Reinkarnasi : Pandangan Islam

Reinkarnasi : Pandangan Islam

15 April 2011

Eyang Sutono

Pak dr.Eko, mbak Dian,

Font regular dari ES

Yang Italic dari shaykh GFH

Waktu shaykh GFH memberi penjelasan tentang reinkarnasi, antara lain dikatakan bahwa seorang Sufi adalah “anak” hari ini. Seorang Sufi hanya hidup untuk saat ini. Baginya masa lalu adalah sudah mati, masa mendatang belum terjadi. Jadi yang penting bagaimana menjalani sat ini.

Artinya Islam adalah tentang perbuatan, bukan tentang pengetahuan. Bukan tentang apa yang diketahui oleh pemeluknya. Itulah yang diperagakan oleh Nabi s.a.w. Setiap kali sebagian al Qur’an (ayat ayat nya) turun kepada beliau s.a.w., langsung diformat kepada diri beliau s.a.w., untuk kemudian diangkat kembali ayat itu dan dikembalikan ke lauwhul mahfud(?). Begitulah seterusnya sehingga seluruh al Qur’an di down loaded kepada beliau s.a.w., dan seluruhnya dikembalikan ke tempat asalnya. Kalau tidak demikian tentu seluruh ilmu  yang terkandung di dalam Kitab Suci, yang mengandung seluruh ilmu & kejadian dari sejak awal sehingga akhir, akan sangat memberati Nabi s.a.w. Jadi meskipun seluruh isi al Qur’an itu beliau s.a.w. kuasai, namun seluruh tindakannya tidak ada yang dilakukan sebelum mendapat petunjuk/perintah Allah. Hal ni nampak ketika sekelompok petinggi agama Yahudi mengunjunginya dan bertanya tentang sesuatu (tidak ingat masalah apa, ES), yang tidak mungkin tidak diketahui Nabi s.a.w., tetapi toh beliau s.a.w. tidak segera menjawab. Diperlukan beberapa waktu barulah beliau s.a.w. menjawab, setelah mendapat ijin Allah. Inilah yang sesungguhnya yang dimaksud “Be Nothing” atau “Jadilah Kosong”,  yang dimaksud Mawlana. Dan Nabi Muhammad s.a.w. adalah The Real, The Only Zero, la ilaha illa Allah, Muhammad rasul Allah (hanya ada 1 dan 0).

Kemudian shaykh GFH berkisah tentang Mursid Naqshbandi dengan Pendeta Hindu, yang antara lain ada dialog :”Saya tidak mau makan hidangan yang sudah anda sediakan, sebelum anda mengucapkan dua kalimat shahadat.” Yang disusul tercenungnya Pendeta Hindu itu dalam waktu yang lama.

Jadi kalau teman mbak Dian tidak puas hanya dengan jawaban :”Mari kita berlomba berbuat baik, dalam rangka ber-reinkarnasi,” hendaknya berani mengatakan hal berikut :

Saya tidak bisa memberi pengetahuan atau ilmu tentang reinkarnasi kepada anda. Kami, muslimin dan muslimah, meyakini bahwa yang bisa memberi tahu atau memberi ilmu kepada manusia tentang apa yang tidak diketahuinya hanyalah Allah.

Jadi sumber segala ilmu itu terletak di dalam dua kalimat shahadat : la ilaha illa Allah, Muhammad rasul Allah. Kalau anda benar benar ingin tahu apa pendapat Islam tentang reinkarnasi, itu adalah pintu yang harus dilalui. Kalau nggak mau ya tidak apa. Tidak ada paksaan dalam agama (sampai saat ini, mungkin sebentar lagi akan berlaku paksaan itu, ini untuk mbak Dian saja, jangan diucapkan ke teman itu atau orang lain).

Tapi sesungguhnya bagaimana muncul ide  tentang reinkarnasi ini bisa datang di dalam khasanah ilmu mereka itu ? Saya menduga penyebabnya adalah karena belum selesai belajar, sudah berhenti kontak dengan Yang Maha Agung. Reinkarnasi menurut  Merriam-Webster  “terlahir kembali ke dalam tubuh atau bentuk kehidupan baru”. Kalau dalam kehidupan yang sekarang seseorang berkelakuan baik, maka dalam kehidupan berikutnya dia akan berinkarnasi ke tubuh (dan posisi) yang lebih mulia. Kalau sudah mencapai kesempurnaan, maka dia akan muqswa, tidak lagi thawaf atau didaur ulang. Tetapi kalau dalam kehidupan yang sekarang dia berkelakuan buruk, maka dalam reinkarnasinya akan muncul dalam tubuh kera atau babi, tergantung pada keburukan nya dan interpretasi manusia saat itu tentang kelakuan binatang yang terkait.

Artinya jelas konsep ini meniadakan adanya Satu Kekuatan Tunggal yang serba mengatur segala sesuatu. Atau dengan kata lain : atas Rahmat Allah, para penggagas Hindu diberi pengertian tentang perlunya manusia berthawaf dan berhijrah dari keadaan yang buruk. Prinsip ini diterjemahkan kedalam konsep reinkarnasi tersebut. Artinya jelas jelas di sini mereka langsung meniadakan adanya Al Ahad, maka mereka lalu dibiarkan sesat setelah mereka diberi oetunjuk.

Petunjuk sebelum itu adalah adanya kekuatan di luar manusia yang mengatur kehidupan ini. Lalu diperkenalkan beberapa asma ul husna, yang ditangkap oleh mereka sebagai dewa dewa (tuhan tuhan) independen.  Dan konsep reinkarnasi makin melecehkan Al Ahad, yang dengan konsep renkarnasi mereka itu seolah Al Ahad tidak lagi memiliki bahan dasar untuk membuat/menciptakan ruh baru. Maka begitulah seluruh hidayah (petunjuk) dihentikan untuk seterusnya. Audzubillahi mindzalika. Allah ‘Alam.

About kekji

i am nothing and will stay that way. i live only to serve Allah SWT
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s