Surat Fatiha Tape 1

Tafseer Surat al-Fatiha

Shaykh Hisham Muhammad Kabbani

سورة الفاتحةuَّذu عَ.

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, ar-Rahman, ar-Rahim.

الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِين

Segala puji untuk Allah, Pengelola alam semesta; َ

الرَّحْمـنِ الرَّحِيمِ

Ar-Rahman (Maha Pengasih), ar-Rahim (Maha Penyayang).

مَـالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Raja pada Hari Pengadilan,

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Kepada Mu lah kami mengabdi, dan kepada Mu lah kami mohon pertolongan.

اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ

Tunjuki kami jalan lurus,

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ

Jalan mereka yang Engkau beri nikmat; Bukan jalan yang mendapatkan marah Mu ataupun mereka yang tersesat.

Kami bermaksud, dengan buku ini, untuk menjelaskan beberapa aspek (karakteristik) dari Surat ul-Fatiha, sura pembukaan dari al Qur’an Suci. Kami menjelaskan dari tafsir Ruh al-Bayan oleh Shaykh Isma`il al-Haqqi, dari tafsirs oleh Imams Jalaluddin as-Suyuti, Ibn Juzayy al-Kalbi, Imam al-Tabari, Imam Ibn `Ajiba dan dari penjelasan Grandshaykh kami Shaykh Abdullah al-Fa’iz ad-Daghestani, Mursid kami Shaykh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani dan para Mashaykh Tariqat Khalida Naqshbandi Haqqani.

Pendahuluan

Surat al-Fatiha dikenal dengan banyak nama, utamanya dari itu semua adalah “Pembuka Kitab”(Fatihat ul-Kitab). Nama lainnya adalah “Tujuh ayat yang sering dibaca ulang”[1] ( سَبْعًا مِّنَ الْمَثَانِي saba`in min al-mathaanee), “Induk al Quran” (Umm al-Quran), Pelindung (waaqiya), Penyembuh (shaafia dari kata benda shifa’a), Surat Pepujian (suratul hamd), Surat Terima Kasih (suratul shukur), ‘Bagaimana untuk Memohon’ (ta’alum al mas ala), Surat Doa/Shalat (suratus-salat) dan Dasar dari al Qur’an (assas ul Qur’an).[2] Itu  mengandung dan disepakati oleh para ulama’ bahwa itu mengandung tujuh ayat.[3] Terdapat ketidaksepakatan di antara para ulama’ apakah itu diturunkan di Makkah atau di Madina namun Grandshaykh kita Abdullah ad-Daghestani telah menjelaskan kenyataan adalah bahwa itu diturunkan dua kali: sekali di Makkah dan sekali di Madina. Ini adalah beberapa dari banyak cara di mana Allah swt memberi kehormatan kepada Nabi (s.a.w.), karena dikisahkan oleh Shahabat Abu Sa`eed bin Al-Mu`alla (r.a.) bahwa Nabi (s.a.w.) memberi keterangan kepadanya bahwa itu adalah Surah paling agung dalam  Qur’ân, yaitu al-Fatiha.[4]

Pembacaan al-Fatiha dalam shalat adalah wajib menurut madzab ash-Shafi`i dan Imam Malik [Imam Ahmad?], namun tidak bagi madzab Imam Abu Hanifa. Ulama’ dari kedua madzab pertama mendasarkannya kepada hadith yang diriwayatkan dari `Ubada ibn Samit (r.a.) di mana Nabi (s.a.w.) berkata, “Tiada satu shalat bagi dia yang tidak membaca ‘Pembuka Kitab,” dan hadith Abu Hurairah, “Tiada pahala shalat bagi dia yang tidak membaca Induk Kitab (Umm al-Qur’an.)”[5]

Berbicara tentang keagungan dan qualitas khusus dari surah ini, Grandshaykh Abdullah ad-Daghestani berkata:

“Jika seseorang membaca al Fatiha, dia tidak akan meninggalkan dunia ini tanpa mendapatkan Nikmat Ilahi yang tersembunyi di belakang makna al Fatiha yang memungkinkan dia mencapai maqam kepasrahan kepada Allah, S.W.T.. Barakah yang diturunkan Allah bersama al Fatiha ketika (surat) itu diungkapkan kepada Nabi (s.a.w.) tidak akan pernah berhenti, dan akan berlangsung abadi, kepada seseorang yang membaca al Fatiha. Tak seorangpun dapat mengetahui terdapat berapa besar barakah kecuali Allah dan Nabi Nya (s.a.w.). Barang siapa membaca al-Fatiha, dengan maksud berbagi dalam Manifestasi (Pengejawantahan) Barakah Ilahiah (tajallis), akan mendapatkan satu posisi tinggi dan satu derajat agung. Dan barang siapa membaca tanpa niat demikian, hanya akan mendapakan Nikmat Ilahiah saja. Surah ini memiliki maqam (maqamaat) tak terhitung dan tak berbatas dalam Hadhirat Allah, S.W.T..”

Mencari perlindungan – al-isti`adha

Seseorang hendaknya memulai pembacaan al Qur’an Karim dengan menyebut “A`udhu billahi min ash-Shaytaan ir-rajeem” – “Saya berlindung kepada Allah dari Satan terkutuk,” menurut sabda Allah: فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِFa ‘idha qara’tal Qur’aana fasta`idh billahi min ash-Shaytaan ir-rajeem.” – “Jadi bila kamu membaca al Quran, berlindunglah kepada Allah dari Shaytaan terkutuk.” [16: 98]. Kita memulai dengan rumus itu, disebut sebagai al-isti`adha, karena itu adalah sebuah perintah dari Allah (swt). Al-isti`adha adalah pembukaan untuk setiap pembacaan, apakah di dalam shalaat atau di luar itu.[6]

Shaykh Isma`il al-Haqqi, dari tafsirnya Ruh al-Bayaan kami mengambil banyak komentar ini, menyatakan:

“Fal isti`aadhatu muqaddimatun `alal qiraa’ati `inda `amat il-muslimeen.” – “Ini adalah persyaratan umum bagi Muslim untuk menyebutkan A`udhu billahi min ash-Shaytaan ir-rajeem sebelum membaca al Qur’an.

“Wa awwalu maa nazala bihi Jibril (as) `ala Muhammad (s) al isti`adha wal basmala wa qawlihi ta`ala iqra’ bismi Rabbik alladhee khalaq. Hal pertama yang diungkapkan Jibreel (as) kepada Nabi (s.a.w.) adalah “Saya berlindung kepada Allah dari Satan yang terkutuk”, “dengan nama Allah ar-Rahmanar-Rahim,” dan “Bacalah dengan nama Tuhanmu.” [96:1]

Al-isti`adha memiliki banyak makna, kesemuanya tidak dapat dijelaskan di sini, karena semua maksud dan denotasinya akan memerlukan sebuah buku tersendiri. Kami akan menyingkat beberapa dari mereka itu di sini agar supaya ummat dapat mulai mengerti luas dan cakupan dari pernyataan tersebut.

Akar kata dari segi bahasa (linguistic) dari A`udhu billah adalah `adh, dari padanya muncul ista`adh. A`udhu billah berarti “Saya berlindung dengan, agar supaya Dia dapat menolak dari diri saya apa yang saya takutkan.” Ungkapan sejenis adalah “`udhtu bi Rabbee” – “Saya berlindung kepada Tuhanku”[7] dan “ma`adhallah” – “[Saya mencari] perlindungan Allah!”[8]

A`udhu billahi min ash-Shaytaan ir-rajeem,” diucapkan dalam bentuk kalimat kini dan mendatang (mudari`) bukannya kalimat masa lalu (maadi). Ini adalah karena makna mencari perlindungan adalah terkait dengan masa mendatang. Dalam hal demikian, itu seperti sebuah  du`a.

Seseorang tidak dapat masuk dalam bacaan al Qur’an Karim tanpa perkenan/ijinnya. Seseorang akan masuk ke dalam sebuah istana agar dapat mengunjungi seorang Raja, harus mohon ijin untuk masuk. Demikian juga, seorang tamu kepada sebuah rumah harus mengetuk pintu sebelum memasukinya.

Membaca “Saya mencari perlindungan dengan (kepada) Allah dari Satan terkutuk” adalah seperti mengetuk sebuah pintu Rahmat Surgawi, memohon ijin untuk masuk ke dalam Hadhirat Allah. Ini dilakukan  dengan menolak Shaytaan, dan menerima ar-Rahman. Itulah sebabnya Allah (swt) bersabda dalam Kitab Suci Nya bahwa adalah perlu untuk membaca al-isti`adha ketika kamu membaca al Qur’an. Adalah penting sekali untuk mengawali dengan al-isti`adha, karena tanpanya Shaytaan akan menunggangi kamu.

