Surat Fatiha Tape 8

Tafseer Surat al-Fatiha (8)

Shaykh Hisham Muhammad Kabbani

A’udhu bil Lahi minash Shaytanir Rajim, Bismillahir Rahman ir Rahim

Nawaytul Arba’in, nawaytul I`tikaf, nawaytul khalwa, nawaytul ‘uzla, nawaytur riada, nawaytus suluk…, lil Lahi Ta’alal ‘Adhim.  Kita akan melanjutkan, insha`Allah, tafsir Suratul Faatiha, dan waktu terakhir kita berhenti pada —  kami menjelaskan beberapa (makna) Iyyaka Na’bud wa Iyyaka Nasta’een, dan saya akan minta Shaykh Mahmoud Sahib untuk membaca Suratul Faatiha lagi

A’udhu bil Lahi minash Shaytanir Rajim

Bismillahir Rahman ir Rahim

Alhamdulil Lahi Rabbil ‘aalameen

Ar-Rahman, Ar-Rahim

Maalik Yawmid Deen

Iyyaka Na’bud wa Iyyaka Nasta’een

Ihdinas Siratal Mustaqeem

Sirat alladheena an’amda ‘aleihim

Ghairil maghdoobi ‘aleihim walad daaleen.

Amin.

Sadaq Allahul ‘Adhim

Sadaq Allahul ‘Adhim, wa ballaghar Rasooluhul Karim, wa nahnu ‘ala dhaalika minash shaahideen ash-shaakireen, bi qalbin saleem.

Subhana Rabbika Rabbil ‘Izzati amma yaasifoon, was salaamun ‘alal mursaleen, wal Hamdulillahi Rabbil ‘aalameen.

