EGO 2 (koreksi dan tambahan)

Demi kehormatan kekasih Mu. Al Fatiha.

PERANAN UWAISI UWAISI

Tak mengherankan bila Nabi s.a.w. lebih banyak menangis  dibanding tertawa. Kesukaran bertambah dalam halnya syarat syukur adalah karena bukan hanya sekedar memanfaatkan apa yang kita miliki untuk mashlahat diri dan sekitar, tetapi upaya itu harus maksimal. Artinya kalau kita mampu mengangkat 20 kg, ya itu yang kita manfaatkan, bukan hanya mengangkat kurang dari itu. Ini yang namanya ihsan, the best that we can do. Artinya kita menjalani hidup ini hendaknya siap menjalani jalan yang selalu mendaki, bukan berharap jalan akan datar datar saja, sehingga santai santai saja lah.

Jadi semua faktor inilah, bahwa kita ummat Muhammad s.a.w. adalah para calon bangkrut ketika pulang ke Kampung Akhirat lah, yang menjadi beban pikiran Nabi s.a.w.yang sangat mencintai ummatnya itu.  Dan syafa’at Nabi s.a.w. kalau saya tidak salah, hanyalah menghilangkan score negatif itu, sehingga Allah mengampuni kita dan tidak langsung dilempar ke api.

Tapi itu dulu. Rupanya kekhawatiran Nabi s.a.w. dijawab Allah dengan solusi yang disimbolkan dengan penyerahan jubah Nabi s.a.w., jubah yang masih basah oleh keringat beliau menjelang ajal menjemput, kepada Sayyidina Uwaisi ini. Itu mengisyaratkan bahwa pembimbingan spitiritual kepada ummat Nabi Muhammad s.a.w. diserahkan kepada orang seperti Sayyidina Uwaisi, yang atas ijin Allah sudah bisa melepaskan egonya, sehingga mampu melihat Nabi s.a.w. dalam bentuk spiritualnya itu, dan dengan begitu juga mampu mengakses BQ, atas ijin Allah. Maka oleh kelompok tertentu, peristiwa ini dipelihara hingga sampai kepada kita sekarang.

Dan jumlah orang seperti itu adalah 124,000 orang setiap saat. Artinya kalau seorang seperti itu meninggal, akan ada gantinya yang lain lagi. Angka ini sama dengan jumlah Nabi dan Rasul yang ada, dari sejak awal hingga kepada yang terakhir,  Nabi Muhammad s.a.w. sebagai Nabi Penutup.

Jadi tugas itu tidak diserahkan kepada Pemimpin Formal, yang fungsi utamanya adalah mengatur kehidupan manusia dari sisi duniawinya.

Yan menarik adalah bahwa angka 124,000 itu dekat dengan angka 133,000. Apalagi kalau kita tambahkan 7,007 orang shaykh Naqshbandi, yang akan menjadi anggota pasukan utama Imam Mahdi a.s. Angka 133,000 itu muncul dalam dunia aqupuncture, sebagai jumlah titik/simpul dalam tubuh manusia, yang berperan dalam kesehatan jasmaninya. Angka itu muncul dalam buku kuno para biksu di India sekitar 5,000 tahun lalu, yang membawa ilmu aqupuncture ini ke Cina, dan berkembang lah lebih pesat disana. Maka orang sekarang lebih mengenal ilmu aqupunture itu sebagai ilmu dari Cina. Apakah hal ini terkait dengan ungkapan Nabi s.a.w. bahwa orang yang mencari ilmu itu harus berani berjalan jauh, kalau perlu sampai ke Cina?

Jadi di dalam tubuh kita, selain terdapat jaringan saluran darah dan jaringan syaraf, terdapat juga jaringan titik aqupuncture. Karena tubuh manusia terdiri dari komponen kimiawi dan komponen energi, maka pemeliharaan kesehatan tubuh juga dapat dilakukan melalui pendekatan energi selain pendekatan kimiawi. Meskipun angka 133,000 didapat dari kitab kuno, namun tidak ada catatan tentang orang yang mampu mengetahui dan menggunakan keseluruhan titik itu. Pada umumnya dari catatan yang ada, seorang tabib yang memiliki pengetahuan sekitar 700, itu sudah cukup untuk memelihara kesehatan peduduk sebuah desa. Paman saya almarhum mengetahui 13,000 titik titik itu dan dengan begitu dapat menyembuh kan  penderita flue berat dengan hidung terbanjiri ingus, hanya dengan 2 batang jarum dalam waktu setengah jam. Saya adalah pasien itu.

