FAITH VERSUS SCIENCE

Allahuma Sali ala Muhammad wa ala ali Muhammad wa salam. Al Fatiha.

A professor of philosophy speaks to his class on the problem science has with God, The Almighty.
Seorang professor fiosophi berbicara kepada muridnya di kelas tentang masalah ilmu pengetahuan dengan Allah Azza wa Jalla.

He asks one of his new students to stand and the conversation goes like this….

Dia meminta salah satu mahasiswa barunya untuk  berdiri dan perbincangan itu adalah seperti berikut …………….

Prof.: so you believe in God?

Jadi kamu percaya Allah?
Student: absolutely, sir.

Tentu saja Tuan.
Prof.: is God good?

Apakah Allah baik?
Student: sure.

Tentu saja.
Prof.: is God all-powerful?
Apakah Allah Maha Kuasa?

Student: yes.
Ya.

Prof.: my brother died of cancer even though he prayed to God to heal him. Most of us would attempt to help others who are ill, but God didn’t. how is this God good then? Hmm?

Saudara saya meninggal karena kanker, meskipun dia berdoa kepada Allah untuk menyembuhkanya. Kebanyakan kita akan mencoba menolong orang lain yang sakit, namun tidak demikian Allah. Jadi bagaimana baik nya Allah itu? Huh?
Student:
(student is silent)

Mahasiswa diam.
Prof.: you can’t answer can you? let’s start again, young fella.. is God good?

Kamu tidak dapat menjawab kan? Baiklah kita mulai lagi, kawan… Apakah Allah baik?
Student: yes.

Ya
Prof.: is satan good?

Apakah setan baik?
Student: no.

Tidak.
Prof.: where does satan come from?

dari mana datangnya setan?
Student: from….. God.

dari …… Allah.
Prof.: that’s right.. tell me son, is there evil in this world?

Betul …. Katakan padaku nak, apakah ada kejahatan di dunia ini?
Student: yes.

Ya
Prof.: Evil is everywhere, isn’t it? and God did make everything.. . correct?

Kejahatan ada di mana mana , buakan”  Dan Allah membuat semuanya …… betul?

Student: yes.

Ya

Prof.: so who created evil?

Jadi siapa yang menciptakan kejahatan?
Student: (student does not answer)

Mahasiswa tidak menjawab
Prof.: is there sickness, immorality? hatred? ugliness? all these terrible things exist in the world, don’t they?
Apakah ada penyakit,  masalah moral, kebencian, keburukan, dan semua hal yang buruk yang ada di dunia ini, bukan?

Student:  Yes sir.

Ya Tuan
Prof.:
So, who created them?
Jadi, siapa yang menciptakan itu semua ?

Student: (student has no answer)

Mahasiswa tidak memiliki jawaban
Prof.: science says you have 5 senses you use to identify and observe the world around you. Tell me son… have you ever seen God?
Ilmu pengetahuan bilang  kamu memiliki 5 panca indera yang kamu gunakan untuk mengenali dan mengamati dunia di sekitar kamu . Katakan anakku …. Apakah kamu pernah melihat Allah?

Student: No, sir.

Tidak Tuan.
Prof.: Tell us if you have ever heard your God?

Katakan kepadaku kalau kamu pernah mendengar Tuhan mu itu ?
Student: No, sir.

Tidak Tuan
Prof.: Have you ever felt your God, tasted your God, smelt your God? have  you ever had any sensory perception of God for that matter?
Apakah  kamu pernah merasa Allah, mengicipi Allah, mencium Allah? Apakah kamu pernah menerima reaksi indera atas Allah?

Student: No, sir. I’m afraid I haven’t.

Tidak Tuan. Saya belum pernah.
Prof.: Yet you still believe in him?

Namun kamu masih beriman kepada Nya?
Student: Yes.
Ya.