Salah satu dari masalah kita masa kini adalah bahwa kita memulai banyak tindakan tanpa pembacaan “A`udhu billahi min ash-Shaytaan ir-rajeem”, dan tanpa membaca, “Bismillah ir-Rahman  ir-Raheem.” Untuk alasan itulah banyak tindakan kita, `amaal, tidaklah lengkap dan tidaklah sempurna. Karena Nabi (s.a.w.) berkata, “Segala sesuatu yang tidak didiawali dengan ‘Bismillah ir-Rahman  ir-Raheem’ adalah terputus, dan tidak dapat dilanjutkan.” – “Kullu `amal la yabtadi` Bismillah ir-Rahman  ir-Raheem fa huwa abtar.”[9][buktikan] Agar supaya mencapai Basmala dan mulai membaca al Qur’an Suci, seseorang harus memulai dengan mencari perlindungan dengan Allah dari Satan, karena  Nabi s.a.w. diberitakan telah mengatakan, “Saya mencari perlindungan dengan Allah Maha Mendengar Maha Mengetahui dari Shaytan yang terkutuk.”[10] Atau “Saya mencari perlindungan dengan Allah dari Shaytan terkutuk,” yang diriwayatkan dari Nabi (s.a.w.) dan yang (bisa) dipilih dan disenangi oleh si pembaca.

Apakah kamu pikir al Qur’an Suci adalah tuli, bisu dan tak dapat berbicara. Al Qur’an Suci adalah naatiq – itu bisa bicara; itu adalah Kalimat Awal (Tua) Allah – “Kalaamullah il-qadeemi Kalaam un-naatiqi”. Al Qur’an terdiri atas kalimat dari cahaya dan berbicara untuk dirinya. Awliya mendengar bicaranya. Dalam mimpi bahkan seorang biasa dapat mendengar bacaan al Qur’an Suci. Dia mungkin terjaga (bangun) untuk mendapati dirinya membaca sebuah ayat atau satu surah dan merasa seperti meneruskan bacaan itu (tadi). Ini adalah yang digambarkan Rasul Allah (s.a.w.) ketika dia (s.a.w.) mengatakan, “Saya telah meninggalkan tiga hal dengan Ummah ku : kematian yang membuat mereka takut, mimpi benar yang memberikan mereka berita gembira, dan al Qur’an yang menyapa mereka.”[takhrij]

Ketika sebuah tape recorder dinyalakan akan terdengar kalimat, kata kata dari waktu (rekaman) sebelumnya. Itu hanya sebuah tape audio. Bagaimana tentang al Qur’an Suci? Jika sebuah tape audio dapat membawa kembali pidato setelah lewat satu abad, tidak dapatkan al Qur’an berbicara 1400 tahun setelah dia diturunkan kepada Nabi (s.a.w.)?

Mereka yang betul betul tahu, mengetuk pada pintu mencari jalan masuk ke dalam Majelis Allah dan rahasia dari al Qur’an Suci dengan berkata “A`udhu billahi min ash-Shaytaan ir-rajeem.” Kalimat Allah selalu muncul, dan mengucur seperti dari sebuah mata air segar (alam). Kebenaran ini hanya tersedia bagi mereka yang mengetahui; yang mendatangi pintu al Quran dengan sikap hormat, mencari pembelajaran, pemahaman dan kebijakan (hikmah). Mereka yang begitu adalah mereka yang mampu mendengar al the Qur’an berbicara kepada mereka.

Shaykh Isma`il al-Haqqi berkata:

“Wa man `araada qiraa’atil Qur’ani ‘innama yureedu dukhool fi munaajati ma`al Habib.” – “Dan siapapun ingin membaca al Qur’an, harus masuk kedalam pembicaraan intim dengan Yang Tercinta.”

Munaajaat ma`al habib” berarti sebuah pembicaraan intim dengan seseorang (sesuatu) yang kamu cintai, seorang yang kepadanya kamu membaca, Allah S.W.T.. Agar supaya masuk ke dalam sebuah pembicaraan intim dengan yang dicintainya sang mukmin pertama tama harus membersihkan lidah (lisan) dan jantung (qalbu) nya.

Agar supaya membersihkan lidah dan qalbunya sang pembaca harus bilang, “Ya Rabbi, A`udhu…” Itu artinya, Wahai Tuhan ku, dukunglah aku, karena aku membutuhkan  dukungan Mu– madad; syafa’at Mu – shafa`a dan Pertolongan Mu – istighaatha. Sang Pembaca berusaha melemparkan Shaytaan dari lidah dan qalbunya. Dia mencari pertolongan dari Allah (swt) terhadap Shaytaan, dan dalam membersihkan dirinya sendiri.

Banyak orang membaca al Qur’an Suci namun membiarkan diri mereka sendiri mudah terinterupsi/terganggu. Ketika seseorang mendatanginya, mereka berhenti (membaca) dan berbicara dengan pendatang itu. Bahkan beberapa orang melihat televisi sambil membaca. [Yang lain memasang tape al Qur’an tanpa memberikan padanya perhatian yang sepantasnya, sepertinya itu hanyalah sekedar musik latar belakang.] Semua ini adalah bertentangan dengan adab yang diresepkan untuk membaca al Qur’an.

Shaytaan langsung muncul ketika seseorang memulai membaca al Qur’an. Dia mewujudkan kehadirannya dengan menyebabkan interupsi, seperti bunyi bel tilpun. Dia berusaha mencegahmu dari pembacaan itu. Begitu kamu selesai, panggilan tilpun itu berhenti. Ini menggambarkan bagaimana Shaytaan bekerja. Kunci untuk mencegah interupsi yang demikian itu adalah dengan mengatakan, “A`udhu billahi min ash-Shaytaan ir-rajeem.”

Shaykh Isma`il al-Haqqi berkata:

“Wa qaala ahl ul-ma`rifati, hadhihi kalimat waseelat ul-mutatarireen” [buktikan] – “Mereka yang berilmu, para Auliya, mengatakan kalimat A`udhu billahi min ash-shaytaan ir-rajeem or A`udhu dengan makna seperti mereka mencari kedekatan kepada Tuhan mereka.” Mereka yang mencari kedekatan dengan Hadhirat Allah membaca resep ini secara terus menerus, “A`udhu billah,” “A`udhu billah,” “A`udhu billah.”

“Wat tisaad ul-khaa’ifeen wa abm al-mujrimeen.” – “Dan itu [al-isti`adha] adalah perlindungan bagi mereka yang takut akan Allah (swt)) dan jalan masuk para kriminal.” Mereka yang takut akan Allah mengatakan A`udhu billah, karena itu adalah sebuah perlindungan. Membaca al-isti’adha adalah sebuah jalan yang membawa seseorang lebih dekat kepada Allah. Itu melindungi sang pembaca, karena dia takut akan Allah (swt). Untuk penjahat itu adalah jalan masuk kepada ampunan Allah (swt). Ketika mereka menyadari bahwa mereka telah terlibat pekerjaan salah/dosa mereka mencari ampunan melalui al-isti`adha.

“Wa raja’ al haalikeen.” – “Mereka yang akan tersesat atau terbunuh dapat menggunakannya sebagai jalan untuk kembali kepada Allah (swt).” Untuk mereka yang mengetahui bahwa mereka adalah pendosa al-isti`adha adalah satu satunya jalan untuk bertaubat dan kembali kepada Tuhannya. Mereka mengatakan “Saya mencari perlindungan dengan Allah dari Satan terkutuk” agar supaya bertobat.

Wa mubaasaatat al-muhibbeen” – “dan itu [al-isti`adha] adalah jalan kepada sebuah percakapan intim kepada Tuhanmu Yang Tercinta.” Mukmin mencintai Tuhan mereka, dan ingin bersama Nya, dan mencari perlindungan Nya dari Shaytaan.

Komentator Imam Ibn Juzayy berkata:

“Jika dibaca dengan segala kesungguhan, Allah swt menjawab doa al-isti’adha dengan perlindungan yang dicarinya. Demikianlah kasus isteri `Imran ketika dia mencari perlindungan untuk Maryam dan keturunan Maryam, maka Allah melindungi mereka. Allah swt bersabda, وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وِإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ “Dan Aku telah menamai dia Maryam dan telah mencari perlindungan dengan Mu untuk nya dan keturunannya dari Shaytaan terkutuk”. [3: 36] Abu Hurayrah (r) meriwayatkan bahwa Nabi (s.a.w.) berkata, “Shaytaan menusuk setiap bayi yang terlahir sehingga dia menangis, kecuali bayi lelaki Maryam dan ibunya.”[11]

Shaykh Isma`il al-Haqqi menyatakan:

“Wa `allama anna kalimat il-istighaatha thalaathun: siffaatiyya wa `afaliyya wa dhaatiyya kama qaala salla Allahu `alayha wa sallam ‘ a`udhu bi ridhaaka min sakhatik wa bi mu`aafatika min `uqoobatik wa a`udhu bika minka.’” – “Ketahuilah bahwa ketika seorang mukmin berkata ‘Saya mencari perlindungan’ itu melalui tiga moda pendekatan berbeda  kepada Allah swt bahwa mukmin itu mencari Pertolongan Ilahiah Nya. Yang pertama adalah melalui jalan Sifat (Attributes) Allah (siffaatiyya); yang kedua adalah melalui jangkauan Tindakan Ilahiah Nya dan yang ketiga adalah melalui Dzat Nya sebagaimana tercakup dalam doa Nabi (s.a.w.), “Saya mencari perlindungan dalam  Ridha Mu kepada ku terhadap kemarahan Mu; dalam Kesembuhan Mu terhadap Hukuman Mu dan dengan Engkau terhadap Engkau.”

Ketika seseorang mengatakan Saya mencari perlindungan dalam Ridha Mu kepada ku terhadap Kemarahan Mu, dia menggambarkan sesuatu yang menjadi milik Allah (swt). Ridha Allah dan Kemarahan Allah adalah gambaran Sifat Allah. Ridha artinya Kegembiraan Nya, penerimaan dan kepuasan. Sakhatillah adalah ketidak-puasan, kemarahan dan kutukan Allah; segala sesuatu dibawah sakhatillah adalah layak menerima hukuman Nya. Dua istilah ini disebut sebagai siffaatiyya – mencari perlindungan dalam Allah melalui gambaran sifat Nya.

