3 Sutono Belajar Shalat

Allahuma shali ala Muhammad wa ala ali Muhammad wa salam. Al Fatiha.

Mengapa  Mawlana menyuruh kita membawa alat tulis ketika mendengarkan sohbet beliau? Supaya kita mengumpulkan (collect) “al Qur’an” kita sendiri. Maksudnya supaya kita meniru Nabi s.a.w. Beliau s.a.w. memiliki photographic memory, jadi tak perlu mencatat. Tapi langsung disampaikan kepada para shahabatnya agar mereka ini menolong merekam semuanya itu. Itu adalah thawaf ilmu.

Mungkin di sini letak kesalahan saya. Saya banyak menerima kemudahan untuk banyak hal, namun tidak cukup menunjukkan syukur. Salah satu tanda syukur itu adalah membuat record/ catatan apa saja yang saya dapatkan, untuk dicermati. Dan itu tidak saya lakukan. Dari pak Subur Rahardja itu saya mendapat beberapa butir penting tentang shalat yang berhubungan dengan kesehatan.

Dan kalau dicermati, shalat memang terdiri dari serangkaian gerak dasar yang dibutuhkan manusia untuk melepaskan ketegangan di beberapa otot pada tubuh guna memulihkan kondisi normal kesehatannya.

Suatu hari saya mampir ke kantor seorang teman yang lama tidak bertemu. Rupanya dia sedang berbicara asyik dengan tamunya. Tapi melihat saya, kami sudah berteman sejak 1955 di Surabaya, dia minta saya bergabung dalam pembicaraan mereka. Rupanya mereka sedang bicara tentang “hebatnya” sebuah latihan silat, yang mereka baru ikuti, dalam menyembuhkan penyakit. Semua penyakit. Mendengar pembicaraan itu, saya jadi tertarik untuk mengikutinya, meskipun saya tidak memiliki keluhan kesehatan pada saat itu. Tetapi kelas baru tidak setiap saat diadakan. Dan mereka mengingatkan saya bahwa ini adalah latihan berat. Nanti kalau ada kelas baru saya akan dihubungi.

Saya termasuk orang yang tidak suka atau tepatnya tidak bisa olah raga. Dulu ketika sekolah di Bandung saya tinggal di Asrama Ganesha. Kalau waktu senggang biasanya teman teman main volley ball. Kan Team nya 6 – 6. Mereka selalu menolak saya kalau saya ingin ikutan. Mereka bilang Ton kamu ikut di seberang aja, biar kami hanya berlima melawan kalian bertujuh siapa takut. Mereka bilang begitu karena kalau serve saya jarang bisa melewati net. Selalu jatuh di daerah sendiri. Karena tidak pernah berolah raga, saya juga tidak pernah berkeringat. Dan suka mengalami konstipasion (sukar buang air besar). Tetapi karena sudah menjadi kebiasaan, 3 hari tidak BAB juga tidak masalah. Memang kedengarannya jorok dan tidak sehat. Tetapi karena terbiasa, ya tidak terasa efek negatifnya.

Suatu hari datanglah pemberitahuan ada bukaan untuk pelatihan baru silat yang saya maksud di atas. Namanya Silat Al Barokah. Gurunya pak Hanafi (sekarang sudah almarhum). Dia sendiri belajar itu di Jogja kepada pak Asfan Panjaitan (atau Nasution saya lupa), yang juga menjadi guru dari Pendiri Satriya Nusantara, pak Maryanto. Latihan dasar itu memerlukan waktu 10 malam untuk menyelesaikan 10 jurus atau gerak. Ditutup dengan ujian pada malam ke 11. Pada malam ke 12 diadakan perkenalan dengan seluruh senior dan diadakan demo. Para murid baru diserang oleh seniornya yang pada terpental ketika menyerang murid baru itu. Segi mistisnya menjadi kental, karena proses ini juga menyangkut pembukaan titik titik tertentu di tubuh murid baru, sambil diajari melafalkan tahlil (la ilaha illa Allah) dengan benar. Pada waktu begitu itu, ruang tempat berlatih itu dijaga ketat, pintu pintu ditutup. Tak boleh ada yang mencuri dengar. Dan seolah justifikasi suasana mistis kental ini, karena setiap kali kita melakukan jurus, pada akhir gerakan kita akan terpental ke belakang. Lemparan ke belakang itu begitu keras sehingga mereka yang tidak siap dengan kuda kuda yang tangguh akan jatuh gulung koming atau bergerak dengan cepat jauh ke belakang.

