Mari Kita Belajar Menjadi Shalihin dan Membangun Jejaring Khair (Kebaikan) 3

20 Juli 2011

Sutono b Joyosuparto

Iblis diberi kemampuan untuk bergerak melebihi kecepatan cahaya dalam menjelajahi ruang semesta. Tidak ada satu titikpun di alam semesta ini yang tidak pernah dipakainya bersujud kepada Allah. Itu berita sebelum Nabi Adam a.s. diciptakan. Apa untuk makhluq yang paling dikasihi Nya, Allah tidak memberinya kemampuan yang lebih? Kecepatan tertinggi secara fisik yang kita kenal adalah kecepatan cahaya. Cahaya itu hasil dari proses irreversible, misalnya proses fusi Hydrogen menjadi Helium yang terjadi di matahari (atau bintang gemintang lainnya), itu terjadi tanpa kontak dengan Allah (Sumber Tak Berhingga). Maka muncullah rumus tersohor E = mC2 di mana C adalah kecepatan cahaya.

Bila prosesnya reversible, ditandai oleh kontak tak terputus dengan al Khaliq, maka kecepatan subyek yang berproses bisa saja melebihi kecepatan cahaya dan hanya ditentukan oleh Allah semata. Ini yang bisa disimpulkan dari Hukum Thermodinamika Kedua yang berlaku di dunia fisika/energi panas, sebagai analoginya.

Ketika terjadi peristiwa Isra’ dan Mi’raj, Nabi s.a.w. , body and soul, bergerak dengan kecepatan melebihi kecepatan cahaya mengarungi  alam semesta untuk mencapai sidratul muntaha. Ketika kemudian berita itu disampaikan kepada para shahabat, maka mereka semua mengimani dan mengamininya. No questions asked. Karena iman sudah tebal. Jadi tidak ada diskusi tentang bagaimana itu bisa terjadi. Bagi kita kita ini yang masih tipis iman, tentunya masih ada pertanyaan tersisa tentang peristiwa tersebut.

Alhamdulillah. Setelah pemahaman kita tentang makna “semua makhluq bertasbih kepada Allah”, dan memahami mengapa ada perintah “dzikr katsiran/sebanyak banyaknya” bukan sebaik baiknya, dan dengan bantuan percobaan laboratorium pada mekanika quantum, maka ada peluang untuk memperkiraan apa yang terjadi secara analog. Bukan digital, bukan ilmu haqqiqat.

Tentu saja Nabi Muhammad s.a.w. adalah seorang shalihin, bahkan yang pertama, dengan kualifikasi seperti yang sudah disampaikan dalam tulisan sebelumnya. Jika seseorang sudah up load dzikir (Allah Allah) dalam jumlah yang cukup, sehingga qalbu nya makin kuat, dan dengan masuknya cahaya Haqq, maka sifat negatif/buruk selapis demi selapis menghilang atau tanggal/rontok. Dan makin banyak sifat buruk atau kepompong yang terkelupas, makin kuatlah cahaya Allah Allah yang bisa diserap qalbu, dan makin banyak  pula kepompong kita yang terkelupas.

Makin kuat ruh yang bersemayam dalam qalbu kita, makin tinggi pula kemampuannya untuk “menguasai” komponen duniawi dirinya, badan/wadaknya. Atas izin Allah, dia akan mampu “mengambil alih” tasbih para malaikat quanta (jamak dari quantum) dalam dirinya. Makanya kita juga diperintah untuk melatih dzikir mengikuti denyut nadi, sehingga kita terlatih menjadi dirigen atau koordinator dzikir para malaikat quanta tersebut. Jadi dia bisa memilih apakah dirinya akan berbentuk cahaya (seperti hologram gitu yang kita kenal, yang ini adalah teknologi bumi yang tiruan dari teknologi aslinya, teknologi Bahrul Qudra) atau berbentuk materi seperti normalnya.

DIkatakan bahwa MSN bisa seolah berada di lebih dari 12,000 tempat secara serentak, buat menilik para murid dan pengikutnya, menggunakan kecepatan yang lebih tinggi dari kecepatan cahaya.