Seperti (berikut) ini adalah doa yang diajarkan Nabi (s.a.w.) untuk mengurangi sakit (nyeri) pada satu bagian tubuh. Diriwayatkan bahwa `Uthman ibn Abi al-`As (s.a.w.) mengeluh sakit kepada Nabi (s.a.w.), yang  mengatakan padanya, “Taruh tanganmu pada bagian tubuh yang sakit dan katakan Bismillah tiga kali dan tujuh kali, “A`udhu bi-`izzatillahi wa qudratihi min sharri’ maa ajidu wa ahaadhir” – “Saya mencari perlindungan dalam Kehormatan Allah dan Kuasa Nya dari kejahatan yang mengendap-endap dan mendapati (from the evil which find and watch out for).”

Juga dari `adh-sifaatiyya mencari perlindungan dalam Kalimat Suci Allah. Nabi s.a.w. biasa menyebutkan cucunya al-Hasan and al-Husayn (r) kepada Perlindungan Allah dengan doa berikut ini, mengatakan, “u`eedhukum bi-kalimaatillah it-taamaati min kulli shaytaanin wa haamattin wa min kulli `aynin laamma,” – “Saya mencari perlindungan bagi kalian berdua dengan Kalimat Sempurna Allah dari segala satan dan semua serangga beracun dan semua mata setan (iri).” Dan dia (s.a.w.) biasa membaca, “a`udhu bi-kalimaatillah it-taammaatti kulliha min sharri maa khalaq,” – “Saya mencari perlindungan dalam Kalimat Sempurna Allah dari keburukan yang Dia ciptakan.”

Cara pendekatan kedua  adalah af`aliyya aw fi`aaliyya, ketika mukmin mencari pertolongan Allah melalui pelaksanaan tindakan yang diresepkan Allah (swt) atau dengan cara Sifat Tindakan Allah. Bila Nabi (s.a.w.) berkata “A`udhu bi mu`aafatika min `uqoobatik.” – “Saya mencari perlindungan dengan Penyembuhan dan Ampunan Mu terhadap Hukuman Mu.” Ini adalah sebuah referensi kepada Tindakan Ilahiah yang dilakukan kepada mukmin. Jika seseorang sakit, penyembuhan Allah (swt) adalah sebuah tindakan. Itu sesuatu dalam keadaan mukmin yang dirubah. Itulah sebabnya dia disebut fi`l, sebuah tindakan yang terjadi. “Wa bi mu`aafaatika min `uqoobatik” adalah sebuah permohonan kepada Pertolongan Allah (swt) dan sebuah Penyembuhan dari Hukuman Nya.

Ketiga, adalah adh-dhaatiyya, sesuatu yang dimiliki Diri Allah, Dzat Nya. Doa Nabi (s.a.w.) diakhiri dengan “Wa a`udhu bika minka” – “dan saya mencari perlindungan dalam Engkau terhadap Engkau.”

Terdapat banyak khazanah (gudang) doa diriwayatkan dari Nabi (s.a.w.) yang dimulai dari kalimat “a`udhu bika” – “Saya mencari perlindungan dalam Engkau …”. Sebagai tambahan pencarian perlindungan dalam Allah adalah moda alamat yang diperintahkan Nya kepada Nabi terkasih Nya (s.a.w.) untuk digunakan dalam pencari perlindungan terhadap kejahatan sihir, dengki dan terhadap bisikan shaytan dalam dua surat yang diturunkan untuk maksud ini, yang dikenal sebagai “Dua Penjaga” – al-mu`awwidhatayn, Surat Falaq dan Surat an-Naas (113 dan 114), dua surat surat terakhir dalam al Quran, keduanya dimulai dengan, “Qul: a`udhu…” – “Katakan: saya mencari perlindungan …”

Mengenai dua surat ini, Ibn Qayyim al-Jawziyya menyatakan:

Itu dilaporkan dalam hadith sahih bahwa sebelum pengungkapan dua sura itu, Rasul Allah (s.a.w.) jatuh sakit di bawah pengaruh sihir musuh musuhnya, yang menciptakan karya jahat dengan mengikat sebelas buhul (ikatan) pada seutas tali dan meniupkan pada nya (buhul) kutukan khusus. Dua surat ini kemudian diturunkan kepada nya (s.a.w.) dan malaikat Jibreel (as) membawa keduanya dari Tuhan nya. Setiap kali dia membawa keduanya, satu buhul terurai, sampai semua sebelas buhul terurai, dan sekonyong konyong Rasul Allah (s.a.w.) berdiri atas kedua kakinya seakan sebuah ikat kepala yang terikat kencang terlepas darinya dan dia (s.a.w.) menjadi terbebas dari sihir jahat mereka.

Kedua surat penjaga ini (surat 113 dan 114), al- mu`awwidhatayn, mereka merupakan tameng perlindungan dan permohonan ciptaan untuk mendapatkan perlindungan yang tidak terkalahkan dan tidak tertembusi dalam Kalimat Suci Allah dari setiap dan semua kejahatan, termasuk kejahatan yang muncul dari kegelapan malam (ghaasiq) dan tanda tanda mendasarnya, rembulan, ketika cahayanya meredup atau tidak jelas. Roh jahat dan berbahaya seperti itu bersembunyi selama siang hari dimana mereka tidak dapat muncul, dan mengambil keuntungan dari malam yang gelap untuk muncul, menyebabkan kekacauan, dan menyerbu bola  psykis (lingkungan sekitar) mereka yang mengantuk, dan mereka yang culas, mereka yang lemah, mereka yang tak peduli, mereka yang mengabaikan kewajibannya kepada Tuhan mereka, dan mereka yang tidak sadar dan cuek – jadi, mencari perlindungan dalam kekuatan perlindungan Kalimat Suci Allah dari kutukan jahat para penyihir dan dukun yang mengikat buhul pada seutas tali, meludahinya dan meniupi nya dengan kutukan dan cacian. Perlindungan ilahiah ini dicari dalam doa ini meliputi juga perlindungan terhadap mereka yang iri/dengki, kejahatan fatal mereka, ancaman dan mata jahatnya.

Dalam sebuah hadits `Abdullah ibn Mas`ud, berkata,”Kami berdiri dalam shalat di belakang Nabi (s.a.w.) dan ketika dia s.a.w. melakukan sujud seekor kalajengking menyengat nya (s.a.w.). Nabi (s.a.w.) bergerak ke samping dan berkata, ‘Allah mengutuk kalajengking, karena dia itu tidak membiarkan  bebas dari racunny apakah seorang nabi ataukah siapapun lainnya.’ Kemudian Nabi s.a.w. menaruh air dengan garam kepada luka sengatan dan meniup luka itu dari mulutnya yang penuh barakah sambil membaca surat al-Ikhlaas, al-Falaq dan an-Naas. Dia (s.a.w.) mengulang tindakan (pengobatan) ini sampai rasa sakit dan efek racun mereda.”[12]

Dilaporkan oleh `Aisha (r), bahawa Rasul Allah (s.a.w.) biasa membaca surat al-Ikhlaas dan mu`awwidhitayn, kemudian meniup ke dalam telapak tangan nya (s.a.w.) dan mengusap wajah nya (s.a.w.), dan bagian tubuh yang manapun yang dapat dicapai tangan nya (s.a.w.).”[13]

Kita akhiri penjelasan kami tentang kalimat “a`udhu” dan melanjutkan kepada kata berikutnya dari rumus: “a`udhu billahi min ash-Shaytaan ir-rajeem” yang adalah ‘billah’. Ingatlah bahwa apa yang telah kami jelaskan sejauh ini hanyalah sekedar sebuah ringkasan, dan itu tidaklah mengungkapkan seluruh makna dari kata/kalimat tersebut.

Dengan Allah – Billah

Kata kedua dalam ungkapan ini adalah ‘billah’. “A`udhu billah,” berarti untuk mencari kekuatan dan dukungan dari satu-satunya Maha Satu yang dapat memberikan pertolongan, Maha Satu yang Memiliki semua Kekuatan, dan itulah Allah. “A`udhu billah il-Qaadir `alal qudri maktooraf?? min jami` il ahwal wal- `aafat” – “Saya memohon kekuatan dan dukungan dari Maha Satu yang memiliki Kuasa dan Yang mampu menundukkan segala sesuatu dan membangkitkan segala sesuatunya.”

Ibn al-Juzayy menjelaskan dari segi ilmu bahasa mengenai nama persisnya ‘Allah’ – yang secara sederhana diterjemahkan sebagai ‘Tuhan’:

“Allah” adalah sebuah ungkapan nama mendasar dan ‘alif’ dan ‘lam’ di dalamnya adalah sebuah bagian asli dari nama itu dan bukan untuk maksud menggunakannya sebagai kata benda tertentu (yakni bukan makna dari ‘Tuhan’)

Juga telah dikatakan bahwa itu adalah dari at-ta’alluh yang artinya at-ta`bud – “ibadah” atau “perhambaan”.

Juga telah dikatakan bahwa itu adalah dari walhaan (sangat jatuh cinta) yang artinya haira (mabuk), kaena intelek menjadi mabuk tentang urusan Nya.

