Apakah Anda Termasuk Orang Shalih?

 

Beberapa hari lalu kami hadir pada acara mengenang 40 hari meninggalnya kakak ipar saya. Seperti biasa, ustadz yang diundang untuk memberikan tawsiyyah (?) pada saat seperti itu akan mengulas hadits Nabi s.a.w. yang sangat tersohor, yang kira kira maknanya begini :”Jika seorang bani Adam meninggal dunia maka telah putus amal dunianya, kecuali untuk tiga hal, yaitu pertama soft warenya yang digunakan orang, kedua hard ware nya (harta benda, zakat jariyyah) yang digunakan untuk urusan sosial, agama, pendidikan, dan ketiga doa anak yang shalih.

Untuk hal pertama dan kedua, rasanya cukup jelas dan langsung bisa dimengerti apa saja yang dimaksud di situ. Meskipun ada juga sih pertanyaan yang mungkin perlu diajukan agar lebih pas posisi pemahamannya. Kalau soft ware itu digunakan untuk hal yang buruk, artinya merugikan orang banyak, merugikan lingkungan, apakah keburukan itu akan terkirim ke si ahli kubur juga? Aakah keburukan bom atom akan menyeret juga Einstein,  Fermi dan kawan kawannya?

Sebelum menjawab pertanyan ini, mungkin perlu diingatkan kembali bahwa Nabi s.a.w. melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu atau mangatakan sesuatu atau tidak mengatakan sesuatu, tidak ada yang bukan perintah Allah S.W.T.. Semuanya itu terjadi atas perintah Allah. Artinya kalau dalam hadits tersebut di atas tidak disebut tentang apakah ilmu yang digunakan untuk berbuat buruk, bukan karena Nabi s.a..w. lupa menyebutkan itu.

Lebih jauh itu bisa diartikan bahwa Allah memperlihatkan Rahmat Nya di sini, bahwa ilmu yang digunakan untuk melakukan perbuatan buruk tidak akan dibebankan kepada pemilik ilmu yang telah almarhum itu. Tentu saja begitu, karena bukankah Sumber Segala Ilmu atau Pemilik Semua Ilmu adalah Allah Sendiri S.W.T.? Kalau perbuatan buruk atas pemakaian ilmu yang salah dibebankan kepada Pemilik Ilmu, semua akan kembali ke Allah. Dan ini sudah jelas tidak mungkin !!!! Subhan Allah !!! Maha Suci Allah atas segala yang diperkirakan atas Nya atau dipersekutukan dengan Nya.

Dari uraian ini dapatlah sedikit dimengerti makna bahwa Nabi s.a.w. terhindar dari perbuatan salah dan dosa (mahsum?). Karena sebagai seorang abdi sempurna, seorang pendengar dan pematuh (pelaksan kepatuhan) yang sempurna, dia s.a.w. tidak pernah berbuat yang bukan diperintahkan oleh Allah, apakah itu amal (eksekusi), perkataan atau diamnya. Semua atas perintah Allah. Dan sangat tidak mungkin kan bahwa Allah memerintahkan Nabi s.a.w. berbuat salah ??!!!

Dan untuk bisa dilaksanakan dengan tepat, perintah hendaknya terinci. Dan bagi penerima perintah yang terinci, juga harus memiliki ilmu yang cukup untuk bisa memahami perintah tersebut. Dan itu hanya bisa terjadi jika kontak antara Allah S.W.T. dengan Nabi s.a.w tidak pernah putus, yang dalam istilah teknis itu adalah sebuah proses reversible. Hanya dengan cara itulah, tidak mungkin muncul ruang untuk adanya interpretasi terhadap perintah.

Penjelasan ini berlaku juga bagi hal kedua yaitu hard ware yang ditinggalkan almarhum. Hanya kebaikannyalah  yang sampai kepada almarhum. Karena seluruh alam semesta ini memang milik Allah, yang dititipkan sementara kepada makhluq Nya. Ini (kebaikan penggunaan hard ware mengalir buat ahli kubur, namun keburukannya tidak menjadi beban ahli kubur) juga bentuk Rahmat Allah bagi kita semua.

