Surat Fatiha Tape 4

Tafseer Surat al-Fatiha (4)

Shaykh Hisham Muhammad Kabbani

Basmala sebagai obat

Nabi (s.a.w.) berkata, Li kulli da’in dawa’ (Untuk setiap penyakit terdapat obatnya). Untuk setiap obat modern selalu terdapat efek samping. Karunia Allah (swt) tidak memiliki efek samping dan itu bukan hanya sebuah obat namun membuat seseorang lebih baik bahkan melampaui (sekedar khasiat) obat. Hanya saja terdapat satu syarat untuk karunia ini, dan itu adalah keshalihan. Dalam dunia hari (masa) ini tidak terdapat keshalihan. Tidak seorangpun mengejar Allah (swt). Orang hanya mengejar ego nya dan hasrat mereka. Karena inilah Allah (swt) tidak akan menyembuhkan mereka.

Ketika seseorang mencari perlindungan dalam Allah (swt) dengan berkata “A’udhu billahi min ash-Shaytanir Rajeem”, dia akan mendapat barakah oleh (sebab) “Bismillah ir-Rahmaan ir-Raheem”. Apabila seorang beriman membaca ungkapan ini dia diberkati dengan disembuhkan dan dengan masalahnya terpecahkan.

Setiap penyakit dapat disembuhkan dengan membaca, Ya Rabbi, alam yakash shifa’, A`udhu billahi min ash-Shaytan ir-rajeem, Bismillah ir-rahmaan  ir-raheem, `Eemanan bika Ya Rabbi, Ya Allah, wa tasdiqan li Nabiyyika, wa tasdiqan li Qur`aanika, Bismillah ir-rahmaan  ir-raheem. Allah pasti akan mengangkat semua kesukaran dan membawa kesehatan yang baik. Orang beriman itu harus mencegah Shaytan bergossip dan mengalihkan perhatiannya dari (hal) ini.

Caesar Roma mengirim sepucuk surat kepada Sayyidina ‘Umar (ra) meminta nasihat. Dia berkata, “Saya punya sakit kepala yang sangat sakit yang tidak pernah pergi/hilang. Semua tabib yang bekerja untuk ku tak dapat menyembuhkan aku. Jika anda memiliki apapun yang dapat menghilangkan sakit kepalaku, mohon kirimkan kepadaku.” Faba’atha ‘Umar (ra) qulunsuwa `in kaana `idha wara’a ‘ala ra`sihi saka mazdab Umar (ra) mengiriminya sebuah qulunsuwa, sesuatu yang dipakaikan pada kepala dan setengah tubuh. Segera setelah Caesar mengenakannya pada kepala dan tubuhnya, pusing nya hilang. Bila dia melepaskannya pusingnya kembali. Caesar sangat heran bahwa para tabibnya tak dapat menyembuhkannya, tetapi hadiah Sayyidina ‘Umar’s (ra) menyembuhkan dia. Sayyidina ‘Umar (ra) hanya mengirim selembar kain kepada raja yang sakit itu. Raja itu memiliki banyak tabib yang mengelilinginya dengan macam2 obat yang tersedia bagi mereka., tetapi mereka tak mampu menyembuhkan  sakit kepalanya. Sang raja heran dan tidak percaya bahwa barang sederhana seperti selembar kain itu dapat menyembuhkan dia. Sang Caesar mengambil kain itu dan melepaskan jahitannya dan membuka semuanya dan dia mendapati di dalamnya ada selembar kulit (untuk ditulis). Di situ tertulis “Bismillah ir-Rahmaan ir-Raheem”. Maka tahulah dia saat itu bahwa Allah (swt) lah yang menyembuhkan dia melalui barakah “Bismillah ir-Rahmaan ir-Raheem” dan bukannya selembar kain itu (yang menyembuhkan dia).

Terdapat banyak penyakit yang tabib tidak punya obatnya. Orang beriman dapat menggunakan cara Sayyidina ‘Umar’s (ra) untuk menyembuhkan Raja Roman itu.

