Tafseer Surat al Fatiha ayat 4_5

Tafseer Surat al Fatiha ayat 4_5

Shaykh Hisham Muhammad Kabbani

Audhu billah min as-shaytan ir-rajeem

Bismillah ir-rahman ir-raheem

Dalam pertemuan sebelumnya tentang tafsir Surat al-Fatiha, kami menjelaskan dua klasifikasi besar (major) tentang `ibadat. Beberapa terkait dengan iman dan kita akan membahas mereka; beberapa terkait dengan peribadatan dan kita akan meringkas mereka.

Yang pertama, terkait dengan iman, adalah beriman kepada Dzat Allah – Dzat Pra Abadi dan Pasca Abadi (al-dhaat al-ilahi al-qadeemee al-azalee??)  – kepada Sifat (Busana = Attributes) Utama Nya : bahwa Dia adalah Yang Pertama (al-Awwal) dan Yang Akhir (al-Aakhir); Memperlihatkan Bentuk Lahir (adh-Dhaahir) dan Menyembunyikan Bentuk Tersembunyi (al-Baatin). Ditambah seseorang harus beriman kepada Kuasa Nya (Qadr); kepada Kesempurnaan Ilmu (`ilm) Nya, kepada Kemutlakan Kehendak (iradat) Nya; bahwa Dia adalah Maha Mendengar (as-Sam`ee) dan Maha Melihat (al-Baseer). Kemudian seseorang harus beriman kepada Keadilan Ilahiah Nya dan kepada Hari Akhir. Akhirnya seseorang harus beriman kepada para Rasul Allah dan kepada para malaikat Nya.

Sedang sepuluh bentuk ibadah, mereka itu adalah :

As-shalat (sembahyang), sawm (puasa), hajj (napak tilas Nabi Ibrahim a.s.), zakat (pembayaran hak orang miskin), qirat al-quran (membaca al Quran), dhikrullah (mengingat Allah), talab al-halal (mencari makanan-minuman yang dibolehkan), qiyam bi huquuq al-muslimeen (membela hak Muslim), huquuq as-suhba (hak pershahabatan), wal amr-bil ma’ruf wan-nahy `an-il-munkar (mengajak kepada benar dan menolak salah), wat-tiba` as-sunnah (memelihara Sunnah, yang merupakan kunci semua kebahagiaan dan pintu kepada cinta Allah – Wa hiya miftah as-saada wa bab muhabattullah). Itu semua disiapkan dalam diri ketika kamu menyebutkan “iyyaka na`budu” dan kita akan berhasil, insya-Allah.

Mari kita sekarang melanjutkan dari pembicaraan (tafsir) terakhir yang lalu, ayat “iyyaka na`budu wa iyyaka nasta`een.” Allah memberi tahu kita untuk mengatakan, “iyyaka na`budu” – “Hanya kepada Engkau saja kami mengabdi.” Dia tidak meminta kita untuk mengatakan “iyyaka a`budu” (Hanya kepada Engkau saya mengabdi). Sebagai gantinya “Alif”, rangkaian kata bentuk tunggal “aku mengabdi”, Dia tambahi “Nun” menjadikannya bentuk jamak (“kami mengabdi”).

Ini artinya bahwa semua yang Dia ciptakan hanya menyembah kepada Nya saja. Itu bukan hanya terkait kepada satu individu sendirinya saja. Artinya: “Sementara saya mengaku dan menerima bahwa pengabdian/persembahan adalah untuk Mu saja, pada saat yang sama semua segala sesuatu di alam semesta ini harus menerima kenyataan itu.”

Allah bersabda, “iyyaka nabudu wa iyyaka nasta`een”, mendahului “iyyaka nasta`een” dengan “iyyaka nabudu”. Dalam bahasa Indonesia artinya, “Hanya kepada Engkau kami mengabdi dan dari Engkau saja kami memohon pertolongan.” Dia tidak menempatkan, “iyyaka nasta`een” dulu dan “iyyaka na`budu” setelah itu. Apa yang dapat kami mengerti dari kenyataan ini? Itu artinya kamu tidak boleh datang kepada Allah tanpa mempersiapkan dan menata dirimu terlebih dulu. Bagaimana kamu menata dirimu? Jika kamu mau memohon pertolongan kepada Allah, al-isti`ana, pertama kamu harus terlebih dulu mendekati Nya.

