Olympiade Sudah Kuno?

Allahuma shali ala Muhammad wa ala ali Muhammad wa salam. Al Fatiha.

Ya memang dari sejarahnya permainan (game) ini sudah berumur tua sekali. Dan untuk waktu itu mungkin memang sangat cocok bahwa pada awal peradaban, manusia memang memerlukan seorang tokoh yang paling kuat, paling cepat larinya, paling tinggi dan jauh lompatannya dan sederet qualifikasi fisik lainnya. Tokoh seperti itulah yang dianggap bisa menaklukkan sesama manusia lainnya dan pantas dijadikan pemimpin.

Tetapi untuk Abad ke 21 ini apakah permainan model seperti itu masih relevan ? Allah memang memerintahkan kita untuk berlomba. Tetapi bukan untuk berlomba menonjolkan keterampilan pribadi seperti Olympiade begitu. Atau seperti pemilihan Ratu Sejagad. Bahkan Olympiade Fisika atau Olympiade Matematika sekalipun, sebetulnya sudah ketinggalan jaman. Pertandingan berbentuk kerja team, seperti Piala Dunia, Thomas Cup dan Ubber Cup harusnya diganti hal lain yang lebih diperlukan manusia secara luas dan mendasar. Keadaan negeri ini secara umum tidak akan membaik, hanya karena misalnya kita menjadi Pemegang Piala Thomas atau Ubber.

Allah memerintahkan kita untuk berlomba berbuat baik. Begitu senang Allah dengan perbuatan baik, sampai Dia menyediakan hadiah/ganjaran 700 kali lipat bagi sebuah perbuatan baik. Contoh sederhana : kalau kita mampu berbuat baik dalam menanam padi, maka satu ha sawah, yang memerlukan bibit sekitar 25 kg, harusnya akan mendapat hasil/panen sebanyak 17,5 Ton. Tapi data yang dikumpulkan FAO tahun 2002, hasil panen rata rata sawah di Indonesia hanya 2,5 Ton per ha. Sedang Australia dapat mencapai 11 Ton gabah per ha per panen. Padahal kita semua diajari di sekolah bahwa negeri ini tanahnya subur makmur. Sungguh sebuah kebohongan publik yang serius, yang dilakukan pemerintah ini kepada rakyatnya.

Masih banyak di antara kita yang yakin bahwa berbuat buruk, seperti curang, mencuri, merampok atau korupsi adalah perbuatan yang menguntungkan. Itu hanya ilusi saja. Bayangkan kalau semua orang pengguna jalan beranggapan bahwa melanggar aturan lalu lintas adalah menguntungkan, apa yang mungkin terjadi? Lampu pengatur lalu lintas akan diabaikan oleh semua pengguna jalan, dan semua perempatan jalan akan berdarah darah. Dan kalau semua orang menganggap mencuri dan curang dan korupsi itu menguntungkan, maka semua orang akan melakukan hal itu dan apa yang akan terjadi ? Bumi ini akan menjadi tempat yang sangat tidak menyenangkan untuk dijadikan habitat manusia. Bandingkan dengan kalau suatu masyarakat itu terlihat suka saling menolong dan berlomba berbuat baik, kita pasti akan senang tinggal di situ sebagai tempat habitat kita.

Jadi sesungguhnya berbuat baik adalah sifat yang mendasar bagi manusia. Yang diperlukan adalah sebuah sistem pendidikan dan pelatihan yang memupuk dan mengembangkan sifat baik tersebut, sejak dari Taman Kanak Kanak secara taat asas sampai ke jenjang perguruan tinggi. Learning berbuat baik  by doing it, dalam semua level pendidikan dan pelatihan.

Sesungguhnya sebagai awal ada contoh yang baik sekali untuk kita gunakan. Ketika Nabi Muhammad sa.w. pulang dari perjalanan malamnya ke langit ketujuh, bahkan lebih jauh lagi, besoknya dia menemui para shabatnya dan berkata :”Doakan saya ya teman teman!” Lho, dia yang sudah dijanjikan surga dan tidak nampak ada kesukaran yang dihadapinya kok masih minta didoakan, begitu mungkin para shahabatnya berpikir dalam hati, sambil berkata :”Bagaimana pula kami berdoa buat engkau ya Rasul? Bukankah engkau yang hendaknya mendoakan kami kami ini?”

“Begini cara berdoa untuk aku,” begitu Nabi s.a.w. menjawab. “Shali ala Muhammad wa ala ali Muhammad kama shalaita ala Ibrahim wa ala ali Ibrahim….” Seperti yang kita baca ketika duduk tahiyyat itu lho. Dengan Nabi s.a.w. meminta para shahabatnya untuk berdoa baginya, maka dia telah berbuat baik bagi mereka. Mengapa ? Karena kemudian turun ayat yang memerintahkan kita, orang beriman, untuk bershalawat bagi Nabi s.a.w. Artinya dengan kita berdoa buat Nabi s.a.w. seperti itu, kita telah berbuat baik buat diri kita dan ini yang dijanjikan hadiah 700 X nya oleh Allah itu, antara lain.

Jadi jangan minta uang atau barang, tetapi meminta didoakan kepada teman sekitar kita, itu adalah suatu perbuatan baik. Perbuatan itu masuk dalam kategori “wa tawashau  bil haqq wa tawashau bi sh-shabar” yang dimaksud  dalam Surat Wal Ashr. Orang yang tidak pernah merasa perlu didoakan oleh sekitarnya adalah orang sombong, yang merasa bahwa dirinya bisa sendiri berjaya, tanpa bantuan atau doa siapapun. Dan yang dibenci Allah adalah orang sombong. Kalau Allah sudah membenci seseorang, bagaimana pula itu artinya? Allah yang berkuasa mematikan dan menghidupkan kita, berkuasa memberi dan mencabut rezeki kita, berkuasa memberi dan mencabut kekuasaan kita. Allah gitu loh. Pokoknya sengsara deh, singkat- kata nya.