Memang ini adalah sebuah latihan gerak yang sangat keras. Murid baru biasanya muntah muntah. Tetapi saya bukannya muntah, malah turun ke belakang. Jadi bolak balik ke WC. Apalagi ketika sampai ke jurus 5 dan 7, yang gerakannya bukan mundur, tetapi terputar (terpaksa berputar). Umumnya peserta baru datang ke latihan ini karena keluhan kesehatan. Dan mereka itu rata rata pada malam ke tiga, sudah merasakan perbaikan. Ada orang ketika datang malam pertama dipapah dan menggunakan tongkat kaki 3, maka pada malam ke 3 sudah mampu berjalan sendiri. Peserta lain, wanita tua yang sudah lama sekali tidak berani menyentuh air setelah maghrib, karena encok, mengikuti latihan ini harus mandi malam malam habis latihan juga tidak menjadi masalah. Yang lain lagi sudah lama tidak bisa tidur di kasur empuk atau goyang, karena punggung sangat sakit, sehingga harus tidur di papan rata. Setelah mengikuti latihan ini, pada malam ke 3 dia sudah lupa sakitnya itu. Dan banyak sekali cerita sukses lainnya. Tapi peserta yang Paswalpreshanya tahan tahan 3 malam, sambil bilang lari Jakarta Semarang buat dia lebih ringan dari mengikuti latihan ini. Peserta lain yang belajar ilmu kebal tidak luka dibacok golok, dan kulitnya menjadi bersisik seperti ular, setelah mengikuti latihan ini, kulit ularnya rontok dan dibacok luka.

Tetapi saya kebalikannya. Datang ke latihan dalam keadaan sehat dan baik baik saja. Tetapi mengikuti sampai malam ke 3 lutut kiri saya bengkak besar sekali, sehingga sangat kesakitan ketika shalat dan harus duduk di antara dua sujud. Latihan ini harus dilakukan pada malam hari, karena pelatihnya kan harus bekerja siangnya. Dan setiap malam selama 12 malam berturut turut sampai acara terakhir. Pada waktu itu, kalau saya sakit, saya selalu menemui paman saya yang sangat ahli akupunkture. Tidak ke dokter. Seperti sewaktu mendapat flue berat dengan hidung mengalir dan temperatur tubuh naik, tetapi harus tetap bekerja karena ada jadwal yang harus dikejar. Saya mendatangi paman, dia hanya tanya kamu mau saya tusuk dengan kaki atau dengan tangan (bercanda)? Terserah, yang penting mampet dan temperatur turun. Dia hanya menaruh dua jarum di antara jempol dan telunjuk, dan dekat lipatan sikut, di masing masing lengan kanan dan lengan kiri. Sejam kemudian ingus tidak lagi mengucur, dan suhu badan turun.

Atau kalau saya mau bisa juga saya makan pil penghilang rasa sakit. Tapi entah mengapa, saat itu saya sengaja menahan rasa sakit itu dan berdoa :”Ya Allah, saya rela menanggung rasa sakit yang sangat ini sewaktu shalat, namun ampunkan dosa saya yang melalaikan shalat selama ini. Maka jika Engkau berkenan berilah sakit ini sampai Engkau mengampuni dosa saya itu.” Setelah berdoa itu saya merasa lebih tenang menderita sakit itu. Dan latihan itu saya ikuti sampai selesai. Pada malam ujian seluruh peserta baru sudah melakukan jurus dengan baik dan dinyatakan lulus, saya diulang ulang lebih dari sepuluh kali, belum selesai juga. Akhirnya karena malam sudah larut benar, lewat tengah malam, akhirnya gurunya yang menyerah :”Baiklah pak Tono saya luluskan. Kami semua sudah capek. Latihan  terus di rumah ya.” Horee, Sutono lulus latihan silat. Sejak itu saya mudah berkeringat dan BAB lancar, yaitu  sekali setiap hari.

