Sutono Belajar Shalat

Allahuma shali ala Muhammad wa ala ali Muhammad wa salam. Al Fatiha.

Ilmu tentang shalat ini adalah yang diterimakan langsung kepada Nabi s.a.w., tanpa melalui Jibril a.s.. Berbeda dengan al Quran yang keseluruhannya diturunkan lewat Jibril a.s.. Saya mengartikan hal ini untuk menunjukkan betapa pentingnya shalat ini bagi tugas Nabi s.a.w., Juga bagi masa depan ummat manusia. Bukan hanya masa depan di Akhirat, di mana yang pertama dilihat adalah score shalat dan amal lainnya dinilai setelah shalatnya beres. Tetapi di masa depan dekat ini di dunia, shalat akan menjadi hal penting bagi kehidupan kita.

Meskipun nyata pentingnya, namun saya menjadi kecewa ketika mau belajar shalat, tidak terdapat buku yang membahas tentang hal ini dengan cukup. Malah sayapun hanya belajar shalat melalui Buku Petunjuk Shalat untuk Anak SD, yang saya bawa bawa sampai ke Mekah itu. Dan di situ diterangkan bahwa Nabi s.a.w. mengatakan tentang shalat ini :”Shalatlah kalian sebagaimana kalian lihat saya shalat.” Bukan main !!!

Seolah shalat itu hanya sederhana saja. Mungkin karena anggapan begitulah peliputan media massa tentang shalat ini, yang harus kita kerjakan sebanyak tidak kurang dari 1825 kali setiap tahunnya, adalah sangat sedikit dibanding dengan peliputan mengenai puasa ketika menjelang dan selama bulan Ramadhan, yang hanya dikerjakan 30 hari setahun. Atau bahkan peliputan mengenai haji ketika menjelang dan selama bulan Dzulhijjah, yang hanya dikerjakan sekali setahun atau bahkan seumur hidup sekalipun sudah cukup.

Dan mereka semua menyebut bahwa shalat ini adalah tiang utama Agama!!!

Tetapi bagi saya terasa betul dampak shalat ini bagi kehidupan saya. Ketika tahun 1981 saya meniatkan diri untuk mulai melakukan shalat secara teratur, saya telah merasa bahwa Allah akan menguji saya. Hal ini (perasaan itu) diperkuat lagi, ketika tidak lama setelah kunjungan pak Yusril ke rumah itu, para tetangga minta agar saya mau menjadi tuan rumah pengajian RT. Dan pengajian yang pertama kali diadakan itu justru membahas ayat 2 Surat al Ankabut :”Apakah manusia mengira mereka akan dibiarkan saja dengan hanya mengatakan :”Kami beriman”, dan bahwa mereka tidak akan diuji?”

Di tahun 1981 itu saya masih berada di puncak karier saya. Dan sejak saya mulai shalat itulah saya menggelinding turun, sampai sekarang. Dan saya bahagia atas situasi itu, karena saya kembali beriman bukan karena sedang dalam keadaan repot. Tetapi mungkin juga turunnya saya itu akibat terkena sanksi Hukum Syukur dan Shabar, yang dahsyat itu.

Bukan hanya itu kesukaran yang saya hadapi. Saya termasuk orang yang sukar konsentrasi. Dan ketika shalat, menurut buku petunjuk shalat yang saya gunakan, saya tidak boleh menutup mata (merem) atau menutup mulut ketika melakukannya. Dan itu menyebabkan saya terhubung dengan dunia ini, dan menjadi sukar fokus. Sehingga sering menjadi ragu itu tadi raka’at ke berapa. Dalam rangka mencari tahu lebih jauh mengenai shalat, saya mulai membaca terjemahan al Qur’an. Namun saya sering jengkel membaca terjemahan itu, karena kalimatnya menjadi “lucu”. Rasanya tak pantas kalimat itu (yang terjemahan) menjadi bagian dari Kitab Suci Islam. Padahal saya dengar al Qur’an itu dari sudut literatur merupakan karya puisi tingkat tinggi. Karena tidak puas membaca terjemahan itu, akhirnya saya baca juga Tafsir Al Azhar tulisan Buya HAMKA. Banyak yang saya dapat dari membaca itu, tapi bukan tentang shalat. Cuma saya merasa bahwa Buya HAMKA menulis tafsirnya itu dalam keadaan marah (kepada Bung Karno), yang telah memenjarakannya. Sehingga terasa kurangnya rasa syukur atas kesempatan menulis karyanya itu, yang mungkin tidak akan sempat diselesaikan sekiranya tidak ditulis dalam penjara.

