SYUKUR DAN SHABAR

Allahuma shali ala Muhammad wa ala ali Muhammad wa salam.

Demi kehormatan Kekasih. Al Fatiha.

SYUKUR DAN SHABAR

Ketika melihat suaminya, Nabi s.a.w., banyak sekali melakukan shalat malam, sampai kakinya bengkak bengkak, Aisah (apa panggilan kehormatan untuk wanita equivalent dengan r.a.?) mengutarakan cintanya : ”Mengapa engkau  bersusah payah begitu sampai bengkak kaki mu? Bukankah Allah telah mengampuni dosamu?” Dan apa jawab Nabi s.a.w. ? “Tidak bolehkan saya bersyukur kepada Allah?” Jadi apakah itu : bersyukur?

Ketika kita memberikan sepotong baju kepada seseorang, kita tahu bahwa dia bersyukur (berterima kasih) sebab kita melihat dia memakai baju itu, disamping bilang “terima kasih” waktu baju itu dia terima.

Jadi bersyukur itu adalah keadaan seseorang yang merasa berterima kasih atas sesuatu yang telah diterimanya, lalu memanfa’atkan itu untuk mashlahat bagi diri dan sekitarnya. Dan sekitarnya itu adalah syarat mutlak. Kalau hanya baik untuk diri sendiri, ya bukan bersyukur namanya.

Dapat dikatakan bahwa Nabi s.a.w. sudah meninggal (wafat) sebelum ajal sampai, dari fakta bahwa beliau s.a.w. sudah bertemu dengan Allah, ketika mi’raj. Bertemu Allah adalah tujuan semua makhluq (khususnya manusia). Dan Nabi s.a.w. sudah mencapai tujuan itu. Maka ketika kembali lagi ke kehidupan di bumi, tidak ada lagi yang bisa dimohonkan untuk dirinya. Jadi memang beliau s.a.w. hanya memiliki satu pilihan : memohon untuk keselamatan dan mashlahat ummat beliau s.a.w. !!! Dan tentu saja dengan menunjukkan sikap bersyukur itu tadi (memohon untuk ummat), secara otomatis kebaikan itu kembali kepadanya juga, sesuai dengan janji Allah.

Orang yang kita beri baju tadi, di mana letak  kebaikannya ketika dia memakai baju yang kita berikan? Dengan memakai baju itu dan memperlihatkan kepada si pemberi, dia telah membuat senang hati si pemberi. Dan itu adalah kebaikan, yang score nya adalah untuk dia.

Jika kamju bersyukur atas ni’mat Ku, akan Aku tambahi lagi ni’mat itu.”

Ni’mat dalam hal ini adalah apapun yang dikaruniakan kepada kita, baik itu ilmu, kekayaan, maupun kuasa atas suatu domain, atau apapun yang seharusnya membuat kita bahagia.

Dan dengan kenyataan bahwa kita sudah menerima begitu banyaknya nikmat yang tak terhitung banyaknya, apakah kita masih mempunyai waktu lain untuk gosip atau hal hal remeh lainnya yang sungguh tidak berguna? Maka betullah “ma syakarna ka haqqa syukri ka ya masykur”. Kami tidak mampu bersyukur sebagaimana Engkau berhak disyukuri ya Maha Syukur.

Yang berikut ini sungguh menakutkan “Bila kamu kufur (atas ni’mat itu), maka ingatlah bahwa siksa Ku sungguh pedih”. Sudah kita ini tidak mampu bersyukur dengan begitu banyaknya nikmat, maka sedikit saja kita nampak menolak syukur itu, kitapun terancam dengan siksa yang pedih. “fa bi ayyi ala ‘i rabbikuma tukaddibani” maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kamu dustakan?

Jelas bahwa Hukum Syukur ini sangat berpengaruh dalam kehidupan kita.

“Mintalah dengan shalat dan shabar.” Jadi alat atau kendaraan kita untuk meminta seuatu adalah melalui shalat dan shabar. Shalat akan kita bahas kemdian. Tetapi apakah shabar itu ?

Dapat dikatan bahwa sikap shabar memiliki beberapa komponen, saya tidak tahu apa saja itu. Tapi komponen utamanya adalah berbaik sangka kepada Nya. Disamping itu, komponen lain adalah mampu membuat apapun yang sudah berada di  tangan untuk keluar dari kesulitan yang kita hadapi.

Nabi s.a.w. mengatakan bahwa sungguh senang orang beriman, kalau dia mendapat nkmat dia bersyukur, kalau dia mendapat musibah dia shabar. Umumnya kita semua cenderung memisahkan kedua kualitas ini : syukur dan shabar, sehingga kita tidak mendapat seluruh potentsi manfa’at atau kegunaannya. Perhatikan bagian kalimat yang digaris bawahi. Bukankah itu mengingatkan kita tentang “syukur”?

Dikatakan bahwa Allah bersama mereka yang shabar. Tidakkah kitapun kalau ada seseorang yang berbaik sangka kepada kita dan berusaha untuk memecahkan soalnya tanpa menyalahkan orang lain, kitapun akan mendukung dia?

Jadi sesungguhnya syukur dan shabar itu adalah dua sisi mata uang yang sama. Kita tidak mungkin bersyukur kalau tidak bershabar, dan tidak mungkn bershabar kalau tidak bersyukur. Jadi shabar bukanlah hanya sekedar mengalah saja, atau diam saja diperlakukan seenaknya oleh orang lain. Bukan itu shabar itu. Kita sering mendengar orang bilang :”Jangan membuat keshabaran saya habis.” Kalau shabar habis artinya syukur juga habis, maka celakalah kita. Allah tidak lagi bersama kita. Jadi janganlah sampai shabar kita habis. Itu harus tetap dihidupkan.

Jadi syukur dan shabar betul betul dua sifat yang sangat berpengaruh bagi kehidupan kita.

Ya Allah ampunkanlah kami semua. Jangan biarkan kami pulang kepada Mu dalam keadaan bangkrut ya Allah. Jadikanlah kami termasuk mereka yang beruntung di dunia dan beruntung di akhirat.

Demi kehormatan Habib. Al Fatiha.

Salam

Sutono

11 Juni 2010

About kekji

i am nothing and will stay that way. i live only to serve Allah SWT
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s