Dengan analogi dapat dimengerti bila terdapat juga jaringan titik spiritual yang ditempati oleh perwakilan spiritual 124,000 Uwaisi Uwaisi. Di Islam ada juga pembahasan tentang adanya tempat tertentu di tubuh kita, sebagai lokasi para Nabi dan shahabat.Karena mereka ini secara bersama bertugas melindungi ummat Muhammad dari jebakan setan, boleh jadi mereka pun memiliki tempat tertentu di tubuh kit. Kalau secara alamiah itu tidak ada, saya merasa ada alasan untuk memohon agar Allah memperkenankan pengaturan seperti itu.

Apapun yang bisa kita pikirkan, tentu Allah bisa pikirkan pula, bahkan jauh lebih baik dan bisa dilaksanakan kehendak (pikiran) Nya itu. Ketika saat shalat fardhu, Nabi s.a.w. selalu berjamaah. Tetapi untuk shalat sunnat, lebih sering dilakukan di rumah, tidak berjamaah. Itu yang sampai kepada saya. Alasan Nabi s.a.w. agar tidak memberatkan ummatnya dan menjadikan sunnat sunnat nya itu menjadi wajib. Mengingat bentuk kalimat dalam surat al Fatiha adalah bentuk kalimat jamak, sesungguhnya surat itu bukan untuk digunakan secara tunggal. Dan Nabi s.a.w. tidak pernah berbohong, apa lagi tentang shalat kepada Allah S.W.T. Jadi ketika beliau melaksanakan shalat shalat sunnat itu sendirian, dengan siapakah beliau berjama’ah? Apakah tidak mungkin dengan para Uwaisi yang 124,000 orang itu. Kalau pada masa itu beliau memperkenalkan konsep world wide webbing, apakah akan mudah dicerna oleh ummatnya, yang dengan ajarannya yang “normal” saja sudah sangat “modern” dan rumit bagi jamannya itu? Jadi bila kita berdoa kini agar diperbolehkan shalat berjamaah dengan para Uwaisi itu guna meningkatkan efektifitas dan daya guna shalat kita dalam mendekat kepada Allah dan menjauh dari bisikan setan, apakah kiranya itu perbuatan yang sia sia?

PERANAN ANALOGI

Melalui al Qur’an, Allah banyak menyebut analogi sebagai salah satu cara untuk memahami sesuatu. Nabi s.a.w. pun gemar menggunakan analogi. Seperti ketika seorang bertanya kepada beliau “Siapa yang harus lebih dihormati, ayah atau ibu?”, beliau menjawab singkat “Ibu !”. Lalu orang itu bertanya lagi “Setelah itu siapa?”, dijawab sama. Bertanya sampai tiga kali jawabnya sama. Orang itu rupanya penasaran, tanya “Setelah itu siapa?”, dijawab “Ayah!”. Ini juga semacam analogi. Seperti mengukur satuan panjang, menggunakan batang/tongkat yang disimpan di Paris, sebagai standar, dan alat ukuran panjang komersial ditera menggunakan ukuran standar itu. Ini juga awal dari analogi.

Bahkan seluruh ilmu pengetahuan yang diturunkan (down load) Allah kepada ummat manusia menggunakan analogi, sehingga sampai ke tahap nya sekarang. Baru pada dua abad terakhir ini  mabusia menggunakan analisa digital untuk memahami sesuatu. Angka yang sekarang digunakan dunia berasal dari angka Arab, dan angka tersebut mulai dikenal meluas setelah masa Islam. Angka yang digunakan luas sebelum itu adalah angka Romawi. Kalau mengguna kan angka itu terus, matematika tidak mungkin berkembang seperti sekarang. Angka nol dalam bahasa Arab dinyatakan sebagai (. titik), padahal sekarang digunakan (0). Penggunaan 0 ini adalah kontribusi Jaman Sriwijaya kepada dunia.

Yang tidak banyak disadari manusia adalah kenyataan bahwa sistem binair, awal dari analisa digital, sesungguhnya adalah ilmu dasar dalam Islam, yaitu tauhid. Allah disimbolkan sebagai angka 1, sedang Nur Muhammad, makhluk yang pertama kali diciptakan, disimbolkan sebagai angka 0. Dan seluruh ciptaan lain adalah disusun dari kombinasi antara Nur Ilahi dan Nur Muhammad. Tanpa angka 1 (Allah) seluruh yang lain itu tidak ada (0, nol). Artinya Muhammad s.a.w. mewakili seluruh ciptaan.  Inilah alasan makanya dalam kalimat tauhid nama Muhammad direndengkan, atau disebutkan segera setelah nama Allah : la ilaha illa Allah Muhammad rasul Allah.

