Sutono Naik Haji

Allahuma shali ala Muhammad wa ala ali Muhammad wa salam. Al Fatiha.

Sutono Naik Haji

Musim haji berikutnya setelah peristiwa gong dan pertemuan dengan pak Yusril itu, saya pergi haji. Dalam selang waktu itu shalat saya tidak maju maju, dalam arti saya merasa keterangan yang sampai kepada saya tentang shalat ini, tidak cukup dan saya menghadapi kesulitan yang serious dalam melakukan shalat. Tetapi itu untuk sesi cerita berikutnya.

Kesempatan naik haji itu rada mendadak juga datangnya. Pada tahun 1982 itu belum terasa adanya masalah quota dan sebagainya. Juga belum ada program Haji Plus. Pada waktu itu saya masih menjadi konsultan Departemen Keuangan dan juga menjadi perencana Gedung Departemen Agama di Lapangan Banteng. Hubungan dengan Departemen Keuangan adalah akibat kami  merencanakan gudang gabah di seluruh Nusantara, yang didanai oleh Departemen Keuangan. Dan pada saat musin haji itu ada produsen gudang curah berbentuk setengah bola (dome) di USA, yang mempromosikan produknya itu untuk digunakan di daerah daerah, karena bisa langsung didirikan di lokasi menggunakan teknologi yang mereka patentkan. Pemerintah menugaskan dua pejabat, masing masing seorang dari Departemen Keuangan dan seorang dari Departemen Pertanian, untuk meninjau pabrik di Nevada, USA. Saya diminta menyertai mereka dalam peninjauan itu. Karena itu bertepatan dengan musim haji, maka saya minta surat tugas ke DepKeu, saya bawa ke DepAg untuk diberi dispensasi boleh pergi haji dengan paspor hijau dan berangkat (menuju Mekah/Jeddah) dari New York.

Saya mengurus sendiri semua urusan itu di DepAg, dengan senjata Surat Penugasan dari DepKeu tersebut. Dua hari sebelum berangkat, barulah surat surat yang diperlukan untuk pergi haji selesai. Akhirnya kami, 3 pasangan, berangkat menggunakan ticket around the world yang disediakan oleh agent produsen gudang itu di Jakarta, Pudjijadi, yang juga pemilik Hotel Jakarta. Berangkat dengan rute ke arah Los Angeles, New York, Geneva, Jeddah, Jakarta.  Juga selama di USA, hotel disediakan oleh pak Pudjijadi.

Sesampai di Los Angeles, para suami dibawa ke lokasi produksi gudang setengah bola, sedang para isteri mengikuti Ladies Program mengunjungi Disneyland. Selesai kunjungan kerja , kami dihibur Tuan Rumah bermalam di MGM Hotel, Las Vegas, kota judi dan hiburan malam dunia. Habis makan malam, kami sudah dipesankan ticket di tempat duduk VIP Jubilee, sebuah pertunjukan strip tease yang dirangkai secara megah. Tuan Rumahnya rada kelewatan, begitu kami berenam (3 orang pasangan) memasuki ruangan lampu sorot langsung ditujukan kepada kami , dan Announcer Pembawa Acara menyatakan bahwa Perdana Menteri Indonesia dan Rombongan memasuki ruangan. Tentu saja hadirin serentak menoleh ke arah kami sambil bertepuk tangan. Maksudnya menyambut. Ngawur banget. Mana ada Perdana Menteri di Indonesia, kecuali pada awal awal kemerdekaan dulu?