Bila kamu mencari pertolongan dari seseorang dalam urusan dunia kamu, kamu membawa oleh oleh coklat atau sesuatu yang berharga lainnya sebagai sebuah hadiah. Bagaimana dengan meminta kepada Allah? Kamu datang tanpa punya wudu, atau mungkin tanpa mandi suci (ghusl), dan tanpa shalat – padahal kamu mohon pertolongan Nya. Bagaimana mungkin seseorang datang kepada Allah dengan cara demikian? Kamu tidak bisa datang langsung dan minta Allah, “Berilah saya.” Pertama kamu harus melaksanakan dan memelihara persembahan / peribadatan kepada Nya

.

Bagaimana seseorang beribadah? Pertama kamu harus mengambil wudhu’, kemudian shalat dua rak`ats, kemudian duduk dan memohon Allah swt apa yang kamu perlukan. Setiap bentuk persembahan adalah `ibada. Jadi iyyaka na`budu– “Hanya kepada Engkau kami beribadah”, adalah sebuah pintu terbuka untuk mendekati Tuhan mu. Surat al-Fathiha menunjukkan kepada kita bahwa setiap jenis `ibadat adalah sebuah cara untuk mendekati Allah. Dan sudah tersohor bahwa satu bentuk `ibadat yang paling kuat (superior) adalah mengambil wudhu’, shalat dua raka’at, kemudian duduk dan membaca salawat untuk Nabi (s.a.w.).

Penulis tafsir ini, Ruh al-Bayan, Shaykh Isma`il al-Hakki menyatakan: “Diantara bentuk `ibadat adalah shalat tanpa lengah (heedlessness, harus khusyu’); berpuasa tanpa gosip; memberikan sadaqa tanpa melukai (fisik maupun batin) si penerima; pergi hajj tanpa pamer; berjuang di Jalan Allah tanpa pengin masyhur; membebaskan seorang tawanan tanpa melukainya; dan melakukan dhikr tanpa kepayahan / mengantuk (malla).”

Mungkin kamu memperhatikan bahwa beberapa orang, segera setelah mulai melakukan  dhikr mereka mulai menguap. Al-malla artinya “nek” atau kekenyangan, dan menjadi bosan. Ego nya berkata, “Jangan berdhikr!” Sebaliknya, itu adalah keharusan bagi mu melakukan dhikr dan melakukan bentuk peribadatan lainnya tanpa melihatnya sebagai sebuah beban yang berat bagi dirimu. Jadi kamu jangan menguap ketika kamu mulai ber Dhikr.

Semua bentuk peribadatan ini, lakukanlah dengan persyaratan tersebut di atas, adalah sebuah persyaratan sebelum memohon apapun kepada Allah, “Pertolongan Mu kami cari.” Sebelum datang ke pintu Allah, kamu harus menyempurnakan dirimu dalam hal Peribadatan Ilahiah.

Begitulah banyak orang  mengatakan, “Aku memohon Allah dan Dia tidak menanggapi permohonanku.” Sebelum menuduh Allah, lihatlah dirimu sendiri dulu. Du`a mu tidak diterima karena kamu tidak menyempurnakan dirimu sendiri.

Berapa jauh kita dari pencapaian adab dan kelakuan sempurna terhadap Allah? Mulailah  dengan haknya “iyyaka na`budu”, dengan meninggalkan pergunjingan (gossip), pamer dan mencari kemasyhuran. Seorang yang mengucapkan doanya dengan kesungguhan penuh, Allah akan menghiasinya dengan cahaya. Pada Hari Pengadilan mereka yang membaca Surat al-Fatiha, akan terlihat dihiasi dengan busana ruhaniah yang mengkilat (bercahaya). Untuk alasan itulah maka dianjurkan untuk pergi kepada seorang shalih dan meminta du`a nya untuk kamu, karena dia telah menyempurnakan dirinya.

