EGO 1

Allahuma shali ala Muhammad wa ala ali Muhammad wa salam

Demi kehormatan Kekasih. Al Fatiha.

EGO

Ini yang saya mengerti tentang ego. Sebelum itu, ini dulu : Allah S.W.T.  memberikan apapun (ilmu/sofware, harta/hardware, dan/atau kuasa/wilayah) kepada siapapun yang dikehendaki Nya. Artinya jika Allah memberi ilmu tertentu kepada A, namun tidak kepada B, maka biarpun A menjelaskan sampai mulut berbusa tentang apa yang didapatnya itu, B tidak akan menangkapnya.

Tetapi karena memang ada perintah untuk berbagi (share) nikmat yang diterima, maka saya sampaikan ini.

Manusia diciptakan sempurna, termasuk diberi/dipasang Nya : ego. Lho? Apakah mungkin Allah memasang ego pada manusia itu tanpa ada gunanya? Bagaimana?

Bayi manusia adalah makhluk lemah, tanpa diberi ego pada awal kehidupannya itu, dia tidak akan punya kesempatan tumbuh meliwati masa balitanya. Kalau makhluk/ciptaan lainnya, begitu lahir langsung tahu apa yang dilakukan untuk tetap hidup/survive. Bayi manusia tidak berdaya, maka diberi ego yang tugas utamanya agar si bayi mencintai dirinya sendiri. Artinya kalau ada hal yang terasa tidak nyaman dialami olehnya, maka cinta diri itu menyebabkan bayi itu menangis. Lapar, nangis. Digiti nyamuk, nangis. Mau pipis/kotor, nangis.

Dalam pertumbuhannya bayi itu belajar tentang cinta bentuk lain : cinta kepada orang tuanya, yang memberikan apapun yang dibutuhkan. Kalau tidak patuh (tanda cinta) kepada orang tuanya, dia tidak mendapatkan apa yang diperlukannya. Kemudian dia belajar juga tetang cinta bentuk lain lagi, yang untuk mewujudkannya, dia harus berkorban. Cinta memerlukan pengorbanan. Yaitu cinta kepada lawan jenis (kelamin). Maka sampai di tahap ini dalam hidupnya, dia umumnya sudah dapat dianggap dewasa, bisa berdiri sendiri, bertanggung jawab terhadap hidupnya.

Pada saat itulah dia harusnya mampu menanggalkan egonya, seperti ulat meninggalkan kepompongnya. Jadi ego manusia itu adalah perangkat yang dipasang Allah, untuk melindungi manusia selama masa peralihan dari bayi menjadi dewasa. Tugas orang tuanya adalah memperkenalkan konsep, atau kebenaran, bahwa sesungguhnya yang melindungi dirinya adalah Allah, yang menciptakannya sejak awal. Bahkan menciptakan seluruh alam semesta ini.

Dan ketika si bayi tumbuh besar, maka egopun ikut tumbuh bersamanya, dan berkesempatan berinteraksi dengan lima life support organ (perangkat pendukung hidup) dengan karakter yang terkait dengan jenis emosi masing masing : jantung-api-riang, lambung-tanah-cinta, paru-mineral-marah, ginjal-air-takut, dan hati-kayu-marah. Orang tua perlu memperkenalkan  kepada anaknya juga, pentingnya menjaga keseimbangan antara kelima emosi itu untuk menjaga kesehatan nya dan mengenali tempat “persembunyian” ego.

Perhatikan cara Allah memberi pelajaran kepada kita dalam proses pertumbuhan kita, yaitu memperkenalkan kita dengan penyakit (rasa sakit). Minimal ada 3 kegunaan sakit/penyakit bagi kita : 1) untuk melebarkan daerah nyaman (comfortable zone), membuat kita lebih kuat; 2) untuk memberi tahu kita bahwa ada yang tidak beres dengan diri kita; 3) untuk mengurangi dosa (bila kita dapat menjalani/menghadapi sakit itu dengan shabar). Tentu saja sebagai bayi, butir 2) dan 3) tidak relevan baginya. Jadi bayi diperkenalkan kepada sakit itu adalah agar dia belajar meluaskan daerah nyaman.  Mau tumbuh gigi, demam. Karena memang harus dilalui, ya harus kita terima rasa tidak nyaman itu dan merubahnya menjadi rasa nyaman (kalau bisa), minimalnya melatih diri kita agar bisa menerima ketidak nyamanan itu.

