KEHIDUPAN SUAMI ISTERI

Allahuma shali ala Muhammad wa ala ali Muhammad wa salam

Bi hurmati habib. Al fatiha.

KEHIDUPAN SUAMI ISTERI

Ketika kita hadir di acara akad nikah, umumnya kita mendengar nasihat dan akan terdengan kalimat seperti berikut :”……….. sakinah mawaddah wa rahmah……..”. Beberapa waktu kemudian kita mendengar bahwa pasangan yang waktu itu kita saksikan akad nikahnya ternyata sudah bercerai.  Kenapa ya kiranya? Mungkinkah mereka salah mengerti dan mengira bahwa antara pasangan suami isteri itu bisa saling memberikan apa apa yang dimaksud dengan kalimat sakti itu tadi ( yaitu sakinah …dst.)? Apa yang harus diperbuat agar mendapatkan situasi yang dimaksud oleh kalimat sakti tersebut?

Sebetulnya kalau seseorang sudah siap dengan pelajaran cinta yang digelar sepanjang hidupnya, tidak perlu ada kata cerai itu. Cerai itu adalah keputusan buruk dari seorang (dua orang) yang sombong. Putuisan buruk itu sendiri sudah buruk, apalagi kalau dilakukan oleh orang yang sombong. Jadi ada dua keburukan. Mengapa saya katakan sombong. Jelas orang yang mau bercerai adalah orang yang tidak menghargai, tidak mensyukuri perjodohan yang ditetapkan Allah. Dalam setiap kali ada acara akad nikah, Allah selalu mengirimkan banyak sekali malaikat sebagai saksi. Untuk menghormati acara itu, yang oleh Allah sendiri disebut sebagai perjanjian yang berat. Janji oleh calon mempelai pria di depan calon ayah mertua, dihadapan begitu banyak saksi itu adalah satu dari 3 perjanjian berat yang disebutkan dalam al Qur’an.

Yang kedua adalah ketika Allah mengangkat Rasul Nya dan yang ketiga adalah ketika Allah mengancam bani Israil akan ditumplek Gunung Sinai di atas kepala mereka bila masih terus membangkang.

Sungguh sungguh putusan buruk kan, bercerai itu?

Maka untuk menghindarkan musibah seperti itu, hendaknya setiap calon pasangan, begitu merasa siap dan terasa adanya chemistry yang cocok antara keduanya, mereka harus segera menikah. Karena saat itulah yang terbaik untuk bisa menumbuhkan pohon cinta itu agar bisa langsung menembus Arsy. Ingat kan cinta jenis ketiga ini adalah cinta yang memerlukan pengorbanan. Syaratnya hanyalah satu. Selama 3 bulan (katakanlah masa honey moon), masing masing pasangan hendaknya memberikan apapun yang bisa dia berikan kepada pasangannya, tanpa mengharap apapun sebagai balasannya. Jadi kedua belah pihak pasangan pengantin baru ini, hanya boleh memberikan apapun yang bisa diberikan kepada pasngannya, dan tidak boleh meminta apapun dari pasangannya. Apapun yang diberikan pasangannya diterima dengan sukacita. Begitu juga memberikan apaun dilakukan dengan sukacita.

Rasa cinta seperti ini adalah benih “budak” (atau hamba) cinta, yang seperti benih jenis apapun lainnya, memiliki daya tumbuh paling besar (maksimal) pada awal awal pertumbuhannya.

Perhatikanlah contoh yang diperagakan Allah tentang cinta Nya (angka 1) kepada Muhammad s.a.w. (angka 0). Bahkan juga cinda Nya kepada seluruh makhluq Nya, yang telah diciptakan menggunakan kombinasi antara Nur Ilahi dan Nur Muhammad s.a.w.. Memang Dia menciptakan jin dan manusia tak lain agar mereka mengabdi kepada Nya. Dia tidak memerlukan apapun lainnya dari budak Nya itu Tetapi kalau makhluq Nya membangkang, mereka tidak serta merta dihukum atau diboikot atau dikurangi jatah (rezeki)nya. Tetap saja rezeki yang ditetapkan bagi mereka,  terus disalurkan.