Sebagaimana kami jelaskan pada waktu lalu, “Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’een,” Allah (swt) berkata bahwa Iyyaka, sebagaimana kami katakan, Iyyaka Na’budu – Dia tidak mengatakan “Iyyaka a’budu,” Dia bersabda dalam bentuk jamak untuk kita dengan menambahkan nun bukannya (hanya) alif – untuk menunjukkan bahwa itu adalah “Iyyaka na’budu” – itu artinya “Ya Rabbi, segala sesuatu yang Engkau ciptakan, bukan hanya saya sendirian – namun saya mengaku, dan saya menerima bahwa persembahan/peribadatan adalah (hanya) bagi Mu.  Dan saya menerima bahwa segala sesuatu di alam semesta ini harus mengatakan mereka harus menyembah / beribadah kepada Mu.  Dan itulah sebabnya disebutkan dalam bentuk jamak, dengan mengatakan “na’budu” bukannya “a’bud.”  Dan Dia bersabda, “Iyyaka na’budu wa Iyyaka nasta’een,” dan kalau kamu memperhatikan, Dia mengedepankan “Iyyaka na’budu” sebelum “Iyyaka Nasta’een”.  Untuk menunjukkan bahwa kamu tidak dapat (tidak boleh) datang dan meminta sesuatu dari Allah (swt) – “Iyyaka na’budu” berarti, dalam bahasa English (lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia), mari kita lihat terjemahan English (lalu dialih bahasakan ke dalam bahasa Indonesia) dari kalimat itu, dimana dikatakan, “Engkaulah yang kami sembah, dan Pertolongan Mu yang kami cari.”  Itu artinya, “adalah Engkau yang kami sembah.  Dan Engkau lah yang kami mohonkan bantuan Mu.”  Dia tidak mengatakan “Iyyaka nasta’een wa Iyyaka na’budu” setelahnya.  Dia meletakkan “Iyyaka na’budu” di depan untuk menunjukkan bahwa kamu tidak boleh mendatangi Allah (swt) seperti kamu datang tanpa mempersiapkan dirimu, kamu harus menata (to discipline) dirimu sendiri.  Bagaimana kamu menata dirimu sendiri? Jika kamu memohon sesuatu kepada Allah (swt), “isti’ana” artinya meminta sesuatu dari Allah (swt), mencari (meminta) sesuatu dari seseorang, setidaknya kamu harus datang kepada nya– bahkan untuk urusan dunya, jika kamu pergi kepada seseorang agar membantumu dalam urusan dunya, sedikitnya kamu membawa bunga dalam genggamanmu, atau kamu membawa cokelat (chocolates), atau kamu membawa bentuk hadiah lainnya– apa yang kamu pikir tentang Allah (swt)? Kamu datang kepada Allah tanpa wudhu, tanpa ghusl (mandi suci), tanpa shalat, dan kamu mengatakan “Berikan (kepada) saya,” mencari Dukungan Nya, Pertolongan Nya – jadi bagaimana kamu datang kepada Allah (swt)? Dengan apa? (jawaban jema’ah) Dengan apa?! (shalat) Dengan apa!!!! (Shalat!)  Katakan itu! Dengan apa? Dengan peribadatan yang penuh.  Dengan shalat.  Kamu tidak dapat datang langsung dan membuka pintu dan bilang, “Ya Allah, berikanlah kepadaku.” Bagaimana kamu mendekati Dia, jika kamu menghendaki sesuatu?  Saya mau mendengar itu!  (Hadirin menyebutkan jawaban mereka)  Dengan shalat! Dengan ber – ibadah! Dan bagaimana untuk beribadah? Dengan mengambil wudhu, membuat shalat dua raka’at, duduk, dan memohon Allah (swt) apa yang kamu inginkan.  Jadi setiap persembahan adalah ‘ibaada.  Jadi Iyyaka Na’budu – KAMU kita beribadah, Ya Allah! Setiap ‘ibada – kita bicara tentang tafsir Suratul Faatiha.  Kita tidak hanya membaca itu dalam shalat, itu dapat dibaca  setiap saat.  Dan Iyyaka Na’bud, kita menjelaskan itu secara umum.  Jadi ‘ibada apapun, kamu dapat mendekati Allah dengan tiap ‘ibaada.  Jadi membaca al Qur`an adalah ‘ibaada – kamu membaca al Qur`an dan kamu mendekati Allah (swt), memohon bantuan atau dukungan Nya.  Kamu berpuasa, beberapa orang bilang, “O Allah, saya membuat nadhir (nadzar), jika saya berhasil dalam hal ini, saya akan … saya akan berpuasa tiga hari.  Jadi kamu mendekati melalui …. Melalui apa?  Melalui puasa.  Beberapa orang bilang, “O Allah, jika saya mendapakan ini, saya akan memberikan ini kepada Mu– untuk para orang miskin saya akan membagikan uang ini.”  Ini adalah ‘ibada, hibah/infaq.  Jadi semua bentuk ‘ibaada, untuk mendekati, dapat diterima.  Allah bersabda dalam al Qur`an Suci, “Innal Laha wal malaa`ikatu yusalluna ‘alan Naby (s), Ya ayyuhal ladheena `aamanu sallu ‘aleihi wa sallimu tasleema.”  Apakah ini ‘ibaada atau bukan?  (Ya)  Itu artinya, berdoa untuk Nabi (s.a.w.), memuji  Nabi (s.a.w.), mendatangi pintu Nabi (s.a.w.), MEMOHON Allah s.w.t. melalui syafa’at Sayyidina Muhammad (s) adalah ‘ibaada.  Jadi kamu dapat mendatangi Allah (swt), memohon Dia sebagaiman dalam terjemahan mereka, “Dan Pertolongan Mu yang kami cari.”  Kita dapat mencari pertolongannya dengan mendatangi Nya melalui pujian rasul kesayangan Nya, Nabi Sayyidina Muhammad (s.a.w.), ini adalah (contoh) ibadah lainnya ‘ibada juga.  Dan itulah sebabnya mengapa Dia bersabda, ketika dia mengajari du’a, karena Nabi (s..a.w.) tahu rahasia ini – al Qur`an  Suci diungkapkan kepadanya!  Ketika dia mendatangi (didatangi?) orang buta itu – orang buta itu mendatanginya dan berkata “saya tidak dapat melihat,” dia berkata kepadanya, “Ya, saya ingin bisa melihat karena saya ingin datang dan shalat.”  Dia s.a.w. mengajarinya hadithul a’ma itu–hadith  yang sangat tersohor itu– Allah man yas’aluka wa tawajjahu `ilayka bi Nabiyyika Muhammad (s), Nabiyyir Rahma. Ya Muhammad `inny atawajjahu bika `ila Rabbi – Dia s.a.w., “Ya  Allah, saya datang kepada mu melalui Rasul kesayangan Mu Nabi Sayyidina Muhammad (s.a.w.).  Ya Muhammad (s.a.w.), Wahai  Muhammad (s.a.w.)! Nabi Rahmat, saya datang kepada Tuhanku melalui engkau, dengan syafa’atmu.  Ya Allah, berikanlah kepadaku!”  Disini dia mencari– Iyyaka Nasta’een.  Jadi artinya, melalui Nabi (s.a.w.), dalam al Faatiha, Allah telah menyebutkan “Datanglah kepada Ku melalui Muhammad (s.a.w.),”  karena itu adalah sejenis ‘ibaada.  Jadi melalui semua jenis ‘ibaada, kamu dapat mendekati Allah (swt), dan jenis ‘ibaada terbaik apabila kamu mengambil wudhu, kamu duduk, kamu shalat dua raka’ats dan duduk, dan membuat salawat pada Nabi (s.a.w.) dan datang kepada Allah (swt) – Allah akan menerima persembahan mu.

