Tafsir al Ikhlash

 

 

Menuju Pemahaman Ruahaniahmu Busana Ahadiyya Samadia

 

Tafsir Surah Ikhlas  Bagian 2

 

oleh Shaykh Hisham Al-Kabbani

 

Anas meriwayatkan bahwa (dalam bagian: “ fadiil qul hu Allahu Ahad ”), “ Orang Yahudi Khaybar, medndatangi Nabi (s.a.w.) dan berkatasaid, ‘Ya Abul Qassim! Allah swt telah menciptakan para malaikat dari cahaya. Dan Dia menciptakan Adam a.s. dari lempung dan Dia menciptakan Iblees dari api dan Dia menciptakan langit dari asap dan Dia menciptakan bumi dari zabadul m• , busa air. Ceritakan tentang Tuham mu.’ Nabi (s.a.w.) tidak menjawab mereka. [Dia menunggu wahy (wahyu). Meskipun dia tahu jawabnya, karena All•h memberinya ilmu pertama dan terakhir. Dia tidak mau menjawab sampai jawaban itu datang kepadanya. Siapapun disini menginginkan dirinya mengetahui sesuatu. “Saya tahu. Saya tahu. Saya tahu lebih baik.” Setiap orang tahu. Hanya satu orang mengatakan “Saya tidak tahu.” Jadi dia menunggu.]

 

Kemudian Jibraeel {as} datang dengan surah :

  • “ qul hu Allahu Ahad. Allahus-Samad .” [Allah tidak meiliki pasangan.
  • Allahus-samad . Dia tempat segala sesuatu bergantung, Dia Pemilik segala sesuatu.
  • Lam yalid wa lam yulad.”  Kamu tak dapat menghubungkan Dia dengan seorang anak. Dia tidak melahirkan dan Dia tidak diciptakan.
  • “Wa lam yakun lahu kufuwan Ahad.”  Tidak satupun ciptaan Nya dapat menggantikan Dia atau  memegang  alam semesta ini seutuhnya.
  • Alam semesta ini dipersatukan oleh Allah swt.. Tak satupun yang dapat menyatukan nya.

 

Surah ini tidak menyebut nyebut Surga ataupun Neraka. Itu hanya menyebut Allah swt. Itupun tidak menyebut dunya maupun nor  akhirah . Tidak juga halal atau haram. Itu murni hanya untuk Allah swt. Tidak satupun lainnya di dalamnya.

 

  • Barang siapa membacanya 3 kali  akan seperti dia telah membaca seluruh risalah. Kamu akan diberi hadiah seperti jika kamu telah membaca seluruh al Qur’n.
  • 30 kali setiap hari, dia akan menjadi satu dari manusia terbaik di dunya dalam pahala dan
  • barangsiapa membacanya 200 kali, akan diberi sebuah tempat dalam Jannat al-Firdaws dimana dia akan berbahagia dengan nya.
  • Barang siapa membacanya tiga kali ketika dia memasuki rumahnya, tidak akan melihat kemiskinan dan itu akan akan  menolong tetangganya.
  • (Bahkan) Seseorang membacanya (dari Sahaba) setelah membaca al Fatiha.
  • Dia itu memahami seluruh al Qur’n namun hanya membaca surah ini. Mereka mendatangi Nabi (s.a.w.) dan menyebutkan hal itu sebagai semacam ejekan. Dan Nabi (s.a.w.) bertanya kepada nya, “Mengapa kamu hanya membaca Surah al-Ikhlas.” Dia menjawab, “ inna uhibuha .”  Qala hubuha adkhalak al-jannat.  Dan Nabi (s.a.w.) malam itu membaca Surah al-Ikhlas sampai pagi.

 

 

Jadi surah itu, “ Qul hu Allahu Ahad ” sangat penting bagi Muslims untuk belajar dan untuk membaca (nya). Setiap hari, jika kamu minimal membacanya 200 kali kamu akan menerima sebuah rumah di surga. Dan shuyukh kita selalu meminta kita untuk membacanya 1000 kali setiap hari dan akan ada sebuah manfa’at besar di dalamnya. Abi K‘ab berkata bahwa Nabi (s.a.w.) berkata, “barang siapa membaca Qul huwa Allahu ahad  akan seperti dia telah membaca sepertiga al Qur’an Suci.”

 

Anas berkata bahwa Nabi (s.a.w.) berkata, “barang siapa membaca ‘    Qul huwa Allahu Ahad’  200 kali Allah akan mengampunkan dirinya dari dosa 200 tahun.” Ibn ‘Abbas berkata bahwa Nabi (s.a.w..) berkata, “ Qul hu Allahu Ahad  adalah sepertiga al Qur’an Suci.”

 

Ibn ‘Umar berkata, “ salla binna rasulullahi dhat yawmin fis-safr    ”. Pada suatu hari Nabi (s.a.w.) mengimami kami dalam shalat ketika kami sedang dalam perjalanan. Dalam raka’at pertama dia membaca Qul hu Allahu Ahad  dan dalam raka’at 2 “ qul ya ayuhal kafirun .” Setelah selesai dia memberi tahu para shahabat, ‘Aku membaca sepertiga al Qur’an dan seperempat al Qur’an.’

 

  • [Surah al-Ikhlas sama dengan 1/3  dan
  • Surah al-Kafirun sama dengan 1/4 dan
  • Surah Zilzallah sama dengan 1/2 ]
  • Ali berkata bahwa Nabi (s.a.w.) berkata, “barang siapa akan bepergian dan ketika dia meninggalkan rumahnya, meletakkan tangannya pada kunci/pintu rumahnya, membabaca 11 kali      Qul hu Allahu Ahad , Allah  akan melindungi rumahnya sampai dia kembali pulang.

 

Terdapat banyak hadith semacam ini.

 

Abu Huraira meriwayatkan  bahwa Nabi (s.a.w.) berkata, “barang siapa pulang ke rumahnya dan membaca Surah al- Fatiha dan Surah al-Ikhlas, Allah akan membuang kemiskinan dari diri mereka dan itu akan menguntungkan tetangganya juga, [dari kebaikan yang Allah karuniakan kepadanya].”

 

  • Ibn Umar  berkata, bahwa  Nabi s.a.w. berkata, barang siapa membaca Surah al-Ikhlas        11 kali  Allah  akan membangunkan untuknya sebuah istana di Surga.

 

Umar berkata, “Wallahi Ya Nabi Allah ini bagus sekali. Jika kita membacanya 11 kali kita akan memiliki banyak surga di dalam Surga.” Dia menjawab, “Tentu saja, Allah loma (suka memberi), jadi bacalah dan ambillah.” Ayesha (Aisah) ® berkata, bahwa Nabi (s.a.w.) mengirimkan seorang dengan satu pasukannya untuk pergi ke suatu tempat. Dalam shalat dia biasa membaca Qul hu Allahu Ahad . Ketika dia kembali pasukannya bilang, “orang itu selalu membaca Surah al-Ikhlas dalam shalat.” Nabi (s.a.w.) berkata kepada mereka agar bertanya kepadanya mengapa dia melakukan itu. Dia (orang itu) berkata, “Itu menggambarkan Sifat Allah dan saya mencintai membacanya.” Nabi (s.a.w.) berkata, “katakan kepadanya bahwa Allah mencintainya.”

 

Contoh dari ratusan hadith tadi menjelaskan kebesaran Surah al-Ikhlas, dan kami merencanakan untuk menjelaskannya, namun itu terlalu panjang, kemarin kita menyebut bahwa Allah menggambarkan Diri Nya, sebagai Ahad . Dan kita menjelaskan beda antara Ahad  dan  Wahid .

 

  • Ahad  menjelaskan Dzat , bahwa tidak mungkin berbagi Dzat.
  • Wahid  adalah– kamu tahu tentang Allah melalui asma ul husna. Kesemuanya, contohnya, kita tahu 99 Nama, melalui Allah memiliki 99 Nama.
  • Setiap nama berbeda menyiratkan sebuah Sifat yang berbeda. Meskipun semua adalah berbeda mereka semua adalah  Satu yang sama. Jadi dengan banyak Nama itu, semuanya merujuk kepada Satu.

 

Wa ilahukum ilaahun Wahid.” – “Tuhanmu adalah Tuhan yang Satu.”

 

 

  • Bukan dua. Jadi  Wahid  menggambarkan Hadhirat Ilahiyya dari Nama Nama.
  • Ahad  menggambarkan diri Nya dengan Diri Nya, Dzat dengan Diri Nya. Itu adalah Ghaib Mutlak yang Allah swt buka melalui Nama Nya dari Ahad  sampai Wahid .
  • Kemudian Nabi (s.a.w.) mengetahui. Dari siffat al-Wahidiyya, mereka memahami dari Nama Nama Indah ini, yang kesemuanya datang dari  Wahid
  • Namun dalam hakikatnya Ahad  mengirimkan kepada Wahid .

 

Dalam tafsir Ruh al-bayan dia berkata, “tawhid adh-dhatin mukhtasin bi-??? Allah ta‘ala.” Ketika kita menunjuk kepada Satunya Allah, uraian Satunya Ahad  adalah untuk Dzat, tak satupun mengetahuinya dan itulah sebabnya kamu dapat memahami, namun Ahad  harus membuka kepada Wahid  dari Dzat.  Itulah sebabnya kita mengatakan terdapat nama yang tak terbatas jumlahnya. Dari Dzat Indah itu datanglah Nama Nama Indah itu. Dari Ahad  datanglah uraian tentang Wahid .

 

  • Jadi kita mempunyai Ahad  dan kita mempunyai Wahid .
  • Itulah sebabnya ada ‘Abd al- Ahad .
  • Abdi dari Nama itu. Seseorang yang Allah karuniai isyarat tentang kekhususan hakikat itu.
  • ‘Abd al-Ahad dan ‘Abd al-Wahid.
  • Dan kemudian Dia melanjutkan, “ Qul hu Alluau Ahad, Allahu as-Samad.”  Mengapa Dia umengulang ‘ Allahu ’? Dia  bisa kan mengatakan “ Qul hu Allahu Ahad, Samad.”
  • “Allahu Ahad” , berarti tak satupun mengetahui hakikat itu.  
  • “Allahu-s samad ” berarti ini adalah gambaran lain dari hakikat itu.

 

Beberapa pembaca menyambung “ Allahu Ahadun Allahus samad ” menggabungkan bacaan itu. Beberapa ‘ulama merekomendasikan untuk tidak menggabungkan itu karema Allah tidak menggabung. Allah adalah cukup untuk Diri Nya Sendiri, Dia tidak memerlukan pasangan. Majikan Yang Mencukupi Diri Nya Sendiri yang seluruh ciptakan membutuhkan. Dia tidak makan maupun minum.Kita akan meloncati rincian tentang ‘Abd al-Ahad, ‘Abd al-Wahid dan ‘Abdus Samad. Kita akan langsung ke penjelasan dari ibn ash-Shaykh.

 

Dia berkata:

Al Quran Waqia: 56.7 Dan kamu akan dibagi menjadi tiga kelas.

56.8    Kemudian (akan ada) Shahabat Tangan Kanan ;-  Apakah itu yang akan menjadi Shahabat Tangan kanan?

56.9     Dan Shahabat Tangan Kiri ,- apa itu yang akan menjadi Shahabat Tangan Kiri?

56.10   Dan mereka yang Terdepan (dalam Iman) akan Terdepan (di Akhirat).

56. 11    Mereka inilah yang akan berada paling dekat dengan Allah. Ulaika almuqarrabona

“Ayat ini menunjukkan bahwa bahwa terdapat tiga maqam berbeda dan maqam untuk para pesuluk dan para Arif yang niat mereka hanyalah Allah swt:

 

 

 

  • Huw, { Ha=5, Waw=6, 5+6=11           }
  • Allahu,
  • Ahad

 

Maqam pertama adalah  maqam al-muqarabbin , .

{Ini adalah Maqam Tariqat Naqshbandi }

 

 

  • Itulah makna Hu . { Ha=5 Waw=6, =11}
  • Ini adalah maqam terdekat di Surga .
  • Itu adalah maqam tertinggi .
  • Mereka memandang hakikat segala sesuatu di dunya ini sebagaimana itu diciptakan.
  • Hum alladhina yandhuru ila haqiqati…  Mereka memandang pada segala sesuatu dan mereka tidak melihat apapun kecuali Allah.
  • Apapun yang mereka lihat membawa mereka kepada hakikat Sang Pencipta.
  • Ini adalah penjelasan yang dalam.
  • Dalam maqam al-muqarabbin ini, mereka yang dekat, ketika mereka memandang segala sesuatu , mereka melihatnya pada bentuk paling mendasar (essential) dan bagian yang terkecilnya, itulah hakikat.
  • Lihatlah pada topi ini (Mawlana menunjukkan topi).
  • Ini adalah plastic.
  • Jika kamu memecahnya menjadi komponen yang membentuknya, kamu akan mendapati itu terbuat dari berbagai partikel (butir) yang berbeda, atom, yang menjadi satu dan membentuknya.

 

Ketika mereka melihat, mereka melihat pada elemen terkecil yang mungkin dilihat, dari mana itu dibuat.

 

  • Ketika mereka melihat kepada atom mereka melihat electrons dan energy itu yang tercipta, berputar mengelilingi inti (nucleus) dengan kecepatan cahaya.
  • Apa yang mereka lihat disana  – cahaya, energy.
  • Energy yang datang dari Bahr al-qudrat . {  Ba            lihat artikel tentang BA kunci Surga }

 

  • Memandang itu mereka tidak melihat apapun, rumah, gedung, air, gunung, mereka tidak melihat. Mereka hanya melihat ayat Allah. Ayat Allah dapat dilihat, sedangkan Allah tidak dapat dilihat. {  Ayat terbesar Allah adlah Sayedena Muhammad  }
  • Mereka melihat ayat ini yang membawa mereka kepada Sifat dan Nama Allah. Itu tergantung kepada berapa banyak elemen yang kamu punya dalam Daftar Periodik. Mungkin terdapat 200 atau lebih. Setiap element berbeda satu dengan lainnya. Jika kamu masuk dalam ke elemen internal, kamu akan mendapatkan struktur yang sama pada nucleus, protons, neutrons dan electrons.
  • Mereka hanya berbeda dalam jumlah partikelnya. Ini datang dari samudera energi (kuasa). Jadi mereka datang dari satu – dari satu Samudera Energi (Kuasa).
  • Itu yang membuat para Awliya’  tertegun. Segala sesuatu kembali kepada Allah dan segala sesuatu menjadi tidak dapat dimengerti (in-understandable). Itulah sebabnya mereka melihat diri mereka sebagai bukan apa apa (nothing). Mereka tidak melihat ‘keberadaan’, kecuali untuk Allah. Segala sesuatu hanyalah fana , illusi, (dalam proses) menghilang. Itu tidak tidak masuk akal  (does not make any sense) bagi mereka.

 

Jadi mengapa memusingkan sesuatu yang dalam proses menghilang. (Cukuplah) Jika mereka memiliki sesuatu untuk dimakan, satu atau dua butir kurma, untuk tetap beribadah. Mereka tidak peduli dengan kuda, unta, mobil, pesawat terbang atau kereta api. Mereka peduli untuk menutupi perut mereka dengan bebatuan, untuk tiga hari karena lapar sebagaimana dilakukan Nabi (s.a.w.). Dan gunung Uhud mendatangi Nabi (s.a.w.) dan berkata, “Allah memberi ijin saya untuk menjadi emas  untuk engkau agar dapat mendukungmu.” Dia  berkata, “kami tidak memerlukannya.” Itu adalah dunya yang akan hilang. Dimanakah orang yang seperti ini hari ini? Carilah mereka. Mereka tersembunyi. Jadi ketika mereka memandang hakikat Allah swt, mereka mendapati bahwa tak seorangpun dapat mengerti hakikat itu kecuali Allah. Jadi tak satupun dapat memahaminya – itu tidak mungkin. Ciptaan tidak dapat memahami Pencipta.

 

Maka mereka kemudian memperhatikan ciptaan Nya,

 

  • Dari hakikat maqam Hu  (‘ Qul Hu’ ), mereka memandang hakikat ciptaan itu dari Hu, { Insan Kamel}
  • Mereka melihat bahwa ciptaan itu tidak ada (does not exist), namun apa yang ada adalah Dia Sendiri.
  • Dia menggambarkan Diri Nya Sendiri sebagai Hu.
  • Artinya, “Kamu adalah abdi dan kamu tidak dapat memahami Aku.
  • Apapun yang Aku ciptakan di alam semesta tidak layak untuk dilihat.
  • Kamu harus melihat kepada Ku, namun ketika kamu melihat Aku, kamu tidak dapat melihat Aku, Itu tersembunyi, kamu hanya dapat melihat Sifat Ku, Nama Indah Ku.” { Nama ke 11 Rasul adalah Ya-Seen sebelas memperlihatkan 1,1  }
  • Jadi mereka tak dapat melihat, jadi apa yang mereka lakukan?.
  • Mereka mulai menggunakan jantung (qalbu) mereka dan pandangan (vision) yang diberikan Allah kedalam jantung mereka dan akal (intelligence) yang dikaruniakan Allah kepada pikiran mereka dan ketika menggunakan pikiran mereka, mereka melihat bahwa segala sesuatu menunjuk kepada Sang Pencipta.
  • Bagi mata mereka tak terdapat satupun yang tidak menunjuk kepada Sang Pencipta.
  • Memandang kepada suatu pujaan (patung) dan melihat itu menunjuk kepada Sang Pencipta, melihat kepada ukiran, mereka dibuat dari kayu, yang diciptakan Allah, kayu yang diciptakan Allah, kapas yang diciptakan Allah.
  • Itulah maqam muqarabbin .

 

Maqam kedua adalah Maqam Ashab il-Yamen.