Prof.: According to emphirical, testable, demonstrable, protocol, science says your God doesn’t exist. what do you say to that, son?
Sesuai dengan kaidah empiris, dapatnya diuji, dapatnya diperagakan, maka protokol sains/ilmu pengetahuan mengatakan Allah mu tidak ada. Apa yang kamu katakan tentang itu, nak?
Student: Nothing. I only have my faith.

Tidak ada. Saya hanya memiliki iman saya.
Prof.: Yes, faith, and that is the problem science has.

Ya, iman, dan itulah masalah yang dihadapi sains.
Student: Professor, is there such a thing as heat?

Prof, apakah ada yang dinamakan panas itu ?
Prof.:  Yes.

Ya
Student:  And is there such a thing as cold?

Dan adakah yang disebut dingin?
Prof.:  Yes.
Ya

Student: No sir. there isn’t.

Tidak Tuan, itu tidak ada.
(the lecture theater becomes, very quiet with this turn of events.)
Ruang kuliah menjadi diam, dengan berkembangnya peristiwa ini.

Student: Sir, you can have lots of heat even more heat, super heat, mega heat, white heat, a little heat or no heat. but we don’t have anything called cold. we can hit 458 degrees below zero which is no heat, but we can’t go any further after that. there is no such a thing as  cold. cold is only a word we use to describe the absence of heat. we cannot measure cold. heat is energy.. . . cold is not the opposite of heat, sir, just the absence of it.

Tuan, anda memiliki banyak panas, bahkan lebih panas, panas super, panas mega, panas putih,  panas kecil,  atau tiada panas. Namun kita tidak meimiliki apapun yang disebut dingin, kita dapat mencapai 485 derajat dibawah nol, yang adalah  tiada panas, namun kita tidak dapat turun lebih lanjut dari itu. Tiada yang disebut dingin itu.  Panas adalah energi ….. dingin bukanlah lawannya panas , Tuan , hanya tiadanya panas.
(there is pin-drop silence in the lecture theatre).

Terdapat keadaan sunyi yang jarum jatuhpun akan terdengar dalam ruang kuliah itu.
Student:  What about darkness, professor? is there such a thing as darkness?
Bagaimana tentang kegelapan prof? Apakah ada yang disebut gelap itu?

Prof.: Yes. what is night if there isn’t darkness?

Ya ada, apakah malam kalau tidak ada kegelapan?
Student:  You’re wrong again, sir. darkness is the absence of something. you can have low light, normal light, bright light, flashing light . . . . . but if you have no light constantly, you have nothing and its called darkness isn’t it . .. . , if it were you, would be able to make darkness darker, wouldn’t you?
Anda salah lagi Tuan . Kegelapan adalah tiadanya sesuatu. Anda bisa punya cahaya temaram, cahaya normal, cahaya terang, cahaya kilat…… namun jika anda tidak punya cahaya tetap,, anda tidak punya apapun dan itu disebut kegelapan, bukan? Jika itu adalah anda,  dapatkah membuat gelap menjadi lebih gelap, tidak bukan?

Prof.:  So what is the point you are making, young man?

Jadi apakah butir yang kamu kemukan, anak muda?
Student: Sir, my point is, your philosophical premise is flawed.

Tuan intinya adalah premis filosophi anda memiliki cacat.
Prof.:  Flawed? can you explain how?

Cacat ? Dapatkah kamu menjelaskan?
Student:  Sir, you are working on the premise of duality, you argue there is life and then there is death, a good God and a bad God. you are viewing the concept of God as something finite, something we can measure. sir, science can’t even explain a thought. it uses electricity and magnetism, but has never seen, much less fully understood either one. to view death as the opposite of life is to be ignorant of the fact that death cannot exist as a substantive thing. death is not the opposite of life: just the absence of it. . . . now tell me, professor. . . . .. . . .. do you teach us students that we evolved from a monkey?