Untuk hal ketiga lah urusannya menjadi sedikit lebih (atau banyak sekali?) kesulitannya untuk dimengerti. Kesulitan utama terletak kepada makna shalih itu sendiri.

Al Qur’an menyebutkan bahwa pewaris dunia dan akhirat adalah para shalihin (tolong pembaca carikan : surat apa ayat berapa). Lalu siapa orang shalih itu, sampai sampai ketika Nabi berada di Hadhirat Allah pada waktu peristiwa isra’ dan mi’raj, sambutan Allah terhadap Nabi :“as salamu alaika ya Nabi wa Rahmat Allah wa Barakatuhu”, langsung dijawab Nabi s.a.w. “wa ala ibadillahi shalihin”. Itu adalah permohonan Nabi langsung kepada Allah agar sambutan seperti itu berlaku juga bagi para orang shalih. Dan untuk menegaskan pentingnya dialog tersebut maka dialog itu dilestarikan menjadi bagian dari doa (kalimat) yang harus kita ucapkan ketika duduk tahiyyat dalam shalat. Maka disebut bahwa shalat adalah mi’raj nya orang beriman. Jadi siapakah orang shalih itu, sehingga dipilih Nabi s.a.w. untuk dibawa menghadap di Hadhirat Allah ? Bukannya muslim, atau mukmin, atau muttaqin, atau mereka yang bersyukur, atau mereka yang bershabar?

Bahkan Nabi Yusuf, yang juga seorang Perdana Menteri yang sukses, dan Kepala Badan Logistik di negerinya yang sukses, yang kecakapan (ganteng) nya adalah begitu rupa, sehingga membuat teman teman wanita induk semangnya begitu terpesona sehingga membuat mereka tidak sadar bahwa jari mereka teriris pisau. Mungkin waktu itu sedang arisan sambil ada demo masak ya? Dikabarkan bahwa setelah itu Nabi Yusuf a.s. diadili karena dituduh telah meleceh kan induk semangnya itu. Bisa dibayangkan ketika dia a.s.  diadili, mestinya fans nya banyak sekali, lebih banyak dari Ariel Peter Pan sekarang, ya??!! Nabi Yusuf  a.s. pun di masa puncak karir nya, setelah semua keluarganya berkumpul, memanjatkan doa yang sangat  terkenal, Doa Nabi Yusuf a.s. (Surat Yusuf QS 12 : 101), yang memohon agar disatukan dengan orang shalih.

Jadi siapakah mereka itu?

Ketika kita menghadiri acara pernikahan, selalu penghulu, ustadz yang memberikan tausiyyah dan semua well wishers memanjatkan doa bagi sepasang mempelai :”Semoga perkawinan ini memberikan sakinah, mawadah wa rahmah, dan memberikan keturunan yang shalih dan shaliha.” Jadi bagaimana orang tua mendidik anaknya agar menjadi shalih dan shaliha, kalau kita tidak tahu makna istilah itu?

Seperti umumnya istilah dari al Qur’an sesampainya di Tanah Air, dicaplok begitu saja dan diadopsi sebagai bagian dari bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia begitu miskin kausa kata dan kita begitu tidak percaya diri terhadap bahasa nasional, sehingga semua istilah al Qur’an otomatis dijadikan bahasa Indonesia.

Bangsa ini yang juga memiliki sejarah kekerasan panjang, dari mulai Ken Arok sampai dengan G-30-S dan Reformasi, ternyata tidak punya istilah khas untuk diberikan kepada mereka yang menderita oleh adanya kekerasan atau adanya musibah, maka digunakan saja istilah Arab : kurban. Yang aslinya adalah qurban (qarib) bermakna dekat, yang berasal dari kisah Nabi Ibrahim a.s. yang mendapat perintah untuk menyembelih anaknya, Nabi Ismail a.s.. Artinya kan jadi lain sama sekali. Ajaib kan?

Dalam terjemahan ke Bahasa Inggris, shalih dialih bahasakan menjadi righteous = yang benar.

