a.w. dan Nur Adam a.s.

Shalat dan Bacaan pada Posisi Posisi

 

Berdiri tegak menghadap Kiblat.

Mengucapkan Niyyat

Takbir.

Membaca al Fatiha dan Surat lainnya.

Takbir.

Ruku’ : tulang ekor, tulang punggung, leher dan belakang kepala hendaknya rata air, kalau bisa; lutut dibuat relaks dan kedua tangan menekan lutut dengan keras, sehingga betis dan otot paha belakang diregangkan maksimum; sambil membaca Subhan Allah Rabbi ‘al-Adzim 3 x, membesarkan Allah.

Bangkit tegak lagi, membaca sami’ Allahu li man Hamidah.

Takbir.

Sujud, seperti uraian di depan, sambil membaca permohonan sebanyak banyaknya dan ditutup dengan Subhan Allah Rabbi ‘al-‘Ala, meninggikan Allah.

Takbir, lalu duduk di antara dua sujud dan membaca permohonan untuk kebutuhan umum harian dalam bentuk yang sudah pakem.

Takbir.

Sujud, seperti yang pertama dan memohon permohonan kedua dan ditutup seperti yang pertama.

Bangkit, Takbir. Itu satu raka’at atau siklus atau thawaf.

Pada raka’at kedua diulang seperti Raka’at pertama, namun sebelum bangkit, duduk dulu. Ini disebut  duduk Tahiyyat. Inilah topik yang dimaksud Pak Samsudin di awal tulisan ini…

Duduk Tahiyyat adalah Puncaknya Shalat

 

Dalam tayangan MNC TV Subuh itu MSH menjelaskan bacaan duduk tahiyyat :”attahiyyatu, wa shalawatu, wa thayyibatu li Allah Ta’Ala”.  Ini bentuk pepujian superlative untuk Allah. Selanjutnya  :“as salamun alaika ya Nabiyyu wa rahmatullah wa barakatuhu.” Ini adalah bentuk kalimat sapaan kepada Nabi yang berada di hadapan kita. Lalu :”As salamu alaina ibadika shalihin.”  Ini adalah sapaan kepada Mursid atau Shaykh yang berada di sisi kita dan membawa kita ke hadirat Nabi s.a.w. Shaykh itu harus seorang shalihin, yaitu (definisi ini yang saya tunggu lama sekali dan di sini diterangkan oelh MSH) orang yang selalu tersambung qalbunya dengan Allah, dan tentu saja selalu tersambung dengan Nabi dan karena itulah dia mampu membawa kita ke hadirat Nabi s.a.w..

Dan seterusnya sampai selesai, apakah itu Takbir lagi atau salam, tanda usai shalat. Ejaan diatas mungkin salah, karena memang saya tidak bisa bahasa Arab.

Lalu mengapa Nabi s.a.w. berada di hadapan kita ketika kita mengatakan kalimat itu? Karena beliau s.a.w. adalah manusia sempurna yang sangat tinggi adabnya. Dalam al Qur’an Allah memerintahkan Nabi s.a.w. kalau ada orang yang memberi salam kepadanya,  supaya dijawab dengan salam yang lebih baik atau minimal sama baiknya.

Jadi karena kita mengucapkan salam untuknya dengan bentuk kalimat untuk orang kedua, maka beliau sebagai seorang beradab dan berakhlaq tinggi, memang harus berada di hadapan kita agar bisa menjawab dan memberikan salam yang lebih baik kepada kita.

Begitu ada seseorang yang takbir untuk shalat, maka qalbu Nabi s.a.w. menandai itu dan bersiaga. Lalu bagaimana bisa bergerak sebegitu cepat? Mungkin disinilah shalawat Allah dan para malaikat memegang peran. Seperti dikatakan di atas isi atau konten shalawat itu adalah yang memang diperlukan Nabi s.a.w.. Dan agar Nabi bisa memenuhi kewajibannya untuk hadir dihadapan mereka yang memberikan salam, diperlukan kecepatan tinggi, maka media shalawat itulah yang memberinya kecepatan yang diperlukan ataupun kemampuan “melipat ruang” dalam istilah ilmu “Space and Time Warps” nya Stephen Hawking. Kalau tak salah dalam Buku Panduan Manakib Hajji tahun 80-an, ada doa yang menyebut ruang dilipat (?) agar perjalanan lancar dan mudah. Bagaimana yang sesungguhnya terjadi? Hanya Allah dan Rasul Nya yang tahu.

Tidak penting apa kita tahu atau tidak apa yang sesungguhnya terjadi. Yang penting kita harus yakin  Allah tentu dapat melakukan yang jauh lebih baik dari yang saya coba terangkan tadi. Sehingga kita bisa memahami mengapa misalnya kita sebaiknya shalat berjema’ah. Agar tidak merepotkan Nabi kalau harus muncul di hadapan tiap individu yang sedang bertahiyyat atau bershalawat ala Nabi. Dan yang harusnya menggedor qalbu kita adalah kenyataan betapa besar cinta Allah kepada kita semua sehingga membuat set up yang seperti itu dan mengirim Rasul yang manusia sempurna dan sangat mencintai kita.