Dikatakan bahwa `Uthman ibn Abi al-`As (r) mengeluhkan sakit nya kepada Nabi (s.a.w.), yang bilang kepadanya, “Taruh tanganmu di bagian tubuhmu yang sakit dan katakan Bismillah tiga kali dan tujuh kali (berikut ini), “A`udhu bi-`izzatillahi wa qudratihi min sharri’ maa ajidu wa ahaadhir” – “Saya  memohon perlindungan dalam kehormataan Allah dan Kuasa Nya dari kejahatan yang kedapatan dan perlu diwaspadai (evil which find and watch out for).”

Allah (swt) bersabda, وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاء وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ Wa nunazzilu minal Qur`aani maa huwa shifaa’un wa Rahmatun lil mu`mineen”“Kami telah mengungkapkan dalam ayat al Qur`an Suci obat dan barakah” [17:82]. Al Qur’an memang bukan hanya menyediakan obat, namun juga barokah. Ayat ayat itu bukan hanya mengembalikan seseorang kepada keadaannya semula namun mengangkatnya pula ke level yang lebih baik. Tetapi, tanpan iman hal ini tidak mungkin. Ketika seorang pasien percaya dengan teknologi dan obat obatan dan melupakan Tuhan nya, diapun dilupakan oleh Tuhannya. Ketika Allah (swt) mengungkapkan ayat ini Dia maksudkan itu adalah obat untuk semua (penyakit), sepanjang orang itu yakin kepada obat Nya.

Sayyidina Yusuf (as) mengirimkan kemejanya kepada ayahnya dan itu menyembuhkan hilangnya pandangan (mata)nya. Ini disebutkan dalam al Qur’an, “Maka ketika pembawa berita gembira itu datang, dia menebarkan (kemeja itu) pada wajahnya, dan dia saat itu pula pulih pandangannya yang jernih. Dia berkata: فَلَمَّا أَن جَاء الْبَشِيرُ أَلْقَاهُ عَلَى وَجْهِهِ فَارْتَدَّ بَصِيرًا قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ مِنَ اللّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ“Tidakkah saya bilang padamu, ‘Saya tahu dari Allah yang kamu tidak tahu?’” [12:96]

Seorang buta mendatangi Nabi (s.a.w.) dan berkata, “Wahai Rasul Allah (s.a.w.), saya buta dan saya datang untuk shalat di belakangmu.” Nabi (s.a.w.) mengajarinya sebuah du’a yang akan membuatnya bisa melihat lagi. Islam datang dengan sebuah obat untuk setiap penyakit bagi mereka yang percaya.

Grandshaykh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani berkata:

“Tanpa mengawali sebuah tindakan dengan ‘Bismillah ir-Rahmaan ir-Raheem’ tidak ada kebaikan datang darinya. Maka Shaitan mencoba untuk mengganggu bacaan orang beiman itu tujuh puluh kali agar supaya menggagalkannya. Karena dengan melupakan ‘Bismillah ir-Rahmaan ir-Raheem’ adalah melupakan Allah, dan tanpa mengingat Allah tidak ada tindakan yang memiliki sebuah dasar/pondasi atau sebuah dukungan.”

Bismillah ir-Rahmaan ir-Raheem’ telah dikaruniakan kepada ummat Nabi s.a.w., Ummah Akhir Jaman, dan itu adalah rahmat  yang tak terukur. Allah menciptakan Kitab (tempat menulis — Tablet) dan Pena dan Dia memerintahkan Pena untuk menulis ‘Bismillah ir-Rahmaan ir-Raheem’, dia memerlukan 700 tahun untuk menyelesaikan kalimat agung itu. Maka dikatakan bahwa barang siapa membaca, ‘Bismillah ir-Rahmaan ir-Raheem’ dalam mengagungkan Allah (bitta’dheem) akan menerima hadiah 700 tahun.

“Tidak peduli apapun yang sedang dicoba lakukan, semua jalan tertutup kecuali jalan  ‘Bismillah ir-Rahmaan ir-Raheem.’  Bagi seseorang yang memulai ‘Bismillah ir-Rahmaan ir-Raheem’  semua pintu akan terbuka; tanpa itu, semua pintu tetap tertutup. Maka adalah sebuah praktek baik sekali untuk menulis ‘Bismillah ir-Rahmaan ir-Raheem’ dimana mungkin – di rumah mu, di atas pintu sehingga orang masuk rumah di bawah Basmala; dalam mobil kamu. Tulislah dan jangan takut, karena dengan ‘Bismillah ir-Rahmaan ir-Raheem’ tidak satu pun bahaya dapat terjadi.