Tuan, anda bekerja dengan premis dualitas,  anda  berkilah bahwa terdapat hidup dan kemudian terdapat mati, satu Tuhan baik, Tuhan jahat. Anda memandang konsep  Tuhan sebagai sesuatu yang tertentu (terbatas), sesuatu yang bisa kita ukur. Tuan ilmu sains bahkan tidak dapat menjelaskan tentang sebuah pemikiran, itu menggunakan listrik, dan magnit , namun tidak pernah melihat, apalagi memhami yang manapun. Memandang kematian sebagai lawan hehidupan adalah mengabaikan fakta  bahwa kematian tidak dapat ada/hadir sebagai sebuah benda substantif, kematian bukan lawan dari kehidupan. Itu hanyalah tiadanya kehidupan…….. Sekarang katakan pada saya prof……. apakah anda mengajari  kami mahasiswa, bahwa kita berkembang  dari monyet?
Prof.:  If you are referring to the natural evolutionary process, yes, of course, I do.
Jika yang kamu maksud adalah proses alamiah evolusi, betul , tentu saja saya mengajari itu.

Student: Have you ever observed evolution with our own eyes, sir?

Apakah anda pernah mengamati evolusi dengan mata kepala sendiri?
Prof.: (the professor shakes his head with a smile, beginning to realize where the argument is going.)

Prof menggelengkan kepalanya dengan senyum; mulai menyadari kemana arah pembicaraan.
Student:  Since no one has ever observed the process of evolution at work and cannot even prove that this process is an on-going endeavor, are you not teaching your opinion sir ?  Are you not a scientist but a preacher?
Karena tak seorangpun pernah mengamati proses evolusi sedang terjadi dan bahkan tidak dapat membuktikan bahwa proses ini memang sedang terjadi sekarang, apakah anda tidak mengajarkan pendapat anda  Tuan? Apakah anda bukan seorang ilmuwan, tetapi hanya seorang  pendakwah.

Narrator – class in an uproar

Seluruh ruang kelas menjadi gempar.
Student:  Is there anyone in the class who has ever seen the Professor’s brain?
Apakah ada di ruang ini yang pernah melihat otak prof?
Narrator: (The class breaks out into laughter.)
Seluruh ruang kelas pecah menjadi gelak tertawa.

Student:  Is there anyone here who has ever heard the professor’s brain, felt it, touched or smelt it?…… no one appears to have done so… so, according to the established rules of empirical, testable, demonstrable, protocol, science  says that you have no brain, Sir.
Apakah ada di kelas ini yang pernah mendengar otak prof, merasakannya, menyentuhnya atau menciumnya? Tidak seorangpun nampaknya yang pernah berbuat itu. Jadi sesuai hukum yang baku tentang empiris, peragaan, dapat diuji, protokol, ilmu sains mengatakan bahwa anda tidak memiliki otak, Tuan.

With due respect, sir. how do we then trust your lectures, sir?

Denagn segala hrmat, Tuan, maka bagaimana kita  dapat mempercayai kuliah mu Tuan?
Narrator: (The room is silent, the professor stares at the student, his face unfathomable. )
Ruang kuliah itu menjadi hening, prof itu memandang kepada  mahasiswa itu, mukanya tidak berekspresi.

Prof.: I guess you’ll have to take them on faith, son.

Saya kira kamu hanya harus beriman, nak.
Student: That is it sir… the link between man & God is FAITH. that is all that keep things moving & alive.

Begitulah Tuan…… hubungan antara manusia dengan Allah adalag iman. Dan itulah yang membuat semua bergerak dan hidup.

NB: I believe you have enjoyed the conversation. .. and if so… you’ll probably want your friends/ colleagues to enjoy the same… won’t you? … forward them to increase their knowledge…
Catatan : saya percaya telah menikmati percakapan ini… dan jika demikian …. Kamu mungkin menghendaki temanmu untuk menikmati hal yang sama bukan? Kirimkan kepada mereka untuk menambah wawsan mereka.