Waktu itulah saya membaca artikel tentang bio rithme manusia, yang menurut penelitian di Jerman, ketika grafiknya menurun (sebagai fungsi waktu) titik terendahnya pas dengan saat waktunya shalat fardhu. Saat itu perusahaan kami  sedang menangani proyek besar, sehingga kami semua sering bekerja lebih dari 18 jam. Sungguh terasa betul saat itu, bahwa menjelang masuk waktunya shalat fardhu, energi hidup kami menurun. Dan setelah selesai shalat , rasanya seperti baterai yang habis diisi (charged). Segar kembali. Dan itu bukan rasa capai yang terobati. Lebih dari itu. Bangun tidur pagi pagi, bila terasa kurang fit, itu bukan karena capai. Itu memang saat bio rithme kita sedang rendah. Begitu selesai shalat subuh terasa betul kan segarnya.

Kembali ke tafsir Al Azhar. Yang melekat dari membaca Tafsir itu adalah keterangan tentang ayat yang menyatakan bahwa di Akhirat nanti, dalam rangka mempertanggung jawabkan segala perbuatan saya, yang akan bercerita atau memberikan kesaksian bukanlah mulut saya. Tetapi tangan dan kaki saya langsung menceritakan apa apa saya yang saya suruh tangan dan kaki itu lakukan. Maka saya mendapat ide untuk mengurangi keraguan tentang raka’at mana dalam shalat, saya menggunakan jari tangan saya untuk saya kaitkan dengan posisi shalat, dan jari itu saya “ajari untuk membaca” ayat tertentu.

  1. Surat at Tauba (QS 9) , bagian dari ayat terakhir 129, dimulai dari :  hasbiyallahu la ilaha illa huwa. alaihi tawakaltu wa huwa rabbu ‘l-‘arsyi ‘l-adzim”;
  2. Surat 2, bagian dari ayat terakhir 286, dimulai dari “wa’fu anna  waghfir lana warhamna anta mawlana fan shurna ‘ala ‘l-qaumi ‘l-kafirin”;
  3. Surat 20 , bagian akhir dari ayat 114 “… rabbi zidni ilman”;
  4. Surat 18, bagian dari ayat 10, dimulai dari … rabbanaa atina min ladunka rahmatan ‘w-wa hayyi’ lana min amrina rasyadan”;
  5. surat 2, bagian dari ayat 201, dimulai dari .. ” rabbanaa atina fi ‘d-dunya hasanatan ‘w-wa fi ‘l-akhirati hasanatan ‘w-wa qina ‘adzaban ‘n-nari.”

Selanjutnya kalimat nomor 1 sampai dengan 5 itu, saya assign (lekatkan) secara berturut-turut kepada jari tangan saya : nomor 1, pada jari jempol; nomor 2 pada jari kelingking; nomor 3 pada jari telunjuk; nomor 4 pada jari manis; dan nomor 5 pada jari tengah. Logikanya?? Tangan itu berfungsi sempurna kalau ada jempolnya. Jadi dia yang utama dan pantas kalau kalimat 1 dilekatkan pada jempol. Kelingking sering kita gunakan untuk membersihkan saluran napas kita (hidung). Kebersihan itu terikat dengan kesehatan, dan kesehatan terkait dengan pengampunan dosa. Petunjuk atau ilmu jelas relevan utuk dikaikan dengan jari telunjuk. Urusan rezeki atau urusan kita sehari2 rasanya memang pantas dikatikan dengan jari manis, tempat kita biasa memasang cincin. Dan karena kita hanya memiliki lima jari, maka kalimat ke 5 ya terpaksa dikaitkan dengan jari tengah, tiada pilihian lain. Urut2an menyebut doa mengkikuti urut2an logika diatas.

