Tafseer Surat al-Fatiha

Shaykh Hisham Muhammad Kabbani

Kamu harus memutar wajahmu dari dunia kebanggaan  dan kesombongan — Wal ‘ilaaba `ila daaril quloob — dan mengarahkan wajahmua (`ilaaba) kepada dunia lestari – itu artinya akhirat.. Jadi artinya, apabila dunya terlepas dari qalbumu, dan apabila `akhira mengisi qalbumu. Wal `isti’daabu lil mawti qabla nuzuli — dan siap mati sebelum itu dikirimkan kepadamu. Siap apa? Siap apa? Siap mati sebelum itu datang. Apakah (ada) seorang yang siap mati? Ya. Orang kaya, mereka mulai… mereka membuat surat wasiat, karena Uncle Sam (negara USA) akan mengambil harta mereka, jadi mereka tidak mau uang mereka diambil, maka mereka mulai menggunakan surat wasiat. Apakah betul begitu? Betul? Jadi merekapun menyiapkan uang juga. Namun jika mereka menyiapkan uang untuk mereka sendiri, untuk warisan, dan juga pada saat yang sama menyiapkan diri mereka untuk akhira, itulah yang dikehendaki Allah. Karena Allah menghendaki kamu menyerahkan hartamu kepada anak anakmu. Dan Allah pada saat yang sama menghendaki mewariskan dirimu ‘amalu saalih – bahwa bila kamu meninggalkan dunya ini dengan kematian, kamu ingat kematian setiap hari, bila kamu meninggalkan dunya ini, kamu akan menemui Tuhan mu di sana. Dan itulah yang dikatakan Nabi (s.a.w) – Ini menjelaskan “al-hamd wath-thala` wash-shukr.” Seperti kami katakan sebelumnya – gambaran doa dan terima kasih adalah melalui kematian! Al-isti’dad lil mawt. Kamu menyiapkan dirimu sendiri untuk mati – itu adalah pembukaan qalbu untuk cahaya itu agar masuk. Bila cahaya itu masuk, maka kamu dapat memuji Allah, maka kamu dapat berterima kasih kepada Nya dalam cara yang benar.

Semoga Allah (swt) mengampuni kita. Semoga Allah mendukung kita, karena jika kita tidak mengingat Dia, dan berterima kasih kepada Nya, dan memuja Dia, dan mengingat kematian, kemudian kita akan terjatuh kedalam berbagai dosa dan kita akan mulai punya masalah. Dan sesiapa yang terjatuh kedalam ketidak sempurnaan dan terjatuh kedalam dosa, dia berkata, “Bagaimana saya akan bertobat, dan bagaimana saya akan meninggalkan dunya ini bila saya tahu saya akan jatuh di dalam nya.” Jika kita mulai minum hal itu ke dalam qalbumu. Itulah persiapan untuk mati. Kita mulai melihat bahwa kita dalam keadaan pengabdian yang sangat rendah levelnya – kita tidak beribadah dengan benar. Maka, kita mulai mendapat kemajuan, lebih lagi dan lebih lagi, lebih lagi dan lebih lagi, sampai Allah (swt) mengampuni kita, dan Allah (swt) akan mengangkat kita, dan membuka qalbu kita untuk cahaya itu.

Terdapat empat unsur yang menghalangi kita untuk memuji dan berterima kasih kepada Allah (swt). Unsur pertama adalah ad-dunya. Unsur ke dua adalah al-khalq. Unsur ke tiga Shaytan, unsur ke empat adalah an-nafs. Mereka ini dapat juga dinyatakan sebagai ad-dunya, al-hawa, an-nafs, wash-Shaytan – karena al-khalq dapat juga dinyatakan sebagai, “al-hawa.” Mereka inilah empat musuh itu. Jika kamu tidak dapat mengendalikan mereka, mereka yang akan mengendalikan kamu. An-nafs, ad-dunya, al-hawa, wash-Shaytan. Dan kamu tahu apa yang perlu kamu lakukan adalah memiliki  —  kamu tahu bagaimana kamu taruh sesuatu di depan kuda, itu disebut apa? Sebuah tali kekang? Kamu memerlukan sebuah tali kekang untuk ego mu. Karena empat musuh ini, mereka tercetak di dalam tubuh alamiah mu. Nafs, dunya, hawa, Shaytan. Jika kamu memiliki sebuah tali kekang untuk digunakan, agar supaya mencegah empat musuh ini… Tali kekang apa yang kamu perlu miliki? Lisaanut taqwa. Bila kamju memiliki tali kekang shalih di dalam mulut kamu, maka kamu dapat mengendalikan empat musuh ini. Jadi kamu tahu bahwa mereka akan mempengaruhi kamu, dan kamu tahu bahwa mereka (musuh musuh itu) tidak akan pernah untuk menerima berterima kasih kepada Allah dan untuk memuji Allah (swt).

(akhir tape)

Fa `idha hiya `arba’atun – yang pertama adalah an-nafs. Di belakang an-nafs, apa yang diinginkan an-nafs. Apa yang diinginkan ego? Apa yang kamu sendiri inginkan di dunya? Apa yang kamu inginkan? Apa yang kamu kejar? Eh? Apa? Segala sesuatu adalah apa? Rizq! Pendapatan. Dengan pendapatan, kamu bisa berbuat apapun. Bila kamu memiliki uang, kamu memiliki segalanya. Jadi bahaya pertama di belakang an-nafs – mekanisme penggerak ego adalah rezeki (rizq). Jadi itu yang datang dari belakang kamu, di belakang nafs – menghasilkan lebih banyak, memiliki lebih banyak. Dan siapa yang memberi lebih banyak? Itu adalah Allah (swt). Jika kamu tidak berterima kasih kepada Nya dan memuja Nya, bagaimana Dia akan memberi lebih banyak?

Wa la bud wa `akhbaaru min kulli shay`i khaafu `aw yarjoo. Dan nafs kamu akan khawatir. Karena bila nafs itu mulai meminta rizq, kamu harus sadar apa yang harta itu, bila dia datang kepadamu, bagaimana dia akan mempengaruhi kamu? Dalam jalan yang benar? Atau dalam jalan yang salah? Jika dia mempengaruhi kamu dalam cara yang benar, dengan menjadi kaya dan memiliki segalanya, dan pada saat yang sama menolong si miskin, dan ini adalah sebuah cara berterima kasih kepada Allah yang telah memberi kepada kamu – kamu memberi kepada abdi Nya – itu adalah yang disukai Allah. Jika kamu tidak menolong dalam jalan Allah (swt), Allah akan tidak suka kepada kamu.

Semoga Allah (swt) memberi kita lebih dan lebih lagi, dan insha`Allah di waktu lain kami akan menjelaskan kelanjutan dari empat unsur ini, dan insha`Allah pada waktu itu, makna dari “Rabbil ‘aalameen.” Wa min Allahi at-Tawfiq, bi hurmatil Faatiha.

Pertemuan berikutnya.

Shaykh Shahib membaca al Qur`aan.

MSH: Sadaq Allahul ‘Adhim, wa ballaghan Nabiyuhul Karim, wa nahnu ‘ala dhaalika minash shaahideen ash-shaakireen bi qalbin saleem.

Kami katakan waktu yang lalu – masing masing dari kita memiliki empat musuh, melalui Alhamdulillah tana` Allah (swt) – agar supaya menyelamatkan  kita dari empat musuh kita, yang adalah nafs, dunya, hawa, Shaytan. Dan kami menjelaskan bahwa, dan kami akan merincinya lagi malam ini. Musuh paling sukar yang dihadapi ummat manusia adalah empat musuh ini. Nafs, dunya, hawa, Shaytan. Dan yang paling sukar dari empat musuh ini adalah dua: an-Nafs, wash-Shaytan. Al-hawa wad-dunya dapat dikendalikan, jika nafs dan Shaytan dikendalikan. Jadi jika kita tidak dapat mengendalikan diri kita – ego kita – ego buruk itu dan Shaytan – jika mereka mengendalikan kita, maka kita akan berada dalam kesukaran. Karena kemudian mereka akan membawa kita ke dalam bahaya melalui hasrat buruk, dan melalui dunya. Jadi hal pertama yang harus dikerjakan adalah untuk memasang tali kekang kepada mereka agar supaya mengendalikan pengaruh mereka kepadamu. Dan untuk memasang tali kekang itu, lakukan itu dengan beribadah secara progressif, dan melalui pemujaan dan berterima kasih kepada Allah (swt) dengan menyebut “Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah…” bahwa Allah (swt) telah mengkaruniakan kita ‘Hamd wath-Thana` Nya. Karena tak satupun, sebagaimana dikatakan Nabi (s.a.w.) – La `ufeetala ‘an ‘aleik ‘Antaka la `athnaita ‘ala Nafsik. Seperti kami katakan sebelum ini, Nabi (s.a.w.) menggunakan taqlid dalam munaajaat. Fil munaajaat. Bila dia memohon Tuhannya. Bila Allah (swt) bertanya kepadanya, “Subny,” “Katakan.” Dia berkata, “La `ufeetala ‘an ‘aleik `Antaka la `athnaita ‘ala Nafsik. Saya tak dapat memuja Mu sebagaimana Engkau harusnya dipuja. `Antaka la `athnaita ‘ala Nafsik. Saya memuja Engkau, meniru cara yang Engkau suka memuja Diri Mu Sendiri. Jadi Nabi (s.a.w.) disini menggunakan taqlid, bahwa Islam dan empat madzab, mereka mengatakan bahwa sangatlah penting untuk menggunakan taqlid dalam Fiqih (Islamic Jurisprudence). Dan kini (jaman ini) mereka mengatakan “Tak ada taqlid.” Bila kita memeriksa tradisi Nabi (s.a.w.), kita menemukan taqlid. Jadi jika Nabi s.a.w. menggunakan taqlid, mengapa kita harus menghindari taqlid dan menolak nya sekarang dengan ideologi baru dan mengatakan “Tak ada taqlid dalam Islam” ? Padahal Nabi (s.a.w.) menggunakan taqlid. Jadi apa yang harus kita lakukan adalah menggunakan apa yang digunakan Nabi (s.a.w.), untuk mempelajari al-`abiyal manthoora, dari Nabi (s.a.w.), dan menggunakan nya agar kita mencapai kendali atas ego kita.

Dan kamu harus menggunakan taqwa, tali kekang yang kita gunakan. Tali kekang yang kita gunakan adalah tali kekang taqwa, agar supaya mengendalikan ego mu. Jika kamu tidak menggunakan taqwa… Dan taqwa dapat (berupa) takut akan Allah atau  cinta Allah. Kedua mereka itu dapat menjadi taqwa. Dan Allah bersabda “Wat-taqul Lah, wa yu’allimukumul Lah.” Gunakan taqwa dan muttaqeen, shalih, kemudian Allah akan mengajarimu. Kemudian Allah akan membimbing mu, bagaimana kamu dapat mengendalikan dirimu sendiri dengan menggunakan taqwa. Wat-taqooniya`ulil `albaab. Bila kamu mulai menggunakan taqwa melawan ego mu, ego mu itu akan melawan kamu, akan menentang apapun yang dapat kamu bayangkan. Kadang kadang ego itu dapat membunuh mu dengan menaruh dalam pikiranmu hal hal yang tidak betul agar membuat dirimu jalan melewati batas, dan mulai berkhayal (hallucinate), membayangkan, kegilaan. Kamu tidak dapat melihat apapun, mereka mengendali kan pikiranmu. Kamu mengendalikan pikiranmu melalui kegilaan, melalui kompleksitas psyko logis kamu. Bila kamu ketika kamu melawan ego mu dan dirimu, itu akan membawa mu kepada level (maqam) itu. Dan itulah sebabnya dikatakan bahwa, “Man la shaykha lahu, fa shaykhahu Shaytan.” Barang siapa tidak memiliki shaykh – itu artinya, barang siapa tidak memiliki amir, tidak memiliki pemimpin yang membimbingnya, Shaytan akan membimbingnya, dan ketika Shaytan membimbingnya, (Shaykh Hisham menepuk tangannya), itu cukup. Akan membawanya kepada kegilaan.

Jadi ketika kamu mulai melawan egomu, egomu (akan) datang melawan kamu melalui empat hal yang berbeda – pertama, ego mu mulai melawan kamu dan bilang padamu, “Uh-oh, kamu harus memilik kekayaan. Itu artinya kamu menambah lagi, kamu harus kerja lebih keras lagi – lupakan tentang shalat, lupakan tentang da’wah, lupakan tentang Islam mu, pikirkan tentang dunya mu. Jadi apa yang harus kamu kerjakan untuk mendapat  dunya (harta) mu? Kamu harus bekerja. Bagaimana kamu harus bekerja? Bukan hanya apa yang diberikan Allah kepadamu – delapan jam, sebagaimana Allah bersabda, tetapi kamu harus bekerja lebih. Jadi dia (ego) mulai menghunjam menembusmu melalui rizq mu. Itu membuat kamu tidak bahagia dengan yang kamu miliki. Jika Allah memberimu sepuluh, kamu ingin 100. Jika Allah memberimu 100, kamu ingin 1,000. Jika Dia memberimu 1,000, kamu ingin 1,000,000. Jika Dia memberimu 1,000,000, kamu ingin 10 juta.  Ba`nool, saudara lelaki Harun ar-Rasheed, dia dikuburkan di Damascus, sepanjang hidupnya dia makan roti dan susu kambing. Saudaranya bilang padanya, “Datanglah dan makanlah dengan saya di istana saya, ini lebih baik. Janganlah makan ini! Kamu seperti anak anak!” “Tidak,” Dia berkata, “Jika Allah bertanya kepadaku di akhira, “Apa yang kamu makan,” dan Dia mau mengadili saya, saya tidak memiliki ratusan jenis makanan yang harus saya jawab – dari mana saya mendapatkan itu semua? Bagaimana saya mendapatkan uang untuk mendapatkan makanan itu? Apa yang sudah saya lakukan?  Berapa manusia yang harus saya siksa untuk memaksanya menyediakan makanan? Saya akan katakan saya makan roti dan susu kambing. Dua makanan saja, yang Dia dapat menanyai saya.  Tetapi kamu! Kamu akan ditanyai sepanjang hidupmu pada saat itu – itu tak akan selesai selesai!” Pada jaman ini, jika kita tidak mempunyai sepuluh macam hidangan tersedia di meja, kita tidak dapat makan. Dan beberapa orang, mereka memiliki  sepuluh hidangan berbeda di hadapan mereka, dan terdapat satu hidangan yang berada di ujung lain meja dan mereka masih menginginkannya – mata mereka ke sudut yang berlawanan itu dan mereka bilang “Berikan saya itu!” (Padahal) Tidak terdapat apapun disana! (Hanya) Sambal! Kamu bilang “Berikan saya sambal! Saya mau sambal!” Betulkah begitu? Mereka melakukan itu atau tidak? Itulah ego, mempermainkan kamu, bilang kepadamu, “Oh, rizq mu sangat terbatas, jadi berusahalah untuk membuatnya lebih banyak. Usahakan mendapat lebih banyak.”

Jadi ego mu akan mulai mengganggumu melalui rizqmu. Kemudian dia (ego) melawan kamu – pertama dia melalui rizqmu, mengatakan padamu itu tidak cukup. Kemudian bahaya apapun yang dia rasakan yang mengancam posisinya, otoritasnya, dia mulai mengganggumu dengan mengatakan padamu, “Jangan membiarkan otoritas itu lepas dari tanganmu – kamu memiliki otoritas itu.” Bagaimana kita memiliki otoritas? Atas apa? Bahkan jika kita tidak memiliki apa apa, kamu memiliki otoritas atas satu atau dua orang, kamu mau mengendalikan mereka – kamu membuat dirimu (menjadi) lebih baik. Terdapat seseorang pada jaman kita sekarang ini tinggal di negara Timur Tengah – saya tak tahu apakah di Timur Jauh terdapat hal serupa – mereka punya sesuatu yang disebut sebuah  “sabil.” Itu adalah air minum di jalan. Mereka menarik pipa, dan mengalirkan air untuk orang. Jika mereka haus mereka dapat minum. Di beberapa tempat, mereka tidak memiliki  kran seperti itu, dan pipa pipa nya. Jadi apa yang mereka lakukan adalah mereka — kadang kadang kamu melewati toko yang terletak di hutan atau di gurun. Mereka memiliki kan/teko air, dan yang lewat disitu dapat minum. Seseorang dalam contoh kita ini melihat bahwa tetangga sebelah, didatangi oleh orang orang dan mereka mendengar (patuh)  kepadanya, sepertinya dia itu seorang pemimpin yang memiliki otoritas. Dan kini tokoh kita ini ingin memiliki otoritas juga, seperti tetangganya itu, karena ego nya mempermainkan nya. Jadi dia ingin memiliki otoritas juga. Jadi apa yang dilakukannya? Dia hanya memiliki air minum yang diberikan kepada orang orang secara gratis. Jadi dia berpikir – sekarang aku akan menjadi pemimpin, bagaimana saya bisa menjadi pemimpin? Saya memberi mereka air gratis, fi sabil Illah. Jadi sekarang ego nya sedang bermain dengan nya, seperti orang orang jaman sekarang – ego mereka bermain dengan mereka – jika mereka ditugaskan pada suatu masjid atau ditugaskan untuk menjabat sebuah kursi atau satu  posisi, mereka menggunakan aji mumpung untuk menguasai orang lain. Maka tokoh kita ini berpikir, “Oh, saya punya sebuah ide bagus.” Dia membawa tujuh kan/teko. Dan diberi warna berbeda – satu putih, satu kuning, satu hijau, satu hitam, apapun. Jadi ketika seorang datang dan mengambil satu teko dan mau minum, tokoh kita ini berkata “Jangan! Jangan mengambil yang putih, ambillah yang hitam!” Ketika seorang lain datang dan ingin yang merah, dia bilang, “Jangan ambil yang merah, ambil yang kuning!” Jadi dia mulai  menjadikan dirinya pemimpin bagi orang orang tersebut dengan cara mengatur mereka teko mana harus digunakan. Itulah ego jaman ini. Semua orang ingin membuat dirinya penting. Allah tidak mengenalinya (seperti itu) “Ini adalah seorang wali, atau bukan seorang wali.” Tak seorangpun penting dalam peribadatan Allah. Setiap pribadi adalah sama. Yang paling baik di mata Kami adalah yang paling taqwa. `Inna `arabbahum ‘indal Lahi `afkaahum – yang paling baik di antara kamu adalah yang paling taqwa. Itu tidak tergantung siapa kamu. Itu adalah yang paling baik yang Allah karuniai melalui qalbu mereka. Beberapa yang hadir disini malam ini, atau yang tidak hadir – mungkin mereka sedang di internet – apa yang mereka lakukan untuk Islam, untuk terbaik yang dapat mereka lakukan, dengan memberikan segala nya melalui qalbu mereka, melalui hidup mereka, melalui harta mereka. Itulah yang menentukan. Taqwa adalah yang diperhitungkan. Bukannya siapa kamu. Jika kamu ingin menjadi pemimpin di sebuah bengkel. Kamu mau menjadi pemimpin satu daerah pembuangan? Kamu mau menjadi pemimpin di sebuah dapur? Kamu mau menjadi seorang pemimpin di dalam sebuah rumah? Untuk apa?. Itulah di mana ego mengancam kamu. Jadi jika dia merasa adanya ancaman bahaya – mahaatim. Ini adalah bahaya kedua dimana ego mulai melawan kamu. Pertama pada rizq, kemudian pada aftaar. Aftaar artinya apapun mahaatim, apapun yang dirasakannya sebagai bahaya atau ancaman. Dia akan mencurangi kamu, menahan kamu, dan membuat kamu melawan datangnya ancaman (aggressive), melawan itu melalui berbagai cara, melawan hal hal yang kamu benci  Ego itu tidak membiarkan kamu menerima, jadi dia membuat kamu benci segala nya.

Ketiga, ego membuat kamu tidak sabar menghadapi kesukaran dan kerja keras. Ketika sebuah ujian atau sebuah kesukaran atau sebuah kerumitan datang, kamu tidak berserah diri kepada Kehendak Allah. Kamu mau melawannya. Jika seseorang berkata sesuatu kepadamu, bukannya menelannya saja dan membiarkan kegaduhan menghilang, tidak. Kamu ingin membuatnya terbuka! Apa keuntungannya? Jika kamu membuat nya terbuka, kamu menjadikannya sebuah fitna. Itu artinya kamu ikut serta dalam fitna itu, kamu lebih buruk dari dia yang mengatakan itu untuk pertama kalinya tadi. Kamulah yang membawa bawa kotoran itu dari satu tempat ke tempat lainnya. Dan gambaran mu adalah seperti — “la haya`a fid deen” – tidak ada kesungkan an  dalam agama. Kita harus mengatakan seluruhnya, atau jika tidak itu adalah… Nabi (s.a.w.) menjelaskan segalanya dalam agama – bagaimana mengambil wudu, bagaimana membersihkan dirimu sendiri, bagaimana untuk tahaara, najaasa, segalanya. Tidak ada persoalan disitu. Sebagai contoh orang yang demikian, lelaki atau perempuan, yang membawa bawa fitna dari satu tempat ke tempat lain, membawa hal yang sudah dikatakan disini, dan memberikannya di sana untuk menimbulkan sebuah  kebingungan, adalah seperti seseorang di gurun yang harus keluar untuk memperbaiki wudu, mengambil wudu dan pergi, dan orang lain datang setelah dia, sehari atau dua hari kemudian, dan mau mengambil wudu, dan dia (orang lain ini) melihat kotoran di sana di pasir, jadi dia mengaduk nya dengan sebatang tongkat untuk memperlihatkan bagian yang basah, dan kamu dapat mencium nya (?). MEREKA MEMBAWA BAU ITU KE HIDUNG orang lain. Itulah bahaya. Kamu membawa fitna dan kebingungan, dan membuat qalbu gelap bukannya membuat qalbu bercahaya. Itu adalah buruk. Dan itu sangat penting, dan itu muncul di awal Tafseer Suratul Faatiha. Ini adalah yang ketiga. Allah Allah.

Wal mansaa`ib  tansabbu ‘aleihi min kulli jaalim – ketika semua kesukaran ini datang kepadanya dari semua arah – karena ego tidak dapat menerimanya, ego itu harus melawannya, jadi begitu ego mulai melawannya, makin banyak dan makin banyak dan makin banyak  dia mendapatkan dirinya (sedang) terjatuh. Seperti seseorang yang sedang dalam air dan dia tidak tahu caranya berenang, dia tenggelam, maka seorang penolong (lifeguard) datang untuk menolong nya dan karena dia tadi tak tahu bagaimana caranya berenang, dia akan menyeret penolong tadi ikut tenggelam. Jadi mereka mulai menarikmu ke bawah sampai kamu tenggelam, kalian berdua. Jadi apa yang sesungguhnya ego membiarkan kamu melakukan? Dia membuat kamu jatuh lebih jauh kedalam persoalan, untuk membuat kamu tenggelam, dan orang lain yang bersama kamu. Untuk membuat kamu betul betul habis/bangkrut.

