Suatu Sore Bersama Shaykh GFH

Suatu Sore Bersama Shaykh GFH

11 April 2011

Eyang Sutono

Regulafr fonts dari shaykh GFH

Italic dari Eyang Sutono

Dalam acara dengan Shaykh Gibril di Rumi Café, sore tadi, yang dipandu (moderator) oleh pak Suntan dengan baik sekali,  sekaligus sebagai penterjemah, disampaikan sohbat tentang pentingnya terus meningkatkan kekuatan qalbu. Semakin kuat qalbu seseorang semakin sensitif dia terhadap isyarat yang disebarkan Allah bersama setiap kejadian, sehingga kejadian itu lebih dapat dimengerti tanpa harus menunggu pengungkapan fakta yang lebih banyak.

Peningkatan kekuatan qalbu seperti itu hanya bisa didapat dengan sering mengikuti sohbat Mawlana secara berjama’ah. Karena pada situasi demikian itu Mawlana akan membawa seluruh hadirin ke bawah Kaki Arsy, sehingga semua hadirin berkesempatan menyerap cahaya ilmu batin sesuai dengan tingkatnya masing masing. Kekuatan qalbu itu tidak bisa diperoleh hanya dengan membaca buku buku atau tulisan tulisan oleh mereka yang tidak memiliki kekuatan batin yang diperlukan. Bahkan hadir dan mendengar sohbat yang diberikan oleh seseorang yang diberi wewenang untuk itu, meskipun kekuatan qalbunya masih lemah pun masih lebih baik dibanding dengan membaca buku buku tadi.

Sore itu shaykh GFH menyampaikan kisah hikmah yang diambil dari Kitab Haywan dunia binatang (fable).  Suatu saat seekor kelinci menemukan sebutir apel yang pas ranumnya. Setelah diambil, digosok gosoknya apel itu sehingga mengkilat dan kelihatan sangat menggiurkan untuk segera digigit. Lalu datanglah seekor serigala. Melihat apel yang dipegang kelinci itu, serigala sangat tertarik dan mendekat dan menyapa :”Wah cantik sekali apel kamu itu. Bolehkah saya melihatnya lebih dekat?” Ketika kelinci menjulurkan tangan yang memegang apel itu ke arah serigala, maka serigala lalu merebut apel itu dari tangan kelinci. Maka kelinci menampar serigala sambil berteriak :”Kamu telah merampas hak saya.” Serigala membalas menampar kelinci sambil berteriak juga :”Bukan hakmu, ini sekarang hakku.”

Maka masing masing yang berebut apel tadi meneriakkan kata “Hakku.” Hakku.” Setelah beberapa saat keduanya menyadari tidak dapat dicapai kesepakatan dengan cara ini, maka kedua nya sepakat untuk meminta hakim di kalangan binatang yang menentukan siapa yang lebih berhak atas apel itu. Dan di kalangan binatang yang dianggap patut menjadi hakim adalah kadal (lizart). Pergilah keduanya mendatangi liang kadal. Di depan liang kadal mereka memberikan salam dan menyatakan ingin menemui kadal sang hakim. Kelinci berkata :”Pak Hakim keluarlah, kami ingin mendapat pertimbangan mu.” Kadal menjawab :” Masuklah, kalian yang memerlukan saya, maka kalian masuklah.” Jawab mereka :”Kami tidak dapat masuk (liang kadal), maka pak Hakim  keluarlah.” Kadal hakim :”Saya tidak akan keluar menemui kalian. Bicara sajalah sekarang. Saya akan memutuskan.”

Maka kelinci menguraikan kejadiannya :”Saya menemukan apel yang sangat ranum, maka saya pungut lalu gosok gosok sampai mengkilat.”

Kadal :”Bagus, beruntunglah kamu.”

Kelinci: “Maka datanglah serigala ini yang langsung merebut apel itu dari ku.”

Kadal :”Dia tahu apa yang baik untuknya.”

Kelinci :”Maka saya menampar dia.”

Kadal :”Itu hakmu.”

Kelinci :”Tapi dia balas menampar saya.”

Kadal :”Itulah yang dilakukan orang yang merdeka.”

Kelinci:”Lalu bagaimana keputusanmu ya pak Hakim.”

Kadal:”Saya sudah memberikan putusan (fatwa) saya kan!!!”

(tamat)

Begitulah bentuk sohbat Mawlana umumnya, sebagai semacam pancingan atau sebuah analogi. Mawlana hanya membimbing, memberi contoh, menjadi kran dari datang nya ilmu untuk para pengikut dan muridnya. Al Qur’an menyebutkan bahwa Allah yang memberi tahu manusia tentang hal yang tidak diketahuinya.  Mawlana melanjutkan tradisi Nabi s.a.w. yang meskipun ilmunya tinggi dan dalam sekali, namun tidak banyak cakap. Perhatikan ketika ditanya :”Siapakah yang harus lebih dihormati Ayah apa Ibu?” Nabi menjawab :”Ibu.” Singkat sekali, tanpa penjelasan. Yang bertanya tanya lagi :” Setelah itu siapa?” Jawabnya :”Ibu.” Ditanya sekali lagi :”Sesudah itu siapa?” Jawabnya :”Ibu.” Ditanya lagi :”Setelah itu siapa?” Jawabnya :”Ayah.” Tanpa penjelasan. Silahkan simpulkan sendiri.