Setelah masa wajib shalat, kita pun wajib puasa. Ini juga latihan agar kita mampu menunda pemenuhan hasrat atau kebutuhan. Dan salah satu tempat bercokolnya ego adalah di perut, yang juga dikenal sebagai sumber penyakit. Ini adalah pelajaran agar kita melawan ego itu. Bahkan Nabi s.a.w. menyebut puasa (melawan diri sendiri)  sebagai jihad akbar.

Dan ketika pelajaran cinta itu sudah mencapai tahap ketiga ini (cinta memerlukan pengorbanan), dan kita mampu menumbuhkan pohon cinta itu dengan akarnya menghunjam dalam ke bumi dan pucuknya menjulang ke langit (Arsy) (Surat Ibrahim ayat 23), maka harusnya kita mampu pula keluar dari kepompong kita itu, ego, seperti halnya ulat keluar dari kepompongnya menjadi kupu kupu. Makhluk yang tadinya menyeramkan dan rakus, ulat,  berubah menjadi makhluk cantik dan hanya makan bahan yang suci dan murni (madu, sari serbuk), kupu kupu.

Allah menghendaki kita agar tidak lagi bergantung kepada ego, yang telah membantu kita survive melewati masa ke-tidak-berdaya-an kita, hingga menjadi dewasa.  Memang kepompong manusia tidaklah sesederhana kepompong ulat. Kepompong ulat hanya selapis. Begitu dia telah mampu keluar dari satu lapis kepompong itu, sempurnalah dia. Kepompong kita tidak berwujud hard ware, tetapi berwujud spiritual/software. Dan jumlahnya banyak, sekali ada 70,000 lapis, harus kita lepaskan agar supaya kita dapat melihat Nabi s.a.w. dalam wujudnya yang sekarang.

Mengapa kita harus diselubungi dengan begitu banyak tabir/kepompong? Itu untuk melindungi kita dari hebatnya, dari dahsyatnya Bahrul Qudra, Samudera Kuasa Allah, tempat Allh mewujudkan seluruh kekuatan dan ilmu Nya. Nabi Muhammad s.a.w. dalam bentuknya yang sekarang tentunya telah menyerap banyak sekali Nur dar BQ itu, sehingga tanpa perlindungan yang cukup, kita akan terciderai kalau berhadapan langsung dengan bentuk beliau s.a.w. yang sekarang.  Kalau tabir yang menutupi BQ itu dibuka, ya seluruh ciptaan ini, dunia, langit dan antara keduanya akan musnah dan kembali terserap oleh BQ itu. Hanya mereka yang telah bisa membersihkan dirinya dari ego, dapat memandang  Nabi s.a.w. dalam bentuknya yang sekarang.

Namun Nabi s.a.w. juga dikenal muncul dalam mimpi orang orang yang beruntung, mungkin untuk memberi insentif atau bonus, agar mereka lebih berusaha  mencintai Allah dan Rasul Nya. Mimpi yang terkait dengan Nabi s.a.w. disebut sebagai mimpi benar, karena hanya Nabi s.a.w. yang tidak dapat ditiru oleh setan. Dan dalam bentuk seperti itu, itu hanyalah refleksi, sehingga tidak mencederai mereka yang memimpikannya.