Baru begitu saja pemahaman yang sampai kepada saya. Tetapi itu tidak penting, apakah benar atau tidak. Yang penting adalah hendaknya kita terus berusaha agar dzikir kita tidak terputus, tanpa mengharap akan mendapat apa dengan upaya kita yang bersungguh sungguh itu. Karena Allah berkuasa atas segala sesuatu, dan Dia memberikan apapun (ilmu, harta, dan kuasa) kepada siapapun yang dikehendaki Nya. Dan yang harus kita yakini adalah bahwa apapun keadaan yang kita alami, itu adalah yang terbaik buat kita pada saat itu.

Perjalanan Cinta

Memang kalau polos begitu saja, perjalanan mendekat kepada Allah akan terasa hambar. Seperti masakan kurang bumbu. Kita bisa bersikap shabar dan syukur, itu adalah karena di dalam diri kita ditanam Asma ul-Husna ukuran quanta (jamak dari quantum). Dan di dalam diri kita juga ditanam al Wadud, ar-Rahman dan ar-Rahim dalam ukuran quanta, maka kitapun mengenal cinta dan harusnya bisa mengembang kannya.

Maka kalau perjalanan mendekat ke Allah itu dilandasi dengan cinta, itu akan terasa lebih indah dan berbunga bunga. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, awalnya yang kita miliki hanyalah cinta diri. Kalau cinta diri itu tumbuh besar  bersama membesarnya diri kita, tanpa berubah menjadi cinta yang lain (cinta orang tua, cinta kekasih dan seterusnya), maka kita tak bisa lepas dari sifat kekanak kanakan kita.

Cinta antara sepasang kekasih, di mana satu lirikan mata saja sudah membuat kita gemetar saking bahagianya, itulah kunci menuju cinta kepada Allah. Beberapa waktu yang lalu MSN bertanya kepada hadirin (jama’ah nya) apakah ada yang belum menikah? Beberapa orang mengangkat tangannya. Maka MSN mengusir mereka:

”Pulanglah kalian dan menikahlah. Jangan ke sini lagi sebelum menikah.”

Artinya tanpa pernah merasakan cinta sepasang kekasih, tak bisa seseorang menum buhkan cinta kepada Allah, yang akan menyebabkan dia gemetar bahagia, hanya dengan mendengar nama Nya disebut.

Cinta sepasang kekasih itu tidak akan berlangsung lama. Maka Mawlana selalu menganjurkan agar mereka segera menikah, ketika sudah mencapai rasa cinta seperti itu. Dan begitu pasangan itu menikah, mereka diharapkan  saling mengisi kekurangan dan berusaha keras untuk membesarkan pohon cinta mereka sehingga tumbuh menyentuh Arsy, seperti yang digambarkan di dalam ayat 24 dan 25 Surat Ibrahim.

Nikmat cinta sepasang kekasih tadi adalah yang dikategorikan sebagai nikmat duniawi yang tidak dapat kita nikmati berlama lama. Seperti telah dibahas sebelumnya, bahwa diri kita tidak didesain untuk bisa menikmati nikmat dunia berlama lama. Diri kita didesain untuk tahan menderita. Keadaan inilah yang telah mengecoh kita, karena kita tidak memahami apa maksud Allah dengan desain manusia seperti itu. Alih alih kita mencari alasan desain seperti itu, kita malah suka menjadi penasaran, ingin terus mengejar nikmat duniawi tersebut. Dan dengan ego (cinta diri) yang terus mengompori diri kita, inilah asal muasal dari kegemaran kita untuk menimbun harta dan hal lain yang bersifat duniawi, karena kita berpikir bisa memperpanjang rasa nikmat duniawi itu.

Gambaran sederhananya begini. Ketika misalnya jatah nikmat yang sesuai dengan desain diri kita adalah 1% dari waktu yang tersedia untuk kita, maka bahan untuk mendapat nikmat dunia itu hanyalah, sebut saja 1 (satu) unit. Karena salah mengerti, kita mengumpulkan 100 unit. Ini kan sia sia, karena waktu kita keburu habis sebelum mampu menghabiskan bahan untuk mendapat nikmat dunia seperti itu.

Lalu sikap alternatif yang mana, yang dikehendaki Allah? Allah menghendaki kita menggarap kemampuan kita untuk menderita itu buat menggapai nikmat surgawi!!!  Bagaimana itu bisa terjadi? Di sinilah masuknya peranan cinta kepada Allah itu. Kita bertanya mengapa kita mencintai Allah? Why not? Mengapa tidak? Kita mencintai orang tua kita kan? Karena melalui merekalah kita berada di dunia ini. Karena merekalah yang telah membesarkan, mendidik dan memberikan segala kebutuhan  kita selama kita masih di dalam rumah mereka, bahkan ketika kita sudah keluar rumah pun.

