Bag 2 Hukum Thermodinamika

 

Ada yang berpendapat bahwa alam ini bisa menciptakan dirinya sendiri. Dengan adanya HKT ini, maka dengan sendirinya pendapat itu dipatahkan. Jika dia mampu mengembangkan dirinya tentunya dia akan membuat dirinya makin baik, buat makin bangkrut.

Sesungguhnya ketika masih di alam ruh, di Alam Perjanjian, setiap ruh dibekali janji/pengakuan  yang sama : bahwa Allah adalah tuhan mereka, pengelola mereka, yang harus disembah dan dipatuhi. Pada waktunya ruh ruh itu disatukan dengan janin yang masih di dalam rahim ibunya, sebagai “kendaraan”nya selama di dunia. Tetapi mungkin karena proses kelahiran jabang bayi itu mengagetkan, ketika udara pertama kali memasuki (membanjiri) parunya, maka ruh itu umumnya lupa dengan apa yang dijanjikan ketika masih di Alam Perjanjian.

Lebih lebih ketika bayi itu tumbuh di lingkungan yang tidak mendukung kembalinya ingatan terhadap peristiwa di Alam Perjanjian itu, maka  bayi cenderung terkontaminasi oleh tuhan tuhan palsu, yang tidak memiliki kemampuan menciptakan dan mengelola alam semesta ini, dan dengan demikian tidak patut disembah, didengar dan dipatuhi.

1.    Software Gain. Mengapa masalah ini menjadi krusial dalam urusan belajar-mengajar? Ini bukan hanya penting dalam urusan belajar-mengajar, tetapi ini kan sesuai dengan Hukum QS 103 itu tadi kan? Lalu apa kaitannya dengan urusan belajar-mengajar? Karena sesungguhnya yang mengajari manusia tentang hal hal yang tidak diketahuinya hanyalah Allah. Tentu saja itu bukan berarti Allah berdiri di depan kelas atau bukan pula berarti Allah berbisik ditelinga kita. Caranya transfer ilmu itupun terserah kepada Nya juga. Bisa melalui guru di depan kelas. Bisa melalui Nabi. Bisa melalui orang tua kita. Saudara kita. Teman kita. Bisa melalui malaikat yang diciptakan Nya khusus untuk itu, dan sebagainya. Bahkan memalui musuh kita. Musuh? Benar musuh bisa saja memberi pelajaran kepada kita. Itu salah satu yang terjadi ketika ada perang. Ketika orang bertengkar. Yang dimaksud ilmu disini adalah semua yang masuk kategori soft ware, antara lain iman dan semua ilmu yang telah di down load manusia maupun yang belum. Jadi belajar adalah soft ware gain, atau penyerapan ilmu.

2.    Hardware Gain. Bukan hanya pemberi ilmu, Allah juga pemberi rezeki atau apapun yang diperlukan makhluq/ ciptaan Nya. Tentu saja bukan berarti Dia yang memasukkan uang ke rekening kita di bank. Atau melemparkan uang dari langit ke halaman rumah kita. Caranya transfer harta atau rezeki inipun terserah Dia pula. Bisa melalui bos tempat kita bekerja. Bisa melalui langganan kita, ketika kita berdagang atau menjual jasa, apapun. Bisa melalui malaikat yang diciptakan Nya khusus untuk itu, dan sebagainya. Yang dimaksud rezeki di sini adalah semua yang diperlukan makhluq, yang berupa materi atau hard ware. Jadi bekerja pada prinsipnya adalah mencari material gain atau hard ware gain.

3.    Territory Gain. Allah jugalah pemberi kuasa atau kewenangan atas suatu wilayah kepada seseorang. Bisa itu melalui pemilu bagi bangsa yang menganut sistem demokrasi dalam berbangsa dan bernegara. Bisa juga itu melalui keturunan bagi bangsa yang menganut sistem kerajaan dalam berbangsa dan bernegara. Bisa juga sekedar kewenangan atas satu unit pasukan, atau kewenangan di dalam rumah tangga kepada orang tua, kewenangan di kelas seorang guru atas murid muridnya, kewenangan bos atas karyawannya, dan kewenangan seseorang atas pasangannya, dan seterusnya. Ini adalah semua hal (one way or another), yang menjadi kebutuhan makhluq, yang bukan soft ware dan bukan hard ware.

Dan yang terpenting difahami adalah bahwa Allah memberikan apapun kepada siapapun yang dikehendaki Nya. Artinya kalau Dia memberikan satu ilmu kepada seseorang dan tidak diberikan kepada lainnya, maka yang lain itu tidak akan tahu tentang ilmu tersebut.

Tetapi kenyataan tersebut di atas itu sering terselimuti dari mata fisik dan mata batin kita, karena pikiran kita sudah terbiasa terkontaminasi dengan tuhan tuhan palsu sejak kita kecil.

Ketiga tiga hal itu terkait dengan ilmu juga, bahkan sepanjang hidup kita memerlukan untuk terus menambah ilmu, thawaf ilmu. Maka kita lanjutkan pembicaraan tentang thawaf ilmu ini. Kita perlu tahu siapa yang harus kita dengar dan kita patuhi dalam thawaf soft ware ini. Seperti misalnya sebagai murid, kita berada dalam territory guru. Sebagai seorang anak kita berada dalam territory orang tua. Sebagai seorang warga negara, kita berada dalam territory penguasa di situ. Sebagai apapun kita, selalu tersedia ruang agar kita bisa menambah ilmu untuk memperbaiki posisi kita di situ. Yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa pandangan atau horizon kita hendaknya diperluas/diperpanjang sampai mencapai Sang Sumber Tak Berhingga.

