Bag 3 Hukum Thermodinamika

 

Dengan analogi antara Hukum Kedua Thermodinamika dengan Hukum QS 103, kita bisa lebih memahami bekerjanya keduanya, dan memahami pula cara belajar yang lebih efektif, sebagaimana dikehendaki Sang Pemilik Ilmu. Algorithme proses belajar (Soft Ware Gain) ini berlaku pula untuk meraih Hard Ware Gain, dan meningkatkan kualitas posisi kita di dalam berbagai kawasan (Territorial Gain) yang kita maksud. Mengapa? Karena dalam kedua hal terakhir itu terkait juga (diperlukan) meningkatnya ilmu khusus untuk hal yang bersangkutan itu. Dan juga karena Hukum Syukur dan Shabar berlaku pula di situ.

Namun karena proses belajar yang hingga kini berlaku itu sudah berusia ribuan tahun, tentunya tidak bisa begitu saja disingkirkan. Yang dapat dilakukan adalah kita melakukan superimpose terhadap cara lama, sambil minimal mulai menerapkan cara baru ini terhadap diri kita sendiri. Semoga itu cukup untuk membuat Allah melihat adanya usaha anda menuju ke proses yang reversible (beriman dan amal shalih) dan cara belajar anda menjadi lebih efektif. Insya Allah.

Yang ingin disentuh tulisan ini adalah agar semua mau membawa Tuhan mereka masing masing ke dalam kehidupan sehari hari. Apapun kepercayaan mereka. Mulailah dengan yang sudah ada di dalam jantung/qalbu anda. Terus daur ulang soft ware (ilmu) itu, sampai itu memberi manfa’at buat anda dan sekitar anda, dan makin mendekatkan pemahaman anda kepada Dia, yang sesungguhnya, yang mampu menciptakan alam semesta ini. Yang menciptakan kita, manusia, dan memenuhi kebutuhan seluruh makhluq ciptaan Nya. Artinya Dia itu ya hanya Satu. Sehingga tuhan tuhan palsu yang menyelimuti anda makin menipis, dan anda secara selapis selapis mampu keluar dari kepompong anda. Benar!!! Kalau ulat, kepompongnya berbentuk hard ware. Kepompong manusia berupa  soft ware, yang di-installed di dalam diri manusia itu sendiri, namanya ego. Dan kepompong itu bukan hanya satu lapis seperti pada ulat, yang hanya memiliki satu lapis kepompong. Kepompong manusia berlapis lapis, bahkan ribuan lapis.

Pada umumnya kepompong itu berfungsi untuk melindungi manusia sebelum dia memahami hal hal. Masih BALITA, masih dalam keadaan jahil. Karena fungsinya yang begitu, dia cenderung membuat manusia yang belum dewasa itu (hanya) mencintai dirinya. Dengan egonyalah manusia berusaha selamat (survive) ketika masih lemah. Ego ini pula yang membuat seseorang mengatakan dalam hatinya :”Kalau dia bisa, mas iya saya tidak bisa?” Karena ego pula manusia cenderung mencari the easy way out. Mencari terobosan yang paling mengun tungkan dirinya. Hanya mencari manfa’at sekejab. Memang manusia umumnya tidak tahu memilih yang mana di antara pilihan yang ada, apa yang terbaik untuk diri mereka sendiri dalam jangka panjang. Karena itulah ego (dan tentunya kita) ini sering terjebak oleh muslihat setan.

Itulah serba sedikit tentang ego, yang dapat menjadi sandungan upaya kita untuk reversible, agar kita lebih mewaspadainya.

Kembali tentang belajar. Kalau hal yang kita pelajari itu makin menuju kepada ukuran yang mendekati NOL atau frekwensi yang mendekati INFINIT (TAK BERHINGGA), maka peranan izin Allah menjadi lebih dominan. Maka pendekatan atau analisa analogi tidak lagi memadai. Apalagi sekarang ini dikatakan bahwa Primadona Ilmu (yaitu Matematik) telah meninggal. Sudah menthok. Sedang Physics pun sudah sampai ke batas, ketika sampai ke ukuran extrim, di mana sukar dibedakan antara cahaya dan materi. Untuk yang demikian diperlukan analisa hakiki atau analisa digital (ini adalah awal dari analisa hakiki). Maka variasi hasil ilmu yang didapat sangatlah besar. Ini topik yang sangat rumit. Namun basic nya adalah pada simbol 1 (la ilah illa Allah) dan 0 (Muhammad Rasul Allah). Ingat? Ini adalah digital !!! Ilmu khas (khusus) yang diberikan (di down load) kepada seseorang sangat tergantung kepada berapa banyak (dengan variasinya masing masing) Asma ul Husna (mewakili simbol 1 atau Nur Allah) yang di up load ke dalam jantung (qalbu) nya, dan berapa banyak shalawat yang dikirmkannya ke hadhirat Nabi s.a.w. (mewakili simbol 0 atau Nur Muhammad). Dan ilmu yang didapatpun tidak diketahui oleh yang bersangkutan, sebelum itu berada di tangan. Kira kira begitu deh. Allah ‘Alam.