Seperti yang saya alami sebelum bertemu dengan Mursyid Naqshbandi Haqqani. Suatu pagi (jam 10 pagi) saya hadir dalam Acara Akad Nikah muridnya Kiai (Shaykh juga) Asrori (sekarang sudah almarhum) di Gedung Manggala Wana Bhakti.  Itu diawali dengan penyajian shalat Nabi s.a.w. yang dibawakan oleh para murid beliau. Sambil mendengarkan suara yang begitu menyejukkan dan menenangkan, saya membatin :”Orang kok bicara tentang cinta kepada Nabi s.a.w. Bagaimana sih itu rasanya ya Allah?!!” Segera setelah saya selesai menggumamkan kalimat itu dalam hati, seluruh acara dan gedung Manggala Wana Bhakti hilang dari hadapan saya. Dan sebagai gantinya, saya mendapati diri saya memeluk (rasanya tak tepat istilah ini) kuku jempol kaki kanan Nabi s.a.w., yang ukurannya selebar tempat tidur king size. Muka menciumi kuku dan tangan dan kaki terentang, sambil menangis tersedu sedu, saking bahagianya. Tidak lama, hanya beberapa detik. Lalu seluruh gedung dan acara itu muncul kembali, lantunan shalawat masih berkumandang dan saya mendapati air mata dan ingus membanjir keluar sambil terisak isak keras, sehingga dik Iin dan tetangga undangan di kiri kanan pada menoleh.  Apakah saya mimpi Nabi s.a.w.? Allah ‘Alam. Tapi saya sangat bahagia pagi itu.

Karena waktu itu saya belum bertemu dengan Naqshbandi Haqqani, ukuran Nabi s.a.w dalam “mimpi” saya itu tidak menjadi perhatian saya. Saya anggap itu lamunan saja. Namun kemudian saya bertemu dengan Naqshbandi Haqqani yang memelihara kisah tentang sayyidina Uwaisi, seorang yang mewarisi jubah Nabi s.a.w. yang dipakainya menjelang maut menjemput. Nabi s.a.w. berpesan kepada 2 shahabat dekatnya, Sayyidina Umar r.a. dan Sayyidina Ali r.a. sebelum wafat, agar mereka membawa jubah yang dipakainya itu kepada seorang bernama Uwaisi, sesorang penggembala kambing di desa anu. Sang Penggembala ini memiliki Ibu yang lumpuh,  dan karena cintanya kepada ibundanya itu, dia selalu menggendong dan membawanya ke tempat kerjanya.  Maka kedua prang Shahabat Utama Nabi s.a.w. itu membawa jubah Nabi s.a.w. yang masih lembab dengan keringat Nabi s.a.w. dan pergi mencari Sayyidina Uwaisi.

Setelah bertanya kian kemari, sampailah kedua nya di kaki sebuah bukit, dan di puncak bukit itu ada seseorang yang membelakangi arah kedatangan mereka . Sebelum mereka sempat menyapa, orang itu telah terlebih dulu menegur :”Kemana saja kalian, saya sudah menunggu kedatangan kalian dari tadi.”  Setelah kedua pihak berhadapan dan jubah telah diserahkan Sayyidina Uwaisi bertanya kepada dua orang shahabat utama itu :”Apakah kalian pernah bertemu dengan Nabi Muhammad s.a.w.?” Mendengar pertanyaan itu Sayyidina Umar r.a.sangat tersinggung dan langsung bereaksi :”Tidak tahukah kamu siapa kami ini. Tentu saja kami melihat Nabi s.a.w. Jubah itu langsung kami terima dari beliau.”

Namun Sayyidina Ali r.a. menggamit lengan shahabatnya itu mencegahnya untuk berbicara lebih jauh. Lalu dia berkata :”Ya, saya melihat Nabi s.a.w. baru sekali.” “Seperti apa ?”, tanya Sayyidina Uwaisi. “Nabi Muhammad s.a.w. kepalanya menyentuh Arsy, kakinya menghunjam ke dalam bumi lapis ke tujuh.” Sayyidina Uwaisi menanggapi “ Saya melihat beliau seperti itu setiap saat.” Tentu saja dialog mereka tidaklah seperti yang saya sampaikan disini.

Dan kini, setiap kali MSN akan memulai memberikan sohbetnya dan mengucapkan shalawat kepada Nabi s.a.w., beliau selalu berdiri dan melihat ke atas, kepada sesuatu  yang tinggi. Lalu saya terinagt dengan “mimpi” saya tadi : saya berada di kuku jempol kanan Nabi s.a.w. Mungkin itu bukan hasil lamunan saya saja. Dan mengapa kuku jempol kaki? Setelah belasan tahun baru saya sadari bahwa jempol kaki adalah bagian tubuh beliau yang paling banyak beliau pandangi. Memang kita tidak mampu bersyukur sebagaimana Allah berhak disyukuri. Makanya setiap kali mengucapkan Alhamdulillah kita harus mengikutinya dengan Astaghfirullah, karena `pujian kita itu pasti ada salahnya…

Kembali ke pokok bahasan….