Karena saya ingin memahami dulu mengapa seseorang (muslim) harus shalat, maka terlambat sekali saya melakukan kewajiban itu. Meskipun saya terlahir di dalam keluarga Islam, namun karena kedua orang tua (ampunkanlah mereka ya Allah) saya tidak mencontohkannya di rumah, saya tumbuh dewasa tanpa mengenal kewajiban itu. Sebaliknya isteri saya, dik Iin, terlahir di dalam keluarga yang patuh menjalankan syariat Islam. Bahkan tidak terpikir oleh dik Iin ada orang Islam yang tidak shalat.

Tapi karena memang sudah dijodohkan Allah, bertemu lah kami berdua dan langsung jadian. Tetapi sebelum mengenal lebih jauh masing masing karakter, kami harus berpisah tempat, karena saya dikirim ITB mengikuti program pendidikan lanjutan Kentucky Contract Team, dan belajar ke USA selama sekitar 3 tahun. Menurut dik Iin surat surat yang saya kirimkan  waktu itu jauh lah dari kalimat mesra atau romantis, hanya membicarakan hal yang serious saja. Mengira bahwa saya masih akan lama, dan saya ingin mengajak dik Iin menyusul ke USA, maka orang tua saya menemui calon mertua dan melamar. Lamaran diterima dan kami dinikahkan by proxy (kawin keris). Tetapi sebelum bisa diproses keberangkatan dik Iin lebih jauh, pecahlah G30S, sehingga saya ditarik pulang karena Program Kentucky Contract Team dihentikan.

Maka terkejutlah dik Iin melihat bahwa suaminya tidak shalat. Kami selalu bertengkar karena saya tidak shalat itu. Dik Iin selalu ketakutan mendengar ungkapan dalam bahasa Jawa bahwa isteri itu terhadap suaminya “suwargo nunut, neraka katut”. Mungkin dalam hatinya protesnya kepada Allah “Why me”, kan salah saya hanya karena menikah dengan Sutono, itupun Engkau ya Allah yang menjodohkan, kenapa saya harus ikut ke neraka? Mungkin waktu itu dia yakin betul bahwa suami nya akan ke neraka nantinya. Mengadu ke orang tuanya, malah diminta shabar dan mendoakan agar suaminya kembali ke jalan yang benar. Mungkin selain urusan tidak shalat, mertua saya menilai saya orang baik baik saja. He he he…

Dan karena setiap kali berdebat, dia tidak bisa mengungguli saya, maka dik Iin berinisiatif untuk ikut  Studi Islam, setelah dalam perdebatan terakhir dia bilang, “Kalau berani, debat dong dengan Buya HAMKA”, atas itu saya hanya menjawab sekenanya “Wah repot banget, mana sempat saya. Proyek yang saya tangani ini begitu menyita wakru.”. Maka dia bertekad sungguh2 untuk menambah ilmu supaya dapat meyakinkan saya agar mau shalat. Sampai suatu hari pulang dari kelas Studi Islam itu, dia bilang “Guru saya, pak Yusril Ihza Mahendra, dapat membuktikan secara matematis bahwa Allah itu memang ada.” Jawab saya “ Wah bagus deh, kalau begitu undang dia ke sini.”

Waktu itu ustadz Yusril masih menjadi mahasiswa di UI mengambil dua Fakultas sekaligus, Fakultas Politik dan Fakultas Filosofi, kalau tak salah (mungkin harus dicek ke beliau). Suatu sore selepas mengajar, pak Yusril datang ke rumah bersama pacarnya, yang kemudian menjadi isterinya (yang kemudian lagi diceraikannya, ketika  menjabat Menteri). Sesuai komentar dik Iin tentang gurunya ini, dia memang ganteng dan matanya tajam banget deh. Sore itu dia datang dengan celana jean biru yang penuh kapur. Mungkin setiap menulis di papan tulis, dia lalu meper ke celananya itu. Muridnya yang kebanyakan ibu ibu yang punya anak gadis, banyak yang menginginkannya menjadi menantu.  Setelah basa basi sebentar, saya langsung bicara :”Menurut di Iin anda bisa membuktikan adanya Tuhan secara matematis. Kalau tentang agama pengetahuan saya nol, namun tentang matematik, pengetahuan  saya agak lumayan deh. Jadi bagaimana ceritanya itu.”

Maka dia lalu mulai penjelasannya. Setelah mendengar sejenak, saya tahu yang dia bicarakan bukan matematis, namun logika. Sebagaimana dimuat dalam al Qur’an juga, bahwa kalau tuhan itu ada lebih dari satu, pastilah mereka itu akan saling mengalahkan sehingga akhirnya hanya akan tinggal satu saja. Begitu kira kira.  Rinciannya kalau sekarang saya agak lupa, tapi sebagai mahasiswa Filosofi boleh jadi dia mau melakukan pendekatan menggunakan pikiran Ibn Arabi (diulas sebagai Anagram Sufi) sebagai landasan, yang baru dua minggu lalu, sebelum Mawlana datang, dikirimkan Pak Joko, Semarang, ke saya supaya diterjemahkan.  Maka saya segera memotongnya “Ma’af pak Yusril, yang anda uraikan ini bukan matematis. Tapi mumpung anda ada di sini, coba sampaikan kepada saya mengapa saya harus shalat?”