Disinilah program perlindungan Allah terhadap saya dimulai. Tentu saja ini GR gegeden rumongso saya saja di saat kemudian setelah saya agak mengerti.. Begitu kami duduk, perut saya terasa sangat sakit. Maka saya pamit kepada teman seperjalanan dan isteri saya, kembali ke kamar, dengan alasan perut sakit. Saya silahkan mereka meneruskan menikmati suguhan Tuan Rumah. Sesampai di kamar sakit perut itu makin menjadi, sehingga saya memanggil Front Office minta bantuan. Taksi membawa saya ke rumah sakit dan ditangani dokter keadaan darurat/emergency. Lama juga mencari penyebab rasa sakit saya itu. Karena belum ditemukan juga penyebabnya, dokter akhirnya  memberikan suntikan penghilang rasa sakit. Saya disuruh istirahat dulu sambil menunggu reaksi suntikan. Saya terlelap dan bangun menjelang tengah malam. Boleh pulang, setelah jelas tidak terdapat reaksi negatif.

Tentu saja isteri saya bingung dan khawatir sekali, karena pihak hotel tidak dapat memberi keterangan jelas saya dibawa taksi ke mana. Dia langsung ke kamar begitu pertunjukan selesai. Teman lainnya masih meneruskan bermain mesin judi, yang banyak terdapat di hotel itu. Sampai pagi sakit perut tidak muncul lagi. Rupaya memang Allah melindungi saya agar tidak tercemar di kota masksiyat itu, mempertimbangkan niat saya pergi haji.

Paginya perjalanan berlanjut ke New York, Geneva dan Jeddah. Masuk Jeddah pada hari terakhir bagi tamu Allah yang menggunakan pesawat terbang.  Sementara itu sejak meninggalkan New York, dik Iin mengalami masalah dengan “period”nya. Tadi nya dikira hanya karena capai perjalanan. Tetapi sesampai di Jeddah makin parah pendarahannya. Padahal sebelum berangkat, dokternya sudah memberi obat untuk “menggeser “ period”nya agar tidak mengganggu pelaksanaan haji. Disamping menggunakan IUD juga. Setelah diperiksakan ke dokter, ternyata dia keguguran. Ajaib! Dokter menyarankan agar dikuret saja, supaya tidak berkepanjangan. Itu Sabtu malam, padahal Selasa sudah harus berada di Arafah. Umumnya untuk pulih dari proses kuret, minimal diperlukan tiga hari, agar tidak lagi keluar bercak.

Ya sudah, kami pasah saja, setelah dokter kami tanya apakah dijamin kami bisa ikut ke Arafah hari Sabtu, dia menjawab dengan marah :”Ini kan bukan bengkel mobil yang bisa menjamin hasil kerjanya. Saya tidak menjamin apapun. Hanya bisa berusaha sebaik mungkin yang saya tahu.” Sebelum dia dibawa ke ruang operasi, dia berpesan :”Mas Ton, tolong dong shalat tahajjud mohon pertolongan Allah.”

Tahajjud? Apa pula itu? Sayapun bergegas pulang ke hotel dan membaca lagi “Buku Pedoman Shalat Murid SD”, yang saya bekal dalam perjalanan ini. Ternyata ada keterangan tentang shalat tahajjud itu. Maka malam itu untuk pertama kalinya saya melakukan shalat tahajjud dua raka’at. Karena baru pertama kali, dan saya kuatir salah, maka saya shalat sambil memegang buku petunjuk itu di tangan kiri. Saya belum bisa membaca huruf Arabnya. Saya lalu ingat ada acara cartoon di TV tentang Hong Kong Foey, seorang pesilat yang setiap kali bertarung melawan musuhnya, selalu sambil membaca buku panduan silat dari gurunya.

Rupanya saya mendapat hal yang disebut sebagai Beginner Luck, atau kalau istilah MSN mendapat gula gula, seperti yang diberikan kepada anak kecil agar tetap tertarik dengan acara yang sedang digelar. Malam itu saya memohon pertolongan Allah dengan setaker pengetahuan dan tampang dan ruhaniah menyedihkan yang bisa saya tampilkan. Besok paginya saya temui dik Iin sudah nampak ceria. Apalagi setelah diperiksa dokter, ternyata dia dalam keadaan “bersih”. Artinya bisa melakukan acara rukun haji tanpa halangan. Dokter bilang “It is a miracle,” sambil menunjukkan segumpalan merah yang diambil dari rahim. Hanya diganti pembaljut sekali, ternyata tidak ada lagi bercak merah.

