Surat Fatiha Tape 7

Tafseer Surat al-Fatiha (7)

Shaykh Hisham Muhammad Kabbani

Al-hamd

Dengan menyempurnakan diri sendiri melalui wat takhalluk bil `akhlaqil `Ilahiyya (melalui warisan) Allah (swt) akan memberkahi seseorang dengan Aklaq Ilahiah. Dia akan mendandani orang beriman itu, mengangkatnya ke maqam di mana tidak ada rasa takut, yang ada hanya pepujian untuk Allah (swt) dalam jantung.

Wal hamdu shaamilun lith thanaa`i wash shukri wal madih. al-hamd melingkupi setiap macam pepujian untuk Allah (swt). Allah (swt) serba meliputi Diri Nya oleh Diri Nya, berterima kasih kepada Diri Nya oleh Diri Nya, dan memuji Diri Nya oleh Diri Nya. Itulah sebabnya Dia membuka (memulai) al Qur`an Suci dengan bersabda Alhamdulillah (Segala Puji untuk Ku).

Dia berterima  kasih kepada Nya dengan bersabda, “Aku menciptakan kamu karena Aku adalah Tuhanmu ” (Rabbul ‘Aalameen). Dia menyatakan shukr (terima kasih) dengan menyebutkan bahwa Dia adalah Tuhan. Segala Pepujian untuk Nya meliputi tiga kategori berbeda: hamd, shukr, dan kehormatan. Segala sesuatu berada dalam hamd Nya. Dia memuji Diri Nya oleh Diri Nya, kemudian Dia berterima kasih kepada Diri Nya oleh Diri Nya karena Dia adalah Tuhan, dan segala sesuatu harus berterima kasih kepada Nya atas penciptaan mereka.

Dia bukan hanya memuji Diri Nya Sendiri tetapi maadihan nafsahu. Pertama adalah haamidan nafsahu, ketika Dia bersabda Alhamdulillah, yang Dia lanjutkan dengan Ar-Rahmaan ar-Rahim, Maadihan Nafsahu. Dia menggambarkan Diri Nya Sendiri, Maha Pengasih (Rahman), dan Maha Penyayang (Rahim).

Allah (swt) bersabda dalam al Qur’an Suci, Wa maa qadarul Lah Haqqa qadari (Berapa banyakpun mereka memuji, tak satupun dapat memberi Allah (swt) kehormatan yang Dia berhak mendapatkan nya). Hanya Allah (swt) dapat menggambarkan Diri Nya Sendiri. Tak satupun yang dapat melakukan itu. Tak satupun dapat mencapai level pemahaman yang memungkinkan mereka memberikan kehormatan kepada Tuhan mereka. Itu menunjukkan kelemahan ciptaan (makluq).

Ketika Nabi (s.a.w.) sedang berada di Laylatul `Isra`i wal Mi’raj (perjalanan malam) dia disuruh menggambarkan Tuhan nya dan untuk memuji Tuhan nya. Dia menjawab, Qaal laa uhsee than’an `alayk  anta kama athnayta `ala nafsik (Dia menjawab, “Tiada jalan bagi aku untuk memuji Engkau sebagaimana seharusnya. Engkau, Wahai Tuhan ku, Allah (swt), dapat memuji Diri Mu Sendiri oleh Diri Mu Sendiri.”). Jika Nabi (s.a.w.) mengatakan adalah tidak mungkin baginya untuk memuji Tuhan nya dengan benar, maka pujian siapapun lainnya sama seperti tak ada apa apanya. Para Muslim harus mengikuti perintah dan mengerti bahwa mereka hanyalah ‘abd (hamba). Ini adalah level tertinggi ‘itiba`’. Nabi (s.a.w.) memperlihatkan level tertinggi dari ‘itiba`an taqleed pada Malam Mi’raj.

Orang orang hari ini mengatakan bahwa tidak ada taqleed (imitasi – meniru) dalam agama. Mereka mengatakan, “Jangan mengikuti orang lain, jangan meniru mereka.” Namun, Nabi (s.a.w.) mengatakan kepada Tuhannya, “Ya Rabbi, saya tidak dapat memuji Engkau kecuali sebagaimana Engkau memuji Diri Mu Sendiri.” Inilah taqleed. Inilah sejatinya taqleed. Ketika seseorang lemah dalam pemahaman mereka tentang hadith dan al Qur`an, mereka hendaknya mengikuti seorang ‘alim. Itulah sebabnya taqleed begitu penting dalam Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan alur pemikiran (madzab) lainnya.