Bila kita disamping (shali ala Nabi) itu juga selalu (atau banyak) berdzikir kepada Allah, maka kita telah membuat sebuah lingkaran kebaikan guna melawan lingkaran setan yang mungkin sedang menjerat (memenjarakan)  kita. Allah adalah Sumber apapun yang tiada habisnya, sedang Nabi s.a.w. adalah tempat penampung doa yang tiada penuhnya. Bayangkan berapa banyak, kuantitas dan kualitas, doa yang dikirim Allah dan para Malaikat kepadanya setiap saat. Apa tidak penuh itu ? Tidak, karena beliau s.a.w. adalah The Perfect Sink. Doa itu semua dikembalikan kepada si pengirim (mungkin hanya yang dari Allah yang tidak dikembalikan, karena Allah tidak memerlukan apapun dari makhluq Nya) ditambah bonus yang dari Allah, yang mungkin memang dibutuhkan oleh yang bersangkutan. Begitu kira kira gambaran sederhanya mekanisme   sekitar dzikir Allah dan shalawat ala Nabi.

Lalu segi praktis dan yang nampak atau kasat mata, bagaimana berbuat baik buat sekitar itu? Itu bisa dimulai dengan mengajari anak kita atau anak didik di sekolah untuk saling mengajari. Yang sudah bisa mengajari teman atau saudaranya yang belum bisa. Dengan cara ini kita akan mengikis budaya nyontek yang sudah meraja lela. Diberikan kailnya. Bukan ikannya. Dan situasi ini menimbulkan tahwaf ilmu yang luar biasa, yang makin mempercepat dan menambah jumlah ilmu yang bisa di down load manusia dari Sumber nya, sebagaimana dijanjikan Allah dalam Hukum Syukur dan Shabar itu. Dan Allah tidak ingkar janji.

Dan budaya menaruh kendi berisi air minum di depan rumah, bisa dimulai lagi, agar pejalan kaki yang haus bisa melepas dahaganya tanpa harus beli Aqua. Dan kita membuat angket untuk mengganti kalimat atau baris kedua Lagu Kebangsaan Indonesia Raya : Tanah Tumpah Darahku. Sudah 82 tahun kita menggunakan kalimat itu, dan setiap kali seluruh bangsa ini bernyanyi dengan khusu’ Lagu Kebangsaan mereka pada acara Agustusan, maka para Malaikat mengamininya. Nyanyian adalah doa. Jadilah negeri ini berdarah darah terus menerus. Budaya kekerasan ada di mana mana, dari sejak TK, SD, SMP, SMU, Perguruan Tinggi, DPR, di Rumah Tangga, suami membunuh isteri, isteri membunuh suami, orang tua membunuh anak, anak membunuh orang tua, perkelahian antar kampung. Semua suka kekerasan. Cara penyelesaian persoalan dengan dasar cinta dan logika hanya dikenal dalam dongeng saja.

Dan kalau kita masih menganggap Tanah dan Air adalah kemuliaan kita, makanya itu dicantumkan dalam kalimat pertama Lagu Kebangsaan : Indonesia Tanah Air Ku, kita harus merubah Undang Undang Agraria, agar tanah dan air kembali menjadi milik negara. Ketika masih jaman kerajaan tanah adalah milik raja/kerajaan. Bahkan penjajah pun mengakui hal itu, sehingga dikenal istilah tanah sewa dari sejak itu. Sekarang kalau pemerintah akan membangun sarana umum, mereka harus membeli tanah dari rakyat. Ini kan tidak benar. Dan dengan tanah dikembalikan kepemilikannya kepada pemerintah, itu lebih adil dalam pelaksanaan kredit di bank. Tanah tidak lagi diagunkan di bank. Sekarang ini berlaku keadaan di mana tanah yang dibeli dengan harga sangat rendah, dikatrol menjadi sangat tinggi untuk mendapat kredit bank. Ini adalah awal dari budaya korupsi yang mengakar di masyarakat sekarang.

Demikian juga dengan pengelolaan air. Harusnya pemerintah berkewajiban menyediakan air untuk rakyat, kalau perlu dengan membeli teknologi yang memungkinkan pemerintah melakukan kewajiban itu. Tapi yang terjadi pengelolaan air malah dilakukan oleh asing. Jadi Tanah dan Air sudah menjadi komoditi dagang, bukan lagi Tanah Air yang kita jadikan lambang harga diri negeri ini. Tanah sudah menjadi milik Ciputra, Aburizal Bakri. Air sudah menjadi milik Aqua, Danone.

Dan dengan alasan yang bersifat fiktif, dunia sudah meninggalkan konsep uang adalah penukar barang dan jasa. Sekarang uang sudah menjadi komoditas dagang. Negara tidak lagi  mendasarkan nilai uang nya kepada emas. Segala sesuatu tentang uang  menjadi terasa random dan dibuat buat.

Mari kita renungkan dan pikirkan bersama tentang konsep ini!!! Semoga kita bisa menyaksikan hal ini diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara secara global. Maka dana yang biasa digunakan untuk menciptakan peperangan dan kebencian, dan untuk berbagai permainan yang sudah sangat kuno itu bisa dialihkan kepada program ini, yang sangat kita butuhkan bersama, yang tidak akan terpenuhi hanya dengan sistem penyediaan subsidi belaka.

Bi hurmati Habib. Al Fatiha

31 Agustus, 2010

sutono saimun joyosuparto

About kekji

i am nothing and will stay that way. i live only to serve Allah SWT
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s