MEMBESARKAN ANAK

Allahuma shali al Muhammad wa ala ali Muhammad wa salam

Demi kehormatan Kekasih. Al Fatiha.

MEMBESARKAN ANAK

Pernah dengar kan seorang ibu berbicara tentang anaknya :”Saya paling tahu tentang dia. Saya yang mengandung dia sembilan bulan sepuluh hari.” Sebetulnya itu tidak cukup untuk mengetahui tentang seseorang. Sedang tentang diri kita saja pada umumnya kita tidak tahu. Setiap kita sesungguhnya memiliki tujuh nama. Satu nama yang diberikan oleh orang tua kita. Boleh saja nama yang diberikan kepada kita terdisi atas beberapa kata atau suku kata. Itu semua tetap dihitung sebagai satu nama. Enam nama yang lain diberikan oleh Allah, ketika kita masih di alam ruh. Dan enam nama itu berkaitan dengan tugas kita di dunia ini. Ketika kita mengenali diri (nama) kita, maka kita mengenali Allah. Sebetulnya kita wajib mengenal enam nama kita yang lain itu, namun karena itu memerlukan pelatihan ketat dan tradisi kedekatan dengan Allah, maka kewajiban itu tidak kita kenal lagi, bersamaan dengan hilangnya tradisi tersebut. Teman saya (pengamat gong) termasuk manusia beruntung, karena dikaruniai kepekaan untuk mengenali satu nama langit seorang bayi yang baru lahir, bila dalam waktu kurang dari 40 hari usia bayi, dia berkesempatan memegang bayi itu.

Berbicara tentang nama, ketika lahir orang tua saya memberi saya nama Sutono (dalam akta lahir ditulis Soetono ejaan lama). Setelah lulus ITB, saya disekolahkan ke USA oleh ITB. Disana semua orang wajib punya nama keluarga. Saya mengadopsi nama Bapak, Saimun Joyosuparto, saya ambil Joyosuparto nya, menjadi Sutono Joyosuparto. Tetapi sebetulnya ketika lahir itu, Kakek Hajji Daud, dari pihak Bapak, memberi saya nama Sulaiman. Tetapi nama ini tidak dibiasakan. Waktu tahun 80 an, saya sering bepergian bersama pak Mustofa Mas’ud Haqqani. Antara lain berkunjung ke rumah mbah Jamil di Pemalang (waktu itu sudah di atas 70 tahun usianya). Dikatakan bahwa beliau ini adalah seorang Wali. Pada hari Selasa ketiga setiap bulan (atau setiap Selasa, saya lupa) beliau selalu membahas Kitab Ihya Ulumuddin, Imam Ghazali. Yang hadir kiai kiai sepuh di sekitar Pemalang situ. Sudah 25 tahun acara ini diselenggarakan. Pada suatu Selasa, pak Mustofa mengajak saya hadir dalam acara itu.

Rumahnya dinding anyaman bambu, lantai tanah. Beliau duduk di balai balai bambu, hadirin duduk di tanah beralas tikar. Sebelum duduk, pak Mustofa memperkenalkan saya dulu, maka saya maju dan bersalaman dengan beliau. Saya sebut kan nama saya :”Sutono.” Beliau berkata :”Oo Sulton.” Pak Mustofa maju dan mendekat ke telinga beliau sambil mengulang nama saya :”Sutono mbah” Tetapi mbah Jamil tetap berkata :”Namanya memang Sulton.” Ketika mau mengambil tempat di lantai, beliau menggapai dan meminta kami, Pak Mustofa dan saya, untuk duduk di samping beliau. Saya di kirinya, pak Mustofa di kanannya. Maka dimulailah pengajian itu dengan hadirin diminta oleh beliau membaca Kitab yang dibahas itu. Diurut barisan pertama yang duduk di lantai, mulai dari sebelah kanan beliau. Saya sudah sangat ketakutan. Setelah sampai diujung kiri baris pertama, beliau menoleh ke saya sebentar, tapi kemudian menyuruh pak Mustofa melanjutkan membaca kitab itu. Rupany beliau tahu saya tidak membaca huruf Arab, gundul lagi. Huh leganya. Keringat bercucuran, mungkin juga karena cuaca panas saat itu. Setelah dibaca, apa apa yang dibaca, dibahas mbah Jamil. Habis itu semua hadirin dijamu nasi gulai kambing yang lezat sekali. Puteranya yang hadir dalam acara seperti itu untuk membantu (ngladeni) agar tamu nyaman, juga tidak tahu mbah Jamil dapat uang dari mana kok bisa menjamu nasi gulai setiap kali ada pengajian yang dihadiri puluhan orang itu.