 

  • Shahabat tangan kanan.
  • Wa ashabul yamani ma ashabul-yaman…wa fakihatan kathiratin…thulatun min al- awwalan…  (Surah al-Waqi‘ah)
  • Allah menghendaki mereka yang pada maqam ini untuk memahami qul Hu Allahu   Ahad .
  • Hu  digambarkan oleh Nama ‘Allah’  melalui Nama itu, semua Nama tak terhingga jumlahnya, berada dibawah namanya.
  • Ini lebih rendah daripada maqam pertama, maqam Hu.
  • Karena ashab al-yaman  dapat melihat, mereka dapat melihat satu sisi Ayat dari Pencipta, namun pada sisi lain dan mereka melihat ciptaan.
  • Mereka berada di antara nya – dengan Sang Pencipta dan dengan ciptaan.
  • Mereka melihat kedua sisi. Jadi Allah menggambarkan mereka dalam Surah al-Waqi‘ah sebagai duduk di antara,   “pohon lotus tak berduri…dan dalam sebuah teduhan yang ditarik panjang dan air yang mengalir tanpa henti dan buah buahan yang sangat banyak, bukan….pada sofa yang ditinggikan.”
  • Allah menggambarkan maqam kedua ini dalam Surah al-Waqi‘ah dalam banyak ayat.    Fa ashab ul- mash’amati ma ashab ul-mash’amat….  Mereka yang akan diberi catatan mereka pada tangan kanan betapa beruntungnya, karena mereka akan diberi catatn mereka pada tangan kanan nya … dalam taman nikmat …
  • Mereka beribadah kepada Allah di dunya, namun mereka menyeimbangkan dunya mereka dan       akhirah , melakukan amal untuk keduanya.

 

Itulah sebabnya Allah bersabda kepada mereka, untuk maqam pertama,     qul Hu,  para pencari maqam pertama ini memahami kata dari Hu  – janganlah melihat selain kepada Ku.

 

  • Maqam kedua Dia gambarkan dengan lebih terrinci– Dia memberi kepada mereka ini nama Allah.
  • Harus berbuat/beramal untuk dunya dan untuk  akhirah .  Asma  adalah untuk dunya.
  • Ar-Rahman, ar-Rahim, ar-Razzaq, al-Karim, dan seterusnya adalah dari/untuk dunya. Mereka menggambarkan apa yang kamu peroleh dari Allah swt.
  • Itulah sebabnya dalam tariqat, dalam  ahl as-Sunnah wal-Jama’ah .
  • Mereka membuat dhikr dengan Allah.
  • Pertama tama mereka memulai dengan la ilaha ill-Allah . Menolak ada sesuatu selain Allah. Jangan memuji dirimu sendiri.
  • Jangan beribadah kecuali kepada Allah.
  • Kemudia mereka menuju kepada dhikr “Allah.”
  • Ini adalah maqam yang lebih tinggi.
  • Kemudian maqam yang lebih tinggi yaitu ‘Hu’ dimana kamu tidak dapat melihat apapun selain Dia. Tak ada apa apa.

 

Maqam ketiga adalah Maqam  Ashab ash-shimal .

 

  • Ini adalah maqam yang lebih rendah.
  • Mereka ini mengatakan tedapat banyak tuhan dan banyak pencipta.
  • Mereka itu tidak beriman dan penyembah berhala.
  • Mereka mengatakan bahwa Allah memiliki seorang anak lelaki.
  • Mereka bukan monotheists (lawan tawhid).
  • Kemudian Allah harus bilang pada mereka bahwa tidak hanya ada Allah .
  • Dia memberitahu mereka bahwa Allah adalah  Ahad . Jangan disejajarkan apapun dengan Dia.

q

 

Hu adalah ghaib mutlak.

 

  • Allah kamu dapat memahami ayat ayat Nya.
  • Ahad  – katakan mereka bahwa Dia adalah satu, Dia tidak memiliki pasangan. Allah memberikan sebuah pesan yang kuat.
  • Jangan bilang bahwa Allah punya pasangan, punya sebuah sharak , atau seorang anak.
  • Tidak, Dia adalah Tunggal, Khas.

 

Tafsir yang ini dijelaskan sesuai dengan situasi politik dimana mereka tinggal. Ini dijelaskan secara bagaimana meng-analisa pengetahuan ini melalui hadith dan para shahabat yang berbeda dan ditaruh dalam makna ini. Namun tafsir modern  didasarkan pada topik sosial atau … tidak didasarkan kepada ilmu. Mereka menginginkan untuk memberikan pemahaman al Qur’an yang bisa diterima sesuai dengan situasi politik di mana mereka hidup. Kami memahami ini, itu baik baik saja. Namun itu tidak memberi hub al           akhirah .Itu akan membangun dirimu untuk menghentikan hasrat burukmu dan mengarahkan sasaranmu, tujuanmu dan harapanmu untuk mencari jalan untuk mencapai ma‘rifah .

 

Ma‘rifah  yang seperti itu sudah hilang kini. Mungkin mereka mengajarkannya di kelas tingkat tinggi dalam institut Sunni modern  Institut Sunni seperti al-Azhar. Itu mungkin dalam kelas untuk program PhD. Namun mereka bahkan tidak mengajarkan ini di Saudi Arabia. Bagi mereka tidak tersedia buku seperti ini. Kamu bisa mendapatkan Ibn Kathir, betul, karena dia terbatas dalam tafsir nya. Atau ibn Taymiyya. Namun buku traditional sudah hilang.

 

Bahkan dalam as-Suyuti yang bisa kamu dapatkan di Saudi Arabia. Mereka mengatakan jangan menghitung jumlah bacaan, itu adalah bida‘h. Dan saya menyebutkan hadith hadith ini dari Bukhari dan Muslim dan ini adalah Suyuti. Semua mereka menerimanya. Dan mereka membaca tiga kali, yang adalah sama dengan seluruh al Qur’n. Baca 11 kali ketika kamu pergi dalam perjalanan atau ketika kamu memasuki rumahmu, kekayaanmu akan bertambah dan memberi manfa’at tetanggamu. Dan jika kamu membacanya 200 kali maka kamu akan diampuni dosa 200 tahun. Mereka mengatakan : lakukan sebanyak yang kamu suka namun janganlah menghitung jumlahnya. Nabi (s.a.w.) mengatakan untuk menghitungnya. Dan Nabi (s.a.w..) biasa melakukan hal itu. Dia berkata, “Aku membaca sepertiga al Qur’n dan seperempat.” Namun kamu tak mendapatinya dimanapun. Semua hanyalah politik sekarang ini. Setiap hadith adalah politik atau neraka, hukuman, pembunuhan, berkelahi. Bicara tentang Rahmat Allah. Itu ada disama.

 

Itu adalah tanda tentang Hari Akhir. Mereka datang dan berkata “apa yang harus kita lakukan? Itu menjadi buruk bagi Muslims. Dan selanjutnya.:” Ini adalah benar. Segala sesuatu menentang Muslims kini. Di mana mana. Dan kamu tidak bisa menjamin dirimu sendiri lagi, jika besok sesuatu terjadi. Terjadi serangan besar besaran terhadap Islam. Itu adalah sebuah tanda bahwa ini akan terjadi. Akan ada suatu masa yang betul betul cuek sempurna.  Yauma al-jahl . Ilmu akan ditingkatkan. Kini mereka bilang mereka terlalu banyak menjual al Qur’an.

 

Namun mereka tidak lagi percaya kepadanya. Mereka bilang bahwa Islam adalah sebuah agama kekerasan. Dan Nabi (s.a.w.) menyebutkan itu. Mereka bertanya, “Apakah al Qur’an akan dibangkitkan?” Dia berkata, “Tak satupun ‘ulama akan meninggal”. ‘Ulama hari ini adalah ‘ulama politis. Mereka menerima uang. Mereka menerima uang dari wilayah (jemaah) nya. Itu adalah haram, itu tidak diterima. Apapun yang diktator katakan kepadamu untuk ditulis, kamu akan menulisnya. Nabi (s.a.w.) berkata, “ yakhruju waladun min awladi. Yamla al-ardu qistan wa ‘adlan kama mulayat dhulman wa jira.”  Terdapat banyak hadith tentang itu. Ratusan.

 

  • Dia akan datang sebelum Sayyidina ‘Isa. Dia tidak akan datang sebelum seluruh dunia dipenuhi ketidak-pedulian (ignorance). Sampai Sayyidina ‘Isa datang dan berkata “Islam adalah benar dan kamu salah.” Itu tidak akan datang sampai terjadi penguasaan (dominance) non-Muslims terhadap Muslims. Mereka mengatakan Islam akan datang dari barat dan menang. Jika begitu mengapa Mahdi dan Isa datang? Mereka datang untuk mengatakan kepada para musyrikin bahwa mereka salah, Islam adalah benar dan kamu salah. Dia akan mematahkan salib dan membunuh babi itu.

 

Jadi kini kita melihat sebuah invasi besar besaran terhadap Islam. Itu mendunia, dan mereka menuduh yang ini dan yang itu membesar-besarkan sesuatu. Mungkin bukan begitu. Itulah sebabnya kelompok pertama yang kami sebutkan, mereka tidak peduli. Tujuan mereka hanyalah Allah. Qalbu mereka untuk Allah. Raga mereka untuk Allah. Jiwa mereka untuk Allah. Apapun yang terjadi mereka tuli terhadap dunya. Maqam kedua seperti kita, ashab al- yamin yang berjuang. Tetapi kita memohon untuk tidak menjadi kelompok ketiga. Mereka yang diberi tahu Allah “Ahad ” Muslim Allah bersabda, “Allah” dan mereka bilang, “Ya, kami menerima.” Allah bersabda kepada para orang tak beriman. “qul Hu Allahu Ahad ” katakan Dia adalah Allah yang Satu. Dan mereka menolak. Para orang beriman harus menang. Itu artinya  bahwa pertolongan surgawi akan datang. Tak pernah ada serangan terhadap Islam seperti yang kita lihat sekarang.

 

Perhatikan sejarah. Tak pernah kamu melihat dari 1960 hingga sekarang hal seperti itu. Tentu ada sedikit disini dan di sana. Namun kini itu adalah mendunia. Apa itu ada urusannya dengan Bali? Siapa yang melakukan itu? Kita tidak tahu. Mereka katakan “Muslims.” Segala sesuatu disalahkan kepada para Muslim. Allahu  akbar. Jangan dipikirkan. Tugas kita adalah untuk menjaga diri kita sendiri. Bukan untuk bersama dengan orang ini atau orang itu. Ya Allah selamatkan kami. Kami adalah abdi Mu yang tidak berdaya. Selamatkan kami.

 

 

Abd as-Samad

 

  • Lam yalid wa lam yulad ” – “Dia tidak beranak ataupun dianakkan.”
  • Allah swt lam yalid . Dia memberi jawaban kepada mereka yang menyatakan bahwa malaikat adalah anak Allah atau mereka yang menyatakan bahwa Sayyidina Isa adalah anak Nya.
  • Atau mereka yang mengatakan bahwa  Dia mengambil Sayyidina Isa sebagai seorang anak.
  • Disini Dia menjawab mereka,  lam yalid , dalam bentuk kalimat masa lampau.
  • Dia mengungkapkan surah itu kepada Nabi (s.a.w.), mengatakan bahwa mereka yang menyatakan dalam masa lalu yang menyatakan bahwa Allah mengambil ‘Isa sebagai seorang anak,
  • Dia tidak pernah punya seorang anak lelaki dan bahwa itu berlawanan dengan Sifat Ketuhanan Nya, Rububuyya Nya.
  • Itumeniadakan Sifat Pencipta Nya dan Nama Nama Nya.
  • Dia tidak memerlukan apapun. Dia tidak memerlukan seorang isteri, Dia tidak memerlukan seorang anak. Dia tidak memerlukan seorang anak pada waktu yang lalu. Itulah sebabnya itu datang dalam bentuk kalimat masa lalu. Itu datang dalam bentuk madi  (kalimat masa lalu).
  • Dia tidak memerlukan memiliki seorang anak di waktu lalu,     lam yalid  – Dia tidak pernah punya seorang anak. Ini adalah betul betul berlawanan dengan sifat manusia. Dia mengingkari sifat memelihara anak atau bayi. Itulah, Ya Muhammad, tidaklah betul – katakan kepada mereka, beritahu mereka.
  • Wa lam y•lad . Dia tidak dilahirkan. Jika kita bilang walad, seorang anak, dia akan mengambil karakter sebagai ayahnya, sebagai ibunya, orang tuanya. Anak itu, seorang manusia, jika Allah memiliki seorang anak, dan membesarkan seorang anak, anak itu akan menjadi tuhan juga, dan itu tidak akan berakhir. Setiap orang akan melahirkan seorang anak dan itulah sebabnya Allah menciptakan kita. Dia tidak melahirkan dan tidak pula Dia dilahirkan dari seseorang yang lain. Barang siapa dilahirkan, akan dikemudian hari menikah dan melahirkan seseorang lagi. Itu terkait dengan bashr , karakter manusia, dan tidak lah mungkin menghubungkan itu kepada Karakter Ilahiyyah.
  • Karena Dia tidak pernah melahirkan atau dilahirkan. Untuk alasan itu, Dia tidaklah dalam hal apapun seperti siapapun lainnya.  Lam yakun lahu kufuwan ahad .
  • Atau lam yakun lahu kufuwan, ahad. Laysa ka-mithilihi shayyun wa Hu as-sami‘ul basir –      “Tidak satupun seperti Dia dan Dia Maha Mendengan Maha Melihat.”
  • Dia mendengar apapun yang kamu katakan, bahkan apa yang muncul dalam qalbumu.
  • Berhati hatilah, bahkan apa yang muncul dalam qalbumupun. Allah mendengar kemanapun kamu pergi        .
  • Hu sami‘un basirun . Dia mengamati kamu kemanapun kamu pergi. Kamera pengawas ini melihat kamu apapun yang kamu kerjakan dan mendengar apapun yang kamu kayakan. Allah tidak hanya mendengar suaramu, namun mendengar pula apa yang qalbumu katakan dan Dia mendengar yang darah dalam tubuhmu mengatakan “Allah” atau mengatakan lainnya.

 

Setiap tetes darah dalam dhikrullah. Lihatlah sini, bila mereka melakukan ultrasound, apa yang kedengaran?  Hu, Hu, Hu, Hu.  Perhatikan jantung membuat dhikr sendiri. Apakah itu yang kita dengar atau bukan? Jantung itu gtahu.  Ma wasi‘ani samau wa la ardi wa lakin   wasi‘ani qalbu ‘abdi al-mu’min  – Tidaklah langit Ku dapat menampung Alu, tidak pula bumi Ku, kecuali jantung/qalbu abdi Ku yang beriman yang bisa menampung Aku.”

 

  • Qalbu itu murni, itu berisi ‘arsh ar-Rahman. Namun kita membungkus nya dengan sifat buruk kita. Qalbu itu tidak pernah berhenti berdhikr, bertasbih  bagi Satu yang tidak ada satupun seperti Dia.
  • Lam yumathilahu wa lam yushakiluhu ahad . Tidak ada satu jalanpun bahwa sesuatu dapat seperti Dia, tidak mungkin.
  • Dia adalah Pencipta setiap diri.  Al-akifa. Dia tidak memerlukan sahiba.Lam yatakhida sahiban wa la walada.
  • Dia tidak mengambil teman wanita, atau pasangan wanita.
  • Kita harus menikah. Perhatikan beda antara abdi dan Sang Pencipta. Abdi mengejar kenikmatan. Aku membuatmu memerlukan hal itu. Semua kamu hidup untuk apa? Untuk kenikmatan. Makan dan minum dan banyak orang seperti itu di masa kini, ada orang yang mengambil botol (minuman keras), botol, vitamin e, vitamin a, vitamin z, aluminum, organic, organic, herbal…. Untuk apa? Untukkenikmatan mereka bukan? Apa kamu mengambil itu? Jika kamu di Pakistan kamu tidak memerlukan itu. Jika kamu berada di negara negara Arab kurma sudahlah cukup atau madu. Disini (Amerika) tidak begitu. Mereka harus memiliki obat obatan dalam lemari obatnya. Berapa banyak uang mereka ambil darimu untuk itu? Mereka menyiapkan pengobatan alternative. Mereka bilang kamu memerlukan calcium, zinc. Setiap orang untuk satu maksud, setiap pikiran manusia hanyalah untuk satu hal saja, ketika mereka akan melompat.      La haya fi al-din .

 

Tak seorang pun memikirkan tentang ‘ibadatullah, pengabdian murni. Orang saling membunuh  pada masa kini. Saling berkelahi satu negara dengan negara lainnya untuk kenikmatan dunya. Tiada hal lainnya. Nabi (s.a.w.) berkata, “ayahjazu ahadakum an tiqra al-Qur’n fee laylatun wahida?” Dapatkah siapapun diantara kalian membaca seluruh al Qur’an dalam satu malam. Fa qala ya rasul Allah man yutaqu dhalik. Itu sangat sukar. Satu ju’z memerlukan 15-20 menit untuk membaca satu ju’z. Seluruhnya perlu 600 menit atau 10 jam. Jika itu tidak mungkin untuk melakukan hal itu. An yaqra Qul hu Allahu ahad, thalatha marit. Jika dia membaca Qul hu Allahu ahad tiga kali.

 

Dan diriwayatkan bahwa Sayyidina Jibreel mendatangi Nabi (s.a.w.) ketika dia sedang dalam ghazwat tabak dan berkata, “Ya rasulAllah, Mawaiya ? bin al-muzni meninggal di Madina. Apakah kamu menghendaki saya melipat ruang untuk mu sehingga kamu dapat bershalat untuknya di Madina dalam sekejab?” Jibreel menepakkan sayapnya ke bumi dan membuat kedua ujung bumi beretemu dan Nabi (s.a.w.) shalat janaza baginya dan dibelakang beliau dua baris malaikat dan setiap baris terdiri atas 70,000 malaikat. Dan kemudian dia kembali ke Tabuk. Dan dia bertanya Jibreel, Bagaimana dia mencapai maqam seperti itu?” Jibreel berkata, ”karena cintanya kepada        Qul hu Allahu ahad . Dia membaca  ketika bepergian, datang, berdiri, duduk. Dengan itu Allah mengkaruniakan kepadanya pahala maqam tersebut.”

 

Itu disebut Surah al-Ikhlas karena surah itu mensucikan Allah     tentang tunggal Nya dan tentang tiadanya pasangan Nya. Da ikhlas  artinya itu akan menyelamatkan kamu dari hukuman. Ini adalah betul betul murni untuk ke-tunggal-an Allah swt. Dengan ini kita menyudahi Surah al-Ikhlas. Apapun yang disebutkan di sini itu adalah murni untuk akhirah , tiada yang untuk dunya. Itu disebut Surah al-Ikhlas  karena itu menyelamatkan pembacanya dari kesukaran pada saat kematian dan dari kegelapan kubur dan  dari kesukaran pada saat Hari Pengadilan. Semoga Allah mengampuni kita.