Basmala ini adalah sebuah sumber barakah tak terhitung bagi si pembaca. Grandshaykh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani berkata, “Pada masa dulu membeli dan menjual dilakukan dengan Salawat dan Basmala, dan pembeli dan juga penjual berbagi barakah itu. Dan barang barang tidak pernah habis. Kamu masih dapat melihat barakah itu di Makkah: setelah shalat malam jutaan orang melakukan jual beli, dan di pagi harinya kamu melihat toko toko penuh persis seperti malam sebeljumnya, tak ada yang hilang (berkurang). Barang barang pergi dan datang. Ini adalah baraka –- yang dikaruniakan Allah kepada tempat itu.”

Basmala ini adalah juga sebuah sumber dari kekuatan ajaib. Diceritakan dalam sebuah hadith panjang dari Jabir (r) bahwa Nabi  s.a.w. sedang dalam sebuah expedisi bersama tentaranya. Datanglah panggilan untuk mengambil wudhu.  Jabir memberitahu Rasul Allah (s.a.w.) bahwa mereka tidak punya apa apa kecuali setetes air di mulut kulit-tempat-air. Nabi (s.a.w.) membaca ke dekat kantong air itu. Kantong air tentara dibawa ke depan Nabi Suci (s.a.w.) atas mana beliau (s.a.w.) menempatkan tangannya yang penuh barakah di kantong air dengan jari jari merentang, dan menempatkan jari jari nya pada bawah kantong sambil berkata: ‘Jabir, ambillah (kantong air ini) dan tuangkan pada ku, dengan membaca Bismillah’, dan saya menuangkan air dan saya berkata: ‘Bismillah’, dan mendapati air memancar antara jari jari Rasul Allah (s.a.w.). Maka tabung itu muncrat sampai itu terisi… ‘Orang orang datang dan mendapat air sampai mereka semua terpuaskan. Saya berkata: ‘Apakah ada yang tertinggal yang masih mau mendapatkannya?’ Dan Rasul Allah (s.a.w.) kemudian mengangkat tangannya dari tabung itu dan tabung itu masih penuh.[1]


Surat al-Fatiha – Pendahuluan

Diceritakan dalam Ruhul Bayan bahwa seorang ‘ulama berkata, `Idha qara`ta Faatihatil Kitaabibi fasil Basmalataha – fasil Basmalataha, ma’a`a `innakasin waahidin min ghairy qahrin (untuk mendapatkan manfa’at terbanyak dari Sooratul Faatiha, sambungkan Basmala dengan ayat pertama. Jangan dipisahkan ayat ayat itu, tetapi bacalah mereka secara tersambung). Terdapat ketidak sepakatan di antara para ‘ulama apakah Basmala bagian dari Sooratul Fatiha atau bukan. Tanpa memperhatikan ketidak-sepakatan itu, ‘ulama ini mengatakan dalam Ruhul Bayan bahwa seorang membaca Fatiha mereka hendaknya membacanya dalam satu napas.