Dik Iin bilang bahwa tadi malam itu dia dibius total, dan setelah sadar dia kaget melihat orang orang hitam yang berada di sekitarnya. Sesaat dia lupa berada di mana. Setelah ingat, barulah dia sadar mereka itu adalah perawat yang menunggui dia selama tak sadarkan diri. Setelah berada di hospital semalam, besoknya sudah boleh pulang. Dan itu adalah dua hari sebelum acara di Arafatt. H – 1 pagi diminta datang lagi untuk kontrol. Setelah dicek, memang tetap bersih, jadi dia boleh melanjutkan acara haji, asal jangan terlalu memaksa diri.

Sebelum berangkat seorang teman memberi tahu nama dan cara menghubungi pak Mugni, seorang  mahasiswa Indonesia yang telah mukim lama di Arab Saudi dan berpengalaman membimbing jema’ah haji. Saya hubungi lewat telex, dan saya terangkan situasi saya, dan dia menerangkan kalau dia hanya bertanggung jawab untuk board lodging dan transport selama 21 hari di Arab Saudi, biaya yang dia tarik adalah $3,500 per orang. Dan dia bisa menjemput kami mulai dari tangga pesawat setelah kami mendarat di Jeddah airport. Dan mengantar kami kembali ke Jeddah airport, setelah membimbing kami selama 21 hari di Arab Saudi.

Dan itulah yang terjadi, sampai kami mendapat tempat menginap di Jeddah itu. Dan karena adanya acara hospital ini, menguntungkan kami berdua. Kami jadi tidak terbujuk untuk melakukan thawaf sebelum hajji, sehingga tidak kena denda (dam). Pak Mughni memberikan service VIP, kami berempat (bersama teman seperjalanan yang dari Departemen Petanian) diantar dari Jeddah ke Arafat naik sedan. Teman yang dari Departemen Keuangan meneruskan  perjalanan balik ke Eropa. H – 1 malam, kami sudah sampai di Arafat. Dalam satu kemah besar bersama rombonga lain yang datang langsung dari Jakarta. Pagi pagi orang orang sudah ramai membicarakan  mau naik Jabal Rahmah, Gunung/Bukit Rahmah tempat bertemu kembali nya Nabi Adam a.s. dengan Ibu Siti Hawa setelah diusir daro Surga.

Karena dik Iin masih lemah dan juga khawatir pendarahan lagi, maka dia tidak pergi. Saya pergi sendiri. Belum kenal dengan mereka yang satu tenda. Persiapan saya cek : kompas, payung, botol minuman, identitas diri. Kemudian lokasi tempat tenda kami apa saja tanda atau koordinatnya, karena bentuk dan warnanya sama saja satu dengan lainnya. Ada tiang bendera tinggi di bangunan besar yang di lokal itu. Ada tenda tukang buah. Ada beberapa detail kecil yang sekarang saya lupa. Mengamati lokasi dan sekitar itu menjadi kebiasaan saya, kalau datang ke tempat baru. Karena sewaktu masih di SD (dulu namanya Sekolah Rakyat SR) kelas 3, begitu pindah ke Jogjakarta – lahir dan sekolah sampai kelas nol di Surabaya, lalu Jepang datang, kami mengungsi ke Banyuwangi, ke Kediri, ke Magelang, dan ke Jogjakarta –  masuk sekolah baru kelas baru, teman-teman baru. Rupanya teman sekelas ini jahil. Menjadi kebiasaan mereka untuk memlonco kalau ada murid baru, pindahan dari tempat lain.