Yang keempat adalah kalau kamu mendapati dirimu terlibat dalam rizq, bahwa kamu harus berbuat lebih banyak lagi – kamu harus menghadapi bahaya, semua kesukaran datang kepadamu. Kini, kamu tak memiliki apapun kecuali menyerah kepada shaytan, kepada kehendak dari shaytan mu. Kamu berkata, “Baiklah, saya ikut kamu. Saya tidak mengikuti Rahman.” Jadi bagaimana kamu melawan itu? Dengan “Hamdu wath thana`.” Dan al-hamdu wath thana`, dengan memuja Allah (swt), wath thana`, berterima kasih kepada Nya atas Nikmat Nya, dan apa yang harus dikerjakan adalah bit-tawakkulli ‘alal Lah. Itu artinya, ketika masalah datang, Saya berkata “Ya Allah,” dari awal kamu jangan mencoba bertahan hidup dengan – ketika kamu di dalam air dan kamu sedang tenggelam, apa yang kamu mulai lakukan? Kamu mencoba untuk menggerakkan tanganmu dengan cara yang tidak tepat. Tetapi kalau kamu berserah diri, kamu (akan) mengambang. Kamu mengambang di atas air. Menyerah, tawakkul. Apakah tawakkul? Untuk bergantung kepada Allah (swt). Jangan bergantung kepada egomu! Kamu harus tahu bahwa ego itu akan melawan mu sejak awal. Jadi katakanlah “Ya Rabbi, saya akan memohon lebih banyak. SAYA TAHU, wa bil qadir khairihi wa sharrihi — Allah sudah merencanakan rizq mu. Itu tak akan merubah apapun. Jika itu (sudah) ditulis untukmu, kamu akan mendapatkannya. Tak seorangpun akan dapat memakan (mengambil)nya. Jika air itu untuk saya, saya akan meminumnya. Kamu tak dapat mengambilnya dariku. Bahkan kalau itu di sini, dan saya memandangnya, dan kamu memandangnya, mengapa saya harus mengambilnya. Siapapun Allah kehendaki mengambilnya, dia akan mengambilnya, tangannya akan bergerak lebih dulu. Maka menyerahlah. Kamu tak dapat meminumnya. Jadi mengapa kamu harus berkelahi untuk itu? Jika kamu membuat tawakkul — wa man tawakkal ‘alal Lah, fa huwa hasbu – jika seseorang membuat tawakkul kepada Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakannnya. Dia akan memberikan kepadanya. Itulah sebabnya tertulis untuk saya, bahwa saya akan meminum air itu, itulah sebabnya saya akan meminumnya. (Shaykh minum air itu). Mungkin sisanya ditulis untuk seseorang lainnya – saya tak tahulah. Kita akan lihat.

Jadi pertama tama, ketika ego melawan kamu tentang rizq, dan mengatakan kepadamu : kamu kejarlah rizq, katakan “Tidak.” Saya bergantung kepada Allah (swt). Ketika kamu menghadapi bahaya, dan semua bahaya ini mulai mendatangi mu, kamu harus berkata apa? Ketika bahaya itu mendatangimu, apa yang kamu katakan? Wa ufawwidu `amri `ilal Lah – saya serahkan urusan saya kepada Allah. Mengapa saya harus melawan? Jika Allah menghendaki saya menang, Dia akan membuat saya menang, jadi saya menyerahkan hal ini kepada Allah. Janganlah melawan lagi dan membawa semua orang bersama saya, lemparkan kami semua ke dalam selokan, atau ke dalam samudera. Kemudian, was-sabru ‘indash shajajat — dan selalu kesukaran (yang mendatangi), ketika mereka datang, datang, datang, datang, dari mana mana, kita telah menyebutkan empat diantara mereka sebelum ini, bersabarlah. Seseorang membentakmu — “Terima kasih, saya pantas menerimanya.” Jika seseorang berteriak kepadamu — “Terima kasih, saya pantas mendapatkannya.” Jika seseorang mengatakan sesuatu yang salah kepadamu — “Teriama kasih, saya pantas menerimanya.” Apa yang kamu pikirkan Allah (swt) akan berbuat kepadamu? Ketika kamu menyerahkan segala sesuatu kepada Allah, dan mengatakan “Saya sabar — wa ufawwidu `amri `illal Lah.” — “Saya serahkan itu kepada Allah. Allah maha tahu.” Was-sabru ‘inda shadhaa`ika. `Innal Laaha ma’as saabireen. Allah bersama mereka yang bersabar. Jika Allah bersabda, `Innal Laaha…” Allah menegaskan sungguh2 bahwa Dia bersama para penyabar, saabireen. Jadi jika seseorang mendatangi kamu dan mengatakan, “Jangan pergi ke masjid. Jangan pergi kesini. Jangan menghadiri ini. Duduklah di tangga. Duduklah di lantai. Duduklah di sofa. “Baiklah. Terima kasih.” Jangan menjawab (berdalih)! Allah akan mendukung kamu. Allah akan memberikan barakah Nya kepadamu. Allah akan bersama kamu. Allah tidak memasalahkan – apakah si anu memiliki posisi (jabatan) atau tidak. `Innal Laha yandhuru `ila suwarika. Allah tidak memandang kepada citramu (picture). Walaakin yandhur `ila quloobikum — Allah memandang kepada qalbumu. Allah tidak mengatakan “Orang ini adalah seorang pemimpin.” Allah memandang ke qalbunya. Apakah qalbunya bagus? Maka, dia lulus. Jika dia adalah seorang pemimpin namun qalbunya tidak bagus, apa manfa’atnya? Jika dia bilang kepadamu ratusan kali, “Jangan lakukan ini,” itu tak ada artinya. Kebaikan/keshalihan bermakna segalanya. Maka ketika kamu “Was sabru ‘inda shadaa`id” – ketika kamu saabir — `innal Laha ma’as saabireen – jika kamu sabar terhadap hal yang kamu tidak suka, Allah akan menrima kamu, dan ke empat, “war-rida bil qada`” — dan menerima dan bersukacita atas rancangam dan ketetapam Allah atas dirimu. Itu adalah makna dari “Alhamdulillah.” Itu artinya menunjuk bahwa segalanya bagi Allah (swt), tidak ada bagianmu. Ketika kita mencapai level itu, maka kamu benar benar menyebut “Alhamdulillah” dengan benar. Pada saat itu, kamu mengatakan dari lubuk jantungmu yang paling dalam, segala puji bagi Allah. Kamu melawan egomu, kamu melawan Shaytan, kamu menanggung kesukaran – kamu bersabar – kamu menerima al-qada` wal qadar, kamu bershabar atas kesukaran. Allah (swt) akan memberimu apa yang menjadi hak kamu saat itu. Hah!

Dengan cara itu, pada saat itu, egomu tidak lagi dapat memasang tali kekang pada dirimu. Namun (sebaliknya) pada saat itu kamulah yang mengendalikan ego. Kamu pada saat itu mampu bergerak sebagaimana kamu kehendaki tanpa gangguan (interference) nafs, dunya, hawa, Shaytan – empat musuh yang Allah (swt) telah cetak ke dalam raga ummat manusia. Pada saat itu apa yang terjadi? Dia akan menemukan dirinya sendiri — “Fa `idha huwa ghaneequn fi bufoori ni’amil Lah min imdaa`un tawfiqun wal `isma”. Pada saat itu dia akan mendapatkan dirinya, sang manusia, tenggelam dalam samudera kemurahan Allah, dan dalam dukungan dan perlindungan yang dikaruniakan dan dipakaikan Allah kepadanya. Pada saat itu, dia harus sadar, membuka mata, yaqif — terjaga, siaga, bahwa jika dia lalai bersyukur kepada Allah atas kemurahan itu, Allah akan mencabut kembali seluruhnya dari dirinya. Jadi jika Allah mengkaruniakan kepadanya, setelah dia bershabar dan apapun yang telah kami jelaskan, jika dia melupakan bahwa itu semua adalah dari Allah, `idha ghafala ‘anish shukrilil Lah wafa’a fil mashaarika. Jika dia lupa bahwa itu semua dari kemurahan Allah, dan dia tidak berterima kasih kepada Tuhannya, dia akan terjengkang (jatuh kebelakang). Dan itulah sebabnya kamu harus selalu menyebut Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Itu adalah berterima kasih atas kemurahan Allah kepadamu. Fa khaafa `in yaqoona minhu `ikhfarrun lish shukri fa yafa’u fil kufraar. wa yahattu `an tilkal martabatir rafi’a allati

(awal tape 5)

… dia akan diseret kebawah, dan dia akan kehilangan level yang telah dicapainya. Jadi dengan bersyukur, Allah akan mempertahankan dia – itu akan menjadi seperti kebutuhan, seperti makanan baginya, untuk tetap mempertahankan dirinya pada level mukhliseen (jantung?). APAKAH HAMBATANNYA yang harus dilewatinya agar supaya tetap mendapat asupan (makanan) yang meninggikannya itu? Al-hamd wash-shukr. Faqata’aha bi takthirihima – dia dapat mengatasi rintangan ini dengan terus menerus, di lidahnya, di jantungnya, dengan setiap sel dalam tubuhnya, berterima kasih kepada Allah (swt) bil-hamdu wash-shukr. Mengucap “Alhamdulillah” – Pujian bagi Allah, Terima kasih Allah, Pujian bagi Allah,  Terima kasih Allah, Pujian bagi Allah, Terima kasih Allah, fa `idha tanafta (tak terdengar?) jannataka qullaMasha`Allah, La Quwwata `illa bil Lah.” Untuk segala sesuatu kita harus mengucap “Masha`Allah” seperti kita sebutkan sebelumnya – kita menjelaskan “Masha`Allah, Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar.” Selalu “Insha`Allah, Masha`Allah” – Nabi (s) mengatakan kepada kita untuk mengatakan itu terus menerus tanpa henti. Jika kita tidak menyebut itu — “Alhamdulillah, Shukranlil Lah,” itulah sebabnya dari Tariqat Naqshbandi, melalui generasi sejak Nabi (s.a.w.), kita menyebut setiap hari 100 kali, di samping seperti yang saya katakan sebelumnya — 500 dan 500 kali Alhamdulillah – kita menyebut di atas itu 100 kali Alhamdulillah dan 100 kali Shukranlillah, dan 100 kali Subhanallah, 100 kali Masha`Allah, 100 kali La hawla wa la quwwata illa bil Lahil ‘Aliyyul ‘Adhim, 100 kali Allahu Akbar, agar supaya mempertahankan rasa syukur itu sepanjang hari, atau kalau tidak Allah akan mencabut kembali segalanya dari kita. Dan itulah awliya… saya tidak mengatakan bahwa Allah akan mengambil segala kekayaan dari mu. Mungkin saja itu dari kekayaanmu, mungkin saja dari kekayaanmu, namun kamu harus tahu ada dua macam kekayaan – kekayaan spiritual dan kekayaan fisik. Dan paling penting adalah kekayaan spiritual, yang adalah apa yang dicari para `awliya. Jadi jika kamu tidak menjaga lidahmu selalu berterima kasih kepada Allah dan memuja Nya, maka kekayaan spiritual akan diambil dari mu, kamu tidak akan pernah mencapai… Wa man kaana fi haadhihi ya’ma fawwidh `aakhirati ‘aama Allahu Sabeela – barang siapa buta di dunya (akan) buta di akhira. Itu artinya kamu tidak akan pernah mencapai spiritualitas, kamu tidak akan pernah mencapai ‘Ilmul Yaqeen, ‘Aynul Yaqeen, Haqqul Yaqeen di dunya. ‘Ilmul Yaqeen artinya Ilmu Kepastian. ‘Aynul Yaqeen artinya Penampakan Kepastian atau Kebenaran. Haqqul Yaqeen artinya Kebenaran Realitas. Kamu tidak akan pernah mencapai tiga level ini, yang sebagai contoh bagi kita, Sayyidina ‘Umar (ra), ketika dia melihat dari Medina ke Damascus, ke pasukannya, Yasari Ya Jabbari (panglimanya), dia dapat melihat panglimanya, memanggil dari Medina ke Damascus, 1,000 mil. Itulah makanan spiritual bagi jantung yang kita perlukan agar supaya menjaga tabir menjauh, untuk membuang mereka (tabir itu) dari depan mata kita, dengan berterima kasih kepada Allah (swt).

Jika kita melakukan itu — Fanatana`a’an fi qeeli haadhihil haala baqiyyatil ‘umoor. Jika kamu tetap menyebut syukur itu pada lidahmu, dan memuji Allah (swt), kamu akan menikmati. Kamu akan mewasakan kenikmatan dan kenikmatan terus menerus sepanjang hidupmu, dengan spiritualitas ini. Dia tidak akan pernah memudar darimu (kalimat ini tidak jelas). Itulah sebabnya kita katakan `awliya `Ullah, `ala `innal `awliya `Ullahi la khawfun ‘aleihim wa laahum yahzanoon. Tidak ada rasa takut bagi mereka, tidak ada apapun yang ditakuti. Haah. Dan jantungmu selalu menunggu surat (panggilan) datang kepadamu, memanggilmu untuk datang ke Hadhirat Ilahiyyah. Ketika kamu selalu berterima kasih dan memuji. Dan Allah (swt), contoh terbesar buat kita – karena tak seorangpun dapat mencapai (level) itu, namun kamu dapat belajar dari Nabi (sa.w.) – jantung selalu dalam keadaan Hamdu wath Thana` lil Lah, selalu berterima kasih dan memuji Allah. Allah memanggilnya pada Malam Mi’raj — Lailatul `Isra`i wal Mi’raj. Fastakmala shawk `ilal mala`i ‘Aa’la – Nabi (s.a.w.) selalu dalam shawk, cinta, untuk mencapai Hadhirat Ilahiyyah. Fa `idha huwa bi Rasooli Rabbil ‘Aalameen yubashshiruhu birrighwaal. Dan kini Jibril (as) datang, memberi tahu Nabi (s.a.w.), “Allah memanggilmu untuk Lailatul `Isra`i wal Mi’raj. Itu untuk kita adalah sebuah pelajaran, bahwa jika kamu menghendaki ridha Allah terhadap kamu, kamu harus mengikuti hamd and thana` ini dengan menyebut “Alhamdulillah.” Dan Allah berkata “Alhamdulillah.” Mengapa Dia tidak mengatakan “Alhamdu li Rabbil ‘aalameen?” Tetapi Dia berkata “Alhamdulillahi Rabbil ‘aalameen.” Allah adalah al-`Ismu Jaami’u bis-sifaati wal `Asma`. Al-`Ismul Jaami’il `Asma` was-Sifaat. Itu adalah Asma yang meliputi semua Busana dan Nama lainnya.

Rabbil ‘aalameen — “Rabb” adalah Nama dari Sifat (Busana) – menggambarkan Rububiyyatul Haqq. Allah adalah Nama di bawah mana terdapat Sembilan Puluh Sembilan Nama.  Walil Lahil `Asmaa`ul Husna Fad’oobu biha. Wa lil Lah – bagi Allah adalah Sembilan Puluh Sembilan Nama – Panggillah Dia. Huwal Lahu ladhi La `ilaaha `illal Lah ‘alimul ghaybi wash shahaada – kemudian datanglah semua nama.  Jadi Allah adalah yang Pertama, adalah `Ismuz Zaat, adalah Nama, yang meliputi semua Busana dan Nama. Dan itulah mengapa itu disebutkan pertama kali. Itu datang sebagai awalnya “Alhamdu” lalu “Lil Lah” kepada Dzat yang tidak diketahui oleh siapapun. Kemudian barulah datang “Rabbil ‘aalameen.”

Dan insha`Allah lain kali kita akan menjelaskan makna “Rabbil ‘aalameen.” Bihurmatil Habib, bi hurmatil Faatiha.

Soahib membaca al Qur’an.

MSH: Allah (swt) bersabda “Alhamdulillah,” dan kita menjelaskan bahwa – Pujian bagi Allah (swt) – “Alhamdulillah” dan segera setelah itu Dia melanjutkan dengan sebuah (suatu kehidupan sosial?). Pujian bagi Allah. Dan Nama itu yang meliputi semua Nama, 99 Nama Indah – segera Dia mulai dengan menjelaskan Allah dengan Diri Nya. Apa yang dikatakan Nya? “Rabb.” Jadi Dia menguraikan Dzat. Apakah Dzat itu – itu artinya apa yang dikehendaki Allah (swt) agar kita ketahui. Jadi Dia berkata kepadamu, “Aku adalah Allah.” Berkata tentang Diri Nya, “Alhamdulillah.” Sebagaimana Allah bersaba dalam Surat Ikhlas, “Qul Huwa Allah” – menggambarkan  Diri Nya Sendiri. Gaib Mutlak – Tak Diketahui – “Hu.” Ghaibul Mutlaq. Al-Ghaibul Mutlaq – menggambarkan Diri Nya sebagai “Aku adalah Ghaibul Mutlaq, tak satupun mengetahui Aku – Cahaya itu adalah Allah – Qul Huwa Allah. Jadi sekarang, setelah Dia bersabda tentang Allah, Nama itu meliputi setiap Nama – semua Nama berada di bawahnya, itu diuraikan segera setelah itu dalam Suratul Faatiha – menunjukkan kepadamu “Kamu adalah abdi Ku, Aku adalah Tuhanmu.” Saya adalah Rabb. Kamu adalah ‘abd. Dia berkata “Pujian bagi Ku,” dan kemudian Dia segera berkata, “Rabb.” Itu berarti, “kamu tidak akan pernah menjadi ‘Rabb.’ Aku adalah Rabb. Rabbil ‘aalameen.” Dan Dia berkata ‘alameen.’ Dia tidak berkata “Rabbul `insy wal jinn.” Dia berkata, “’aalameen.” Itu artinya segala sesuatu berada di bawahnya. Itu artinya, Dia adalah Tuhan bagi seluruh/setiap ciptaan yang telah diciptakan Allah. Dan itulah sebabnya Dia bersabda, “Rabbi al-‘aalameen.” Dan “Rabb” dalam bahasa Arab adalah segala sesuatu yang datang di bawah “tarbiy.” Ketika kamu memiliki seorang bayi, kamu membesarkan anakmu. Apa yang kita katakan dalam bahasa Arab? “Rabbal Musra (?),” atau “Rabbil ‘Usra.” Itu artinya, Dia adalah kepala keluarga (sang ayah). Dia (menunjuk seorang wanita) bukan “Rabb.” Kita menggunakan itu juga untuk menggambarkan siapa pemimpin di dalam rumah itu. Dalam bahasa Arab ketika kita mengatakan “Rabbil ‘Usra,” itu  segera diketahui  bahwa yang dimaksud adalah ayahnya. Bukan sang isteri. Isteri itu bukanlah Rabbil ‘Usra. Itu dari ‘usra, itu dari sana. Namun pemimpin adalah (panggilan) untuk ayahnya.

Jadi Allah (swt), untuk membuat kita mengerti, Dia bersabda “Aku adalah Rabbil ‘aalameen.” Itu artinya “Aku adalah Tuhanmu.” Bukan hanya untuk manusia dan jin, tetapi untuk segalanya. Itu artinya bahwa Dia adalah Pengelola/Tuhan Alam Semesta, karena ‘aalam, seperti yang kita katakan sebelumnya, ‘aalam adalah bentuk tunggal, dan ‘aalameen adalah bentuk jamak. Bukannya “Rabbul ‘aalamain.” Banyak orang menyebutnya “Rabbul ‘aalameen” yang artinya “Rabbul ‘aalamain” – `ins dan jinn. Tidak. Itu adalah “Rabbul ‘aalameen.” Itu artinya kullu ma’sy wal Lah ‘Azza wa Jal yatful tah al ‘aalameen. Itu artinya semua nya. Segala sesuatu yang diciptakan datang di bawah “’aalameen.” Itu artinya segala sesuatu adalah di bawah ‘aalameen, dan Allah (swt) berada di atasnya. Dia menggambarkan bahwa “Al-hamd adalah bagi Tuhan seluruh alam.  Dia adalah Tuhan seluruh alam. Dan tidak ada satupun dapat menjadi Tuhan seluruh alam kecuali Allah (swt), itulah sebabnya Dia bersabda, “Al-hamdu lil Lah.” Dan kemudian Dia menggambarkan  Diri Nya Sendiri, bahwa Dia adalah Sang Satu yag harus disembah di dunya dan di akhira. War Rabb lima’na tarbiya wal `islah `imma bi haqqil ‘aalameen fayurabbihim bi `akhliyatihim – dan “Rabb,” Tuhan, Dia lah Tuhan … ar-Rububiyya adalah membesarkan – Allah membesarkan – seperti seorang ayah membesarkan seorang anak, bagaimana dia memelihara anaknya – Allah adalah Pencipta, Dia menyediakan seluruh dunia, seluruh alam semesta, dengan semua komponennya dan elemennya, bukan hanya untuk `ins (manusia), bukan hanya untuk jinn, bukan hanya untuk malaikat, namun semua yang diciptakan yang barus saja kami uraikan, datang di bawah tarbiyya Nya, di bawah tajalli Nya – Dia melihat, Dia  memperhatikan mereka, dan Dia memberi mereka asupan dengan berbagai asupan.-spiritual dan physik. Dalam halnya manusia – wa bi Haqqil `insaan fayurabbi dhalaahir bil ni’mah – dalam halnya manusia, Dia akan membesarkan kamu dengan cara fisik dengan kemurahan Nya kepada mu – dengan kemurahan padamu, pada diri mu sendiri, pada nafs mu, pada diri baikmu. Dengan memberi padamu, memuliakan kamu dengan kesehatan, memuliakan kamu dengan harta, memuliakan kamu dengan makanan, memuliakan kamu dengan memiliki teman, mengirimkan kemurahan Nya kepadamu, memberimu kehidupan, mengirimimu semua tarbiya Nya. Tarbiyatuz zawaahiya – itu kesemuanya kemurahan fisik. Wa yurabbil bawaatin bir Rahmah. Dan aspek internal, aspek spiritual mu – karena kita terdiri atas massa dan energi – kita adalah raga dan jiwa. Jiwa kita, Dia akan membesarkannya dan memberinya asupan  dengan Rahmat Nya. Disinilah terdapat hubungan langsung antara jiwa dengan Rahmat Allah (swt). Dan dimanakah bawaatin itu? Di jantung. Dia akan mengisi jantungmu dengan kelembutan. Dan itulah sebabnya kamu akan melihat bahwa `awliya Allah, yang adalah ahlul quloob, makhluq jantung/qalbu, selalu lembut, damai, mereka tidak berkelahi. Mereka tidak mengkritik/mencela, mereka tidak mengeluh, mereka berserah diri, mereka takluk kepada Kehendak Allah (swt), meskipun itu sulit, mereka menjalani berbagai ‘itikaf agar supaya mereka mencapai berbagai level tinggi dari spiritualitas. Namun mereka mencapainya dan mereka (tetap) lembut. Dan Allah (swt) memberi mereka Rahma, di dalam jantung mereka. Mereka tidak suka melihat siapapun dihukum. Mereka tidak ingin melihat seorangpun dalam kesukaran.  Wa yurabbi nuqoosul ‘aabideen bi `ahkaamish shari’ah. Ketika jantungmu mulai tersambung, ketika jantungmu menjadi lembut, ketika kamu menjadi seorang Wali Allah, kamu tidak mau memutus satupun prinsip Shari’ah. Wa yurabbi nuqoosul ‘aabideen bi `ahkaamish Shari’ah. Kamu mempertahankan Shari’ah pada level tertingginya, dan itulah sebabnya, saya tahu, Grandshaykh, semoga Allah memberkahinya, Shaykh ‘Abdullah al-Faa`iz ad-Daghestaani, dan Mawlana Shaykh Naazim al-Haqqani, semoga Allah memberkahinya – mereka mengambil ‘aza dalam Shari’ah – mereka selalu mengatakan bahwa kita tidak boleh mengambil ar-rukhas, level terendah Shari’ah, dan kita harus menggunakan level tertinggi. Itu artinya – terdapat ‘ulama hari ini yang akan bilang kepadamu, shalatlah lima shalatmu dan itu sudah cukup. Para shaykh kita mengatakan “Tidak, itu tidaklah cukup.” Untuk mengatakan lima shalatmu (cukup), itu adalah untuk `ahlur rukhas, itu artinya, untuk orang normal! Untuk `ahlul ‘adhaa`im, itu artinya ‘aazimah, `ahlul ‘aazimah, orang dengan himma, iman – iman yang baik – kekuatan yang keras – mereka mengarah lebih tinggi dari itu. Seperti yang diuraikan Allah (swt) tentang  Nabi (s.a.w.) dalam Suratul Muzammil –