Mungkin saya agak kelewatan waktu itu, yang dengan sikap/komentar saya itu di depan pacar dan muridnya,  seperti telah mwmpermalukan dia. Maka dengan muka merah dan beberapa saat terdiam, dia mengatakan kalimat yang merubah hidup saya setelah mendengarnya :”Begini pak Tono. Kalau pada suatu sore Pak Tono dan Ibu Iin jalan jalan ke Pasar Baru, lalu sekonyong konyong ada satu truk petugas Tramtib mengadakan razia KTP, dan akan mengangkut siapapun yang tidak punya KTP DKI untuk dideportasi ke kampung asalnya, apa yang Pak Tono lakukan?” Jawab saya :”Ya mudah saja, saya keluarkan KTP DKI saya!” Katanya selanjutnya “Nah itu dia. Kalau pak Tono ngaku Islam, shalatlah. Kalau tidak shalat jangan ngaku Islam. Islam itu KTP nya orang Muslim.”

Herannya, mendengar jawaban dia yang sederhana itu, saya tercengang,….. lalu saya berkata “Baiklah, mulai besok saya akan mencoba untuk melakukan shalat yang dilakukan orang Islam.” Subhan Allah.  Rupanya saat itu dia menjadi orang yang teraniaya (oleh saya), dan mungkin dia berdoa kepada Allah bagaimana menjawab pertanyaan saya dengan jawaban yang efektif. Dan karena memang Allah mendengar doa orang yang teraniaya, maka hanya dengan kalimat sederhana itu saya takluk, dan melupakan pertengkaran saya selama belasan tahun dengan dik Iin yang disebabkan saya tidak shalat. Ketika kisah ini saya sampaikan kepada pak Utomo Dananjaya, seorang aktivis Islam dan pengamat/pelaku pendidikan, pendiri Yayasan Paramadina bersama Cak Nur almarhum,  dia menyatakan keheranannya “Apa iya kamu bisa mendapat hidayah hanya dengan cara yang terlalu mudah begitu? Murah banget.” “Ya mungkin memang waktu itu Allah sedang mengobral hidayah.”

Memang kalimat pak Yusril itu mungkin hanya sebagai trigger saja, terhadap beberapa peristiwa sebelumnya, selain pertengkaran dengan dik Iin selama belasan tahun, yang melelahkan, ada hal hal yang membuat saya melemah dalam pembangkangan saya.

Suatu siang saya melihat dik Iin mengajak anak anak shalat. Anak kami dua yang pertama perempuan dan bungsu lelaki. Waktu itu anak lelaki saya berumur 3 tahun. Waktu mau diajak shalat, anak lelaki kami protes kepada ibunya mengapa dia tidak diberi baju shalat seperti kedua orang kakaknya (maksud nya mukena). Rupanya karena di rumah itu dia tidak melihat contoh orang lelaki shalat, dia pikir semua yang shalat harus pakai mukena. Menyaksikan itu saya merasa trenyuh dan sangat berdosa. Namun itu tidak serta merta membuat saya shalat.

Dalam tahun 1981 itu sekitar April atau Mei, saya membaca artikel di halaman 2 Kompas ada seorang empu pembuat gong, yang membuat gong menggunakan teknologi kuno, mengukur temperatur hanya dengan menyentuhkan tangannya ke lelehan campuran logam itu. Kualitas nada gong itu tergantung dari komposisi logam komponennya. Dan komposisi yang terjadi tergantung pada pada temperatur berapa campuran logam itu dicairkan. Hasil karyanya itu sampai sampai dikagumi para ahli metalurgi Jepang dan Perancis. Namanya pak Reksowiguna (almarhum sekitar 3 tahun lalu), tinggal di pinggiran kota Solo, arah Tawangmangu. Dia memang keturunan empu pembuat keris secara turun temurun. Sampai kepada dia, pak Rekso tidak menyukai kekerasan atau senjata. Jadi keahliannya dialihkan ke pembuatan gong.

Saya berpikir kalau karyanya begitu dikagumi orang asing, kan memalukan kalau saya tidak menghargainya dengan cara memiliki dan menyimpan salah satu karyanya? Dan kebetulan (sebetulnya tidak ada kebetulan itu) paman saya yang pensiunan Brimob tinggal di Sragen setelah pensiun, maka saya minta tolong beliau untuk mencari cara memesan satu gong karyanya.  Rupanya paman ditolak sampai harus bolak balik 3 kali, dengan jawaban “mBoten wantun (tidak berani)”. Paman memang berpenampilan menyeramkan. Selalu berpakaian serba hitam dan rambutnya dikonde tinggi seperti tokoh pendito kuno.