Dan sebagaimana diuraikan dalam tafseer, fa minal ‘ibaada as-salah, bila ghafla, was-sawm bila gheeba, was-sadaqa bila minna, wal Hajj bila `iraa`a, wal ghazu bila summa, wal ‘atiq bila ‘adhiyya, wadh-dhikr bila milaala, was-saa`irit ta’aaq bila affa.  Dia menjelaskan apa yang telah kita bahas.  Dia berkata, “Fa minal ‘ibaada as-salat bila ghafla – dia berkata, dari ‘ibaada adalah shalat bila ghafla – tanpa cuek.  Was-sawm bila gheeba – dan puasa tanpa gosip.  Ini adalah dari ‘ibaada.  Jadi sebelum kamu datang kepada “Iyyaka Nasta’een,” sebelum kamu memohon kepada Allah (swt) untuk sesuatu, kamu harus menyempurnakan dirimu sendiri.  Banyak orang berkata, “Oh, saya sudah memohon, Allah tidak menanggapi permohonan saya.”  Mengapa?  Karena kamu tidak menyempurnakan dirimu.  Dan itulah sebabnya direkomendasi kan – jika kamu memerlukan sesuatu, pergilah ke seorang siddiq dan mintalah dia untuk mendoakan kamu, karena du’a nya diterima, karena orang siddiq itu telah  menyempurnakan dirinya, begitulah dikatakan dalam tafseer.  Fa minal ‘ibaada as-salah bila ghafla – untuk shalat kepada Allah tanpa cuek (dhalim).  Untuk berpuasa tanpa gossip, was-sadaqa bila minna – untuk memberikan sedekah tanpa bilang, “O saya memberimu sedekah.”  Wal Hajj bila `iraa`a – dan pergi hajji tanpa membanggakan diri, tanpa pamer.  Wal ghazu bila sum’a – untuk pergi jihat, untuk ghazu, tanpa bilang “Aah, saya pengin tersohor, saya pergi berjihad, saya lakukan ini, saya lakukan itu.  Jadi kamu tidak boleh menonjolkan diri sendiri.  Kamu tidak boleh berbangga diri.  Wal ‘itiq bila ‘adhiyya – dan tidak membebaskan seseorang kemudian melukainya.  Wadh-dhikr bila milaala – dan untuk berdzikir tanpa menjadi … bagaimana kamu menyebutnya? Malla – merasa payah.  Oh, terlalu banyak, dan kamu menjadi … apa yang kamu katakan?  Menguap (angop, karena merasa ngantuk atau lelah).  Segera setelah kita memulai dzikr, semua orang mulai menguap.  Mengapa?  Shaytan datang – inilah milaala.  Payah, eh?  Mal artinya, menjadi bosan, meresa kekenyangan.  Buatlah dzikr tanpa menjadi merasa bosan atau kekenyangan.  Lawanlah ego mu.  Jika ego mu mengatakan, “Jangan, jangan berdzikr – kamu buatlah dzikr.”  Was-saa`irit ta’aq bila affa – dan segala bentuk persembahan lainnya, tanpa memandangnya itu terlalu banyak bagimu.  Apapun yang untuk Allah (swt), sangat dianjurkan.