Dalam pengertian umum, orang islam diartikan mereka yang sudah mengatakan/menyatakan dua kalimat shahadat. Ini bersifat permanen, kecuali yang bersangkutan menyatakan diri telah keluar dari persaksiannya itu.

Sedang istilah orang beriman diartikan mereka yang telah mendapat hadiah yang dimaksud dalam Rukun Iman. Dan iman itu bisa turun, bisa juga naik, tergantung hubungannya dengan Allah. Tidak permanen.

Beberapa istilah lainnya (ihsan, muttaqin, shabirin, syukurin?), tidak saya ketahui apakah mereka itu berlaku permanen atau tidak. Bagaimana dengan shalihin? Apakah berlaku permanen? Kalau tidak permanen, bagaimana mereka menjadi pewaris dunia dan akhirat? Kalau permanen, bagaimana itu, dan apa yang dilakukannya? Apa kriteria shalih itu?

Mungkin akan sedikit membantu memahami shalih ini, kalau kita gunakan Hukum QS 103 (Surat Wal Asr), yang mengandung makna : “Dengan waktu sesungguhnya manusia merugi, kecuali mereka yang beriman dan beramal shalih dan ………” Disini shalih itu bersifat menerangkan sebuah perbuatan/amal. Jadi bukan menerangkan kata benda. Bukan menerangkan orang. Dari pembicaraan sebelumnya (Judul : Hukum Thermodinamika), kita memahami bahwa syarat terjadinya proses reversible (beriman dan beramal shalih) adalah kalau selama proses itu kontak dengan Allah tidak pernah terputus !!!

Jadi kriteria seorang shalih adalah apapun yang dilakukan, dia selalu kontak dengan Allah. Konsekwensi dari itu adalah bahwa dia akan berbuat sesuai (dan sejauh) dengan ilmu dan kemampuan yang dia miliki, tidak lebih tidak kurang. Jadi kuncinya bukan terletak pada ilmu dan/atau kemampuan yang tinggi, tetapi pada taat asas atau konsisten. Ini memerlukan pelatihan yang menjadi kebiasaan. Artinya harus dimulai sedini mungkin. Tentu saja tidak tepat untuk langsung memperkenalkan konsep Allah kepada anak anak.

Jadi kita gunakan saja perintah ini :”Taatilah Allah, taatilah Rasul dan mereka yang memiliki otoritas atas dirimu.” Anak anak yang masih dibawah asuan orang tuanya, ya harus dibiasakan untuk mendengar dan patuh kepada orang tuanya. Kemudian anak itu mulai belajar di luar rumah, maka kewajibannya ditambah dengan mendengar dan patuh kepada gurunya di sekolah dan seterusnya kepada Mursyidnya, yang akan membimbingnya dalam spirittualitas kepada jalan yang lurus (reversible).

Mungkin begitulah hal yang ketiga, kebaikan yang masih menyambung kepada ahli kubur : doa anak yang shalih. Ini termasuk Kemurahan atau Karim Allah. Menurut paket Hukum QS 103, seseorang tidak merugi menurut waktu, kalau memenuhi seluruh 4 perintah di dalam paket itu. Namun bagi anak shalih, yang hanya memenuhi 2 perintah pertama dalam paket itu sudah cukup untuk memberi kebaikan (doa) bagi orang tuanya yang telah berada di alam kubur. Dan tentu saja kalau anak itu melakukan kebaikan (doa) tersebut, diapun mendapat kebaikan pula.

Lalu bagaimana kalau misalnya seorang koruptor, Gayung Gemuk, yang menyabet puluhan milyar uang negara, lalu menggunakan uang itu untuk membangun masjid masjid, sekolah sekolah, membiayai orang naik hajji, memberi bea siswa, apakah dia termasuk orang shalih? Allah ‘Alam. Saya tak tahu. Alhamdulillah. Astaghfirullah.

Salam

 

Sutono Saimun Joyosuparto

 

About kekji

i am nothing and will stay that way. i live only to serve Allah SWT
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s