Kami tinggal di Jero Benteng (lingkungan Keraton Jogja), persis di belakang Dapur Istana, di Jalan Suryoputran. Sekolah saya di Ngasem, sebelah Baratnya Keraton, melewati Regol (Gerbang) Timur, Regol Barat di  belakang Keraton, Pasar Ngasem, baru sampai di sekolah. Nah di belakang Pasar Ngasem ini terdapat Taman Sari, bekas tempat pemandian puteri Keraton, dan gua / jaringan jalan di bawah tanah, yang sampai di Pantai Parang Tritis. Nah, hari itu adalah hari pertama saya sekolah di tempat itu, 1948. Entah mengapa, sekolah dipulangkan lebih cepat, jam 10 pagi kami sudah bubar, boleh pulang. Ada lima orang murid yang mendekati saya, dengan ramah mereka tanya di mana asya tinggal dan sebagainya. Mereka bilang ada jalang yang lebih singkat untuk pulang dari sekolah, jalan terobosan.

Karena belum tahu dan nampaknya mereka ramah sekali, saya ikut  saran mereka.  Mereka lalu menggiring saya memasuki Taman Sari. Entah bagaimana caranya, satu per satu anak anak itu menghilang, sehingga saya tinggal sendiri. Karena tidak tahu terusan jalan itu, saya memutuskan untuk balik kanan gerak. Tetapi ternyata gua itu banyak cabangnya, dan saya benar benar tersesat. Setelah menenangkan diri, saya pilih satu cabang dan saya cermati, akhirnya saya bisa keluar dari gua bawah tanah itu, tetapi di Alun Alun Selatan, sekitar 54 km dari rumah. Lebih jauh dari jarak sekolah – rumah. Setelah tanya tanya sampailah saya di rumah …….. sekitar hampir maghrib. Dan langsung disambut dengan cubitan di paha, dianggap saya telah main main sepulang sekolah. Sejak itu saya selalu mencermati kalau masuk ke daerah yang saya belum pernah kenal, dan mempelajari petanya sebelum masuk ke situ.

Jadi tak pernah lagi tersesat sejak itu. Sampai waktu di Arafat, hari itu. Setelah siap siap, sebelum berangkat saya berdoa dulu seperti yang tercantum dalam buku petubjuk haji. Supaya bumi dilipat, sehingga  perjalanannya lancar dan mudah. Berangkat lah saya menuju Jabal Rahmah. Sesampai di kaki gunung, melihat orang berkerumun  memenuhi bukit itu, saya tidak tahu kalau ada jalan resmi untuk naik ke puncak bukit. Jadi saya mengambil jalan pintas, melompat lompat dari batu ke batu besar yang berserakan di bukit itu. Setelah diperhatikan ternyata di batu batu itu terdapat banyak sekali kotoran manusia, bekas buangan para jama’ah. Namun saya selamat dari kotoran tersebut, dan sampai di puncak pada jam 7:00 waktu lokal. Hanya perlu waktu 30 menit dari kemah sampai ke puncak.

Saat itulah saya berkata dalam hati:”Ah ternyata mudah saja ke atas bukit ini”, sambil melirik ke bawah ke lokasi kemah. “Mudah, seblum jam 8:00 sudah balik ke kemah deh.” Setelah mengelilingi tugu yang di puncak bukit, seperti yang dikerrjakan semua orang di sana, saya siap siap turun gunung. Jam 7:30. Tanpa doa, tanpa hamdalah, telah sampai di puncak dengan selamat dan cepat. Sampai di bawah, tak tahu mengapa saya berputar putar tanpa bisa menemukan kembali kemah saya tadi. Jam sudah menunjukkan 11:30 sudah hampir masuk waktu Lohor. “Wah dik Iin pasti sudah menunggu nunggu nih.” Tapi di mana kemah tadi itu. Bendera dan gedung itu ada di sana, tapi tenda penjual buah tadi kemana ya? Setelah berputar putar lagi, saya baru merasa bahwa ada yang tidak benar dalam diri saya. Ada yang salah. Maka saya langsung jongkok dan istighfar. Baru menyadari kesalahan saya. Sombong tak tahu terima kasih. Padahal itu tadi hanya saya ucapkan dalam hati.

