2 Sutono Belajar Shalat

Allahuma shali ala Muhammad wa ala ali Muhammad wa salam. Al Fatiha.

Cara menambah fokus pada shalat yang saya bicarakan di akhir bagian 1 itu, lama baru bisa saya susun. Ketika naik haji, itu belum terbentuk. Jadi waktu itu saya masih memerlukan melek ketika shalat. Selain memahami bahwa shalat adalah semacam memulihkan tenaga (charging), ada lagi yang lebih mendasar tentang shalat ini yang bisa dikumpulkan/digali, di luar yang bersifat spiritual.

Sebetulnya seluruh dan semua yang Allah suruh kita lakukan, termasuk berbuat baik, itu adalah untuk kebaikan kita sendiri. Dan kalau kita berbuat baik namun tidak mendapat kebaikan, itu hanya dua alternatif maknanya : kebakan itu ditunda untuk nanti akan diberikan pada saat kita tak menduganya atau memang Allah sedang memperkuat diri kita dengan ujian. Tapi jangan pernah mengkhayal akan mendapat kebaikan dengan mengerjakan yang dilarang Allah, karena kalau kita seolah merasa mendapat kebaikan, itu hanyalah khayal saja. Inipun hanya ujian untuk memperkuat kita. Namun kalau kita larut dalam khayal itu, ya itu tadi menjadi hukuman. Atau kira kira seperti itulah. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Selingan. Pulang haji itu saya merasa mempunyai pemahaman baru tentang Islam. Bulan Ramadhan berikutnya ada pengalaman yang mirip dengan pemahaman saya waktu itu tentang lailatul qadar. Gambaran tentang lailatul qadar yang saya mengerti adalah bahwa malam itu tenang, tiada semilir angin, pohon menunduk, meskipun malam namun langit terang. Meskipun saat itu belum masuk malam likuran, masih belasan, terjadilah yang saya maksud itu. Menjelang buka puasa, jadi bukan malam hari, kami duduk duduk di serambi. Saya, isteri dan anak sulung, perempuan. Ketika itu hujan rintik rintik. Beberapa menit sebelum  waktu buka, isteri mengajak anak masuk, mempersiapkan hidangan buka. Saya masih terus duduk menikmati suasana tenang dalam rintik hujan itu.

Suasana kemudian berubah. Langit nampak lebih terang dan butiran hujan nampak turun dengan gerakan sangat lambat. Tetes hujan dapat terlihat turun sebutir demi sebutir dengan jelas. Lalu saya ingat uraian tentang lailatul qadar, tapi pohon tidak merunduk. Keindahan panorama itu sempat saya nikmati cukup lama rasanya. Sepi sekali, tidak ada yang lalu lalang di depan rumah. Kemudian suasana berganti lagi, seperti semula hujan rintik biasa, Cuma hari sudah lebih gelap. Mungkin sudah bedug maghrib, maka saya masuk ke dalam. Ke ruang makan. Semua sudah duduk dan buka. Begitu melihat saya, anak sulung bertanya, bapak kemana saja sih, dicari ke depan nggak ada, ke bangunan samping nggak ada, dipanggil panggil tidak menyahut. Saya tidak menjawab, sambil bertanya tanya dalam hati. Kemana saya tadi?

Belakangan, paman (almarhum) saya yang saya anggap memiliki penegtahuan mendalam tentang hal spiritual, setelah saya ceritakan apa yang terjadi, mengatakan bahwa mungkin waktu itu saya sedang “diproses”. Dan dalam posisi itu sangat lemah dan akan buruk kalau terganggu. Maka saya ditutupi atau diberi tabir, diisolasi dari sekitar saya agar proses tidak terganggu. Dia tidak (tidak mau?) menjelaskan proses apa itu.

Begitu selesai proyek proyek Gudang BULOG dan proyek lain yang terkait dengan BULOG dan Departemen Keuangan selesai (hampir sepuluh tahun), terasa benar bahwa sebagai salah satu pimpinan dan pemilik perusahaan, saya harus bertanggung jawab mencari alternatif pengganti proyek yang sudah rampung itu. Karena partner saya yang lain adalah silent partner dan yang lain lagi (kami hanya bertiga) aktif sebagai Direktur di peruhaan lain milik “family” di tahun 80 an itu, maka saya sendirian mencari alternatif itu, setelah beberapa pokok pikiran penyelesaian soal tidak dapat disepakati bersama.

