Surat Fatiha Tape 5

Tafseer Surat al-Fatiha (5)

Shaykh Hisham Muhammad Kabbani

Kekuatan al-Fatiha

Imam Ibn Majah melaporkan sebuah hadith yang diriwayatkan oleh `Ali (r), bahwa Rasul Allah (s.a.w.) berkata, “Obat paling baik adalah al Qur’an.”  Memberi komentar tentang hadith ini, Ibn Qayyim al-Jawziyya berkata:

“Beberapa kata kata bermanfa’at dan beberapa kata kata berbahaya. Jika hal ini adalah benar untuk kata kata (yang dikeluarkan) orang, maka apa yang dipikirkan orang tentang kata kata suci Allah swt Sendiri? Effektivitas dari Kata Kata Ilahiah, dibandingkan dengan kata kata orang adalah seperti kesucian al Khaliq Sendiri dibanding ciptaan Nya. Karena Allah Azza wa Jalla adalah Kepastian Tertinggi (Supreme Surety) terhadap penyakit apapun, apakah itu penyakit dari qalbu/jantung ataupun dari raga; Dia adalah Perlindungan Mutlak, Cahaya Bimbingan dan Rahmat yang Serba Meliputi/Mencakup.  Sekiranya Kata Kata Nya turun kepada sebuah gunung,   gunung itu akan runtuh dan menjadi debu di hadapan Kemegahan dan Keagungan Nya. Kita menyaksikan itu ketika Allah Azza wa Jalla memperagakan Hadhirat Nya pada gunung Tur Sina di mana Musa (as) berdiri, gunung itu gemetar dalam ketakutan dan penghambaannya kepada Tuhannya.”[1]

Kekuatan untuk Menyembuhkan

Ibn Qayyim al-Jawziyya berkata:

“Terdapat manfa’at besar dan rahasia lembut dalam membaca Surat al-Fatiha dalam penanganan gigitan berbisa. …binatang seperti itu hanya memuncratkan bisa mereka jika mereka dibuat marah. Pada sisi lain, Allah swt menciptakan obat untuk setiap penyakit, sebuah penangkal untuk setiap racun dan untuk setiap hal, Dia menciptakan lawannya.

“…ruh (spirit) dari mata setan berefek sebuah reaksi alami dalam ruh (sprit) dari kurbannya. Dengan cara yang sama, dan dengan kontak mereka, ruh (spirit) pemanggil setan (exorcist/raqi), menembus melalui ruh korban dan secara naluri, kedua ruh saling meniadakan, persis seperti reaksi kimia dari racun dan penawarnya ketika racun itu memasuki tubuh untuk melawan dan menghilangkan pengaruh racun … Effektivitas penyembuhan tergantung dari potensi penawar—dengan anggapan itu adalah obat yang tepat dan dengan ijin Allah, doa meniadakan effek racun (venom) dan kemudian tubuh melakukan tugasnya mengeluarkan residu/sisa racun itu (keluar dari sistem tubuh).

“…Pertempuran ruh itu dan perangkatnya sama dengan pertempuran antara pasukan dengan persenjataan mereka, dan peperangan antar mereka. Medan laga adalah tempat mereka bertemu musuh, lengkap dengan persenjataan dan pasukan mereka. Namun, apabila seseorang terendam/dijenuhkan oleh indera fisik nya, dia tidak dapat mengenali hadirnya ruh, pengaruh, reaksi, dan maksud mereka, karena indera raganya dominan, dan dia berada jauh dari kemampuan mengenali dunia ruh (spirit), hukum, objektif dan pengembaraan mereka.

“Singkatnya, jika seseorang beriman, jiwa dan ruh (spirit) nya kuat, dan jika dia membiasakan diri sendiri  dengan inti surat al-Fatiha, dan ijin Allah, dengan membaca kata kata suci Nya dan meniupkan nya kepada orang yang tercemar dilanjutkan dengan semburan kepada korban, kehendak Allah, bacaan seperti itu akan menyebabkan reaksi ruh jahat dan mengakibatkan tereliminasinya tindakan jahat mereka, dan Allah maha tahu yang terbaik.”