Mengapa 3 bulan ? Kalau sudah lewat 3 bulan tanpa dirawat dan disirami, benih cinta itu mungkin akan pelan pelan mengerdil, dan sekarat, dan mati. Minimal itu adalah waktu untuk menumbuhkan sebuah kebiasaan baik. Manusia adalah juga makhluq kebiasaan, maka sebaiknya ditetapkan sebuah kebiasaan baik, sehingga menjadi sebuah tradisi. Karena kalau kita tidak mengambil sebuah kebiasaan baik, maka setan (melalui ego kita) akan mempengaruhi kita untuk mengambil sebuah kebiasaan yang buruk.

Kalau dalam waktu 3 bulan terus menerus masing masing pasangan dapat bersikap demikian karena Allah (li Allahi Ta’Ala), dan jangan lupa sambil terus secara estafet menumbuhkan sikap cinta (cinta budak  budak cinta) kepada Allah sebagai hamba Nya dengan melakukan ibadah rutin secara teratur, insya Allah Dia akan menumbuhkan pohon cinta itu, hingga sampai mencapai Arsy. Kalau itu sudah terjadi, kehidupan percintaan suami isteri itu sudah mencapai tahap sustainable. Pertengkaran besar atau kecil tidak akan menggoyahkan mereka. Karena mereka sudah menerima kondisi …sakinah mawaddah wa rahmah….langsung dari Allah, sebagai hadiah atas peragaan cinta pasangan itu kepada Nya. Cinta mereka menjadi nggak ade matinye, kate orang Jakarte.

Kami berdua memang tidak sempat mempraktekkan rumus ini pada awal hidup rumah tangga kami. Seperti sudah saya sampaikan di depan, kami kawin wakil (marriage by proxy), biasa disebut juga sebagai kawin keris. Jaman dulu seseorang yang tidak dapat menghadiri akad nikahnya, karena sedang bertugas di tempat lain atau oleh alasan apaun lain, biasanya meninggalkan keris pusaka keluarganya untuk mewakilinya. Jadilah situasi itu disebut kawin keris.

Disini saya teringat bagaimana kedua orang tua saya pada tahun 1966 itu berdua naik kereta api dari Surabaya ke Bandung, untuk melamar. Karena belum  pernah ke Bandung, orang tua saya minta dijemput. Maka petang itu dik Iin menjemput mereka ke stasiun Bandung. Bapak memang kreatif. Agar lebih cepat dikenali, maka bapak membawa foto saya ukuran R10 (?), dibingkai dan di bawa bawa di depan dadanya sehingga dik Iin bisa segera mengenali siapa yang dijemput. Begitu besar belanya kedua orang tua ku itu kepada saya. Baru terpikir oleh saya sekarang, amal shalih beliau beliau yang ini saja, rasanya cukup untuk diganjar janatul na’im. Kala itu bapak usia 68 tahun dan ibu 52 tahun, harus naik kereta seharian penuh, ke tempat yang belum pernah didatanginya, keliling keliling di peron sambil membawa bawa foto anaknya, dilihati orang orang dengan pandangan bagaimana gitu. Saya memang kelewatan…Nikmat tuhanmu yang bagaimana lagi yang engkau dustakan?

Tetapi saya sangat beruntung telah dijodohkan dengan seorang yang teguh pendiriannya dalam urusan ibadah ini, dan sangat shabar menghadapi pembangkangan saya, serta tidak jera jeranya meskipun harus selalu bertengkar dengan saya tentang hal ini. Saya doakan dik Iin ini, agar Allah langsung menempatkan dia ke dalam janatul na’im, tanpa dihisab lagi, bila perlu semua dosa nya langsung dilimpahkan saja kepada saya. Saya ikhlash.