 

  • Kesempatan berikutnya kami menjelaskan tentang ‘Abd as-Samad.
  • Seseorang mendatangi Nabi (s.a.w.) dan mengeluh tentang kemiskinan. Nabi (s.a.w.) berkata,  “bila kamu memasuki rumahmu katakan salaam.”
  • Jika seseorang ada di dalamnya dan jika tidak ada, katakan kepada dirimu sendiri.
  • Dan bacalah sekali Surah al-Ikhlas.” Orang itu melakukan hal itu dan Allah menganugerahinya begitu banyak rejeki sehingga dia bisa membantu tetangganya
  • Mereka yang berada di bawah tajalli nama ‘ Hu’ adalah para muqarabin .
  • Bagi mereka tiada keberadaan (existence) kecuali Allah swt. Kemana pun mereka menghadapkan wajahnya di dunya, itu tidak berisi apa apa bagi mereka, kecuali ayat Allah. Mereka berada dalam   maq‘adi sidqin ,  maqam kesungguhan.

 

Nama nama yang mencerminkan Sifat Sifat memperlihatkan Ke-Tunggal-an Allah. Allah dan Nama Nama itu di bawah Dzat yang namanya adalah Hu.

 

 

  • Awliya  menganggap Hu adalah Nama tersembunyi Allah.
  • Kamu dapat mengatakan Hu  Allah.
  • Dan beberapa mengatakan dhikr al- Hu  – Satu Yang Tak Diketahui.
  • Itulah sebabnya terdapat tiga tingkat maqam.

 

Orang orang berada di bawah berbagai tajalli dari nama nama itu. Beberapa berada di bawah berbagai nama nama. Mereka menyediakan sebagian waktu untuk dunya, sebagian lagi untuk akhirah .Maqam ke tiga adalah ahad. Dia berkata, ‘ Qul hu Allah’ . Itu cukup bagi orang beriman. Namun para musyrikin tidak percaya, jadi Dia menambahkan penjelasan sebagai ahad. Khas. Tak tergambarkan.  ahad  menggambarkan kepada para musyrikin ‘jangan tersesat. ‘Kamu tidak dapat menyembah atau menggambarkan Hu itu secara sendiri.

 

  • Dia adalah ahad  dalam semua Sifat, dalam  Sifat Sifat Nya.
  • Itulah sebabnya mengapa Sayyidina Bilal terus menerus mengatakan, “ ahad ,  ahad .”
  • Bukan mengatakan “Allah, Allah.’ Dan kami menjelaskan makna Wahid  yang kesemuanya menunjuk/merujuk kepada Satu yang sendirian memegang  seluruh kuasa. Itu adalah sebagai peringatan kepada para musyrikin bahwa mereka telah menyimpang begitu jauh dari iman yang benar.
  • Ada mereka yang membuat dhikr dengan Hu  dan mereka yang membuat dhikr dengan Allah dan mereka yang menggunakan tahlil.
  • Mereka yang membaca dhikr dengan tahlil.

q

 

Mereka yang mencapai maqam tinggi, menggunakan Allah untuk dhikr. Itu melukiskan semua sifat sifat.Ketika mereka menggunakan level berikutnya , maka itu adalah nama (sifat) yang tak berhingga.

 

  • Dari maqam  Hu  terdapat sifat yang jumlahnya tak terhingga untuk mewakili satu di antara satu juta.
  • Mereka bilang bahwa ada anak lelaki tuhan atau mereka biasa mengatakan terdapat banyak tuhan, dan mengabdi kepada mereka semua. Mereka bahkan memberi makan para tuhan mereka itu. Saya melihatnya di jalanan di Indonesia (Bali).

 

Allah pada sisi lain adalah penyelenggara/menyediakan kebutuhan (Sustaine) segala sesuatu. Dia tidak memerlukan makan atau minum Jadi Allah swt bersabda, ‘ kana yakulani at-ta‘am ” mereka memerlukan makanan dan menggunakan kamar mandi.

 

  • Melalui nama itu as-Samad mereka mendapat ijin untuk rizq .
  • Karena Dia adalah Khas (Unique) dan Dzat Nya adalah Khas (Unique).
  • Itulah sebabnya ke-Khas-an Nya tidak dapat digambarkan.

 

 

Jadi itu menggambarkan Allah dikirimkan kepada maqam Ke-Esa-an Nya.

 

  • Itulah sebabnya di bawah as-Samad, datang semua nama/sifat

 

Dari as-Samad datanglah tiga ahli waris. Dalam setiap abad terdapat satu yang membawa manifestasi

 

‘Abd al-Ahad. ‘

 

  • Abd al-Ahad, dia membimbing orang [dalam kehidupan spiritual nya]. ‘Abd us-Samad dapat membimbing orang dan makhluk kepada kebutuhan pokoknya (sustenance).

 

 

 

Allah adalah Satu yang mengirimkan tajalliyat (jamak) ini, manifestasi agar supaya membimbing makhluk. Kami menciptakan  Nabi (s.a.w.) dapat memikul semua tajallis itu, dalam Laylat al-Isra wa al-Mi‘raj –  Perjalanan Malam dan Kenaikan. Karena tidak semua orang dapat memikul semua tajallis ini, maka dibagi bagi : satu khusus untuk sesuatu, lainnya untuk lain lagi. Itulah sebabnya kamu melihat perbedaan yang besar dari berbagai hadith yang berbeda dan apa yang dimengerti para Sahaba. Itu adalah rahmat untuk manusia. Ini adalah seperti pipa utama membawa seluruh banjir (aliran utama/besar), sedang masing masing jambangan memuat sebagian dari itu.

 

Sesuai dengan ukuran jambanganmu, Dia akan memberikanya. Dalam setiap abad terdapat ‘Abd al-Wahid, satu pergi, akan diganti dengan lainnya. ‘Abd al-Ahad. Itu adalah pemilik khas dari masa / zaman itu. Terdapat satu dalam setiap abad. Ka‘aba memiliki empat dinding, setiap sisi nya mewakili sesuatu. Tidaklah penting dinding Ka‘aba, yang penting adalah cahaya sucinya. Dimensi itu kamu tidak dapat melihat pentingnya, sangat penting. The Ka‘aba di bumi adalah cerminan dari Bayt al-Mamur di langit di mana para nabi (anbiya) shalat.

 

Terdapat kucuran cahaya dari Bayt al-Mamur ke Ka‘aba. Yang tiudak dapat kamu lihat.  Itulah yang kami sebut sebagai al-Qutb al-‘adham . Itu adalah qutb tertinggi di dunya. Khusus memegang kuasa atas semua qutb lainnya.  Qutb, qutb al-bilad, qutb al-irshad, qutb al-tasarruf, qutb al-aqtab.

 

  • The  qutb al-aqtab  menerima langsung qutb qutb itu .
  • Orang yang tinggal di selatan memerlukan sisi qutb yang menghadap selatan.
  • Orang yang tinggal di timur menghadap barat, orang yang tinggal di barat menghadap timur.
  • Jadi dimanakah qutb kelima?
  • Dia berada di hajral aswad.
  • Itu adalah maqam al-fardani , dan seorang wali selalu berada di batu hitam (black stone) itu.

 

 

Sayyidina Umar berkata kepada batu itu, “Saya mencium batu itu karena mengikuti Nabi (s.a.w.), karena saya lihat itu tidak memberi keuntungan ataupun bahaya.”

 

Sayyidina Ali berkata, “Apa yang kamu bilang? Batu itu akan membuat shahada bagimu pada Hari Pengadilan.”

 

Grandshaykh, dalam salah satu penampakan, diperlihatkan wali di belakang batu itu. Dia mencium batu itu dan melihat siapa yang berada di disitu.

 

Mawlana (Shaykh Nazim) dibawa oleh Grand Shaykh (Shaykh Dagestani) untuk mencium batu hitam itu. Diapun melihat wali itu yang berada di belakang batu itu. 1969 di Madinah Shaykh Adnan dan saya sendiri berada bersama Mawlana (Shaykh Nazim) ketika hajj dan ziyarah. Mawlana Shaykh Nazim membawa mereka berdua ke Rawdat ash-sharif. Kemudian kami keluar bersama Mawlana Shaykh dan dia belok kanan, antara dinding masjid Nabi (s.a.w.) dan beberapa meter, adalah sebuah jalan, ambil kanan. Di sana terdapat sebuah sekolah, maktabat Bukhari dari jaman Turkish. They keep a relic  there when Prophet (s) prayed with Sahaba. So they took us there and Grand Shaykh said, “I have been ordered to lead you in prayer here.” Immediately he began to pray and it was as if Mawlana Shaykh was there in front of the  Ka‘aba.

 

 

.

 

 

 

 

That is  qutbiyyat il-kubra .

That is like the  Ghawth , Sultan al- Awliya’ .

Yes so Grand Shaykh is  Sultan al- Awliya’  and Mawlana Shaykh inherited that.

.

And when he passed he said, “He has a name between Awl•y• , he is going to be called  Muayyad ad-d•n ” and we see that he says, “I am going to destroy kufr.” We wonder about that, but when All•h’s permission comes he will be given that power. He is unique in a given time and owner of that time, he has the       Qutb•yyat al-kubra . And his existence appears under  ismull•h al-•had .  Under  •had•yya .  •had  means uniqueness of All•h. That was message to unbelievers: “Don’t worship other than Me!” Ali?? nur that is given power  to defeat kufr by All•h.

 

 

His existence is unique. You cannot find any character like Mawlana Shaykh Nazim. He is special and unique. Grandshaykh was like that in his time, and grand Grandshaykh was like that, and so on back to the time of the Prophet (s).

 

  • Abd al- •had  is getting the tajall• of  W•hid , which is All•h.
  • W•hid•yya  – destroying kufr. Al-Wad•d, al-Kar•m, etc. describe that one. There is an  infinite number of names. And all creations are under the tajall• of one name.
  • Uniqueness is higher than that. ‘Abd al-W•hid – All•h has shown him a complete rainbow of Names as Attributes that He dressed him with in order to reach creation in what they need.
  • ‘ Abd us-Samad, under  samad•yya ,  is one who inherited from Prophet (s) from All•h the power of guiding people thru their lives to their sustenance and their        rizq  and their needs.
  • Abd al-•had takes them to spirituality.
  • He takes them from the level of ‘Abd al-W•hid to the level of the Prophet (s) who takes  them to the Divine Presence.

 

 

 

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Tafsir Al Ikhlash

tafsirsurahikhlas2 terjemah

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Ajaib Terbaik Adalah Taat Azas

Ramadan Series 2011, Volume 8

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani

6 August 2011    Fenton Zawiya, Michigan

A`oodhu billahi min ash-Shaytaani ‘r-rajeem. Bismillahi ‘r-Rahmaani ‘r-Raheem.

Nawaytu ‘l-arba`een, nawaytu ‘l-`itikaaf, nawaytu ‘l-khalwah, nawaytu ‘l-`uzlah,nawaytu ‘r-riyaadah, nawaytu ‘s-sulook, lillahi ta`ala fee haadha ‘l-masjid.

Ati`oollaha wa ati`oo ‘r-Rasoola wa ooli ‘l-amri minkum.

Patuhi Allah, patuhi Rasul, dan patuhi mereka yang memiliki wewenang di antara kalian. (an-Nisa’, 4:59)

As-salaamu `alaykum wa rahmatullahi wa barakaatuh. Tidak ada guru dan tidak ada murid di sini, semua adalah sama. Awliyaullah tidak membeda bedakan antara diri mereka dengan para muridnya. Karena kami belajar dari para guru/shaykh kami, tak seorangpun lebih baik dari yang lainnya.

Setiap orang membawa bawa satu arloji, kecuali mereka yang malas. Setiap orang membawa arloji agar supaya sadar waktu dan tidak duduk saja bermalas malasan, ketika waktu berlalu. Setiap orang selalu memperhatikan waktu, namun waktu tidak pernah mendengarkan mereka; itu bergerak dan kita melihatnya bergerak. Kita tidak pernah melihat waktu berbalik arah namun kita melihatnya maju terus, jadi waktu selalu memberi tahu kita di mana kita berada secara up to date (bahkan detik terakhir).

Kalimat para awliyaullah adalah lestari, tidak terkekang waktu, dan memberi kita sebuah kesadaran tentang di mana kita berada dan berapa jauh kita telah melangkah ke depan. Itulah mengapa melihat dan mendengar kalimat awliyaullah adalah sepenting melihat jam pada arloji. Beberapa mungkin mendengarnya sekali dan menghilang untuk seminggu atau dua minggu, kemudian kembali lagi dan mendengarnya untuk kedua kalinya, kemudian kembali setelah sebulan, pergi dan kembali. Itu tidak akan berhasil. Meskipun orang akan menjauh dari padanya dan biasanya berada di hadhirat shaykh, kamu harus melakukan perjalanan, Allah (swt) membuatnya mudah bagimu untuk membaca catatan tentang hal yang mereka katakan.

Sebelum Grandshaykh (q) meninggalkan dunya, dia berkata, “Ketika kamu mau berbicara kepada orang, bukalah catatan yang telah kamu buat dan bacalah itu, meskipun hanya satu atau dua kalimat, kemudian fuyoodaat, suatu arus informasi akan datang dan lidahmu akan mulai berbicara. Itu artinya bacalah apa yang telah kamu tulis, karena, sebagai contoh, jika kamu memasak makanan dan kamu menaruh panci di atas kompor dan memasaknya untuk sepuluh menit, angkatlah panci dari kompor dan kemudian kembali lagi setelah seminggu untuk melanjutkan memasak lima belas menit lagi! Jika kamu lakukan seperti itu makanan itu tidak akan masak/matang, namun kalau kamu tetap menaruhnya di atas api meskipun apinya kecil, lambat laun makanan itu akan matang dalam sehari. Misalnya, jika kamu mau memasak daging hingga lunak/empuk, taruhlah daging itu di dalam panci tanpa air, tambahkan berapapun garam dan merica yang kamu kehendaki, kemudian taruh di atas kompor dengan api terendah dan tinggalkan dia semalaman; di pagi harinya kamu akan mendapati daging itu sangat lunak dan kemudian kamu akan bilang, “Mashaa-Allah, (padahal) itu matang hanya dengan api rendah.” Jika kamu memasaknya di atas api yang tinggi, mungkin ada aroma (gurih) nya namun akan sedikit susah dikunyah, jadi semua orang suka daging yang dimasak di atas api kecil secara lambat.

Begitu juga, awliyaullah lebih menyenangi bila muridnya menghadiri naseeha, advis mereka dan untuk tenang tenang saja. Mereka mengatakan, ajalla al-karamaat dawaam at-tawfeeq, “Keajaiban terbaik adalah dengan taat azas atas apa yang kamu kerjakan.” Keajaiban hanya untuk anbiya, namun karamah, sebuah karya yang diberkati yang memberikan buah yang cepat melalui barakah shaykh, adalah seperti sebuah keajaiban. Untuk menjadi taat azas, kita tidak melakukan dhikr 1,500 kali per hari kemudian mereka berhenti untuk dua hari dan mulai lagi. Beberapa orang melakukan 5,000 dhikr dan kemudian mereka berhenti. Adalah lebih baik untuk tidak berhenti namun tetap pada level terendah, yaitu 1,500 kali membaca “Allah, Allah”.

Terus menerus  berjama’ah (melalui dhikr) seperti itu adalah seperti sebuah keajaiban pada kami; mereka itu bukanlah majelis yang mati! Jika kita tidak melakukannya terus menerus kita tidak mendapat manfa’at. Hari hari ini, pelestarian majelis seperti itu tersedia melalui Internet, dengan membaca catatanmu, dan dengan mendengarkan rekaman shaykh untuk menangkap apa yang telah dia katakan. Itu adalah yang penting, maka masakan itu akan matang dengan perlahan lahan, dan dengan matangnya makanan itu, kamu akan melihat perubahan! Jangan katakan, “Saya tidak melihat apa apa.” Kamu belum betul betul matang; kamu harus terus menerus dimasak dengan api kecil, sampai kamu melihat perubahan itu. Melalui ucapan awliyaullah, semoga Allah memberkahi ruhaniah Grandshaykh dan memberi Mawlana Shaykh umur panjang, mereka mengatakan, “Keajaiban terbaik adalah pelestarian apa yang kamu lakukan secara berhasil,” yang artinya lanjutkan apa yang kamu kerjakan.

Suatu waktu Grandshaykh (q) berkata, “Jika seseorang mengambil wudhu, shalat dua raka`at, dan ketika dia merasa mengantuk atau lelah, ambillah wudhu baru  dan shalat dua raka`at lagi, dia akan merasa segar. Apabila dia merasa mengantuk atau lelah, jika dilakukan terus menerus untuk empat puluh hari dia mengambil wudhu baru dan shalat dua raka`at dan kemudian lakukan apa yang perlu dia lakukan, dia tidak akan pernah memerlukan tidur lagi.” Jika kamu betul betul mengikuti prosedur itu terus menerus, maka pada saat itu kamu tidak akan pernah memerlukan bentuk tidur yang manapun, kamu akan mulai merasa terjaga, namun kamu jangan berhenti melakukan wudhu dan shalat dua raka`at, jika tidak kamu akan kembali ke kondisi semula. Itulah sebabnya dalam banyak ‘itikaf dia tidak tidur, dan itikafnya tidak seperti ‘itikaf kita yang hanya empat puluh hari, namun selama setahun atau lima tahun. Dia berkata, “Saya tidak lagi memerlukan tidur atau makan.”

Terdapat beberapa orang yang tidak makan makanan namun Allah memberi mereka hidup. Ini tidaklah seperti seseorang yang melakukan mogok makan, protes kepada pemerintah dengan melaparkan diri mereka. Awliyaullah tidak kelaparan karena Allah (swt) memberi mereka makanan surgawi terkait dengan apa yang mereka lakukan terus menerus. Mereka sibuk dengan awraad dan bacaan al Qur’an, dan mereka tetap memenuhi waktu mereka dengan cinta (kepada) Allah dan cinta (kepada) Nabi s.a.w..

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ

Maa khalaqta al-jinna wa ’l-ins illa li-y`abudoon. maa ureedu minhum min rizqin wa maa ureedu an yut`imoon.