Ya `ayyuhal Muzammil,

Qumil laila `illa qaleela

Nisfahu `aqinqus minhu qaleela

`awzid ‘aleihi warattilil Qur`aana tarteela (Suratul Muzzammil, verses 1 – 4)

Sedikitnya kamu harus terjaga (bangun) setengah malam ! Atau kurang sedikit! `Aw zid ‘aleihi – atau lebih banyak lagi! Dan bacalah (tak terdengar/dalam batin) Qur`an. Jadi `ahlul `azaa`im, mereka meniru Sayyidina Muhammad (s), mereka mengikuti jejak tapak kakinya, mereka menuju ke level tertinggi, dan itu datang dari mana? Dari Rabbil ‘aalameen. Datang dari rahasia ayat itu– samudera itu. Allah (swt), samudera “Rabbil ‘aalameen” adalah satu samudera yang bila kamu masuk ke dalamnya, itu membuka bagimu samudera rahmat lain  yang menghubungkan jantungmu dengan Tuhan mu. Dan itulah sebabnya kita katakan bahwa setiap orang memiliki hakikat (realitas) – satu di sini, dan hakikat itu di Hadhirat Ilahiyyah. Ketika dia menjadi begitu murni/suci dalam tubuh fisik nya, akan ada satu hubungan antara dunia nya dan barzakh nya, di mana dia akan berada di kubur dan akhira. Jadi jembatan itu akan terbuka bagi awliya karena mereka mengikuti jejak kaki Nabi (s.a.w.), jadi Allah (swt) akan menghiasi mereka dengan makna Faatiha dengan “Rabbil ‘aalameen.” Karena setiap kata dalam al Qur`aan Karim memiliki satu kunci, kodenya. Jadi kode untuk Allah (swt) untuk menurunkan Rahmah bagi jantungmu, bagi ahkaamush Shari’ah untuk turun ke dalam jantungmu, membuatmu menjadi ‘aabid, adalah melalui kata “Rabbil ‘aalameen” – samudera itu. Jadi awliya akan masuk melalui samudera itu. Kaum mumin akan masuk melalui samudera itu. ‘Aabideen akan masuk melalui samudera itu. Allah… Dan itulah sebabnya mengapa mereka membaca al Faatiha – mereka tetap membaca al Faatiha – Allah membuka bagi mereka lebih banyak dan lebih banyak lagi rahasia dari setiap huruf. Dikatakan bahwa setiap huruf dalam al Qur`aan memiliki lebih dari 12,000 samudera ilmu – untuk setiap huruf dalam al Qur`aan.

Jadi apa yang kamu pikir tentang rahasia dari dua kata – “Rabb” “al-‘aalameen.” Itu artinya Dia adalah Tuhan seluruh Alam Semesta – ITU ARTINYA BAHWA SEGALA SESUATU DI ALAM SEMESTA INI, ALLAH AKAN BERIKAN PADAMU RAHASIA NYA. Kamu akan mengetahui itu, jika Allah menghendaki kamu untuk mengetahui itu. Dan itu bukanlah ‘ilmul ghaib! Karena itu adalah haddud dunya. Alam semesta adalah masih haddud dunya. ‘Ilmul ghaib adalah haddil `aakhira. Jadi jika dikehendaki Allah, Dia akan memberimu ilmu itu – Kini para ilmuwan mampu mendapat sedikit ilmu itu dengan pergi ke ruang angkasa. 100 tahun lalu, jika kamu mengatakan bahwa orang akan pergi ke ruang angkasa, atau kamu akan mampu berbicara/berhubungan menggunakan sebuah telepon cellular, mereka tentu akan mentertawakan kamu – mereka akan mengatakan bahwa kamu adalah seorang penyihir/magician, mereka akan melemparkan kamu ke penjara dan menghukum mati kamu – (seperti) pada masa jaman pertengahan  di Europa. Bukankah betul begitu? Jika kamu mengatakan, “saya dapat berbicara melalui tilpun cellular – dengan sebuah alat kecil yang (ukurannya) pas untuk tangan saya, saya pasang itu di kepala/telinga saya dan bilang “Datanglah ke sini!” dan orang itu (akan) datang? Mereka akan bilang itu adalah sihir/magic – tidak dapat diterima. Saya mengenal seorang Wali di Damascus, namanya Ahmad Haroon. Dia dimakamkan di Damascus. Suatu waktu dia mengadakan pertemuan dengan orang banyak, duduk semuanya di situ, dan datanglah ke jantungnya bahwa terdapat seseorang di Aleppo, berjarak 400 kilometer jauhnya, yang sudah lama tidak menjenguk saya dan orang orang di sini. Jadi apa yang dilakukan? Dia memakai sabuk/ikat pinggang di celananya, dan dia mencopotnya dan menaruh (kepala sabuk) ke telinganya, dan (ujung) satunya lagi ke mulutnya, dan dia bilang “Wahai fulan, saya menunggu kamu! Datanglah!” Semua orang di pertemuan/majelis itu berkata kepada diri mereka sendiri, “Oh! Apakah yang dikatakan nya, Ahmad Haroon? Dia bercanda kepada kita?” Jika kamu mengatakan sekarang ini kepada para dokter di masjid ini di Belahan Barat (Western Hemisphere), kepada para pengusaha atau para dokter anak atau dokter atau siapapun  yang membuat diri mereka terpelajar/’ulama di minbar American, mereka akan bilang “Apa kah ini?” Ini ada apa? Apakah ini Islam? TENTU SAJA ini adalah Islam! Segera setelah dia mengambil sabuknya dan berkata “Datanglah!” – Aleppo adalah perjalanan empat jam dari Damascus – empat atau lima. Dalam lima atau empat jam, dia (sudah) berada di pintu. Dia berkata, saya menerima panggilan phone dari kamu – apakah kamu memanggil saya? Itu adalah 40 tahun yang lalu.

Orang orang seperti …  itu sudah tiada. Kamu tak dapat menemui mereka lagi. Itu adalah ketika Allah menghendaki untuk memberimu makna rahasia dari “Rabbil ‘aalameen.” Wa yurabbi nuqoosil ‘aaby bi `ahkaamish Shari’ah. Dia akan membentuk diri bagus dari sang pemuja, pemuja yang baik — `awliya Ullah – dengan disiplin Shari’ah. Dan kemudian, setelah mereka telah di-disiplinkan, kini mereka masuk ke sebuah jalan baru, atau satu jalan tol baru – dan itu adalah jalan tol nuqus al mushtaaqeen. Mereka mencapai satu level mushtaq (tak bersuara/batin) yang lebih tinggi– merindukan sesuatu – ketika saya tidak melihat kamu, saya akan mengatakan “saya merindukan kamu.” Apakah itu? Jadi mereka merindukan cinta Tuhan mereka– mereka menghendaki, mereka merindukan itu. Dan mereka tidak mendapatkannya, dan mereka tidak dapat mendapatkannya kecuali dengan cara ‘adhaabit tariq (?Bahasa Arab tak bersuara) disiplin thariqat. Wa yurabbikumulku mushtaaqeen bi ‘adhaabit tariq – Dia akan membentuk diri itu dan jantung orang yang rindu kepada Allah (swt) dengan jalan atau jalan tol ‘aadhaab – disiplin tariqa. Ketika kamu memulai tariqa, Wa `an law istataamu ‘alat tariqa – Allah bersabda dalam al Qur`an – la `azkainaahum ma’a ghanaqa (kata terakhir tidak jelas). Wa `an law istataamu ‘alat tariqa – itu artinya, la `azkainaahum ma’a taruqa – jika mereka tetap pada jalan yang benar, pada cara yang benar, dan Allah menyebut tariqa dalam al Qur`an.

Bila mereka bertanya kepadamu, “Apakah tariqa disebut dalam al Qur`an, katakan “Tentu saja! Allah bersabda “Wa `an law istataamu ‘alat tariqa (selebihnya tak terdengar)” – “Kami akan menyirami mereka dengan air yang banyak, air yang datang dari surga.” Itu artinya, air itu adalah pancuran awet muda/peremajaan (fountain of youth). Kami akan memberikan kepada jantungnya jenis rahasia seperti itu, yang akan kami gunakan untuk membentuk mereka lebih lanjut, untuk membuat mereka lebih mencintai, lebih rindu kepada Tuhan mereka. Jadi ketika kamu menjadi lebih rindu kepada Tuhanmu, apa yang terjadi? Allah akan membanjiri jantungmu dengan rahasia “Raabbil ‘aalameen.” Turun (tidak terdengar) – kamu akan bisa melihat apa yang tidak dilihat orang lain, kamu akan bsa mendengar apa yang orang lain tidak mendengar, kamu akan bisa mengatakan apa yang orang lain tidak bisa katakan, kamu akan bisa merasakan apa yang orang lain tidak dapat rasakan – sebagaimana dikatakan Nabi (s.a.w.) dalam hadith qudsi… Ketika abdi Ku mencintai Aku … Dia akan membentuk abdi itu sehingga Dia menjadi mata yang dengan itu dia melihat, menjadi telinga yang dengan itu dia mendengar, Dia akan menjadi lidahnya yang dengan itu dia dapat berbicara … Sampai akhir hadith itu. Dan disirami rahasia hakikat, cahaya hakikat. Wa yurabby `asraaral  muhibbeen bi `anwaaril haqeeqa. Kini itu sudah mendekat kepada ‘ilmul yaqeen, ‘aynul yaqeen, haqqul yaqeen, `anwaaril hakeem – cahaya hakikat. Tidak terdapat lagi sedikitpun keraguan – itu adalah cahaya. Seperti siang hari. Kamu tidak perlu menebak di siang hari. Kamu melihat segala sesuatunya. Allah memberi kamu cahaya itu yang memungkinkan mu melihat segala sesuatu. Segala sesuatu menjadi siang hari bagimu. Fa Subhaanallah – Segala Puji bagi Nya! Apa yang dilakukan Nya? Dia menjadikanmu untuk mendengar – telingamu terbuat dari apa? Para dokter yang hadir di majelis ini, terbuat dari apakah telinga itu? Apakah yang ada di dalam telinga yang bergerak? Tulang kecil. Tulang. Tulang kecil di dalam telinga. Mereka begitu kecil – seberapa kecil mereka itu – sangat kecil! Dan sangat tipis. Jadi Dia membuat kamu mendengar melalui tulang! Bukankah itu benar begitu? Tulang tulang ini, Dia membuat mereka itu bergerak, dan membuatmu mendengar suara itu! Bagaimana itu mungkin? Tulang! Keping mikro. Ah, mereka kini membuat keping mikro. Allah membuat itu. Allah membuatnya milyaran tahun yang lalu.  Shi`. Dia tidak memerlukan shi`.

Subhanahu `Asmaha bu ;abduuhim.

(akhir tape 5 sisi  1, awal sisi 2)

Dan lagipula, Dia membuat kamu melihat dengan lemak! Mata mu terbuat dari lemak! Dia membuatmu melihat dengan lemak. Dapatkah kamu membuat orang melihat dengan lemak? Dia menggunakan lemakmu, dan membuat kamu melihat. Bagaimana? Kamu tidak dapat melakukan itu! Dia membuatmu mendengar dengan tulang, dan membuatmu melihat dengan lemak …  Dan kini dengan teknologi tertinggi, mereka tidak dapat melakukan itu! Dia membuat mu mendengar dengan tulang, membuatmu melihat dengan lemak … Apakah kamu melihat bahwa mereka memberikan Hadiah Nobel untuk penemuan ilmiah. Gila! Tiada waktu untuk memuji Allah (swt) ketika mereka memberikan Hadiah Nobel itu ke beberapa ilmuwan. Tak seorangpun berpikir, di sana, untuk mengatakan “Segala puji bagi Tuhan kami, yang telah membuat segala sesuatu mungkin bagi kita! Untuk mendengar dengan tulang, untuk melihat dengan lemak, dan berbicara dengan daging.” (suara tertawa) Lidah ini apakah? Itu adalah daging! Kamu dapat berbicara dengan daging. Apakah lidahmu bukan daging? Itu adalah daging! Jadi kamu melihat dengan lemak, kamu mendengar dengan tulang, dan kamu berbicara dengan daging. Itu adalah Rabbil ‘aalameen. Itu adalah Alhamdulillah. Siapakah Rabbil ‘aalameen? Rabbil ‘aalameen artinya Pencipta alam semesta. Dia menciptakan tulang ini untuk mendengar. Dia menciptakan lemak itu untuk melihat, memberimu keajaiban. Memberi tahu kamu, “INI ADALAH TANDA / AYAT AKU!” Dia memberimu daging untuk berbicara. Bawalah sepotong daging, dan taruhlah di sana. Dapatkah kamu menggunakan itu untuk berbicara? Tidak pernah! Namun lidah berbicara. Allah. Apa yang kamu inginkan lebih dari itu? Ayat yang menunjuk kepada Kekuasaan Allah (swt). Allah Allah.

Kemudian Allah (swt) membesarkan kamu dengan memberimu vegetasi/sayuran, dengan memberimu buah – gratis. Dan kemudian di sisi lain dengan membuat bagimu halaal – memberimu hewan untuk mendapat manfa’at dari daging mereka, dan dari susu mereka, agar supaya kamu dapat tetap hidup. Kemudian Dia memberi mu pepohonan – Dia memberi mu sungai, dan kemudian Dia memberi mu bintang bintang dan planet. Dan Dia membuat cahaya – siang dan malam. Dia membuat dari Cahaya Nya, siang dan malam. Dia membuat bumi berputar pada porosnya. Siapa yang membuat bumi berputar pada porosnya? Kamu? Para ilmuwan? Jika itu tidak berputar, tidak akan ada siang dan malam. Akan ada siang terus menerus atau malam terus menerus. Dan kemudian Dia membuat sebuah lingkungan tanpa gaya berat, bagi para ilmuwan masa depan untuk mendatangi dan membuat teknologi ini mungkin. Atau kalau tidak begitu, satelit satelit itu tidak akan dapat tetap pada tempat mereka berada (sekarang)! Jika tidak ada gaya berat, atau jika tidak ada daya tarik yang menarik mereka akan menjauh, maka semua satelit itu yang mengelilingi Bumi, mereka tidak akan dapat berada di mana mereka berada sekarang! ‘Allamal `insaana (wa ‘aadada ni’mah – (tidak jelas) – Kita mendatangi manusia apa yang mereka inginkan … (tidak jelas) Itu artinya apa? Segala puji … Alhamdulillah. Kepada siapa? Kepada Rabbil ‘aalameen. Kami masih sedang menggambarkan Rabbil ‘aalameen. Itu artinya semua ciptaan masih tercakup di dalam dua kata dalam al Faatiha, jadi jika kamu membaca Faatiha, kamu membaca satu samudera rahasia. Orang mengatakan “Alhamdulillahi Rabbil ‘aalameen…. (cepat cepat)” DENGANNYA RAHASIA ITU IKUT! DENGAN ITU, ALAM SEMESTA IKUT! Jika Allah menarik rahasia itu yang tergantung dalam dua Nama itu, Rabbil  ‘aalameen, SEGALA SESUATU akan berhenti dalam alam semesta ini. Segala sesuatu akan jatuh dan mati. Wa nufikha feehi… samaawati wa man fil `ard – Dia akan memerintahkan Israfil untuk meniup trumpet, SEGALA SESUATU AKAN BERAKHIR! Di dunia dan di langit. Apakah bukan begitu? … wa man fil `ard. Mereka yang di Langit, wa man fil `ard. Berakhir. (Bahasa Arab tidak terdengar)… Faalan – habis. … ‘arsh. Kemudia Dia memerintahkan Israfil (as) untuk meniup trumpet, kemudia semuanya luruh. Jadi apakah Dia? Rabbil ‘aalameen. DI BAWAH MAKNA ‘RABBIL ‘AALAMEEN. Jadi ketika kamu membaca al Faatiha, kamu mengangkat semua rahasia itu dengan mu – dan itulah sebabnya mengapa Nabi (s.a.w.) berkata “Al- Faatihatu (tidak terdengar) — … menyembuhkan penyakit.” Awliya dapat mengungkap makna. Rabbil ‘aalameen bukanlah, seperti yang mereka katakan, hanya “Tuhan Alam Semesta.” Dunia yang mana? Rabbil ‘aalameen. ‘Aalameen – dunia dunia. Itu adalah bentuk jamak. Dunia jenis apa? Kita adalah (salah) satu dunia. Itu artinya apapun yang bukan dunia yang ini.

Jadi dia membesarkan kamu untuk menjadi abdi yang baik. Berusahalah untuk menjadi abdi yang baik, menyembah kepada Nya. Janganlah menjadi abdi yang buruk, menyetarakan (syarikat) sesuatu dengan Dia.

Qaala Wahab – lil Lahi thamaaniyyata ‘ashara ‘alfa ‘aalam – terdapat 18,000 dunia yang berbeda. Dan bumi ini adalah salah satu dari mereka itu. Apa yang sedang Dia jelaskan adalah – semua galaxies berada dalam haddud dunya. Semua galaxies yang kita tahu – milyar galaxies – berada di bawah nama “dunya.” Di samping itu, terdapat 18,000 dunya (seluruhnya). Dimana mereka itu? Di bawah Rabbil ‘aalameen – di bawah kendali Allah. Itu sungguh besar! (tak terdengar). … lemah… lalai… JIKA KITA BERIBADAH SEPANJANG SIANG DAN MALAM, ITU TIDAKLAH CUKUP! Kamu memiliki rasa takut, merasa malu terhadap Allah (swt) yang memanggil kamu di Hari Pengadilan. Dia adalah Rabbil ‘aalameen – memanggil semua, memanggil 18,000 ‘alam itu. Di samping ‘alam mu – ‘ALAMMU, DUNYA INI , ADALAH SEMUA GALAXIES yang diuraikan para ilmuwan sekarang ini. Semua galaxies ini, semua milyaran bintang yang semua nya berada dalam dunya ini.  Di manakah beradanya 18,000 ‘alam lainnya itu? Allah Allah.

Wa qaala fa’bud ahbaar – la yuftali qawlihi Ta’ala wa ma ya’lamu junooda Rabbika `illa … Dan tak seorangpun tahu … ciptaan Tuhan mu … Wa ma ya’lamu junooda Rabbika `illa (`illaHu?).

Wa ‘an `Abi Huraira (ra), `annal Laha Ta’aala khalaqal khalq Arba’a (kata tak terdengar) – Al malaa`ika, wash Shayateen, wal jinn, wal `ins. Allah, menurut Abu Huraira, telah menciptakan ciptaan/makhluq hidup yang diketahui Nya, yang disebutkan Nya, dalam empat kelompok yang berbeda – malaikat, shayateen, jinn, dan manusia. Dan Dia membuat mereka dalam sepuluh bagian. Sembilan dari itu adalah malaikat. Bagian terakhir – satu yang tertinggal – adalah campuran shayateen, jinn, dan `insan. Dan kemudian Dia membuat 13 group yang berbeda ini. Sembilan dari mereka ini adalah shayateen. Dan satu bagian dari mereka ini adalah jinn. Kemudian Dia membuat kelompok terakhir menjadi sepuluh kelompok yang berbeda – dan dari mereka ini, sembilan jinn dan satu `insan. Dan Dia membuat `insan menjadi 125 bagian yang berbeda. Dia membuat empat kategori yang berbeda – malaikat, shayateen, jinn, dan `insan – Dia membuat mereka sepuluh bagian. Sembilan di antaranya adalah malaikat – sisanya yang kesepuluh terdiri atas 13 kategori. Sembilan di antaranya adalah shayateen. Dan kemudian satu diantara 13 adalah jinn dan `insan. Dari situ, sembilan grup adalah jinn, dan satu adalah `insan. Dan kemudian Dia membuat `insan tiu menjadi 125 kategori. Dan Dia membagi mereka semua ke seluruh Bumi. Dia menaruh 100 di dalam bagian Bilaadul Hind. Dan mereka semua adalah Saabuh. Dan Dia menaruh lainnya di tempat berbeda yang disebut Maalukh. Dan mata mereka terletak di dada mereka. Dan Dia meletakkan grup lain yang disebut Maasukh, dan telinga mereka adalah seperti telinga gajah. Kemudian Dia membuat lainnya, disebut Maaloof, dan leher mereka begitu kecil. Dan semua ini adalah … (beberapa bagian tak terdengar di sini). Kamu tidak dapat melihat mereka, namun mereka berada di antara ummah. Mereka manusia, namun mereka memiliki karakter jinn. Mereka inilah yang membuat gossip di telingamu, berbisik, seperti shayateen. Dan Nabi (s.a.w.) berkata bahwa hanya satu grup `insan yang tetap bertahan … yang menjadi orang ahlut-Tawheed, orang yang percaya kepada Ke Esa an Allah (swt). Dan ada 73 grup berbeda. Dan Nabi (s.a.w.) berkata dalam sebuah hadith, bahwa Bani Israil telah membagi diri mereka menjadi 72 grup berbeda, dan ummah ku telah membagi diri mereka ke dalam grup grup – satu grup akan menjadi “kannaaju” (?) satu yang paling selamat. Semoga Allah membuat kita dari grup itu. Qaalu wa man hiya ya Rasool Allah (s). Qaala man hum ‘ala na`ana ‘alay wa `ashaar. Mereka berkata, siapakah grup yang selamat itu, Ya Rasul Allah (s.a.w.) – kata Sahaba. Dia berkata, “Mereka yang mengikuti aku dan mengikuti (al-Kitab?). Semoga Allah membuat kita mengikuti Nabi (s.a.w.) dan shahabatnya. “`Ay maa `ana ‘aleihi wa `ashaabi man `intifaadi wal fi’ly wal qawl” – itu artinya, “Apa yang aku dan shahabatku percayai, melalui seluruh keadaan, dengan amalan, dan dengan lidah – dan ini adalah satu satunya cara yang akan membawamu ke Surga. Dan jalan manapun lainnya akan membawamu ke neraka. Semoga Allah mencegah kita membuat kesalahan dan menjaga kita di dalam jalan `ahlul Janna, dan menjaga/mencegah kita dari jalan `ahlun Naar.