Saya pikir kalau terus bertahan sebagai Design and Engineering Consultant, dengan 200 personnel yang separuhnya S1, tentu berat sekali overhead yang harus ditanggung. Harus bisa cari kegiatan yang bisa memberikan jasa yang terprogram dengan standard tertentu, misalnya bidang hospitality industry, yaitu perhotelan. Atau penyediaan ruang kantor. Namun semua alternatif itu tidak dengan rencana yang disengaja. Hanya mengalir saja seperti air di sungai. Teman naik haji yang petinggi Departemen Pertanian itu, kantornya memiliki asset berupa sebidang tanah yang cocok untuk dijadikan perkantoran. Kontak dari Departemen Keuangan mengungkapkan adanya asset  di Grogol yang mau dilelang, dan lokasinya cocok untuk sebuah hotel internasional. Cerita yang terkait dengan upaya ini agak panjang, jadi akan saya sampaikan secara terpisah-pisah, karena tak ada hubungannya langsung dengan perjalanan mencari shalat. Ringkas kata, untuk memodali itu semua saya berangkat ke Eropa dibantu oleh dua orang expatriates Canada dan USA. Partner saya kan kurang mendukung upaya yang saya usulkan.

Di Pusat Perdagangan berlian di Eropa saya tinggal kurang lebih enam bulan sejak awal Oktober 1984. Guna mencari modal, hanya berbekal Feasibility Study Hotel Sheraton, lokasi di Grogol dan Letter of Intent dengan Sheraton Asia Pacific untuk mengelola hotel di lokasi itu. Di tempat itulah saya melihat dan belajar ada cara pendanaan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Antara lain di situ saya bertemu dengan utusan khusus Yassir Arafat, yang setiap dua minggu sekali datang untuk mengambil dana untuk perjuangannya. Jadi teman teman Yassir Arafat, para pimpinan negara negara Arab, tidak mau terlihat jelas oleh dunia bahwa mereka membantunya, telah menggunakan cara ini untuk maksud itu. Disebut sebagai High Yield Trading atau Private Placement. Saya harus tinggal lama di situ, karena awalnya mereka memberi harapan bahwa proyek saya ini bisa dititipkan dengan salah satu proyek dunia ketiga, yang non commercial. Tetapi rupanya pihak terkait tidak dapat menyetujui program penitipan itu, karena saya tidak memiliki asset (misalnya calon lokasi hotel itu), sehingga akhirnya saya pulang tangan hampa.

Namun pengalaman saya cukup banyak. Di situlah saya untuk pertama kali shalat berjamaah dengan seseorang, di mana saya menjadi imamnya. Setiap lohor dan ashar. Di rumah sendiri saja saya belum berani lakukan, menjadi imam shalat, karena merasa belum qualified. Dan yang menarik adalah yang makmum di belakang saya itu bernama Adnan Rasool, seorang kulit hitam dari Chacago, yang juga datang ke situ untuk mencari pendanaan. Jadi kantor di mana saya parkir selama enam bulan itu didatangi orang dari berbagai negara dengan berbagai latar belakang. Tidak seluruhnya putih atau bening. Adnan Rasool ini menurut orang di sekitar itu adalah seorang pimpinan gang di Chicago, yang bisnisnya adalah pelacuran, drugs dan kegiatan gelap lainnya. Pokoknya dia itu berbahaya. Namun terhadap saya dia baik sekali. Bahkan dialah orang yang memberi saya hadiah tak ternilai : terjemahan al Qur’an oleh Abdullah Yusuf Ali, cetakan 1976, dalam bahasa Inggeris, yang masih saya gunakan hingga saat ini. Dari pergaulan dengannya saya belajar fakta, bahwa seseorang jahat atau baik kepada kita, itu bukan karena kita. Itu karena Allah berkuasa atas segala sesuatu. Dan Dia berhak menguji seseorang sebagaimana Dia kehendaki. Subhan Allah. Saya kan bilang terjemahan al Qur’an ke dalam bahasa Indonesia tidak dapat saya nikmati, bahkan cenderung membuat saya jengkel. Tetapi dalam bahasa Inggeris itu bisa saya rasakan cantiknya. Memang bahasa Indonesia miskin kausa kata hanya sekitar 200,000, sedang bahasa Inggeris sekitar 900,000. Jadi selama sekitar enam bulan itu sambil menunggu perkembangan, kerja saya ya hanya membaca terjemahan al Qur’an itu. Berulang ulang. Thawaf.