Dan posisi ruku’ adalah posisi yang dianjurkan untuk meng-agung-kan  atau meninggikan Allah. Maka pelaksanaannya adalah begini :

Ketika ruku’ saya membaca :”Subhana Rabbi-al ‘Adzim” dan ketika sujud saya membaca :”Subhana Rabbi-al ‘Ala”.  Kalimat itu diulang 5 kali sewaktu shalat subuh dan asyar, diulang 7 kali sewaktu shalat dzuhur dan maghrib, diulang 9 kali ketika shalat isa’.  Pada waktu itu, pilihan ulangan berapa kali itu saya buat random, tetapi kemudian ternyata bahwa itu mengikuti suatu pola tertentu yang bermakna (tentu saja menurut saya). Setelah selesai membaca ulangan  kalimat tersebut, ditutup dengan alhamdulillah & astaghfirullah.

Raka’at Satu, ketika ruku’ setelah membaca ulangan kalimat dan penutupnya yang disebut di atas itu, kemudian jari jempol (doa 1) menekan sendi lutut, karena tangan saya bertumpu pada lutut ketika ruku’. Ketika sujud pertama  setelah membaca ulangan kalimat dan penutupnya yang disebut di atas itu, kemudian jari kelingking (doa 2) menekan lantai. Ketika sujud kedua setelah membaca ulangan kalimat dan penutupnya yang disebut di atas itu, kemudian jari telunjuk (doa 3) menekan lantai.

Raka’at Kedua urutan jari yang ditekan selanjutnya adalah 4, 5 dan kembali ke 1.  Raka’at berikutnya melanjutkan urutan 2, 3dan 4. Begitu seterusnya sampai seluruh raka’at diselesaikan.

Dari cara begini saya lebih bisa mengingat sedang berada di posisi apa dan raka’at berapa. Mungkin ada yang berpendapat bahwa cara saya yang terlalu kreatif ini tidak dapat diterima. Tetapi dengan niat ingin melakukan ibadah dengan lebih baik, bukan dengan niat membangkang atau sok tahu, saya tetap melakukannya. Menurut saya itu lebih baik bagi saya dari pada saya lupa. Meskipun memang ada cara aslinya kalau merasa ada gerakan atau bagian shalat yang terlewat, yang bisa kita gunakan, yaitu antara lain dengan menambah raka’at, kalau ragu sambil diakhirnya melakukan sujud sahwi. Inipun kadang saya lakukan, kalau karena terlalu jauh pikiran melayang, masih lupa juga. Namun metoda saya ini sebetulnya bukan untuk koreksi, tetapi lebih untuk menghindarkan terjadinya lupa itu. Itu catatan khusus tentang shalat. Sealnjutnya saya kumpulkan juga hal berikut ini :

  • Shalat adalah ibadah yang luar biasa, karena untuk menurunkan yang satu itu, Nabi s.a.w. dipanggil langsung menghadap masuk dalam lingkungan sidratul muntaha. Tidak cukup hanya mengutus Malaikat Jibril a.s. , seperti untuk menurunkan ayat al Qur’an.
  • Meskipun ibadah shalat ini frekwensi pelaksanaannya tinggi sekali, tetapi justru paling sedikit dibahas oleh para ahli.
  • Saat masuk waktu shalat fardhu yang lima kali sehari itu, bertepatan dengan kondisi terendah bio-rithme manusia. Boleh jadi itu memang waktu untuk mengisi kembali (recharge) energi spiritual manusia.
  • Paling sedikit ada 2 ayat dalam al Qur’an ( QS 2 : 45 & 153), yang menyatakan : untuk mendapatkan pertolong an Allah lewat shalat dan shabar.  Dan lain-lain lagi.