Ar-Rahmaan, Ar-Raheem. Allah mengulang. Dengan Bismillahir Rahmaan ir Raheem, Dia menyebut pada awal Surah, karena beberapa ‘ulama, mereka mengatakan Bismillahir Rahmaan ir Raheem adalah ayat pertama Suratul Faatiha. Beberapa lainnya, mereka mengatakan bahwa Bismillahir Rahmaan ir Raheem adalah berbeda. Jika itu adalah ayat pertama, maka Allah mengungkapkannya dan menegaskan kedua kalinya. “Alhamdulillah Rabbil ‘aalameen Ar-Rahmaan ar-Raheem.” Itu artinya bahwa “Wahai Muslims, janganlah melupakan apa yang engkau katakan dalam Bismillahir Rahman ir Raheem! Saya adalah Ar-Rahmaan ar-Raheem.” Setelah Rabbil ‘aalameen – setelah kamu melihat bahwa Aku menciptakan kamu, Aku memberimu nutrisi/makanan, Aku bermurah hati kepadamu, Aku memberimu segalanya, Aku melakukan kemurahan ini … Aku masih Sang Maha Pemurah. Jangan lah lari dari Ku. Aku akan mengirimkan Rahmah Ku kepada mu di dunya, dan Aku akan mengirimkan ampunan Ku kepadamu di akhira – itu adalah Ismur Raheem. Ar-Rahmaan adalah sebagai kemurahan bagimu dan memuliakan kamu dan untuk mengirim semua rezeki Nya kepadamu di dunya. Ar-Raheem adalah untuk mengampuni kamu di akhira. Dan – sebagai tanda bahwa pengulangan itu dikatakan (?), ketika Allah menyebut dalam al Qur`aan, Basmala, kemudian dua ayat sesudahnya, Alhamdulillah Rabbil ‘aalameen… Dia menyebutkan lagi apa? “Ar-Rahman ar-Raheem.” Jika kamu begitu mencintai sesuatu, kamu akan mengulang-ulang. Itu artinya Allah (swt) menyuruh kita mengulang-ulang Attribute dan Nama Indah Nya sebanyak yang bisa kita lakukan. Ulangan. Seperti yang Allah sebutkan, ketika kamu datang dari ‘Arafat ke Muzdalifa, dan kemudian ke Mina, “Ingatlah Aku lebih dari kamu ingat orang tuamu.” “Wadhkur Allaha kadhikrikum ‘afaa`akum `aw `ajadda dhikra, fa minan naasi man yaqoolu Rabbana `aatina min hiya wa maa lahum fil `aakhirati min khalaaq, wa `in hum man yaqoolu Rabbana `aatina fid dunya hasanatan wa fil `aakhirati hasanatan wa qina ‘adhaaban naar.” Sadaq Allahul ‘Adhim. Allah bersabda, “Ingatlah Aku lebih dari engkau mengingat orang tuamu.” Bagaimana kamu mengingat atau memanggil orang tuamu? Panggillah Aku lebih banyak lagi. Disini Allah mengingatkan kamu. Di ayat pertama Dia bersabda “Bismillahir Rahmaan ir Raheem.” “Ar-Rahmaan ar-Raheem.” Pada ayat ke tiga kamu menyebut lagi, “Ar-Rahmaan ar-Raheem.” Fa min ‘alaamati hubbil Lah, hubbi dhikril Lah, wa fil hadith man habba shay`an `akrama `ukra (kata kata tak terdengar) – Dan jika kamu mencintai sesuatu, kamu menyebutnya banyak sekali. Dan Allah (swt), Rabbil ‘aalameen, Dia menunjukkan bahwa Dia lah Sang ar-Rahmaan. Karena Dia adalah Rabbil ‘aalameen, itu artinya Dia adalah Sang Pencipta dari semua alam semesta, dari semuanya. Jadi Dialah yang membesarkan kamu, Dia lah Satu Yang menciptakan kamu, jadi apa yang Dia harus lakukan? Jadi Dia akan menyelamatkan kamu (kata kata ini tidak terdengar) melalui Bismillahir Rahmaan ar Raheem. Dan ar-Rahmaan artinya yang memberimu apa yang kamu perlukan di dunya dalam hal rizq. Alladhy yakduhum fid dunya, Huwar Rahmaan… War-Raheem alladhy yakhfur lahum fil akhira (kata kata tidak jelas) – Dan ar-Raheem adalah Satu Yang mengampuni mereka di akhira. Ar-Rahmaan ar-Raheem.

Semoga Allah (swt) mengampuni kita, dan menjaga kita tetap pada jalan ahlus-sunnah wal jama’a. Jadi ketika Dia mengampuni kita, dimana Dia mengampuni kita? Di Akhira. Jadi apa yang Dia sebutkan segera setelah ar-Raheem? “Maalik Yawmid Deen” adalah sebuah tanda/indikasi bahwa kita (menghadapi?) akhira. Jadi Allah (swt) memberi sebuah gambaran tentang seluruh ciptaan di dalam Suratul Faatiha itu. Dialah Sang Pencipta. Dia adalah Rabbil ‘aalameen. Segala puji bagi Nya, karena Dia adalah Tuhan – Allah. Kemudian Dia bersabda, “Aku adalah Rabbil ‘aalameen, Aku adalah Pencipta.” Kemudian Dia bersabda, “Aku memberimu kebutuhanmu di dunya, dengan Ismur Rahmaan. Aku memaafkanmu di akhira dengan Ismur Raheem. Dan kemudian kamu sampai ke Maalik Yawmid-Deen (tak dapat mendengar). Dia menjelaskan, ayat demi ayat, keseluruhan gambaran/situasi. Ketika kamu sampai pada Maalik Yawmid Deen, Wahai Allah, kini kirimkan kepada kami (garis hidup?) Mu, kirimkan kami ke Surga. Setelah Maalik Yawmid Deen, `Iyyaka Na’bud wa `iyyaka nasta’een – Dia adalah Pemilik/Penguasa Hari Pengadilan, bila Dia mengampuni kamu, apa yang kamu katakan/pikirkan? “Ya Rabbi ampuni saya! Karena `Iyyaka Na’budu wa `iyyaka nasta’een – Saya menyembah Kamu dan saya percaya/beriman kepada Kamu. Jadi apa yang diberikan Allah kepadamu? Okay, Aku akan membimbing kamu ke Siratil Mustaqeem. Sirat alladhina an’amda ‘aleihim. Jalan yang telah Engkau muliakan dan pilihkan bagi para Rasul Mu – alladhina an’amda ‘aleihim minan nabiyyeena was siddiqeena wash shuhada was saaliheen – O Allah, bimbinglah saya kepada jalan itu. Allah menjelaskan itu, ayat demi ayat. Yang pertama kali berterima kasih kepada Allah, di antara ummat manusia, siapa? Adam (as). Ketika dia bersin, dia mengatakan apa? Alhamdulillah. Itulah sebabnya bila kita bersin, kita harus menyebut Alhamdulillah. Apa yang kita katakan itu? Apa yang harus kita katakan? (Alhamdulillah). Dan segera setelah itu katakan, “Yarhamuk Allah.” Semoga Allah mengampuni kita. (bagian ini tidak terdengar jelas) Ini adalah dari Suratul Faatiha.. Allah … agar supaya memberi pelajaran kepada mereka apa yang harus dilakukan. Walhamd huwa min faydi dhaat – Al hamd, berterima kasih kepada Allah, ketika manusia mulai berterima kasih kepada Allah, mereka harus tahu bahwa – gerak lidah, dalam berterima kasih kepada Allah, datang dari rahasia Dzat. Itu karena “Al-hamd” terkait langsung kepada rahasia dari Dzat. Alhamdu lil Lah. Lil Lah – Allah adalah Nama yang meliputi semua Nama – Nama itu, Ismul Lahil `A’dham adalah Nama Dzat, meliputi semua Nama Nama. Jadi ketika kamu berkata Alhamdu lil Lah. Jadi datanglah itu, fayd itu – (cahaya, atau barakah) – itu turun. Barakah itu turun, mengguyur kamu – membanjiri kamu – itu datang dari rahasia Alhamdulillah, dari rahasia Dzat. Alhamdu min faydil Lah bi Rabbil ‘aalameen wa faydin kama zaatur Rahmaanir Raheem – itu datang dari guyuran Dzat Rabbil ‘aalameen – itu datang dari guyuran dari kesempurnaan Sang Maha Kasih dan Sang Maha Sayang.

Dikatakan bahwa Nabi Nuh (as), dia merasa sesuatu di dalam jantungnya, yang menariknya untuk keluar rumahnya – dia berkata :” saya pergi keluar rumah – fakharajtu minal shafil Nil  – terus ke sungai Nile, dan saya melihat di sana, ketika saya di luar – karena sesuatu menggerakkan jantungku untuk meninggalkan rumah – saya melihat seekor kalajengking – berlarian. Saya mengikutinya, dan dia sampai kepada seekor kodok. Saya melihat kalajengking itu berlarian, dan saya mengikutinya sampai dia ke pantai. Di pantai itu terdapat seekor kodok. Saya melihat kalajengking itu melompat ke atas ke punggung kodok itu, dan kodok itu berenang menyeberangi sungai Nil dengan seekor kalajengking bertengger di punggungnya, ke pantai seberang nya. Saya mengambil perahu kecil saya yang berada di situ, dan saya mengikuti kodok itu. Saya mengikuti mereka dengan perahu kecil ku, dan saya melihat mereka mencapai sisi lainnya – saya mencapai pantai lain itu di belakang mereka, ketika dia (kalajengking) meninggalkan punggung, dia melompat, dan saya terus mengikuti nya, dan saya melihat dia berlarian menuju seseorang lelaki, seorang yang sedang tidur. Dan ketika dia mendekati lelaki itu, dia melihat seekor ular mendatangi lelaki itu untuk menggigit lelaki yang sedang tidur itu. Segera saja kalajengking itu melompat ke arah ular itu, dan mereka saling memuntahkan bisa mereka, dan keduanya mati. Dan lelaki itu tertolong. Siapa yang melakukan itu? Siapa yang menyelamatkan lelaki itu? Siapa yang membuat kalajengking itu menunggangi kodok – bukannya membunuh kodok itu, namun menyeberangi sungai sampai mencapai sisi lain, melihat ular itu, menerjang ular itu yang akan menggigit lelaki itu, saling membunuh dengan racun masing masing, dan lelaki itu terselamatkan. Subhanallah. Seperti yang kita miliki hari ini (tak terdengar)

Dikatakan – wa Yufta, `anna waladal quraab – dikatakan bahwa bayi burung gagak terlahir dengan daging/tubuh berwarna merah, dan induknya kabur dari bayi burung itu. Semua serangga mengerumuni bayi burung itu. Dan Allah membuat bayi burung itu makan serangga itu – Allah mengirim makanan bagi bayi gagak itu. Induknya tidak memberinya makan, mereka meninggal kannya. Jadi apa yang dikirimkan Allah? Semua serangga itu mengerumuninya, dan dia makan mereka itu sampai bulunya tumbuh —

Kemudian induknya datang kembali kepadanya. Dan itulah mengapa dikatakan, dalam bahasa Arab, “Ya Raaziqa al-Mi’aa fi ‘ishsha” (?) – “O Allah, Sang Esa Yang Menyediakan Kebutuhan bayi gagak di dalam sarang.” Allah mengirim serangga untuk dimakan olehnya. Siapa yang memasuki sarang, apa yang akan terjadi kepadanya. Allah adalah ar-Rahman ar-Rahim – dari Rahman Nya, Dia menjelaskan disini, Rahmat Allah – Dia yang mengirim (pemenuhan) kebutuhan, bahkan kepada burung di dalam sarang.

Dan itulah mengapa sangatlah penting untuk memahami bahwa tidak semua hal harus dilihat dari sudut atau perspektif lahiriah – zaahir. Terdapat banyak hal yang bersifat batiniah, kamu tidak dapat memahaminya. Kamu harus melihat dari sudut lahiriah, zaahir. Kamu (juga) harus melihat dari sudut/aspek batiniah. Karena jika kamu tidak melihat dari sudut batiniah, kamu akan melewatkan banyak pancaran/pancuran, pancaran Cahaya Allah (swt) ke jantungmu. Sebagaimana terjadi dengan Sayyidina Nuh (Musa?) (as), dan Sayyidina Khadr (as). Apa yang tidak disukai Musa, dan yang menjadi beban berat baginya, apa yang dia tidak suka – dengan ketidaksukaan nya Allah membuka kepadanya. Ketika Khadr (as) membuat lubang di dasar perahu, Musa (as) tidak suka itu. Dengan ketidak-sukaan itu, dia memahami rahasia itu, karena dia bertanya, “Mengapa kamu melubangi perahu?” Karena ada seorang raja yang merampas setiap perahu yang ada dengan paksa! Kemudian Sayyidina Khadr (as) membunuh anak lelaki itu – dan itu dijelaskan di dalam Suratul Kahf – maka dia, Sayyidina Musa (as), tidak suka itu. Jadi dengan ketidak sukaannya, rahasia itu dibuka. Jadi ketika kamu MELAWAN egomu, kamu tidak suka apa yang disukai ego mu, Allah membuka untuk mu. Itu adalah kuncinya – tidak menyukai apa yang disukai ego mu. Dan ego mu selalu tidak menyukai cahaya batin, makna batin, interpretasi – kesukaran dan selalu  menyukai jalan yang mudah, jalan lahir yang bisa dilihatnya.

Semoga Allah (swt) mengampuni kita, dan memberi kita dari tajalli tersembunyi Nya dari Ismur Rahman dan Ismur Rahim dan insha`Allah kali lain kita akan melanjutkan dengan Maalik Yawmid Deen.

Akhir pertemuan

Shaykh Soahib membaca al Qur`an.

MSH: Sadaq Allahul ‘Adhim, wa ballaghar Rasuluhul Karim, wa nahnu ‘ala dhaalika minash shaahideen ash-shaakireen bi qalbin saleem.

Insha`Allah malam ini, kita akan melanjutkan tafseer Suratul Faatiha. Kita akan mencoba melakukannya sebanyak mungkin, menjelaskan “Ar-Rahman ar-Rahim.” Setelah “Alhamdulillahi Rabbil ‘aalameen.” Dan kita akan mencoba memercikkan cahaya pada Maalik Yawmid Deen. Setelah kita menyelesaikan seluruh Faatiha, kita akan balik lagi ke `ahaadith yang datang kepada Nabi (s) dalam berbagai narasi berbeda, menurut Ad-Duroor al-Manthoor, oleh Imam as-Suyuti.

Jadi, malam ini, kita akan menjelaskan tentang Maalik Yawmid Deen. Dikatakan bahwa mu`min terdiri atas tiga golongan. Dan Allah (swt), untuk Muslims, terdapat tiga golongan yang berbeda yang  Allah (swt), ar-Rahman ar-Rahim, Dia memberi mereka barakah sesuai dengan level mereka yang berbeda beda. Kelompok pertama adalah mereka yang memasuki Surga dengan – mereka telah mempelajari pelajaran Islam, dan mereka mengikuti apa yang mereka pelajari – mereka belajar dan mereka patuhi. Mereka lakukan yang minimum tentang apa yang mereka pelajari. Mereka melakukan yang fardhu – minimum dari apa yang harus mereka lakukan. Mereka minimum adalah orang yang memiliki ilmu, namun mereka tidak melakukan apa yang disyaratkan ilmu itu agar mereka lakukan – mereka melakukan hal minimum dari yang mereka dapat lakukan – Allah akan mengirim mereka ke Surga. Level kedua adalah mereka tahu segala sesuatu tentang ilmu lahir – mereka tidak mau melangkah di luar itu. Mereka menjelajahi ilmu yang minimum yang dapat mereka raih sepanjang hidup mereka. Shaykh Soahib membaca: Yawma Taral mu`mineena wal mu`minaat yas’aanubuhum baina `aydeehim wali `aymaanihim. Hari ketika kamu melihat mu`min, lelaki dan perempuan, Cahaya mereka, Nur mereka – yang diberkahi Allah dengan ar-Rahman ar-Rahim, bergerak di hadapan mereka yas’aa Nooruhum – bergerak di muka mereka. Apa yang dikatakan Allah? Bushraahumul Yawma Jannaatuhum tajri min tahtihal `anhar khaalideena feeha dhaalika Huwal Fawzul ‘Adhim – Allah mengirimi mereka “Bushra,” berita gembira – bagi mu`mineen dan mu`minaat, Cahaya mereka – Yas’aa Nooruhum baina `aydeehim – apa yang berada di antara kedua tangan mereka, dan di belakang mereka, dan Allah (swt) memberi mereka Surga – ini adalah satu di antara tiga level yang akan kami jelaskan – pertama, kedua, dan ketiga, Allah akan mengirim mereka ke Surga. Yawma yaqoonul munaafiqoona wal munaafiqaatu`illadheena `aamanu turoona naqulla bismin Noorikum. Pada saat itu – itu berada di bawah ar-Rahman ar-Rahim – setelah “ar-Rahman ar-Rahim,” Allah mengirim orang orang ini ke Surga karena Allah adalah Maha Pemurah kepada mereka karena mereka melakukan apa yang dikehendaki Nya – itu berada di dalam “Maalik Yawmid-Deen,” Hari Pengadilan – Maalik Yawmid Deen adalah Hari Pengadilan. Maka para hipokrit, munaafiqoon, atau mereka yang pantas mendapat neraka jahanam, mereka bertanya kepada mereka (yang Cahayanya di kirim didepan mereka?), yandhuroona – “Lihatlah diri kami.” Barangkali kami akan mendapat pandangan sekejab dari Cahaya mu (Fattasirun min Noorikum), sehingga Allah mungkin menyelamatkan kami.” Leelarji’u waraa`akum faltabisoo Noora fadhureeba bainahum bisoori lahu bakum baatiluhu fihir Rahma wa Taahiruhu bi `intibaalihil ‘adhaab. “Pergilah kembali!” Ambllah Cahaya dari tempat itu. “Pergilah kembali, kamu mungkin mengambil cahaya itu. Dan pada saat itu Allah akan segera memasang pagar, sebuah “soor,” sebuah pagar, yang memisahkan dan membagi antara mu`mins dari kaafirs. Pagar itu memiliki dua pintu, dua sisi. Satu sisi – baatinuhu fihir Rahma. Lihatlah! Bagaimana mereka hari ini mengatakan bahwa tidak ada yang bersifat batin (internal). Dan Allah menyebutkan dalam al Qur`an kata “baatin” – di dalam, spiritualitas. Baatinuhu fihi… Segala sesuatu yang tersembunyi dari mata mengisyaratkan baatin. Ilmu tentang haqiqat (kebenaran). Wa taahiruhu fihil ‘adhaab. Dan sisi lahir, apa yang dimilikinya? Itu memiliki sebuah kesukaran. Jadi kini terdapat dua jenis kesukaran – di dunya terdapat satu kesukaran, dan di akhira terdapat satu kesukaran. Kesukaran akhira adalah untuk mereka yang tidak beriman, di mana Allah melemparkan mereka ke dalam neraka jahanam. Untuk mu`mins, terdapat kesukaran dunya ketika mereka menjadi zuhud (ascetic), dan mereka adalah yang taat ibadah, dan mereka terus meningkat di dalam ibadahnya – itu adalah kesukaran bagi mereka – mereka memerangi ego mereka. Jadi apa yang dikaruniakan Allah kepada mereka? Mereka yang menderita di dunya untuk agama mereka, Allah (swt) akan memberi mereka satu sasaran dengan satu Rahma tersembunyi – sesuatu yang datang dari sisi batin. Dan itu siffatur Rahma – mereka menderita untuk Nya di dunya, Allah memberi mereka sesuatu yang tidak mereka bayangkan.

Dan mereka yang menentang Tuhan mereka di dunya – oleh kekufuran – Allah memberi mereka ‘adhaab – siksa di akhira. Jadi kita lihat di sini, selalu terdapat “Huwaz-Zaahir,” wa Huwal Baatin – Dia adalah az Zaahir, tanda tanda dapat menuding kepada ciptaan, dan menuding pada Hadhirat Ilahiyyah – Allah (swt), tanda Nya ada di mana mana, dan Baatin Nya, tak seorang pun bisa melihat. ‘Ilm Nya juga, Ilmu, memiliki sisi zahir dan sisi baatin. Dan segala sesuatu memiliki sisi zahir dan sisi baatin. Jadi kategori tiga Mu`min berbeda adalah mereka yang belajar sesuatu, dan mereka melakukan yang minimum – Allah mengirim mereka ke Surga. Dan mereka yang tidak belajar apapun, namun mereka adalah orang yang beribadah – mereka (hanya) meniru – Allah mengirim mereka ke Surga. Itu artinya, ‘aabid – terdapat banyak ‘aabid, namun mereka bukan ‘ulama. Jadi apa yang terjadi kepada mereka? Apakah Allah mengirim mereka ke Neraka? Tidak! Allah akan mengirim mereka ke Surga. Dan mereka adalah ‘aabid, namun mereka melakukan (ibadah) minimum tentang apa yang mereka tahu. Allah akan mengirim mereka ke Surga. Dan mereka yang tahu dan melakukan apa yang mereka tahu. Mereka adalah para Utusan Nabi, sempurna. Mereka mengetahui haqqiqat.

Allah memberi mereka apa yang tidak diberikan Nya kepada orang lain. Sebagai pewaris para Nabi adalah `awliya – dia s.a.w. berkata, al ‘ulama warathatul `anbiya` — Nabi (s) berkata bahwa pewaris Nabi adalah `awliya. Allah (swt) akan memberikan kepada mereka itu dari haqqiqat Nya, dari ilmu yang tidak diketahui seorangpun (lainnya) – dan semua mereka, ketiga tiga level itu, jika kamu membaca Ar-Rahman ar-Rahim, kamu akan dihiasi dengan tajalli itu. Itulah sebabnya adalah sangat penting – dan nanti setelah kita menyelesaikan seluruh Surah, kita akan membahas berbagai narasi Nabi (s), ahadith yang berbeda – apa yang harus kamu baca “Ar-Rahman ar-Rahim,” kamu harus membaca “Maalik Yawmid Deen,” kamu harus membaca “Alhamdulillahi Rabbil ‘aalameen,” kamu harus membaca seluruh al Faatiha, dengan cara yang diajarkan Nabi (s) kepada para Sahaba dalam cara membaca al  Faatiha, agar supaya Allah menghiasi kamu dengan tajalli itu ketika kamu membaca. Jadi “Ar-Rahman ar-Rahim” akan menghiasi kamu dari ketiga tiga level itu… Ketika Allah menyuruh Nabi (s) untuk mengatakan sesuatu tentang yang ketiga itu – “La nuseehtana`an ‘aleik – kami tidak dapat menghitung, atau … kami terbatas. Kami tidak dapat – Ya Rabbi, pepujian kami bagi Mu terbatas, namun saya akan memuji Engkau dengan pepujian yang Engkau senang dipuji dengan itu.