Sesampai di Jakarta lagi dalam rangka mencari sumber dana yang mau mendukung proyek proyek tadi, seorang teman mengajak saya ke Puncak guna bertemu dengan pak Subur Rahardja, yang isterinya adalah seorang warga USA. Ny.Subur ini dikenal sebagai spesialis yang mempertemukan investor dengan pemilik proyek. Berangkat sore sesampai di tujuan pas waktu makan malam. Ternyata pak Subur Rahardja itu adalah Guru Besar Perkumpulan Gerak Badan Bangau Putih, sebuah perkumpulan silat yang berpusat di Bogor dan yang kami datangi itu adalah salah satu padepokannya.

Ternyata teman yang membawa saya menemui pak Subur itu ketinggalan info. Pak Subur sudah bercerai dari isterinya itu, yang sudah pulang mudik ke USA. Pak Subur yang ramah sekali itu, langsung mengajak kami semua untuk makan malam. Seperti standing party gitu. Tidak duduk. Sambil menikmati hidangan, pak Subur menarik saya ke pojok ruangan, sambil bilang tahukan pak Tono bahwa shalat itu adalah sebuah gerak silat yang sangat tangguh sekali. Wah? Saya berhadapan dengan seorang yang dikaruniai sensitifitas tinggi. Memang saya menemui dia untuk mencari pendanaan buat proyek saya, tetapi dalam jantung saya yang dalam saya sedang mencari makna shalat. Dan rupanya dia merasakan kebutuhan saya itu.

Lalu dia cerita sekilas tentang dirinya. Dia memang kecanduan ilmu silat. Beda dengan saya yang hanya kecanduan membaca cerita silat Cina seperti Pasangan Pendekar Rajawali Sakti. Pak Subur ini adalah cucu dari pendekar silat perguruan Siau Lim Pay, yang migrasi ke Indonesia. Kemudian ilmu itu diturunkan ke anaknya, dan anaknya itu menurunkan ke cucunya, Subur Rahardja. Sejak kecil dia memperlihatkan perhatian yang besar kepada ilmu silat dan memiliki tulang yang bagus untuk belajar silat. Setelah akil balik, merantaulah dia ke seantero Nusantara, dari Aceh sampai Irian untuk belajar silat masing masing daerah.

Setelah puas mengembara, dia menetap di Bogor dan merangkum seluruh ilmu silat yang dimilikinya itu di dalam satu ilmu silat baru yang dia sebut Perkumpulan Gerak Badan (PGB) Bangau Putih. Disebut begitu karena dia memandang bahwa bangau memiliki keluwesan dan kecepatan gerak yang menjadi ciri ilmu silatnya. Dan ada seekor bangau yang telah jinak yang menjadi burung peliharaannya, yang sempat saya lihat di padepokannya di Cipanas itu.

Dan selama mukim di Cipanas ini dia bergaul baik dengan para pesilat lokal yang juga kiai. Melihat cara shalat orang muslim, dia tertarik sekali. Setelah memperhatikan secara saksama dia menyimpulkan bahwa shalat itu adalah ilmu silat yang luar biasa. Dia mengatakan tak akan berani menyerang seorang pesilat yang sedang sujud. Karena dalam posisi itu, dalam tarung jarak dekat, dalam posisi sujud itu dia dapat melemparkan serangan yang mematikan terhadap lawan yang mendekat untuk melakukan serangan. Itu dikatakan seseorang yang adalah Guru Besar Ilmu Silat PGB Bangau Putih. Saya tidak bertanya apa apa malam itu, karena kaget mendengar keterangannya. Jadi tidak tahu apakah pernyataannya tentang orang sujud itu, memasukkan unsur spiritual bahwa seorang abdi Allah yang ikhlash, pasti mendapat perlindungan Allah, atau pandangan murni sebagai seorang pakar/ahli ilmu gerak bela diri.