Maksud memberikan  tafsir adalah untuk membuka makna al Quran. Perhatikan kata na`budu itu . Dia mencakup maksud umum yang tidak terbatas kepada shalat saja. Semua bentuk `ibada adalah sebuah cara untuk pendekatan . Membaca al Quran adalah sebuah cara pendekatan. Puasa adalah sebuah cara pendekatan. Beberapa orang membuat nadhr, sebuah janji, mengatakan, “Ya Allah! Jika saya berhasil dalam urusan saya ini, saya akan puasa tiga hari untuk Mu.” Beberapa mengatakan, “Ya Allah! Jika Engkau memberiku ini-dan-itu, saya akan bersedekah sekian rupiah kepada fakir miskin.” Semua bentuk `ibada ini adalah terterima sebagai sebuah cara pendekatan, agar supaya du`a seseorang diterima Allah.

Memuji Nabi (s.a.w.) adalah juga sebuah cara untuk mendekati Allah. Bukankah Allah bersabda, “Allah dan para malaikat Nya memuji Nabi. Wahai para orang beriman, pujilah dia,” [33:56]?  Itu adalah Perintah Ilahiah Allah, jadi melakukan itu (untuk memuji Nabi (s.a.w.)) menjadi sebuah `ibadat. Jadi kamu boleh mendekati Allah dengan mengatakan, “Hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan”, dengan memuji Nabi tercinta (s.a.w.) Nya.

Mengetahui rahasia ini, Nabi (s.a.w.) mengajarkan du`a tawassul tersohor itu kepada orang buta [du`a haajja]. Seorang buta datang dan meminta Nabi (s.a.w.) untuk berdoa baginya agar dia bisa melihat agar dia dapat mengikuti shalat (di belakang Nabi s.a.w.). Sebagai gantinya berdoa baginya, dia s.a.w. mengajari orang buta itu sebuah du`a tawassul, dan melibatkan Allah dengan jalan Nabi (s.a.w.), dan orang buta itu menjadi seorang yang bisa melihat. (Berikut) Ini adalah text hadith:

Seorang buta mendatangi Nabi s.a.w. dan berkata: “Mohonkan Allah untukku sehingga Dia menolong saya.” Dia s.a.w. menjawab: “Jika kamu menginginkannya saya akan menunda ini, dan itu akan lebih baik bagimu, dan jika kamu menginginkan saya akan memohon Allah Azza wa Jalla (untukmu).” Dia berkata: “Kemudian memohon kepada Nya.” Nabi s.a.w. berkata kepadanya: idhhab fa tawadda”, wa salli rak`atayn thumma qul — “Pergilah dan ambillah wudhu’, shalat dua raka`at, kemudian katakan: “Ya Allah, saya memohon kepada Mu (as’aluka) dan menghadap kepada Mu (atawajjahu ilayka) dengan Nabi Mu Muhammad (bi nabiyyika Muhammad), Nabi Rahmat; Ya Muhammad (ya Muhammad), saya menghadap bersama engkau kepada Tuhan ku mengenai kebutuhanku saat ini. Saya memohon Tuhanku dengan syafa’atmu tentang kembalinya penglihatan saya (inni atawajjahu bika ila rabbi fi hajati hadhih)[1] sehingga Dia memenuhi kebutuhan ku; Ya Allah, perkenankan dia untuk mediasi (bersama Engkau) untuk aku (allahumma shaffi`hu fiyya).”[2]

Nabi (s.a.w.) bilang kepada orang buta itu agar berkata, “Ya Allah! Aku datang kepada Mu melalui Nabi Mu Muhammad. Ya Muhammad, aku kembali ke Tuhan ku melalui engkau.”

Jadi kita melihat bahwa dengan jalan mediasi (syafa’at) Nabi s.a.w., du`a itu diterima dan orang buta itu disembuhkan.

.

September 2, 2001, petang

Dan `Ata ditanya kapan al Fatiha diturunkan. Dia bilang itu diturunkan di Makka al-mukarrama pada Jum’at dan Allah memberikannya  kepada Sayyiddina Muhammad s.a.w, dan ketika itu datang, (al Fatiha) itu dikawal oleh 70,000 malaikat.