Telah dikatakan bahwa itu adalah ilah (sebuah tuhan – dia yang menjadi sesembahan), tanpa ‘alif’ dan ‘lam’, yang dari padanya hamzah itu dihapuskan dan bunyi huruf hidupnya dipindahkan ke ‘lam’ persis seperti dalam hal al-ard (diucapkan  dalam ucapan Madinan dibuktikan dalam bacaan al Qur’an Imam Nafi` hampir seperti alard) dan sejenisnya, sehingga dua ‘lam’ itu menjadi satu dan salah satunya diasilimilasikan ke dalam satunya lagi dan itu diberi penekanan ucapan asimilisasi  (tafkheem yaitu suara  ‘aw’ seperti dalam kata English ‘ball’) untuk kata seru, kecuali terdapat kasrah (bunyi ‘i’) di depannya.[14]

Shaykh `Abd al-Khaaliq al-Ghujdawaani, (q) berkata:

“Nama ‘Allah’ meliputi semua sembilan puluh sembilan Nama dan Sifat (Attribute) Nya. Nama ini terdiri atas empat huruf, ‘Alif’, ‘Lam’, ‘Lam’ dan ‘Hah’ yang sama (ALLAH). Jema’ah Sufism berkata bahwa Dzat Allah S.W.T. yang mutlak gaib dinyatakan oleh huruf terakhir yang diberi huruf hidup ‘Alif’, ‘Ha’ itu. Itu mewakili Gaib Mutlak nya  “ke-Dia-an” dari Tuhan Yang Maha Tinggi (ghayb al-Huwiyya al-mutlaqa lillah `azza wa jall). Lam pertama adalah untuk kebutuhan identifikasi (ta`rif) dan Lam kedua adalah untuk keperluan penekanan (mubalagha).”

Shaykh Sharafauddin ad-Daghestani (q), berbicara tentang maqam dhikr jantung mengatakan:

“’Allah’ adalah Nama Dzat Allah. Itu adalah Sultan dari semua Nama Nama, karena Itu meliputi (mencakup) semua makna mereka dan semua Sifat (Attribute) kembali kepada Nya. Itu seperti kata untuk semua Sifat ini dan itulah sebabnya disebut, Ism al-Jalala, Nama Paling Agung, karena Dia adalah Maha (Paling) Tinggi dan Dia adalah Paling Di-Agungkan dan Dia adalah Maha (Paling) Akbar.

“Adalah tidak mungkin melalui pemahaman pikiran untuk memanen  buah dari semua rahasia ini. Raga manusia tak dapat mencakup Kebenaran Makna Tuhan. Adalah tidak mungkin bagi tubuh manusia untuk mencapai Kerajaan Tersembunyi dari Maha Satu yang Khas. Bagi para orang Haqqiqah, hanya terdapat kekaguman dan rasa rendah begitu mereka memasuki Maqam Ilmu Tersembunyi, mereka hilang, linglung.”

Shaykh Isma`il al-Haqqi berkata :

“Kullu `uloom bil kutub al arba`a wa `uloomuha fil Qur’an.” – “Dikatakan bahwa semua ilmu yang diberikan Allah kepada manusia di alam semesta  ini (bisa) didapat di dalam empat kitab suci: az-Zabur (Psalms), Taurat (Torah), Injeel (Gospel atau  Testamen Baru), dan al Qur’an Suci”.

Wa `uloomul Qur’an bil Fatiha.” – “Ilmu lengkap al Qur’an Suci berada dalam al Faatiha.” Dan: “Wa `uloomul Fatiha bil basmala.” – “Semua ilmu dalam al Fatiha juga terdapat  didalam Basmala (Bismillah ir-Rahman  ir-Raheem). Dan semua ilmu di dalam Basmala terdapat di dalam harful ba (huruf ba). Hikmah dari empat kitab suci lainnya berada di dalam al Qur’an Suci, Intinya berada dalam al Fatiha dan maknanya berada dalam Basmala.”

Kit akan masuk lebih jauh ke dalam penjelasan tentang Basmala nanti. Cukuplah untuk mengatakan di sini bahwa pintu ke pada Basmala adalah al-isti`adha dan Pembuka Pintu itu adalah Allah. Jadi para Pencari di dalam Kerajaan pemahaman dan hikmah al Qur’an, mencari pertolongan kepada Maha Satu yang adalah Sumber dari al Qur’an, Allah swt, Pembuka Pintu (Mufattih ul-abwaab) dan Pengembang Qalbu ( Mubaasit al-qulub )

Shaytaan

Nama “Shaytaan” diturunkan dari akar sejarah bahasa ‘shtn’ yang artinya, “Dia menjadi jauh sekali, jauh dari Rahmat Allah.” Dalam turunan huruf ‘nun’ adalah satu dari huruf akar dan ‘yah’ adalah tambahan (extra). Juga dikatakan bahwa turunannya adalah dari akar kata ‘shaat’ – “itu terbakar atau menjadi terbakar”. Jadi “A`udhu billahi min ash-Shaytaan ir-rajeem” berarti: “Ya Allah, saya mencari perlindungan dalam Engkau dari Shaytaan yang telah  Engkau buang (lemparkan dari) Hadhirat Mu juga (terlempar) dari Rahmat Mu.”

Riwayat pembangkangan Shaytaan dan penipuannya terhadap Adam (as) diriwayatkan berkali kali dalam al Qur’an[15], dan dari padanya (riwayat itu) diberikan banyak peringatan kepada manusia sebagai keseluruhan dan secara khusus kepada mukminun. Dalam Surat al-`Araaf terdapat uraian sebagai berikut :

Adalah Kami yang menciptakan kamu dan memberimu bentuk; kemudian Kami perintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam, dan merekapun bersujud; tidak demikian Iblis; dia menolak menjadi mereka yang bersujud.
(Allah) bersabda: “Apa yang mencegahmu bersujud ketika Aku perintahkan kamu?” Dia berkata: “Saya lebih baik dari pada dia: Engkau menciptakan aku dari api, dan dia dari lempung (tanah liat).”
(Allah) bersabda: “keluarlah kamu dari sini: disini bukanlah tempatnya kamu untuk bersombong: keluarlah, karena kamu adalah paling hina (dari semua ciptaan).”
Dia berkata: “Berilah saya penundaan sampai mereka semua dibangkitkan kembali.”
(Allah) bersabda: “Jadilah kamu menjadi mereka yang mendapat penundaan.”
Dia berkata: “Karena Engkau telah melemparkan aku dari jalan (lurus), maka  Aku akan menunggu mengendap terhadap mereka (bani Adam) yang berada di jalan lurus Mu:
“Kemudian aku akan menyerang mereka dari depan mereka dari belakang mereka, dari kanan mereka dan dari kiri mereka: tidaklah Engkau dapati dari kebanyakan mereka rasa bersyukur (atas Rahmat Mu).”
(Allah) bersabda: “Keluarlah dari sini, terhina dan terbuang. Jika siapa pun dari mereka yang mengikuti kamu, neraka akan Aku penuhi dengan kamu sekalian.
“Ya Adam! Tinggallah kamu dan isterimu dalam Taman, dan nikmati (benda benda bagus nya) sekehendakmu: namun janganlah mendekati pohon ini, atau kamu akan mengalami bahaya dan berbuat dosa.”
Kemudian mulailah Satan membisikkan anjuran kepada mereka, mengungkapkan secara terbuka dalam pikiran mereka semua rasa malu yang selama ini tersembunyi dari mereka (sebelum ini): dia berkata: “Tuhan mu hanya melarangmu pohon ini, khawatir kamu akan menjadi malaikat atau makhluq semacam itu yang abadi.”
Dan dia bersumpah kepada mereka berdua, bahwa dia adalah penasihat jujur bagi mereka.
Jadi dengan kelicikan dia membawa kejatuhan mereka: ketika mereka mencicipi pohon itu, rasa malu mereka menjadi nyata bagi mereka, dan mereka mulai menjahit (menyam bung) daun pohon itu untuk menutupi tubuh mereka. Dan Tuhan mereka memanggil mereka: “Bukankah Aku melarang kamu (mendekati) pohon ini, dan memberi tahu kamu bahwa Satan adalah musuh nyata bagimu?”
Mereka berkata: “Tuhan kami! Kami telah mendhalimi diri sendiri: jika Engkau tidak mengampunkan kami dan tidak memberikan Rahmat Mu kepada kami, sungguh kami akan menjadi sesat.”
(Allah) bersabda: “Turunlah (keluar) kamu. Dengan rasa saling bermusuhan satu sama lain. Di bumi lah tempat tinggal kalian dan jalan kehidupan kalian – untuk sementara.”
Dia bersabda: “Di sanalah kalian akan hidup, dan di sanalah kalian akan mati; namun dari padanya pula kalian (akhirnya) akan diangkat.”
[7:11 – 25][16]

Ibn Abbas[i] (ra) berkata, “Lamma `asa, lu`ina wa saaba Shaytaan.” – “Ketika dia membangkang, dia dikutuk, maka dia menjadi [dikenal sebagai] Satan.”