Jadi Dia memberikan satu tanda. Dia memberikan sebuah – jadi apa yang  harus kita lakukan di sini, di bawah “Rahman ar-Rahim?” Kita lakukan taqlid – kita katakan”Ya Rabbi,” beri kami `ashurnam ‘an  an-nabiyyeen was-siddiqeen wash-shuhada, was-saadiqeen. Ma’al ladheena `an’amda ‘aleihim minan nabiyyeen was siddiqeen wash-shuhada`, was-saadiqeen hasuna ‘ulaa`ika Rabba ini adalah apa yang dapat kita lakukan, karena kita lemah. Itu adalah apa yang dapat kita lakukan, karena kita lemah. Allah akan menghiasi kamu. Dengan jalan itu, ketika kamu membaca “ar-Rahman ar-Rahim,” kamu akan berada di bawah gambaran dari ayat itu “Ma’al ladheena `an’am Allahu ‘aleihim minan nabiyyeen was siddiqeen wash-shuhada`i was saaliheen” – kamu akan dihiasi dengan tajalli itu. Jadi setiap hari, cobalah untuk membaca sebanyak banyaknya “Ar-Rahman ar-Rahim” – Ya Rabbi Engkau adalah ar-Rahman, Engkau adalah ar-Rahim. Bismillahir Rahman ar Rahman ar Rahim, Bismillahir Rahman ar Rahim, Bismillahir Rahman ar-Rahim. Allah sedang menghiasi kamu, menghiasi kamu – tanpa kamu minta “Ya Rabbi, berikan kami, Wahai Raja Hari Pengadilan, berikan kami seluruh ma’al ladheena `an’amta ‘aleihim minan nabiyyeena was siddiqeena wash-shuhada`I was-saaliheenitu sudah berada di sana, makna dari ayat tersebut. Allah akan menghiasi kamu dengan tajjali itu, dan memberi kamu pada Hari Pengadilan ma’al ladheena `an’amta ‘aleihim minan nabiyyeen – dengan para mu`min dan dengan para nabi dan … Makna ayat itu sudah ada di situ – Allah akan menghiasi kamu dengan itu, dan memberi kamu pada saat Hari Pengadilan nanti bersama para nabi dan para rasul, dan dengan para mu`min, para shuhada`, dan para saaliheen, dan siddiqeen. Allahu Akbar.

Maalik Yawmid Deen. Sebelum kita sampai ke penjelasan tentang Maalik Yawmid Deen, kita harus menjelaskan Maalik – apakah Maalik? Itu adalah Sang Pemilik. Dan nanti kita akan lihat kepemilikan apa saja. Apa yang diuraikan Nya disini. Namun apa yang diuraikan Nya disini adalah Hari, Yawm. Jadi apakah “Yawm” dalam bahasa Arab. Apakah artinya itu? Apakah definisi hari. Itu adalah dari tulooqu`ush shams `ila ghuroobish (?) shams. Ini adalah satu hari – dari matahari terbit hingga matahari terbenam adalah satu hari, dianggap satu hari. Tetapi di Hari Pengadilan tidak terdapat turoo`ush shams wa ghuroobush shams! Dalam hidup kita ini, di sini, terdapat matahari terbit, matahari terbenam. Dan terdapat malam. Ada siang dan ada malam. Di sana tidak ada malam! Jadi Yawm, dalam hidup kita ini, punya definisi – matahari terbit, matahari terbenam. Pada Hari Pengadilan – Maalik Yawmud Deen – Yawm di sana maksudnya adalah lestari/kekal sepanjang masa. Karena tidak terdapat matahari terbit untuk menandai awal, dan tidak terdapat matahari terbenam untuk menandai akhir. Itu sebuah kepemilikan yang berkesinambungan pada Hari Akhir itu. Itu menggambarkan Diri Allah Sendiri. Allah tidak mungkin menggambarkan Diri Nya “Maalik Yawmid Deen,” dengan Hari yang akan berakhir. Namun Allah menggambarkan lestari / kekal/ baka. Jadi Yawm di sini berarti lestari. Tidak ada lagi matahari terbit, matahari terbenam, matahari terbit, matahari terbenam – itu akan berarti ke atas dan ke bawah. Ketika ada matahari terbit, itu artinya naik. Ketika ada matahari terbenam, itu artinya ke bawah. Jadi cahaya menggambarkan gelap (?), cahaya menggambarkan siang. Jika tidak ada naik, tidak ada turun, tidak ada naik, tidak ada turun – hanya ada kesinambungan, keputusan lestari pada saat itu. Di sana selalu siang, Nur. Cahaya melulu. Qad ja’akum min Allahi Noorun. Allahu Noorus Samaawaati wal `Ard. Allah adalah Cahaya Surga dan Bumi. Tidak lagi ada gelap dan terang, atau siang dan malam, terus menerus (medan?), yang tidak akan pernah berakhir. Dia memiliki sesuatu yang tidak pernah berakhir – berkesinambungan. Itu artinya Dia memiliki seluruh, otoritas/wewenang lengkap yang lestari … Itu semua berada dalam Tangan Nya. Maalikil `amri kulli. Dia memiliki semua otorisasi dan kuasa atas semuanya – otoritas atas semuanya, kendali atas semuanya. Dia memiliki itu. Dan Dia menyebutkan bahwa Dia memiliki Hari Deen – Yawmud Deen. Dia menambahkan Yawm pada Deen. Dia dapat saja mengatakan Maalikid Deen. Apakah itu tidak benar? Dia berkata “Maalik Yawmid Deen,” untuk menunjukkan bahwa waktu itu – “al-Haqqal faasil, bainad dunya wal `aakhira – Pemisah antara dunya dan aakhira adalah Hari pengadilan, apakah itu tidak benar? Dan barzakh. Itu adalah Hari Pengadilan. Jadi untuk menunjukkan bahwa itu adalah satu urusan yang sangat penting – hari itu, Pemisah itu begitu besar, begitu penting bagi manusia, penting bagi malaikat, penting bagi jinn, penting bagi apapun yang diciptakan Allah – bagi shayateen. Hari itu adalah hari di mana ketakutan dan ancaman dan kesadaran, dan Rahmat – mereka yang akan dikirim ke Surga, mereka yang akan dikirim ke Neraka – itu adalah hari yang sangat besar. Min hawlihi ta`dheeman wa ta`weelan li haadhal Yawm wa safahu Allah (‘Azza wa Jal) bi Maalik Yawmid Deen. Allah menjelaskan Diri Nya sebagai Pemilik Hari itu karena beratnya masalah pada Hari itu. Seperti dikatakan dalam bahasa Arab, Yawmil Fath. Yawmil `Ahzaab. Itu artinya Hari Pertempuran Ahzaab – O Yawmul Fath – ketika Nabi (s.a.w.) membuka Mecca al Mukarramah, kita menyebutnya dengan sebutan apa? Itu sangat tersohor sebagai Yawmul Fath. Jadi ini adalah suatu perioda seperti Fath Nabi (s.a.w.), ketika Nabi (s.a.w.) membuka Mecca – jadi untuk memberi penekanan pentingnya fath itu mereka mengatakan hari Fath – al Yawmil Fath. Itulah sebabnya mengapa kita menyebutnya Yawmad Deen. Itu artinya deen adalah… Apakah Deen itu? Innad deena ‘indal Lahil Islam – itu adalah hari Islam –Islam yang sesungguhnya. Sebelum itu, itu adalah tiruan. Hanya  Nabi (s.a.w.) dan `awliya – utusan, memahami Islam yang sesungguhnya. Orang lain? Meniru saja. Maalik Yawmil Islam. `Innad deena ‘indal Lahil Islam. Itu adalah hari yang sangat penting.  Hari itu adalah ketika kita akan melihat Islam sejati. Itu artinya Hari itu Allah akan membuka Haqqiqat Nya yang tidak pernah dibuka, yang tidak pernah terbayangkan. Maa laa ‘aynu ra`at, wa la ‘udhun sami`at, wa la khatar ‘ala qalby bashara – itu tidak pernah terdengar, tidak pernah terlihat, tidak pernah terbayangkan. Allah akan membuka pada Hari itu. Wahai MUSLIMS! Jangan tidur! Jika kamu tidur, kamu akan rugi/ kalah! Jika kamu membuka matamu, kamu akan menang. Itu artinya, bukalah jantungmu. Setiap orang mengejar dunyanya. Politik, berkelahi, sebidang tanah di sini, sebidang tanah di dana, batangan emas di sini, batangan emas di sana. Koin emas di sini, koin emas di sana. Pasar modal di sini, pasar modal di sana. Setiap orang mau melakukan ini, mau melakukan itu. Membeli sebidang tanah, membeli sebuah rumah. Tak seorangpun yang berpikir untuk membeli rumah di Paradise/Surga. Allah berkata, arahkan dirimu ke (arah) Ka’ba. Shalatlah lima waktu (dan lakukan semua? Tak terdengar) Apakah kamu tahu apa yang mereka lakukan? Mentertawakan, sambil berkata “Allah Ghafoorur Rahim!” Allah Maha Pengasih. Jika kamu berkata kepada seseorang, “Pergilah ke Hajj!” Dia akan berkata, “Saya masih muda! Saya mau melihat dunya!” Lelaki dan perempuan. Mereka berkata, “Tidak tidak tidak, saya tidak akan pergi sekarang – ketika kami berusia 60 atau 70 tahun, pada saat itu saya akan berangkat hajj, karena pada saat itu saya akan telah menjadi sangat shalih. Saya tidak ke kanan atau ke kiri! Oh! Jika kamu meninggal usia muda, kamu akan kehilangan kesempatanmu! Mengapa, hanya ketika kamu sudah menjadi hajj kamu menjadi shalih? Bagaimana sehari harinya? Setiap hari ada hajj! Ketika kamu mengatakan “Allahu Akbar!” dalam shalat lima waktu mu, kamu mengarahkan wajahmu menuju Mecca, menuju hajj. Namun Shaytan membisikkan pengaruhnya di telinga kita, dan waktu itu akan datang! Pada Hari itu, segala sesuatu dipisahkan dari dunya! Selesai! Tidak ada lagi. Pada Hari itu tak seorangpun memiliki apapun. Tidak satupun menghakimi apapun, tidak seorangpun memberi sebuah pandangan/pendapat. Tidak seorangpun dapat melakukan apa yang dilakukannya di dunya! Dan tak seorangpun dapat berbicara. Tak seorangpun dapat menegakkan kepalanya. Tak seorangpun dapat memikir apapun kecuali LARI! KE MANA??? Tidak ke manapun. Mencoba mencari tempat untuk menyembunyikan dirinya! Tidak ke manapun. Karena Siapa memiliki Hari itu? Itu adalah Allah (swt). Itu artinya tidak seorangpun memiliki sesuatu. Allah memiliki semuanya. Itulah mengapa Dia berkata “Maliki Yawmid Deen.” Dia berkata, tidak seorangpun dapat menegakkan kepalanya lagi – BAHKAN UNTUK MENEGAKKAN KEPALAMU, BAHKAN UNTUK BERNAPAS, KAMU TIDAK DAPAT! Dia MEMILIKI itu bagimu. Sekarang ini di dunya kamu pikir bahwa kamu memiliki benda benda itu, namun itulah mengapa Allah membuat kamu membaca al Faatiha dua kali dalam dua raka’ats, empat kali dalam empat raka’ats – untuk mengingatkan dirimu, “Maalik Yawmid Deen, Maalik Yawmid Deen, Maalik Yawmid Deen.” “Abdi Ku mengingat Aku. Kamu tidak memiliki apapun, kamu tidak memiliki apapun, kamu tidak memiliki apapun. Aku memiliki apapun/segalanya.

Satu waktu, Mawlana, Shaykh kita,  Shaykh Muhammad Nazim Adil, semoga Allah memberkati nya, di London… Terdapat sebuah masjid di London – sebuah masjid yang sangat besar, lebih dari 15,000 meter persegi. Dan terdapat banyak sekali kotak Sadaqa di sana. Orang orang datang dan memberikan sadaqa. Dan suatu hari, semua kotak sadaqa rusak, dan uangnya diambil/dicuri. Oh! Banyak sekali uang, karena orang orang datang dan memasukkannya di situ. Dan tempat ini bisa menampung  10,000 orang. Maka mereka mendatangi Mawlana Shaykh Nazim, dan mereka berkata, “Beberapa orang membongkar kotak amal, dan kami mencurigai beberapa orang.” Dia menjawab “Apa? Mereka membongkar kotak sadaqa. Mengapa? Apakah kamu pemilik kotak amal itu? Itu sudah menjadi sadaqa! Dan jika mereka tidak memerlukan (uang) itu, mereka tidak akan membongkar kotak amal itu. Mereka malah akan menambah uang ke dalamnya!” Kita tidak memiliki apapun di dunia ini. Itu bukan untuk kita, itu untuk Allah. Tinggalkan itu! Dan biarkan kotak sadaqa itu terbuka. Semua orang dapat menambahkan uang ke dalam nya, dan setiap orang dapat mengambilnya dari kotak itu  – siapapun yang mau mengambilkan.

Karena apakah yang kamu miliki? Kamu memiliki puing puing! Kamu akan meninggal, dan kamu akan meninggalkan apapun/semua di dunia ini. Jika anak anakmu tidak berada dalam level/tingkat yang kamu inginkan, mereka akan menyia-nyiakan apapun yang kamu tinggalkan untuk mereka. Mereka mungkin akan menggunakan peninggalan kamu itu untuk selain yang di Jalan Allah. Mereka mungkin akan menggunakannya di jalan yang tidak diridhoi Allah (swt). Maka beban itu akan datang kepadamu di alam kubur mu. Dan itulah mengapa `awliya membelanjakan semuanya dalam hidup mereka. Mereka tidak meninggalkan apapun. Karena kamu tidak akan tahu. Mereka berkata, “Sebagaimana Allah memberi kepada kita, Allah akan memberi kepada anak anak kita.”

Seperti yang kami sampaikan hari Juma’a, di negeri kami mereka memiliki satu ungkapan Arab yang bagus. Itu berbunyi jaami’an naas, laka `ayyaamu ma’duda – Wahai manusia! Kamu yang mengumpul ngumpulkan harta, hari hari mu terbatas. Allah menghitung hari harimu. Ketika hari itu datang, kamu mati. Artinya, kamu mengumpulkan, mengumpulkan, mengumpulkan, mengumpulkan, mengumpulkan – menyembunyikan, menyembunyikan, menyembunyikan, menyembunyikan, menaruhnya di banks, banks, banks, membeli saham/stocks – saham di sini, rumah di sini, gedung di sini. Dan apakah yang kamu miliki di akhirnya? Laka `ayyaamu ma’duda. Kamu hanya akan hidup dalam sejumlah hari tertentu. Al-maalu lil muraat – uang dan harta, adalah untuk ahli waris …

(akhir dari sisi A dari tape 6)

… mereka yang menjadi ahli warismu akan mengambil uang itu. Itu artinya, kamu tidak memiliki apapun. Allah memiliki – Maalik Yawmid Deen. Dia memiliki Hari itu. Itu adalah Hari yang paling penting, bukan hari ini. Uang adalah untuk para ahli waris. Wa lahm lid-dooda – dan tubuhmu, atau ragamu, adalah untuk cacing! Kamu tidak memiliki apapun. Bahkan tubuhmu akan dimakan cacing. Ya jaami’al maal, laka `ayyaamu ma’duda, al-maalu lil muraat, wal lahm lid-dooda. Dan daging itu – kamu, wahai manusia, yang mengumpul-ngumpulkan uang. Kamu memiliki hari terbatas dan uang mu akan menjadi milik ahli warismu, dan tubuhmu akan menjadi makanan cacing. Jadi kamu tidak memiliki apapun. Jadi jika kamu membelanjakan uangmu dan menggunakan waktumu dan hidupmu memberi di jalan Allah (swt), itu adalah lebih baik dari pada mewariskan uang itu – kamu tahu bahwa kamu tidak dapat mengendalikan ahli warismu, dan mereka akan menggunakan uang itu di jalan selain di jalan Allah (swt). Maka itu akan menjadi beban bagimu. Itulah sebabnya Nabi (s.a.w.) berkata, Man tafi’u ‘ala Bani ‘Adamy `ila man tadau (?)– bahwa ‘amil Bani Adam akan terputus kecuali untuk tiga hal – salah satu dari itu adalah Waladun saalihun yad’ul Lah – paling baik adalah memiliki seorang (anak) yang … shalih yang membacakan al Faatiha bagimu, atau berdoa untukmu ketika kamu meninggal. Jadi jika anak itu tidak seperti itu, mengapa kamu memberi dia harta/uang? Uang itu akan menjadi keburukan bagimu, sebuah beban untukmu. Aw sadaqatun jaariya – atau sadaqa yaitu sadaqa yang mengalir, seperti sebuah masjid, atau sebuah rumah sakit, seperti sebuah gedung sekolah, seperti sebuah buku. Aw ‘ilmun yattafaqu bih – atau ilmu yang dapat mendatangkan manfaat bagi orang banyak. Jadi selain itu – itulah yang penting, di bawah Maalik Yawmid Deen. Jadi ketika kamu membaca Maalik Yawmid Deen, Allah membersihkan kamu – rahasia dari tiga kata itu, “Maalik Yawm ad- Deen,” ketika kamu membacanya, Allah mengambil semua khalaa`iq itu, semua tempelan itu … yang seperti virus, Allah akan membuang (kotoran) itu semua dengan bacaan Maalik Yawmid Deen – Allah akan mengambil dari jantungmu, mengambil dari jantung para ahli warismu, anak anak, mengambil dari dirimu hubbud-dunya mu, dan membuat kamu mencintai Hari itu yang Allah sebutkan, Hari Pengadilan.

Asal muasal dan sumber Maalik adalah dari Mulk atau Malik, dari Maalik, yang berarti pemilik. Itu artinya kepemilikan atau kerajaan – malik. Jadi Malik, Sang Raja, adalah Satu yang memiliki kuasa. Dan siapa yang memiliki kuasa selain Allah (swt)? Al-quwwatil Lah. Kuasa sepenuhnya adalah bagi Allah (swt), itulah sebabnya kita mengatakan “Allahu Akbar.” Bagi Allah (swt) lah , kuasa sesungguhnya adalah bagi/milik Nya – kuasa sesungguhnya, kuasa sempurna, kuasa yang paling kuat. Semuanya di bawah Tangan Nya. Dan untuk siapapun selain Allah (swt) dari antara ciptaan, kepemilikanya, kerajaannya, bahkan jika diapun seorang raja, kepemilikan atas kerajaannya bisa berakhir – itu memiliki awal, dan itu memiliki akhir. Namun bagi Kepemilikan Allah, tidak ada awal, tidak ada akhir. Jadi apapun yang memiliki awal dan memiliki akhir, itu artinya dia tidak memiliki nilai, itu akan berakhir. Namun nilai untuk sesuatu yang … “Maalik Yawmid Deen,” itu tidak pernah berakhir. Dia selalu menjadi pemilik dari Hari Pengadilan itu.

Dan kami akan memberi sebuah petunjuk di sini, kami akan melemparkan sebuah rahasia yang saya dengar dari Shuyukh kita – dia berkata, grandshaykh, “Kamu pikir bahwa Maalik Yawmid Deen adalah hanya untuk satu hari? Dalam setiap detik … Itu adalah untuk ummat manusia, dan untuk para nabi yang dikirim Allah ke Bumi, dan untuk orang orang yang menjadi penghuni Bumi dan langit yang kita ketahui – para malaikat, para nabi, para rasul, insan, jinn, shayateen, dan yang dikatakan Allah kepada kita – itu adalah makna dari Maalik Yawmid Deen. Namun Allah memiliki ciptaan lainnya, yang tidak diketahui siapapun kecuali Dia. Dia juga, dalam setiap detiknya, Dia memiliki satu hari yang Dia peruntukkan bagi ciptaan Nya. Bukan hanya satu Hari Pengadilan. Yeah, terdapat satu Hari Pengadilan yang tentangnya harus diketahui Muslim. Dan itu adalah untuk kita. Namun bagi Allah (swt), penciptaan adalah sesuatu yang terus menerus, alam semesta  berkesinambungan, galaxies berkesinambungan yang memiliki (dihuni oleh)  ciptaan yang berbeda beda – itu semua (masing masing) memiliki  sebuah awal, itu memiliki sebuah akhir, ciptaan itu – dan mereka memiliki (masing masing) sebuah Hari Pe ngadilan mereka sendiri. Seperti Maalik Yawmid Deen, namun dengan cara yang berbeda. Allah adalah Akbar! Itulah makna dari Allahu Akbar. Allahu Akbar! Allahu Akbar! ALLAH SELALU AKBAR! SELALU BEGITU, TENTU ADA SESUATU YANG BERADA DI LUAR imaginasi kita, pikiran kita. Itu adalah tidak mungkin dimengerti – bukan hanya satu Hari Pengadilan. Satu Hari Pengadilan untuk ummat manusia, dan malaikat, untuk para nabi, jinn, dan shayateen. Apa yang Dia kehendaki kita memahami – yaitu yang diuraikan di dalam Pesan Surgawi yang datang kepada kita, bahwa Allah mungkin… La ya’limu ghaiba `ilal Lah. Allah mungkin telah menciptakan ciptaan lain – kita tidak tahu. Itu artinya bahwa mereka akan memiliki satu Hari Pengadilan juga. Itu artinya bahwa setiap detik – Dia adalah Sang Pencipta. Itu artinya bahwa setiap saat, harus ada suatu ciptaan yang tercipta, dan itu (dia tadi) memiliki sebuah awal, dan ciptaan lainnya menemui akhirnya!