Ketika masih aktif dinas sebagai anggota Brimob, beliau pun tidak mengenakan pakaian dinas, dan tidak pernah apel ke kantornya.  Meskipun begitu atasannya tidak ada yang berani menegor atau mengenakan disiplin kepada beliau. Mengapa ? Karena untuk daerah operasi di sekitar Surabaya, semua petugas polisi yang akan dinas malam selalu mendatangi beliau di tumah dinas nya di Jembatan Merah, Surabaya, untuk minta petunjuk dimana mereka harus waspada, dan sebagainya. Umumnya karena petunjuk paman itulah para polisi itu bisa menangkap penjahat, atau menggagalkan kejahatan atau menyergap penyelundup melalui pantai, sepanjang pantai Gresik dan pantai Surabaya.

Dengan latar belakang seperti itu, aneh juga bahwa baru pada kedatangannya yang keempat barulah pak Reksowiguno mau menerima pesanan gong untuk saya. Padahal dia itu kan pembuat gong dan penjual gamelan set. Pak Reksowiguna membuat sebuah gong suluk (ukuran diameter 60 cm), gong yang dipukul ketika dilayar wayang sedang adegan perang. Gung… gung… gung, temponya cepat. Isyarat bahwa hidup saya selanjutnya dalam keadaan siaga perang. Wah ……

Ketika menyanggupi itu adalah awal puasa (Juli 1981) dengan harga ditentukan, dan selesai dalam waktu 2 minggu. Rupanya dia ngebut. Wah…..

Benar. Pertengahan bulan Puasa ada berita bahwa gongnya sudah siap.

Sekitar sebulan setelah selesainya gong, saya harus dinas ke Solo. Berangkatlah saya dengan harapan mau membawa gong saya pulang hari itu. Dengan diantar paman, kami menuju rumah pak Reksowiguno. Rupanya dia sedang di sawah, karena memang sehari hari dia adalah seorang petani. Seseorang menjemputnya, memberitahukan kedatangan kami. Saya melihat dia melintas di depan rumahnya dengan lumpur mencapai betisnya. Sesaat kemudian dia muncul, lalu paman memperkenalkan kami. Sembari salaman, dia menggumam :”Inggih, sembodo (Iya pantas mendapatkannya)”

Tadi sambil menunggu pak Rekso dijemput, seorang pegawainya mencoba memberikan penjelasan apa istimewanya karya pak Rekso ini. Jadi selain pengukuran temperatur menggunakan tangan, kemudian bahan baku jadi siap dituangkan ke dalam cetakan dan itu dilakukan oleh para pembantunya. Dan tahap akhir yaitu penyetelan gong ke nada yang dimaksudkan dilakukan oleh Pak Rekso sendiri. Gong dibawa ke ruang penyetelan, yaitu sebuah ruang tanpa jendela, hanya satu pintu, tanpa penerangan. Disitulah pak Rekso bekerja sampai selesai. Beberapa hari. Hanya keluar untuk kebutuhan hariannya. Begitulah…

Lalu pak Rekso menjelaskan tentang karyanya  itu. Gong itu diberi nama “Kiai Tujah Banteng”. Itu juga nama seorang pahlawan lokal ketika jaman revolusi fisik dulu. Makna nama itu adalah posisi siap tempur. Dalam halnya banteng, posisi itu adalah menekuk kedua kaki depan, muka ditundukkan ke tanah dan tanduk menghadap ke depan kepada musuh.

“Saya hanya membuat yang seperti ini dua gong, yang pertama sekarang berada di Kraton Pakualaman, Yogyakarta. Yang kedua ya ini”, begitu pejelasannya. Wah …..padahal maksud saya hanya pengin punya sebuah karyanya untuk kenang kenangan. Dia juga menjelaskan bahwa  setelah gong itu jadi, dan terpajang di ruang, datanglah pak Ali Lurtopo, yang ketika itu masih AsPres. Dia datang disuruh pak Harto memesan gong kepada pak Reksowiguno. Dan setelah melihat gong itu, dia mau mengambil itu saja yang sudah jadi. Tapi pak Rekso dengan halus melarang karena itu sudah menjadi milik orang lain. Pak Ali masih mencoba memaksa dengan ,emawarkan uang berlipat dari yang sudah saya serahkan ke Pak Reksowiguno. Tetapi pak Reksowiguna juga berkeras mempertahankan gong itu.

“Oleh sebab itu,” lanjutnya “ada beberapa hal yang saya minta pak Tono lakukan untuk memelihara gong ini.”. “Oh oh, now this is the catch”, kataku dalam hati. “Apa itu pak Rekso?