Dan Aku tidak menciptakan jinn dan insan kecuali mereka harus mengabdi (beribadah) kepada Ku (saja). Aku tidak mencari kebutuhan dari mereka, Aku juga tidak minta mereka memberi Ku makan. (Adh-Dhariyaat, 51:56, 57)

Illa li-y`abudoon, Dia tidak mengatakan y`abudoon sehari ibadah dan berhenti pada hari berikutnya, namun ibadah berkesinambungan. Itu adalah kata kerja penegasan bentuk mendatang yang artinya tetap berlangsung. Maa ureedu minhum min rizqin, “Dan Aku tidak minta mereka untuk menyediakan rizq untuk diri mereka; Aku menyediakannya bagi mereka.”

Bentuk pemenuhan kebutuhan yang bagaimana yang akan diberikan Allah (swt) kepada mereka? Dari pemahaman umum itu artinya Allah akan mengirim orang untuk menolong mereka itu, namun interpretasi spiritual adalah bahwa Allah akan memberi mereka rezeki (rizq)  sebagaimana Dia menyediakan nya untuk Perawan Maryam. Dia memberikan itu sebagai sebuah contoh – bukan sebagai seorang Nabi namun  dalam diri orang biasa dan dalam diri seorang wanita – karena di dalam masyarakat itu lelaki dipandang berderajat lebih tinggi daripada wanita. Allah (swt) memberikan makanan surgawi kepada seseorang yang bukan nabi juga bukan seorang lelaki.

كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِندَهَا رِزْقاً قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَـذَا

 قَالَتْ هُوَ مِنْ عِندِ اللّهِ إنَّ اللّهَ يَرْزُقُ مَن يَشَاء بِغَيْرِ حِسَابٍ

Kullamaa dakhala `alayha zakariyya al-mihraaba wajada `indaha rizqa. qaala yaa maryamu anna laki haadha qaalat huwa min `indillaahi inna Allaha yarzuqu man yashaa’u bi-ghayri hisaab.

Bilamanapun dia (Zakariyya a.s.) memasuki tempat badahnya (Perawan Maryam), dia (Zakaria) mendapati dia (Perawan Maryam) bersama hidangannya. Dia (Zakaria)  berkata. “Wahai Maria! dari manakah kamu mendapatkan ini semua?” Dia (Perawan Maryam) menjawab, “Dari Allah, karena Allah menyediakan kebutuhan kepada siapapun yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.”  (Aali-`Imraan, 3:37)

Bentuk rizq yang bagaimana? Setiap kali Zakariyya (q) mengunjungi Maryam (r) terdapat berbagai macam buah, bukan hanya pisang atau apel yang biasa, meskipun dari narasi itu tidak diketahui rizq surgawi macam apa yang dimaksud, namun hal itu membuat Zakariyya datang lagi dan berdoa untuk mendapatkan seorang anak. Grandshaykh dan Mawlana Shaykh Nazim (q) berkata bahwa di masa Sayyidina al-Mahdi (a) orang tidak memerlukan makanan, bahwa satu gigitan (suap) untuk setiap empat puluh hari sudah cukup untuk membuat mereka bergerak dengan tenaga penuh! Satu gigitan (suap) itu adalah untuk memperlihatkan bahwa kamu dalam keadaan membutuhkan, untuk membuat kamu tetap rendah hati, bukan untuk membuat kamu seperti malaikat. Jadi sebagai manusia kita membutuhkan, namun Allah akan membuat kamu kenyang selama empat puluh hari dengan satu gigitan (suap)!

Apakah kamu akan menerima satu gigitan makanan itu pada selembar piring? Bagaimana kamu menerima itu? Itu dibawa kepada mu oleh para malaikat. Kamu tidak perlu melakukan apapun, para malaikat akan muncul dan meletakkan makanan itu ke mulut kamu, seperti ketika kamu menambahkan bahan bakar ke sebuah mobil agar dapat tetap berjalan, namun di sini satu gigitan (suap) akan membuat kamu bertenaga selama empat puluh hari. Setiap gigitan (suap) memiliki satu malaikat khusus yang membuat kamu bergerak dalam waktu antara dua gigitan (suap). Setiap gigitan berbeda, tergantung waktu, saat (kesempatan?) dan lingkungan. Masing masing orang memiliki gigitan yang berbeda yang akan membuatnya tetap bergerak tanpa lelah, karena pada saat itu Allah memerintahkan Bumi dan Langit untuk memberi tenaga mereka dan kamu akan bergerak seperti seorang pegulat yang kuat yang tidak pernah lelah. Subhaan Allah, nutrisi apa yang diberikan oleh satu gigitan (suap) itu!

Di Indonesia, di pegunungan kamu bisa melihat orang lelaki dan perempuan yang sudah tua namun masih kuat, bekerja di sawah, dan mereka hanya makan satu gigitan (suap) nasi yang dibungkus daun pisang (lontong). Jadi bagaimana para ahli gizi menyatakan bahwa untuk mempertahankan kesehatan kita memerlukan satu diet harian 2000 kalori dan harus makan vitamin dan supplemen? Jaman ini semua orang membeli berbotol besar barang barang itu dan mereka makan sepuluh pil dari sini, lima kapsul dari sana, dan pabrik obat menghasilkan lebih banyak uang. (Rumah) Itu telah menjadi semacam apotik obat obatan alternatif. Para petani padi miskin itu makan sesuap nasi di pagi hari dan mereka berotot, berkulit sawo matang, dan bekerja keras.

Apa yang ada di dalam sesuap nasi? Barakah! Dengan barakah kamu mendapatkan segala sesuatu nya dan ketika kamu betul betul memahami makna barakah, Allah akan membuka segalanya untuk kamu, ketika kamu mendekati Dia melalui Nabi (s.a.w.) dan kamu tahu Allah adalah Satu yang memberkati kamu. Kamu mendekati Nabi (s.a.w.) melalui guru kalian dan kemudian setiap hari mereka membuka rahasia baru kepada kalian. Awliyaullah memahami itu dan kemudian rahasia baru terbuka buat jantung mereka. Apakah awliyaullah mempersiapkan catatan sebelum mereka berbicara (memberikan sohbet)? Saya tidak pernah melihat Grandshaykh (q) menulis apapun kecuali sekali : dia membaca al Qur’an dan seterusnya,  namun tidak pernah menulis. Sebelum waktu (jaman) saya dia meminta Mawlana Shaykh Nazim untuk menulis, dan di waktu saya dia menggunakan saya untuk menulis surat menyurat dan hal hal seperti itu. Satu satunya saat dia menulis adalah menulis taweez, ruqya, yang digunakan setiap orang. Dia diperintahkan untuk memegang sebatang pena dan dengan perintah Nabi (s.a.w.) tangannya menulis taweez itu. Kamu dapat melihat tulisan tangannya.

Jadi awliyaullah tidak mempersiapkan, informasinya datang begitu saja. Dia yang cerdas percaya apa yang mereka ucapkan. Dia yang menghendaki rahasia terbuka ke dalam jantungnya apa yang mereka katakan sebagaimana dikatakan Imam al-Junayd (r), at-tasdeequ bi `ilmina hadha wilaya, “Mempercayai apa yang kami katakan adalah satu tingkat kewalian.” Janganlah menolak atau mempertanyakan; ambil saja itu sebagaimana adanya. Sebagaimana Grandshaykh (q) berkata, sesuap makanan adalah cukup untuk empat puluh hari; jangan mempertanyakan karena pikiran kamu terlalu banyak menganalisa dan mungkin menolak. Kita memiliki contoh orang pegunungan tersebut yang makan satu suap nasi dibungkus selembar daun pisang.

Jadi kesinambungan adalah penting, dan untuk membaca al Qur’an adalah sangat muhabbab, sangat disukai, namun janganlah membaca seluruhnya sekali dan kemudian berhenti. Adalah lebih bagus membaca satu juz, sepertiga puluh, setiap hari atau kamu membaca sekali satu surat atau bahkan satu halaman. Ajall al-karamaat dawaam at-tawfeeq, “Jangan melakukan sesuatu yang tidak dapat kamu lakukan pada hari berikutnya.” Lakukan apa yang dapat kamu lakukan setiap hari. Bacalah satu halaman atau satu baris. Bukalah al Qur’an dan pandanglah saja huruf huruf (characters) Arabic di halaman itu Jika kamu tidak tahu bagaimana membaca nya, maka sentuhkan jari jarimu ke kata kata itu karena terdapat cahaya (nur) di huruf huruf itu yang tidak terdapat di dalam buka manapun lainnya! Kamu boleh membaca jutaan buku dalam huruf Arabic, namun jika itu bukan hadith atau al Qur’an, itu tidak memiliki cahaya akhirah. Setiap kata di dalam al Qur’an berkilau dengan cahaya yang akan mengangkat dan mengangkat kamu dan keterkaitan kamu dengan akhirah. Jangan biarkan Shaytan menipu kamu! Dia selalu mengejar kita dan dia tidak pernah lelah dan sangat cerdas. Dia (selalu) mencambuk bala tentaranya, “Teruskan!” Mereka adalah musuh ummat manusia:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ

wa laqad karamna Bani Adam.

Kami telah memuliakan bani Adam. (al-‘Israa, 17:70)

Kita memecahkan kepala Shaytan dengan membaca al Qur’an! Bahkan jika kamu menyentuhkan jarimu pada ayat yang berbeda beda, Allah akan sukacita denganmu karena kamu tidak tahu bagaimana membacanya tetapi kamu berusaha sebaik baiknya untuk belajar. Mereka yang tahu, harus membaca dan jika mereka melewatkan satu hari , maka mereka harus menggantinya keseokan harinya, jadi jika kamu (biasanya) membacxa satu halaman, maka bacalah dua halaman, atau jika kamu biasa membaca satu juz, maka bacalah dua juz. Awliyaullah juga mengatakan jika kamu tidak dapat membaca al Qur’an maka bacalah seratus qul huw allahu ahad, atau tiga al ikhlaas, karena thalathat al-Ikhlas ta`dil al-qur’an – “membaca tiga kali Surat al-Ikhlaas sama dengan membaca al Qur’an.” Jadi dalam awraad kamu, jika Jika kamu membaca seratus kali “qul huw Allahu ahad” itu seperti  membaca al Qur’an tiga puluh kali.

Lihatlah bagaimana Allah (swt) sangat murah hati kepada abdi Nya! Bahkan jika kamu membaca satu juz itu adalah lebih baik untuk menambahkan seratus atau tiga bacaan Surat al-Ikhlaas, karena terdapat sebuah rahasia besar di dalam ke Esaan Allah  dalam surah itu : “Katakan! Ini adalah al Qur’an Ku, Kata Kata Ku, Yang Sejatinya tidak dapat diketahui, Itu adalah Allah, dan Satu dengan Sembilan puluh Sembilan Nama dan Busana Indah adalah Khas (Unique)!”

Surat al-Ikhlaas memperlihatkan Ke Esa an Allah, jadi awliyaullah menarik rahasia mereka dari surat ini. Itulah sebabnya mereka memiliki banyak ungkapan/petikan yang darinya mereka memberi nasihat kepada para pengikut mereka. Salah satu petikan itu adalah, maa yata`abad al-muta`abidoon bihaa, “Para abdi tidak beribadah kecuali untuk mencari cinta awliyaullah.” Berapa banyak mereka telah beribadah sangatlah dinilai tinggi oleh Allah (swt), namun lebih dari itu, apa yang membuat ibadah mereka lebih tinggi adalah cinta mereka kepada shaykh mereka atau kepada awliyaullah. Itu artinya sebanyak cinta mu kepada pembimbing (mentor) mu. Shaykhmu, gurumu, pembimbingmu, dan sesuai dengan cinta yang kamu perlihatkan dan maqam (level) shaykh itu, kamu akan ditinggikan secepat sebuah rocket!

Li anna mahabbata awliyaaihi daleelan `ala mahabbatih, “Karena mencintai wali Nya adalah bukti cinta (mu) kepada Nya,” sebagaimana disebutkan dalam al Qur’an:

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاء اللّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ

alaa inna awliyaullahi laa khawfun `alayhim wa laa hum yahzanoon.

Perhatikan! Sesungguhnya pada para shahabat Allah tidak ada rasa takut, tidak juga mereka bersedih. (Yunus,10:62)

Mencintai Wali adalah bukti cinta kepada Allah dan Nabi Nya (s.a.w.). Sebanyak cintamu kepada shaykh mu, itu membawa mu kepada mencintai Allah (swt) dan mencintai Nabi (s.a.w.). Shaykh mu membimbingmu kepada jalan Nabi (s.a.w.), yang adalah jalan Shari`ah dan ma`rifah, namun yang pertama adalah Shari`ah. Ituah sebabnya, Allah (swt) berkata, “Jika kamu sungguh sungguh mencintai Allah, yaa Muhammad, katakan pada mereka, jika mereka mencintai Allah, mereka harus mengikuti jejak kaki mu.” Dan siapakah yang membimbingmu kepada jejak kaki Nabi (s.a.w.)? Mereka adalah para shaykh mu. Jadi kalau kamu mencintai mereka dan Nabi Nya, maka kamu mencintai Allah (swt). Jika kamu berbaik sangka terhadap mereka, jika kamu terbiasa dan berbahagia dengan jalan mereka, maka kamu akan mencapai level wali, sebagai mana disebut, “Siapapun yang menerima dan percaya kepada mereka akan menjadi seorang wali dan mencapai maqam kewalian.” Janganlah ragu atau kamu akan berjalan di tempat!

Kata kata mutiara penting lainnya : pertahankan kebersamaan dengan orang agamis, khususnya orang baik (khayr), disukai dan bajik, karena duduk dan bergaul dengan  abdi Allah yang shalih dan shiddiq adalah diterima dan dicintai dan di dalamnya terdapat banyak keuntungan, `ajilan wa ajillah, beberapa yang akan langsung dikaruniakan dan beberapa yang akan ditangguhkan sampai kemudian, karena kamu maju di jalan mereka. Karena syarat untuk menerima keuntungan adalah dengan bergaul dengan mereka, bersama mereka, dengar apa yang mereka katakan karena kamu akan dicintai, dan kemudian, sebagaimana dikatakan Nabi (s.a.w.):

ولا يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه، فإذا أحببته كنت سمعه الذي يسمع به وبصره الذي يبصر به، ويده التي يبطش بها ورجله التي يمشي بها،

Wa laa yazaala `abdee yataqarabu ilayya bi’ n-nawaafil hatta uhibbah. Fa idha ahbaabtahu kuntu sama`uhulladhee yasma`u bihi wa basarahulladhee yubsiru bihi, wa yadahulladhee yabtishu bihaa wa rijlahullatee yamshee bihaa.

Abdi Ku tiada henti mendekati Ku melalui ibadah sunnah sampai Aku mencintai dia. Ketika Aku mencintai dia, Aku akan menjadi telinga yang dengannya dia mendengar, menjadi matanya yang dengannya dia melihat, menjadi tangannya yang dengannya dia berbuat, dan menjadi kakinya yang dengannya dia berjalan (dan versi lain memasukkan, “dan menjadi lidahnya yang dengannya dia berbicara.”) (Hadeeth Qudsee, Bukhari).

Maka Allah akan memberimu pendengaran yang berbeda dari orang lain : Dia akan menjadi pendengaran dan penglihatan mu,

Kemudian Allah yaj`al waizhan min qalbik, “Ketika Allah melihatmu meminta dan duduk bersama dengan gurumu, Allah akan membuat suatu bimbingan di dalam jantungmu, memberimu nasihat.” Allah akan membuat suatu bimbingan dari dalam jantungmu, yang artinya kamu akan terbimbing dalam jalan kamu. Makananmu akan matang secara perlahan dan menjadi lunak. Jadi itulah sebabnya sangatlah mendasar untuk tidak menjadi “sehari praktek dan sehari meninggalkan praktek”; taat asas adalah yang terbaik.  Jika kamu tidak dapat menghadiri majelis, bukalah catatanmu dan bacalah. Itulah sebabnya pertahankan untuk selalu memiliki buku catatan untuk ditulisi dan kemudian kamu buka itu sewaktu waktu dan membacanya dan merenunginya.

Mereka menyewa ribuan orang dengan berbagai bahasa untuk meneliti (riset) dan menganalisa apa yang dimaksud Shakespeare dalam kisah tulisannya, “Macbeth,” padahal itu hanya dari khayalannya saja. Ketika kamu menganalisa catatan ajaran awliyaullah, bukankah itu lebih baik? Namun kita tersesat di dalam kancah Facebook dan YouTube. Kemarin ketika kami memberi khutbah Jumu`ah melawan penggunaan Facebook dan YouTube, seorang wanita bilang kepada kami dia menulis satu kertas kerja tentang Imam Ghazali dan meng-Googled tulisannya itu, namun ketika dia membuka halaman itu, (dan ternyata) pada setiap sisi terdapat pornografi! Semoga Allah (swt) melindungi kita.

Wa min Allahi ‘t-tawfeeq, bi hurmati ‘l-habeeb, bi hurmati ‘l-Fatihah.

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Tujuh Mata Air Hakikat

 

 

Audhu billahi min ash-Shaytan ir-rajeem. Bismillah ir-rahman ir- raheem. Dastoor ya sayyidi madad. Nawaytul arba`een, nawaytul ‘itikaf, nawaytul khalwa, nawaytul `uzla, nawatul riyaada, nawaytus suluk, fee hadhal masjid lillahi ta`ala al-`adheem.

Oleh Shaykh Muhammad Hisham Kabbani

posting 23 Oktober 2011

 

Al-hal adalah keadaan batin seseorang, yang menetapkan pada level apa dia akan diangkat dan bagaimana dia mengalami inspirasi melalui jantungnya. Sebagian besarnya, al-hal adalah hasil dari amal nya. Al-feyd adalah pancaran lahir atau cahaya surgawi yang semburat yang langsung dikirimkan oleh Allah, yang turun kepada orang itu tanpa pengaruh atau gangguan/interferensi dari nya. Kedua hal (al-hal dan al-feyd) itu menimbulkan perasaan yang berbeda di dalam diri orang itu.

Grandshaykh AbdAllah mengatakan sifat/karakter yang berbeda itu datang kepada seseorang dari tujuh mata air yang berbeda pula, masing masingnya mengalir dari sebuah sumber khas. Pengalaman orang dari berbagai kondisi yang berbeda dipengaruhi oleh jenis khas malaikat yang ditugaskan Allah untuk menolong mereka dari satu level batin yang satu ke level batin lainnya.

Level pertama mata air surgawi di antara tujuh mata air itu diselenggarakan oleh malaikat yang diciptakan khusus dan ditugaskan oleh Allah untuk memberi inspirasi tindakan kepada para abdi Nya. Para malaikat itu mengirimkan pikiran, inspirasi dan kekuatan, yang kesemuanya merubah orang itu sedemikian rupa sehingga nampak secara lahiriyah.