Kita mencintai kekasih, atau pasangan atau soul mate kita kan? Ya, karena dia melengkapi hidup kita,  mengisi kekosongan kita, menemani kita di kala suka dan duka dan sebagainya. Jadi apakah kita harus mencintai Allah, yang telah memberi kita orang tua yang mencintai kita, yang telah menyediakan pasangan yang mencintai kita, yang telah menggelar kehidupan ini untuk kita jalani?

Tentu saja dong. Tentu saja deh.

Lalu Allah melalui al Qur’an yang diturunkan kepada Rasul Nya, mengatakan :”Patuhilah Allah, patuhilah Rasul Nya dan mereka yang memiliki otoritas atas dirimu” dan di ayat lainnya “cintailah Allah dan Rasul Nya”. Ini bisa dikatakan bahwa Allah menghendaki kita untuk menunjukkan patuh dan cinta kepada Nya, melalui patuh dan cinta kepada makhluq yang paling dicintai Nya, yaitu Nabi Muhammad s.a.w. Maka kitapun hendaknya patuh dan cinta kepada Nabi Muhammad, seseorang yang dikirim Allah ke dunia membawa rahman bagi seluruh semesta alam, yang sangat mencintai ummatnya. Dia s.a.w. sejak awal kehidupannya sampai akhir hayatnya menggumam kan “ummati, ummati”, karena sangat prihatin melihat keadaan ummatnya itu.

Lalu apakah kitapun harus patuh dan cinta kepada Guru Mursyid kita, yang ber tanggung jawab untuk membawa kita ke hadhirat Nabi s.a.w.? Ya tentu saja toh!!!

Dan ingatkah kita, ketika masih “pacaran” dengan kekasih kita, untuk melihat dia tersenyum manis kepada kita saja, rasanya kita rela untuk berjalan kaki ke Cirebon untuk membelikan gado gado yang hanya dijual di warung favoritnya di sana? Bukankah begitu?

Dan kini untuk menunjukkan cinta kita kepada Allah S.W.T. bersediakah kita untuk bersusah payah dalam kehidupan dunia ini? Dan ingat bahwa Allah itulah yang menciptakan kita. Dia tahu benar kemampuan kita, dan kitapun sudah diciptakan agar tahan terhadap kesukaran yang wajar. Tentu saja kita harus yakin, bahwa Dia tidak akan menyuruh kita melakukan sesuatu yang Dia tahu kita tidak akan mampu melakukannya. Allah gitu loh (mungkin begitu bahasa gaulnya).

Jadi kalau kemampuan kita untuk menahan sedikit kesukaran dan penderitaan itu kita gunakan untuk meraih (atau memantapkan) cinta Allah, bukankah semua kesukaran dan penderitaan itu akan berubah menjadi sesuatu yang nikmat? Seperti rasa nikmat ketika melihat kekasih kita tersenyum kepada kita? Tapi ini adalah nikmat surgawi, yang kita tahan (mampu) untuk menikmatinya berlama lama, sampai ke Hari Kemudian? Begitu apa begitu?!!!

Dan ingatlah bahwa Allah itu Pemilik Wadud, Rahman, Rahim, Shabar dan Syukur. Jadi kalau kita sedkikit saja menunjukkan cinta kepada Nya, apakah kalian pikir Dia tidak akan membalasnya dengan berlipat ganda? Sedangkan kepada orang jahat saja, Dia pun masih memberi apapun yang diperlukan untuk menjalani hidup mereka di dunia yang fana ini. Jadi kitapun bisa memahami agama, dengan menggunakan rasio. Menggunakan logika. Tapi kalau ada yang masih ingin memahami agama dengan cara lain yang penuh misteri, bolah boleh saja. Bukankah memang Allah memberikan ilmu apapun kepada siapapun yang dikehendaki Nya? Yang penting kita jangan mencela satu sama lain. Sesama bis kota dilarang saling mendahului. Biar semuanya tetap tertib begitu lho. (bersambung)

About kekji

i am nothing and will stay that way. i live only to serve Allah SWT
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s