Dzikir Allah

Allahuma shali ala Muhammad wa ala ali Muhammad wa salam. Al Fatiha.

Kita memang diperintahkan untuk dzikir yang banyak, karena Dia tahu kita tidak mampu dzikir yang sebagaimana Dia berhak kita dzikiri atau sebagaimana Dia dzikir untuk Diri Nya. (Allahuma ma dzakar na ka haqqa dzikrika ya Madzkuru). Sebagai ganti kualitas yang tidak dapat kita persembahkan kepada Nya, ya kuantitas saja. Disamping itu mestinya ada hal lain, yang tidak banyak dibicarakan. Dikatakan “Tidak ada ciptaan yang dapat memuat Allah, kecuali qalbu orang beriman.” Artinya Dia bersemayam di dalam qalbu kita, kalau kita beriman. Maka agar Dia krasan di situ, kita harus banyak banyak up-load asma al husna ke dalam jantung atau qalbu kita, yaitu dengan menyebut nyebut Allah, tahlil tahmid, takbir, tasbih, hamdalah dan nama nama indah Allah lainnya yang kita diberi tahu oleh Nya.

Untuk sengaja dengan niat up load asma ul husna itu, mungkin ketika kita menyebut Nya, kita membayangkan memasukkan sebutan itu ke dalam area di arah jantung kita, di kiri dada.

Dan dengan bertambahnya muatan dzikir di dalam qalbu itu, maka qalbu menjadi lebih bersih (atau terhindar) dari hal hal yang bukan asma ul husna. Dengan kata lain :”Wa qul jaaa’alhaqqu wa zahuqqa albathilu inna albathila kna zahuqqa.” Atau Katakan datang al Haqq dan sirnalah al Bathil. Sesungguhnya yang bathil cenderung musnah.

Dan dengan lebih banyaknya muatan asma al husna di dalam qalbu.maka makin kuat juga qalbu itu.

Terdapat banyak sekali tabir yang menutupi kita. Dan ada dua macam tabir yang bisa saya mengerti : tabir yang adalah sifat buruk kita, yang terkait dengan ego. Ini adalah tabir yang terdekat dengan diri kita. Jenis tabir lain adalah tabir yang melindungi kita terhadap kekuatan Bahrul Qudra. Tabir jenis kedua ini menutupi semua makhluq, semua ciptaan, yang “hidup” maupun yang “mati”. Tanpa tabir kedua ini semua ciptaan akan sirna oleh kekuatan BQ. Bagi manusia yang telah bisa mengusir sifat buruknya,  dengan selalu mengisi qalbunya dengan asma ul husna, dan dengan demikian qalbunya itu menjadi lebih kuat untuk bisa menerima sebagian Nur dari BQ yang memang telah dikaruniakan kepadanya, maka tabir jeni kedua tertentunya yang terkait, akan diangkat. Makin kuat qalbu oitu makin banyak juga tabir jenis kedua ini yang diangkat. Sebetulnya tabir tabir ini adalah kepompongnya manusia.

Supaya menjadi “dewasa” manusia memang harus keluar dari kepompongnya itu. Tetapi rupanya proses ini tidak otomatis. Tidak seperti ulat, yang semuanya (jika selamat, tidak dimangsa predagtornya) akan menjadi kupu kupu, manusia baru akan mnjadi “dewasa” atas ijin Allah. Kalau semua manusia otomatis bisa menjadi “dewasa”, maka itu seperti surga pindah ke dunia.

Kalau kita masing masing memiliki masjid atau baitullah atau qalbu yang “berisi” Allah, lalu baitulllah yang di masjidil haram itu sebetulnya qalbu siapa? Menurut Mawlana itu adalah simbol dari qalbu Nabi Muhammad s.a.w.  Jadi shalat ssungguhnya adalah menghubungkan qalbu kita dengan qalbu Nabi Muhammad s.a.w.

Ya Allah ampunkan kami yang telah mendzolimi diri kami sendiri. Bi hurmati habib. Al Fatiha. Alhamdulillah. Astaghfirullah.

Jakarta, 20 Agustus 2010

Sutono Saimun Joyosuparto

About kekji

i am nothing and will stay that way. i live only to serve Allah SWT
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s