Kalau ulat setelah cukup masa bertapa (‘itikaf) nya, maka dia akan mampu dengan sendirinya keluar dari kepompomg nya. Di depan alat bernapasnya ulat, di kulit kepompomg itu terdapat sebuah lubang kecil, agar ulat masih tetap bisa bernapas dalam proses transformasinya itu. Setelah cukup waktunya, melalui lubang kecil itulah kupu kupu  harus mengerahkan seluruh kekuatannya agar mampu menerobos dan merobek kepompong itu. Dalam proses mengerahkan seluruh tenaganya itulah darah di dalam tubuhnya dipompa dengan keras, sehingga mencapai ujung ujung bagian sayap yang kini telah terwujud di tubuh ulat itu. Apa yang terjadi, jika kita mencoba menolong kupu kupu itu dengan cara menyobek lubang itu dari luar, agar kupu kupu bisa mudah keluar dari kepompongnya?

Kalau kita menolong secara begitu, maka kupu kupu itu tidak akan bisa terbang, karena sayapnya tidak tumbuh seperti seharusnya, dibandingkan jika dia secara alamiah bisa keluar sendiri dari kepompongnya itu!!! Subhan Allah !!!

Apakah hal yang sama berlaku bagi manusia dan kepompongnya? Mungkin tidak persis begitu, karena sesungguhnya kita bisa keluar dari kepompong kita, hanya karena karunia Allah.Namun kita memang harus melakukan sesuatu juga secara berkesinam bungan  untuk memperkuat diri kita. Apakah itu? Dzikir Allah yang telah diperintahkan untuk kita lakukan. Dan Mursyid Naqshbandi diberi wewenang untuk membantu  mengelupas kepompong kita itu, atas ijin Allah.

Nabi s.a.w. sangat mengkhawatirkan ummat beliau adalah karena adanya ego kepompong dalam diri manusia inilah!! Beliau menyebutnya sebagai tuhan palsu dalam diri kita, karena lewat ego inilah sesungguhnya setan mempengaruhi manusia. Itulah pula sebabnya perjuangan  melawan diri sendiri disebutnya sebagai jihad akbar. Sesungguhnya kekhawatiran Nabi s.a.w. itu diketahui pula oleh Allah S.W.T. (tentu saja), maka diturunkanlah Surat Inshirah, yang menjamin Nabi s.a.w. agar tidak perlu khawatir atas ummatnya.

PROSES BELAJAR MENGAJAR

Yang disampaikan di atas itu belum tentu benar. Setidaknya itu adalah hasil sebuah proses belajar, yang seyogyanya tidak berhenti sampai ajal menjemput. Proses belajar mengajar yang dijalani Nabi s.a.w. diperagakan selama hidup beliau s.a.w.  Itu diawali dengan turunnya lima ayat pertama Surat Al Iqra, yang antara lain menyatakan bahwa Allah yang mengajari manusia tentang hal yang tidak diketahuinya. Bagaimana metoda nya ? Learning by doing, belajar sambil melaksanakannya, sami’na wa ‘atho’na, mendengar dan patuh.

Dalam hal proses belajar mengajar (knowledge gain) ini efek Hukum Syukur nampak lebih jelas dibanding dengan efeknya dalam proses penganugerahan hard ware (material gain) dan penganugerahan wilayah/dominion (power/leadership gain).  Hukum Syukur berbunyi :  siapa yang bersyukur atas nikmat karunia Ku, akan Aku tambah nikmat itu. Bila tidak bersyukur ingat azab Ku amat pedih`Dikatakan bahwa kita tidak mampu bersyukur kepada Nya sebagaimana Dia berhak disyukuri. Bagaimana Dia mencontohkan sikap bersyukur, Dia yang salah satu asma ul husna Nya adalah asy Syukur. Bila kita melakukan perbuatan baik dengan ikhlash lillahi ta’ala, maka dari satu butir amal itu akan ditumbuhkan tujuh bulir dan satu bulirnya mengeluarkan 100 butir biji.