Para Sahaba biasa bertanya kepada Nabi (s.a.w.), mencari penjelasan untuk berbagai ayat dari al Qur’an atau hadith. Tetapi Nabi (s.a.w.), tidak pernah bertanya satu pertanyaanpun kepada Allah swt. Dia selalu menunggu untuk menerima perintah Tuhannya – dia tidak pernah membuka mulutnya… Makanya kamu melihat banyak surat diawali dengan “yas’alunaka…” “mereka bertanya kepadamu tentang…” Para Shahaba biasa untuk bertanya, tetapi Nabi (s.a.w.) sendiri tidak pernah, karena itu akan menjadi sebuah pelanggaran adab dari pihaknya kepada Tuhannya, memahami bahwa Allah swt sepenuhnya mengetahui kebutuhan dan keinginannya. Adab inilah sumber dari konsep penyatuan perbuatan, tawheed al-af`al, di mana semua tindakan dilihat berproses dari Hadhirat Ilahiah. Begitu pula, orang paling sempurna dalam mengikuti (mencontoh) Nabi s.a.w., Sayyidina Abu Bakr as-Siddiq (r), tidak pernah mengajukan sebuah pertanyaanpun kepada Nabi (s.a.w.), menyadari sepenuhnya tentang pemahaman Nabi s.a.w. akan kondisi dan kebutuhan spiritual para pengikutnya.

Ketika kaum musyrikin mengatakan bahwa Wahyu telah berhenti, mereka menyatakan, “Tuhanmu telah meninggalkan kamu!” Kemudian Allah mengungkapkan kepadanya Surat ad-Duha, dan sebagian dari Surat Maryam — dan Nabi (s.a.w.) tidak pernah berkomentar apapun tentang itu. Dia hanya menunggu datangnya Wahyu. Beberapa ‘ulama mengatakan lima belas hari, beberapa mengatakan empat puluh hari. Dan dia tidak pernah menyebutkan itu, dan tidak pula dia marah. Dia hanya sedih! Namun dia tidak pernah membuka mulutnya untuk bertanya, “Mengapa, Ya Rabbi – wahai Tuhan ku?”

Jika seseorang membaca al Qur`an dan hadith seratus kali, dia masih tidak akan mengerti makna sesungguhnya dari Alhamdulillah. Dia bahkan tak akan pernah memahami makna dari A’udhu bil Lahi minash Shaytanir Rajim. Halaman halaman sebelum ini telah menjelaskan arti mereka itu, tetapi jika seseorang hanya melihat di terjemahan (alih bahasa) saja, dia hanya akan melihat: Bismillahir Rahmaan ir Raheem (Dengan Nama Allah Maha Pengasih Maha Penyayang). Itu saja. Jadi tidak ada jalan bagi seseorang untuk mendapatkan pemahaman lengkap hanya dengan membaca al Qur’an dalam sebuah terjemahan English. Hanya ide dasar dapat dimengerti (diserap) namun tidak dapat dicapai kemajuan nyata. Cara satu satunya untuk belajar adalah dari seseorang yang sudah belajar dan telah menjadi seorang ‘alim. Mereka yang mencari pengetahuan hendaknya mengikuti seorang ‘alim, agar supaya benar benar mengerti makna dari al Qur’an Suci. Ini adalah sebuah bagian penting dari taqleed, yang adalah dan bagian penting Islam. Fa huwa thanaa`un minar Rasool bit-taqlid wa qad ‘amarana ‘aidan ‘an nahmoodaHu bit taqlid (Nabi (s.a.w.) memuji melalui taqleed, dan Allah (swt) juga menyuruh pengikut Nya untuk menghormati dan memuji Nya melalui taqleed).

Bi qawlihi qul Alhamdulillah kama qal fattaqul Lah nastata’tum. Say Alhamdulillah. Wa dhakara Shaykh Imam Hojjatil Islam al-Ghazaali Rahimahul Lahi min Haajil ‘Aabideen. Imam Ghazaali mentioned in his book Min Haajal ‘Aabideen, `annal hamda wash shukra `aakhirul ‘aqabaatis saba’ (pepujian dan berterima kasih kepada Allah (swt) adalah tujuh halangan terakhir yang menyumbat orang beriman dari sasarannya. Jika seseorang betul betul menghendaki untuk mencapai Hadhirat Ilahiah, dia harus memuji dan berterima kasih kepada Allah (swt)).