Para malaikat ini pada dasarnya mengarahkan dia melalui inspirasi. Dia mengalami keadaan bahagia dan ekstasi /sukacita yang terkembang (expanded), atau (sebaliknya) keadaan  bingung dan tidak bahagia yang menyesakkan. Pada level ini, dia akan berada dalam salah satu keadaan : melegakan atau menyesakkan. Tergantung kepada bagaimana jantungnya mengolah inspirasi itu yang menggerak kan dirinya ke dalam keadaan yang berbeda beda itu, dia akan tertawa, menangis, atau berada dalam keadaan bingung. Juga, bagaimana jantungnya mengolah inspirasi itu ditentukan oleh amalnya.

Jika dia melakukan suatu kesalahan dia mungkin menangis atau bertobat, jika dia melakukan sesuatu kebaikan dia mungkin berbahagia atau puas bahwa Allah sukacita dengan dirinya. Jika dia berbaik hati dalam setiap peristiwa, mashaAllah, melakukan dhikr,bahagia, menerima tajalli Allah, dia akan berada dalam keadaan ekstasi, tersenyum, atau menangis karena cintanya kepada Allah atau takutnya kepada Nya.

Kesemua macam perasaan itu diinspirasikan oleh para malaikat itu, dan disebut sebagai al-hal: keadaan batin yang dialami oleh abdi Allah. Segala sesuatu di muka bumi ini dipelihara dan diawasi oleh malaikat yang ditugaskan Allah secara khusus dan bertanggung jawab.

Mata air kedua yang mencapai abdi Allah diselenggarakan oleh malaikat jenis lain, yang akan membuatnya menyadari apa yang telah dicapainya, agar supaya dapat maju ke satu level spiritual yang lebih tinggi. Itulah sebabnya beberapa orang mendapati dirinya berada dalam situasi yang buruk yang sangat mereka sesali, dan mendadak situasi itu menuju ke apa yang kami sebut faraj, suatu bukaan/pintu positif yang terbuka baginya dalam kehidupannya, yang membawa kebahagiaan kepada mereka.

Jenis (level) manusia yang akan kita tempati tergantung kepada `amal baik dan buruk kita, kepada posisi baik dan buruk yang kita ambil dalam kehidupan, dan pengaruh baik dan buruk yang ada di sekeliling kita.

Ini adalah dasar dari ilmu/sains psikologi (`amal al-nafs), yang mengungkapkan psikologi dan kepribadian seseorang. Namun, studi seperti itu tidak dapat menetap kan tingkat spiritual seseorang. Sedang mata air surgawi pertama dan kedua diterap kan kepada masing masing orang oleh para malaikat.

Mata air ketiga adalah lain lagi. Pada Hari Perjanjian, ketika semua nya masih dalam bentuk atom di Hadhirat Ilahiyyah, ketika Allah menciptakan sejatinya dirimu, rahasia dirimu, dzat mu, Dia juga menugaskan kamu dibawah bimbingan murshid mu, yang membimbing kamu melalui keadaan batin mu, menjadi peran yang akan kamu tempati di kehidupan ini, dan dalam cara cara untuk memperbaiki dirimu.

Sang murshid tahu apa yang diinspirasikan para malaikat ke dalam jantungmu, membimbingmu untuk menghasilkan yang terbaik, dan menghapuskan kebingungan mu. Ketika al-feyd turun kepadamu, sang murshid menyalurkannya sedemikian rupa yang akan membuatmu mencapai level spiritual yang lebih tinggi.

Jadi, untuk keuntungan si murid, sang murshid membuat keseimbangan antara al-hal dan al-feyd, keadaan batin dan sekaligus pancaran surgawi. Meskipun terdapat ratusan Murshid at-Tabarruk, Murshid at-Tazkiyyah, dan Murshid at-Tasfiyya, dalam setiap abad hanya ada seorang Murshid at-Tarbiyya: seseorang yang membawa Bendera Irshad (bimbingan), yaitu Sultan Al Awliya Muhammad Nazim al Haqqani [Q].

Dia adalah sumber, mata air yang mengalir dari jantung ilmu pengetahuan. Dia menerima bimbingan langsung dari Nabi {s.a.w.} dan menyebarkannya ke semua awliya lainnya. Sementara terdapat 124,000 macam awliya pada setiap saat, namun hanya terdapat satu orang saja pewaris Nabi {s.a.w.}.

Dia memiliki kemampuan dan izin untuk meningkatkan awliya lainnya, dan mereka (selanjutnya) dapat menaikkan kita semua. Ketika seorang Murshid at-Tarbiyya meninggalkan dunia ini, dia menyerahkan warisan yang didapatnya dari Nabi {s.a.w.} kepada wali lainnya. Dengan cara ini, pada setiap saat hanya terdapat seorang Murshid at-Tarbiyya di dunia ini. Allah memberi izin kepada Nabi – dan dari Nabi kepada murshid itu – untuk menyambung kepada semua awliya lainnya, bahkan yang berada di alam hayyat al-Barzakh pun.

Untuk mendapat manfaat dari para awliya itu, Murshid at-Tarbiyya mencacah (identifies) kemampuan dan kekhususan apa yang mereka miliki masing masing, yang diambilnya dari mereka dan meneruskannya kepada Murshid at-Tabarruk, Murshid at-Tazkiyyah, Murshid at- Tasfiyya, dan kepada para pengikutnya.

Namun, hanya mereka yang mencapai tingkat murid di Thariqat Naqshbandi, yang mencapai level bimbingan tertinggi dan yang adalah pencari/pejalan pada jalan itu yang bisa menyerap manfaat dari awliya yang berada di alam Barzakh, dan itupun hanya melalui murshid itu.

Untuk benar benar menyambung dengan dan mendapat manfaat dari ruh yang ada di alam kubur, seseorang harus sudah menaklukkan egonya, dan tujuan satu satunya haruslah berada di Hadhirat Ilahiyyah. Orang orang khusus ini berada di bawah bimbingan Murshid at-Tazkiyya dan mereka telah mencapai level keberadaan yang peka di dunia ini.

Rata rata manusia tidak bisa mendapat manfaat dari mereka yang sudah terkubur (di alam Barzakh), karena mereka tidak memiliki koneksi itu, dan dengan demikian tidak dapat menerima inspirasi atau bimbingan dari awliya yang telah berpindah ke alam berikutnya, yang sudah tidak lagi menggunakan kekuatan fisik mereka. Namun, orang kebanyakan bisa mendapat manfaat besar dari awliya, karena mereka memahami kehidupan melalui hakikat fisik. Sedemikian sehingga, awliya hidup bisa menghubungi mereka pada kedua level fisik dan spiritual.

Ketika seseorang mencari jalan Allah di thariqat manapun di antara empat puluh satu thariqat, dan tidak mencapai level wali tingkat tinggi, perintah akan datang kepadanya untuk menyempurnakan ‘itikafnya di dalam alam kubur. Jangka waktu ‘itikaf itu akan berkisar antara empat puluh hari sampai dengan lima atau tujuh tahun, dan itu adalah 70,000 kali lebih sulit dari pada ‘itikaf di dunia ini.

Seseorang yang menyempurnakan ‘itikafnya di dunia ini dan yang telah mencapai keadaan keberadaan peka di dunia ini, akan berada di level spiritual yang lebih tinggi dibanding dengan mereka yang mencapainya setelah berada di alam kubur.

Mata air ketiga akan datang kepada kita, apabila kita tetap menjaga perintah Murshid at- Tazkiyya, mengikuti petunjuknya, mengikuti jejak kaki Sayyidina Muhammad {s.a.w.}, mengerjakan dzikr (award) harian khusus yang ditetapkan, mempersembahkan dhikr-ullah dan semua shalat pada waktunya, melaksanakan semua sunnah Nabi. Apabila adab lahir ini dicapai, jantung kita mulai bergerak, seperti seseorang yang bernapas dengan cepat.

Jantungnya berdegup dan murid itu akan “terbakar api ” (kiasan). Pada level ini, mata air ke empat akan mencapainya dan dia mulai menerima barakah surgawi, karena dia menerima dari malaikat yang dari mata air pertama dan kedua, dari Murshid at-Tazkiyya, mengikuti awrad dan sunnah, menghasilkan rahmat dan barakah Allah turun kepadanya.

Kini jantungnya mulai berdegup, dan mata air kelima mendatanginya. Setiap Kamis dan Senin, dalam jama’ah awliya-ullah, setiap murshid secara spiritual membeberkan pengikutnya dan amal mereka kepada Nabi Muhammad {s.a.w.}. Para murid yang jantungnya berdegup akan dibawa ke hadhirat Nabi s.a.w., itu dilakukan hanya dengan murshid itu menyatakan, “Ya Sayyidi, ini adalah murid ku dari antara ummat mu. Dia mengikuti perintahmu dan mencari Sirat al-Mustaqeem, mengikuti jejak kaki para awliya.”

Allah mengatakan dalam al Qur`an: Awalnya mereka beriman, kemudian mereka tidak beriman, kemudian mereka benar benar jatuh. Kufra (tidak beriman) di sini tidak menunjuk kepada keadaan kufr, namun hanya sekedar berbuat dosa. Summa amanu di sini berarti dia mulai berbuat (amal) baik, dan kemudian mengikuti jejak langkah Shaytan, kemudian benar benar jatuh.

Dia adalah seorang Muslim, namun masih berbuat dosa. Pada posisi ini, Murshid at- Tazkiyya berada dalam konsentrasi penuh pada jantung para pengikutnya, menyiap kan mereka dan membentuk mereka  agar supaya mereka tidak jatuh lagi ke dalam perbuatan tercela. Itulah sebabnya dia menghadirkan mereka ke hadhirat Nabi {s.a.w.} setiap Kamis dan Senin di dalam majelis para awliya, di mana Nabi s.a.w. memeriksa setiap murshid apa yang mereka capai dengan para murid mereka.

Jadi ketika Nabi {s.a.w.} mengamati para murid mengikuti sunnahnya, meniti jalan para awliya-ullah, dia menjadi sukacita banget dan menerima amal murid itu dan mulai mengarahkan pandangannya kepada murid itu.

Dari sukacita Nabi s.a.w., al- feyd – sukacita Allah, barakah, cahaya ilahiyyah – mulai mendatangi murid itu. Itulah sebabnya Muslims mengatakan, Unzur Alaina Ya Rusul-allah  “Ya Rasul-allah, pandanglah kami, berilah kami satu pandangan, satu lirikan! Kami berada di bawah tajalli mu, dengarkan permohonan kami, du`a kami, karena kami memujimu, dan kami tenggelam di dalam kesukaran yang kami mohon engkau mengangkatnya dari kami.”

Ketika Nabi {s.a.w.} bersuka cita dengan murid shaykh itu, dia akan memandang kepada orang itu, mengangkatnya, dan barakah Allah mendatangi murid itu. Ketika dia diangkat, jantung murid itu akan berdegup dengan kegembiraan, berguling , berputar di dalam cinta penuh Allah.

Kemudian Allah meng-inspirasi murid itu untuk mencapai mata air ke enam. Pada level ini, ketika murid itu mulai membaca al Qur`an – kalimat azali Allah – Allah akan menugaskan sebuah tajalli untuk setiap huruf, kata dan ayat, yang dengan diam diam memasuki sasarannya, jantung murid itu, di mana itu membuatnya berubah.

Tanpa tajalli itu tidak akan ada perubahan. Seseorang dapat membaca al Qur`an siang dan malam, dan memaknai (interpret) apa yang dibacanya sesuai dengan pemahamannya yang terbatas, mengambil kebijakan/kearifan darinya, dan bahkan menjadi tercerahkan. Namun seseorang tidak dapat memiliki sebuah visi kecuali tajalli menyertai pembacaan itu, yang mencapai kamu ketika Nabi menjadi bersuka cita terhadap kamu, yang menghasilkan Allah membuka tajalli itu.

Setelah seseorang memasuki enam level yang berbeda beda ini, Allah memberi mereka kesempatan untuk mencapai mata air ke tujuh, melaluinya Dia membuka rahasia jati diri kelahiran mereka.

 

Mata Air Kesucian

Nabi {s.a.w.} mengatakan: seorang bayi terlahir dalam keadaan suci. Nabi {s.a.w.} juga mengatakan jika saluran (pipa) abdi itu masih tersambung ke (titik) asalnya, dengan sumber surgawinya, Allah membuka baginya “Mata Air Kesucian “, fitrat al-Islam, mata air ke tujuh. Saluran ini adalah seperti suatu rangkaian pipa perumahan (plumbing), air (akan) mengalir langsung dari sumbernya sampai ke kran, yang menyambung murid itu dengan alam al-arwah.

Rangkaian pipa itu selalu ada di sana. Hakikat khas kita datang dari jati diri/essensi (dhat) kita, atom yang diciptakan Allah pada Hari Perjanjian, hari alastu bi rabbikum qalu bala, ketika Allah bertanya kepada masing masing kita, “Apakah Aku bukan Rabb kalian dan kamu adalah abdi Ku?” dan kita menjawab, “Betul!” Sejak hari itu, ibadullah, abdi Allah, berada dalam suatu keadaan peribadatan sampai ruhaniyyah mereka mencapai rahim ibu mereka.

Sejak saat itu setiap ruh tetap dalam keadaan peribadatan berkesinambungan, tanpa berhenti. Pada peristiwa surgawi demikian itu, Allah menetapkan kewajiban  bagi setiap ruh, dan para malaikat yang membantu mereka dalam peribadatan mereka itu. Dalam keadaan peribadatan seperti itu, tiap ruhaniyyah terlibat dalam peribadatan murni kepada Rabb mereka, tanpa shirk.

Allah  berkuasa untuk memilih siapapun untuk menaikkan siapapun dan mengkaru niakan al-feyd  Nya kepada mereka. Dalam setiap saat, Allah menghiasi abdi Nya dengan anwar al-nabi  yang pertama kali datang kepada Nabi {s.a.w.}, dan dari Nabi {s.a.w.} kepada anbiya dan awliya, dan dari awliya kepada siapapun lainnya.

Sebagaimana Sayyidina Adam (a.s.) dihiasi oleh Allah  di Surga, dalam setiap saat Allah menghiasi abdi Nya yang berada di dalam Hadhirat Ilahiyyah Nya dengan 70,000 tajalli yang berbeda beda. Surga adalah selalu menjadi keberadaan hidup, di mana kesakitan dan  bahaya tidak hadir.

Semua abdi Allah, setiap ruh, hidup di Surga sebelum mereka dilahirkan ke dunia ini. Di sana Allah memahkotai mereka dengan kegembiraan surgawi, dan dengan Sifat al- Jamal. Mereka secara murni sempurna berada dalam kegembiraan (ecstasy) itu, dan dari dalam keadaan itu mereka mendambakan cinta dan keindahan tertinggi, dari Sifat (attribute) al-Jamal lillahi ta’ala itu.

Siapapun yang terlahir ke dunia awalnya terlahir di Surga. Ketika tiba saatnya, dia muncul ke dunia melalui rahim ibunya. Inilah sebabnya setiap bayi yang dilahirkan menangis keras pada saat dilahirkan, akibat dari kesakitan dan kejutan karena terpisah dari hadhirat suci. Pada saat kelahiran ke dalam dunia ini, setiap bayi memanjatkan du`a, memohon kepada Allah untuk mengizinkan mereka kembali ke tempat suci itu.

Beberapa bayi langsung meninggal setelah dilahirkan, karena Allah menerima du’a mereka dan mengambil kembali mereka! Tidak seorang bayipun datang ke dunia tertawa atau tersenyum; mereka menangis/menjerit! Hanya Nabi {s.a.w.} tidak menangis ketika dia terlahir ke dunia; dia langsung bergumam “ummati ummati”, “ummat ku, ummat ku,” dan  bersujud, memohon Allah untuk melindungi ummah nya.

Sayyidina Isa (a.s.) tidak menangis ketika datang ke dunia; dia berkata, inni abdullah!  Bayi menangis ketika mereka dilahirkan, karena mereka takut kini mereka tergiur untuk melakukan dosa dan akan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Nabi {s.a.w.} mengatakan bahwa ketika seorang bayi dilahirkan, mungkin orang tua nya akan membuat dirinya menjadi seorang Yahudi, seorang Kristen atau seorang Zoroastrian, sedang kenyataannya bayi itu sudah menjadi Muslim, karena `ilm surgawi yang telah diinstalasi dan peribadatan (yang sudah dilakukan di Surga- penterjemah) tidak dapat digelapkan. Jadi jika bayi itu datang ke dunya dan mulai menyimpang dari apa yang telah diajarkan sebelumnya di Surga, dia menjadi terhalang oleh tirai dari kekuatan surgawi.

Jika orang tua mereka tidak dalam keadaan melaksanakan peribadatan murni dan shalat, jika mereka tersentuh oleh berbagai karakter buruk, dia akan terhalang dari Hakikat Ilahiyyah. Pada saat kelahiran dia masih bisa melihat, dia masih memiliki sambungan yang bening ke Surga, namun ketika dia terselimuti maka tampakan (visi) itu terselimuti sempurna.

Namun, dengan Rahmat Nya, Allah menyimpan semua barakah dan cahaya yang terkait dengan ibadah bayi itu sewaktu di Surga! Jadi ketika dia mencapai usia wajib (ibadah) atau cukup umur, Allah mengembalikan kepadanya keuntungan dari semua ibadahnya yang dilakukannya dalam kehidupan spiritualnya di Hadhirat Ilahiyyah.

Orang itu bisa saja berbuat dosa dan bertaubat, berdosa lagi dan bartaubat lagi, namun dia masih akan mendapat kredit dari ibadah di awal keberadaannya itu. Itulah sebabnya ketika seseorang diberi (itu semua – penterjemah) kembali ke jantungnya, mereka bahagia. Kadang kadang kamu merasa begitu bahagia dan kamu tidak tahu mengapa. Tidak ada penjelasan atau alasan, hanya kebahagiaan. Kamu merasa ringan, tanpa masalah.

Allah tahu kamu adalah seorang abdi yang bersungguh sungguh, dan Dia membuka lebih banyak buat kamu dari hadhirat surgawi itu, ketika mengisi jantungmu, maka kamu mendapati dirimu  berada dalam keadaan terpuaskan. Tentang hal ini Allah berkata, ala bi dhikr-ullahi tatmainnul qulub, “Di dalam mengingat Allah jantung menemukan kepuasan, santai/tenang!”