Dan diceritakan bahwa unta unta itu datang dari Damascus untuk Abi Jahl. Terdapat tujuh kelompok unta. Nabi s.a.w. dan para shahabatnya (hanya bisa) memandangi mereka dan kebanyakan para shahabat lapar dan mereka tidak punya pakaian layak pakai. Dan datanglah pikiran kepada Nabi bahwa para shahabatnya memerlukan barang barang (yang dibawa caravan Abu Jahal) itu. Dan pada saat itu Allah menurunkan al Fatiha, dan diungkapkan “anzala alaykum saba al-mathaani wal-quran il-`adheem.

Artinya jangan melihat kepada hidup-keduniaan ini, dunya ini, karena Kami telah memberikan kepada kamu sesuatu yang lebih lestari dan lebih besar, al Fatiha dan al Quran Karim.

Dalam ad-durr al-manthur imam as-suyuti berkata, bahwa jika al-Fatiha ada dalam Taurat, yahudi itu pasti menjadi muslim, dan jika itu ada dalam Injil, pasti para Christians itu menjadi muslim, dan jika itu ada dalam Zabur maka ummat Dawud tidak akan pernah mengkerut menjadi (dirubah) ……..

Dan jika seorang membaca al Fatiha, Allah akan memberikan kepadanya hadiah (pahala) dari seluruh al Qur’an dan seperti jika dia memiliki (pahala) yang diperoleh dari pemberian sedekah atas nama setiap orang beriman, lelaki dan perempuan,  di dunia ini.

Dikatakan bahwa ketika taurat diturunkan kepada Musa a.s. , dan terdiri atas 1000 sura, (bukan 114 seperti al Quran), dan setiap surat terdiri atas 1000 ayat, Musa berkata, “siapa yang akan dapat membaca kitab ini ? Dan siapa yang akan menghafalnya?” Janganlah berpikir itu terlalu banyak (Sabda Tuhan?). Saya mengirimkan seperti itu yang lebih besar dari itu. “kepada siapa ya rabbi?” “kepada Rasul terakhir” “bagaimana caranya mereka membaca dan jarak hidup (umur) mereka begitu pendek ?” “Aku akan membuatnya mudah bagi mereka, sehingga mereka dapat membacanya, bahkan anak anak merekapun. “ “dan bagaimana Engkau akan melakukan itu?” “Aku telah menurunkan ke bumi 103 kitab. 50 kepada Shith; 30 kepada Idris; 20 kepada Ibrahim (as); dan Taurat kepadamu dan Zaboor (Psalm) kepada Dawud dan Injil kepada Isa a.s., dan Aku menyebut semua ciptaan dalam kitab kitab itu. Dan Wahai Musa, Aku akan mengulang kembali setiap makna yang ada dalam semua kitab tersebut ke dalam kitab Muhammad. Dan semua itu Aku kumpulkan di dalam 114 surat dan Aku membuat 114 surat itu dalam 30 bab (juz), dan Aku meletakkan 30 bab itu kedalam 7 bagian (sections); dan semua 7 bagian Aku akan menaruhnya ke dalam tujuh ayat dan itu adalah ayat ayat Surat al-Fatiha. Dan Aku meletakkan tujuh ayat ayat ini dan semuanya termuat dalam tujuh huruf, bismillah.” Dan semua itu akan Aku letakkan dalam Alif yang membuka al-baqara (alif lam mim). Tetapi ketika itu diturunkan para orang musyrik menolaknya dan Allah mengutuk mereka.

Tujuh huruf itu adalah yang membentuk bismillah, dan itu berarti dengan nama Allah, di dalam nya terdapat kun fayakun..

Itulah sebabnya kamu mendapati bahwa orang tidak menghafal Taurat dan mereka tidak menghafal Injil …  Saya telah duduk dengan orang Arab Kristen dan tidak pernah kamu mendapati seorang pun yang menghafalkan nya. Tak seorangpun menghafal Injil.