Bengkak yang mengganggu itu terus berlangsung selama sekitar 16 hari. Sampai suatu pagi, bangun tidur bengkak itu sirna dan sakitnyapun lenyap. Saya hitung hitung 16 hari itu kalau dikalikan 700 sama dengan 11,200 hari atau sama dengan sekitar 30 tahun. Artinya doa saya dikabulkan Allah. Satu perbuatan baik akan mendapat ganjaran 700 kali. Kalau dihitung wajib shalat pada usia 10 tahun, dan mulai shalat teratur itu sejak 1981 atau sekitar 30 tahun saya  meninggalkan shalat. Enambelas hari shalat dalam kesakitan telah membayar hutang shalat selama 30 tahun. Sebetulnya kan tidak ada aturannya shalat yang hilang itu diganti apa. Tetapi dengan baik sangka (GR) kepada Allah, saya menganggapnya demikian. Saya gembira sekali pagi itu. Tapi rasanya saya tidak sujud syukur waktu itu. Ini kesalahan saya lagi.

Setelah mengamati gerakan silat ini lebih seksama, rupanya dorongan mundur ketika seseorang melakukan gerakan atau jurusnya, posisi akhir dari gerakan itu menyebabkan proyeksi titik berat tubuh berada di belakang tumit. Tentu saja hal ini menyebabkan tubuh akan terlempar ke belakang dengan keras. Dan ketika melakukan jurus putar, jurus 5 dan jurus 7, satu kaki yang menjadi tumpuan tetap dipertahankan di satu titik pijaknya itu, sehingga gerak mundur menjadi gerak berputar. Berputar mundur. Jika lutut kita seperti lutut ayam, yang menekuk ke belakang, maka gerak terlempar/terdorong ke belakang itu tidak terjadi.

Tetapi jurus jurus silat ini masih menyisakan segi mistis juga. Mengapa si penyerang terpental ketika menyerang para murid baru ini? Mungkin rahasianya terletak di sini : para senior yang meneyerang murid baru ini untuk membuktikan keampuhan ilmu dalam hal bela diri, harus dibuat (atau membuat dirinya) emosional dulu. Kalau si penyerang tidak emosi, pukulan itu mendarat juga. Maka dalam petunjuk pemakaian jurus, kalau ada yang mengganggu, mereka itu harus dibuat marah dulu, misalnya dengan meludahinya. Barulah jurus ini efektif untuk bela diri. Mengetahui segi ini beberapa murid, termasuk saya, mendirikan perkumpulan baru yang kami sebut Indonesia Perkasa. Tetapi saya lebih suka menyebutnya sebagai Olah GErak, DZikir dan Olah Napas atau OGEDZON, karena memang dalam berlatih ini diharuskan dzikir sambil mengolah napas. Di perkumpulan baru ini acara demo itu kami hapuskan.

Lalu bagaimana penjelasan tentang mengapa harus membuat si penyerang emosi, baru efektif?  Mungkin karena emosi itu adalah jalur yang biasa digunakan setan untuk mempe ngaruhi manusia Jadi kalau kita menguasai jalur yang berada di tubuh lawan itu lebih dulu, maka kitapun bisa menguasai dia. Hal ini pernah saya coba sekali. Satu waktu saya sedang tergesa harus ke tempat lain. Tapi begitu mau ke luar tempat parkir sebuah perkantoran, ada dua orang tukang parkir sedang terlibat ribut mulut berebut pelanggan dengan emosi tinggi, dan sudah hampir adu jotos, yang menghalangi jalan keluar saya. Maka saya gunakan jurus menyibak, dua tangan dirangkapkan, lalu dipisahkan secara menyentak, saya tujukan kepada dua orang yang sedang emosi itu. Benar. Kedua orang itu langsung saling terpental mundur, sambil kelihatan bingung, setelah pada berdiri. Maka saya bisa lewat antara keduanya. Tapi saya tidak mau mencoba lagi hal seperti itu.