Seperti di Bumi ini, lihatlah – kamu dapat mengambil idea itu, symbol itu. Dalam setiap saat di planet ini, terdapat saat dhuhr. Bukankah begitu? Pada setiap saat terdapat waktu ‘asr. Tidaklah begitu (pengertian) 1,000 tahun yang lalu. Mereka tidak pernah berpikir ke situ. Namun sekarang, kamu berpikir begitu! Karena menurut ilmu pengetahuan baru, Bumi ini berputar. Itulah makna dari Rabbul mashaarika wal Rabbul maghaarib. Itu artinya terjadi secara terus menerus mashrik – sebuah fajar yang terus menerus, dan satu matahari terbenam terus menerus. Karena Bumi berputar (pada porosnya), seperti gasing. Jadi itu berarti pada setiap saat terdapat satu dhuhr dan terdapat satu ‘asr, terdapat maghrib, terdapat ‘isha, terdapat fajr. Betul? Dan terdapat  secara terus menerus, orang yang shalat dhuhr, orang shalat praying ‘asr, orang shalat maghrib, orang shalat ‘isha. Jadi itu adalah sebuah apa yang terus menerus dilakukan? Amalan! ‘amil – tidak pernah berhenti. Itu artinya ‘ibaada tidak pernah berhenti. Dhuhr tidak pernah berhenti! ‘Asr tidak pernah berhenti. Bukankah itu benar? ‘Asr tidak pernah berhenti. Bukankah begitu? Maghrib tidak pernah berhenti. ‘Isha tidak pernah berhenti. Fajr tidak pernah berhenti. Apakah itu? Itu adalah luar bisa besar! ‘Asr tidak pernah berhenti? Maghrib tidak pernah berhenti? Bergerak,  berputar. Ibadah terus menerus dari Bumi dan planet dan alam semesta. Memuja Tuhan  mereka – sebagai mana manusia beribadah terus menerus – itu adalah siffatur Rahman ar-Rahim – terus menerus membuat abdi Nya dalam persembahan terus menerus di dunya ini – persembahan itu tidak pernah sekejabpun berhenti, atau bahkan kurang dari sedetik waktu – pasti terdapat orang beribadah – mereka mengerjkan ‘asr, mereka mengerjakan maghrib, mereka mengerjakan ‘isha, mereka mengerjakan fajr, mereka mengerjakan dhuhr. Dan bukan hanya itu, terdapat orang orang yang (sambung menyambung) mengirim shalawat kepada Nabi (s.a.w.), dengan bershalawat kepada Nabi (s.a.w.), dan dengan menyerukan takbir bagi Allah (swt) – memuja Allah. Tidak pernah berhenti. Dan itulah sebabnya “Wa `inny shay`in laisa fi hubbi Hamdillah.” Segala sesuatu memuja Allah. Dalam putaran yang terus menerus, dan sebagaimana Bumi berputar – kamu melihat Bumi dalam putaran sempurna, di mana? Di dalam ruang hampa. Di sekitar Bumi ada apa? Sekeliling terdekatnya – ini Bumi, ini massanya. Di atas Bumi kita punya apa? Ruang, atmosphere – itu adalah (seperti) sebuah lubang! Itu ruang kosong! Jadi Bumi itu berputar putar di ruang kosong, namun di sekitar tempat itu terdapat berbagai macam energy. Itu mirip dengan sebutir atom. Atom itu memiliki satu massa, dan itu memiliki electron, energy, yang bergerak mengitarinya, dengan cara yang sama seperti Bumi bergerak di ruang angkasa, dalam lintasannya. Wa kullun fi falakin yasbahoon – Allah berkata dalam al Qur`an Karim – segala sesuatu selalu berputar. Itu “berenang“, Dia berkata. Dan itu artinya, massa dan energy, massa dan energy. Itu artinya raga dan jiwa. Gerakan terus menerus itu, tanpa berhenti. GERAKAN Bumi ITU, apa yang membuat Bumi bergerak seperti itu? ‘Ibaada nya ummat manusia – Allah yang menggerakkan itu. Tasbih itu yang tidak kita ketahui, yang bahkan tidak kita dengar, membuat Bumi bergerak dalam putaran yang terus menerus. Dan semua galaxies ini yang kita lihat, dan Bumi kita, kita tidak memiliki mereka. Allah memiliki mereka. Al-quwwa lil Lah. Al Mulk lil Lah. Itulah sebabnya Dia berkata “Aku Sang Pemilik, bukan kamu.” Apapun yang punya awal dan akhir tidak bermakna apapun. Apa yang tidak memiliki awal dan tidak memiliki akhir bermakna segalanya. Dan Hari Pengadilan – Allah selalu memiliki satu Hari Pengadilan – secara berkesinambungan, dalam setiap detiknya, terdapat satu Hari Pengadilan, untuk ciptaan lain yang diciptakan Allah – saya tidak tahu. Allah Allah. Subhanallah.

Dikatakan bahwa Abi ‘Abdullah, Muhammad bin Shuja’ at-Tajeer Rahimahul Lah, Ta’ala qaal (berkata) – saya biasa membaca, ketika saya membaca Suratul Faatiha, saya selalu mengatakan “Bismillahir Rahman ar Rahim, Alhamdulillahi Rabbil ‘aalameen, ar-Rahman ar-Rahim, Maalik Yawmid Deen…” Karena dikatakan, menurut banyak ahadith, dan kita akan menjelaskan hal itu pada akhir diskusi … Pada akhir al Faatiha kita akan kembali kepada ahadith itu – dikatakan, atau diceritakan, bahwa Sayyidina Abu Bakr (ra) dan Sayyidina ‘Umar (ra) dan banyak Sahaba mengikuti Nabi (s.a.w.) ketika mereka mendengar Nabi (s.a.w.) membaca secara indah sekali. Maka mereka berkata bahwa terdapat suatu riwayat bahwa Nabi (s.a.w.) membacanya begini “Maalik Yawmid Deen,” dan dalam riwayat lain, mereka mengatakan bahwa dia membacanya begini “Malik Yawmid Deen,” tanpa Alif. Jadi salah satu dari mereka, “Maalik Yawmid Deen,” dan satu nya lagi “Malik Yawmid Deen,” tanpa Alif. Jadi dikatakan bahwa Muhammad bin Jaa` Astalji berkata bahwa “Kebiasaanku, dan cara yang selalu saya lakukan membaca al Faatiha – saya membacanya begini “Maalik Yawmid Deen.” Saya mendengar dari beberapa orang ahli bahasa Arab, mereka yang sangat tersohor ahli bahasa, ‘ulama – mereka berkata kepadanya, ‘Ya Aba Abdullah, jika kamu membaca itu sebagai Malik Yawmid Deen, itu lebih cantik dibanding Maalik Yawmid Deen.’ Maalik adalah Sang Pemilik. Malik adalah Sang Kaisar. Jadi Maalik memiliki Hari Pengadilan itu. Malik adalah Sang Kaisar – Dia memiliki, dan memiliki semua yang ada di dalamnya. Raja Di raja. Jadi adalah lebih cantik untuk membacanya sebagai “Malik Yawmid Deen.” Maka dia berkata, “Aku membacanya– ‘Bismillahir Rahman ar Rahim, Alhamdulillahi Rabbil ‘aalameen, Ar-Rahman ar-Rahim, Malik Yawmid Deen.’ Kemudian suatu hari aku bermimpi! Fara`aitu fil malaami qaa`il al-yaqool – saya bermimpi seseorang memberi tahu saya, ‘Ya Aba ‘Abdullah, lima naqastali hasanaati ka’ashara – mengapa kamu mengurangi, atau memotong, pahala sebanyak sepuluh?’” (Karena al-hasanati ‘ashara a’mali – sebuah hasana mendapat pahala sepuluh. Dan barang siapa membaca satu huruf al Qur`an Karim, Nabi (s.a.w.) berkata, Allah memberinya sepuluh hasanat. Jadi di al Qur`an terdapat sekitar 600,000 huruf. Jadi kamu mempunyai – jika kamu menyelesaikan bacaan al Qur`an, kamu akan mempunyai 6,000,000 hasanat! Sekali tamat. Jadi jika kamu menyelesaikan satu juz sehari, setiap bulan menyelesaikan al Qur`an, itu adalah 6 juta hasanat sebulan. Dalam 12 bulan , kamu akan mempunyai 72 juta hasanat – dalam setahun. Itu hanya dari pembacaan al Qur`an Karim. Dan itulah mengapa Huffaz, yang hafal al Qur`an, mereka membaca setiap hari sedikitnya lima juz’a. Mereka menghafalnya. Itu artinya mereka mempunyai sekitar 400 juta hasana dalam setahun!) Jadi dia berkata, “Saya terjaga dari mimpi – setelah dia bertanya mengapa saya memotong 10 pahala saya.” Nabi (s.a.w.) berkata, “Man qara`al Qur`aana qutiba lahu kulli harratin ‘ashara hasanaatin wa muhya ‘anhu ‘ashara sayyi’aatin wa rufi’a tawwu ‘ashara laza. Dia berkata, tidakkah kamu mendengar bahwa barang siapa membaca al Qur`an, itu akan memberinya 10 hasanat, dan akan diambil dari padanya 10 amal buruk, sayyi’at – Allah akan membuang 10 sayyi’at, dan Allah akan memberinya 10 level. Fantabahtu. “Saya bangun, dan saya tidak lagi pernah meninggalkan bacaan Maalik Yawmid Deen. Kemudia saya bangun dari mimpi, dan saya mulai membacanya sebagai Maalik.”

Kemudian saya melihat mimpi lain. Dan saya melihat seseorang bilang kepada saya, “`Ama sami’ta qawlan Naby (s) – kamu tidak mendengar Nabi (s.a.w.) berkata “`Iqra`ul Qur`aana fakhmalu fakhaman” – “Bacalah al Qur`an dalam kebesarannya.” Ta’dheem. Itu artinya “Malik” adalah lebih ta’dheem dari pada Maalik! Jadi saya sekarang saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan! Maka kemudian saya mulai membacanya sebagai “Maalik” dan “Malik.” Kedua-duanya. Dan itulah sebabnya Suratul Faatiha, menurut beberapa riwayat Nabi (s.a.w.), yang akan kita bahas nanti – terdapat beberapa bacaan yang berbeda tentang Maaliki atau Malik. Yang manapun yang mau dipakai kamu tetapkan sendiri, tetapi kebanyakan pembaca saat ini mereka membacanya sebagai Maalik Yawmid Deen – bi hurmatil Habib, bi hurmatil Faatiha.

Insha`Allah kita akan melanjutkan dengan Maalik Yawmid Deen untuk selanjutnya – Allah Allah. Sebelum kita melanjutkan nanti saya akan meneruskan dengan sesuatu di sini. Dikatakan dalam Tafseerul ‘Irshad – salah satu dari tafseers terbesar – bahwa orang/penduduk Haramayn – ‘ulama `ahlul Haramayn – ‘ulama Mecca dan ‘ulama Medina, mereka biasa nya membaca dengan “Maliki,” sejak lama, karena Malik datang dari Malik (saya tidak dapat membedakan antara keduanya), yang berarti Raja, dan keduanya dari Mulk – keduanya berasal dari kata yang sama. Dan itu memiliki sebuah cara  pembacaan yang anggun. Tetapi kamu dapat membacanya sebagai Maaliki dan kamu dapat membacanya sebagai Malik.

Dan Allah (swt), jika kamu melihat dari awalnya al Faatiha hingga sekarang, kamu akan melihat bahwa Allah menggambarkan lima sifat/attributes berbeda dari Dirinya. Pertama, Dia menyebut Allah, kemudian Dia menyebut Rabbul ‘aalameen, “Alhamdulillah Rabbil ‘aalameen.” Kemudian ar-Rahman, ar-Rahim, Maaliki Yawmid Deen. Jadi ini adalah lima sifat/attributes yang berbeda – penjelasan. Allah, Rabbil ‘aalameen (Dia adalah Penguasa Alam semesta, alam `insi  dan jinn), ar-Rahman, ar-Rahim and Maaliki Yawmid Deen (Pemilik Hari Pengadilan). Jadi kita melihat lima, dan makna dari lima ini – itu seperti jika Dia ingin memberi tahu kamu “Wahai abdi Ku, Aku menciptakan kamu – Ana khalaqtuka, fa Ana `Ilah, wa `anta ‘abd.” Aku `Ilah – Allah. Kamu adalah abdi Ku. Jadi Aku menciptakan kamu. Ketika Dia menyebut Alhamdulillah, itu artinya “Aku menciptakan kamu. Kamu adalah abdi Ku. Kamu adalah abdi Ku. Kamu adalah budak Ku.” Kemudian Aku membesarkan kamu, Aku mengangkat kamu, Rabbaitak Rabb. Rabbaituka bin Ni’am – Aku membesarkan kamu dengan kemurahan Ku kepadamu. Dan itulah sebabnya Dia menyebut “Rabbal ‘aalameen.” Kemudian kamu telah membangkang terhadap Aku – Fa’afaytanY. Aku menyelimuti kamu – fasatartu ‘alayk bi `Ismir Rahman – dengan Asma ar-Rahman. Karena ar-Rahman memberimu Rahma di dunya. Rahman di dunya – masih mencukupi kamu. “Aku tetap menyelimuti kamu, menyelimuti kamu, menyelimuti kamu, dengan `Ism, dengan Asma ar-Rahman. Maka Aku mengampuni kamu dengan ASMA AR-RAHIM! Karena Rahim adalah Sang Pengampun. Dia akan mengampuni pada akhirnya. KEMUDIAN AKU MEMBAWA KAMU SETELAH AKU MENGAMPUNI KAMU SAMPAI HARI INI – Maalik Yawmid Deen. Sampai Hari Pengadilan. Pada Hari itu Aku harus mengadili kamu. Jadi mula mula Aku menciptakan kamu, Aku melimpahkan kemurahan Ku kepada mu, dengan Rabbil ‘aalameen – Awalnya Allah menciptakan kamu. Kemudian Aku membesarkan kamu dengan kemurahan Ku. Kemudian kamu membangkan terhadap Aku, dan Aku menyelimuti kamu dengan `Ismur Rahman – Aku menyelimuti kamu dan Aku mengirimkan Rahmat Ku kepadamu. Kemudian Aku memaafkan kamu. Dan sekarang kamu datang ke Hari itu di mana Aku harus mengadili kamu. Aku adalah Pemilik Hari itu. Jadi lima Sifat/Attribut Allah (swt) yang berbeda yang telah kami sebut kan, sampai Maalik Yawmid Deen – lima attribut ini yang telah disebutkan  dalam Surah ini sampai saat ini. Dan insha`Allah lain kali kita akan melanjutkan menjelaskan sampai pada Maalik Yawmid Deen. Dan kita akan meneruskan menjelaskan Maalik Yawmid Deen. Dan kita akan menjelajah lebih jauh jika waktu mengizinkan. Wa min Allahit Tawfiq bi hurmatil Faatiha.

**Sessi berikutnya**

Shaykh Soahib membaca Suratul Faatiha.

MSH: Sadaq Allahul ‘Adhim wa ballaghan Nabiyuhul Karim, wa nahnu ‘ala dhaalika minash shaahideen ash-shaakireen bi qalbin saleem.

Allah (swt) berkata dalam al Qur`an Karim, setelah menyebutkan lima Asma Nya, Allah, Rabbil ‘aalameen, Ar-Rahman, Ar-Rahim, Maalik Yawmid Deen. Dia menjelaskan lima Sifat Nya. Maka kita sampai kepada `Iyyaka Na’budu wa `Iyyaka Nasta’een. Jadi malam ini insha`Allah kita akan menjelaskan “`Iyyaka na’budu wa `Iyyaka Nasta’een,” namun sebelum itu, kita akan mundur sedikit ke kebelakang, untuk mengingatkan bahwa “Maalik Yawmid Deen” adalah Hari di mana Allah (swt) menyebutkan bahwa hari itu tidak berawal tidak berakhir. Dia memiliki segala sesuatu. Hari hari kita memiliki pagi dan petang. Itu memiliki fajar, dan itu memiliki senja/matahari terbenam. Jadi itu memiliki terbit dan terbenam matahari, dan sesuatu yang muncul dan menghilang – itu bukanlah hal penting. Karena itu adalah dalam haddud dunya, di alam dunia, itu akan menghilang. Perhatikan Sayyidina Ibrahim (as), apa yang dikatakannya? Dalam Suratul An’am.

Ketika dia melihat, falamma Janna ‘aleihi lailu rafa qawqaban. Qaala hadha Rabbi. Di malam hari, dia melihat apa? Sebuah bintang. Dia berkata, “ini adalah Tuhanku.” Shaykh Soahib membaca Surat al An’am. “Wa `idh qaala Ibraaheemi … `aakileen.” MSH: Dia melihat matahari terbenam ketika menjelang malam. Di waktu malam, dia bilang bintang adalah tuhannya. (di sini suara tidak jelas)  Di mana dia melihat seorang anak di dalam gelap, di mana diapun tidak memancarkan cahaya. Itu artinya, ketika kamu juga berada dalam kegelapan fisik atau dalam kegelapan spiritual, kamu mencari sesuatu yang menimbulkan harapan. Jadi kamu mengharap harapan itu akan membimbing kamu untuk berpikir bahwa ini adalah yang akan menyelamatkan kamu dan ini adalah sasaran/tujuan kamu yang utama – yang akan membimbing kamu, membawa kamu ke Hadhirat Ilahiyyah. Jadi begitulah ketika kamu sedang dalam kesukaran, ketika kamu dalam kegelapan – kegelapan malam, ataupun kegelapan jantung, kamu mencari apa? Sebuah bukaan/lubang/pintu. Dan pintu itu adalah, baginya pada saat itu itu, bintang itulah. Ketika dia melihat bintang itu, dan bintang itu (kemudian) menghilang. Lalu makna fisik, makna tersurat dari hal itu adalah bahwa bintang malam itu menghilang. Bukankah begitu? Itu menghilang. Itu tidak nyata.  Jadi dia berkata, “falamma akhalaqa la `ila hudan fihi” – ketika bintang itu menghilang, dia bilang saya tidak suka itu. Saya menyukai sesuatu yang baka/lestari. Itu bukanlah Tuhan saya, itu bukanlah Allah (swt). Begitu juga, ketika kamu dalam kegelapan egomu, dan kamu mencari di dalam jantungmu, merenung dan meditasi, kamu melihat seberkas cahaya. Namun cahaya itu segera tertutup oleh bisikan Shaytan dalam jantung. Ketika dia menutupinya, cahaya itu menghilang dari kamu. Kamu tersesat lagi. Kemudian kamu maju untuk mencari lagi. Dan apakah yang dilihatnya sesudah itu? Shaykh Soahib membaca: Falamma ra`al qaraa baazighan qaala haadha Rabbi, falamma afala qaala la`illam yahdini Rabbi laatoonanna minal qawmid daaleen.

MSH: Kemudian dia melihat rembulan – “Oh! Itu begitu besar!” Dia berbahagia. “Ini adalah Tuhanku. Lebih besar dari bintang itu.” Dia berkata, “Ini adalah harapanku. Itu memantulkan cahaya. Namun ketika itupun menghilang, dia berkata apa sekarang? “La`in lam yahdini Rabbi laatoonannna minal qawmid daaleen.” Jika Allah tidak membimbing saya … Kini dia meminta bimbingan. Kini dia menyadari bahwa dia tidak mungkin melakukan itu dengan sendirinya. Dia memohon pertolongan – dia meminta Sang Pemilik. Siapakah Sang Pemilik?

(akhir tape. Mulai tape 7)

… Oleh Maalik Yawmid Deen. Dia adalah Sang Pemilik, Dia adalah Sang Maharaja. Dia adalah Dia adalah Rabbil ‘aalameen – Dia adalah Sang Raja Maalik Yawmid Deen. Jadi dia mencari sesuatu, dan kini dia tahu bahwa itu semua berada di Tangan Allah (swt). Jadi apa yang dikatakan nya? “Jika Allah tifdak mau membimbing saya …” – Dia tahu bahwa terdapat Satu Raja, Satu Pencipta. Dia berkata, “Kini saya memerlukan Sang Pencipta itu.” Dia pikir bintang itulah Sang Pencipta, kemudian dia pikir itu adalah rembulan. Dan kini … kita akan melihat apa yang dipikirkannya …

Falamma ra`ash shamsa baazighatan qaala haadha Rabbi haadha `akbar. Falamma `afalat qaala yaaqawmi `inny baree`un mimma tushrikoon. Kini apa yang dilihatnya? Matahari. Dia melihat cahaya yang lebih tinggi (tingkatnya?). Karena dia berkata, “Ya Rabbi, bimbinglah saya,” ketika dia melihat matahari. Karena rembulan bukanlah cahaya sesungguhnya. Rembulan itu hanya, dalam pandangan ilmiah, sebuah pemantul cahaya. Itu adalah sebuah planet yang memantulkan cahaya matahari. Matahari memiliki cahaya! Bukan rembulan itu. Rembulan hanyalah cermin di mana cahaya datang dan memantulkannya kepadamu. Jadi dia tahu rembulan itu bukanlah sesuatu yang memiliki apapun, jadi dia mencari cahaya. Dimana cahaya itu? Matahari. Jadi matahari selalu mudee’a – cahayanya datang dari dalam. Allah memberinya penciptaan cahaya yang terpantulkan oleh alam semesta ini. Jadi apa yang dikatakannya? Dia berkata, “Falamma ra`ash shamsa baazighatan qaala haadha Rabbi haadha `akbar. “Inilah Tuhanku. Ini yang paling besar.” Karena dia berkata, “O Allah bimbinglah saya,” ketika dia melihat rembulan.. Dan itu hanyalah sebuah pantulan – dia tahu ilmu pantulan, Sayyidina Ibrahim (as). Bintang adakah juga sebuah pantulan. Rembulan adalah sebuah pemantul, matahari adalah sang cahaya. Jadi dia melihat yang besar itu – falamma `afalat – dia bukan bilang “qaala law `uhibbul `aafileen” di sini. Dia tidak bilang “Saya tidak suka yang menghilang.” Karena cahaya itu – itu membawa cahaya Islam ke dalam jantungnya melalui matahari itu. Karena matahari itu menciptakan cahaya itu dari dirinya. Jadi ketika cahaya itu menyentuh jantungmu, itu bukanlah sebuah pantulan. Sepanjang itu hanyalah sebuah pantulan, selama jantung mu hanyalah sebuah cermin, kamu masih berada di bawah pengaruh kendali egomu, di bawah nafs. Ketika jantung sampai ke level nafsul mutma`inna – ketika masih sebagai sebuah bintang, nafus, itu adalah nafsul `ammara – ketika itu masih sebuah rembulan, itu adalah nafsul lawwama, itu memantulkan cahaya – kini semua cahaya datang dan itu memantulkan. Ketika itu menjadi matahari, cahaya berasal/berada di dalam jantung, itu menjadi nafsul mutma`inna. Kini dia memiliki matahari –shams itu adalah Shamsul Islam yang mendatangi. Matahari Islam itu, terbit di ufuk jantungnya. Apa yang dikatakannya? Falamma `afalat – dia tidak berkata “La `uhibbul `aafileen,” seperti kedua ayat sebelumnya (saya tidak suka apa apa yang menghilang) – namun dia berkata, `inna muri`un ma tushrikoon. “Saya tidak tercemar dari apa apa yang kamu persekutukan dengan Allah.” Dari matahari, itu artinya, ketika cahaya sejati datang – dari matahari datang cahaya sejati – jadi ketika dia mengerti cahaya Islam, dia berkata, “`inny (tak terdenagr) lilladhy fataras samaawaati wal `arda hanifan wa ma `ana minal mushrikeen.” – Jadi apa yang terjadi? Matahari Islam telah terbit di dalam jantungnya, di belakang gunung ego nya. Dan jantungnya menjadi jantung yang tercerahkan – fa huwa ‘ala noorin min Rabbi. Sekarang dia telah berada dalam bimbingan dari Tuhannya. Ketika cahaya muncul dalam jantungnya, apa yang terjadi? Jantungnya mulai membuka semua tabir kegelapan itu, dan mulai ‘aynil mushahada – dan mulai berada dalam penampakan haqiqat. Ketika dia berada dalam penampakan haqiqat, apa yang dikatakannya? Dia langsung berkata, “`Inny wajahtu wajjiya lil ladhy fataras samaawaati wal arda haneefa Musliman wa maa `ana minal mushrikeen.” – Saya menghadapkan wajahku – diriku – kepada Tuhanku, Yang menciptakan langit dan bumi, dan saya bukanlah seorang mushrik, saya adalah seorang Muslim. Dan itulah sebabnya Nabi (s.a.w.) didalam hadith berkata, ketika pagi hari datang, kamu harus berkata `asbahna wa `asbahal mulku lil Lah. Itu artinya “kita telah datang kepada satu hari baru, dan hari itu dimiliki oleh Allah (swt).” Dan itulah sebabnya kamu bilang – Allah memiliki hari itu, Hari Lestari, setelah itu segala sesuatu selesai. Dunya selesai. Jadi untuk mempersiapkan dirimu terhadap hari itu, apa yang harus kamu katakan? `Asbahna wa `asbahal mulku lil Lah.