Tubuh manusia adalah suatu bentuk fisik yang tunduk kepada hukum alam/fisika. Tubuh itu rapat (berat jenisnya) dan gaya tarik bumi menariknya ke bawah, membuatnya tetap menapak bumi. Jika kita menggunakan contoh suatu silinder metal terisi penuh dengan gas helium, silinder itu tetap berat. Namun, jika balon diisi dengan gas helium, balon akan naik ke udara. Ketika Allah mengembalikan semua dhikr awal kamu, itu akan memenuhi dirimu seperti helium memenuhi sebuah balon, dan kamu merasa ringan. Ketika shalat dan dhikr kamu yang lalu itu masuk ke dalam penjara tubuh fisik kamu dan Allah melapas energi suci itu, itu akan membuat kamu seimbang antara dua dunia itu  dan membuat kamu bahagia.

Dengan perintah Allah kepada Nabi {s.a.w.}, dan dari Nabi {s.a.w.} kepada awliya-ullah, Murshid at-Tarbiyya, yang bertanggung jawab untuk mu, energi itu dilepas kan. Itu menaikkan kamu dan merubah sistem kamu, secara sempurna membebas kan kamu dari segala macam depresi, dan kamu menjadi santai. Kamu tersambung dengan hakikatmu sebelumnya. Karena kalau hanya dirimu sendiri dengan kegelap an dunia ini, kamu tidak dapat melihat, dan kini kamu akan mulai melihat hal hal yang orang lain tidak dapat melihatnya.

Mengikuti jalan Sayyidina Jalaluddin Rumi [q], para murid thariqat Mevlavi berlatih sebuah bentuk putaran yang mendorong mereka kepada keadaan ekstasi murni seperti itu, ketika Allah melepaskan kekuatan suci itu kepada Nabi {s.a.w.}, dan Nabi {s.a.w.} melepaskan itu kepada awliya-ullah. Ini adalah yang dialami Sayyidina Jalaluddin Rumi. Ketika kamu naik (mumbul), kamu tidak mengikuti garis lurus – kamu berputar (seperti spiral)!

Ketika satu helicopter naik baling balingnya berputar, menimbulkan gaya yang mendorongnya meninggalkan tanah. Dia bukannya menari, dia berputar mengikuti energi (suci) itu yang mengangkatnya naik. Hakikat putaran spiral itu adalah seperti elektron berputar mengelilingi inti (nucleus) atom. Ketika Allah melepaskan energi itu, Jalaluddin Rumi berputar sekitar jati dirinya (essence), hakikatnya.

Itu menyambungnya langsung ke hakikat dirinya di Hadhirat Ilahiyyah (dari Hari Perjanjian), dan dia terkejut atas apa yang dikaruniakan Allah kepadanya. Ketika Muslims melakukan hajj, kita melakukan tawaf seperti halnya elektron2 itu mengelilingi inti (nucleus) nya, dengan arah melawan arah jarum jam. Ini yang membuat kita berputar (pada poros), agar supaya kita naik ke surga.

Terdapat level tawaf spiritual yang lebih tinggi di atas setiap orang. Awliya- ullah melakukan tawaf (secara spiritual) langsung di atas manusia (rata rata), dan para malaikat melakukan tawaf di atas awliya-ullah, naik langsung ke Baytul Ma’mur, sampai ke Singgasana Ilahiyyah.

Segala sesuatu harus berputar (pada poros) mengelilingi hakikatnya. Hakikat atom itu terletak pada inti (nucleus) nya. Elektron itu, energinya, berlarian mengejar jati  dirinya. Kita harus berputar pada poros di sekitar hakikat kita.

Jika kita membuka jati diri dan energi kita, dan membuat energi kita mengelilingi jati diri kita, pada saat itu kita dapat mengangkat tubuh (fisik) kita – seperti halnya gas yang dimampatkan dilepas ke dalam sebuah balloon. Dalam keadaan ini kita dapat terbang. Ini adalah kekuatan ilmu ke tujuh : “mata air kesucian ” Islam, yang dikaruniakan Allah kepada setiap orang. Dapat ditambahkan, Allah mengkaruniai mukminin dengan semua keuntungan yang dapat dicapai orang kafir melalui cahaya spiritual mereka dari Hari Perjanjian, sampai hari kedatangan ke dunya.

Itulah sebabnya para mukminin diangkat begitu cepat. Sebagai contoh, jika kita harus bilang, “Ini ada seratus uang emas yang harus dibagikan di antara mereka yang membutuhkannya.” Jika terdapat seratus orang yang memerlukan koin itu, setiap orang akan mendapat satu koin. Jika hanya sepuluh orang memerlukan koin itu, masing masing akan mendapat sepuluh koin, dan begitu seterusnya.

Setiap orang yang beriman dan patuh kepada Allah dan Rasul (s.a.w), dan mengikuti risalah Ilahiyyah dan Jalan (tariqat) shaykh mereka, khususnya Murshid at-Tarbiyya, akan mewarisi barakah besar yang dikaruniakan Allah kepada setiap orang pada Hari Perjanjian, dan keuntungan setiap ibadahnya orang kafir dari Hari Perjanjian sampai mereka datang ke dunya.

Lebih lanjut, pada masa ini ketika korupsi begitu meluas, para mukminin mendapat kan lebih banyak keuntungan. Nabi (s.a.w) berkata, min ahiya sunnati inda fasadi ummati falahu ajrun sab’eena shaheed aw miya shaheed, “Ketika semua orang meninggalkan sunnahku, akan terjadi korupsi ke seluruh ummatku, Allah akan memberikan kepada seseorang yang menghidupkan satu sunnahku ganjaran setara dengan ganjaran tujuh puluh shuhada atau seratus shuhada.” Ini berlaku untuk setiap raka’at shalat sunnah, memakai cincin, memelihara jenggot, menggunakan miswak, dan sesungguhnya untuk sunnah Nabi (s.a.w.) yang manapun.

Karena orang orang itu tidak mematuhi janji mereka kepada Allah S.W.T.  untuk beriman dan beribadah hanya kepada Nya, Allah telah memilih/menetapkan untuk memberikan keuntungan ibadah mereka di masa dulu kepada mereka yang memenuhi janji mereka.

Itulah sebabnya besarnya ajrha (ganjaran) naik di hari akhir seperti sekarang ini. Jadi itu adalah ringkasan dari mata air ke tujuh, yang dapat dicapai dengan berputar mengelilingi jati dirimu. Ketika al-feyd mencapai kamu, kamu akan mengalami setiap saat dalam keadaan ekstasi berkesinambungan yang tidak akan terputus sampai kamu meninggalkan dunia ini.

Kamu akan mencapai level yang dimaksud Allah, mutu qabla anta mu’tu, “Matilah (atasi egomu) sebelum kamu mati.” Nabi (s.a.w.) berkata, “Jika kamu mau melihat seorang yang meninggal sebelum dia mati, lihatlah kepada Abu Bakr as-Siddiq.”

Itu artinya Sayyidina Abu Bakr (r) mampu menguasai ego nya dan ke-empat empat musuhnya. Jadi jika seseorang mengikuti jejak langkah Sayyidina Abu Bakr as-Siddiq, itu akan membimbing kamu mencapai Jalan (Thariqat) Sayyidina Muhammad {s.a.w.}, yang mengarahkan kepada keadaan ekstasi itu, di mana seorang berputar mengelilingi jati dirinya dengan suatu kecepatan tinggi yang akan menyebabkan dia untuk terangkat (mengapung)! Ketika mereka mengapung, tiada yang akan menghambat mereka untuk naik lebih tinggi.

Seperti suatu tornado: itu terus menerus berputar sampai dia tidak dapat lagi dilihat, karena dia terangkat dari bumi. Dalam level yang lebih tinggi ini seorang menciptakan suatu lingkungan ideal yang tidak terdapat gesekan (friction), tiada kegelapan, tiada hasrat buruk, tiada dosa, dan tiada dunya. Dalam lingkungan itu seorang akan melanjutkan jalan ke Hadhirat Ilahiyyah yang dikehendaki Allah agar mereka capai. Inilah sebabnya awliya-ullah tidak mengejar dunya, karena itu tidak bernilai buat mereka.

Mereka sibuk dengan kebahagiaan surgawi itu, keadaan ekstasi itu yang berkesinam bungan yang meningkat tiap saat, yang di dalam dunia (pikiran) mereka, mereka menafikan (mengecilkan) semua urusan dunya menjadi nol. Banyak orang mencerca para dervish (para pejalan) yang duduk di pojok membaca dhikr-ullah, karena mereka tidak tahu kebahagiaan apa yang dialami para dervish itu! Jika saja secercah sinar yang terbuka dari Cahaya Ilahiyyah yang mendarat ke para dervish itu , itu akan menenggelamkan semua orang di dunya ini dengan ekstasi itu.

Jadi mengapa para dervish itu mau meninggalkan ekstasi itu untuk (beralih ke) dunya? Sasaran setiap mu’min dan Muslim adalah berbuat (`amal) baik, sehingga ketika dia menghadap Allah di Hari Pengadilan, Allah suka cita dengan nya.

Para dervish itu telah mencapai level seperti itu! Semoga Allah mengampuni kita, dan menolong kita memahami Jalan para awliya-ullah. Janganlah menjadi penjara dari batin kamu sendiri, dari ego dan empat musuhmu – nafs, dunya, hawa, Shaytan – jadilah seorang yang bebas! Jika tidak begitu, kamu akan menjadi pecundang di Hari Pengadilan.

Jangan lah minta untuk menjadi seorang yatim! Sepanjang hidup mereka, para yatim mengalami nar al- hasra, api yang membakar dari dalam, yang disebabkan oleh kehilangan sesuatu yang begitu berharga. Jangan sampai kalian kehilangan ayah pertamamu, murshidmu!

Jangan sampai menjadi yatim tanpa seorang murshid! Carilah pembimbingmu! Carilah Murshid at-Tarbiyya, yang dapat mengangkat kamu. Janganlah membuat salah dengan mengira kamu tidak memerlukan siapapun, bahwa kamu bisa maju terus langsung tanpa seorang pembimbing. Pertahankan ayah spiritual yang membimbing kamu kepada Allah. Murshid at- Tarbiyya akan membuat kamu bahagia di dunia ini dan di akhirat, menarikmu ke maqam ilahiyyah mu melalui bimbingan nya.

Jika kamu mengikuti petunjuknya, kamu akan menarik al-feyd al-ilahi, pancaran dari barakah Allah. Wa min Allah at-Tawfiq. Dan sukses adalah bersama Allah Ta ‘Ala.<<

Bihurmat al habeeb wa bi hurmat al-Fatiha. Demi Yang Paling Disayang, demi dia kita baca al Fatiha Surat Pembuka al Qur`an.

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

DUDUK PERKARANYA atau Duduknya Perkara 2

Sutono b Joyosuparto

29 September 2011                                                                         

 

Jadi prinsip dasar Islam bukan dinyatakan dengan membangun negara Islam, atau dengan menerapkan ekonomi Islam, atau dengan memelihara ilmu Islam.

Prinsip Islam berwujud dan dikembangkan dengan membangun sebuah Lingkaran Keluarga yang sesuai dengan bentuk dan SOP (standard operating procedures atau tugas dan kewajiban masing masing anggota Lingkaran Keluarga itu), yang telah di-desain oleh Allah.

The Set Up

Tidak diciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada Allah. Ini adalah yang harus dijadikan prioritas pertama dalam setiap pengambilan keputusan dalam kegiatan kita sehari hari.

Manusia (bani Adam) diturunkan ke bumi sebagai Khalifah Allah untuk memakmurkan bumi. Ini adalah prioritas kedua dalam setiap pengambilan keputusan dalam kegiatan kita sehari hari.

Itu tadi adalah necessary conditions atau syarat yang diperlukan dalam setiap kegiatan. Tetapi itu tidaklah cuckup. Masih ada hal hal yang masuk ke dalam kategoti sufficient conditions (syarat yang mencukupi), yang sangat bervariasi bentuk nya, tergantung kita berada di mana dan apa yang akan kita kerjakan.

Kedalam set up yang seperti itulah dimasukkan unsur dan fungsi iblis, yang tugas utamanya adalah membujuk dan menggoda manusia (bani Adam) agar mengabaikan kedua syarat yang diperlukan (necessary conditions) tersebut di atas, dan agar kita hanya memperhatikan syarat yang mencukupi, yang umumnya bersifat pribadi, dalam tindakan kita.

Bila kita tergoda oleh iblis, maka kita akan menjadi calon bala tentara iblis. Bila kita sudah berbuat jahat dan mengajak orang lain berbuat jahat, maka kita sudah menjadi bala tentara iblis.

Bila manusia dibiarkan apa adanya dengan kelalaian-nya, maka iblkis di antara manusia seperti pemburu berada di Kebun Binatang, tinggal menembaki saja, tidak perlu lagi memburu. Semua akan diseretnya masuk neraka.

Maka dari waktu ke waktu Allah menurunkan/mengutus Nabi/Rasul Nya untuk mengingatkan manusia tentang berita baik dan peringatan mengenai hidup mereka di bumi ini. Terakhir Allah bahkan mengirim Rasul Pungkasan yang membawa desain Nya berupa sebuah lingkaran kekuasaan yang khusus yang bisa menjadi benteng (sanctuary, tempat perlindungan) terhadap godaan iblis, yaitu Lingkaran (Kekuasaan) Keluarga. Kawasannya adalah rumah yang dihuni keluarga itu, apapun status rumah itu : sewa, kontrak atau hak milik. Apapun kualitas fisiknya : gubuk atau rumah mewah.

Agar pasangan lelaki dan perempuan yang tinggal dalam rumah itu layak berada disitu sebagai unsur/elemen dari Lingkaran Kekuasaan Keluarga, maka mereka harus melalui sebuah ritual yang disebut akad nikah, dimana ayah mempelai wanita menyerahkan hidup (dunia akhirat) selanjutnya anak nya itu kepada lelaki pilihannya. Dan dalam peristiwa akad nikah itu Allah mengirimkan ribuan malaikat unuk menjadi saksi, sebagai wujud bagaimana besar perhatian Allah terhadap peristiwa itu (transfer tanggung jawab). Kalau Allah saja menganggap demikian, maka selayaknya kita harus lebih lebih lagi menilai tinggi makna sebuah perkawinan. Tidak ada cerita Allah mengirim malaikat untuk menjadi saksi ketika seorang calon presiden dilantik MPR.

Dan lelaki menjadi Kepala Keluarga, yang bertanggung jawab sepenuhnya terhadap kesejahteraan seisi rumah itu. Lelaki juga bertanggung jawab memelihara dan menjaga keselamatan keadaan fisik rumah. Tugas dan kewajiban suami isteri dinyatakan secara rinci dalam al Qur’an. Intinya seluruh penghuni Lingkaran Keluarga itu hendaknya tunduk dan patuh kepada Kepala Keluarga (dalam bahasa Arab, Kepala Keluarga itu dkisebut juga sebagai rabb).

Lingkaran Keluarga Pengantin Baru

Sebetulnya apa yang ada di dalam Lingkaran Keluarga pengantin baru, sehingga Allah mem-fungsikannya sebagai benteng terhadap gangguan Iblis? Kalau pasangan pengantin baru itu graduate atau tamat pendidikan dalam keluarga asalnya masing masing dan menjadi shalihin dan shaliha, ya tidak menjadi soal. Otomatis Lingkaran Keluarga yang terbentuk oleh mereka akan menjadi benteng yang tangguh.

Tetapi karena tentang urusan shalihin dan shalihat ini umumnya hanya dikenal istilah nya tanpa diketahui apa persisnya maknanya, maka dapat dikatakan bahwa kemung kinan adanya pasangan suami isteri yang siap tempur (terhadap serbuan iblis) seperti itu adalah kecil sekali.

Lalu apa ciri khas pengantin baru? Mereka tidak egois, mereka tidak lagi hanya memikir kan kepentingan diri sendiri, seperti ketika mereka belum menikah. Bahkan kini mereka bersedia berkorban demi pasangannya itu. Rasa/sikap seperti ini adalah embryo atau cikal bakal dari sikap ikhlash. Istilah ikhlash diterapkan kepada sikap seseorang yang mengerjakan sesuatu tanpa mengharapkan imbalan. Biasanya itu ditambahi dengan kalimat : hanya mengharapkan ridha (suka cita) Allah terhadap yang dilakukannya itu.

Biasanya orang melakukan sesuatu jika itu ada manfa’at buat dirinya. Ini yang namanya egois. Dalam halnya pengantin baru, mereka melakukan sesuatu bukan buat dirinya. Cukup asal itu membuat pasangannya suka cita. Bukankah itu sudah setengah langkah untuk menjadi ikhlash? Jika dua orang (berjama’ah) setengah langkah menuju ikhlash, kalau diamplifikasi dilapatgandakan (27 X ?) cukup untuk membentengi Lingkaran Keluarga pengantin baru itu terhadap gangguan iblis.

Iblis membanggakan dirinya sebagai abdi Allah yang taat. Hanya karena diperintah untuk bersujud kepada makhluq lain yang dianggap lebih rendah dari dirinya, maka membangkanglah dia. Ya hanya sekali itu. Selain itu dia tetap taat kepada Allah. Tentu saja Allah tahu tentang ini. Kalau tidak, mustahil Allah memberi batasan kepada iblis agar tidak mengganggu abdi Nya yang mukhlashin, orang orang yang ikhlash  (QS 38:83). Ini agar manusia tahu apa yang harus dilakukan, atau apa syaratnya, agar bisa bertahan terhadap gangguan iblis.

Namun lewat dari bulan madu pasangan suami isteri itu umumnya mulai kembali ke kelakuan “normal” mereka, bila mereka lalai dan tidak mau melanjutkan gelar pelajaran cinta Allah sebagaimana dimaksud dengan ayat 24-25 Surat Ibrahim. Mereka hendaknya segera berusaha sekuatnya merubah cinta kepada pasangan menjadi cinta kepada Allah, minimal sebagai bentuk syukur telah dijodohkan dengan pasangan/soul mate mereka. Perubahan itu paling mudah pada masa bulan madu tersebut, sebelum timbul persoalan antara keduanya. Kalau ini sudah dicapai, maka menjadi ikhlash itu adalah otomatis.