Reaksi Hukum Syukur dan Shabar terhadap Soft Ware Gain relatif lebih terasa dibanding dengan reaksi terhadap Hard Ware Gain maupun terhadap Territorial Gain. Mengapa ya? Itu bisa dijelaskan dengan mempertimbangkan bahwa untuk Soft Ware Gain, yang terlibat hanya berdua, yaitu : Allah dan kita sendiri. Guru hanya menyalurkan. Untuk Hard Ware Gain masuklah komponen yang ketiga : boss atau pelanggan atau pihak lain, misalnya teman sekerja atau partner. Komponen ketiga ini memiliki kecenderungan irreversibility yang cukup tinggi. Sehingga ada dampak terhadap upaya itu, berupa time lag (kegagalan adalah success yang tertunda?) ataupun ketidak efektifan.

Nampaknya untuk Material Gain ini unsur “mengajak kepada kebenaran”, unsur ketiga dalam Hukum QS 103, menonjol perannya. Jadi tidak saja beriman dan beramal shalih, tetapi ditambah dengan mengajak kepada kebenaran. Ini lebih sukar dari urusan Knowledge Gain, kita harus menunjukkan dan mengajak (memberi contoh) kerja yang benar, barulah diberi upah atau mendapatkan imbalannya.

Meningkat kepada Territorial Gain, unsur “mengajak kepada shabar” menjadi menonjol. Tentunya tergantung teritori yang mana yang dimaksud. Namun jelas untuk mempertahankan territori memang diperlukan keshabaran yang lebih besar, selain harus beriman, dan beramal shalih, dan mengajak kepada kebenaran, menurut versi ini. Shabar disini mulai terasa peranannya. Dan itu memang sulit, karena harus mampu mengajak mereka yang di dalam territorinya untuk ikut bershabar juga menghadapi persoalan bersama.

Apa yang disampaikan dalam tulisan ini, adalah pendekatan analogi, yang tentu saja memiliki ruang luas untuk perbaikan. Silahkan anda masing masing mengembangkan, semoga anda semua dikirimi pembimbing yang sesuai.  Jangan lupa adab yang harus dimiliki pencari atau murid adalah mendengar dan patuh. Jangan menjadi pembangkang atau pemberontak.

Di depan dikatakan bahwa secara luas kita sudah terbiasa terkontaminasi oleh tuhan  tuhan palsu. Buktinya? Cara belajar yang kita kenal, sudah mengabaikan sama sekali peranan Sang Sumber Ilmu. Yang berdiri di depan kelas umumnya merasa menjadi sumber ilmu, sehingga sering bersikap arogan. Dan tentu saja situasi seperti itu membuat proses transfer ilmu menjadi tidak efektif. Karena Allah tidak suka kepada mereka yang sombong/arogan. Kalau masih juga terjadi transfer ilmu, itu karena Allah bersifat Halim. Mereka yang bersalah tidak langsung dihukum. Jadi hak para murid untuk mendapat ilmu, tidak sama sekali dihapus.

Dalam proses material gain, pengeluaran zakat untuk mensucikan hard ware yang didapat, umumnya tidak dikenal. Ini adalah akibat kontaminasi tuhan palsu di dalam bidang material gain. Dengan dalih sudah membayar pajak pendapatan, mereka menganggap pengeluaran zakat tidak lagi diperlukan. Padahal fungsinya kan berbeda.

Kita sudah melupakan investasi (infaq) dari modal sendiri, dan lebih mengandalkan mengguna kan dana dari lembaga keuangan. Itu dengan dalih percepatan pertumbuhan/pembangunan. Padahal percepatan pertumbuhan selalu identik dengan percepatan naiknya  entropy juga. Dan dipacunya konsumerisme. Itu semua adalah indikasi bahwa kita semua telah masuk ke dalam jaring jaring setan/iblis.

Kita hanya bisa keluar dari jaring jaring atau lingkaran setan (keburukan) ini, kalau kita membentuk yang disebut jejaring kebaikan. Upaya untuk keluar dari situasi buruk ini bukanlah  dengan memboikot, bukan dengan demo, bukan pula dengan perlawanan model Gandhi. Kita harus tetap meyakini bahwa keadaan yang buruk ini pasti ada hikmahnya buat kita semua. Kita masih harus meyakini berlakunya Hukum QS 103 dan Hukum Syukur dan Shabar. Bagaimana hal itu kita tunjukkan agar mulai terbentuk sebuah jejaring kebaikan?

Katakanlah sebanyak banyaknya setiap ada kesempatan : Allah tuhan kami, cukuplah buat kami Allah. Rabbuna Allah Hasbuna Allah. Bila komposisi mereka yang ikut  menyerukan ini dibanding dengan seluruh populasi mencapai 10% sampai dengan 33% (= critical mass, pengertian yang dianalogikan  dengan yang diketahui dari Teknologi Nuklir), dengan izin Allah (insya Allah), perbaikan menuju baik akan terjadi secara berkesinambungan. Semoga Allah mengampuni kita semua. Alhamdulillah. Astaghfirullah.

Salam

Sutono Saimun Joyosuparto

 

About kekji

i am nothing and will stay that way. i live only to serve Allah SWT
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s