Kalau toh (pandangan atau horizon) kita tidak betul betul sampai ke sana, yakinilah bahwa Dia selalu memantau kita. Mengapa perlu itu? Karena Dialah yang menetapkan cara belajar yang tepat adalah melalui mendengar dan patuh, lalu menjadi belajar sambil melakukan. Dan juga agar kita bisa tetap memonitor apakah yang disampaikan si pemilik otoritas di territory itu menyimpang dari risalah yang dibawa para Nabi Allah, atau tidak. Apakah itu berarti kita harus tahu seluruh risalah itu? Tidak juga. Yang tahu betul tentang risalah itu kan ya hanya para Nabi yang bersangkutan. Lalu? Dengan niat seperti itu, diharapkan terjadi proses reversible. Dengan si anak didik selalu kontak dengan Dia, maka kalaupun ada salah penerimaan si anak didik atau ada salah bahan dari si pembimbing, Dia akan siap menyediakan koreksi  yang sesuai, jika si anak didik meneruskan algorithme proses belajar ini.

Karena proses belajar-mengajar ini menyangkut learning by doing (belajar sambil mengerja kan), maka harus ada gerakan berputar atau ulangan atau thawaf.  Jadi cara yang paling baik untuk belajar adalah dengan cara segera mengajarkan kembali apa apa yang baru kita dapatkan. Itulah yang diperagakan Nabi s.a.w. : begitu menerima ayat, dia segera menyampaikan kembali seluruhnya kepada para shahabatnya. Mengapa begitu? Apa dasarnya? Dasarnya adalah Hukum Syukur dan Shabar, hukum yang ditetapkan Alah. Hukum Syukur berbunyi : “Siapa yang bersyukur atas nikmat yang Aku karuniakan, akan Aku tambahi nikmat itu; kalau tidak bersyukur, hukuman Ku sangatlah pedih.”

Lalu apakah bersyukur itu, yang tidak semua orang mampu melakukannya? Bersyukur itu memfanfa’atkan apapun yang sudah kita terima (ilmu/soft ware, rezeki/hard ware, kuasa atas ruang) bagi kemaslahatan diri dan sekitarnya. Seperti diperagakan Nabi s.a.w., begitu menerima ayat, memanfa’atkannya, lalu menyampaikan itu kepada para shahabatnya, yang juga memanfa’atkannya. Itulah bersyukur, maka (akibatnya) dia menerima ayat ayat selanjutnya. Artinya ilmu bukan hanya untuk dimengerti atau diperdebatkan atau dipamerkan. Tetapi esensinya ilmu adalah untuk dilaksanakan, dimanfa’atkan. Selain juga bersikap berterima kasih (thankful, appreciative).

Lalu apa pula bershabar? Esensinya bershabar adalah berbaik sangka kepada Allah. Apapun yang terjadi terhadap atau kepada kita, apakah hal yang terasa baik ataupun hal yang terasa buruk, kita harus tetap berusaha melihat manfa’atnya, bahwa itu terjadi bukan karena Allah berniat buruk terhadap kita. Disini ditekankan kata terasa karena baik atau buruk sesungguhnya relatif. Tidak sama untuk masing masing orang. Tidak sama untuk orang yang sama pada waktu yang berlainan. Jadi bershabar sama sekali bukan “mengalah”, atau mundur atau menghindar. Bershabar justru harus berusaha keluar dari kesukaran yang dihadapi, sejauh kemampuan yang ada atau yang bisa diraih. Pernah mendengar orang bilang “Shabar saya ada batasnya lho!” Ya salah sendiri. Dia tidak tahu apa arti shabar. Dikatakan bahwa Allah selalu bersama mereka yang shabar. Dan mintalah dengan shalat dan shabar. Tentu saja. Karena mereka ini selalu berbaik sangka kepada Allah.

Dan yang menarik adalah tak mungkin orang bersyukur, bila dia tidak bershabar. Sebaliknya tidak mungkin orang bershabar, bila dia tidak bersyukur. Artinya syukur dan shabar adalah bagai dua sisi mata uang yang sama. Kalau hanya sebelah, ya tidak berlaku (tidak aci).

Itulah Hukum Syukur dan Shabar. Tentu saja yang dapat menilai seseorang bersyukur dan/atau bershabar atau tidak ya hanya Allah.

Jadi jelaskan bahwa proses belajar-mengajar yang efektif adalah kalau kedua belah pihak (pendidik/pengajar dan anak didik/ anak ajar) memahami prinsip ini, dan kedua belah pihak akan mendapat manfa’at dari proses ini. Dan guru bukanlah sumber ilmu. Dia lebih sebagai pembimbing. He has been there. Dia hanya telah terlebih dulu berada di sana, di wilayah itu. Murid memerlukan guru, sebaliknya gurupun memerlukan murid.

Bila seseorang telah memahami dan terampil dalam belajar, maka program studi apapun yang diambilnya, yang disukainya, akan memberikan kepadanya kehidupan yang penuh (tidak hampa) dan menyenangkan. Proses belajar secara ini perlu dilatih sejak dini (bersambung ke bagian 3).

 

About kekji

i am nothing and will stay that way. i live only to serve Allah SWT
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s