Memang Islam adalah tentang perbuatan, bukan tentang tahu, bukan tentang ilmu. Ketika Mawlana memberi sohbat, beliau bekerja : mengolah qalbu hadirin.

Sore itu hadirin diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan. Rupanya tidak ada yang bertanya. Artinya semua hadirin mengerti hikmah di balik kisah hewan itu. Sebetulnya pemahaman hikmah begini ini tidak ada salah, tidak pula ada benar mutlak. Masing masing (boleh) menangkap yang berbeda beda. Selama itu makin mendekatkan diri kita kepada Allah dan Rasul (s.a.w.) Nya dalam semangat cinta, maka itu pemahaman yang benar, meskipun nampaknya tidak menyambung dengan kisah yang dipaparkan dalam sohbet.

Yang akan disampaikan ini adalah salah satu tangkapan-yang-mungkin (possible interpretation) dari kisah kelinci, serigala dan kadal tadi.

Kelinci menemukan apel, bukan dari hasil berpayah payah menanam pohon apel. Maka kadalpun mengatakan :”Baguslah. Beruntunglah kamu.” Tapi karena sudah berada di tangan hendaknya menjaga dengan baik rezeki itu. Ketika serigala datang dan mengagumi apel itu, sesungguhnya kelinci punya dua sikap, yaitu : menawarkan sebagian apel itu memperhatikan bahwa serigala nampak berminat atas apel, atau menjaga baik baik apel untuk mempertahankan rezekinya.

Tetapi kelinci malah menjulurkan tangannya ke arah serigala. Maka ketika dilaporkan ke kadal, bahwa apel direbut serigala pada posisi tangan terjulur begitu, kadal berkomentar (berfatwa) :”Dia (serigala) tahu apa yang baik untuknya.” Seolah kadal tidak menyalahkan serigala. Malah nampaknya kadal menganggap kelakuan serigala itu wajar/pantas.

Kalau seseorang meninggalkan tas keren di dalam mobilnya ketika di parkiran, lalu kaca mobilnya dipecah orang dan tas keren nya itu lenyap, yang patut disalahkan adalah sang pemilik mobil itu sendiri. Dia seolah mengundang orang untuk mencuri tasnya, meskipun tadinya orang yang mencuri itu tidak punya niat. Tapi melihat tas cantik itu seolah mengundang dia untuk mengambilnya, maka itulah yang dia lakukan.

Dan ketika kelinci melaporkan telah menampar serigala atas perbuatannya itu, kadal mengatakan bahwa itu masih menjadi haknya kelinci. Dan ketika dilaporkan bahwa serigala membalas tamparan kelinci, kadalpun mengatakan :”Itu adalah yang dilakukan orang yang merdeka.” Komentar ini bisa diartikan bahwa serigala (sebelum menampar balik) masih menjadi orang merdeka atau netral belum ada salahnya. Dan boleh dia berinisiatif melakukan tamparan itu. Atau bisa juga diartikan bahwa serigala adalah makhluk merdeka yang bebas dari ikatan moril, ya pantas saja dia berkelakuan begitu.

Itu adalah interpretasi moral atau hikmah dari cerita tersebut, yang mungkin. Tentu saja banyak interpretasi lain yang boleh, tergantung masing masing latar belakang orang yang terkait.

Yang terbaik adalah intepretasi  yang makin mendekatkan diri kita kepada Allah, misalnya : kalau kita menjadi kelinci itu, kita bersyukur ketika menemukan apel tadi. Dan ketika melihat serigala mendekat, dan kita belum tahu sifat/kelakuan  serigala, bisa saja kita langsung mau berbagi rezeki tersebut dengan nya. Dan kalau kita sudah tahu kelakuan seekor serigala, bisa saja bersiap mempertahan kan apel itu. Dan kalaupun kalah oleh serigala setelah mereka memperebutkan apel itu, kitapun tetap gembira dengan hasil akhir itu. Itulah yang akan membuat Allah ridha (bergembira) terhadap kita.

Para ustadz selalu mengatakan agar kita selalu berusaha mencari ridha Allah, namun mereka umumnya tidak memerinci persisnya bagaimana kita bersikap agar  Allah ridho. Sebetulnya rincian yang penting yang harusnya disampaikan adalah sederhana saja : apapun yang kita lakukan, apakah melaksanakan hal yang fardhu, meninggalkan yang dilarang ataupun mengerjakan tugas sehari hari kita dalam posisi kita di masyarakat, di rumah, jika itu semua dilakukan dengan riang gembira, dalam semangat cinta kepada Allah dan Rasul (s.a.w.) Nya, itulah yang akan membuat Allah ridho. Kuncinya kitapun harus ridho (gembira). Karena apa? Karena kalau kita bersungut sungut melakukan sesuattu, bagaimana mungkin Allah ridho? Emangnya Allah senang melihat makhluk ciptaan Nya tidak bahagia ? Apa Dia Maha Penyiksa? Tidak ada Sifat itu dalam asma ul husna.