Apakah kita mengira Nabi s.a.w. yang menampung shalat kita, karena memang ditugaskan demikian, tidak akan memperbaiki shalat kita yang akan diforward ke Hadhirat Allah? Lalu apa yang sudah kita perbuat sehingga mendapat cinta Allah dan Rasul Nya yang begitu besar, dan cinta Shaykh yang selalu membimbing dan berusaha mengantar kita kepada hadhirat Nabi s.a.w.? Ingatkah anda dengan kalimat berikut ini:

Fa biayyyi ala’I rabbi kuma tukadhiban?( Disebutkan sebanyak 31 kali dalam Surat Rahman yang terdir atas 78 ayat.)

Nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kamu dustakan? Bukankah kita harusnya menangis mengingat betapa dungu kita selama ini, yang tidak peduli?

Apakah kita masih bersungut sungut  atau marah marah ketika keadaan tidak seperti yang kita harapkan? Apakah kita sibuk menyebar iri, dengki dan kebencian kepada mereka yang kita anggap berkondisi lebih dari kita?Atau berbeda pendapat dengan kita?

Tidaklah cukup hanya mengatakan alhamdulillah atas semua anugerah itu. Kita memang tidak mampu apa apa. La hawla wa la quwwata illa billah. Maka kita harus sering memanjatkan doa :”Ya Allah, jadikanlah amal/kerja ku amal yang bermanfa’at buat diriku dan sekitar, karuniakanlah kepada ku  husnul khatimah untuk setiap thawaf yang saya jalani. Mulai thawaf kecil thawaf kecil, sehingga thawaf besar. Mulai ulangan tarikan napas dan hembusan napasku.  Ulangan raka’at dalam shalatku, sehingga mencapai salam. Ulangan siang dan malam ku. Ulangan kegiatan dari awal sampai akhir proyek yang aku kerjakan. Mulai Engkau tiupkan ruhku ke rahim ibuku, sampai Engkau panggil aku pulang ke Kampung Akhirat.” Amiiin.

Semoga dengan sering memanjatkan doa itu, kita tidak lagi cuek, kita menjadi lebih peduli dengan karunia nikmat yang begitu besar yang kita terima. Sehingga setiap thawaf yang kita jalani berakhir dengan menjadikan kita lebih baik pada akhir thawaf dari pada di awal thawaf. Dengan cara lebih fokus kepada apa yang kita kerjakan.

Jadi setelah tahiyyat terakhir lalu salam, itulah puncak dari shalat, karena kita bisa berbagi kenikmatan dengan sekitar kita. Menjadikan kita lebih baik dari pada di awal shalat. Semoga.

Mengapa Kita Tidak Melihat Nabi s.a.w. Ketika Duduk Tahiyyat

Hal ini adalah justru untuk melindungi kita (umum). Nabi s.a.w. ,yang selalu menerima shalawat dari Allah, shalawat yang berasal dari Bahrul Qudra,  adalah Nur yang sangat kuat. Jauh lebih kuat dari pada sekedar sinar laser. Kalau kita (qalbu kita) tidak dipersiapkan semestinya, maka diri kita akan lebur, no more.

Nabi s.a.w. mengatakan bahwa di dalam setiap kita ada segumpal daging, yang kalau daging itu baik, maka seluruh tubuh akan baik. Kalau daging itu buruk, maka seluruh tubuh akan buruk. Letak qalbu atau jantung spiritual juga berada (baca : mencakupi) di qalbu atau jantung fisik.  Jadi ketika diri (qalbu) kita masih berisi noda, bila kontak langsung dengan Nabi s.a.w., akan lebur, bukan hanya qalbu, tapi seluruh diri itulah.

Tentu saja rangkaian kata kata ini semua tidak berarti saya bisa menjawab harapan Pak Samsudin, karena kesimpulannya tetap saja : saya belum bisa shalat, jadi ya tidak bisa memberi pencerahan tentang shalat. Namun katakanlah apa yang saya uraikan itu tidak menggambarkan apa yang sesungguhnya terjadi, minimal akan saya gunakan rangkaian kata kata itu sebagai doa/harapan saya : minimal begitulah cinta Allah, Rasul Nya dan MSN kepada saya dan mungkin lebih lagi. Amiin.

(bersambung)

 

About kekji

i am nothing and will stay that way. i live only to serve Allah SWT
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Mu’jizat Shalat

  1. Alhamdulillah satelah membaca dapatlah mengetahui apa yang saya balum tau dan saya sangat meminati dan memburu ilmu pengatahuan dunia akhirat,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s