Ada cerita unik tentang mbah Jamil ini. Seorang Habaib (keturunan Nabi s.a.w.) yang tinggal di Jakarta, suatu malam bermimpi didatangi Nabi s.a.w. hanya untuk mengatakan beliau mengirim salam buat kiai Jamil. Mimpi itu bukan hanya sekali, tetapi tiga kali berturut. Artinya Nabi s.a.w. sangat serious. Waktu masih sekali atau dua kali, ya dia bertanya tanya saja dalam hati siapa kiai Jamil ini. Tetapi setelah tiga kali, diapun takut sekali dan bertekad mencari dan menemui kiai Jamil ini. Tentunya yang dikirimi salam oleh Nabi s.a.w. bukanlah orang biasa, tetapi nama Jamil tidaklah tersohor. Maka dia memutuskan untuk menelusuri Pantura, yang terkenal banyak dihuni para wali. Dia mengendarai sendiri mobilnya. Dan mobil inilah yang menuntun sehingga dia bisa sampai ke rumah mbah Jamil. Setiap kali dia mengarahkan atau berniat membelok ke arah yang akan menjauhkannya dari tujuan, mobil itu pasti mogok. Setelah bertemu mereka berangkulan dan menangis bahagia, sang Habib menangis karena berhasil menyampaikan amanah dari Leluhurnya s.a.w. itu, dan mbak Jamil menangis bahagia karena mendapat salam orang yang paling dicintainya.

Kemudian dalam tahun 1997 MSH datang ke Jakarta. Ketika beliau menandatangani bukunya Naqshbandi Sufi Way, beliau menulis nama saya sebagai Sultano. Ketika tahun 2000 saya mengikuti MSN berkeliling ke seantero Uzbekistan untuk berziarah ke makam para Mursyid Naqshbandi di negeri itu. Suatu hari sampailah di makam (nah ini kesalahan saya lagi, tak membawa catatan), yang tinggi sekitar 125 cm dari muka tanah. Sesampai di situ MSN langsung melompat setinggi itu untuk mendekat ke pusara, diikuti oleh MSH!!! Bukan main untuk sesepuh itu masih trengginas (terampil) begitu. Karena para murid yang lain tetap menunggu di bawah pada sisi yang panjang dari makam, maka untuk bisa melihat lebih jelas, saya bergeser ke bagian kaki pusara, yang masih kosong. Sesaat kemudian MSN menoleh ke arah saya sambil melambaikan tangannya dan menyeru :”Bukhori, Bukhori.” Karena di situ tidak ada yang lain, saya anggap sayalah yang dipanggil. Maka sayapun naik dan mendekat dan bersimpuh di tempat yang ditunjuk. Beliau kemudian meneruskan berdoa dengan mengangkat kedua tangannya. Apakah itu artinya saya diberi nama Bukhori oleh MSN? Saya tidak tahu.

