Hukum Thermodinamika. Apa Lanjutannya?

 

Sebelum membahas pokok bahasan, sehubungan dengan peringatan 60 Tahun Pendidikan Teknik Fisika kemarin di Kampus ITB, saya ingin juga menyampaikan pengalaman mengapa saya memilih Prodi Teknik Fisika (dulu disebut Jurusan Fisika Teknik) terlebih dulu. Begitu lulus SMA dan mendapatkan dokumen yang diperlukan, saya mendaftar ke Universitas Gajah Mada, Institut Pertanian Bogor, dan Fakultas Teknik Universitas Indonesia (waktu itu belum ada ITB) dilengkapi dengan dokumen termaksud.

UGM langsung memanggil saya, sedang IPB bahkan memberikan ikatan dinas. Wow. Sedang FT-UI masih memerlukan penilaian tambahan, saya harius hadir di sana. Dua yang pertama itu cara saya menguji apakah saya layak masuk FT-UI, dan yang saya inginkan adalah memang masuk FT-UI. Tapi ayah saya mengatakan bahwa dia sudah pensiun, dan hanya akan mampu membiayai saya untuk setahun. Putusan yang berat harus diambil. Dua yang pertama saya lewatkan meskipun memberikan ikatan dinas, yang bisa memastikan saya selesai kuliah. Demi cita cita saya berangkat ke Bandung.

Setelah sampai di kampus, baru tahu bahwa dalam semester 1 tahun pertama, belum bisa memilih jurusan. Kebetulan, jadi  saya punya waktu untuk memproses ikatan dinas. Ikatan Dinas hanya diberikan kepada “jurusan kering”, yang tidak diminati banyak calon mahasiswa, antara lain : jurusan Astronomi, jurusan Fisika Teknik, jurusan Matematika, jurusan Geodesi. Itu yang sangat ingat. Maka jatuhlah pilihan saya : jurusan Fisika Teknik, yang justru tidak saya ketahui apa isinya. Tapi dia memberikan apa yang saya perlukan : Ikata Dinas. Dan saya memiliki waktu 1 semester untuk menunjukkan bahwa saya pantas menerima ikatan dinas itu. Tentu saja ada mahasiswa senior (antara lain sdr. Aldy Anwar, almarhum, yang tidak sempat lulus sampai akhir hayatnya), yang membuat iklan/propaganda betapa bagusnya jurusan Fisika Teknik ini. Tetapi propaganda itu tidak berpengaruh kepada saya. Yang berpengaruh hanya ikatan dinas itu.

Begitu awalnya. Kini saya bisa mengatakan bahwa yang terpenting adalah agar kita memahami sedini mungkin peran apa yang ingin kita lakukan ketika dewasa nanti, sebagaimana yang dikatakan Abah Rama, alumni Prodi Teknik Fisika tahun 1964, penemu Metoda Pemetaan Bakat dengan akurasi 50%. Dengan pemahaman itu kita dapat mempersiapkan diri sebaik baiknya. Dan jenjang perguruan tinggi  itu adalah untuk melatih ketrampilan kita dalam belajar, higher learning, pembelajaran yang lebih tinggi. Jadi apapun program studi yang kita pilih, yang kita senangi, itulah yang memberi kita kesempatan mengasah ketrampilan belajar. Dan semua program studi memberi kesempatan lulusannya untuk menjadi apapun nantinya. Peran apa yang kita tekuni nantinya bukan hasil/akibat  monopoli suatu program studi saja.

Kita semua masing masing memang diciptakan berbeda beda, seperti beraneka ragamnya bunga di taman sari. Semua berpotensi memunculkan keindahan masing masing yang berbeda beda. Sebelum dilahirkan oleh ibu kita masing masing, kita semua di alam penciptaan ruh telah diberi 7 (tujuh) nama yang menentukan perjalanan hidup dan peran kita. Tugas kita sekali lagi adalah sedini mungkin mengenali diri kita, menggali apa saja nama nama kita itu. Itu hanya bisa dilakukan kalau kita mau meninggalkan ego kita. Ego itu dipasang Allah di dalam diri setiap kita untuk melindungi kita selama kita masih berada dalam kondisi jahiliyyah, belum memahami apa apa. Ego itu seperti kepompong dalam kehidupan ulat.  Ulat yang buruk rupa dan rakus itu tidak bisa menjadi makhluk cantik dan berguna (kupu kupu), sebelum mampu meninggalkan kepompongnya. Begitu juga manusia, sebelum mampu meninggalkan egonya, dia tidak bermanfaat bagi diri dan sekelilingnya.