Al-hamd

Allah (swt) memulai al-Faatiha dengan mengatakan, Al-hamdu. Dia memulai dengan memuji diri Nya  Sendiri. Dia bersabda, “Segala puji untuk Ku, Yang Menghidupi dan Memelihara Alam Semesta. Alhamdulillah artinya “Pepujian adalah untuk Yang Satu yang berhak dipuji.” Dia tidak mengatakan Alhamdu Allah. Dia menghubungkan dua kata dan Dia menghapus alif pertama dari Allah agar melakukan penggabungan itu. Dia membuat dua kata menjadi satu. Bukan hanya di situ terdapat pepujian untuk Allah (swt) tetapi tidak ada pepujian untuk selain Dia. Jika seseorang ingin memberikan pepujian dia harus melakukan itu kepada Allah (swt).

Hamd (pepujian) harus sempurna. Allah (swt) tidak dapat dipuji dengan sebarang (pepujian) yang kurang dari sempurna. Itu harus pepujian lengkap. Segala pepujian dari alam semesta, dari sejak sang Pena menulis La `ilaha `illal Lah Muhammadur Rasool Allah. Tak satupun tahu akhir atau selesainya pepujian itu untuk Allah (swt) kecuali Diri Nya Sendiri. Jika sekiranya seluruh ciptaan, manusia, jinn, planet, bintang, galaxi dan alam semesta menggabung pepujian mereka itu tidak akan lebih penting dari pada setetes air ke dalam samudera dipandang dari jumlah/ banyaknya pepujian yang diinginkan Allah (swt) diri Nya dipuji. Itulah sebabnya Allah (swt) bersabda dalam al Qur`an Suci, Wa `inna min shayyin `illa yusabbihu bi-hamdihi wa laakin la tafqahoona tasbeehahum. (Sesungguhnya segala sesuatu memuji Allah). Rahasia dan inti dari ciptaan adalah pepujian. Keberadaan seluruh manusia adalah karena keinginan Dia untuk dipuji. Beberapa ‘ulama mengatakan bahwa kata pertama yang diucapkan Adam (as) adalah “Alhamdulillah.”[2] Keberadaan adalah dalam rahasia pepujian dan ketika (pepujian) itu berhenti datanglah kematian. Itulah sebabnya Awliya berkata, “Janganlah melukai/membahayakan apapun, bahkan seekor semutpun.” Ketika sesuatu mati, pepujiannya berhenti. Cobalah untuk tidak membunuh atau membahayakan binatang kecuali itu berbahaya, bahkan jika itu nampak kecil dan tidak berarti, karena dia itu sedang memuji Allah (swt). Sekali dia mati, pepujiannya berhenti. Seluruh sel dalam tubuh memuji Allah (swt).

Dia bersabda, Alhamdulillah. Dia memuji Diri Sendiri oleh Diri Nya Sendiri karena Dia adalah Rabb il-`alameen (Tuhan alam semesta). Dia adalah Tuhan manusia (`ins), malaikat dan semua ciptaan. Allah (swt) menghendaki orang beriman untuk mengerti bahwa mereka harus memuji Nya karena Dia menciptakan mereka. Dia adalah Tuhan Langit dan Bumi, Rabb il-`alameen. Itulah sebabnya mereka semua harus memuji Nya. Cara terbaik untuk memuji Allah (swt) adalah dengan menggunakan pepujian yang Dia gunakan untuk memuji Diri Nya Sendiri. Setelah itu, pepujian para nabi (`anbiya) dan `awliya boleh digunakan. Khutbah pertama, diberikan oleh Adam (as) kepada para malaikat, ketika Adam a.s. baru saja diberi kehormatan dan kelebihan (favored) oleh Allah di Surga, dimulai dengan “Alhamdulillah”.[3] Dan pada Hari Pengadilan orang beriman akan berdatangan dibawah Panji Panji Pepujian, liwa’ul-hamd, di tangan pemimpin kita Muhammad (s). Panji panji itu dimodelkan Allah swt dari pepujian yang pertama kali diucapkan Sayyidina Adam (as) ketika ruhnya memasuki raganya dan bersin.[4] Dibawah itulah semua rasul dan wali disatukan.