Dan ketika tahun lalu saya pergi umrah, pemerintah Arab Saudi menerapkan aturan baru bahwa visa hanya dikeluarkan untuk mereka yang namanya terdiri dari tiga kata. Terpaksa saya membongkar file lama untuk menunjukkan dokumen (geboorte akte) bahwa nama bapak saya adalah Saimun Joyosuparto, sehingga secara resmi dalam passport baru nama saya adalah Sutono Saimun Joyosuparto. Sekiranya ada dokumen pendukungnya, mungkin saya lebih memilih memakai nama Sutono Sulthan Sulaiman atau 3S sama dengan nama merk kacang kulit di Surabaya jaman dulu (tahun 50 an). Ada ada saja.

Kita lanjutkan ……

Tetapi yang sangat membuat kita semua harus khawatir adalah kenyataan bahwa jaman jahiliyyah kedua ini memang lebih buruk dari jaman jahiliyyah pertama sebelum datangnya Islam dulu. Dan itu antara lain adalah hilangnya wibawa seorang ayah di rumah kebanyakan anggota masyarakat masa kini.

Padahal kewajiban seorang kepala keluarga antara lain memperkenalkan sikap sami’na wa ‘atho’na (mendengar dan patuhi) kepada anak anaknya. Yang mengambil alih wibawa di rumah tangga masa kini adalah pesawat televisi atau Face Book atau Play Stations. Dan anak anak kita sudah diracuni lewat makanan dengan bahan pengawet, yang sudah diperkenalkan kepada mereka sejak masih balita. Dan kita tahu kan bahwa Nabi s.a.w. mengatakan :”Aku menjamin surga mu, jika kalian menjamin apa apa yang lewat di antara kedua rahang dan kedua paha kalian.” Dan bahwa sumber penyakit adalah perut kita.

Keadaan ini (produksi dan distribusi makanan) adalah akibat langsung dari sistem ekonomi yang didominasi konsep iblis, dengan alasan bahwa produksi massal adalah supaya produk akhir murah dan terjangkau masyarakat, padahal yang sesungguhnya dikejar kan monopoli dengan keuntungan tertinggi, dan modal yang berputar putar di satu tangan. Ciri khas sifat iblis.

Dengan latar belakang informasi seperti ini apakah kita masih bisa mengatakan bahwa kitalah yang membesarkan anak anak kita? Hanya Allah yang membesarkan anak anak kita dan juga membesarkan kita semua.

Jadi karena anak adalah titipan Allah kepada kita, maka kita harus memperlakukan mereka dengan penuh hormat dan cinta (full respect and love). Tetapi jangan pula kita memanjakan mereka, seperti halnya Allah juga tidak memanjakan kita. Dan kalau kita menghadapi kesulitan dalam membesarkan anak, pertama tama yang harus kita lakukan adalah bertanya langsung kepada Allah, bagaimana petunjuk yang tepat. Disamping bertanya kepada psikolog. Karena bertanya kepada Allah memerlukan pelatihan yang panjang, di samping kita belum tentu dikaruniai kepekaan yang cukup untuk bisa menerima langsung petunjuk itu. Seperti saya inilah, sama sekali tidak peka.

Dan yang tidak boleh  (no no no) dilakukan adalah janganlah memberi kesempatan kepada anak kita untuk memilih atau mengambil pihak (memihak) ayah atau ibu. Contohnya janganlah bertanya : ”Apakah kamu lebih sayang kepada ibu atau kepada ayah?” Dan kalau ayah dan ibu bertengkar atau berbeda pendapat secara hebat, jangan dilakukan di hadapan anak anak. Dan jangan sampai putusan terhadap anak yang berbeda antara ibu dan ayah, sampai tercium oleh anak. Contohnya : ayah melarang anak pergi, tetapi ibu mendukung. No no no. Bila hal ini terjadi, itu akan mengundang masuknya setan ke dalam keluarga kita, yang selanjutnya akan memecah belah keluarga kita. Memang itulah tugasnya.

Dan harus dilatih sejak kecil prinsip belajar mengajar cara Nabi s.a.w., mendengar dan patuh, dan belajar sambil melaksanakan. Dan memahami bahwa practice makes perfect, bahwa kita harus thawaf, harus mengulang ulang. Karena proses mengulang itulah letak bukti bahwa kita bersyukur. Kalau si anak sudah punya adik, harus mulai diperkenalkan dengan proses belajar mengajar ini, dengan menyuruhnya mengajari adiknya hal hal yang sudah dia ketahui.