Bagaimana Dia mempersiapkan kamu untuk mengatakan “Iyyaka na’budu wa `Iyyaka nasta’een.” Dia mempersiapkan kita dengan apa? Dikatakan bahwa Allah mempersiapkan kita dengan zikr (tentang) Nya. Tanpa zikrul Lah, kamu tidak dapat mencapai “`Iyyaka Na’budu.” “`Iyyaka na’budu” artinya menyembah Kamu.

Persembahan berarti apa? Shari’ah. Jadi kamu tak dapat mendekati Shari’ah tanpa dhikrullah. Untuk mempersiapkan dirimu menjadi ‘abdi sejati dalam Shari’ah, `Iyyaka na’budu – untuk menjadi seorang abdi sejati, seorang pengikut sejati Shari’ah, kamu harus jalan melalui apa? Dhikrullah! Bagaimana menapaki Dhikrullah? Dengan selalu mengingat dan membaca dan menyebut nyebut Nama Nya. Dan apakah Nama Nya– Alhamdulillah – Allah; Rabbil ‘aalameen; ar-Rahman – Ya Rahman. Ya Rahim. Ya Maalik Yawmid Deen. Kesemuanya ini Sifat/Attribute dan Nama Nama Allah, mempersiapkan kamu untuk sampai kepada sejatinya/esensi Shari’ah. Bukankah benar begitu? Itulah sebabnya mereka datang sebelum, mencapai `Iyyeka Na’bud wa `Iyyeka Nasta’een, sebelum Shari’ah mendatangi Haqiqah. Itu artinya, kamu harus menyatukan keduanya, atau kamu tidak akan menjadi seorang ‘abd sejati, karena Allah menyebut (begitu) dalam Suratul Faatiha. Itu artinya, “Wahai abdi Ku! Jika kamu membaca Alhamdulillah Rabbil ‘aalameen –Attribute kedua, ar-Rahman –Attribute ketiga, ar-Rahim –Attribute ke empat, Maalik Yawmid Deen –Attribute ke lima, maka kamu menaruh kedua kakimu pada tawhid sejati, di dalam Shari’ah sejati – kamu kini memanggil Ku dengan Nama Nama Ku. Itu artinya kamu menerima Aku sebagai Tuhanmu. Kini kamu dapat mengabdi kepada Ku dalam tahaara penuh, dalam kesucian penuh. Kamu dapat menyebut “`Iyyeka na’bud.” Allah akan menghiasi kamu dengan rahasia rahasia itu ketika kamu membaca al Faatiha. Jadi ketika kamu memulai dhikr, kamu mulai berpikir, kamu mulai merenung dalam Nama Nama Nya, dan bermeditasi pada lima Attribute yang barusan lewat, dan kamu melihat apa yang  Allah (swt) kehendaki kamu untuk melihat dan pada saat itu, kamu akan mencapai tawheed sejati. Dan kamu akan membuang semua yang di dalam jantungmu yang mempersekutukan sesuatu dengan  Allah (swt). Untuk menjadi seorang muwwahid – untuk menjadi `Iyyeka na’budu, berarti kamu harus membuang segala sesuatu lainnya dari dalam jantung mu. Lihatlah perbedaan antara Sayyidina Muhammad (saw) dengan Sayyidina Musa (as). Apa yang dikatakan Sayyidina Musa (as)? “`Inna ma’iyya Rabbi sayahdi.” Apa yang dikatakannya? “`Inna ma’iya Rabbi sayahdi” – dia bilang “Saya sudah,” “Sesungguhnya saya sudah …” ma’iyya ma’iyya. Itu artinya dia ma’iyya Rabbi. Dia menaruh “ma’iya” sebelum “Rabbi.” Ma’iya berarti “dengan saya.” “Rabbi” berarti “Tuhanku.” Dia berkata, “Dengan saya Tuhan ku.” Dengan saya, saya memiliki Tuhan ku. Sayahdi artinya “Dia akan menyukai saya.” Jadi dia menaruh Tuhanya di belakang dirinya. Allah tidak suka itu.

Apa yang dikatakan Sayyidina Muhammad (saw)? La tahzan `innal Laha ma’ana. Janganlah sedih, ya Abu Bakr. Allah bersama kita. Dia tidak menaruh dirinya pertama, dan Allah kedua – apakah kamu melihat perbedaan antara Sayyidina Musa (as) dan Sayyidina Muhammad (saw) – mengapa Sayyidina Muhammad (s) Paling Sempurna di antara yang sempurna, Rasul Terakhir, Yang Terpilih? Dia tidak pernah menaruh siapapun, dirinya atau yang lain, di depan Tuhan nya. Dia berkata, “La tahzan, ya Abu Bakr. `Innal Laha ma’ana.” Allah bersama kita!

Sayyidina Musa (as), apa yang dikatakannya? `Inna ma’iya Rabbi sayahdi – “Saya bersama Allah.” Jadi dia menempatkan dirinya di depan. Jadi apa yang dikatakan Allah kepadamu dalam Suratul Faatiha? `Iyyaka na’budu. “`Iyyaka” – langsung. “Na’budu” Dia menaruhnya setelahnya. Dia tidak mengatakan Na’budu `iyyaka. Nabi Sayyidina Muhammad (saw) sempurna, jadi segala sesuatunya begitu sempurna. Dia menyebutkan Allah terdahulu, kemudian kita setelahnya. Jadi Dia menyebut Diri Nya Sendiri sebelum mencapai `Iyyaka na’bud wa `iyyaka nasta’een, Dia menyebutkan semua Sifat/Attributes Nya – Alhamdulillah, Rabbil ‘aalameen, ar-Rahman, ar-Rahim, Maalik Yawmid Deen. Dia menjelaskan dan menyebutkan, dan memanggil, dan memanggil Diri Nya Sendiri, dan mengingatkan kamu tentang Diri Nya, kemudian Dia masih mengatakan, Aku Pertama, kamu kedua. `Iyyaka – Engkau, Ya Rabbi, “na’budu” – kami bersembah. Jadi mereka menaruh ‘ibaada setelah menyatakan KeEsaan Allah melalui `Iyyaka. `Iyyaka adalah deklarasi dari kamu, KeEsaan Allah, kemudian datanglah persembahan. Itu artinya, sebelum persembahan, kamu harus paling sedikitnya mengatakan “La `ilaaha `illal Lah, Muhammadan Rasul Allah (s).” Itu artinya, jika kamu mengatakan “La `ilaaha `illal Lah, Muhammadan Rasul Allah (s) dan tidak mempercayainya secara benar, maka ‘ibaada kamu tidak dipertimbangkan. Itulah mengapa kamu harus pertama tama mengatakan, dengan yakin, bahwa “Engkau adalah Tuhan saya, saya percaya kepadamu ya Rabbi – Engkaulah Satu Satu nya yang saya patuhi. Saya patuhi – saya memuja Engkau.” Itu, akan diterima Allah. Itulah mengapa “na’budu” datang setelah “`Iyyaka.” Dan  “`Iyyaka na’budu” datang setelah lima Sifat yang berbeda yang Allah (swt) sebutkan sebelum mencapai “`Iyyaka na’budu wa `Iyyaka nasta’een.”

Subhanallah.

Dan Akrama berkata bahwa O jameema dhukkira fil Qur`aani `innal ‘ibaada – apapun yang disebutkan di dalam al Qur`an Karim tentang peribadatan, atau ‘ibaada, menandakan tawheed. Setiap tempat kamu mendapatkan ‘ibaada itu disebutkan, itu menandakan  tawheed. Dan apapun yang datang ke al Qur`aan Karim dari tasbih, tahmid  dan tahleel, itu disebut di dalam shalat. Ibn ‘Abbas (ra) qaal – dia berkata bahwa Jibril (as) berkata kepada Sayyidina Muhammad (saw), “Ya Muhammad katakan ‘Iyyaka na’bud.” Itu artinya Engkaulah yang kami harapkan dan (tempat)  memohon dan (tempat) meminta, tiada siapapun lainnya dalam persembahan. Dan Allah (swt), menurut Ibn ‘Abbas (ra), bahwa dia berkata kepada Nabi (saw), dia mencampurkan `Iyyaka na’budu – kamu tahu na’budu ‘ibaada, Dia menaruh kata ganti nama “noon”. Dan noon menandai siapa? Kita. Jadi Allah (swt) menghendaki baraka untuk ‘ibaad Nya. Jadi Dia menyebutkan mereka bersama Nama Nya. Dia memuliakan mereka dengan menyebutkan mereka di dalam Suratul Faatiha, ketika mereka bilang “Ya Rabbi,” Engkaulah, yang kami sembah. Dia mempersilahkan mereka, sebagaimana Allah meletakkan La `ilaaha `illal Lah, Muhammadun Rasool Allah (s) – sebagaimana Dia mengangkat nama Muhammad (s) bersama Nama Nya. Dia meninggikan dalam Sooratul Faatiha, ‘ibad itu dengan meletakkan Nama Nya setelah menyebutkan `Iyyaka. Ini menunjukkan Ya Rabbi, kami menyembah agar supaya kami mendapatkan baraka itu – itu “`Iyyaka na’budu wa `Iyyaka nasta’een.” Paham? Atau saya akan mengulang.

“`Iyyaka na’budu wa `Iyyaka nasta’een” – “Kami mencari pertolongan Mu, kami mencari untuk menjadi ‘ibaada” Mu. Allah dapat saja tidak mengatakan itu! Dia bisa saja berkata “Maalik Yawmid Deen. `Ihdinas Siraatil Mustaqeem, Sirat alladheena an’amda ‘aleihim. Namun Dia meletakkan itu “`Iyyaka na’bud wa `Iyyaka nasta’een.” Itu artinya dengan Engkau – oleh Engkau, dari Engkau, ya Rabbi ya Allah. Kami mencari Engkau untuk menolong kami dalam persembahan kami kepada Mu. Itu bukan oleh diri kami sendiri yang membuat kami bisa melakukan ibadah. Itu melalui Engkau! `Iyyaka na’budu wa `Iyyaka nasta’een. `Ay Nasta’een ‘ala ‘ibaadatika bika. Kami berpikir (tentang) ‘ibaada (kepada) Mu oleh Engkau. Kami tidak dapat melakukan (itu sendiri), sebagaimana Nabi (saw) berkata , “La muhseetanaa`an ‘aleik. `Anta kama `athnaita ‘ala Nafsik. Taqlid – meniru/tiruan. Kami tidak dapat memuja Engkau sebagaimana Engkau layak dipuja. Kami memuja Engkau sebagaimana Engkau menginginkan Engkau dipuja. Oleh Diri Mu. Di sini `Iyyaka na’budu wa `Iyyaka nasta’een – Ya Rabbi, kami mencari Engkau, untuk menyembah Engkau dengan Engkau membantu kami dalam persembahan itu, agar supaya kami dapat membuat persembahan yang bagus. Taqlid emosi. Agar supaya untuk meninggikan kami kepada level itu, untuk mencapai Hadhrat Ilahiyyah – untuk mencapai sebuah Hadhirat untuk mu`min yang tidak dicapai orang lain, dengan membaca Suratul Faatiha. Dan Allah (swt) meletakkan banyak sekali rahasia di dalam nya. Dan itulah mengapa itu dijadikan wajib (dibaca dalam shalat) menurut semua mahdzab – kamu tidak dapat shalat tanpa pembacaan Suratul Faatiha. Kamu dapat shalat tanpa membaca surat apapun setelah al Faatiha atau bahkan ayat apapun setelah al Faatiha. Namun kamu tidak dapat – shalatmu tidak sempurna jika kamu tidak membaca al Faatiha dalam setiap raka’at. Mengapa? Karena Allah ingin memberi kita barakah dari itu semua – untuk mengangkat kita. Untuk mengatakan, “Kamu mencari Aku melalui persembahan? Dan bukan persembahan mu! Kamu harus mencari pertolongan Ku, melalui “`Iyyaka nasta’een” untuk kembali kepada “`Iyyaka na’budu.” Melalui isti’aama Mu, melalui pertolongan Mu, melalui Engkau, melalui cara yang Engkau kehendaki Engkau disembah, kami memohon persembahan itu, Ya Rabbi. Faham?

Dan itulah sebabnya dianjurkan, dan Nabi (saw) menganjurkan Muslim untuk shalat dalam jama’at. Karena Yad Ullahi ma’al jama’at. Ketika Imam membaca, dan semua orang mengatakan “Amin,” Allah tidak menolak du’a jama’at itu – al-Faatiha adalah segala du’a.

Dan Allah (swt), ta’dheem tertinggi kepada Allah (swt) dari ‘abd adalah dengan pemujaannya – dengan pemujaan ‘abd itu. Itulah sebabnya Dia mengisyaratkan (kata ini tidak jelas) dalam Suratul Faatiha. Dan ta’dheem akthar – untuk membuatnya lebih besar, Dia menambahkan kepadanya al-noon – kata ganti nama, agar supaya untuk menyatakan bahwa kita semua (adalah) “na’budu,” dalam Suratul Jama’a, karena Dia berkata “`Iyyaka na’budu.” Dia tidak mengatakan “`Iyyaka `a’budu.” Namun ketika kamu membaca al Faatiha, apa yang kamu katakan? “`Iyyaka na’budu.” Dalam menyebutkan bentuk jamak dari ‘ibaada, seperti jika “Semua kita, kita menyembah Engkau, wahai Tuhan kami.” Kamu tidak mengatakan “`Iyyaka `a’budu wa `Iyyaka `asta’een,” dengan kalimat bentuk tunggal. (Karena alif menyatakan bentuk kata tunggal orang pertama, sementara noon menyatakan bentuk jamak orang pertama) Allah membuatnya untuk memberi tahu kamu bahwa “Aku suka jamak/jama’ah ketika kamu memanggil Aku.” Dan itulah sebabnya maajala faqawmun yatroom Allah `ila habathum al-malaa`ika – Allah menyukai sekelompok orang duduk bersama. Dan itulah sebabnya Salatul Jama’ harus bersama – dan semua mengatakan “`Iyyaka na’bud.” Dalam bentuk jamak! Jadi jangan shalat sendirian, karena itu akan menjadi tunggal – Allah menghendaki nya dalam jama’ah, dan indikasi di dalam Suratul Faatiha. Yad Ullahi ma’al Jama’a. Tangan Allah, (ini artinya Kuasa Allah) adalah bersama Jama’a. Jadi Allah menghendaki kita untuk berada dalam Jama’a, dan isyaratnya berada dalam Suratul Faatiha, dengan mengatakan “`Iyyaka na’budu,” bukan berkata “`Iyyaka `a’bud.” Faham? Allah Allah.

Dan Allah menunjukkan Kemurahan Nya dengan membuat semua orang menyembah Nya! Kamu tidak dapat menjadi Sang Pencipta, Allah adalah Sang Pencipta, karena Dia berkata dalam `ayah ini, “fa kuntum `amwaatan fa `ahyaakum – kamu mati, dan Allah menghidupkan kamu. Itu memiliki dua makna. Bahwa Allah memberimu kematian, dan Allah membawa kamu kembali hidup. Tak satupun dapat melakukan itu. Dan kamu memiliki sebuah jantung yang mati, dan Allah akan meremajakan (menghidupkan) jantungmu dengan spiritualitas.

Dan Allah (swt) telah memberi kamu kecukupan kebutuhanmu pada waktu yang lalu, mencukupimu sekarang, dan terus menerus mencukupimu di waktu mendatang. Dan itulah sebabnya abdi memiliki level ruang yang berbeda – mereka memiliki “masa lalu, masa kini, dan masa datang.” Di masa lalu, Allah membawa kamu dari ‘Adam – ketiadaan – menjadi keberadaan. Dan Dia membawa kamu dari mati sama sekali, kamu tidak ada, kamu tidak berdaya, tiada! Bodoh / tidak tahu apa apa (Ignorant). Dia membawa mu kepada apa? Wujud, kepada keberadaan. Dan Dia memberi kamu `ayaat, hidup. Dia memberimu qudra –Dia memberimu kekuatan/kuasa. Dia memberimu ilmu  melalui Qudra Nya. Dan dengan ini, jika kamu mengikuti jalan yang Dia tuangkan ke dalam jantungmu, dari tajalli ini, dari barakah ini, dan kamu tidak menyelubungi dirimu sendiri dengan ‘amil buruk, di masa mendatang, Allah (swt) akan membuka bagimu semua pintu mushaahada. Dan tidak akan meninggalkan kamu, namun Dia akan menghiasi kamu dengan siffatur Rahman, dengan siffatur Rahim, dan di masa mendatang akan menghiasi kamu dengan siffat Maalik Yawmid Deen.

Semoga Allah (swt) mengampuni kita, dan semoga Allah (swt) mendukung kita, kita sampai kepada uraian yang lebih rinci dan berbeda dari `Iyyaka na’bud wa `Iyyaka nasta’een, di mana Imam al-Ghazaali, Hojatul Islam, menyebutkan dalam buku nya al-‘Arba’een, terdapat sepuluh kepercayaan yang berbeda, dan sepuluh uraian yang berbeda dari ‘ibaada. Dan mungkin akan memerlukan waktu yang lebih banyak, jadi kita akan sisakan itu untuk pertemuan berikutnya insha`Allah, jika Allah memberi kita umur dan ijin bagi kita. Wa min Allahi at-Taufiq bi hurmatil Faatiha.

(akhir sessi)

(sessi berikutnyaJ)

Kita katakan dalam sessi sebelumnya bahwa Hojatul Islam telah membagi dalam kitabnya al Arba’een, kepercayaan ada sepuluh, dan peribadatan (ada sepuluh juga) – “`Iyyaka na’budu wa `Iyyaka nasta’een” — `Iyyaka na’budu – peribadatan adalah sepuluh  kategori, dan `Iyyaka nasta’een artinya mohon pertolongan Allah (swt), itu artinya kita harus percaya kepada (adanya) Allah – dan apa yang harus kita percayai tentang Allah? Terdapat sepuluh (hal). Jadi kepercayaan kita kepada Allah (swt) tergantung kepada sepuluh issue (pokok persoalan) di dalam Islam – dan salah satu dari mereka itu adalah, pertama percaya kepada kelestarian, sebelum kelestarian sampai ke azal ‘abad – sesudah kelestarian. Karena Dzat Allah (swt). Itu artinya, ‘azzatul ‘azaliyya, ‘adhdhat al-`Ilahiyya. Itu artinya, Dzat, kamu tidak dapat menguraikan/ menjelaskan asal muasalnya, kamu tidak dapat menjelaskan akhirnya. Kita katakan ‘azaly ‘abady – iti artinya, tiada awal, tiada akhir. Informasi itu, ilmu itu, khususnya– Allah tahu tentang Diri Nya Sendiri, dan tak satupun mengetahui tentang Allah (swt), namun kita harus percaya bahwa Dia adalah sebelum lestari sesudah lestari, tak satupun tahu selain itu. Sebagaimana Dia menjelaskan tentang Diri Nya Sendiri, ketika Dia berkata “Huwal `Awwalu, Dia adalah Sang Awal, Huwal `Aakhiru – Dia adalah Sang Akhir, Huwaz Zaahiru – Dia adalah Sang Dhahir, Huwal Baatin – Dia adalah Sang Batin. Dia adalah yang pertama untuk segala sesuatu  yang ada, dan Dia adalah Sang Akhir untuk tindakan Nya dan Sifat Nya. Itu artinya, tiada sharik – La shareeka Lahu. Dan itulah sebabnya Dialah yang berhak disembah Sendirian. Tiada satupun lainnya dapat disembah karena Sifat ini yang Dia bawa – Huwal `Awwalu wal `Aakhiru wadh Dhaahiru wal Baatin. Waz Zaahir – az-Zahir berarti Tanda Tanda Nya dapat dilihat di manapun oleh ciptaan Nya. Kamu mengetahui Tuhan mu dari ciptaan Nya. Siapa yang menciptakan ini (menunjuk satu barang), Siapa yang menciptakan itu? Siapa yang menciptakan alam semesta ini, Siapa yang menciptakan bintang bintang? Perhatikan ketika Sayyidina Ibrahim (as) memandang ke bintang bintang itu, dia berkata “Yang satu ini adalah Tuhanku,” seperti yang telah kita jelaskan sebelumnya. Kemudian dia berkata, “Bukan, itu menghilang.” Bagaimana Tuhan ku dapat menghilang? Dia memandang rembulan, kemudian itu menghilang. Dia memandang ke matahari, kemudian itu menghilang. Kemudian dia berkata, “Saya harus menghadapkan wajahku kepada Satu itu yang tidak dapat dilihat. Namun Tanda Tanda Nya dapat dilihat – Sang Satu yang menciptakan langit dan bumi. `Inny wajahtu wajhiya lil ladhy fataras samaawaati wal ard. Hanifan Musliman wa maa `ana minal mushrikeen. Jadi Dia adalah az-Zaahir – itu artinya Tanda Tanda Nya dapat dilihat. Dia adalah al-Baatin… di dalam Ilmu Nya. Tak satu pun dapat mengetahui ketidak terlihatan Nya– Sang Maha Ghaib. Dia memiliki Ketidak Terlihatan. Apapun ilmu yang telah kamu capai, kamu masih bukan apa apa. Itu bukan apa apa. Apapun yang diberikan Allah (swt) kepada Nabi (saw) dari ‘uloomul `Awwaleen wal `Aakhireen, dari ilmu Sebelum dan Sesudah, dalam `Isra` and Mi’raj, itu hanyalah seperti setetes di dalam Samudera dari Yang Tak Terlihat.

Itu yang pertama – yang harus kita percayai dalam Dzat Nya – Dzat Sebelum Awal dan Sesudah Akhir, yang telah kita bahas. Kedua, kita harus memberi Dia At-Taqdis – untuk memberi Dia uraian (sebagai) Sang Maha Suci – bahwa tak satupun dapat menjadi suci kecuali Allah (swt). Dan ketika sesuatu adalah Maha Suci, itu artinya adalah Maha Sempurna. Itu atinya bahwa Kesempurnaan adalah (hanya) untuk Allah (swt). Itu artinya tiada sesuatupun lainnya yang sempurna kecuali Dia, dan Dia adalah Sang Pencipta. Allah memberikan kesempurnaan kepada Sayyidina Muhammad (s), di antara ciptaan. Dan itu adalah di dalam ciptaan! Dan Allah adalah Sendirian, Sang Penguasa, Yang tidak dapat menerima kurang, tidak dapat menerima noda sedikitpun, segala sesuatu yang mengurangi Kebesaran Nya, Allah tidak akan pernah menerimanya. Allah selalu Maha Besar – Maha Besar, dan Paling Besar, dan Satu Yang Maha Sempurna di dalam Kemahabesaran Nya. Itulah yang kami maksud dengan at-Taqdis – bahwa tiada satupun dapat mengurangi Keindahan Nya, Keagungan Nya, Kesempurnaan Nya – tiada satupun dapat menjatuhkan Nya. Kita, ciptaan, apapun dapat menjatuhkan kita. Namun bagi Allah, tiada satupun dapat menjatuhkan Taqdis Nya, Kesucian Nya.