Nabi (s.a.w.) menceritakan, Qaalal Lahu Ta’aala Yaa Israfil, bi ‘Izzaty wa Jalaaly wa Wudoody wa Karramy man qara`a Bismillah ir-Rahmaan ir-Raheem muttasilatan bi Faatihatil Kitaaby marratan waahida fashhadu ‘ala `Anny qad ghafartu lahu. Fashhadu ‘ala `Anny qad ghafartu lahu wa qabiltu minhul hasanat. Wa tajaawastu lahum ‘anis sayyi’aat. Wa la `ahri`u lisaanihu bin naar. Wa ‘ujeeraru min ‘adhaabil qabri wa ‘adhaabin naar. Wa ‘adhaabi Yawmil Qiyaama Wal fasahil `akbar Wa daraqaani qablal `anbiya`I wal `awliya (Allah bersabda kepada Sayyidina Israfil (as), “Wahai Israfil, dengan Keagungan Ku dan Kemurahan Ku, jika seseorang membaca Sooratul Fatiha dalam satu nafas, kamu harus menjadi saksi bahwa Aku akan mengampuni dia atas dosa dosanya. Aku akan menerima dari dia apapun amal baiknya yang telah dia lakukan dan memberinya hadiah dan Aku akan menyingkirkan dari nya semua amal buruknya. Aku tidak akan membakar lidahnya dalam api neraka dan Aku  akan menyelamatkan dia dari siksa kubur dan neraka dan Hari Pengadilan. Dia akan menemui Aku sebelum para nabi dan `awliya.”) Orang beriman harus melatih diri mereka untuk membaca nya dalam satu kali nafas. Mereka akan diberi hadiah dan Allah akan mengampuni mereka atas dosa dosa mereka. Dia akan menyembuhkan mereka dari penyakit mereka apapun keluhannya sebagaimana yang dilakukan Nya kepada Raja Romans.

Al-Faatiha berarti, “Pembukaan.” Itu dimaksud sebagai Faatihatul Kitaab (Pembukaan dari Kitab). Itu adalah pembukaan dari al Qur’an Suci dan pembukaan dari shalat harian. Itu adalah pintu melalui mana segala sesuatu dapat diungkapkan kepada orang beriman. Ketika seorang Muslim memulai shalatnya, dia lakukan itu dengan membaca al Fatiha. Itu dimulai dengan Al-hamd yang juga adalah pembuakaan yang sesuai / tepat untuk segala pepujian bagi Allah (swt). Adalah terbaik untuk selalu mengatakan Alhamdulillah. Al Fatiha itu bukan hanya pembukaan dari  al Qur’an tetapi itu juga yang pertama dituliskan pada Plaket (Tempat menulis) Terpelihara.

Faatihatul `Abwaabil Maqaasifi fid-dunya wa `abwaabil jinaan (itu adalah pembuka/kunci bagi semua pintu di dunya dan semua pintu di `aakhira. Itu adalah  pembuka/kunci bagi semua harta  dan rahasia dari al Qur`an Suci. Wa bil Jalaaliha yankashifu jami’ul Qur`an li `ahlil bayaan (dan dengannya, Allah (swt) akan membuka tabir rahasia al Qur`an Suci kepada para Arifin). Wa man ‘arafa ma ‘aneeha yaftahu biha atfaalu mutashaabihat (untuk semua hal dalam al Qur`an Suci yang mirip satu sama lain, Allah (swt) akan membuka bedanya melalui al Fatiha). Untuk alasan itulah Muslims harus membaca Faatiha sebanyak yang dapat mereka lakukan, setelah setiap du’a dan pada awal setiap shalat/doa.  Bahkan sebelum shalat dimulai, al Ikhlas dan al Fatiha dibaca. Ketika peshalat memasuki Hadhirat Ilahi dengan mengatakan, Allahu Akbar, dia telah membaca Sooratul Faatiha, agar supaya Allah (swt) membuka baginya rahasia dari al-mutashaabihaat.

Wa summiyatmu `Ummil Qur`aan (Itu disebut “Ibu dari al Qur`an Suci”). Ini bermaksud  al Fatiha sebagai inti (essence) dari al Qur’an Suci. Wa `ummush shay` `asluhu (Dan inti dari sesuatu adalah (bisa disebut juga sebagi) asal muasalnya). Maka, asal muasal dan inti (essence) dari al Qur`an Suci adalah al-Faatiha. Ketika al Faatiha dibaca, sang pembaca seperti sedang menyusuri makna al Qur`an Suci.