Pernah dengar kan Nabi s.a.w. bilang :”Sampaikan meskipun hanya (tahu) satu ayat.” Memperhatikan apa yang sudah saya sampaikan tentang belajar mengajar cara Nabi s.a.w., apa ya kira kira maksud kalimat itu? Saya menangkapnya sebagai isyarat bahwa proses belajar megajar itu menjadi sangat efektif, jika dilakukan antara yang baru saja mendapat ilmu dengan yang belum mendapat. Karena bila situasinya demikian, sang “abang” bisa menjadi lebih kreatif, karena baru saja mengalami “tekanan” yag sama ketika tadi dalam posisi belajar. Jadi dalam Islam, mengajar bukanlah sebuah profesi untuk mendapatkan rezeki bagi penghidupan. Rezeki hendaknya diusahakan dari “karya tangan” yang dihasilkan, atau jasa pengadaan “karya tangan”, yang didatangkan. Inilah profesi Nabi s.a.w. sebelum full time menjadi Nabi s.a.w., yaitu menjadi pedagang.

Di kelas seorang guru hanya berfungsi sebagai pembimbing. Proses belajar mengajar diselenggarakan di antara para peserta didik. Ini adalah cara yang ideal. Namun bukan inilah yang terjadi kini dalam dunia pendidikan. Anak didik dijejali dengan banyak sekali bahan kurikulum, dan guru yang berdiri di depan kelas merasa bahwa dialah sumber ilmu. Maka kreatifitas anak didik sangat terbatasi, dan biaya pendidikan juga menjadi sangat mahal. Dan para guru berlomba untuk memberikan kelas tambahan, dengan dana tambahan juga tentunya ditarik dari para orang tua. Setelah anak didik lulus belum tentu bisa mendapat pekerjaan. Maka diciptakan berbagai kursus ketrampilan yang diperkirakan akan memudahkan seseorang bisa mendapatkan pekerjaan. Dan biayanya juga mahal. Itupun tidak menjamin seseorang bisa bekerja sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Harus keluar uang lagi untuk mengisi lowongan. Benar benar jaman jahiliyyah kedua ini lebih kejam dari yang pertama dulu kan?

Kalau anak kita sudah mulai bersekolah, jelaskan posisi seperti diuraikan di atas tadi. Jangan pandangan mereka terhenti pada guru yang berdiri di depan kelas. Guru bukanlah sumber ilmu. Dia harus dibiasakan untuk melihat beyond guru, lebih jauh dari guru, langsung kepada Sang Pemilik Ilmu.

Dan jangan mencoba untuk merubah anak kita. Maksud saya kalau bakatnya atau potensi tertingginya A, jangan dirubah menjadi B. Bicara tentang produk buatan manusia, dikenal produk cacat. Tetapi bicara tentang ciptaan Allah tidak dikenal makhluq cacat. Kalaupun “terlihat” cacat, itu bukanlah karena Allah tidak mampu membuat yang lebih baik. Itu adalah sebuah kesengajaan, agar kita belajar. Kita tetap harus menghormati dan mencintainya.

Kita perlu menggali potensi yang dimiliki anak kita. Kelemahan seseorang justru bisa menjadi  kekuatannya. Pernah dengar tentang pelukis handal yang tidak memiliki lengan sama sekali? Sebaliknya kekuatan seseorang atau suatu kaum bisa menjadi kelemahannya. Komunis Russia yang merasa begitu kuat sistemnya, sehingga percaya diri untuk meng-ekspor sistemnya itu ke mana mana. Tetapi dalam waktu 70 tahun ternyata sistem itu roboh sendirinya dari dalam.