Sebelum menjadi Shaytaan, dia dikenal sebagai Iblees. Iblees adalah satu jinn, dan bapak dari banyak sekali keturunan. Dia (tadinya) adalah satu abdi yang sangat taat. Dikatakan bahwa peribadatan Iblees’ lebih besar dari pada Jinn lainnya, dan Allah mengangkatnya ke surga dunia (the heaven of the earth), di mana dia beribadah (worshipped) Allah selama seribu tahun dan dikenal sebagai ‘Sang Pengabdi (l-`aabid ???). Kemudian Allah mengangkat dia ke surga kedua, dan seterusnya sampai dia mencapai level ke tujuh. Jadi setiap hari dia beribadah (memuja) di surga (langit) yang berbeda beda, dan setiap hari di sana sama dengan seribu tahun (di bumi?).

Al-Kisa’I[17] berkata, “Iblees menempati posisi tinggi di antara para malaikat. Setiap kali Jibreel (as) dan Mika’eel (as) dan lain lain melewati dia, mereka akan berkata, ‘Allah telah memberi abdi ini sebuah kemampuan untuk mematuhi Allah sedemikian rupa seperti yang belum diberikan Nya kepada satupun malaikat.’”

Dia juga dikenal sebagai ‘penghulu para ascetics (mereka yang mempraktekkan ketekunan bersungguh sungguh mengekang diri (ego)nya dalam rangka beribadah kepada Tuhannya)’.

Ketika Allah menyuruh Iblees bersujud dihadapan Adam (as), dia menolak (membangkang). Sebelum dikeluarkannya perintah untuk bersujud di hadapan (sajda) Adam (as), Iblees selalu terlibat kegiatan ibadah kepada Allah. Setelah Allah mengutuknya, dia terus (tetap) beriman kepada Tuhannya. Itulah sebabnya dia memohon kepada Nya untuk diperkenankan untuk bebas bertindak sampai datangnya Hari Pengadilan. Dia berkata, “wa la-ughaweeannahum  ajma`eenوَلأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ “dan saya akan membuat mereka semua tersesat.” [15:39].

Catatlah baik baik bahwa Shaytaan masih mengenali (mengakui) Allah sebagai Tuhan (Sesembahan) nya. Dia tidak menolak Nya (sebagai sesembahan). Dia tidak pula meninggalkan tawhid (bertuhan satu), karena dia tidsak pernaah menyatakan bahwa Tuhan nya memiliki keturunan, bahwa Jesus adalah putera Allah, tidak pula dia mengatakan bahwa `Azeez adalah putera Allah. Dia melanjutkan berkata,

“Engkau Ya Allah, adalah Tuhanku.” Namun, meskipun imannya (masih ada), dia tidak melakukan  sujud kepada Adam (as) dan untuk pembangkangannya itu Allah mengutuknya. Untuk dosa tunggal itu Allah membuatnya jadi Satan, Si Jahat (the Devil), dan memerintahkan bahwa untuk setiap bacaan al Qur’an dimulai dengan mencari perlindungan Allah dari pada nya dengan membaca al-isti`adha.

Iblees hanya melakukan satu dosa, jadi bagaimana dengan kita? Berapa dosa yang telah kita perbuat? Satu? Tidak. Dua, tiga, empat… . tak terhitung banyaknya. Sebuah dosa adalah menipu, curang, mengakali, tidak mematuhi Allah. Terdapat perbedaan yang besar sekali antara kita dan Shaytaan. Iblees membangkang sekali dan untuk itu Allah mengutuknya.

Ibn `Abbas (r) berkata, “saara shaytaan fatala `ala annahu innamaa summiyya bi hadhal ism ba`da la`anahullah lahu.” – “Setelah Allah mengutuknya dia disebut ‘Shaytaan’.”

Sebelum itu nama aselinya adalah `Azaazeel. Hidup di antara para malaikat, di Surga dan di langit yang tujuh dia dihormati dengan nama `Azaazeel. Dengan pembangkangannya dia kehilangan kehormatan tersebut , dikutuk, dan menjadi makhluq yang paling dikutuk – Satan.

Azaazeel mengabdi Tuhannya lebih dari para Jinn lainnya, dia adalah yang terbaik di antara sesamanya. Jadi Allah memberinya sepasang sayap yang dapat digunakannya terbang dan bergabung dengan para malaikat dan belajar jalan (hidup) mereka. Sekali waktu Allah memerintahkan dia untuk memerangi [Jinn] yang membangkang, dan dalam pertempuran mereka dikalahkan. Azaazeel adalah pemimpin para petarung itu, dan atas kemenangan mereka itu kebanggan menguasai jantungnya.

Azaazeel telah mengabdi Allah selama 40,000 tahun di langit, selama 40,000 tahun di bumi dan selama 40,000 tahun di surga.[18]

Shah Naqshband (q) berkata:

“Jika sekiranya saya mendapatkan tempat  di bumi atau di langit di mana Iblees belum pernah meletakkan dahinya di situ dalam sujud (sajda) (kepada Allah), saya akan menyembunyikan ummat Muhammad (s.a.w.) di sana. Tetapi tidak terdapat satu tempatpun, yang belum digunakan nya untuk bersujud.”

Grandshaykh Abdullah al-Fa’iz ad-Daghestani berkata:

Satan dulunya adalah satu (makhluq) abdi sempurna dari Tuhannya, beribadah dan menghormati Nya tanpa pembangkangan selama lebih dari dua ribu tahun; namun satu kali waktu, hanya sekali saja, dia menggunakan kehendak nya  melawan Kehendak Tuhannya. Menaruh kehendaknya di atas Kehendak Tuhannya – bukanlah dan tidak akan pernah menjadi perbuatan benar – itu adalah satu satunya alasan atas terusirnya dia. Ketika Allah menciptakan Adam (a.s.), Kehendak Nya adalah agar semua saja bersujud di hadapan Adam (as) sebagai tanda penghormatan, jadi Dia memerintahkan semua saja melakukan hal itu. Semua mematuhi (perintah itu) kecuali Satan, yang berkata, “Tidak.” Makna dari penolakan ini adalah, “Kehendakku adalah lebih tinggi dari Kehendak Mu, saya tidak mematuhi Perintah  Mu.” Penolakan untuk patuh itu membuatnya terlempar (jatuh) ke dalam pengucilan gelap, dan itu adalah awal dan sumber mata air dari segala dosa.

Setiap anak cucu Adam yang menempatkan kehendaknya lebih tinggi dari Kehendak Allah atau kehendak  Nabi (s.a.w.) adalah secara tersirat (rahasia) menempatkan pasangan (partner) kepada Allah (ashshirk al-khafee); ini tidak terbuka, namun tersembunyi jadi sangat berbahaya dan sebuah asal  (sebab musabab) dari kesukaran yang mendalam. Khususnya dalam jaman kita ini, setiap orang memegang erat erat kehendaknya sendiri, memaksakan bahwa (kehendaknya) itu mengatasi segala sesuatu lainnya.

Ini tidak bertentangan dengan iradah Allah, atau Kehendak Nya, seperti nampaknya pada pandangan pertama. Memberi komentar tentang aspek peka ini tentang al-qada wal-qadr, Putusan Ilahiah, al-Kulayni berkata, “Allah dapat memerintahkan sesuatu namun Menghendaki bahwa itu tidak terjadi : Dia memerintahkan Iblees untuk bersujud dihadapan Adam (as) namun mengehendaki bahwa dia tidak bersujud; sekiranya Dia menghendaki nya, dia (Iblis) akan harus mematuhinya. Dia melarang Adam (as) makan pohon itu, tetapi menghendaki bahwa dia makan; sekiranya Dia menghendaki bahwa dia tidak makan, dia tidak akan makan.”[19]

Ini dinyatakan dalam istilah yang lebih jenaka oleh Al-Hallaaj[20] yang mengatakan bahwa Iblees adalah seperti seseorang yang terikat kaki dan tangannya dan dibuang kedalam laut sementara itu diingatkan agar tidak basah.

Untuk alasan ini, Nabi (s.a.w.) biasa mengajari doa berikut ini kepada Ummatnya, “allahumma laa takilnee ila nafsee tarfata `aynin wa laa aqal min dhaalik.” – “Ya Allah Tuhan kami! Jangan tinggalkan kami di tangan ego kami walau hanya sekejab atau bahkan kurang dari itu.” Karena ego itu, dibawah arahan Shaytan, akan menyebabkan abdi Allah tergelincir, bahkan pada saat terakhir dari hidupnyapun. Maka dari itu adalah kebiasaan abdi Allah yang bijak dan suci untuk memohon, “Ya Allah, jadikanlah saya mati dalam iman” karena ketakutan mereka adalah pada saat sekarat maut, Shaytaan akan menyebabkan mereka tergelincir. Semoga Allah memberikan kita akhir yang baik (husnul khatimah). Adalah sangat kasihan dan malang benar untuk mendapati akhir hidup yang buruk setelah sebuah hidup yang baik.

Grandshaykh `Abdullah ad-Daghestani berkata:

“Ketika Allah ‘Azza wa Jalla meletakkan Adam (as) di Surga dan bersabda kepadanya: ‘Segala sesuatu telah dianugerahkan, nikmatilah segala kemurahan ini kecuali pohon buah ini yang kamu dilarang bahkan untuk mendekatinyapun,’ Ego Adam berkata, ‘Ya Allah Tuhan saya, Engkau tidak menghendaki saya makan dari nya, tetapi saya mau memakannya.’ Karena keinginan ego nya tidak sejalan dengan Keinginan Tuhannya, dia menjadi lemah terhadap bisikan Satan. Karena inilah Adam dipaksa ke Bumi untuk belajar adab dan disiplin, kesimpulan dari ini adalah kita harus bilang di dalam diri kita sendiri, “Sebagaimana Engkau kehendaki, Ya Allah Tuhan saya!” Jika kita tidak dapat mengatakan ini di dalam lubuk jantung(hati) kita yang terdalam, itu berarti kita membuat keinginan kita tuhan diatas Allah al Hafidz (Azza wa Jalla).