Lebih lanjut dia mengatakan bahwa seorang yang selalu melakukan wudhu dengan benar tidak mungkin tangannya dikunci lawan tanpa bisa melepaskannya. Dan kalau sudah terbiasa ruku’ dengan benar seseorang tidak akan terkena sakit pinggang/punggung atau lower back pain, sementara betisnya akan sekeras kayu seperti betis saya ini, sambil menarik tangan saya supaya merasakan betis nya yang memang sekeras kayu itu, tanpa nampak ada upayanya untuk mengeraskan betisnya ketika saya pegang. Ketika ada kesempatan untuk bertanya kepada murid seniornya apakah mereka tahu tentang hebatnya shalat, mereka menjawab tidak ada yang diberi tahu tentang hal itu. Yang paling mengesankan adalah dia tetap meninggal sebagai seorang budhist, meskipun dia, sebagai pecandu ilmu silat, tahu bahwa shalat adalah ilmu silat paling tangguh yang diketahuinya. Sesungguhnyalah, iman adalah hadiah dari Allah kepada siapapun yang dikehendaki Nya. Subhan Allah. Alahamdulillah. Astaghfirullah.

Malam itu saya sampai kembali ke rumah lewat tengah malam.

Waktu itu memang metoda atau scheme pendanaan maupun konsultan pendanaan belum berkembang sejauh seperti sekarang ini. Meskipun tidak memiliki dana yang diperlukan, saya masih mencoba memanfaatkan kedekatan saya dengan Departemen Keuangan sambil menunggu peluang adanya dana. Tanah atau lahan bekas pelatihan transmigrasi, yang terletak di Grogol itu (sekitar 7 ha luasnya), yang selama ini digunakan oleh Departemen Transmigrasi, tidak lagi, tidak lagi berfungsi seperti itu. Malah ditempati secara tidak sah oleh pegawai atau mantan petugas tempat pelatihan itu. Sehingga Departemen Keuangan memutuskan untuk menjual saja asset itu. Saya berperan banyak dalam proses lelang tanah tersebut dan menjadi penghubung tidak resmi antar kedua Departemen itu, yang kental sekali birokrasinya.

Mengikuti peraturan yang berlaku akhirnya dibentuklah Panitia Lelang. Pada tanggal yang ditetapkan, masuklah penawaran dari 31 perusahaan. Saya adalah satu di antaranya. Dari pencermatan yang saya lakukan, 30 perusahaan lainnya itu berasal dari satu grup. Panitia Lelang menetapkan bahwa syarat ikut serta lelang itu, peserta lelang harus memasukkan Bank Garansi lelang sebesar Rp.1,000,000,000 (satu milyar rupiah). Semua penawaran dibuka, 30 peserta lelang memasukkan harga sekitar Rp. 3,500,000,000 (tiga milyar lima ratus juta rupiah), hanya saya yang memasukkan harga Rp.10,500,000,000 (sepuluh milyar lima ratus juta rupiah) untuk tanah seluas sekitar 7.5 ha di grogol itu. Harga lahan itu dalam Feasibility Study adalah sekitar Rp.13 milyar. Tentu saja lelang dibatalkan. Penawaran mereka yang memenuhi syarat Bank Garansi, yaitu 30 perusahaan itu, sangat jauh dibawah harga pasar. Sedang saya tidak memenuhi syarat, karena tidak sanggup menyerahkan Bank Garansi.