Tapi ada juga di antara yang hadir yang mengajukan pertanyaan, namun bukan tentang kisah binatang tadi. Bu Dian menyampaikan pertanyaan tentang apa pandangan Islam tentang reinkarnasi, mengingat dalam pergaulan sehari hari, dia berteman dengan orang orang dari beragam agama, yang selalu bertanya kepadanya tentang ini, tetapi dia merasa belum bisa menjawab dengan benar.

 Maka terhadap pertanyaan ini shaykh GFH mengembalikan ke ayat al Qur’an yang menyebutkan bahwa pembicaraan (perdebatan) antara muslim dengan non-muslim hendaknya digiring ke hal-hal yang disepakati bersama.

Pengertian umum terhadap istilah re-inkarnasi adalah : (1) berdaur ulangnya kehidupan manusia di level kehidupan dunia, sehingga mereka yang mengikuti konsep ini berusaha mencapai hidup dalam perputaran berikutnya dalam keadaan yang lebih baik, dengan cara selalu berbuat baik dalam kehidupan yang sekarang;  (2) adanya daur ulang kehidupan dalam kehidupan seseorang dipakai untuk menjelaskan adanya orang orang yang (seolah) mengetahui apa yang diketahui/dialami mereka yang sudah tiada.

Yang ditanggapi shaykh GFH hanya yang butir (1) saja. Maka beliau menyarankan ke ibu Dian agar berfokus diskusi tentang reinkarnasi ini dalam berlomba berbuat baik, yang sangat diutamakan dalam agama Islam.

Lebih jauh shaykh GFH menyampaikan kisah tentang salah satu Mursid dalam Tarekat Naqshbandi Rantai Emas, yang dilapori salah seorang muridnya tentang adanya pendeta Hindu yang mempunyai kemampuan lebih : bisa terbang, berjalan di atas air dan mengetahui hal hal yang akan datang. Maka Mursid inipun dengan mengucapkan basmalah, dalam sesaat sudah berada di hadapan pendeta Hindu tersebut, yang segera menyambutnya dengan hangat :”Selamat datang Shaykh, saya tahu anda akan hadir, maka saya sengaja menyediakan hidangan yang halal, hewan ternaknya disembelih oleh pembantu yang seorang Islam juga. Mari silahkan dinikmati hidangan yang sudah saya sediakan ini.” Mursid Naqshbandi itu menjawab :”Terima kasih. Tetapi saya tidak mau menyantap hidangan ini sebelum anda mengucapkan dua Kalimat Shahadat.”

Maka sang pendeta Hindu menundukkan kepalanya, lama. Lama sekali. Sejam lebih baru akhirnya dia mengangkat kepalanya dan mengucapkan kalimat Shahadat dihadapan Mursid itu. Sang Murshid bertanya :”Mengapa anda tadi memerlukan waktu yang lama sekali baru bersedia mengucapkan dua Kalimat Shahadat?”

Sang pendeta menjawab :”Kebiasaan lama saya adalah selalu menentang apa yang dikatakan ego saya, maka saya bisa mencapai kedudukan saya yang sekarang. Kalau ego saya suruh saya ke kanan, saya ke kiri Kalau ego menyuruh saya maju, saya mundur. Tadi ketika anda minta saya mengucapkan dua kalimat shahadat, ego saya membujuk panjang lebar agar saya tidak melakukan itu, karena kata ego, saya akan kehilangan semua yang telah saya capai dengan memeluk Islam. Kata ego, saya akan kehilangan semua kepandaian saya. Saya akan kehilangan status sosial saya. Saya akan ditinggal kan para pengikut saya. Saya pikir itu semua adalah yang saya sukai, saya senangi. Maka lama sekali saya harus bergulat dengan ego. Meskipun sudah menjadi tradisi saya untuk menentang ego, tetapi kalau saya kehilangan itu semua, saya juga tidak mau. Setelah melalui pergulatan batin yang panjang, akhirnya saya mantap meneruskan tradisi saya : menentang ego. Maka saya pun mengucapkan dua kalimat shahadat itu.”

Diceritakan bahwa pendeta Hindu itu setelah masuk Islam, karena dia selalu menen tang egonya, maka seluruh ilmu hitamnya telah dirubah Allah menjadi ilmu putih, sehing ga kepandaiannya bukannya berkurang malah bertambah.

Saya rasa bu Dian bisa mengikuti saran yang diungkapkan dalam sohbet shaykh GFH sore itu, ketika ditanya teman teman nya tentang reinkarnasi dalam Islam, bu Dian bisa menjawab :”Saya tidak mau bilang sebelum kalian mengucapkan shahadat.” Hi hi hi, itu artinya mengajak perang teman teman nya itu. Itu yang saya tangkap sore bersama shaykh GFH.

 

About kekji

i am nothing and will stay that way. i live only to serve Allah SWT
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s