Kitapun mendengar ayat yang menyatakan bahwa shalat itu menghindarkan seseorang dari berbuat keji dan mungkar. Tetapi kenyataan di lapangan memperlihatkan bahwa seseorang yang shalatpun masih membunuh, korupsi dan melakukan berbagai perbuatan negatif  lainnya. Seolah-olah shalatnya itu tidak memberi efek yang baik buat peningkatan amalnya.

Pada waktu awal itu belum datang pengertian saya tentang shalat sunnat. Jadi ya tidak pernah mengerjakannya. Supaya dongengnya lebih lengkap akan saya ulang sedikit fakta sejarah tentang Sutono Belajar Shalat ini.

Dalam limabelas tahun pertama usia perkawinan kami faktor utama cek-cok suami-isteri adalah karena saya tidak mau shalat. Padahal isteri saya berasal dari lingkungan yang sangat taat dalam ibadah mereka. Sedang saya hanyalah seorang yang baik-baik saja, tetapi cenderung sekuler. Sudah begitu kalau disuruh atau diminta shalat, saya selalu mendebat yang tidak dapat dia jawab. Untungnya dia berkemauan kuat. Maka dia  mencoba mengikuti kursus/studi Islam yang diselenggarakan sebuah Universitas swasta untuk meningkatkan ilmunya agar bisa melakukan perlawanan kalau saya debat perkara agama Islam ini.

Salah satu gurunya adalah yang sekarang menjadi Menteri Sekretaris Negara, Prof.Dr.Yusril Ihsa Mahendra. Suatu waktu dia pulang dari studinya itu, lalu bilang bahwa gurunya itu dapat membuktikan adanya Allah secara matematika. Tentu saja saya sangat tertarik dengan berita ini. Maka saya katakan, agar dia undang gurunya itu ke rumah, agar kita dapat berdiskusi.

Waktu itu dia ini masih mahasiswa, dan dia datang ke rumah mengenakan blue jean dan kemeja lengan panjang yang digulung. Tanpa basa basi saya bertanya bagaimana membuktikan adanya Allah secara matematis ? Dan  mulailah dia menjelaskan. Setelah mendengarkan sejenak, saya berkomentar bahwa yang dibicarakan itu hanyalah logika sederhana saja, dan bukan matematika.

Tentu saja mukanya menjadi merah padam, karena dikomentari demikian di hadapan muridnya dan pacarnya, hyang ikut hadir sore itu. Jadi pada saat itu dia menjadi seorang yang teraniaya. Lalu saya berkata :”Sekarang soal yang gampang saja, tidak usah hal pelik seperti matematika begitu. Mengapa saya harus shalat ?”

Setelah menunduk sesaat, maka dia mengangkat muka dan memandang saya dengan sorot matanya yang tajam, lalu berkata :”Misalnya pak Tono dan IbuTono sedang jalan-jalan di Pasar Baru, kemudian mendadak ada razzia KTP : mereka yang bukan penduduk Jakarta akan diciduk dan menginap di kantor polisi. Apa yang Pak Tono lakukan ?”

Dengan enteng saya menjawab :”Ya saya keluarkan saja KTP saya. Saya kan memang penduduk Jakarta!” Maka dia menimpali dengan mantap : “Maka kalau pak Tono mengaku beragama Islam, shalatlah. Kalau tidak mau shalat, ya jangan mengaku beragama Islam !!!”

Karena pada saat itu dia adalah seorang yang teraniaya (oleh saya), mungkin dia berdoa, dan dikabulkan Allah doanya itu. Sehingga pada saat tersebut saya langsung tertegun, kemudian berkata :” Iya betul juga sih. Baiklah kalau begitu saya akan mencoba shalat semestinya deh.”

Setelah saya ceritakan kepada Utomo Dananjaya, dari PARAMADINA, komentarnya :”Ah apa iya hidayah buat kamu ini semudah itu didapatnya ?” Jawab saya : ”Wah itu kan urusan Sang Pemberi Hidayah.” (mungkin lanjutannya lebih seru)

Ya Allah ampunkan kelalaian kami.

Bi hurmati Habib. Al Fatiha

3 Agustus, 2010

sutono saimun joyosuparto

About kekji

i am nothing and will stay that way. i live only to serve Allah SWT
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s