Membesarkan Anak

Semua orang tahu kita hendaknya membesarkan anak anak yang shalih dan shaliha. Tapi hal itu tidak pernah diperinci sebetulnya bagaimana atau siapakah shalihin dan shaliha itu? Mereka itu adalah orang orang yang qalbunya tidak pernah berhenti menyebut Allah. Karena perintah dzikir itu adalah sebanyak banyaknya, bukan sebagus bagusnya, artinya tidak penting pemahaman tentang apa yang disebutnya itu. Dikatakan bahwa dua orang yang sama sama menyebut Allah isi yang sampai ke qalbu mereka tidaklah sama.

Manusia adalah makhluk kebiasaan. Kalau anak sejak kecil dibiasakan untuk menyebut kan Allah di dalam hatinya, maka itu akan menjadi kebiasaan yang baik.

Tetapi rupanya waktu sudah sangat sempit. Maka dengan cinta Nabi s.a.w. yang sangat besar kepada ummatnya, malalui Mawlana dibukakan rahasia kalimat :” Athi`ullaha wa athi`u ‘r-Rasuula wa uuli ‘l-amri minkum” (QS 4:59). Sesungguhnya untuk mencapai level yang diperlukan agar bisa menyambut datangnya Imam Mahdi, seseorang hendaknya melakukan 500 perintah (maamuurat), kewajiban yang Allah perintahkan kepada kita dan ada 800 manhiyyaat, larangan yang harus kita tinggalkan, setiap harinya.

Nah dengan membaca kalimat tersebut (QS 4:59) 100 X setiap hari, seolah olah kita telah memenuhi ketentuan tersebut !!! Selamat berjuang.  Allah ‘Alam.

Alhamdulillah.

Astaghfirullah.

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

DUDUK PERKARANYA atau Duduknya Perkara

Sutono b Joyosuparto

15 September 2011

 

Keluarga

Seorang kepala keluarga akan berbuat apapun, bahkan korupsi atau perbuatan buruk lainnya, agar bisa memenuhi kebutuhan keluarganya, tanpa menyadari bahwa dia dengan begitu membawa api neraka ke rumahnya. Tapi jaman sekarang ini, tanpa kita melakukan hal burukpun, bahan neraka itu datang sendiri ke dalam rumah. Hah?

Para kakek kita dulu tidak menghadapi situasi seperti yang kita rasakan sekarang. Mereka umumnya masih menikmati sepenuhnya fungsi sebagai kepala keluarga. Dan apakah sesungguhnya fungsi kepala keluarga?

Lingkaran Al Haqq

Untuk memahami fungsi itu, perlu kita membahas sedikit suatu cara untuk menjelaskan makna kuasa Allah, yang secara rumit diungkapkan oleh Ibnu Arabi dalam bentuk lingkaran, The Sufi Enneagram.

Suatu bentuk lingkaran tidak mungkin ada, jika tidak ada titik pusatnya. Hal ini bisa kita amati ketika kita menggambar lingkaran dengan jangka. Kita tetapkan dulu Titik Pusat nya, baru Keliling nya itu dibuat. Artinya titik titik di garis keliling itu tidak mungkin berwujud tanpa adanya Titik Pusat tersebut terlebih dulu. Titik Pusat inilah al Haqqu dan seluruh titik titik  di garis keliling adalah makhluq ciptaan Nya. Setiap titik memiliki hukum yang ditetapkan Pusat baginya, yang harus dijalaninya agar bisa tetap menjadi titik di garis Keliling itu. Jadi The Original Circle (Lingkaran Al Haqqu) menggambarkan hubungan yang khas yang menunjukkan posisi The Center (Pusat) terhadap The Perimeter (Keliling), atau sebaliknya The Perimeter terhadap The Center. Dan garis lurus yang menghubungkan Titik di Pinggiran Itu ke Pusat Itu adalah Jalan atau Thariqat yang harus dilaluinya untuk kembali kepada Pusat Itu. Pusat berkuasa penuh atas Keliling dan Keliling bergantung penuh kepada Pusat tentang keberadaan mereka, kehidupan mereka dan apapun yang terkait dengan mereka.

Lingkaran Turunan : Lingkaran Kebaikan/Lingkaran Rahmat

Allah menugaskan Nabi Muhammad s.a.w. sebagai Rahmat untuk seluruh Alam Semesta. Dengan sendirinya beliau s.a.w diberi wewenang untuk membentuk Lingkaran Rahmat (Kebaikan) guna menampung ummatnya agar dapat membimbing mereka kepada jalan lurus thariqat kembali ke Hadhirat Allah dengan selamat dan gemilang. Anggota Keliling dari Lingkaran Rahmat ini adalah mereka yang sudah dapat menghadirkan pengikutnya ke Hadhirat Nabi s.a.w.. Secara populer mereka disebut Majelis Dzikir.

 

Lingkaran Tiruan

Allah mengispirasikan bentuk hubungan seperti ini kepada manusia dalam mewujukan sebuah organisasi kekuasaan atas wilayah, kekuasaan atas harta/modal dan kekuasaan atas ilmu  untuk diterapkan dalam kehidupan keseharian mereka. Ada beberapa bentuk Lingkaran Tiruan.  Ini Lingkaran buatan manusia.

  1. Lingkaran Kekuasaan Atas Wilayah : Raja dan Kerajaannya, Penyelenggara Negara dengan Negara Demokrasi nya (meliputi juga Wilayah Propinsi, Kabupaten, Wilayah Kota, Kecamatan, Kelurahan, RW, RT).
  2. Lingkaran Kekuasaan Atas Harta : ini  adalah Lingkaran Tiruan yang dimodifikasi. Dalam hal ini Pusat nya boleh jadi Pemilik Perusahaan yang berada di luar Lingkaran Tiruan itu. Pemilik Perusahaan menunjuk para profesional  untuk melakukan tugas Pusat mewakili para Pemilik Perusahaan.
  3. Lingkaran Kekuasaan Atas Ilmu atau Jasa Soft Ware: berbagai institusi pendidikan, organisasi penelitian, juga Yayasan, Organisasi Politik, dan  Organisasi Tanpa Bentuk.

Lingkaran Khas/Khusus

Lingkaran yang dimaksud disini  adalah keluarga, yang didesain Allah khusus agar pasangan suami isteri dapat membina keluarga untuk membesarkan anak anak shalih dan shaliha. Dianggap (asumsi) calon pasangan tersebut telah dibesarkan orang tua mereka masing masing secara benar, sehingga mereka sendiri pun adalah shalih dan shaliha. Jadi diharapkan Keluarga adalah satuan Lingkaran Terkecil sebagai benteng yang tidak dapat disentuh iblis. Iblis memang diijinkan Allah menggoda dan menyeret manusia bersamanya ke neraka, kecuali orang mukhlish, yang tidak boleh disentuhnya. Lingkaran Khas ini diharapkan menjadi tempat perlindungan anak anak manusia yang tumbuh menjadi dewasa terhadap gangguan dan serbuan iblis.

Lingkaran Setan

Tentu saja iblis tahu tentang konsep Lingkaran ini, baik Lingkaran Sejati di mana Pusat nya adalah al Haqqu dan Keliling adalah ciptaan, maupun berbagai bentuk Lingkaran Lingkaran Tiruan itu. Tentu saja untuk tujuan fungsi dia sebagai musuh manusia, iblis tahu bahwa untuk menguasai manusia secara cepat dan efektif harus dikuasai dulu berbagai bentuk Pusat Tiruan yang ada. Maka dia pun membentuk Lingkaran Setan, satu lingkaran khayal/imaginer yang mengorganisir bala tentaranya melalui pengaruh pada pikiran mereka. Bala tentara iblis adalah orang orang yang duduk di Pusat yang pikiran/qalbu  nya sudah dikuasai iblis. Dari sinilah budaya korupsi dan bentuk kejahatan lainnya mudah meraja lela, di semua lapisan sosial masyarakat.

Siapakah Iblis Itu?

Sebelum Nabi Adam a.s. diciptakan, iblis sudah malang melintang di alam semesta ini sebagai satu makhluq yang paling menonjol menunjukkan kesetiaannya dalam mengabdi kepada Allah.Tidak ada satu titikpun  di alam semesta ini yang belum dipakai iblis sujud kepada Allah. Sungguh tinggi tingkat tawhidnya dan tinggi kemampuannya.

Kemudian Allah menciptakan Nabi Adam a.s., lalu Dia S.W.T. mengumpulkan seluruh ciptaan Nya untuk mendengar dan menyaksikan  pernyataan Nya bahwa Dia berniat mengangkat Nabi Adam a.s. dan keturunannya sebagai wakil Nya untuk mengelola dan memakmurkan bumi. Untuk menghormati putusan Nya itu, Allah menyuruh seluruh hadirin untuk bersujud kepada Nabi Adam a.s.

Semua sujud, kecuali iblis. Mendengar perintah sujud itu, iblis pun segera melakukan evaluasi terhadap Nabi Adam a.s., termasuk memasuki raganya dan tidak menemukan apapun yang istimewa. Melihat iblis membangkang terhadap perintah Nya, Allah bertanya kepada iblis: “Kamu membangkang terhadap perintah Ku?” Iblis menjawab : ”Dia tidak pantas saya sujudi. Dia hanya dibuat dari tanah liat, sedang saya Engkau ciptakan dari api. Jadi saya lebih mulia dari padanya.”

Maka dikutuk Allah dan diusirlah iblis keluar dari surga. Namun sebelum keluar surga iblis masih sempat membujuk Nabi Adam a.s., sehingga dia ketularan penyakit iblis, membangkang. Membangkang terhadap perintah Allah untuk tidak mendekati pohon Tin. Maka Nabi Adam a.s. dan isterinya Siti Hawa pun diusir dari surga. Berbeda dari iblis yang tidak mohon ampun kepada Allah atas dosa pembangkangannya, maka Nabi Adam a.s. memohon ampun dan dia sampai di bumi dalam keadaan bebas dari dosa, karena telah diterima permohonan ampunnya.

Tambahan Info Tentang Iblis

Rupanya setelah dikutuk dan diusir dari surga, iblis juga dipenjara dalam tubuh seekor ular di dalam Gua Tsur. Rupanya tugas menggoda manusia diserahkan kepada anak buah atau bala tentaranya yang sudah terbentuk sebelum dia dikutuk.

Ketika Nabi Muhammad s.a.w. dan shabatnya, Abubakar Shiddiq r.a.,  hijrah dari Mekah ke Madinah, mereka mengambil jalan memutar untuk mengelabui para pengejarnya. Menjelang malam mereka melihat sebuah gua, Gua Tsur, maka mereka memilih untuk memasuki gua itu dan beristirahat. Sebagai seorang yang sudah berpengalaman melakukan perjalanan di gurun, Abubakar r.a. tahu bahwa gua seperti itu mungkin dihuni ular. Maka untuk melindungi Nabi nya, dia mendahului masuk. Dan ketika dilihatnya ada lubang seperti sarang ular, maka ditaruhnya salah satu tumitnya di mulut lubang itu, baru dia mengundang Nabi s.a.w. masuk.

Dia lalu duduk sambil tetap menaruh tumit di lubang ular. Karena kelelahan Nabi s.a.w. tertidur sambil meletakkan kepalanya di pangkuan Abubakar r.a. Rupanya memang itu lubang ular, karena sesaat kemjudian Abubakar merasa ada gigitan ular terhadap tumitnya itu. Saking sakitnya, air matanya meleleh keluar tanpa berani mengganggu tidur Nabi s.a.w.. Karena merasa ada tetesan air yang jatuh ke pipinya, yaitu air mata Abubakar r.a., Nabi s.a.w. pun terbangun. Ketika melihat shahabatnya itu meringis menahan sakit dan terlihat tumit dan betisnya mulai membengkak karena racun ular, maka diangkatlah tumit Abubakar dari lubang itu.

Lalu terlihatlah ada seekor ular sedang menanamkan taringnya ke tumit shahabatnya itu. Ditepisnya kepala ular itu sambil menghardik :”Beraninya kamu menggigit shahabatku ini, sedangkan api neraka saja tak berani menyentuh dia.” Eh rupanya ular itu mengerti bahasa manusia dan menjawab :”Salah dia mengapa dia menghalangi pandanganku. Saya sudah menunggu untuk melihat wajahmu selama ribuan tahun, karena saya telah mendengar tentang engkau, eh ketika saatnya tiba, dia malah menutupi pandangan ku.”

Nabi berkata:“Baiklah, ini wajahku. Pandanglah sepuasmu!” Sesaat kemudian, setelah puas memandang wajah Nabi s.a.w., ular itu menjadi lunglai lalu mati. Dan keluarlah iblis dari penjara badan ular itu, sambil berkata di dalam hati:”Nah kalau ini memang pantas saya bersujud kepadanya.” Dan diapun menjadi memahami fungsinya sebagai sparring partner bani Adam a.s..

Allah memang menghendaki bani Adam yang mengarungi laut kehidupan harus bisa mengatasi godaan iblis untuk memperagakan kesetiannya kepada Nya. Seperti layaknya pelatih petinju yang melatih jagonya dengan memilih sparring partner yang tangguh, agar jagonya memang betul jagoan yang bisa dibanggakan. Atas pengakuannya (tentang Nabi s.a.w.) itu, Allah S.W.T. menambah fasilitas iblis : setiap kali ada manusia yang bisa dia bujuk untuk mengikuti jalannya, maka maqam negatif nya meningkat, demikian juga ukuran dirinya. Maka dia bertekad untuk mencari mangsa sebanyak banyaknya, supaya badannya menjadi begitu besar sampai mengisi seluruh ruang neraka, sehingga tidak ada lagi ruang tersisa di neraka bagi ummat Muhammad s.a.w., manusia yang dia hormati itu. That is what you think! Allah ‘Alam.

Program Iblis : Merusak Keluarga

Artinya kita harus menerima dan siap menghadapi kehadiran Jaman Jahiliyyah Kedua ini, yang lebih buruk dari Jaman Jahiliyyah Pertama, yaitu masa ketika kelahiran Nabi Muhammad s.a.w. Jaman sekarang ini manusia sudah membuka rahasia senjata pemusnah massal, sehingga bisikan iblis bisa saja mengakibatkan matinya jutaan manusia sekaligus.

Semua Pusat Lingkaran Kekuasaan Tiruan di atas umumnya dipegang oleh orang yang sudah berkeluarga. Dan menghadapi serbuan iblis itu, benteng pertahanan terakhir manusia terletak di keluarga. Kewajiban ayah sebagai kepala keluarga (rabb dalam bahasa Arab) berkewajiban mempertahankan keutuhan wilayah lingkarannya, termasuk semua isinya. Memenuhi kebutuhan Kelilingnya, yaitu : isteri, anak anak dan penghuni rumah tangga lainnya. Memberikan rasa aman dan keselamatan bagi Keliling nya. Membesarkan anak sehingga tumbuh menjadi anak yang mengerti “mendengar dan patuh” kepada Pusat/Ayah/Rabb, sebuah kesetiaan yang mutlak. Dan selanjutnya memberinya pengertian tentang Rabb al Alamin. Serta mengalihkan sikap “mendengar dan patuh” kepada Rabb/Ayah menjadi “mendengar dan patuh” kepada Rabb al Alamin.

  • Kepala Keluarga/Ayah/Rabb adalah sasaran pertama. Kalau Pusat Lingkaran kecil ini adalah seorang mukhlish, maka dia akan terbebas dari gangguan iblis.
  • Iblis berusaha membuat suami isteri bertengkar, anak dan orang tua berseteru, dan sesama saudara bermusuhan.

Manusia adalah juga makhluq kebiasaan, maka sejak kecil anak harus dibuat mempunyai kebiasaan yang baik, antara lain dilatih “mendengar dan patuh”. Ini memerlukan pelatihan yang terus menerus. Namun pelatihan ini harus dilaksanakan dengan rasa cinta yang hangat dan mendalam, sambil terus menerus memberi pengertian yang cukup agar anak terhindar dari rasa terpaksa atau bahkan membangkang.

Janganlah membesarkan calon bala tentara iblis !

Situasi Saat Ini

Nampaknya iblis berhasil menggoyahkan seluruh sendi kehidupan kita. Seluruh Pusat Lingkaran Imitasi telah dikuasainya. Para pemimpin Lingkaran Kekuasaan atas Wilayah di semua level telah terjangkit penyakit korupsi. Bahkan semua personalia bagian pembelian dan pengadaan sudah sangat terbiasa dengan penawaran dari supllier : ”Kwitansinya ditulis berapa?”

Semua Pusat Lingkaran Kekuasaan Atas Harta sudah dikuasai dengan semangat percepatan pertumbuhan atau pembangunan, yang sesungguhnya adalah bentuk lain dari serakah, suatu sifat yang dimanfaatkan dan dibisikkan iblis ke qalbu leluhur kita Nabi Adam a.s.

Negara ini dibangun dengan data ekonomi yang fiktif, dengan penamaan subsidi. Sehingga rakyat terbiasa hidup dengan kebohongan publik. Suatu kehidupan yang didasarkan kepada sesuatu yang fiktif, ya hanya menunggu waktu kehancurannya saja.

Seluruh negeri ini telah menghianati maksud para pendiri negara yang dituangkan dalam Lagu Kebangsaan yang dipilihnya :”Indonesia Tanah Air Ku”, yang artinya mereka dulu memiliki visi bahwa tanah dan air adalah kehormatan negeri ini. Tapi tanah yang seharusnya adalah milik negara, sebagaimana dulunya adalah milik Raja ketika masih menganut sistem kerajaan, dirubah menjadi milik perorangan dan menjadi barang dagangan. Hal inilah yang memicu berkembangnya korupsi secara besar besaran.

Hal yang sama dapat dikatakan tentang air. Bahkan air kini telah diserahkan pengelolaannya kepada orang asing. Indonesia yang 2/3 wilayahnya terdiri atas air, bahkan tidak menjadi anggota Water World, sebuah organisasi yang membahas dan memikirkan tentang air, yang sesungguhnya adalah sumber kehidupan makhluk di bumi ini.