Karena situasi demikian, maka saya menemui pejabat Departemen Keuangan agar diadakan pelelangan kedua, namun syarat Bank Garansi itu jangan untuk mengikuti lelang. BG itu untuk penetapan pemenang lelang saja. Nampaknya mereka setuju dengan usulan saya, agar mendapat harga terbaik. Akhirnya lelang kedua diadakan. Pesertanya tetap 31 perusahaan. Harga penawaran saya tetap tertinggi Rp,10,5 milyar, yang lain sama hanya Rp.3 milar, kecuali ada satu yang menawarkan Rp.4,5 milyar. Dari sini harusnya jelas pemenangnya adalah saya. Maka saya menunggu hasil lelang. Dan menunggu, …..dan menunggu. Saya hubungi juga panitia lelang, katanya belum turun keputusannya. Sampai akhirnya saya menerima surat pemberitahuan bahwa saya adalah pemenang lelang tersebut, dengan syarat menyerahkan BG Rp.1 milyar dalam waktu 2 minggu setelah tanggal surat keputusan tersebut.

Dan ketika saya lihat tanggal surat itu, …… ternyata saya hanya mempunyai waktu sampai hari itu. Hari   saya menerima surat itu adalah Jum’at, sedang hari penyerahan BG terakhir adalah hari Senin 2 hari lagi. Di akhir pekan itu, bagaimana saya dapat memenuhi syarat yang ditetapkan itu? Maka saya bergegas ke Lapangan Banteng menemui pejabat Departemen Keuangan untuk protes situasi yang memojokkan saya itu. Dia menjawab, ya sudah sekarang juga pak Tono membalas surat kami ini berhubung situasi yang tidak memungkinkan saya memenuhi syarat itu, mintalah penangguhan, misalnya 2 minggu lagi. Nanti kami jawab, katanya. Maka saya segera pulang dan membuat surat tersebut, dan balik lagi sudah sore, tapi pejabat itu masih menunggu. Maka saya serahkan surat permohonan penundaan penyerahan BG itu. Karena sudah sore, tidak dibuatkan tanda terima surat saya itu. Ini yang kemudian ternyata fatal akibatnya.

Sambil menunggu jawaban atas permintaan penundaan penyerahan BG itu saya berusaha mencari sponsor yang bisa kerja sama. Salah satunya yang sebelum itu pernah menyatakan tertarik untuk kerja sama dalam membangun hotel ini dalah sebuah perusahaan kontraktor Jepang Kojima. Senin itu saya menemui perwakilannya yang di Jakarta. Setelah saya tunjukkan keputusan (sementara) saya sebagai pemenang lelang tanah Grogol itu, dia mengatakan kebetulan sekali Mr.Kojima sendiri akan berada di Bali hari Selasa besok. Setelah saya menyatakan mau menemui dia di Denpasar, maka dibuatlah janji bertemu Selasa siang. Maka berangkatlah saya bertemu Mr. Kojima. Setelah dia mlihat surat itu, dia bilang kalau saya bisa dapatkan BG untuk memenuhi syarat dalam surat itu, dia akan membangun seluruh hotel itu untuk diperhitungkan kemudian. Wah impressive sih, tapi tidak menolong kesukaran saya. Saya kembali ke Jakarta dengan lesu. Kemana mencari bantuan lagi?

Besoknya, Rabu sore, salah seorang kelompok peserta lelang menemui saya apa saya mau kerja sama dalam menangani hotel ini dengan group nya mereka. Saya menyatakan mau saja asal dibicarakan dulu terms and conditions nya. Mendengar pernyataan saya itu dia pulang dengan menyatakan bahwa rekan nya akan menghubungi saya dalam minggu itu. Beberapa hari kemudian seseorang Eksekutif Group Ciputra, yang menjadi Manager Taman Impian Jaya Ancol, menelpon apa saya bisa menemuinya di kantornya sekarang. Maka datanglah saya ke kantor dia. Setelah basa basi sebentar, dia langsung ke pokok persoalan. Dan menawarkan “ganti rugi” Rp.350,000,000 asal saya mau keluar dari persoalan ini. Saat itu surat jawaban dari Departemen Keuangan belum turun juga. Saya menjawab apakah itu final offer mereka? Tidak adakah option saham bagi proyek hotel itu untuk saya? Mereka bilang itu final. Tidak ada negosiasi. Panas juga saya. Maka saya tolak tawaran mereka itu. Sayang, padahal kalau saya tidak emosi, tawaran itu lumayan juga sebetulnya.