Itu tidak melekat dalam pikiran (otak) mereka, karena itu tidak dalam bahasa mereka. Beberapa di antaranya dalam bahasa Roma, beberapa di antaranya dalam bahasa Latin dan beberapa di antara nya diterjemahkan dan itu adalah terjemahan yang buruk. Paman saya yang adalah seorang sarjana bahasa, Bahasa Arab, yang paling utama dalam jamannya, yang dicari oleh para sarjana di seluruh dunia. Suatu hari dia menerima sebuah kitab dan saya bertanya apakah itu ? Dia berkata mereka mengirimkan nya kepada ku hari ini agar dikoreksi. Saya bertanya kitab apa itu. Dia berkata, itu adalah Injil.

Dikatakan bahwa Allah swt memberikan kepada Muhammad s.a.w. saba`in mathanee wal-quran al-adheem. Itu tujuh ayat. Dalam Surat al-Fatiha terdiri atas 22 huruf. Ada 28 huruf dalam alphabet Arabic dan lam alif. Tujuh (7) huruf hilang dari al-fatihah:

al-tha – ath-thabour, seorang yang sangat lelah dan tidak begitu berhasil dalam hidup.

al-jeem – al-jaheem – neraka;

al-kha – al-khawf – takut;

al-zay- al-zaqqum – makanan orang penghuni neraka;

al-sheen; -al-shaqawa – kesengsaraan dan bencana;

adh-dha – al – dhulma – kegelapan; dan

al-fa – furaq; perpisahan.

Barang siapa membaca surat ini, Allah akan menyelamatkan orang itu dari tujuh kesengsaraan itu. Maka, ketika kamu membaca al-fatihah, kamu dalam beribadah, iyyaka nabud dan kamu memohon Allah untuk menyelamatkan dari tujuh kesengsaraan itu, dan memohon Allah untuk menghiasi mu dengan 99 tajallis dari Nama Allah. Ketika kamu membaca, kamu dalam dhikrullah dan pada saat itu kamu akan dihias dengan hiasan dan cahaya. Pada saat itu kamu dapat mengatakan iyyaka nastaeen. Memohon Allah untuk menolong kita, untuk sehat, untuk baik, untuk kaya, untuk memberi manfa’at sekitar kita, untuk membantu negara kita, untuk memberi kita rezeki, memohon apapun di dunia dan di akhira, kamu boleh mencari dalam surat ini.

Segala sesuatu membutuhkan pertolongan Allah; keputusan, pergi ke kuburan, pertanyaan oleh munkar wa nakeer, pertanyaan dalam Hari Pengadilan, itu artinya apapun yang kamu hadapi memerlukan pertolongan Allah. Allah akan memberimu pertolongan jika kamu betul betul beribadah kepada Nya. Dan iyyaka nabudu datang di bawah ayat wa idh dhalamu anfusahum…. La wajada Allaha tawaaban raheema… thumma la yajidu fee anfisihim harajun

Allah berkata jika mereka menganiaya diri mereka sendiri, mereka harus datang kepada mu Ya |Muhammad, mohon ampunan, Allah akan mengampuni. Bagaimana memohon pertolongan Allah, iyyyaka nabudu, kamu harus mendatangi Nabi s.a.w.. Setiap jenis penganiayaan diri sendiri, membangkang kepada Allah atau membangkang kepada Nabi, kamu harus mendatangi pintu Nabi, mencari perantaraan nya, mencari jalan nya. Karena meminta syafa’at Nabi, juga adalah sebuah ibadah.

Anas bin Malik dan Abi Talha berkata “ kami ada bersama Nabi dalam sebuah pertempuran melawan musuh. Dan kami menghadapi musuh. Dan saya mendengar beliau berkata, “ya malika yawmmideen, iyyaka nabudu wa iyyaka nastaeen. Dan kami jelas melihat orang (musuh) jatuh mati mendadak, dari kanan dari kiri jatuh mati mendadak. Para malaikat memukuli mereka dari kanan, dari kiri, dari belakang, dari depan.

Ketahuilah wahai Muslim bahwa dalam (diri) Nabi Allah (s.a.w.) terdapat contoh adab yang paling sempurna – uswatun hasana. Kamu harus mengikuti jalan itu, karena dia adalah pemberi petunjuk terbaik. Maka jika kamu (berada) dalam sebuah kesulitan, panggilah Pemilik Hari Pengadilan. “Iyyaka na`budu wa iyyaka nasta`een.” Kami beribadah kepada Mu, mencari pertolongan Mu, dan kami datang kepada Mu melalui Nabi Mu, karena Allah akan menanggapi Nabi Nya. Itulah sebabnya syafa’at adalah sangat penting. Kita tidak sempurna, namun Nabi s.a.w. adalah sempurna. Para salihin tidak sempurna namun mereka menuju ke jalan kesempurnaan, bersungguh sungguh dalam usaha pencapaiannya. Jika kamu mencari safa’at mereka, Allah pasti akan menerima du’a mereka.