Itu membawa kita untuk masuk ke bahasan Hukum Thermodinamika.

Ketika saya belajar Thermodinamika dibawah bimbingan Prof.Threlkeld, di Graduate School, University of Minnesota, 1964, sampai pada Hukum Kedua Thermodinamika, itu membuat saya merenung. Ada lebih dari satu bentuk pernyataan Hukum Kedua Thermodinamika, yang paling saya sukai dan membuat saua merenung adalah :”Suatu sistem tertutup cenderung naik entropynya, sebagai fungsi waktu, kecuali jika proses yang terjadi adalah reversible.” Entropy adalah ukuran kekacauan atau hilangnya potensi manfa’at sistem tersebut. Sedang proses reversible adalah proses yang selama terjadi/berlangsungnya selalu kontak dengan sumber yang tak berhingga.

Jadi semua ini, alam semesta ini, akan berakhir sia sia penuh kekacauan? Wah lalu buat apa? Lalu apa lanjutannya? Itu 1964.

Sekitar 20 tahun kemudian, 1984, saya “terdampar” di Anrwerp, Belgia, selama sekitar enam bulan, dalam rangka mencari pendanaan alternatif, untuk membiayai proyek yang berada di depan mata. Di kantor tempat saya nongkrong, ada seorang Afro-American (dulu disebut Negro), namanya Adnan Rasoull, dari Chicago, USA, yang tidak jelas alasan rasionalnya, memberi saya sejilid The Meaning of the Glorious Qur’an, oleh Abdullah Yusuf Ali, dengan ditulisi doa :”May Allah grant you and your family continual growth and maturity in wisdom knowledge and understanding (Semoga Allah mengkaruniai kamu dan keluarga pertumbuhan yang terus menerus dan kedewasaan dalam kebijaksanaan, pengetahuan dan pemahaman).” Wow cantik sekali kan?

Padahal orang orang di kantor itu secara berbisik bisik bilang kepada saya :”Jangan dekat dekat dengan dia. Di asalnya dia bisnisnya adalah narkoba, pemerasan dan germo.” Tapi saya abaikan bisik bisik mereka itu. Bagi saya dia adalah seorang yang sangat berjasa, yang membuat saya menjadi dekat dengan al Qur’an. Semoga jasanya itu mendapat balasan yang berlipat dari Allah S.W.T.

Sebelum itu saya mencoba dekat dengan al Qur’an, namun karena buta huruf Arab, saya menoleh ke terjemahan al Qur’an. Itu malah membuat saya jengkel, mungkin karena bahasa Indonesia miskin vokabulari, terjemahan itu tidak memperlihatkan kualitas sastra yang tinggi ataupun makna yang indah.

Di Antwerp itulah saya menemukan jawaban terhadap pertanyaan saya 20 tahun yang lalu itu : ”Lalu apa lanjutannya?” Tetapi pertanyaan saya itu ternyata salah. Harusnya yang saya tanya kan adalah :”Apa sebelumnya?” Dalam arti (hukum) itu diturunkan dari mana? Ternyata di dalam terjemahan al Qur’an itulah terdapat jawabnya, Surat Wal Asr (QS 103) :

1. By (the Token of) Time (through the Ages)

2. Verily Man is in loss.

3. Except such as have Faith, and do righteous deeds, and (join together) in the mutual teaching of Truth, and of Patience and Constancy.

Jika diterjemahkan bebas berbunyi : Seiring waktu, sesungguhnya manusia merugi, kecuali mereka yang beriman, dan beramal shalih, dan mengajak kepada benar dan mengajak kepada shabar.

Surat Wal Asr tersebut dinyatakan oleh Pemilik dan Pencipta Alam Semesta. Sedang Hukum Kedua Thermodinamika (HKT) diturunkan dari pengamatan manusia. HKT berlaku untuk energi yang ada dalam suatu sistem, sedang QS 103 berlaku untuk sistem lengkap, baik fisik, energi maupun spiritual. Artinya HKT dapat diturunkan dari QS 103!!!