Contoh praktisnya adalah kalau kita menanam padi dengan baik dan benar maka dari sebutir padi akan dihasilkan (oleh Allah) 700 butir padi, atau 25 kg gabah (untuk satu hektar sawah diperlukan bibit 25 kg gabah) akan menghasilkan 17,5 ton gabah. Bagaimana prestasi petani Indonesia secara rata rata nasional? Menurut Laporan FAO (Food and Agriculture Administration) dalam Tahun Padi Internasional 2003, produksi sawah rata rata hanyalah 2.5 ton per hektare per panen.

Jadi sebetulnya bagaimanakah sikap bersyukur itu? Selain mengucapkan al Hamdulillah, yang sesungguhnya inipun berat, makanya setiap mengucapkan hamdalah harus diikuti istighfar, namun masih mudah dilakukan. Yang sukar adalah kita harus mampu membuat karunia nikmat itu menjadi mashlahat buat diri kita DAN sekitar kita..Jadi begitu kita diberi mendapat secuil ilmu/petunjuk/pengetahuan, kalau itu bisa dimanfaatkan untuk mashlahat buat kita dan sekitar, itulah bersyukur.  Salah satu cara memanfaatkan ilmu adalah dengan mengajarkan ilmu itu kepada orang lain. Dan kalau itu kita lakukan, Allah menjamin bahwa ilmu kita itu akan bertambah (ditambahi Nya).

Bagaimana pula bersyukur dalam hal material gain? Selain mengucapkan alhamdulillah (diteruskan dengan dengan istighfar), lalu mengeluarkan zakat., lalu apa? Praktisnya ini memang lebih rumit dibanding dengan knowledge gain. Kita bisa mengeluarkan infaq atau mungkin equivalent dengan investasi. Lagi lagi ini harus dimulai dengan mencari knowledge tentang investasi, dst.

Selanjutnya setiap orang adalah pemimpin dengan wilayah yang berbeda beda. Dan memperluas domain tentunya lebih sukar lagi dibanding dengan kedua gain yang terdahulu, karena menyangkut knowledge gain dan material gain tersendiri.

Artinya yang penting dalam hidup ini adalah belajar bagaimana belajar (mencari ilmu bermanfaat)  yang benar dalam menjalani hidup kita ini. Bagaimana kita tahu ilmu yang kita miliki itu “benar”? Kita tidak tahu. Yang bisa kita lakukan hanyalah menimbang apakah bisa memberikan manfaat? Ini pun bisa menyesatkan. Karena manfaat itu sepenuhnya kewenangan Allah. Pernah mendengar kan ketika kita masih sekolah dulu mengerjakan soal, hasilnya benar, namun karena alasan yang tidak benar (the right answer for a wrong reason).

Maka penting peranan thawaf dalam mencari ilmu, dan disitulah letak terjadinya koreksi atas ilmu yang kita tangkap. Ada tiga tahap keyakinan dalam mempelajari ilmu : yakin karena ilmu, yakin karena melihat ilmu itu dilaksanakan, dan yakin karena kebenaran. Yang terakhir ini artinya ilmu itu telah memberi kebenaran kepada yang mempelajari nya, setelah diulang ulang, diulang ulang, dan diulang ulang. Untuk ilmu yang terkait dengan hal yang bersifat benda, tentunya lebih mudah melihat apakah hasil ulang ulangan itu bisa dianggap cocok atau tidak. Tergantung presisi yang dikehendaki, kadang kadang  2.5% ketidak cocokan sudah bisa diterima sebagai cocok.

Ilmu yang terkait dengan hal yang bersifat batin akan lebih sukar dilihat kofirmasinya, disampin komponennya sukar diukur, juga waktu terjadinya tidak bisa sesering seperti yang kita inginkan.

MENGAPA NABI S.A.W. SANGAT KHAWATIR TENTANG UMMATNYA?