Dikatakan Sufyan ath-Thawri, yang adalah salah satu as-salaf as-salihoon yang paling tersohor – seorang yang bahkan Ibn Taymiyya menganggapnya sebagai orang yang patut mendapatkan kehormatan  besar. Diceritakan tentang dia bahwa sekali waktu dia mengimami shalat Maghrib. Segera setelah dia membaca “Iyyaka na`budu wa iyyaka nasta`een” dia jatuh pingsan. Ketika dia sadar kembali, mereka bertanya, “Apa yang terjadi?” Dia bilang, segera setelah saya membaca “Iyyaka na`budu wa iyyaka nasta`een” langsung datang ke dalam kalbuku, bagaimana sekiranya saya mendatangi pintu para dokter atau para raja.  Saya menyadari bahwa saya mencari pertolongan mereka, padahal saya dapat datang langsung kepada pintu Allah. Saya merasa khawatir dan takut nantinya Allah akan bertanya kepada ku tentang ini.

Itulah sebabnya dalam dua ayat ini Allah menyebut, “Wahai abdi Ku! Kamu tidak dapat datang kepada Ku tanpa beribadah/menyembah kepada Ku. Awali dengan menyembah kepada Ku baru kemudian mintalah pertolongan Ku.”

Sept. 2, 2001 Salat al-`Asr – Salat al-Maghrib, tafsir Surat al-Fatiha

Audhu billahi minash-shaytan ir-rajeem

Bismillah ir-Rahman ir-Raheem

Nawaytu al-arba`een… fee hadha al-masjid

Kita akan melanjutkan sebanyak yang bisa kita lakukan untuk membuat komentar tentang Surat al-Fatihah. Dan kita telah sampai pada Iyyaka na`budu wa iyyaka nasta`een dan kita telah menjelaskan secara sangat ringkas beberapa makna dari Iyyaka na`budu wa iyyaka nasta`een.

Kita akan menambahkan itu dengan mengatakan, dikatakan dalam tafsir ruh al-bayan dan dalam tafsir tafsir lainnya, bahwa Iyyaka na`budu tidak dialamatkan dalam bentuk absent (tidak hadir), tetapi dalam bentuk saat kini, berbicara langsung mubashiratun. Sebelum itu, Alhamdulilah…. Maliki yawm id-deen dalam bentuk absent, dan kamu memuja Allah dalam bentuk absent. Sementara Iyyaka na`budu adalah dalam bentuk hadir langsung. Itu artinya kamu kembali dari bentuk absentee diri kepada bentuk kini shuhud. Itu artinya kamu menemukan kesalahanmu dan kini kamu telah mengetahui kesalahanmu, bahwa egomu tak peduli dan kamu kini datang dan mengatakan”Ya rabbi saya kini dalam hadhirat Mu memuja Mu” Kembali dari keadaan absen dan kepada keadaan hadir.

Kamu sibuk dalam kehidupan dunya mu, sepenuhnya tidak sadar, kecuali ketika kamu dalam shalat, keadaan hadir, memohon ampun. Siapa yang menghalangi (memasang tabir) /mencegah hal (keadaan hadir) itu? Kamu adalah milik Allah, Dia adalah Pemilik mu dan kamu adalah hamba Nya. Siapa yang menghalangi/menyelubungi kita dari melihat Dia? Kita memanggil Dia “Iyyaka na`budu wa iyyaka nasta`een” tetapi kita tidak melihat apapun. Para orang shalih dapat melihat sesuatu, tetapi mereka yang tidak melihat adalah mereka yang lalai. Bila kamu berbicara kepada seseorang dalam bentuk kalimat hadir, dan kita tidak melihat apapun, kita harus tahu bahwa hijab annafs adalah yang menghalangi kita untuk melihat sesuatu. Jika kamu bisa menyeberangi tabir ego itu dari kelalaian  kepada keadaan Hadhirat, maka pada saat itu kamu akan memiliki penampakan, mushahada. Maka pada saat itu perkataan mu “iyyaka” benar benar iyyaka. Pada saat itu kamu mengalamatkan perkataanmu kepada Tuhan mu dan Dia menunjukkan kepada mu dari tanda tanda Nya, yang adalah hanya antara kamu dengan Tuhan mu (yang mengetahuinya).