Sesungguhnya apa sih yang menjadi awal dari bercerainya suami isteri? Kemungkinan besar pasangan ini belum memahami gelar pelajaran cinta dalam pertumbuhan mereka hingga dewasa. Kemudian tradisi budak cinta juga belum sempat terbentuk di antara mereka ini, sehinggga ketika musim bulan madu sudah lewat, lalu pasangan ini merasa bahwa mereka tidak mendapatkan dari pasangannya, hal yang mereka yakini adalah hak mereka, setan melalui ego mulai membisikkan masalah :”Apa yang saya bilang? Dia tidak betul betul mencintai kamu kan?!. Tidak seperti kami kami ini yang selalu setia meladeni kamu sejak kamu masih bayi dulu.” Begitulah, karena memang setan fungsinya adalah memecah belah hubungan antara suami isteri, urusan kecil saja sudah bisa menggelundung menjadi urusan besar (snow ball effects).

Meskipun kami tidak sempat mendapatkan nasihat perkawinan ketika kami dinikahkan dulu, karena kami kawin keris, namun kami menemukan keberuntungan lain. Suatu hari teman saya yang tahu rahasia gong itu, menghubungi lewat tilpun. “Pak Tono, ada yang mau bertemu anda. Kalau bisa sekarang saya jemput.” Karena memang tak ada program khusus hari itu, saya sanggupi untuk ikut dia.

Sebelum saya lanjutkan, perlu saya tambahkan dulu cerita teman saya ini sehubungan dengan gong. Beberapa hari setelah dia ke rumah dan melihat gong itu, dia menilpun saya :”Pak Tono, selama tiga malam berturut saya mimpi hal yang sama. Seorang yang sudah tua bersorban dan berjubah putih, jenggot putih panjang menemui saya sambil berkata :’Nyuwun tulung supados dipun aturaken ingkang kagungan kulo, supados panjenenganipun ziarah dateng sedaya leluhuripun, saking pihak ibu lan ramanipun, ngantos sak pinanggihipun. Saking sedoyo makam wau supados mundut kerikil lan diasto kondur dipun sebar ing dalem. Meniko apurih ngudari benang bundet (Minta tolong agar disam paikan kepada yang memiliki saya, agar dia ziarah ke semua makam leluhurnya , baik dari pihak ibu maupun ayahnya, sampai seluruh yang bisa diketemukan. Dari tiap makam supaya membawa kerikil, di bawa pulang untuk disebarkan di halaman rumah. Itu tadi adalah untuk mengurai benang kusut.

’Wah … kok tidak  langsung kepada saya saja ya? Saya baru ingat bahwa saya memang tidak dikaruniai kepekaan. Mungkin sudah dicoba berkali kali untuk menyampaikan pesan langsung kepada saya, tapi pesan tidak sampai. Hi hi hi. Setelah saya pikir mendalam, pesan itu bagus untuk dilaksanakan. Maka saya lakukan perjalanan ziarah itu, Pada sisi ibu, saya bisa mencari makam sampai ke 4 generasi di atas saya. Untuk mencari lebih ke atas, mungkin perlu menyediakan waktu yang lebih banyak. Tetapi ketika saya bertanya kepada bapak, di mana makam kakek, namanya Hajji Daud? Dia mulai menangis. Ternyata dia selama ini tidak pernah berpikir tentang kakek, apalagi tahu di mana makam nya.Terakhir kami bertemu kakek adalah tahun 1946, ketika kami mengungsi ke Banyuwangi dari Surabaya. Hajji Daud inilah yang memberi saya nama Sulaiman ketika lahir dulu.

Rupanya di sini benang saya mulai kusut. Ampunkan dosa kesalahan bapakku ya Allah. Maka sayapun bergegas ke Banyuwangi dan mencari di mana makam kakek, dan para leluhurnya. Syukur bibi, adik bungsu bapak, masih ada waktu itu dan bisa menunjukkan di mana makam kakek. Tetapi ternyata kakek bukan penduduk asli Dusun Derwono, Kecamatan Rogojampi situ. Dan tidak ada yang tahu dia datang dari mana. Minimal kusut antara kakek dan bapak, dapat ditandai, dan bisa mulai saya urai.