Ketika Adam (as) makan dari pohon itu menentang Kehendak Tuhannya, Allah mencopot baju Surgawi dari padanya dan membiarkannya telanjang dan mempermalukan nya agar supaya dia merasa sangat rendah atas apa yang telah diperbuatnya. Kita harus sangat berhati hati untuk (jangan sampai) mengangkat pasangan bagi Allah Azza wa Jalla melalui tindakan kita. Jika kita mengambil kehati hatian dalam titik titik pemahaman yang peka ini, maka akan menjadi mudah bagi kita untuk menerima Cahaya Ilahiah dalam qalbu kita.”

Shaykh Nazim Adil al-Haqqani berkata:

“Ego kita  dan Shaytan memiliki karakter yang sama. Shaytan adalah yang pertama memberontak terhadap Allah dan tak satupun mendahului dia dalam hal ini. Ego kita, nafs, juga tidak pernah menerima pengabdian kepada Allah swt. Maka, karakter yang sama dari Shaytan adalah juga bagian dari ego kita. Dan apabla ego kita berada dibawah pengaruh Shaytan, itu adalah sama seperti bersatunya seorang lelaki dengan seorang wanita; dari penyatuan itu datanglah satu bayi; nafs dan Shaytan, menjadi satu, hanya dapat melahirkan kejahatan (evil).”

Spesis Shayaateen dan Jinn

Shaykh Isma`il al-Haqqi berkata, “Shaytaan tidaklah sendirian, namun memiliki tak terhitung keturunan, yang dikenal sebagai shayaateen (bentuk jamak). Beberapa ulama mengatakan bahwa shayaateen itu berkelamin lelaki dan wanita. Mereka melahirkan dan mereka baka (tidak mati). Jumlah mereka terus menerus berlipat dan mereka terus hidup/tak mati mati (yukhalladoon), tetapi nasib buruk mereka adalah mereka penghuni Neraka.”

Dzat dasar dari kedua specis adalah dari api, sedang manusia dibuat dari tanah dan malaikat dari cahaya.  Wahb bin Munabbih[ii] (r) menceritakan, “Ketika Allah menciptakan api Samum, yang adalah api yang tidak panas, tidak berasap, Dia menciptakan ayah dari Jinn, yang namanya adalah Jann, dari padanya  sebagaimana  Dia katakan dalam “dan kita sebelum ini menciptakan Jinn dari api yang lembut.” [15: 27]

Shaykh Isma`il al-Haqqi berkata, “Jinn adalah satu ciptaan sedang shayaateen adalah lain lagi. Shayaateen adalah jahat (devil), keturunan dan pengikut Iblees. Jinn adalah lelaki dan perempuan. Seperti shayateen mereka melahirkan, namun tidak seperti mereka, mereka ini tidak mati (abadi). Mereka akan dihadapkan kepada Allah untuk diadili pada Hari Terakhir.”

Imam Ibn Juzayy dalam Tafsir nya, berkata bahwa ketika seseorang membaca isti`adha, orang itu mencari perlindungan dalam Allah dari seluruh warga shayaateen, juga dari Iblees pribadi.

Shaykh Isma`il al-Haqqi berkata, “Wal malaa’ika laysa bidh-dhukuri wal-inaath.” Malaikat bukan lelaki bukan pula perempuan. Allah tahu mereka itu apa. Mereka tidak melahirkan tidak pula mereka makan dan minum.

Imam Zamakhshari percaya pada Jinn

Shaykh Isma`il al-Haqqi mengisahkan sebuah cerita tentang Imam Ghazali:

Dia sedang  melewati sebuah krisis dan terjatuh  ke dalam keraguan mengenai iman, setelah hal itu Allah membimbing nya, membuka jantungnya dan menganugerahkan kepadanya `ilm ul-kashf – penampakan gnostic. Imam al Ghazali diberi gelar ‘muhiy as-sunnah’ – penghidup sunnah. Dia adalah mufti (profesional ahli tafsir hukum Islam) bukan hanya untuk jenis manusia tetapi juga untuk jenis jinn. Jinn dan manusia akan mendatanginya dalam mencari bantuan dengan persoalan mereka.

Suatu waktu, dia bertanya kepada beberapa jinn tentang berita hari itu. Mereka memberitahu dia bahwa az Zamakhshari  (seorang ulama terkenal pada masa itu) telah menulis sebuh buku tentang tafseer. Az Zamakhshari adalah (seorang) di antara  ulama besar pada jaman nya, namun dia mengikuti akidah (`aqeeda) madzab Mu`tazila, sebuah kelompok yang menyimpang dari Ahl as-Sunna wal-Jama`at. Dia telah menyelesaikan separuh tafseer al Qur’an nya. Imam Ghazali memerintahkan jinn itu untuk membawa kepadanya buku tersebut, tanpa diketahui az-Zamakhshari. Dalam sesaat, buku tersebut telah dibawa kehadapan Imam Ghazali. Imam ini memerintahkan agar semua yang telah ditulis az-Zamakhshari direkam (copy), dan kemudian jinn itu mengembalikan buku aselinya ke tempatnya semula.

Beberapa waktu kemudian Az-Zamakhshari datang mengunjungi Imam Besar tersebut. Imam Ghazali mengeluarkan rekamannya dari tafseer itu dan memperlihatkannya kepada nya. Az-Zamakhshari melihat kepada rekaman itu dan sangat terperangah (tahayyur). Dia berkata, “Jika kamu mengatakan, ‘ini adalah milikku,’ maka itu mustahil karena saya telah menyembunyikan nya, dan tak seorangpun pernah melihatnya! Dan bila anda bilang, ‘ini adalah milikmu,’ bagaimana mungkin anda telah menulis sesuatu yang sangat persis dengan yang saya tulis? Tak satupun telah dirubah! Bahkan penekanan (punctuation) yang saya gunakan tepat berada ditempat yang seharusnya: titik; hamzas [tanda diacritical]; bahkan shadda…! Itu tidak mungkin!”

Dia melanjutnya, “Jadi kemampuan jenis apa yang anda miliki, untuk membuat buku ini? Ini bukan milikmu. Bagaimana anda mendapatkannya? Saya mempunyai copy yang persis sama di rumah. Bagaimana ini bisa jadi berada di sini?” Imam Ghazali kemudian menjelaskan bahwa jinn itu telah membawanya kepadanya. Dia bialng kepadanya, “Anda seorang ulama besar, namun anda tidak pernah percaya akan jinn. Dan justru jinn inilah yang membawa buku ini kepada ku, dan merekamnya.”

Atas kejadian itu az-Zamakshari setuju tentang keberadaan jinn.

Kekuatan Jinn

Pada masa sekarang kita punya mesin photocopy namun pada saat itu jinn memiliki cara mereka sendiri untuk membuat rekaman. Begitulah kekuatan (kemampuan) jinn. Meskipun begitu kekuatan itu bukanlah apa apa jika dibandingkan dengan kemampuan (kekuatan) yang dianugerahkan kepada para awliya! Awliya bahkan memiliki kemampuan yang lebih besar lagi untuk membuat rekaman, membuat citra (imaging)  dan menghitung. Jika mereka menghendaki, mereka menggunakan kekuatan jinn. Namun, kemampuan anugerah Ilahiah yang diberikan kepada mereka jauh melebihi kekuatan dan kemampuan yang diberikan kepada jinn.

Itulah sebabnya jika awliya mengatakan “a`udhu billah” mereka memasuki (dunia) rahasia (kalimat) itu. Mereka memohon madad – dukungan – dari Allah (swt), dan Allah membuka kepada jantung mereka “apa yang tak satupun mata yang pernah melihat, apa yang tak satupun telingan yang pernah mendengar, dan apa yang tidak pernah mendatangi jantung (qalbu) siapapun,” – “ma laa `aynun ra’at wa laa `udhunun sami`at, wa maa khatar `ala qalbi bashar.” Apa yang dibuka Allah kepada awliya Nya adalah diluar jangkauan yang bisa digambarkan.

Itu tidak berarti bahwa jinn mengetahui hal ghaib (al- ghayb). Apa yang mereka ketahui tidaklah dapat dianggap ghayb, tak terlihat. Pertimbangkan apa yang dikatakan Allah dalam al Qur’an Suci: “Kemudian, ketika Kami menetapkan kematian (Sulaiman a.s.), tak satupun memperlihatkan kematiannya itu kecuali seekor cacing tanah kecil, yang terus menerus (perlahan lahan) menggerogoti tongkatnya: jadi ketika dia jatuh, para Jinns itu jelas melihat bahwa seandainya mereka mengetahui hal al-ghayb, mereka tak akan menunda (berlambat lambat) dalam Hukuman yang memalukan (dari Tugas mereka).” [34: 14]

Sayyidina Sulayman a.s. memerintahkan mereka untuk membangun Candi itu, dan dia berdiri (mengawasi kerja mereka) pada mimbar (minbar) sambil menggenggam erat tongkatnya. Dia meninggal ketika para jinn itu sedang bekerja, namun tubuhnya tidak bergerak, dan terus menerus berdiri, didukung oleh tongkat itu. Mereka takut kepadanya dan tidak menyadari bahwa dia telah meninggal, sementara mereka terus bekerja. Mereka bekerja terus sampai Allah mengirim seekor cacing untuk menggerogoti tongkatnya itu. Ketika cacing itu telah memakan (bagian dalam) tongkat nya, patahlah itu, dan Sayyidina Sulayman (as) terjatuh. Allah bersabda, “Sekiranya mereka mengetahui, al-ghayb, maka mereka pasti tahu bahwa Sayyidina Sulayman (as) telah meninggal lama sebelum itu dan mereka tak akan tinggal lebih lama lagi di situ, dengan kerja berat dan menyelesaikan gedung Candi.