Fa `awwir manitahaddiil ‘amd listuru tariqil ‘ibaada yaqoon bi khatara samawaliyya. Jalanan yang dijalani seorang ‘abd disebut jalan kesukaran, atau tariqa yang membawanya kepada Islam sejati. Halangan pertama yang dilihat ‘abd pada jalan itu adalah untuk memiliki khatra tamawiyya (untuk berpikir tentang kebiasaan). Itu artinya bahwa seseorang harus mengarahkan jantung/qalbunya kepada Tuhannya. Wa tawfeequn khassun `Ilaahi. Tidaklah cukup hanya meditasi, tetapi dia harus juga memiliki Tawfiqun Ilaahiyya (dukungan langit). Meditasi itu harus disertai oleh dukungan langit, bila tidak, itu tidak akan menjadi meditasi yang berhasil. Si orang ibadah mungkin duduk dan bermeditasi untuk berjam jam, dan kamu tidak melihat apapun. ‘Ulama hari ini mengatakan bahwa seseorang dapat duduk dan membaca dan meditasi pada al Qur’an dan hadith sendirian saja. Namun tidak ada dukungan langit untuk ini. Dukungan sesungguhnya datang ketika seorang Shaykh menjadi muqallid sang meditator, ketika sang meditator menjadi seorang tiruan/imitasi nya seorang Shaykh sejati, seorang Wali, dan itu adalah mempraktekkan taqleed. Maka meditasi tadi akan didukung oleh Sukses Ilahiah. Nabi (s.a.w.) menjelaskan, `Inna Noora `idha dakhala qalbal ‘abdy fataha wanshah (jika Cahaya Ilahiah memasuki jantung selama meditasi, qalbu itu membuka dan mengembang). Jika seseorang bermeditasi dan tidak terdapat sukses, tidak ada dukungan dari Ilahiah, maka dia selalu tidak akan melihat apa apa. Sukses dalam meditasi tidak hanya datang dari sang penghamba (worshipper) tetapi itu harus berimpit dengan datangnya Cahaya Ilahiah. Agar supaya Cahaya Ilahiah itu datang, seseorang harus berada dalam sebuah kesucian tingkat sangat tinggi.

Faqeela Ya RasoolAllah (s) Hal bi dhaalika min ‘alaamatin yu’alu biha (mereka bertanya kepada Nabi (s.a.w.), apakah ada sebuah tanda yang dapat engkau berikan kepada kami sehingga kami dapat mengetahui?). Mereka ingin mengetahui apakah tanda tandanya. Faqaal at-tajaafi’a daaril ‘uloof. At-tajaafi ‘an daaril ghuroor (Dia berkata, bahwa seseorang harus memutar wajahnya berpaling dari dunya ini). Dunya ini adalah darul ghuroor (rumah atau tempat kesombongan atau kebanggaan). Jika Allah (swt) memberkati seseorang dengan kekayaan, itu adalah baik baik saja sepanjang dia memakai / memberikan uangnya fi sabil Illah (menuju jalan Allah (swt)). Dia boleh memiliki jutaan dollars dan Allah (swt) akan ridha (senang) dengannya, sepanjang dia adalah seorang pendukung (supporter). Terdapat banyak orang yang memiliki uang dan melakukan hal ini (fi sabil Illah) dan Allah (swt) senang dengan mereka, dan akan memberi mereka lebih banyak lagi.

Nabi (s.a.w.) berkata, “untuk memalingkan muka dari dunya kebanggan dan kesombongan.” Dia melanjutkan, Wal ‘ilaaba `ila daaril khulood (dan mengarahkan wajahnya kepada dunia abadi). Ini menunjuk kepada akhira. Ini jika dunya meninggalkan qalbu, dan `akhira mengisinya.

Wal ‘isti`daadu lil mawti qabla nuzuli (dan besiaplah untuk maut sebelum (maut) itu dikirimkan). Orang kaya membuat surat warisan, karena mereka khawatir pemerintah akan mengambil uang mereka. Mereka menyiapkan uang mereka untuk (menghadapi) maut, namun mereka juga hendaknya mempersiapkan diri mereka untuk akhira. Ini adalah yang diinginkan Allah (swt). Allah (swt) ingin abdinya meneruskan kekayaan mereka kepada anak anak mereka tetapi Dia juga menghendaki mereka untuk mewarisi diri mereka sendiri, ‘amalu saalih. Seseorang harus ingat maut tiap hari. Ketika dia meninggalkan dunya ini, dia akan menemukan Tuhannya di sana. Ini menjelaskan ungkapan, al-‘isti`daad lil mawt al-hamd wath-thana` wash-shukr (gambaran pepujian dan keberterima-kasihan adalah melalui maut). Orang beriman, dengan menyiapkan dirinya untuk maut, sama de ngan membuat satu dari pintu pintu (bukaan) untuk memungkinkan cahaya memasuki qalbu. Ketika cahaya masuk, maka dia bisa memuji Allah (swt) dan berterima kasih kepada Nya secara benar.

About kekji

i am nothing and will stay that way. i live only to serve Allah SWT
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s