Dan semua ini sebelum memohon “Pertolongan Mu kami cari.”  Itu harus dilakukan sebelum kamu mendatangi Pintu Nya, ke Pintu Allah, dan berkata, “Ya Rabbi, bukalah Pintu Mu untuk ku.”  Kamu harus menyempurnakan dirimu sendiri lebih dulu sebelum semua ini.  Siapa yang melakukan ini? Ketika kita shalat al Faatiha, dan berkata, “Ya Rabbi, Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’een…”   Segera setelah kamu mengatakan “Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’een.”  Segera setelah kamu mengatakan “Iyyaka Na’budu” semua adab sempurna itu harus siap dalam dirimu, kamu membuang gosip, kamu membuang sikap tak peduli/cuek, kamu buang `iraa’a – membanggakan diri.  Kamu buang kemasyhuran.  Allah segera menghiasi dirimu memberimu busana dengan tajalli ini, akan mendatangi kamu dengan penuh, segera setelah kamu mengatakan, “Iyyaka Na’budu” dalam shalat.  Kamu kira kata kata ini tidak memiliki rahasia?  Segera setelah kamu mengatakan “Iyyaka Na’budu” dalam al Faatiha, Allah menghiasi (mendandani) kamu.  Jika seorang siddiq, atau pada Hari Pengadilan (nanti), orang akan melihat kepadamu – mereka yang membaca al Faatiha, mereka akan bersinar/ berkilau denga busana ini, busana spiritual, dengan cahaya yang Allah (swt) bungkus dri mereka.  Sebanyak kamu membaca al Faatiha, sebanyak kamu mendapatkan busana dari waktu ke waktu – dia menguap.  (Sahib tertawa).  Dia menguap (menunjuk seseorang) – seseorang menguap.  Kamu jangan menguap! Allahumma Salli ‘ala Sayyidina Muhammad (s.a.w.).

Dan kemudian kami jelaskan waktu yang lalu sepuluh aqsaamul ‘ibaada yang berbeda, se bagaimana disebutkan, itu adalah sepuluh jumlahnya.  Itu telah kami jelaskan pada waktu yang lalu.  Kami telah menjelaskan dua jenis ‘ibaada.  Beberapa di antaranya kita miliki imannya – dan telah kami jelaskan.  Dan yang lainnya adalah sifat peribadatan, dan sudah kami jelaskan tentang mereka.  Jadi saya hanya akan menyebutkan mereka itu secara cepat, tanpa penjelasan – bahwa iman, beriman kepada Allah (swt), beriman bahwa Dia adalah Yang Pertama, Dia adalah Yang Terakhir – Huwwal `Awwal, wal `Aakhir – beriman bahwa Dia adalah Zaahir – Dia adalah Extern (Luar), Dia adalah Baatin (the Intern), beriman kepada Kuasa (Qaddar) Nya, dan ‘Ilmu Nya, beriman kepada Kehendak (‘Iraada) Nya, , beriman bahwa dia adalah as-Sami’ wal Basir – Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat – itulah yang perlu kita imani.  Kemudian kita beriman bahwa Dia adalah Maha Adil, dan beriman kepada Hari Akhir.  Dan beriman kepada para rasul dan para malaikat Nya.

Al-‘ibaadat – dan mereka juga ada sepuluh.  Peribadatan – dan mereka itu adalah shalat, zakah(t) (sedekah), sawm (puasa), hajj, qiraa`atil Qur`an, pembacaan al Qur`an, dhikrul Lah – jadi Dia memisahkan dalam tafseer antara qiraa`atil Qur`an dan dhikrul Lah.  Karena orang bilang bahwa qiraa`atil Qur`an adalah (juga) dhikr.  Namun dalam tafseer, tidaklah begitu, qiraa`atil Qur`an adalah terpisah, dhikrul Lah adalah sesuatu yang lain lagi.  Talabul halal, wal qiyam bi huqooqul Muslimeen – untuk meminta yang halal dan mendatangi dan menolong Muslim dalam urusan mereka.  Wa huqooqus sohba – untuk memelihara persahabatan, tidak membuat temanmu menjadi musuhmu, dan ‘amir bil ma’roof wa nahy ‘anil munkar – mengajak kepada kebaikan dan menolak keburukan.  Dan ke sepuluh adalah I`tiba` `us sunnah – untuk mengikuti sunnah  Sayyidina Muhammad (s.a.w.).  Ini adalah wa huwa muftahus sa’ada wa `imaaratu mahabbatil Lah – kunci kebahagiaan, dan itu adalah pintu bagi Cinta Allah (swt).  Iyyaka Na’budu ini – jika kita memeliharanya seperti itu, pada saat itulah kita akan berhasil, insha`Allah.