Setiap kita, setiap anak, memiliki ciri khas nya masing masing. Jadi membesarkan anak adalah satu kesempatan untuk mempraktekkan sistem “belajar sambil mengerjakan” (learning by doing). Dan itu artinya jangan lah terlalu melindunginya. Berilah dia jarak untuk tumbuh menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Kan memang yang membesarkan dia adalah Allah sendiri. Dalam hal ini benar sikap Ki Hajar Dewantoro tentang  “Tut wuri handayani”. Berada di belakang sambil memberinya daya atau dukungan. Jadi berbeda dengan menuntun. Orang yang menuntun berada di depan. Tut wuri handayani, pembimbing berada di belakang.

Biasanya orang tua sangat khawatir tentang pola makan anak balita mereka. Anak tidak suka makan. (Catatan : Ketika saya menulis sampai di sini MSN memberikan sohbet berkisar pada Surat QS 2:148 dan QS 17:84 dan sebelum itu QS 6:38 dan hadits yang berarti sbb : Kitab Allah: di dalamnya ada kisah apa-apa yang telah berlalu sebelum kalian, dan berita tentang apa-apa yang akan terjadi setelah kalian. “ Bahagianya saya, seakan mendapat dukungan.) Mungkin prinsip cara makan Nabi s.a.w. sebaiknya mulai diterapkan sedini mungkin, yaitu : tidak makan sebelum lapar, berhenti makan sebelum kenyang. Dan hendaknya komposisi asupan (in feed) padat : cair : kosong (mewakili simbol udara) adalah 33:33:34. Artinya perut jangan dijejali sampai kepenuhan. Dari kapasitas perut 100% isilah 1/3 dengan makanan padat, 1/3 dengan cairan dan sisanya biarkan kosong. Disini juga bisa kita gunakan analisa analogi, padat adalah penggunaan waktu untuk mengejar kebutuhan hidup, cair adalah penggunaan waktu untuk menambah ilmu dan bersama keluarga dan relaksasi, kosong atau udara adalah penggunaan waktu untuk ibadah. Karena sebaik baik kita adalah yang hidupnya seimbang. Karena Nabi s.a.w. menghendaki kita menjadi orang tengah, bukan kelompok ekstrim, dunia thok atau langit thok. Kita bisa menjalankan yang dimaksud oleh Surat wal Asyri kalau kita adalah orang tengah.

Kalau anak nampak kurang suka makan, harus mempertimbangkan bahwa dia itu sedang berkembang, sedang tumbuh. Mungkin tubuhnya belum bisa segera mendapatkan keseimbangan fungsi organnya. Dan ini mungkin saja mempengaruhi nafsu makannya. Hendaknya kita yakini bahwa sedikit lapar jauh lebih baik dari pada kekenyangan. Kalau fungsi organnya sudah mencapai seimbang dan bisa merasakan lapar, pasti otaknya memerintahkan dia untuk menambah asupan (in feed). Dan orang tua (khususnya ibu) hendaknya memberi contoh untuk mengambil atau makan berbagai jenis makanan yang halal dan thoyib secara lengkap : protein hewan, protein nabati, kacang kacangan, karbo, dan dedaunan. Perlu latihan.Thawaf. Diulang ulang.

Perlu memperkenalkan sedini mungkin cara memahami sesuatu menggunakan analogi kepada anak anak kita. Mulai dari yang paling sederhana. Dan perlu untuk mulai memperkenalkan Hukum Allah yang paling berpengaruh dalam kehidupan kita, yaitu Syukur dan Shabar, yang akan menjadi judul berikutnya.

Ampunkan dosa kami semua ya Allah. Jangan biarkan kami kembali kepada Mu dalam keadaan bangkrut ya Allah. Jadikan kami semua ke dalam golongan mereka yang beruntung di dunia dan di akhirat.

Demi kehormatan Kekasih. Al Fatiha.

Salam

Sutono

8 Juni 2010

About kekji

i am nothing and will stay that way. i live only to serve Allah SWT
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s