Bila seseorang dapat menembus  pemilik ego,  Allah memilikimu namun shaytan mencoba untuk menghentikan kamu menembusi  tabir ego itu. Bila kamu menembus tabir itu, kamu akan melihat tanda tanda dari Pemilik diri.

Salah seorang orang shalih terdahulu, Aba Yazid al-Bistami (salah satu yang disukai Nya), dia berkata, “Bagaimana saya dapat mencapai Engkau?” Allah menjawab, “Tinggalkan dirimu dan datanglah” – tinggalkan diri mu dan datanglah. Tidak mungkin ada dua di sana. Hanya ada satu, hanya ada Aku. Jika kamu datang dengan dirimu, maka kamu datang dengan syirk, tak ada yang hadir dalam Hadhirat Ku, itu adalah syirk tersembunyi, ego/diri membuat diri itu mengatakan “Saya hadir, saya ada.”

Perhatikan anak anak, bahkan mereka yang sangat muda pun, jika mereka memilik sebuah mainan, mereka saling berkelahi memperebutkan mainan itu. Itu adalah sifat alamiah manusia. Bahkan ketika kamu tumbuh dewasa, kamu masih ingin memiliki semuanya. Setiap hari kamu datang, kamu ingin memiliki sesuatu yang baru. Kamu tidak memiliki permadani bagus, gantilah. Kamu tidak memiliki sebuah mobil yang bagus, belilah yang baru. Kamu tidak memiliki lampu kristal yang bagus, belilah satu. Untuk apa kamu perlukan itu semua? Kamu bisa melihat dengan bola lampu biasa atau dengan lampu kristal. Kamu bisa mengendarai mobil bagus atau mobil sederhana, keduanya dapat membawa kamu dan membantu kaki kamu.

Bayazid berkata, bagaimana caranya untuk mendatangi Engkau? Allah menjawab, “tinggalkan dirimu”. Bla kamu memutuskan hubungan dengan dunya ini, Aku akan memberikan semua itu kepada mu. Kamu memilikinya atau kamu tidak memilikinya, itu sama saja untuk mu. Tinggalkan dirimu dan datanglah. Menjadi dirimu sendiri adalah salah satu dari empat musuh manusia dan (musuh yang ini) memiliki 4 karakter / sifat yang berbeda  :

Nafs al-ammara, nafs-allawwama, nafs al-mulhima, dan nafs almutma’in.

Ego (ammara?) selalu memerintahkan untuk berbuat salah. Nafs al-lawwama, adalah yang menyesali apa yang telah kamu lakukan. Dan nafs al-mulhima, adalah ego yang memberi inspirasi, datang untuk memberi inspirasi untuk melakukan hal bagus. Pada saat itu, kamu akan mencapat nafs a-mutma’in.

Kamu memiliki 4 musuh, nafs (diri), hawa, shaytan dan dunya (.kekayaan/wealth). Empat sekawan ini mencegah kamu dari betul betul menghadap Tuhanmu untuk mewujudkan Hadhirat Allah. Itulah sebabnya ketika kita mengucapkan Iyyaka na`budu wa iyyaka nasta`een itu tidak berarti apa apa. Tetapi orang shalih, ketika mereka mengucapkan itu, itu berarti segalanya, karena mereka datang melalui ego damai (mutma’in?).