Kita bicara disini tentang Jinn, bukan Shayaateen. Beberapa Jinn itu adalah mu’min, dan seperti manusia, beberapa lagi bukan. Bahan dasar tubuh mereka adalah non material (bukan padat), hawaa’iyya (seperti udara), bukan sebuah tubuh atau bahan padat. Itu dapat mengambil sebarang bentuk yang dikehendakinya. Itu bukan sesuatu yang memiliki benda physik atau berat jenis.

Shaykh Isma`il berkata, “Wa qeela naariyan, wa qeela hawaa’iyya qaadirun `ala tashakkul bi ‘ashakkaalin mukhtalifa , kal ibl wal baqar wal ghanam wal khayl, wal nighar, wal hameer, wat-tayr, wa bani Adam (as). Laha `uqoolun wa afhaam” – “Dikatakan mereka dibuat dari api dan dikatakan mereka dari udara. Mereka dapat mengambil sebarang bentuk yang mereka kehendaki. Mereka dapat terlihat seperti sebuah bentuk, namun mereka tembus pandang (transparan). Mereka dapat mengambil bentuk apapun : termasuk bentuk seekor unta, seekor kambing, seekor sapi, seekor keledai, seekor kuda, seekor ular, seekor singa, seorang manusia, atau apapun juga. Mereka memiliki intelligensia dan pengertian.”

Mereka cerdas. Mereka bukanlah seperti yang kita pikirkan seperti ‘makhluq asing (aliens)’, namun mereka adalah makluq dengan intelligensia tinggi. Satu gambaran tentang mereka adalah “makhluq intelligensia dari atas”, sedangkan kadang kadang di Barat mereka menyebutnya sebagai empu  mendaki (ascending master). Allah (swt) telah menggambarkan jinn ini dalam al Qur’an Suci dan Dia telah mendefinisikan maksud tujuan mereka seperti halnya manusia, untuk memuja, mengabdi dan mematuhi Dia. وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ “Aku hanya menciptakan Jinns dan manusia, agar mereka mengabdi kepada Ku.” [51:56]

Malaikat

Shaykh Isma`il meriwayatkan: Terdapat makhluq (cipaan) lainnya yang diuraikan di dalam al Quran Suci. Terdapat makhluq spiritual yang suci, dan ditinggikan. Mereka ini adalah malaikat. Mereka berada sangat dekat dengan Hadhirat Ilahi.  Para malaikat yang paling dekat kepada Hadhirat Ilahi adalah al-muqaraboon. Mereka adalah yang disebut memiliki intelligensia. Terdapat dua jenis yang berbeda: al-mashaa’iyoon dan al-’ishraaqiyoon. Para malaikat yang ini adalah ciptaan yang sangat intelligen, dan dari merekalah intelligensia dipancarkan dan dibagikan kepada seluruh ciptaan. Para malaikat intelligen ini disebut al-mashaa’iyyoon. Al-’ishraaqiyoon adalah malaikat yang diciptakan seluruhnya dari cahaya. Mereka memancarkan cahaya. Al-’ishraaqiyoon berarti al-nooraniyyoon – Mereka Yang Bercahaya Cemerlang. Paling tinggi di antara mereka adalah hamalatul `arsh – Para Penyangga Singgasana – dan mereka ada delapan, menurut ayat: وَالْمَلَكُ عَلَى أَرْجَائِهَا وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَانِيَةٌ – “wal-malaku `ala arjaa’iha wa yahmilu `Arsha Rabbika thamaaniya.” – “Dan para malaikat akan berada di samping sampingnya, dan delapan akan, pada Hari itu, memanggul Singgasana Tuhan mu di atas mereka.” [69:17]   Pada Hari Pengadilan  mereka akan ada delapan  sementara sebelum Kelahiran Kembali mereka ada empat. Al-Kisa’i menyatakan, “Mereka adalah sebuah kemegahan yang tidak tergambarkan (does not admit description), dan masing masing dari mereka memiliki empat wajah/muka.”[21]

Kemudian terdapat al-Haafoon, mereka yang mengelilingi Singgasana Allah – al-haafoona hawl al-`arsh sebagaimana disebutkan  dalam al Qur’an: وَتَرَى الْمَلَائِكَةَ حَافِّينَ مِنْ حَوْلِ الْعَرْشِ “wa tara al-mala’ikata haafeen min hawlil-`arsh” – “Dan kamu akan melihat para malaikat yang terus menerus mengelilingi Singgasana itu …” [39:75] Sebagaimana  seorang beriman mengelilingi Ka`ba, para malaikat ini mengelilingi Singgasana itu.

`Ali ibn Abi Talib (r) berkata, “Ketika Allah berkata kepada para malaikat itu, ‘Aku akan menempatkan seorang wakil di bumi; mereka menjawab, ‘akankah Engkau menempatkan di sana sesuatu yang melakukan hal buruk di dalamnya dan menumpahkan darah?’ [2:30] Ya Tuhan, jadikanlah wakil itu seorang di antara kami, karena kami tidak akan berbuat jahat, tidak pula kami menumpahkan darah atau tidaklah kami memanjakan  sikap kebencian, iri hati atau perbuatan onar. Namun kami bergembira dalam Memuja Engkau dan Mensucikan Mu. [2:30] dan akan selalu patuh kepada Mu.’ Allah menjawab, ‘Sesungguhnya Aku tahu hal yang kamu tidak tahu. [2:30].’

Maka para malaikat lalu merasa was was (semacam curiga) bahwa mereka telah berkata yang bertentangan dengan Allah, dan bahwa Dia marah kepada mereka, maka mereka mencari perlindungan pada  injakan kaki Singgasana, mengangkat kepala mereka dan membentangkan tangan mereka, dengan rendah hati menangis memohon ampunan. Mereka mengelilingi Singgasana selama tiga jam, setelah itu Allah menyapukan pandangan dengan rahmat Nya kepada mereka. Dia menempatkan di bawah Singgasana sebuah rumah yang disangga oleh tiang utama terbuat dari emerald (batu permata berwarna hijau) yang disebut sebagai rumah  ‘al-Diraah’. Kemudian Allah bersabda kepada para malaikat, ‘berkelilinglah seputar rumah ini dan tinggalkan Singgasana.’ Maka sebagai gantinya mengelilingi  Singgasana para malaikat tadi mengelilingi rumah tersebut dan mendapati bahwa itu adalah lebih mudah, dan ini adalah Bayt al-Ma’mur dari padanya dikatakan bahwa setiap siang dan malam tujuh puluh ribu malaikat memasukinya namun tak satupun yang kembali.”[22]

Ka`b al-Ahbar (r) berkata, “Lebih jauh dari Bayt al-Ma’mur adalah malaikat yang jumlahnya tidak diketahui oleh siapapun kecuali Allah, untuk mengurus mereka itu Allah menempatkan satu malaikat dengan tujuh puluh ribu lidah untuk memuja Nya.”[23]

Juga terdapat malaikat dari al-Kursee (Malaa’ikat ul-Kursee), Malaikat Injakan Kaki, berbeda dari Malaikat Singgasana. Kemudian ada Malaikat Surga/Langit (Malaa’ikatus samaawaat). Terdapat berlapis lapis surga/langit, dan setiap langit itu penuh dengan malaikat. Ka`b al-Ahbar berkata, “Para malaikat itu tidak pernah berhenti meninggikan dan memuji Allah, apakah mereka berdiri, duduk, berlutut, atau sujud, sebagaimana Dia bersabda, ‘Mereka memuji Nya siang dan malam dan mereka tidak mengendor.’ [21:20][24]

Wahb bin Munnabih (r) berkata, “Di atas tujuh langit terdapat tabir padanya terdapat begitu banyak malaikat bahkan mereka tidak saling mengenali satu sama lain. Mereka memuji Allah dalam lidah yang menyambar nyambar, seperti mutiara guntur.”[25]

Kemudian terdapat malaikat yang membawa angin, dan mereka yang membawa alam semesta; menggerakkannya. Kemudian terdapat malaikat yang memindahkan bintang. Kemudian terdapat malaikat yang mengendalikan planet.

Shaykh Isma`il melanjutkan: “Thumma malaa’iktahul bihaar, thumma malaa’ikatul jibaal, thumma malaa’ikatul ‘arwaah, al-mutasarrifa fil-ajsaam.” – Kemudian terdapat malaikat yang Allah memberi mereka otoritas atas segala sesuatu yang diciptakan di planet ini, mulai dari manusia sampai tetumbuhan sampai pepohonan, sampai makluq hidup terkecil, seperti sebuah sel atau sebuah virus.