“Setiap malam 1 Syawal, malam sepuluh Dzulhijjah, malam 1 Muharram, tolong disediakan sentir minyak klentik (minyak kelapa) dengan sumbu (wick) kain, pisang ayu terdiri dari pisang raja dan pisang emas yang pas matangnya (tidak muda/kemampo tidaj juga terlalu dalu) dan sirih ayu (sirih, gambir, jambe, susur enjet/kapur, kopi manis gula merah, kopi pahit, teh tawar, dan air bening). Kesemuanya diletakkan di belakang gong ini.”

“Pak Rekso, setelah mendengar syarat pemeliharaannya seperti itu, saya ingin menyampaikan bahwa saya akan berusaha, tapi bila untuk alasan apapun saya lalai, apakah ada akibatnya?”

“Tidak usah khawatir pak Tono. Itu tidak mengakibatkan apa apa. Hanya bila pak Tono bisa saja,” tegasnya. Legalah saya.

“Baiklah kalau begitu. Apa bisa langsung dipak, karena akan saya bawa sekarang?”

“Ma’af tidak bisa begitu saja pak Tono,” ujarnya. “Ini harus dibawa dari sini sampai ke rumah pak Tono tanpa diletakkan . Harus ada yang memangkunya, mungkin kalau perlu bergantian.”

Sebelum saya bisa berkomentar karena membayangkan sukarnya membawa gong itu, Paman saya sudah menyela “Baiklah tentang itu saya akan tanggung jawab.” Jadi kami pamit dan dalam hati saya bertanya tanya dalam hati, bagaiman cara paman mengirimkan gong itu.

Sambil menunggu kedatangan gong itulah, ketika pak Yusril datang ke rumah dan terjadi dialog seperti tersebut di atas. Maka saya langsung memulai shalat (fardhu) secara teratur sebagaimana saya katakan kepada pak Yusril, karena saya merasa akan datangnya sesuatu yang tidak saya fahami, gong Kiai Tujah Banteng, saya perlu mempersiapkan diri. Antara lain ya shalat inilah. Minimal dengan melakukan itu saya sudah akan maju selangkah, yang selama ini saya berjalan di tempat.

Saya tinggal di Jalan Bangka Buntu II No. 4. Kantor saya di Jalan Bank (pas di jalan turun dari Prapanca langsung mentok tusuk sate_. Sebetulnya pagi itu ada Rapat Proyek di Departemen Keuangan, Lapangan Banteng, dan saya tidak akan ke kantor. Tetapi karena ada berkas yang diperlukan  ternyata tertinggal di kantor, kemarin sore pulang kerja tak terbawa, maka  saya harus ke kantor dulu untuk mengambil berkas yang dimaksud. Dari jalan Bank ke Lapangan Banteng, bisa langsung dari kantor lewat Prapanca (dulu belum ada pembatas jalan, jadi bisa langsung belok kanan). Tetapi setelah saya periksa lagi tas untuk mencek apakah semua bahan rapat sudah lengkap, ternyata ada berkas lain yang trertinggal di rumah. Ada ada saja, berarti saya harus menempuh jalan yang tadi saya lewati balik ke rumah.lagi. Menuju ke rumah baru sampai di perempatan  Jalan Bangka Raya dan Jalan Bangka 7, saya melihat pick up terbuka yang di bak belakangnya terdapat gantungan gong yang seperti punya saya, dan sopirnya sedang nampak bingung sambil nengok kanan kiri. Maka saya turun dari mobil, mendekat ke sopir pick up “Apa bapak ini dari Sragen ya?” “Lho ini pak Tono ya?”  “iya betul!!” “Ini saya mau mengantar gong.”

Masya Allah. “Ayo ikuti saya.” Ternyata mereka berdua adalah ayah dan anak, yang mau pindah ke Jakarta. Di Sragen sang ayah punya bengkel mobil. Setelah anaknya lulus STM dan sukar mencari kerja di Sragen, ayahnya berpikir lebih baik dia mempekerjakan anaknya dan agar pelanggan lebih banyak, mereka memutuskan pindah ke Jakarta, setelah konsultasi dengan paman saya itu. Setelah mengangkut isteri dan anak dan barang barang rumah tangga, mereka diminta tolong paman untuk membawa gong dari Solo ke Jakarta, dengan syarat seperti  diuraikan di atas. Mereka berdua menyanggupi, karena hormat nya kepada paman saya. “Alamat pak Tono di mana Pak Honggo”. “Di Jalan Bangka.” Nomor berapa pak, karena Jalan Bangka kan panjang.” “Sudah begitu saja, nanti kan sampai.” Subhan Allah. Kalau saja saya tidak ketinggalan berkas di kantor dan di rumah, apa bisa ketemu alamat saya tadi ya?