Ditanyakan … Was su’y ila wata’, `ayyu waktin unzilat Faatihatul Kitaab.  Qaala unzilat bi Meccata Yawmal Jumu’aty, Karaamatan `akramal Lahu biha Muhammad (‘aleihi afdalus salaati was salaam), wa kaana ma’a sab’atu ‘aala fi maalak.  Ata’ ditanya kapan terjadinya Faatihatul Kitaab, ketika Faatiha diungkapkan kepada Nabi (s.a.w.) dan di mana– dia berkata, Meccatul Mukarrama pada hari Jum’at, dan Allah (swt) berikan itu (al Fatiha) kepada Sayyidina Muhammad (s.a.w.), membukanya.  Dan ketika itu (al Fatiha) datang, itu datang disertai 7,000 malaikat.  Ketika Jibril (as) datang dengan al Faatiha, dia datang bersama 7,000 malaikat.  Dikatakan, juga – wa ruya ‘an Na’eedan qadimat minash Sham li Abi Jahl – terdapat unta yang datang dari Damascus membawa dagangannya Abu Jahl.  Dan terdapat 7 divisi unta yang berbeda. Dan Nabi (s.a.w.) dan para shahabatnya hanya menonton, dan wa aktharus sahaaba – wa kaana Rasul Allah (s) wa Ashaabihi yandhuroona `ilayha wa `aktharus Sahaaba bihim joo’in wa ‘arad.  Nabi (s.a.w.) dan para Sahaabanya hanya menonton pada unta unta itu yang datang dalam 7 caravan yang berbeda untuk Abu Jahl, padahal para Sahaba lapar, dan mereka … mereka bahkan tidak memiliki baju yang pantas untuk dipakai, dan Nabi (s.a.w.) menjadi berpikir “….mereka ini para Sahaaba saya, teman teman dekat saya, Ya Rabbi, mereka ini memerlukan bahan bahan ini, dan Allah mengirimkan, mengungkapkan kepada nya Sooratul Faatiha.  Dan Allah bersabda kepada nya s.a.w., “Wa laqad `aataynaaka sab’an minal mathaany wal Qur`aanil ‘Adhim.  Allah bersabda, “Ya Muhammad, Kami telah memberikan kepadamu yang lebih baik dari seluruh (isi) dunyaKami telah memberi mu al Faatiha.”  Sab’an minal mathaany.  Ada tujuh ayat.  Kami telah mengirim kamu tujuh ayat al Faatiha dan Kami telah mengirim kamu al Qur`an  Suci–  janganlah merisaukan dirimu, dan katakan pada Sahaaba untuk tidak mengejar harta dunia ini – itu akan musnah.  Saya memberimu yang lebih baik untuk akhira.

Wa qad ru’ya ‘anhu (s) fid Durril Manthoor, li Imaamus Suyuti, dia berkata … dia bilang bahwa “law kaanat fit Taurat, lama tahawwa dakawmu Moosa – jika dia berada dalam Taurat, jika al Faatiha diungkapkan dalam Taurat, ummat Sayyidina Moosa tidak akan menjadi Yahudi – mereka akan menjadi Muslims.  Wa law kaanat fil Injil, lama tanassala kawmu ‘Isa. Dan jika dia berada dalam Injil, tidak akan pernah ummat ‘Isa (as) menjadi Kristen.  Wa law kaanat fiz Zabur, lama musikha qawmu Dawud (as).  Dan jika dia berada dalam Zabur, tidak akan pernah ummat Dawud menjadi musikha – itu artinya masakh – mengkerut… kamu tahu ketika seseorang mengkerut menjadi makluq (species) lain – itu dalam al Qur`an Suci adalah maskha.  Allah mengubah nya, menjadikan dia dari manusia menjadi sesuatu yang lain.  Dan Dia lakukan itu untuk ummat Dawud a.s..  Wa ayyuma Muslim qara`aha a’taa’al Lahu minal ‘ajir ka`annama qara`al Qur`aana kulla. Dan jika seseorang membaca nya, Allah akan memberinya hadiah seperti jika dia membaca seluruh al Qur`an.  Wa ka`annama tasaddaqa ‘ala kulli mu`min wa mu`mina. Dan seperti jika memberikan sedekah untuk setiap mu`min dan mu`mina di dunia ini – sebanyak jumlah mu`mins dan mu`minas – seperti jika dia memberi sedekah untuk mereka – Allah akan menghadiahi nya.