Kita masing masing ini adalah titik temu (titik balik, inverse point?) antara masa lalu (para leluhur kita) dan masa datang (para keturunan kita). Kalau bisa kita perlu meluruskan agar hubungan masa lalu dan masa datang yang melalui diri kita tidak kusut. Contohnya ya Nabi s.a.w. sendiri. Dengan mengetahui leluhurnya sampai ke 20 generasi di atasnya (namanya Adnan) dan mendoakan semua keturunan beliau s.a.w. (bahkan beliau s.a.w.minta agar kita semua ikut mendoakan keturunan Nabi s.a.w.), itu artinya Nabi s.a.w. merunutkan jalur itu secara teratur seperti sulurnya daun sirih.

Ya, saya ingat sekarang bahwa teman saya ketika melihat gong itu menjelaskan bahwa dalam tradisi (bukan ini istilah yang dipakai) seni wayang purwo Jawa, gong (besar) adalah yang pertama kali dipukul sebelum dimulai  suatu pagelaran, dan juga alat yang terakhir sekali dipukul setelah dalang menancapkan gunungan, sebagai tanda berakhirnya cerita. Artinya gong adalah awal dan akhir. Katanya saya beruntung diberi pelajaran lewat gong ini, dan Kiai Tujah Banteng itu ditaruh di situ dengan tugas menjaga keselamatan anda sekeluarga, sampai anda menamatkan pelajaran tentang gong ini.

Kembali ke ajakan teman saya tadi, maka kamipun berangkatlah ke Bogor. Tepatnya ke Kebun Raya Bogor. Di dalam situ kita menuju ke suatu tumpukan batu, antara lain berbentuk sapi namun tidak utuh. Rupanya di makan waktu. Nampaknya itu salah satu petilasan Prabu Silihwangi. Kami berada di situ beberapa waktu, sampai kemudian tercium bau wangi yang khas, yang belum pernah saya mencium yang seperti itu. Dan teman saya bertanya :”Pak Tono merasa apa?” “Ada bau wangi yang lewat sesaat.” “Baiklah, mari kita ke rumah orang tua saya di kota ini.”

Maka lamipun pergi ke rumah ibunya, tak jauh dari Kebun Raya Bogor. Setelah diperkenalkan dengan ibunya, kamipun pamit untuk menuju kamar  teman ini ketika masih tinggal di situ. Tidak luas hanya ada satu tempat tidur kecil, satu kursi, satu meja tulis. Rasanya ada juga satu lemari. Maka saya diminta duduk di tempat tidur dan dia seret kursi agar bisa duduk berhadapan dengan saya. Sebentar kemudian teman saya berbicara, namun suaranya berubah, tidak seperti biasanya.

Dia bilang :”Saya meminjam tubuh teman mu ini untuk berbicara kepada mu,” sambil dengan telunjuk tangan kanannya menunjuk dan menekan dahinya sendiri. “ Karena tidak siap menghadapi situasi yang saya hadapai, saya hanya diam saja dan menunggu apa yang akan disampaikan. Dia melanjutkan :”Saya menggunakan bahasa Indonesia agar kamu lebih memahami apa yang akan saya sampaikan ini. Saya adalah Prabu Silihwangi.”

Waduh, kaget juga saya mendengar perkenalan itu. Tapi saya tetap diam, menunggu apa yang dikatakan selanjutnya. Lanjutnya:”Saya adalah leluhur isteri kamu. Dan saya tahu kamu adalah keturunan Prabu Brawijaya. Saya tahu ketika kalian menikah tidak disertai upacara adat yang sepantasnya bagi keturunanku. Maka untuk menebus hal itu, sebagai penghormatan buat kamu, saya akan menyampaikan nasihat perkawinan.”