Allah (swt) paling tahu. Ini adalah yang dibukakan kepada qalbu para Sahaba, dan dari mereka kepada qalbu para Tabi`een (Pewaris) dan Tabi` at-Tabi`een (Pewaris para Pewaris) dan apa yang sampai kepada qalbu kita hari ini dari qalbu Sayyidina Muhammad (s) melalui mata rantai guru spiritual.


[1] “Dan Kami anugerahkan kepadamu Tujuh ayat yang sering diulang dan al Qur’an Karim.” [15:87]

[2] Tafsir Ibn `Ajiba.

[3] Menurut Ibn Juzayy, “Tidak terdapat perbedaan bahwa itu adalah tujuh ayat, namun Imam ash-Shafi`i menghitung Basmalah sebagai salah satu ayat sedang ulama’ Maliki tidak, tetapi sebagai gantinya menghitung “Jalan mereka yang Engkau beri nikmat Mu;” dan “Bukan jalan mereka yang menerima marah Mu ataupun mereka yang tersesat” sebagai (ayat) terpisah.” Ibn Juzayy al-Kalbi (693 – 741H), Komentar tentang al Fatihah dari Ilmu Komentar al Quran.

[4] Dikisahkan Abu Sa`eed bin Al-Mu`alla, “Ketika saya shalat, Rasul Allah (s.a.w.) lewat dan memanggil saya, namun saya tidak mendatanginya sampai saya selesaikan shalat. Kemudian saya mendatanginya, dan dia berkata, ‘Apa yang mencegah kamu mendatangi saya? Bukankah Allah bersabda: <<Wahai kalian orang mukmin! Jawablah panggilan Allah (dengan patuh kepada Nya) dan Rasul Nya apabila Dia memanggilmu?>>’ Kemudian dia berkata, ‘Saya akan memberi tahu kamu Surah paling agung dalam al Qur’ân sebelum saya meninggalkan (masjid).’ Ketika Rasul Allah (s.a.w.) bersiap meninggalkan masjid, saya mengingatkan dia. Dia berkata, ‘Itu adalah  <<Segala puji bagi Allah, Pengelola alam.>> (yakni  Surat-al-Fatiha) As-sab’a Al-Mathani (7 Ayat yang sering diulang).” [Bukhari 6.170]

[5] Terkait marfu`an oleh Ibn Khuzayma dalam Sahih nya.

[6] Seseorang tidak membaca al-isti`adha selama shalat menurut Imam Malik. Menurut Imam Shafi`i dan Imam Abu Hanifah kamu kerjakan itu dalam rak`ah pertama, dan menurut ulama lain dari Madzab  Shafi`i seseorang melakukannya dalam setiap rak`ah.

[7] Qur’an, 40:27.

[8] Qur’an, 12: 23.

[9] الفريقان عن النبي (صلى الله عليه وآله وسلم) أنه قال: ” كل أمر ذي بال لم يبدأ فيه باسم الله فهو أبتر الحديث “.- need Sunni version hadith Shiah

[10] Diriwayatkan oleh Ahmad dari Abu Sa`id al-Khudri dalam Musnad nya dan dalam kumpulan empat Sunan.

[11] Sahih Muslim.

[12] Musnad Ibn Abi Shayba.

[13] Bukhari and Muslim.

[14] Buku Yang Memudahkan Ilmu Pengungkapan, (Kitab at-tasheel li-`ulum it-tanzeel), Ibn Juzayy al-Kalbi (693-741H).

[15] 2:30-39, 7:11-25, 15: 26-42, 17:61-65, 18:50, 20:115-124, 38:71 – 85

[16] Riwayat lainnya tentang kejadian yang sama juga terjadi pada: 2:34,

[17] Qisas al-anbiya, Riwayat Para Nabi, Muhammad ibn `Abd Allah al-Kisa’i. Tersedia dalam terjemahan English dari Great Books of the Islamic World, Chicago, 1997.

[18] Ajaran tentang Cahaya.

[19] Al-Kulayni, Al-usul, I, 151.

[20] Husayn ibn Mansoor al-Hallaj, Sufi mystic tersohor dihukum mati karena ucapannya (shatha), “Maa fee jubba ill-Allah” – “tidak terdapat apapun dalam jubah saya kecuali Allah.” d. 922.

[21] Qisas al-anbiya.

Juga dalam Qisas diceritakan oleh Wahb ibn Munabbih, “Terdapat malaikat yang ditekuk pada lututnya dan berdiri, menyangga Singgasana (`arsh) pada pundak mereka. Kadang kadang mereka menjadi begitu lemah sehingga Singgasana itu hanya disangga oleh Kekuatan Allah Azza wa Jalla. Injakan Kaki (Kursee) dibuat dari cahaya Singgasana. Dikatakan bahwa Injakan Kaki itu adalah Ilmu Allah.”

[22]Ibn `Arabi, Muhadaraat al-abraar, I, 401f,

[23] Qisas al-anbiya, Kisah Para Nabi, Muhammad ibn `Abd Allah al-Kisa’i. Tersedia dalam bahasa English terjemahan dari Great Books of the Islamic World, Chicago, 1997.

[24] Qisas al-anbiya.

[25] Qisas al-anbiya.


[i] `Abdullah ibn `Abbas dikenal sebagai “Bapak Komentar Quran” dan dikenal sebagai “lelaki terpelajar dari Ummah ini,” adalah anak lelaki dari `Abbas, seorang paman dari Nabi terhormat (s.a.w.) lahir pas tiga tahun sebelum Hijrah itu. Ketika Nabi (s.a.w.) wafat, Abdullah barulah berumur tigabelas tahun. Nabi (s.a.w.) biasa memanjatkan doa khusus untuknya, doanya, “Ya Allah , karuniakanlah ilmu hikmah kepadanya,” dan, “Ya Allah, jadikanlah dia mendapat pemahaman yang mendalam tentang agama Islam dan berilah panduan kepadanya tentang makna dan interpretasi (pemahaman) berbagai hal.” Ketika Zayd ibn Thaabit (r), penulis al Qur’an bermaksud melakukan perjalanan, Abdullah (r) muda ini akan berdiri di sampingnya memegang kekang kudanya (tunggangannya) dan mengambil sikap sebagai seorang budah yang sopan rendah diri di hadapan majikannya. Zayd akan bilang kepadanya: “Jangan [lakukan itu], Wahai kemenakan Nabi.” “Begitulah kami diajarkan/diperintahkan untuk memperlakukan seseorang yang terpelajar di antara kami/kita,” Abdullah akan menjawab. “Dan Zayd akan berkata lagi kepadanya: “Coba saya lihat tanganmu.” Abdullah akan mengulurkan tangannya. Zayd, mengambil tangan itu, akan menciumnya dan bilang: “Begitulah kami diajarkan/diperintahkan  untuk memperlakukan Ahl al-Bayt – anggota keluarga Nabi.”

Rumahnya menjadi sebuah pusat pembelajaran. Manusia berjejal sampai hampir tidak ada tempat di depan masing masing. Dia akan mengadakan sebuah pertemuan untuk pelajaran al Quran dan ilmu huruf nya (bacaan), dilanjutkan dengan sebuah pertemuan tentang al Quran dan pemahaman/interpretasinya, diikuti oleh sebuah pertemuan untuk membahas fiqh (jurisprudensi), halal dan haram (yang dibolehkan dan yang dilarang dalam Islam), hukum waris, bahasa Arab, puisi dan etymology (ilmu sejarah bahasa) .

Untuk menghidarkan terlalu banyak pelajaran (congestion) Abdullah memutuskan untuk mengkhususkan sehari dalam seminggu untuk membahas mata pelajaran tertentu : satu hari untuk tafsir (exegesis of) al Quran; satu hari lagi untuk fiqh; satu hari lagi untuk meriwayatkan maghazi (kampanye militer) Nabi (s.a.w.); satu hari lagi untuk puisi, dan satu hari lagi untuk sejarah Arab sebelum Islam.

Pada satu peristiwa dia menggunakan kekuatan intelek, ingatan dan diplomasi  (perundingan) nya yang luar biasa (formidable), dalam masa Khalifah Ali untuk meyakinkan sekelompok pendukung Sayyidina `Ali’s (r) agar tidak memisahkan diri dari pasukannya. Setelah diyakinkan oleh alasan alasan  yang diajukan, 20,000 orang kembali kedalam pasukan Sayyidina `Ali. Namun sekitar empat ribu orang tetap keras kepala, kemudian menjadi yang dikenal sebagai Kharijites.

Dia memperkenalkan tafsir al Quran berorientasi philologi yang pertama. Muridnya termasuk Mujaahid, `Ikrima, Sa`eed ibn Jubayr, Qataada dan ad-Dahhaak.

Dia meninggal di Ta’if dalam tahun  687.

[ii] Wahb ibn Munabbih, Abu `Abdullah (656-730), seorang otoritas tersohor tentang hadits pada masa Kerajaan Himyarite Arabia Slatan, Israel dan Christianity kuno, lahir dekat Sana` Yemen. Di antara tulisan: Kitab al-mubtada’ (Buku tentang Ciptaan), tentang legenda bible  dari mana Qisas al-anbiya yang dikredit atas nama dia,  diringkas pada masa kemudian; sebuah terjemahan Zaboor (Psalms)  dari Da’ud (as) kedalam bahasa Arab; dan sebuah koleksi literatu hikmah  oleh kemenakannya, dengan judul Hikmat Wahb.

About kekji

i am nothing and will stay that way. i live only to serve Allah SWT
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s