Ayat ayat al Faatiha adalah symbol, sebuah gambar, dari ciptaan Allah (swt) sejak awal hingga akhir. Urutan ayat menunjukkan cara bagaimana Allah (swt) menciptakan ummat manusia, dan jalan yang mereka tempuh ke Hari Pengadilan dan Surga atau Neraka.

Alhamdulillahi Rabbil ‘aalameen (Segala pepujian untuk Allah yang adalah Tuhan alam semesta). Dia adalah Tuhan Langit dan Bumi, Tuhan `ins (manusia) dan jinn, Tuhan segala sesuatu dan semuanya. Itu adalah indikasi tentang ke Esa an Nya. Tidak terdapat lainnya lagi yang menjadi sumber penciptaan, kuasa atau pentuhanan. Tak satupun berserikat dengan Dia. Ketika Ke Esa an Nya dinyatakan, pen-Tuhan-an Dia diterima. Ini adalah tanda dari satu hamba yang baik, sesuatu yang pantas mendapatkan Rahmat Nya. Kemudian Dia adalah ar-Rahman ar-Raheem. Ketika hamba itu sudah menerima kenyataan ini Dia akan mengirimkan Rahmat Nya di dunya dan di akhira.

Dia bersabda, Rahman dan Dia bersabda. Rahmaan adalah untuk dunya dan Raheem adalah untuk akhira. Ketika Allah rahman di dunya, dan hamba Nya adalah baik dan menerima Ke Esa an Nya, dan Dia akan melindungi nya pada Hari Pengadilan. Dia adalah Maalik Yawmid Deen. Dalam al-Fatiha adalah sebuah gambar tentang ciptaan, tentang hidup di dunya dan kedatangan sesuai jadwal di Hari Pengadilan.


[1] Zaad al-ma`ad, Ibn Qayyim al-Jawziyya, 1292-1350

[2] Al-Kisa’i menceritakan dalam Qisas al-anbiya dalam ringkasan: Ketika Allah membuat ruh memasuki bentuk lempung tak bernyawa Adam, itu mencapai mata dan mereka membuka, dan memandang pada pavilion dari Singgasana Ilahiah (`arsh ur-Rahmaan), melihat di sana tertulis “laa ilaha illa Allah, Muhammadu Rasulullah.” Ruh itu melanjutkan sampai ke telinga, kepala dan otak, kemudian mencapai hidung, pada titik itu Adam (as) bersin. Bersin itu membuka saluran yang tadinya tersumbat (blocked) dan Adam (as) berkata, “pepujian bagi Allah yang kini ada dan akan selalu ada.” Itu adalah kata pertama yang diucapkan oleh Adam (as). Kemudian Yang Maha Agung memanggilnya sambil bersabda, “Tuhanmu memberkahi mu (yarhamuka Rabbuka), Wahai Adam.” Ibn `Abbas menceritakan: “Tak ada yang menjengkelkan Iblees lebih dari kata kata “Barakah bagimu – yarhamakallah,” ketika seseorang bersin.” Menurut Hikmah Cahaya: “Ini adalah asal muasal kebiasaan yang kita pertahankan: ketika seseorang bersin adalah Sunna baginya untuk mengucapkan ‘alhamdulillah.’”

[3] Ini berlangsung ketika Allah meminta para malaikat “Katakan kepada Ku nama nama dari hal hal ini jika kamu berkata benar.” [2:31] dan para malaikat  menjawab, “Subhanaka! Kami tidak memiliki pengetahuan kecuali apa yang Engkau ajarkan pada kami, karena Engkau Maha Tahu Maha Bijak.” Atas itu Allah memerintahkan Adam (as), “Wahai  Adam! Katakan pada mereka nama nama mereka itu.” [2:32]. Maka Adam (as) beritahu mereka nama nama semua benda yang diciptakan Allah di daratan dan di lautan… Diceritakan dalam Al-Kisa’i, Qisas al-anbiya.

[4] Lore of Light, vol. 1, Hajja Amina Hatun Adil, Arafat Printing House, Colombo, Sri Lanka, 1989.

About kekji

i am nothing and will stay that way. i live only to serve Allah SWT
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s