Dikatakan bahwa lamma `anzalal Lahu Ta’ala Moosa at-Taurat –jika sekiranya Allah (swt) mengungkapkan kepada Sayyidina Musa (as) Taurat, wa hiyya alfus Soora.  Bukan 114, seperti al Qur`an.  Dan setiap Soora 1,000 ayat.  Itu artinya satu juta ayat Taurat Allah kirimkan kepada Sayyidina Musa (as).  Di mana mereka itu?  Itu bukan seperti yang mereka katakan–hanya sepuluh perintah (commandments) – itu adalah satu juta ayat.  Seribu Sura, dan setiap Sura 1,000 ayat.  Qaala Musa (as)  Ya Rabbi Man yu’teequ qura`ata haadhal Kitab?” – Ya Rabbi, siapa yang dapat membaca kitab ini?  Itu sangat sukar?  Dan siapa yang akan menghafalkannya?  Dan itulah sebabnya kamu tidak melihat seorangpun menghafal bahkan Taurat.  Bahkan Injil, tak seorangpun menghafalnya.

Beberapa kali saya duduk bersama pendeta Arab, dan pembicara English dan Amerika – tak seorang pun di antara mereka yang menghafal Injil.  Mereka tidak menghafal Injil.  Hanya Muslims menghafal al Qur`an.  Allah bersabda, “`Inna nahnu nadhdhanna dhikra wa `inna lahu la haafizoon.”  Allah bersabda, “Kami telah mengungkapkan dhikr, dan Kami melindungi nya dan membuat orang untuk mengingatnya, untuk menghafalkannya.”  Tak seorangpun menghafalkan Injil – tak ada jalan! Kamu tak dapat!  Jika kamu mencoba menghafalnya, itu akan meninggalkan pikiranmu.  Tiada bahasa. Allah tahu mereka menyusunnya dari jenis bahasa apa.  Mereka mengatakan, beberapa dari mereka, bahasa Romawi.  Beberapa dari mereka, (mengatakan) itu ditulis dalam bahasa Latin; beberapa dari nya sudah diterjemahkan, dan terjemahannya adalah terjemahan yang sangat buruk.  Di Lebanon, paman saya adalah seorang dari ahli bahasa yang tersohor – ‘ulama Islam, ‘ulama besar di Lebanon, dan dia membuat fatwa untuk semua negara Arab – dia memiliki banyak sekali buku/kitab.  Satu waktu saya mengun junginya, dan saya melihat sebuah buku yang sangat tebal (memperlihatkan dengan gerakan , buku itu hampir setebal 30 cm).  Saya berkata, “Apa ini, pamanku?” Dia berkata, “Mereka mengirimkan itu ke saya hari ini.”  Saya berkata, “Mengapa, apakah itu?”  Dia berkata, “Injil!”  Dia berkata, “Apa yang akan anda lakukan dengan nya?”  Dia berkata, “Mereka meminta saya untuk mengkoreksinya!”  (tertawa gemuruh dari hadirin)  Dia mengkoreksi Injil itu buat mereka – bahasa.  Tanpa bahasa.  Itulah sebabnya – bagaimana mereka dapat mengkoreksinya? Tidak terdapat nada di dalam nya untuk (bisa digunakan) menghafalnya.