Kaget juga saya. Tentang kawin keris ini, saya tidak memberi tahu teman saya itu. Dan Prabu Silihwangi ? Prabu Brawijaya ? Dia melanjutkan dengan menyampaikan bagaimana hendaknya hubungan suami isteri itu dibina dan diselenggarakan, dan berkisar di sekitar konsep silih asah, silih asih, silih asuh dan silih wangi.. Tidak boleh saling merendahkan. Nasihat yang bagus sekali. Belakangan Prabu Silihwangi malah cur hat, mengeluhkan betapa masyarakat Sunda malah melupakan butir terpenting dari empat butir prinsip hubungan antara anggota masyarakat madani itu. Sebagai penutup dia minta agar saya menaruh sebokor (kuningan) bunga melati di kamar tidur kami. Esoknya masukkan melati itu ke dalam bak mandi, dan kami sekeluarga diminta mandi dari air bunga melati tadi. Dan ada pesan khusus bagi dik Iin. “Katakan kepada isterimu bahwa saya bilang:’Jangan melakukan perbuatan yang memalukan, kamu bukanlah orang sembarangan,’” Kalimat terakhir itu diucapkan dalam bahasa Sunda yang khas. (lain jalma joren joren)

Sayang saya tidak tahu sebelumnya bahwa begini acaranya. Kalau tahu tentunya bisa direkam dan mungkin  bisa dijadikan sebuah dialog, bukannya monolog begitu. Sekiranya saya memiliki latar belakang pendidikan atau dunia pesantren, maka yang saya alami ini tentu menjadi beban berat buat saya. Dan sayapun tidak memiliki kepekaan spiritual, maka apapun yang terjadi pada saya akan saya usahakan untuk menariknya ke level yang saya mengerti. Dan saya menganggap bahwa ini adalah kelanjutan dari isyarat lewat gong tentang mengurai benang kusut. Apa ini artinya benang mulai terurai dan dapat ditelusuri? Beberapa tahun kemudian baru kami tahu bahwa memang saya keturunan Brawijaya lewat ibu, dan dik Iin keturunan Silihwangi lewat ayahnya.

Rupanya Prabu Silihwangi mau bertemu saya, selain untuk memberi nasihat perkawinan, juga untuk memberi ilmu/pelajaran tentang pentingnya sikap silih wangi. Kata teman saya ada tiga tokoh lagi yang mau memberi pelajaran kepada saya : Jaya Perkasa dari Sumedang, Sunan Geseng Penangkap Petir dari Banyumas dan Sultan Agung dari Yogyakarta. Tetapi beberapa tahun kemudian, setelah teman saya tadi pergi hajji, dia bilang nampaknya undangan untuk bertemu dengan mereka itu sudah hilang. No further explanation, gtanpa penjelasan. Mungkin saya sudah dianggap mengerti, atau mungkin saya dianggap tidak cukup bersungguh sungguh.

Kita semua telah diberi contoh terbaik, berwujud di dalam diri Nabi Muhammad s.a.w.. Tidak dapat disangkal lagi bahwa kita perlu belajar dari kehidupan beliau. Tetapi bahan pelajaran juga terdapat di dalam diri kita masing masing. Justru lebih mudah belajar dari kesalahan kita atau kesalahan orang lain. Kita tidak dapat belajar dari kesalahan Nabi s.a.w., justru karena beliau s.a.w. tidak melakukan kesalahan. Belajar dari orang yang sangat pandai tidak berarti mudah. Saya pernah punya pengalaman ketika belajar di University of Minnesota. Guru saya Prof. E.R.G.Eckert, adalah salah satu dari beberapa ilmuwan Yahudi yang  hijrah dari Jerman ke USA. Dan rombongan inilah yang membantu USA mematangkan pembuatan bom nuklir, yang membuat USA dan sekutunya memenangkan Perang Dunia II. Prof.Eckert itu begitu pandai, sehingga menyenangkan mendengarkan dia mengajar.