Ketiga adalah Qudra Nya. Kepercayaan ketiga yang harus kita pelihara adalah Qudra Nya. Itu artinya segala sesuatu yang tidak dapat terjadi, dapat terjadi dengan Kuasa/Perintah Allah (swt). Segala sesuatu yang tidak mungkin, akan ternjadi jika Allah menghendaki itu terjadi – Itu artinya, al-Qudra ash-shaamila lil mumkinaatsegala sesuatu yang (shaamila artinya “seluruhnya”) Itu artinya, bukan apa yang dapat kamu bayangkan, namun apa yang Allah kehendaki – dan kamu tidak akan mendapat ilmu itu dari yang ghaib – apapun yang Allah kehendaki terjadi, itu akan terjadi. Itulah Qudra itu. Kuasa Absolute Sempurna yang dimiliki Allah, dapat setiap saat digunakan oleh Nya – itu bukan masalah.

Keempat, al-‘Ilm – Ilmu. Ilmu yang melingkupi/mencakup setiap ilmu – di dunya, di aakhira, sebelum lestari dan setelah lestari. Ilmu Nya adalah bersama dengan salah satu Sifat Attributes Nya – al-‘Aalim. Dia mengetahui segala sesuatu. Kamu harus percaya bahwa Allah tahu segala sesuatu – ini adalah kepercayaan Muslim. Dia bahkan tahu … Dia memiliki ilmu, bahkan tentang species terkecil yang ada di alam semesta ini yang dapat kamu bayangkan, dan ilmu Nya juga melampaui … kamu, hal hal yang masuk ke jantungmu dan yang tidak pernah diungkapkan. Allah ‘Aalim wa Muheet bil hawaajiz wal khawaatir, wal `afkaar wad-Damaa`ir. Kesemua ini, apa yang kami katakan dalam bahasa Arab – segala sesuatu yang dapat kamu bayangkan dalam pikiran kamu, atau otak kamu, atau jantung kamu – Allah mengetahuinya. Bukan hanya tentang mu saja – untuk setiap ciptaan. Dan Allah bahkan tahu setiap gerakan spesi tunggal – Allah mengetahui tentang itu dengan Ilmu Nya – Sifat/Attribute al-‘Aalim.

Kemudian, al-‘Iraada, Kehendak Nya. Kemudian kita harus percaya bahwa Allah (swt), Kehendak Nya adalah di dalam setiap manusia, dalam setiap ciptaan yang memiliki nyawa dan tidak bernyawa. Di bumi dan langit. Dia dunya dan `aakhira. Dan menurut Kehendak Nya, segala sesuatu akan muncul/menjelma. Pada saat di mana Dia menghendaki itu muncul. Dan itu menghilang pada saat di mana Dia menghendaki itu menghilang. Dan tiada satupun akan saling menghalangi/interfere. Dia adalah Maha Tahu, dan Dia adalah Maha Perancang, melalui Kehendak Nya, untuk setiap ciptaan yang Dia ciptakan, untuk setiap ciptaan bernyawa ataupun tak bernyawa di alam semesta ini, Yang tidak memiliki awal dan tidak pula akhir – Allah (swt), sesuai dengan Kehendak Nya, segala sesuatu setiap saat telah dirancang. Dan Dia tidak memerlukan untuk merancang – Kehendak Nya datang/muncul, disitulah itu, rancangan itu ada di sana. Itu muncul. Kehendak Nya datang, dan apapun hilang. Allah tidak memerlukan, seperti kita, untuk mengumpulkan apa apa dan membuat rencana, dan meletakkan ini di sini dan menaruh ini di sana, dan menyatukan keduanya itu dan melihat bagaimana itu berkembang. Kun faya kun.

Kemudian, Allah (swt) memiliki as-Samu’ wal-Basar. Huwas Sami’ wa Huwal Baseer. Dia Maha Mendengar, dan Dia Maha Melihat. Tak satupun dapat menghalangi Pendengaran Nya. Tak satupun dapat menghalangi Penglihatan Nya. Dia melihat siapapun, dalam setiap saat. Dia melihat seluruh alam semesta, pada setiap saat, Dia adalah Pendengaran, Dia adalah Penglihatan. Dan pada setiap saat, Kehendak Nya ada di mana mana, pada setiap saat Kuasa Nya ada di mana mana, Kekuatan Nya ada di mana mana. Itu tidak dapat digambarkan – itu diluar jangkauan pikiran/akal. Allah Akbar. Kebesaran Allah (swt). Tiada kegelapan yang bisa mencegahnya – itu artinya petang atau kegelapan – tidak dapat mencegah Penglihatan Nya. Dia tidak memerlukan telinga untuk mendengar. Dia tidak memerlukan mata untuk melihat. Allah dapat Melihat dan Mendengar. Pada setiap saat Dia Mendengar. Setiap saat. Bukan “sebarang saat,” “setiap saat.” Pada setiap saat, Dia adalah as Sami’, al Baseer. Dia Maha Mendengar, Dia Maha Melihat. Jadi kita harus berhati  hati – Allah melihat kita, dan Allah mendengar kita – setiap saat – apa yang kamu kerjakan, apa yang kamu katakan, bagaimana kamu marah, bagaimana kamu membentak, bagaimana kamu menyumpah, bagaimana kamu curang, bagaimana kamu menipu, bagaimana kamu mencuri, bagaimana kamu menyogok, bagaimana kamu melakukan ini dan melakukan itu. Segera setelah pertemuan/sesi ini, kita melupakan semuanya. Dan Allah Melihat itu, Allah Mendengar. Ketika kita menuruni anak tanggga! Segera setelah kita menutup pertemuan ini, dan menyelesaikan, itu berubah. Bukankah begitu? Mengapa? Allah masih melihat kita dan mendengar kita! Itu artinya kita berada dalam masalah! Seperti kamu memelihara anak kamu – selalu memperhatikan kebutuhannya – Allah selalu memperhatikan kebutuhan seluruh ciptaan! Dan Mendengar kita, dan Melihat kita. Jadi kini telah ada tujuh (kepercayaan).

Kemudian, al-Kalam – Kalimat?Kata. Kalimat Nya tua sekali (azali). Al-kalaam al-‘azali al-qa`imu bidhaatihi la bisawtin kakalaamil khalq. Kalimat Nya ada bersama dengan Ada Nya Dia, tidak seperti percakapan dan kalimat manusia. Meskipun al Qur`an telah dibaca dan ditulis dan terpelihara – namun Dia adalah ‘azali. Kalimat ’Azali Allah yang telah berada di sama, dan itu berada di dalam Ilmu Nya. Dan para ‘ulama tidak dapat menjelaskan itu – mereka harus berhenti di situ, mereka tidak dapat maju lebih lanjut. Sayyidina Musa (as), Kalimul Lah, dia mendengar Suara Allah (swt), TANPA SUARA – karena kita tidak dapat menggambarkan Allah sebagai memiliki suara – TANPA SATU SUARA, dan tanpa satu huruf. Allah tahu bagaimana Dia mengungkapkan dan berbicara dengan Musa (as), bagaimana Dia memberi ilmu itu kepadanya. Musa (as) dapat menerima itu – kita tidak tahu bagaimana caranya. Tetapi kita tahu bahwa Allah (swt), Kalimat Nya ada di dalam Keberadaan Dia. Sama ‘azali nya dengan Dia.

Selanjutnya, kini kita berada di nomor sembilan, Tindakan Nya – Tak satupun di dunia ini dapat terjadi tanpa Kehendak Nya untuk itu terjadi – Dia menciptakan kegiatan itu untukmu. Jadi segala sesuatu di alam semesta ini terjadi jika Allah menciptakan kegiatan itu – sehingga itu dapat terjadi.

Dan kemudian, percaya pada Hari Akhir, dan percaya kepada kenabian, malaikat, kitab kitab suci. Itu adalah sepuluh kepercayaan yang diangkat dan diuraikan secara rinci oleh Hojatul Islam, Imamul Ghazaali – kita telah menjelaskan itu semua secara sangat ringkas – di dalam Tafseer “`Iyyaka na’budu wa `Iyyaka nasta’een.”

Sepuluh bentuk peribadatan yang berbeda yang ada di bawah “`Iyyaka na’budu wa `Iyyaka nasta’een” – itu artinya siapapun  yang membaca “`Iyyaka na’budu wa `Iyyaka nasta’een,” Allah akan menghiasi nya dengan hadiah dan tajalli dari sepuluh kepercayaan itu tadi. Itulah keuntungannya. Itulah sebabnya kita bilang bahwa tak seorangpun dapat memahami al Qur`an Karim. Namun pembacaan al Qur`an Karim adalah penting, karena Allah akan menghiasi kamu dengan tajalli yang datang bersama ayat ayat itu, dan rahasia di belakang ayat ayat ini – kamu akan dihiasi di dalamnya. Dan kamu akan berada di bawah tajalli itu di setiap saat – sepanjang kamu membacanya, akan datang lebih banyak tajalli.

Jadi sepuluh kepercayaan yang baru kami jelaskan secara ringkas itu tadi, Allah akan menghiasi kamu dengan sepuluh kepercayaan tentang Hari Pengadilan, ketika kamu mengatakan “Ya Rabbi, saya membaca ‘`Iyyaka na’budu wa `Iyyaka nasta’een,’ kamu akan tampak seperti jika kamu percaya ke pada sepuluh kepercayaan itu. Tajalli itu akan menyelimutimu.

Sepuluh peribadatan lainnya yang diuraikan setelah “`Iyyaka na’budu wa `Iyyaka nasta’een” ‘ammal ‘ibaadatul ‘ashr fa hiya, fas salah waz zakah, was sawm, wal Hajj, wa qiraa`atil Qur`an, wa dhikril Lah. Fas-salah – shalat, zakah, was-sawm, wal-Hajj, wa qiraa`aatil Qur`aan – pembacaan al Qur`an, wa dhikrul Lah – melakukan zikr, yang kita kerjakan. Dan ini adalah Imam Ghazali yang menyebutkan dhikrul Lah. Dia pisahkan/bedakan itu dari shalat, dan dia membedakan itu dari (membaca) al Qur`an. Jadi itu artinya dhikrul Lah adalah apa? Mengapa orang orang masa kini, dari kelompok pemikiran baru, para Wahhabis, mengapa mereka mengatakan, “Tidak ada dhikrul Lah, jangan mengatakan dhikrul Lah! Tidak ada apa apanya dalam dhikrul Lah.” Imam Hojatul Islam menyebutkan dalam kitab nya al-Arba’een – bil Arba’een – dia bilang, Shalat adalah berbeda, zakat adalah berbeda, sawm – berbeda, Hajj – berbeda, qiraa`atil Qur`an (pembacaan al Qur`an) – berbeda. Kemudian yang ke enam, dia bilang, “Wa dhikrul Lah.” Dan dia berkata “Wadh-dhikrul Lahi fi kulli haal.” Mengingat Allah dan memanggil manggil Tuhan mu setiap waktu, setiap saat, di setiap tempat, di setiap keadaan  di mana kamu berda. Itulah peribadatan yang ke enam.

Tujuh, talabul halaal – meminta makanan halaal atau segala sesuatu yang halaal – itu artinya apapun yang kamu lakukan haruslah halaal. Dan kemudian memberikan hak orang lain – itulah tujuh.

Dan delapan, wa huqooqus sohba – dan menjaga hak tetanggamu dan sahabatmu.

Sembilan, adalah untuk mengajak kepada yang baik, dan mencegah yang buruk. Al-`amr bil ma’roof wan nahi ‘anil munkar.

Wal ‘aashar – dan ke sepuluh adalah ittiba’us sunnah. Setelah kamu menyempurnakan kesemua ini – salat, zakat, sawm, hajj, qiraa`atil Qur`an, dhikrul Lah, talabal halaal, qiyam bi huqooqil Muslimeen, huqooqus sohba, al-‘amr bil ma’roof wan nahi ‘anil munkar – itu artinya pada yang ke sepuluh yang kamu ikuti sekarang, kamu benar benar pada jejak(tapak kaki) `ittiba`us sunnah – sunnah Nabi (saw). Wat-tiba’us sunnah adalah kunci untuk kebahagiaan, dan itu adalah tanda (adanya) Mahabbatul Lah (‘Azza wa Jal). Sebagaimana Allah menyebutkan di dalam al Qur`an Karim, `In kuntum tuhibboon Allah fat-tabi’oony, yuhbibkumul Lah. Jika kamu sungguh sungguh mencintai Allah, ikuti saya, Allah mencintai kamu. Dan ayat itu, “`In kuntum tuhibboon Allah fat-tabi’oony, yuhbibkumul Lah.” Dan sepuluh ‘ibaadat yang disebut menurut Hojatul Islam, adalah tercakup di bawah ayat “`Iyyaka na’budu wa `Iyyaka nasta’een.” Kamu akan dihiasi dengan sepuluh ‘ibaadat itu, baraka sepuluh ‘ibaadat itu, sepanjang kamu mengatakan “`Iyyaka na’budu,” “`Iyyaka na’budu,” “wa `Iyyaka nasta’een,” Allah akan menghiasi kamu dengan sepuluh kepercayaan itu, sebagaimana kamu percaya kepada mereka itu – Allah akan menghiasi kamu dengan sepuluh ‘ibaadat seperti (seolah) kamu telah menyempurnakan mereka. Itu akan datang setiap kali kamu membacanya – Allah akan mengirimkan tajalli itu kepadamu. Setiap saat kamu membacanya, itu adalah seperti seolah Allah memperpanjang saat itu menjadi keseluruhan kehidupanmu, seperti seolah kamu telah beribadah dari sejak kamu mengawali hidupmu sampai saat kematianmu secara demikian. Dan itu akan dihiaskan kepadamu ketika kamu membaca al Faatiha. Dan ketika kamu membaca al  Faatiha lagi, maka Allah memberi kamu tajalli itu juga, hadiah itu – sebagaimana seolah kamu beribadah sejak awal hidupmu sampai ke hari akhir mu. Jadi bacalah al Faatiha sepuluh kali, dan kamu akan mendapat sepuluh hadiah, seperti jika kamu beribadah dari awal hidup sampai hari akhirmu. Bacalah 100 kali, dan hadiahnya adalah 100 X juga. Itulah rahasia al Qur`an Karim, yang diungkapkan ‘awliya.

Semoga Allah mengampuni kita.

Dan “`Iyyaka na’budu,” ketika kamu membacanya dan berkata “`Iyyaka na’budu,” itu adalah sebuah busana – itu adalah sebuah ungkapa antara abdi dan Pemilik abdi tadi – itu artinya kamu menyampaikan ungkapan kepada sesuatu Yang memiliki kamu. Kamu bercakap kepada Nya, kamu berkata “`Iyyaka `a’budu” – “Saya adalah budak Mu! Saya adalah abdi Mu.” Itu artinya, di sini Tuhan, dan di sana adalah seorang abdi. Dan tidak terdapat tabir – ketika kamu menujukan kalimat/ungkapanmu, kamu harusnya melihat. Bila kamu tidak dapat melihat, itu artinya terdapat tabir yang menghalangi kamu. Dan tabir itu adalah Hijaabun nafs – tabir ego. Itu menutup hubungan antara kamu dan Tuhan kamu. Jika kamu dapat menyeberangi/menembusi tabir itu, wasala `ilal mushahada. Jika kamu dapat menyeberangi … fa `idha ‘abara min hijaaby Malikin nafs, wasala `ilal mushahada – jika kamu dapat menyeberangi tabir yang ditebar ego mu… kamu harus tahu ketika kamu mengatakan “`Iyyaka na’budu” bahwa Allah adalah Tuhan mu, dan kamu adalah abdi Nya. Namun bila kamu berpikir bahwa nafs mu adalah Tuhan mu, nafs itu akan memiliki kamu – nafs itu akan menghalangi/memblokir jalan mu untuk mencapai Hadhirat Ilahiyyah. Jadi ketika kendali ego terhadap kamu dibuang dari dirimu – itu artinya kamu telah menyeberangi tabir itu dan sampai di sisi lain dan membuang kendali ego, kamu akan menjadi berada dalam mushahada. Kamu akan berada dalam level penampakan. Maka kamu akan mendapatkan lebih banyak penampakan – secara lambat laun. Dan penampakan itu makin bertambah. Maka sepanjang kamu tidak memiliki penampakan – itu artinya kita masih berada dalam tabir ego – itu artinya kita masih berada dalam “hijaabun nafs.”

Sebagaimana Aba Yazid al-Bistami (QS) berkata di dalam salah satu penampakannya – dia berkata, “Ya Rabbi, bagaimana dapat saya mencapai Engkau?” – Kaifa sabeelu `Ilaika. Qaala lahu Rabbuhu “Da’a nafsaka wa ta’am” – Dia menjawab, “Tinggalkan egomu dan datanglah.” “Tinggalkan dirimu dan datanglah kepada Ku. Kamu dapat datang. Jika kamu tidak meninggalkan dirimu, kamu tidak dapat datang. Kamu menghendaki Aku? Okay, tinggalkan dirimu.” Dapatkah kamu meninggalkan dirimu? Allahu Akbar – Dengan cepat kamu menjadi marah! Dirimu memegang kendali, menguasai. Diri kita menguasai kita – dengan kuat, kamu tidak dapat bergerak.

Falin nafsy `arba’as siffat. Diri atau ego mu memiliki empat uraian – ‘ammara (‘ammaratil bis su` — selalu mendorong kamu untuk melakukan hal salah – ego yang memerintah), dan yang kedua, lawwama (ketika kamu melakukan sesuatu yang salah, kamu mulai menyesal, “Oh! Mengapa saya melakukan hal itu!?” Ego yang menyesali.) Dan ketika kamu menyesal, kamu mulai bertaubat, dan ketika kamu bertaubat, kamu mulai mempunyai inspirasi – mulhama. Ego ketiga adalah “mulhama.” Ketika kamu mempunyai inspirasi itu, kamu mencapai kepuasan al-mutma`inna – an-nafsul mutma`inna. Berbagai transisi posisi ego yang berbeda.

Jadi dibawah tajalli “`Iyyaka na’budu,” itu perintah kepada abdi adalah untuk mengingat Tuhan nya dalam empat Sifat/Attributes yang berbeda – ketika dia bilang “Ya Rabbi, `Iyyaka na’budu, dia harus mengingat Tuhan nya dengan al-`Iluhiyya war-Rububiyya war-Rahmaaniyya war-Raheemiyya. Al-`Iluhiyya adalah ketika dia mengatakan “Alhamdulillah.” Ar-Rububiyya adalah ketika dia mengatakan, “Rabbil ‘aalameen.” Ar-Rahmaniyya adalah ketika dia mengatakan “Ar-Rahman.” Ar-Raheemiyya ketika dia mengatakan, “Ar-Raheem.” Jadi ketika kamu mengatakan “`Iyyaka na’budu,” kamu harus mengingat di situ bahwa Dia adalah Tuhanmu, Dia adalah Allah, Dia adalah Rabb, Dia adalah ar-Rahman, Dia adalah ar-Rahim.

Jadi ketika kamu sampai pada “`Iyyaka na’budu,” ingatlah bahwa awalnya kamu mengatakan “Alhamdulillah,” Segala puji bagi Allah. Kemudian kamu mengatakan, “Rabbul ‘aalameen.” Kemudian kamu mengatakan, “Ar-Rahman.” Kemudian kamu mengatakan “ar-Raheem.” Ketika kamu mulai mengingat itu, kamu memuja Sifat/Attribute `Iluhiyya, `Ilah. `Ilah adalah Tuhan? Bukankah itu benar? Pertuhanan (Lordship). Kemudian kamu berterima kasih kepada Rabbul ‘aalameen, kamu berterima kasih kepada Nya karena telah menciptakan alam semesta ini – Rabbul ‘aalameen. Kemudian kamu mengatakan “ar-Rahman,” mengatakan thana`an wa tuthniy ‘aleih. Itu artinya kamu bukan (hanya) berterima kasih – itu adalah makna lain dalam bahasa Arab, bahwa kamu lebih dari berterima asih – kamu mengatakan “Ya Rabbi, kamu adalah ar-Rahman, Yang telah memberi rahmat kepada saya di dunia, dengan memuliakan saya dan mencukupi segala kebutuhan saya.” Kemudian, tamjeedur Rahimiyya, kepada KEBESARAN dari rahim Nya pada Hari Pengadilan dengan mengampunkan kamu. Dengan jazba – dengan daya tarik dari empat Sifat/Attributes Allah (swt) yang berbeda beda, Allah akan membuang semua tabir dari ego mu – empat tabir yang menghalangi kamu dari mencapai Hadhirat Ilahiyyah, ketika kamu mengatakan “`Iyyaka na’budu.” Jadi ketika kamu fokus dan bermeditasi pada apa yang kamu baca, Allah akan mengambil semua tabir dan membawamu kepada Hadhirat Ilahiyyah Nya. Dan dengan itu kamu akan mencapai, kamu akan secara sempurna … cahaya matahari pada ufuk jantungmu yang terbit, bersinar, membawa kamu pada Hari Pengadilan bersih dari segala dosa apapun, karena Allah (swt) adalah ar Rahman dan kata terakhir adalah “ar-Rahim.” Sebelum Maalik Yawmid-Deen datanglah Sifat/Attribute terakhir, Ar-Rahim, Kasih Sayang Nya akan mengampuni kamu. Kemudian datanglah, Maalik Yawmid Deen, Pemilik Hari Pengadilan – tidak terdapat satupun … Kamu akan selalu dimuliakan oleh Allah (swt). Dan Allah akan menjanjikan kamu, ketika kamu berkata “`Iyyaka na’bud wa `Iyyaka nasta’een,” itu artinya Allah berkata kepadamu dalam al Qur`an Karim di tempat (Surat) lainnya, Allah menjanjikan kamu – “Jika kamu mengingat Aku, Aku akan mengingat kamu.” Fadhkuroony, `Adhkurukum. “O hamba Ku, kamu mengingat Aku di al Faatiha, ketika kamu mengatakan “`Iyyaka na’budu wa `Iyyaka nasta’een, `Iyyaka na’bud wa `Iyyaka nasta’een – kamu mengingat Aku ketika kamu berkata “Alhamdulillah Rabbil ‘aalameen ar-Rahman ar-Rahim Maalik Yawmid Deen `Iyyaka na’bud wa `Iyyaka nasta’een.” Kamu telah memenuhi apa yang Aku katakan dalam al Qur`an Karim, “fadhkuroony `adhkurukum” – hari ini pada Hari Pengadilan, Aku akan mengingat kamu dan membawa kamu kepada Ku. Tajalli itu akan datang ketika kamu membaca Suratul Faatiha, seperti jika kamu hadir di Hari Perjanjian, dan Allah mengampuni kamu dan meraih kamu agat mendekat kepada Nya. Itulah sebabnya sangatlah penting – pembacaan Sooratul Faatiha. Wa min Allahit Tawfiq, insha`Allah pertemuan berikutnya, kita akan melanjutkan tafseer “`Iyyaka na’budu wa `Iyyaka nasta’een” sampai insha`Allah kita mencapai `Ihdinas siraatil Mustaqeem, namun terdapat lebih banyak lagi untuk dijelaskan. Wa min Allahit Tawfiq, bi hurmatil Faatiha.

About kekji

i am nothing and will stay that way. i live only to serve Allah SWT
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s