Fa qaala Ta’ala, `inny `unzilu Kitaaban A’dhamu min haadha.  Ya Musa, jangan berpikir bahwa ini adalah terlalu banyak! 1,000 Surah, dan 1,000 ayat dalam Taurat.  Saya mengirimkan lebih dari itu.  Jauh lebih besar dari Taurat.  Qaala “‘Ala man, Ya Rabbi?” Engkau mengirimkan nya kepada siapa?  Qaala “‘Ala khaatimal `anbiya.”  Dia bersabda, “Saya mengirimkannya kepada Rasul terakhir, Penutup para Rasul,”  Qaala “Wa Kayf?” Taqra`uhu `ummatuhu warahum a’marum kasira – bagaimana mereka akan membacanya, ummah nya?  Kalian tahu Sayyidina Musa (as) adalah Kalim Ullah, jawab dan pertanyaan.  Pertanyaan dan jawab.  “Bagaimana mereka akan membacanya, ummah nya, dan mereka memiliki usia (hidup) pendek – mereka tidak hidup terlalu panjang? Qaseerul amar – eh? Jarak umur pendek.  Qaala `inni’u yassiruhu ‘aleihim hatta yaqra’u – Dia bersabda, “Saya akan membuatnya sangat mudah untuk mereka agar supaya mereka dapat membacanya.”  `Inny yassiruhu ‘aleihim hatta yaqra’uhus subyaana – Aku akan membuatnya begitu mudah bagi mereka sehingga anak anak mereka dapat membacanya.  Wa qaala “Ya Rabbi, wa kayf taf’a?”  Bagaimana Engkau akan melakukan itu?  Qaala `Inny `anzaltu minas-sama’y `ilal `ard ma’atun wa thalaathata kutub – Aku telah mengungkapkan pada Bumi 103 buku.  Khamsin ‘ala Sheeth – Nabi Seth (as).  Wa thalatheena ‘ala Idris (as) – wa ‘ashreena ‘ala Ibrahim – dan 20 untuk Ibrahim (as). Wat-Taurat ‘alayk – Taurat padamu, Ya Musa, waz-Zabur ‘ala Dawud – dan Zabur pada Dawud, wal Injil ‘ala ‘Isa – and the Bible on ‘Isa.  Wa dhakartul qaa`inat fi hadhihil kutub – dan Aku menyebutkan SEMUA, apapun yang Aku ciptakan, sudah dalam buku buku itu.  Jadi apa yang sudah dikirimkan Nya? 50 kepada Sheeth, 30 kepada Idris (jumlah 80), 20 kepada Ibrahim (jumlah 100), Taurat kepada Musa (jumlah 101), Zabur kepada Dawud (jumlah 102), Injil (jumlah 103).  Aku menyebutkan semua yang Aku ciptakan dalam kitab kitab itu – dan Ya Musa (as), Aku akan … fa `adhkur jami’an ma ‘ani haadhihil kutub fi Kitaabi Muhammad (s) – Aku akan menaruh semua makna, dan semua apapun yang Aku taruh di dalam 103 kitab kitab ini – Aku akan menaruh nya ke dalam buku Muhammad (s).  Dan Dia bersabda kepada nya, semua anak anak akan menghafalnya, akan dapat membacanya.  Taurat, 1,000 Surahs, 1,000 ayat.  Itu artinya, apa yang dikirimkan Allah kepada Dawud sebelumnya, dan Ibrahim, dan Sheeth, dan Idris, dan lebih dari itu!  Jika Taurat adalah 1,000, itu artinya apa yang Dia kirimkan kepada Sheeth – itu mungkin bahwa setiap buku adalah 1,000, dan 1,000 ayat, jadi itu dilipatkan dengan 50.  Dan apa yang Dia kirimkan kepada ‘ala Idris (as), 30, lebih dari apa yang Dia kirimkan kepada Musa (as) – dan Dia bersabda, segala sesuatu Aku jumlahkan dan menaruhnya ke dalam kitab Muhammad (s), dan Aku kumpulkan (accumulated)  dan taruh semua itu– wa ajma’u dhaalika kulluhu fi mi’atin wa ‘arba ‘ashara Soora – Aku akan menaruh itu semua dalam kitab Muhammad (s), dan Aku akan menaruhnya semua ke dalam 114 Surahs.  Wa aj’al haadhihi Soor fi thalaatheena juz.  Aku akan membuat semua Surahs itu menjadi 30 juz (bab/chapters).  Dan Aku akan menaruh semua kedalam 30 bab, wal ajza fi sab’ata asba – dan ke dalam setiap bab, Aku akan menaruh itu …  setiap bab, Aku akan menaruh nya …  apa kalian menyebutnya?

Akhir tape.

Tidak terdapat lagi informasi pada tape.  Aku (penulis transkrip ini) mendengarkan sampai akhir sisi A, kemudian dari awal hingga akhir sisi B.

About kekji

i am nothing and will stay that way. i live only to serve Allah SWT
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s