“NEVER QUESTION THE VERACITY OF GOD….JUST TRUST HIM”

Jangan pernah meragukan keberadaan Allah…. Percayalah kepada Nya.

This is a classical presentation of antagonistic view between faith and science, because of lack of understanding on the subject matter.

Ini  adalah penyajian klasik dari pandangan yang dipertentangkan antara iman dan sains (ilmu pengetahuan), disebabkan oleh kurangnya pengertian tentang materi yang dibahas.

This presentation is like dog (or cat) chasing its tail. It will get us nowhere.

Penyajian ini adalah seperti anjing (atau kucing) yang mengejar ekornya sendiri. Itu tidak akan membawa kita ke mana mana.

That is not the kind of thawaf (or tawaf, or cycling or recycling or repeating), which is meant by Rukun Islam.

Itu bukan jenis thawaf (atau tawaf atau recycling atau pengulangan), yang dimaksud oleh Rukun Islam.

Both actually are softwares which are down loaded to our heart by Allah and then installed or formatted unto our mind to become our  mind set.

Keduanya sesungguhnya adalah piranti lunak yang diturunkan ke dalam jantung kita oleh Allah dan kemudian dipasang atau diformatkan kedalam pikiran kita untuk menjadi ketetapan pikiran kita.

And faith is the basic software, while science is the result of the basic software, after  recycling it grows into some kind of repeatable or predictable conclusion.

Dan iman adalah piranti lunak dasar, sedang sains atau ilmu pengetahuan adalah hasil dari piranti lunak itu, yang setelah diulang ulang itu tumbuh menjadi sesuatu yang memberikan kesimpulan yang bisa diulang atau bisa perkirakan.

So the seeming difference between faith and science, caused by one does not want to extent analysis to cover broader domain or smaller wavelengths or higher frequencies.

Jadi perbedaan yang seolah tampak antara iman dan ilmu pengetahuan, adalah disebabkan oleh orang tidak mau memperlebar analisanya guna mencakup daerah yang lebih luas atau panjang gelombang yang lebih pendek atau frekwensi yang lebih tinggi.

There are infinite numbers of wave lengths between 1 cm and 0 cm. And there are infinite number of frequency between 100,000 Hertz per second and infinite number of Hertz per second.

Terdapat tak berhingga banyaknya panjang gelombang antara 1 cm dan 0 cm. Terdapat tak terhingga frekwensi antara 100,000 Hertz per detik dan tak berhingga Hertz per detik.

But the algorithme to have a proper understanding for all that is the same. And the main component of that is Allah’s permission .

Namun tata cara langkah untuk mendapatkan pemahaman yang patut untuk itu semua adalah sama saja. Dan komponen utama dari itu adalah ijin Allah.

For a subject matter which is noticeable by naked eye, Allah’s permission is not apparent, we do not feel it.

Untuk hal yang nampak jelas dengan mata telanjang, ijin Allah tidak terlalu nampak, kita tidak merasakannya.

In a domain where we can not differentiate  between matter and light,  Allah’s permission  is dominant. He gives this kind of  knowledge (actually all kind of knowledges)  to whoever He wants, through asserting zikr Allah (Allahu Allahu). And this is digital. This is Haqqiqat.

Untuk  daerah di mana kita tidak bisa membedakan antara materi dan cahaya, ijin Allah sangat dominan. Dia memberikan ilmu jenis ini (sebetulnya jenis manapun juga ) kepada siapapun yang Dia kehendaki, melalui kesungguhan dzikr Allah (Allahu Allahu). Dan  ini adalah digital. Ini adalah Haqqiqat.

Allah ‘Alam. Alahamdulillah. Astaghfirullah.

Bihurmati habib. Al Fatiha.

Salam

Sutono Saimun Joyosuparto

June 28, 2010

About kekji

i am nothing and will stay that way. i live only to serve Allah SWT
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s