al-Faatiha membawa ke tempat terang empat butir bahan bahasan (issues) penting. Itu mengumumkan al-`Iluhiyya lillahi Ta’aala (Ketuhanan dari Allah (swt)), itu menunjukkan kerasulan Sayyidina Muhammad (s.a.w.), dan itu menunjukkan Qada` wal Qadar (Rencana Allah, dan Nasib (Destiny)). Alhamdulillahi Rabbil ‘aalameen Ar-Rahmaan ar-Raheem adalah  `Iluhiyya. Ayat ini menggambarkan Ketuhanan Allah (swt) terhadap segala sesuatu. Maalik Yawmid Deen adalah Qada` wal Qadar. Gambaran tentang Nya sebagai Pemilik Hari Pengadilan memberitahu kita tentang Rencana Nya dan Nasib (destiny). `Iyyaka Na’bud wa `Iyyaka Nasta’een menunjukkan bahwa manusia berada disini adalah untuk mengabdi kepada Allah (swt). `Ihdinas Siraatal ladheena an’amta ‘aleihim berbicara tentang jalan lurus yang dibawa Nabi (s.a.w.), yaitu Shari’ah. Ghairil maghdooby ‘aleihim walad daaleen menunjuk kepada mengikuti Sunnah Nabi (s.a.w.). Di dalam al Faatiha terdapat doktrin dasar dari agama.

Fatiha disebut bis sab’il mathaany, li`annaha sab’ul `aayaat. Itu terdiri atas tujuh ayat. Dikatakan bahwa setiap `ayah dari al-Faatiha mewakili sepertujuh dari al Qur`an Suci. Li`anna kullan `aayat minha taqoomu maqaama sub’in minal Qur`aan. Faman qara`ahaa ‘utiya thawaaba qaraa`atil kull (Membaca Suratul Faatiha sama dengan membaca seluruh al Qur`an). Man fataha faahahu faahu bi qaraa`aty `aayaatiha sam ghulliqat ‘anhu `abwaaban ni’ma (Barang siapa membuka mulutnya membaca al Faatiha akan membuat tujuh neraka tertutup untuknya). Allah (swt) tidak akan melemparnya ke dalam neraka.

Wa summi’at bi saba’il mathaany (dan itu disebut tujuh kembaran). Itu dibaca dalam shalat dalam dua set. Itu dibaca sekali dalam setiap raka’at. Masing masing dari tujuh ayat dibaca di dalam raka’at pertama, dan tujuh ayat yang sama persis dibaca lagi dalam raka’at kedua. Jadi itu diulang dua kali dalam setiap pasang raka’aat. Itu juga diberi judul tersebut karena itu diturunkan/diungkapkan di kedua tempat  Mecca dan Medinah. Itu diturunkan (revealed) untuk memberi barakah bagi penduduk kedua kota suci.

Al Fatiha memiliki banyak nama berbeda. Itu juga membawa nama Sooratus Salah, Sooratul Shifa`, Sooratu Shaafi’, Sooratu `Asaasul Qur`an, Sooratul Kaafiya, sooratul Waafiya, Sooratul Hamd, Sooratus Su`al, Sooratush Shukr, dan Sooratud du’a. Itu memiliki semua sebelas nama itu. Dikatakan bahwa Allah (swt) bersabda, Faatihatul Kitaabi Kanzun min kunooz ‘Arsh (Membuka Kitab itu adalah salah satu harta dari Singgasana Ku). Itu terkait dengan Singgasana dan Singgasana itu terkait dengan Allah (swt). Itu adalah ciptaan tertinggi dan terbesar Allah (swt). Sebagai sebuah tanda kebesaran Singgasana itu bukan saja tidak diangkut oleh malaikat tetapi tetap terapung. Singgasana hanya bergantung kepada Allah (swt). Bahkan para malaikat tidak dapat mencapai Singgasana Allah (swt).

Rasul Allah (s.a.w.), berkata, “Telah diturunkan kepadaku sebuah sura yang seperti itu tidak terdapat dalam Taurat, Injeel, atau al Qur’an.” Kemudian dia berkata, “Segala puji milik Allah, Tuhan seluruh alam …”[2]


[1] Sahih Muslim. Dicuplik dan diringkas dari Book 42, #7149.

[2] Diriwayatkan oleh Malik dalam sebuah versi yang lebih panjang berdasarkan otoritas Ubayy ibn Ka`b. Juga diriwayatkan oleh Tirmidhi,dan oleh Bukhari dalam Sahih nya, Kitab at-Tafsir.

About kekji

i am nothing and will stay that way. i live only to serve Allah SWT
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s