Saya mencoba menemui pejabat Dep Keu itu lagi. Rupanya dia dipindah tugaskan di tempat lain. Karena telah menunggu lama tidak juga  turun surat yang saya tunggu tunggu itu, dan surat pencabutan terhadap keputusan saya sebagai pemenang lelang juga tidak keluar, maka saya mengadukan hal ini kepada Menteri Dalam Negeri, Rudini. Dengan alasan Menteri Keuangan, J.B.Sumarlin,  telah menghambat jalannya pembangunan, dengan menunda nunda masalah administrasi ini. Memang saya telah memasukkan permohonan IMB kepada Dinas Pembangunan Jakarta Pusat, dimana banyak teman teman saya disana, yang ksemuanya bersedia membantu saya.

Besar juga hati saya, karena hanya dalam dua minggu saya mengirimkan surat protes itu, Pak Rudini memberikan tanggapannya dengan mengirim surat minta keterangan kasus ini kepada Pak J.B.Sumarlin. Saya ikuti jalan protokoler surat itu kemana saya, ternyata surat itu berhenti di meja pak Sumarlin. Tak pernah di-disposisi kemanapun, tidak seperti surat surat masuk yang lain. Sementara itu rupanya memang group Ciputra telah mendapatkan tanah Grogol itu melalui jalan lain. Karena teman teman di DKI mengabari saya bahwa Group Ciputra mengajukan IMB untuk lahan yang sama, dengan gambar tampak luar yang mirip dengan artist rendering dari Hotel Traju Emas Sheraton, yang saya ajukan.

Belakangan saya sempat juga menggugat Departemen Keuangan dan Group Ciputra untuk hal ini, mempertimbangkan surat pemenang lelang buat saya itu tidak pernah dicabut dan surat permintaan perpanjangan juga tidak pernah ditolak. Menurut pengacara saya waktu itu, kalau saja saya mempunyai tanda terima dari Departemen Keuangan terhadap surat saya yang minta perpanjangan waktu itu, maka saya memiliki kasus yang kuat. Tanpa itu ya tidak ada kasus. Dan berapa akhirnya tanah itu akhirnya dibeli oleh Group Ciputra, tidak ada sama sekali catatan di Komputer BPK. Saya ketahui hal ini dari seorang teman yang memegang komputer di BPK. Asset itu dihapus begitu saja dari berkas Departemen Keuangan maupun Departemen Transmigrasi. Sebegitunya.

Mengapa dinamai Traju Emas? Karena menurut paman saya yang dikaruniai kepekaan itu, dari lokasi itu nampak jaring jaring warna ke-emasan yang memancar keluar. Ya memang bukan untuk saya. Tetapi saya cukup puas telah dapat menghambat keluarnya IMB buat Ciputra Land selama lebih dari tiga tahun, berkat bantuan teman teman di DKI itu. Mereka mengeluarkan ijin itu setelah saya mengatakan kepada mereka, saya tak mampu melanjutkan lagi.

Lalu mana soal shalatnya? Habis ini ya!!! Sekarang baca dulu Tafsir al Fatiha dari Shaykh Muhammad Hisham Kabbani.

Sebagai tambahan dapat saya katakan bahwa ketika saya terdampar enam bulan di Antwerpen, anak bungsu saya, salah satu yang menjadi pemicu saya akhirnya shalat, sempat dikabarkan hilang beberapa jam. Karena hari itu dia begitu rindu kepada saya, pulang sekolah (1984 dia kelas 1 SD al Azhar Kemang) dia jalan kaki ke kantor saya di Jalan Bank, dan duduk di depan (seberang) kantor. Karena sampai sore dia di situ saja, akhirnya ada yang menegur dia, lalu diantar pulang ke rumah.

(materi yang ada dalam bagian 1 Sutono Belajar Shalat memang ditulis ketika pak Yusril masih menjabat sebagai Menteri Kehakiman).

Ya Allah ampunkan kelalaian kami.

Bi hurmati Habib. Al Fatiha

Salam

sutono saimun joyosuparto

10 Agustus, 2010

About kekji

i am nothing and will stay that way. i live only to serve Allah SWT
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s