Setelah istighfar, saya mengangkat muka, dan ….di depan saya terlihat kemah penjual buah itu. Dan ternyata saya jongkok di depan kemah yang hampir 4 jam itu saya cari cari dan tidak ketemu. Saat itulah saya menyadari betul bahwa urusan sombong itu tidak perlu terlihat orang, meskipun disembunyikan dalam hati, Allah tahu kesombongan itu. Dan Dia tidak suka orang sombong. Yang berhak sombong hanya Dia. Makhluk sama sekali tak berhak sombong. Apa yang bisa disombongkan? Maka waktu habis shalat lohor berjamaah dan imam berdoa, saya menangis tersedu sedu bercucuran air mata, memohon ampunan Nya.

Petang itu setelah shalat Isya dijama’ takdim ke maghrib, sehabis makan malam, kam semua mulai menuju  Muzdalifah. Sambil di sepajang jalan mengumpulkan batu untuk melempar jumroh.

Menjelang Subuh sampai di Mina. Tempat kami menginap berada di depan tempat melempar jumroh yang pertama. Habis shalat langsung lempar jumroh, lalu thawaf haji. Potong rambut, lalu balik ke tempat menginap. Saya sekamar dengan tiga lelaki lain. Salah satunya adalah seorang Publik Akuntan, yang sudah lebih dari 60 tahun usianya. Nampaknya dia kelelahan dengan acara marathon ini, sehingga mengeluh, bukan ditujukan ke siapapun. Hanya bilang seandainya tukang pijatnya ada bersama dia saat ini, pasti dia sangat bahagia. Saya pikir membuat orang bahagia adalah perbuatan baik. Maka saya mendekat dan bilang :”Mungkin saya tidak sepandai tukang pijat anda, tetapi lumayanlah dari pada tidak ada sama sekali.” Sambil saya langsung memijat kakinya, sampai dia tertidur. Begitu bangun dia langsung mengeluarkan kartu namanya dan bilang :”Kalau ada kesulitan tentang laporan keuangan saya bisa membantu.” Balik ke Jakarta, kami menjadi sahabat dan dia menjadi pembuat laporan keuangan resmi perusahaan kami dengan tagihan jam kerja karyawannya saja.

Lempar jumroh hari kedua, semua menunggu mendekati waktu lohor, supaya afdol katanya. Saya ikut saja. Makin lama berdiri tanpa ada yang bergerak, maka kumpulan itu menjadi makin padat. Di depan kami ada seorang yang tinggi besar, yang membawa payung besar. Menurut saya payungnya warna hitam, tapi dik Iin melihat nya payung putih. Sambil beringsut kami mendekat ke arahnya agar bisa kebagian teduh payungnya yang besar itu. Katanya dia orag Mesir, kami mencoba komunikasi tapi dia kurang faham bahasa Inggris dan saya tidak bisa bahasa Arab. Jadi dibantu dengan bahasa isyarat dia tanya apakah saya sudah punya batu untuk melempar. Maka kami tunjukkan kepadanya kantung batu kami. Setelah dilihat, lalu direbut dan dibuang. Kami heran. Dia Cuma bilang haram dan mengeluarkan gantinya biji batu yang halus dan kecil kecil  dengan jumlah yang diperlukan  untuk melempar. Rupanya batu kami tadi dianggap terlalu besar ukurannya dan dia khawatir itu bisa melukai orang bila dilemparkan.