Analogi banyak disebutkan dalam al Qur’an. Dan ternyata itu adalah alat analisa yang hebat. Ya dapat dikatakan bahwa seluruh ilmu yang di down load manusia sampai dengan Abad 21 ini didapat melalui analisa analogi inilah !!! Manusia dapat dikatakan sebagai sebuah sistem. Maka secara analogi proses reversible dalam hal sistem itu analog dengan beriman dan ber amal shalih. Seluruh ciptaan, kecuali jin dan manusia, secara otomatis sukarela atau terpaksa adalah Islam, tunduk patuh terhadap yang diperintahkan Allah. Sedang jin dan manusia diberi kesempatan menentukan sendiri tindakan mereka.

Dan karena sistem fisik/non ruh tidak memiliki kebebasan melakukan yang di luar  yang diperintahkan Allah, maka syarat untuk tidak merugi hanya sederhana, yaitu prosesnya harus  reversible. Sedang untuk manusia, selain beriman dan beramal shalih, masih harus memenuhi dua syarat lagi, yaitu mengajak (sekitarnya) kepada benar dan mengajak (sekitarnya) kepada shabar. Jadi syarat tidak merugi bagi manusia jauh lebih berat, harus memenuhi empat syarat sekaligus. Dari analogi ini bisa dikatakan bahwa reversible adalah amal shalih, dan konsekwen sinya irreversible adalah perbuatan buruk, perbuatan yang menimbulkan kegoncangan. Dan jelas sekali dapat disimpulkan dari pandangan ini, bahwa perbuatan irreversible adalah perbuatan yang merugikan, bukan saja bagi pihak lain, terutama bagi diri sendiri.

Dari analogi ini kita dapat lebih mengerti bagaimana menjalani beriman dan beramal shalih itu? Dari sisi HKT, suatu proses adalah reversible jika selalu terkait/kontak dengan sumber yang tak berhingga, yang tidak dapat ditemui di dunia fisik. Lalu bagaimana halnya dengan dalam dunia manusia ini? Ya, tentu saja kita menunjukkan peragaan beriman dan beramal shalih, kalau kita dalam melakukan apapun tidak hilang kontak dengan Sumber Tak Berhingga, yang tiada lain adalah Allah S.W.T..

Jadi pertanyaan saya 50 tahun lalu itu, terjawab sudah 30 tahun lalu. Boleh saja entropy mencapai maksimumnya dalam dunia fisik, yaitu hilangnya seluruh potensi energi. Namun dalam hal nya manusia, seluruh karya sepanjang hidupnya itu tidaklah sia sia, karena hidupnya dilanjutkan ke alam kematian, yang sesungguhnya adalah awal dari kehidupan yang berikutnya, yang memiliki hukumnya sendiri, dan merupakan kelanjutan yang serasi dengan hukum di kehidupan dunia ini.

Kalau manusia merasa cukup hanya  tahu tentang HKT ini, maka teknologi tidaklah berkembang seperti sekarang. Maka manusia melanjutkan pelajarannya. Bagaimana proses belajar itu? Proses belajar yang efektif itu terkait dengan sami’na wa ‘atho’na (mendengar dan patuh) à belajar sambil mengerjakan (kerja lab) à recycle/thawaf/daur ulang à Hukum Syukur dan Shabar à ilmu bertambah.

Tapi tampaknya pertambahan ilmu (fisik) mengabaikan pertambahan ilmu yang terkait dengan Hukum QS 103, karena proses belajar yang algorithmenya seperti di atas itu tidak dilakukan manusia terhadap Hukum tadi. Artinya kemajuan teknologi tidak disertai kemajuan iman dan amal shalih. Akibatnya kemanusiaan terkecoh ke dalam jebakan syaitan, jebakan tuhan tuhan palsu, yang gemar menyesatkan manusia agar kembali ke dalam kegelapan.

Seperti disebutkan di atas, algorithme proses belajar diawali dengan sami’na wa ‘atho’na (mendengar dan patuh). Persoalannya adalah siapa atau apa yang harus kita dengar, yang harus kita patuhi. Itu adalah Allah, Nabi dan mereka yang memiliki otoritas atas diri kita. Disinilah urusan belajar ini menjadi kritis, menjadi sangat sensitif.Kalau kita mendengar dan patuh kepada tuhan tuhan palsu, yang tidak memiliki otoritas terhadap Hukum Syukur dan Shabar, ya arah pembelajaran kita lalu kemana mana, minimal tidak efektif.

(bersambung ke bagian 2 dan bagian 3)

About kekji

i am nothing and will stay that way. i live only to serve Allah SWT
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s