Begitu berkesannya semua murid yang pernah mengambil pelajaran Heat Transfer dari dia, sehingga ketika dia menyampaikan bahan pelajaran terakhirnya setiap akhir semester, selalu dilakukan di ruang aula yang besar. Mengapa? Karena semua muridnya yang sudah lulus bahkan sudah menjadi professor di tempat lain, akan hadir dalam kelas istimewa itu, hanya ingin mendengarkan dia menyampaikan pelajaran penutupnya. Ketika mendengar dia menyampaikan bahan pelajaran, rasanya kami mengerti betul apa yang disampaikan. Tetapi begitu kelas usai, lalu dia memberikan PR, dia hanya berkata:”Coba tuliskan dalam bahasa kamu sendiri apa apa yang barusan saya sampaikan, untuk diserahkan pada waktu pertemuan berikutnya berikutnya (lusa). “ Dan itu sulit bukan main. Kerja sama antara muridpun tidak membuatnya lebih mudah untuk mengerjakan PR, yang nampaknya mudah itu.

Pasangan suami isteri ini bukan satu satu nya pasangan yang dibahas al Qur’an. Dalam ayat 36 Surat 36 atau Surat Yasin, disebutkan bahwa segala sesuatu di semesta ini memerlukan pasangan, dalam arti pasangan adalah sesuatu yang melengkapi sesuatu lainnya agar secara utuh mereka dapat berfungsi sesuai dengan maksud mereka diciptakan. Dalam hal nya pasangan suami isteri, apa fungsi mereka? Yaitu tadi memperagakan pohon cinta agar bisa tumbuh penyentuh Arsy.

Fungsi kedua (kalau bisa) agar mereka bisa menurunkan penerusnya sebagai Khalifah Allah di Bumi ini.

Fungsi ketiga agar mereka bisa memperagakan suatu lingkungan hidup yang akan memungkin kan tumbuhnya anak manusia agar menjadi penerus tradis – baik masyarakat disitu (sekiranya pasangan itu tidak dikaruniai turunan, fungsi ini sebaiknya tetap dihidupkan).

Jadi tanpa pasangan, fungsi fungsi yang disebut tadi tidak bisa diselenggarakan. Dan al Qur’an menyebutkan tentang isteri lebih dari satu. Boleh jadi si lelaki akan berfungsi tepat dengan isteri lebih dari satu.

Yang perlu diperhatikan adalah yang namanya pasangan itu tidak harus berarti selalu cocok atau berpikiran sama. Masyarakat Sunda memiliki ungkapan yang khas dan sebuah contoh interpretasi yang baik terhadap Surat Wal Ashr : silih asah, silih asih, silih asuh dan silih wangi. Dalam silih asah atau saling menajamkan inilah perbedaan atau bahkan pertengakaran kecil atau besar itu akan muncul. Saling mengasihi, jelas tidak perlu diuraikan. Saling mengasuh atau ngemong juga jelas. Saling memanjakan. Terakhir saling mewangikan, ini yang sangat penting tapi jarang disadari, apalagi diterapkan.

Banyak sekali contoh di alam di mana pasangan justru berlawanan sifat. Kutub Utara dan Kutub Selatan jelas berbeda, bahkan berlawanan kelakuannya. Namun tanpa adanya kedua kutub yang berlawanan itu, kita tidak akan mendiami bumi yang memiliki iklim yang menyenangkan.

Dan dalam hidup kita sehari hari, tugas kita adalah mencari jodohnya soal. Suatu soal terjadi, jika suatu sistem kehilangan salah satu pasangannya. Akibatnya dia tidak dapat berfungsi seperti yang dimaksudkan semula. Dan yang namanya pasangan itu tidak diukur pula dari ukurannya. Sebuah titik kecil, yang terlepas dari sebuah lingkaran yang besar, akan menyebabkan lingkaran itu bukan lagi sebuah lingkaran yang utuh. Dia terputus.

Ya Allah ampunkan kami semua. Jangan biarkan kami kembali kepada Mu dalam keadaan bangkrut, ya Allah. Jadikanlah kami termasuk dalam kelompok mereka yang beruntung di Dunia dan beruntung di Akhirat.

Bi hurmati habib, al fatiha.

31 Mei 2010

Salam

sutono

About kekji

i am nothing and will stay that way. i live only to serve Allah SWT
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s