Begitu orang sudah mulai bergerak, menjelang lohor, dia isyaratkan agar dik Iin memegang ikat pinggangnya di belakangnya, dan saya di belakang nya lagi untuk menjaga dari belakang. Setelah melipat payungnya, melepas sandalnya dan diselipkan di ikat pinggangnya, mulai lah dia bergerak. Dan …  luar biasa. Dia kuat sekali. Begitu kedua tangannya membuka dari tengah ke kedua samping, maka kerumunan orang itu langsung terbelah menjadi celah untuk kita bisa menerobos. Dan kami maju cepat sekali. Di tengah jalan sendal dik Iin lepas, dan dia menarik tangan sebagai isyarat agar berhenti untuk mengambil sendal. Dia bilang no no no sambil dia mengambil sendal tercecer yang banyak terdapat di situ dan diberikan ke dik Iin.  Sampailah kami ke tempat melempar pertama. Dia melempar dulu, baru kita . Sedang dia melindungi dari belakang. Selesai melempar, dik Iin menawarkan air minum agar dia minum lebih dulu. Kami memaksa, karena awalnya dia menolak.

Kami melanjutkan ke tempat yang kedua. Tetapi perjalanan kali ini jauh lebih mudah, karena semua orang masih sibuk di tempat pertama.  Tapi orang Mesir tadi kok lenyap begitu saja. Tak kelihatan sama sekali. Padahal dia itu minimal 40 cm di atas tinggi rata rata orang yang ada di sana. Dik Iin belum sempat mengambil fotonya, dan belum sempat mengundang dia makan siang bersama, sebagai rasa terima kasih kami telah dibantu melewati tempat pertama itu dengan mudah. Setelah seluruh acara lempar jumroh selesai, kami kembali ke tempat kami menginap. Dan mendapat cerita bahwa teman seperjalanan kami hampir saja hanya pulang nama saja, karena di tempat pertama itu begitu penuh sesak orang sehingga dia dan isterinya tak mampu lagi menginjak tanah. Kalau sampai jatuh dan terinjak injak ya …. sudahlah.

Selesai melempar di Mina, dilanjutkan ke Medina. Nah mulai di Madina inilah saya mengalami masalah ketika shalat. Karena sukar berkonsentrasi, saya selalu menutup mata ketika shalat. Dan itu bertentangan dengan Petunjuk Shalat untuk Murid SD, yang saya bawa bawa. Dan ketika tiba di Madina, setiap saya menutup mata dalam shalat,  lalu muncul sebuah (hanya satu, bukan sepasang) mata yang besar memenuhi pandangan, yang bening dan indah. Tetapi sangat menakutkan, membuat merinding. Apa ini Si Mata Satu? Karena mata itu bentuknya tidak seperti mata biasa, yang meruncing ke pinggir. Ini bentuknya simetris.

Maka segera saya buka mata saya. Dan bayangan itu hilang. Tetapi itu mengganggu shalat saya. Makin membuat sukar konsentrasi. Dalam hati selalu berdoa agar bayangan itu hilang. Harga $3,500 itu adalah untuk acara selalma 21 hari di Arab Saudi. Belum sempat menyelesaikan shalat arba’in di Madina, ada berita bahwa ayah mertua sakit keras di Jakarta. Maka acara disingkat hanya 13 seluruhnya, termasuk  thawaf wadha, thawaf  sekali lagi di Masjidil Haram.

Begitu keluar Madina bayangan itu hilang. Dan sesampainya di Jakarta, dalam pikiran saya muncul pemahaman tentang Islam yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh saya. Sebelum shalat teratur, dalam jaman jahiliyah saya, di perusahaan saya berperan sebagai polisi jahat dan partner saya, Direktur Utama, polisi baik. Karena saya dianggap oleh teman teman sebagai orang yang banyak tahu tentang trik trik jahat. Dianggap sebagai tough negotiator, selalu dikirim untuk menghadapi pihak pemberi tugas atau pihak kontraktor. Mungkin kalau tidak ada yang menolong saya di Madina  terhadap pengaruh Si Mata Satu, saya diambil olehnya waktu itu sebagai anggota pasukannya. Allah ‘Alam.

Ampuni kebodohan kami ya Allah. Bi hurmati Habib. Al Fatiha.

Salam

Sutono saimun Joyosuparto

23 Juli 2010

About kekji

i am nothing and will stay that way. i live only to serve Allah SWT
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s