Penduduk negeri ini juga menjadi korban kalimat kedua Lagu Kebangsaannya : “Tanah Tumpah Darah Ku.” Lagu ini yang dinyanyikan bangsa ini ketika memperingati Hari Kemerdekaan mereka dan di acara acara penting lainnya, tidak menyadari bahwa nyanyian adalah doa. Ketika kita menyanyikan Tanah Tumpah Darah Ku, maka para malaikat hanya mengatakan “amiiin” saja. Jadilah negeri ini selalu terlibat tumpah darah dan pertengkaran tiada habis habisnya antara sesama warga. Tawuran antar murid, mahasiswa, penduduk kampung, anggota DPR dan siapa saja, selalu terjadi. Kalau tidak di sini ya di sana. Kalau tidak sekarang ya besok. Mengapa kita membiarkan nyanyian dengan kalimat yang buruk itu bertengger terus di sana. Apa tidak ada kalimat doa yang jauh lebih baik?

Dan yang bentuknya lembut namun langsung menusuk ke jantung keluarga adalah televisi. Siaran televisi ini seluruhnya sudah dikuasai oleh para pemodal yang tujuan utamanya adalah menghasilkan uang sebanyak banyaknya. Dan jelas ini berbau iblis. Dan siaran televisi yang dibuat sangat “menarik”, meskipun banyak yang “bodoh” ini langsung masuk ke ruang tengah keluarga. Dan dia menggantikan peran ayah atau rabb di rumah itu. Semua isi rumah berkiblat ke pesawat televisi. Peran ayah yang digantikan justru adalah yang sifatnya pembinaan software dan silaturrahim. Anak atau isteri hanya menghubungi ayah/suami ketika perlu uang. Itu saja. Peran ayah hanya menjadi kasir.

Wah !!! Lalu apa yang bisa kita perbuat???

(bersambung)

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Mu’jizat Shalat

27 Juni 2011

Email dari pak Soeparmono Dasirun berikut ini :

asalamualaikum sh tono. mohon pencerahan.
dlm suhbat di mnctv, mawlana mengatakan bahwa utk knock
Allah’s door, perlu baca atahiyat dulu (?). Apakah maksusnya
selain atahiyatul akhir perlu ada attahiyatul awal, sebelum baca
surat fatiha atau nawaitul arbain dst? Sukran atas pencerahan

hanya bisa dijawab orang yang sudah bisa shalat. Kata penterjemah dalam acara itupun Shaykh Noval (?) ini adalah ilmu para wali. Bagaimana tandanya yang sudah bisa shalat? Yaitu mereka yang ketika berada di posisi duduk tahiyyat melihat Nabi s.a.w. berada di hadapnnya. Saya belum sampai di sana.

Namun pertanyaan pak Samsudin (alias Soeparmono Dasirun) itu memicu keterangan berikut :

Mu’jizat Lain Yang Dibawa Nabi s.a.w.

Selama ini yang dianggap mu’jizat yang dibawa Nabi s.a.w. hanyalah al Qur’an (dan sunnah Nabi s.a.w.).  Tapi menurut saya shalat ini minimal sama mu’jizatnya, mungkin lebih, karena efektiftasnya. Kalau bukan begitu shalat tidak disebut sebagai tiang utama agama. Al Qur’an disampaikan lewat malaikat Jibril a.s., sedang untuk masalah shalat ini, Nabi s.a.w.  diundang langsung menghadap ke hadhirat Ilahiyyah (sidratul muntaha?). Tanpa perantara. Namun karena hadits tentang shalat ini terdengar sangat sederhana :”Shalatlah kalian seperti kalian lihat saya shalat!!”, maka kaum muslimin menganggap shalat ini biasa saja.

Shalat Sebagai Pemelihara Kesehatan

Ketika sedang awal awal proses belajar shalat ini (sekarangpun masih tahap belajar, kan saya belum bisa disebut bisa shalat), saya rasakan betul bahwa shalat ini memulihkan tenaga. Dan dari pengamatan lebih jauh, shalat (bila dilakukan dengan benar dan teratur) memang merupakan metoda pemelihara kesehatan yang bisa diandalkan. Didalamnya terdapat gerak menekan (press) dan meregang (strech) yang penting bagi membuat santai kembali beberapa otot penting : otot punggung, otot paha belakang, betis dan ruas leher  (C7). Membuat lemas (relax) otot sekitar ruas C7 ini ketika sujud, penting untuk merangsang fungsi panglima kelenjar yang berada di otak kecil, di belakang kepala. Sementara itu selama sujud, otot kedua bahu dibuat relaks, sehingga berat tubuh langsung disangga di ruas C7 tulang leher.

Shalat Sebagai Gerak Silat

Bahkan Guru Besar dan Pendiri Persatuan Gerak Badan Bangau Putih, almarhum pak  Subur Rahardja mengatakan kepada saya bahwa shalat itu adalah ilmu silat tingkat tinggi. Dia bilang kalau seorang dengan kemampuan silat seperti dia (seimbang) dan sedang sujud seperti dalam shalat, dia tidak akan berani menyerangnya dalam mode perkelahian dekat (close combat). Karena lawan itu akan dengan mudah menyerang nya dengan pukulan/tendangan yang mematikan/fatal. Wow.

Dan saya pun merubah 10 gerakan dari Olah Gerak, Dzikr dan Olah Napas (OGEDZON) Indonesia Perkasa, (yang mengadopsi al Barokahnya bang Hanafi, yang belajar dari Bang Asfan Panjaitan, pendiri Prana Sakti, Yogjakarta), menjadi 11 gerakan yang terkait dengan kegiatan shalat mulai dari mengambil wudhu sampai salam. Masih ditambah keterangan bahwa untuk shalat fardhu 1 raka’at diulang sekali untuk shalat Subuh, diulang dua kali untuk shalat Maghrib dan diulang tiga kali untuk shalat Ashr dan shalat Isya. Gerak ulang itu diperagakan dengan putaran (whirling), dan untuk shalat  fardhu telapak tangan menghadap ke bawah, dan untuk shalat sunnat telapak tangan menghadap ke atas. Untuk menyatakan fardhu juga, lengan tetap masih merapat ke tubuh selama tiga putaran. Setelah itu baru lengan dikembangkan atau dibentangkan. Sedang untuk shalat sunnat, lengan langsung dibentangkan dan telapak tangan menghadap ke atas. Artinya, shalat sunnat ada yang hanya satu raka’at, jadi lengan langsung dibentangkan.

OGEDZON ini termasuk olah raga keras, dan menguras keringat meskipun hanya melakukan satu set nomor 1 sampai nomor 11, kaki kiri di depan dan kaki kanan di depan, secara bergantian. Dan latihan ini juga melatih pelakunya untuk melakukan komunikasi non verbal atau lewat qalbu. Itu tadi hasil sampingan belajar shalat. Dan kembali ke shalat.

Shalat Sebagai Saat Charging Tenaga

Dan waktu shalat fardhu itu pas bertepatan dengan titik titik terendah siklus bio rithmik kita sepanjang hari dan malam. Jadi memang waktunya untuk di-charge.

Lalu di Naqshbandi ada keterangan bahwa Ka’bah adalah sebagai simbol/peragaan qalbu/jantung Nabi s.a.w. Jadi ketika kita sedang shalat sesungguhnya kita sedang mencoba menghubungkan qalbu kita dengan qalbu Nabi s.a.w..

Tahun lalu ketika di Singapore, MSH  membuka rahasia makna lain dari fulki masyhun (Surat Yasin ayat 41). Arti fulki masyhun adalah kapal yang memuat penuh supplai atau persediaan yang dibutuhkan dalam perjalanan jauh. Dan dalam ayat itu fulki masyhun menunjuk kepada kapal Nabi Nuh a.s. Tetapi  MSH mengungkapkan bahwa makna khusus fulki masyhun ini adalah qalbu Nabi s.a.w., dan bahwa seluruh ummat Muhammad s.a.w adalah penumpang kapal tersebut.

Sampai disini dapat dimengerti bahwa shalat adalah saat charging. Kita sebagai penumpang kapal boleh mengisi energi “hidup” ketika siklus bio rithme kita sedang minimum. Dan itu dilakukan dengan menghubungkan jantung kita dengan jantung Nabi s.a.w.  yang diperagakan atau disimbolkan dengan Ka’bah.

Bagaimana Supplai Itu Dipertahankan Selalu Penuh?

Yang berikut ini hanya rekaan saya saja agar bisa mencoba mengerti bagaimana duduk perkaranya dengan berbaik sangka. Allah dan para malaikat bershalawat buat Nabi s.a.w. Tentunya kalau Allah bershalawat untuk Nabi s.a.w. tidak hanya sekali atau sesaat saja, namun berkelanjutan sepanjang masa. Dan shalawat itu akan langsung masuk kedalam qalbu Nabi s.a.w. Lalu apa yang kira kira masuk ke dalam qalbu Nabi s.a.w. tersebut? Allah tidak pernah berbuat yang sia sia. Artinya muatan atau isi shalawat itu pasti hal hal yang dibutuhkan Nabi s.a.w.  dalam melakukan tugasnya sebagai Nabi Awal dan Nabi Akhir, dan artinya lebih jauh, shalawat itu pasti yang dibutuhkan ummat Muhammad yang menjadi penumpang perahu itu, penumpang dengan kebutuhan masing masing yang tidak sama.

Inilah mungkin yang dimaksud Nabi Muhammad s.a.w. adalah Rahmatan li ‘l-‘alamin. Beliau s.a.w. adalah satu satunya kran yang menyalurkan Rahmat Allah. Dan memang seluruh makhluq diciptakan menggunakan (kombinasi) Nur Ilahi dengan Nur Muhammad. Dan manusia diciptakan menggunakan (kombinasi) Nur Ilahi, Nur Muhammad s.a.w. dan Nur Adam a.s.

Shalat dan Bacaan pada Posisi Posisi

 

Berdiri tegak menghadap Kiblat.

Mengucapkan Niyyat

Takbir.

Membaca al Fatiha dan Surat lainnya.

Takbir.

Ruku’ : tulang ekor, tulang punggung, leher dan belakang kepala hendaknya rata air, kalau bisa; lutut dibuat relaks dan kedua tangan menekan lutut dengan keras, sehingga betis dan otot paha belakang diregangkan maksimum; sambil membaca Subhan Allah Rabbi ‘al-Adzim 3 x, membesarkan Allah.

Bangkit tegak lagi, membaca sami’ Allahu li man Hamidah.

Takbir.

Sujud, seperti uraian di depan, sambil membaca permohonan sebanyak banyaknya dan ditutup dengan Subhan Allah Rabbi ‘al-‘Ala, meninggikan Allah.

Takbir, lalu duduk di antara dua sujud dan membaca permohonan untuk kebutuhan umum harian dalam bentuk yang sudah pakem.

Takbir.

Sujud, seperti yang pertama dan memohon permohonan kedua dan ditutup seperti yang pertama.

Bangkit, Takbir. Itu satu raka’at atau siklus atau thawaf.

Pada raka’at kedua diulang seperti Raka’at pertama, namun sebelum bangkit, duduk dulu. Ini disebut  duduk Tahiyyat. Inilah topik yang dimaksud Pak Samsudin di awal tulisan ini…

Duduk Tahiyyat adalah Puncaknya Shalat

 

Dalam tayangan MNC TV Subuh itu MSH menjelaskan bacaan duduk tahiyyat :”attahiyyatu, wa shalawatu, wa thayyibatu li Allah Ta’Ala”.  Ini bentuk pepujian superlative untuk Allah. Selanjutnya  :“as salamun alaika ya Nabiyyu wa rahmatullah wa barakatuhu.” Ini adalah bentuk kalimat sapaan kepada Nabi yang berada di hadapan kita. Lalu :”As salamu alaina ibadika shalihin.”  Ini adalah sapaan kepada Mursid atau Shaykh yang berada di sisi kita dan membawa kita ke hadirat Nabi s.a.w. Shaykh itu harus seorang shalihin, yaitu (definisi ini yang saya tunggu lama sekali dan di sini diterangkan oelh MSH) orang yang selalu tersambung qalbunya dengan Allah, dan tentu saja selalu tersambung dengan Nabi dan karena itulah dia mampu membawa kita ke hadirat Nabi s.a.w..

Dan seterusnya sampai selesai, apakah itu Takbir lagi atau salam, tanda usai shalat. Ejaan diatas mungkin salah, karena memang saya tidak bisa bahasa Arab.

Lalu mengapa Nabi s.a.w. berada di hadapan kita ketika kita mengatakan kalimat itu? Karena beliau s.a.w. adalah manusia sempurna yang sangat tinggi adabnya. Dalam al Qur’an Allah memerintahkan Nabi s.a.w. kalau ada orang yang memberi salam kepadanya,  supaya dijawab dengan salam yang lebih baik atau minimal sama baiknya.

Jadi karena kita mengucapkan salam untuknya dengan bentuk kalimat untuk orang kedua, maka beliau sebagai seorang beradab dan berakhlaq tinggi, memang harus berada di hadapan kita agar bisa menjawab dan memberikan salam yang lebih baik kepada kita.

Begitu ada seseorang yang takbir untuk shalat, maka qalbu Nabi s.a.w. menandai itu dan bersiaga. Lalu bagaimana bisa bergerak sebegitu cepat? Mungkin disinilah shalawat Allah dan para malaikat memegang peran. Seperti dikatakan di atas isi atau konten shalawat itu adalah yang memang diperlukan Nabi s.a.w.. Dan agar Nabi bisa memenuhi kewajibannya untuk hadir dihadapan mereka yang memberikan salam, diperlukan kecepatan tinggi, maka media shalawat itulah yang memberinya kecepatan yang diperlukan ataupun kemampuan “melipat ruang” dalam istilah ilmu “Space and Time Warps” nya Stephen Hawking. Kalau tak salah dalam Buku Panduan Manakib Hajji tahun 80-an, ada doa yang menyebut ruang dilipat (?) agar perjalanan lancar dan mudah. Bagaimana yang sesungguhnya terjadi? Hanya Allah dan Rasul Nya yang tahu.

Tidak penting apa kita tahu atau tidak apa yang sesungguhnya terjadi. Yang penting kita harus yakin  Allah tentu dapat melakukan yang jauh lebih baik dari yang saya coba terangkan tadi. Sehingga kita bisa memahami mengapa misalnya kita sebaiknya shalat berjema’ah. Agar tidak merepotkan Nabi kalau harus muncul di hadapan tiap individu yang sedang bertahiyyat atau bershalawat ala Nabi. Dan yang harusnya menggedor qalbu kita adalah kenyataan betapa besar cinta Allah kepada kita semua sehingga membuat set up yang seperti itu dan mengirim Rasul yang manusia sempurna dan sangat mencintai kita.

Apakah kita mengira Nabi s.a.w. yang menampung shalat kita, karena memang ditugaskan demikian, tidak akan memperbaiki shalat kita yang akan diforward ke Hadhirat Allah? Lalu apa yang sudah kita perbuat sehingga mendapat cinta Allah dan Rasul Nya yang begitu besar, dan cinta Shaykh yang selalu membimbing dan berusaha mengantar kita kepada hadhirat Nabi s.a.w.? Ingatkah anda dengan kalimat berikut ini:

Fa biayyyi ala’I rabbi kuma tukadhiban?( Disebutkan sebanyak 31 kali dalam Surat Rahman yang terdir atas 78 ayat.)

Nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kamu dustakan? Bukankah kita harusnya menangis mengingat betapa dungu kita selama ini, yang tidak peduli?

Apakah kita masih bersungut sungut  atau marah marah ketika keadaan tidak seperti yang kita harapkan? Apakah kita sibuk menyebar iri, dengki dan kebencian kepada mereka yang kita anggap berkondisi lebih dari kita?Atau berbeda pendapat dengan kita?

Tidaklah cukup hanya mengatakan alhamdulillah atas semua anugerah itu. Kita memang tidak mampu apa apa. La hawla wa la quwwata illa billah. Maka kita harus sering memanjatkan doa :”Ya Allah, jadikanlah amal/kerja ku amal yang bermanfa’at buat diriku dan sekitar, karuniakanlah kepada ku  husnul khatimah untuk setiap thawaf yang saya jalani. Mulai thawaf kecil thawaf kecil, sehingga thawaf besar. Mulai ulangan tarikan napas dan hembusan napasku.  Ulangan raka’at dalam shalatku, sehingga mencapai salam. Ulangan siang dan malam ku. Ulangan kegiatan dari awal sampai akhir proyek yang aku kerjakan. Mulai Engkau tiupkan ruhku ke rahim ibuku, sampai Engkau panggil aku pulang ke Kampung Akhirat.” Amiiin.

Semoga dengan sering memanjatkan doa itu, kita tidak lagi cuek, kita menjadi lebih peduli dengan karunia nikmat yang begitu besar yang kita terima. Sehingga setiap thawaf yang kita jalani berakhir dengan menjadikan kita lebih baik pada akhir thawaf dari pada di awal thawaf. Dengan cara lebih fokus kepada apa yang kita kerjakan.

Jadi setelah tahiyyat terakhir lalu salam, itulah puncak dari shalat, karena kita bisa berbagi kenikmatan dengan sekitar kita. Menjadikan kita lebih baik dari pada di awal shalat. Semoga.

Mengapa Kita Tidak Melihat Nabi s.a.w. Ketika Duduk Tahiyyat

Hal ini adalah justru untuk melindungi kita (umum). Nabi s.a.w. ,yang selalu menerima shalawat dari Allah, shalawat yang berasal dari Bahrul Qudra,  adalah Nur yang sangat kuat. Jauh lebih kuat dari pada sekedar sinar laser. Kalau kita (qalbu kita) tidak dipersiapkan semestinya, maka diri kita akan lebur, no more.

Nabi s.a.w. mengatakan bahwa di dalam setiap kita ada segumpal daging, yang kalau daging itu baik, maka seluruh tubuh akan baik. Kalau daging itu buruk, maka seluruh tubuh akan buruk. Letak qalbu atau jantung spiritual juga berada (baca : mencakupi) di qalbu atau jantung fisik.  Jadi ketika diri (qalbu) kita masih berisi noda, bila kontak langsung dengan Nabi s.a.w., akan lebur, bukan hanya qalbu, tapi seluruh diri itulah.

Tentu saja rangkaian kata kata ini semua tidak berarti saya bisa menjawab harapan Pak Samsudin, karena kesimpulannya tetap saja : saya belum bisa shalat, jadi ya tidak bisa memberi pencerahan tentang shalat. Namun katakanlah apa yang saya uraikan itu tidak menggambarkan apa yang sesungguhnya terjadi, minimal akan saya gunakan rangkaian kata kata itu sebagai doa/harapan saya : minimal begitulah cinta Allah, Rasul Nya dan MSN kepada saya dan mungkin lebih lagi. Amiin.

(bersambung)

 

Posted in Uncategorized | 1 Comment