Malam itu saya membawa kerjaan dari rapat pagi tadi pulang ke rumah. Saya kerja sampai larut malam. Ketika semua sudah tidur menjelang tengah malam gong itu berbunyi sendiri. Kaget juga saya. Tapi saya pikir itu adalah sapaan kulo nuwun  salam, maka saya jawab juga pelan alaikumu salam.

Esok harinya saya memberi tahu teman saya, seorang arsitek, bahwa di rumah ada barang baru, yang mungkin dia tertarik untuk melihatnya. Saya beritahu demikian karena teman ini dikaruniai kepekaan, yang membuatnya mampu berkomunikasi dengan benda benda. Suatu sore habis pulang kantor, teman ini benar benar datang. Dan begitu dia melihat gong ini spontan dia berkomentar:”Lho kenapa gong pak Reksowiguno ini berada di sini? Sudah 2 tahun saya pesan seperangkat gamelan untuk Institut Kesenian Jakarta, belum selesai juga”

Lalu saya ceritakan bagaimana gong itu bisa berada di sini. Menurut interpretasi teman saya ini, mungkin waktu pertama kali paman saya pesan gong untuk saya ini, ada isyarat bahwa pesanan ini adalah istimewa. Makanya pak Rekso mengatakan tidak berani, karena gong istimewa itu harus ada namanya terlebih dulu sebelum bisa dibuat. Dan begitu nama itu sudah muncul, dia harus segera membuatnya. Maka gong ini siap hanya dalam waktu 2 minggu, meskipun dalam bulan puasa.

Tetapi rupanya ada kaitan antara gong ini dengan teman arsitek tadi. Sudah tiga bulan terakhir ini dia selalu mendengar suara gong baik selagi kerja, tidur, mandi atau apapun. Dia sampai bingung harus diapakan agar suara itu hilang. Dan gara gara suara gong itulah dia sempat menemukan (discover) sebuah candi yang dalam tradisi Hindu Bali merupakan candi yang sangat penting yang sesungguhnya adalah “pasangan” Candi Besakih, sebuah candi utama yang selama ini rupanya di”pasangkan” dengan candi yang salah. Candi temuan teman saya ini berada di dalam sebuah gua, yang dikenal dengan nama Gua Gong, namun penduduk sekitar ditu tidak menyadari bahwa di dalam gua itu ada sebuah candi besar. Dan ada peristiwa lain yang sempat dia alami, yang saya lupa apa saja itu. Namun ketika sore itu dia bertemu gong saya, suara gong ditelinga yang selama ini mengganggu, ternyata berhenti dengan sendirinya. Subjan Allah.

Begitulah tambahan latar belakang, yang menyebabkan saya mulai shalat. Begitu saya mulai shalat secara teratur, seorang tetangga usul agar lingkungan ini mengadakan pengajian. Mengingat tempat tinggal kami memenuhi syarat untuk menampung jemaah pengajian dia usul agar diadakan di rumah kami. Saya bilang tidak mengenal ustadz yang bisa membimbing, dia mengajukan seseorang yang secara rutin memberi dahwah di kantornya. Saya setuju saja. Dan yang menarik bahan yang pertama kali dia sampaikan dalam pengajian hari pertama itu adalah ayat 1 Surat al Ankabut (Sarang Laba Laba):”Apakah kamu mengira dengan hanya mengatakan aku beriman kamu akan dibiarkan, tanpa diuji?” Sesuai dengan isyarat lewat gong, memang sejak itu saya mengahdapi perang. Perang terhadap diri sendiri.

PERANAN DIGITAL ATAU SISTEM BINAIR

Dengan analisa numerik, semua benda dapat dinyatakan dalam bentuk kombinasi antara angka satu (1) dan angka nol (0). Tadi telah disampaikan bahwa ini adalah dasar konsep Islam. Angka satu adalah Allah dan angka nol adalah ciptaan, diwakili oleh Nur Muhammad. Artinya hanya ada Allah yang nyata, sedang alam semesta ini hanyalah bayangan, tidak nyata. Lebih jauh bahwa setiap benda pasti ada sisi spiritual (dalam) nya dan ada sisi lahir (luar) nya.  Komponen dalam itulah yang nyata, dan komponen luar adalah yang bayangan. Mungkin dengan penjelasan ini kita bisa sedikit mengerti ungkapan bahwa hidup iini hanya sandiwara, bukan yang nyata. Yang nyata akan kita temui setelah melewati dunia bayangan ini. Karena konsep ini tidak sepenuhnya tertangkap oleh kita semua, maka pemahaman umum justru bertentangan atau sebaliknya dari yang benar ini.