Lalu bagaimana tentang kesembuhan yang dirasakan para peserta latihan? Salah satu peserta adalah ahli paru Rumah Sakit Persahabatan. Kita bicarakan fenomena yang terjadi itu. Latihan  ini ada dua jenis jurus atau gerak. Satu adalah menahan napas ketika bergerak, kemudian dilepas perlahan pada akhir gerak. Ini disebut gerak dorong. Satu lagi adalah gerakan dimulai dengan paru dibuat kosong, dan sambil bergerah udara diisap ke dalam paru sampai penuh pada akhir gerakan, baru dikeluarkan perlahan. Ini disebut gerak tarik. Baik menghembus maupun mengisap lewat lubang hidung. Artinya dalam  latihan ini terdapat bagian yang saya sebut puasa napas. Dalam pengertian umum, puasa adalah menunda pemuasan kebutuhan. Puasa Ramadhan, intinya juga adalah menunda pemenuhan kebutuhan, apakah itu lapar atau dahaga atau lainnya.

Penundaan pemenuhan kebutuhan itulah yang sesungguhnya adalah salah satu cara untuk mengendalikan ego. Dan janji Allah dengan puasa kita menjadi taqwa. Dan menunda kebutuhan akan oksigen, adalah juga semacam puasa, dan tentunya juga mendukung ke arah terjadinya taqwa. Dan dengan kita puasa oksigen, tubuh dipaksa untuk menggunakan oksigen yang tersedia di tubuh semaksimal mungkin. Di dalam paru terdapat banyak sekali gelembung kecil, tempat kontak antara haemoglobin dalam darah dengan oksigen, yang disedot paru. Karena  napas ditahan cukup lama, maka oksigen dalam udara sempat disedot habis oleh darah, yang punya daya tarik tinggi terhadap oksigen itu. Maka kalaum kita mengirup sisa pembakaran yang tidak sempurna, misalnya gas CO,  dan gas CO ini juga punya kedekatan dengan haemoglobin, sehingga  diapun akan terisap oleh darah dan karena tubuh tidak menyerap CO, dia tetap menempel ke haemoglobin, maka oksigen tidak dapat ditarik. Akibatnya orang itu akan mati lemas kekurangan oksigen.

Dan mengapa Allah membuat komposisi gas nitrogen : gas oksigen dalam udara adalah sekitar 79 : 20? Karena untuk melindungi paru kita. Kalau gas yang kita hirup itu adalah oksigen murni, maka dalam semenit kitapun akan meninggal. Mengapa? Karena sekuruh oksigen itu akan terisap habis oleh darah merah, sewaktu mereka masih dalam gelembung kecil di paru itu, sehingga terdapat situasi vacuum dalam gelembung itu, yang menyebabkan dinding gelembung itu akan collaps (mengempis) dan lengekat. Tak bisa digunakan lagi. Dan dengan adanya nitrogen yang tidak diserap darah, gelembung itu tidak collaps Jadi dengan latihan ini semua organ tubuh dipaksa bekerja keras maksimal, sehingga bekerja pada kondisi optimalnya. Dan itu namanya sembuh. Jadi latihan ini bukan menyembuhkan penyakit, tetapi berusaha membuat organ kita kembali normal. Itulah tanda kesembuhan.

Lalu apa hubungannya latihan ini dengan belajar shalat? Ada. Suatu malam saya mimpi, ada seorang tua bersorban mengatakan bahwa latihan ini adalah gerak shalat. Karena mimpi itu bukan hanya sekali, maka setelah saya perhatikan, kalau urutan jurus dirubah, memang gerak itu menggambarkan gerak orang mulai doa setelah ambil wudhu, sampai salam kanan salam kiri di akhir shalat, kemudian bertebaran di muka bumi untuk mencari nafkah. Itu adalah untuk sesi berikutnya.

Ya Allah ampunkan kami yang telah mendzolimi diri kami sendiri. Bi hurmati habib. Al Fatiha. Alhamdulillah. Astaghfirullah.

Jakarta, 14 Agustus 2010

Sutono Saimun Joyosuparto

About kekji

i am nothing and will stay that way. i live only to serve Allah SWT
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s