Mungkin ini bisa dijadikan contoh kasus. Ya Surat Inshirah adalah jawaban Allah terhadap kekhawatiran Nabi s.a.w. terhadap ummatnya. Namun ketika hendak wafat, ketika ajal mau menjemput, beliau masih menggumam :ummati, ummati, ummati, dengan penuh khawatir karena cintanya kepada ummatnya itu. Padahal masih ditambah lagi dengan syafa’at berada di tangannya. Apakah ada Surat atau keterangan di Alqur’an yang membuatnya begitu khawatir, selain kenyataan tentang ego  yang jelas jelas bersekongkol dengan setan, dalam membuat manusia selalu mencari jalan singkat, jalan mudah, meskipun harus melanggar ketentuan Allah.Manusia sering tergiur dengan kenikmatan palsu, Kenikmatan yang seolah muncul, akibat merugikan orang lain, dan sekaligus merugikan diri sendiri.

Menurut saya makna yang sangat menakutkan adalah yang dimuat dalam Surat Wal Ashr, yang kira kira berarti :Sesungguhnya manusia merugi, kecuali mereka yang beriman, dan beramal shalih, dan mengajak kepada benar, dan mengajak kepada shabar.

Untuk memahami (belajar) tentang makna Surat Wal Ashr ini mungkin bisa digunakan analogi dalam dunia benda, yang dikuasai oleh Hukum Thermodinamika Kedua, yang berbunyi : sesungguhnya suatu sistem tertutup merugi ketika mengalami proses, kecuali jika prosesnya itu reversible. Kerugian dalam hukum ini ada ukurannya, dan disebut entropy. Entropy ini menunjukkan tingkat kekacauan : makin tinggi entropy, makin kacau keadaannya, Jadi setiap proses dalam sistem tertutup akan menaikkan entropy sistem itu, kecuali kalau prosesnya reversible. Bagaimana proses yang reversible itu? Itu adalah proses di mana sistem selalu kontak dengan sumber (source) maupun buangan (sink) yang tak terbatas (infinite).

Boleh jadi Hukum Thermodinamika Kedua ini dapat diturunkan dari Surat Wal Ashr itu. Dan kalau dilihat dari HT II itu, diterapkan pengertian amal shalih, maka amal shalih itu diartikan bahwa selama proses berkarya (amal) itu, yang bersangkutan hendaknya selalu menghubungkan dirinya dengan  Allahu Akbar. Nah ini kan hanya mudah disebut, namun sungguh sangat sukar dilaksanakannya. Apalagi kalau diingat tentang kepompong ego yang masih menyelimuti diri kita pada umumnya, artinya kekuatan batin (internal) kita masih lemah.

Kalau syarat nomer 1agar tidak merugi, yaitu beriman, ini mudah. Karena iman atau software adalah hadiah dari Allah. Syarat nomer 2 jelas sangat sulit. Bagaimana dengan syarat nomer 3, ….. dan mengajak kepada benar. Jelas ini lebih sulit dan rumit dibanding dengan syarat nomer 2, karena ini menyangkut pihak kedua. Dan syarat nomer 4 juga lebih sulit dan rumit dibanding dengan syarat nomer 3. Dan meskipun ke empat empat syarat itu dipenuhi, kita hanya mencapai situasi tidak merugi, artinya belum tentu untung. Karena untung atau kebaikan itu sepenuhnya adalah menjadi wewenang Allah.

Tentu saja jika demikian keadaannya, bisa difahami Nabi s.a.w. sangat prihatin dengan ummatnya.

Tambahan kesulitan lagi adalah kalau kita tidak bersyukur, akan ada hadiah yang pedih. Itu yang mungkin yang terjadi kepada saya. Tapi itu menjadi kisah yang berikut, jika Allah masih memberikan waktu kepada saya….

Ya Allah ampuni dosa dan kesalahan kami semua. Jangan biarkan kami pulang kepada Mu dalam keadaan bangkrut. Jadikan kami termasuk ummat Muhammad s.a.w. yang  beruntung di dunia dan beruntung di akhirat.

Demi kehormatan Kekasih. Al Fatiha.

Jakarta , 26 Mei 2010

Salam

Sutono

About kekji

i am nothing and will stay that way. i live only to serve Allah SWT
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s