Akibat dari pemahaman yang keliru ini, kita semua selama ini lebih fokus untuk memenuhi kebutuhan luar atau fisik, yang sebetulnya hanya bayangan (fana). Kalau toh kita sesekali mengadakan dakwah atau kuliah agama, kita namakan itu sebagai siraman ruhani. Padahal yang diperlukan ruhani atau sisi dalam bukan sekedar siraman, namun makanan yang sesungguhnya. Apa makanan ruhani? Tidak lain adalah dzikir, yang kita diperintahkan lakukan sebanyak banyaknya (dzikr katsiran). Bukan sebaik baiknya. Mengapa ? Karena kita toh tidak mampu berdzikir sebagaimana Allah berhak untuk diingat. Jadi sebagai alternatif dari kualitas, adalah kuantitas saja. Allah Allah Allah Allah ……

Jadi hubungan yang kuat dengan Yang Maha Nyata lah yang akan menyelamatkan kita. Itu makna beriman yang terkandung dalam Surat Wal Ashr. Bukan sekedar percaya. Tapi tersambung kuat.

Secara singkat dapat dikatakan bahwa pendekatan analogi untuk mengerti sesuatu yang terjadi, adalah pendekatan lahir atau luar, pendekatan performansi yang kasat mata. Sedang pendekatan dgital sistem binair adalah untuk lebih mengerti sesuatu secara internal, bagoian dalam, bagian  ruhaniah. Jadi ini adalah awal untuk menuju  kepada pengetahuan hakikat. Ini dilakukan dengan menyusun bata satu demi sat, atom demi ato, menghitung 1,000 atau 10,000 atau 100,000 dengan menambahkan angka 1, satu per satu. Ingat bahwa angka sati itu adalah simbol Allah. Jadi dengan kita berdzikir continue Allah, Allah, Allah Allah Allah, kita sedang menyusun pengetahuan hakikat yang mungkin hanya terbuka untuk kita. Denag menghitung satu persatu itu kita menjadi sadar angka, yang juga mencegah kita menjadi pikun menjelang dijemput ajal. Disamping kita juga memberi makanan yang dibutuhkan sisi dalam kita, agar energi dalam bisa bertmbah dan dengan ijin Allah melewati Mursyid kita ego kita bisa dilepas satu per satu pula. Menghitung atau menyebut Allah itu adalah seperti kita membuka PIN.  Yang akan terbuka kalau kita sudah mencapai angka tertentu, yang tidak kita ketahui sebelumnya. Menghitung satu per satu itulah yang disebut sebagai thawaf. Thawaf ini adalah bagian terpenting dari proses belajar mengajar. Ketika pertama kali MSH datang ke Jakarta, April 1997, beliau menjelaskan bahwa berbeda dengan kebanyakan thariqat lain, yang mursyid nya melepas atau mengupas hijab atau ego atau kepompong (sesuai pengertian saya hingga sekarang).murid murid nya lapisan yang paling dekat dengan dirinya, maka sebaliknya Mursyid Naqshbandi melepasnya mulai dari lapisan yang paling jauh dari dirinya. Dengan cara begini, murid Naqshbandi tidak meresa perubahan apapun ketika proses pengupasan itu berlangsung, sedang rombongan lain akan menyebabkan murid menyadari perubahan terhadap diri nya. Alkibatnya murid kelompok lain itu bisa melihat dunia sekitar dengan pandanga berbeda dan mungkin sangat menarik. Lapis demi lapis. Bahaya adalah dengan cara seperti itu, boleh jadi murid akan sangat tertarik dengan dunia sekitarnya yang berubah dan nampak indah, begitu tertarik sehingga tidak mau atau segan untuk maju lebih jauh. Dan itu bisa menghambat proses itu mungkin menjadi tidak selesai dalam masa hidupnya. Berbeda dengan murid Naqshbandi, dia akan berkesempatan bertemu dengan Nabi s.a.w. dalam bentuk spritual nya sekarang, minimal dalam tujuh tarikan nafas terakhir mereka. Karena pada saat  Mursyid nya akan membuka lapis yang tedekat dengan dirinya, dan Mursyid akan hadir disisinya bersama Nabi s.a.w. Allah ‘Alam

Ya Allah ampunkan kami semua yang tidak mampu bersyukur selayaknya Engkau berhak disyukuri. Tak mampu mengingat Engkau selayaknya Engkau berhak diingat. Setiap kali mendengar ayat :”Nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kamu dustakan?” dari Surat Ar Rahman  dibaca, selalu membuat saya menangis.

Jangan biarkan kami semua pulang kepada Mu dalam keadaan bangkrut ya Allah. Jadikanlah kami semua beruntung di dunia dan diakhirat, demi kehormatan kekasih Mu. Al Fatiha.

Jakarta, 2 Mei 2010

Salam

Sutono

About kekji

i am nothing and will stay that way. i live only to serve Allah SWT
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s