Ketika dia mencapai nafs al-mutma”inna, Allah akan membuka 4 busana surgawi yang menggambarkan Tuhan nya, as-sifa al-ilahiyya:

1)      ilahiyya – divinity

2)      rububiyya – lordship (kuasa)

3)      rahmaniyya – mercy

4)      raheemiyya – forgiveness

Itulah sebabnya kita lihat dalam surat al-Fatiha, Alhamdu-lillah ini menunjuk kepada Allah kepada ilahiyya Nya. Kemudian “rabb il-`alameen” menunjuk kepada rububyiyya, kemudian ar-rahman menunjuk kepada cinta Allah, kemudian ar-raheem, adalah Sifat (Attribute) sayang yang akan mengampunimu.

Kamu mulai memasuki, ketika kamu mulai membaca Surat al-Fatiha, kamu mulai menembusi empat gambaran/uraian ego, kepada empat gambaran karakteristik Haqqiqat Ilahiayya. Diri/self memiliki sifat/attribute, dan Dzat Allah memiliki empat sifat penting. Jika kamu meninggalkan empat, kamu mendapat Empat, datanglah kepada empat Sifat Ku dan Aku akan menunjukkan kepadamu pada waktu itu siapa Pemilik Hari Pengadilan. Hari itu adalah hari untuk menyeberang kepada Hadhirat Ilahiyya, ke Surga.

Itulah makna (interpretasi) spiritual dari maliki yawm id-deeen. Tinggalkan 4 sifat burukmu. Dan datanglah kepada 4 tajallis dari Dzat Ilahiyya (the Divine Essence), itu akan menjadi Hari Pengadilan mu dan dunya kita akan menjadi surga. Dengan memuja Ku, alhamdulillah, memuja Dzat, kemudian berterima kasih kepada Ketuhanan Ku, rububiyya, dan berterima kasih kepada ar-Rahman dan ar-Rahim, pada saat itu Aku akan mengirim kuasa/kekuatan pantulan dan daya tarik Sifat Dzat, Aku akan membawa kamu ke Hadhirat Ilahiyya. Itu akan menjadi hari mu menyeberang dari dunya ini dan membuat dunya mu menjadi surga. Ketika kamu mencapai itu, Dia akan membawa mu dari kegelapan dunya kepada matahari terbit dari Akhirat.

Aku akan merubah qalbumu dari jatuh ke dalam kegelapan, menuju kepada sebuah matahari bersinar, sebuah subh baru, sebuah fajar baru. Dan Allah akan memanggilmu pada saat itu, karena pada saat itu, adhkurunee, adhkurukum. Kamu mengingat Dia dalam Sifat Sifat Nya, dan datang kepada Nya melalui 4 Sifat yang disebut dalam tiga ayat pertama, ketika kamu sampai kepada level/maqam dan Sifat Sifat ini, ketika kamu mengingat Dia, Dia akan mengingat kamu dan menyebut mu. “Aku akan membawamu ke Hadhirat Ilahiyya.” Dia bersabda, “adhkurukum” Saya akan memanggil/mengingat kamu. Bagaimana?

Dia bersabda, “ya ayuhan nafs al-…” Wahai jiwa yang damai, datanglah kembali kepada Tuhan mu, berbahagia dan terpuaskan, diberkati.” Semua ini datang dari pembacaan al-Fatiha. Jika itu terbuka bagimu, kamu akan beruntung. Jika tidak, Allah masih akan menghiasi kamu dengan tajallis itu. Kini Dia meremajakan kamu dari keadaan gelap menjadi keadaan tercerahkan. Adkhuli fee ibadee.. wadkhulee jannatee. Kemudian Dia mengirim kamu kembali dan kamu datang kembali dalam keadaan menjadi orang orang surgawi. Tubuhmu menjadi sebuah surga dalam dirinya sendiri. Ini semua (didapat) melalui pemujaan kepada 4 Siffat Nya.

Ketika tubuhmu dirubah menjadi sebuah surga, ketika itulah kamu melihat apa yang tidak dilihat orang lain, dalam pemenuhan hadith, selama abdi Ku mendekati melalui ibadah sunnah … pada saat itu Aku akan mencintainya dan kemudian Aku akan memberi nya kekuatan pendengaran, penglihatan dan bicara. Dimanakah barakah itu? Para orang salih terdahulu mengalami barakah seperti itu. Mereka mengalaminya, mereka menulis tentang itu. Tak seorangpun dapat menulis tentang itu tanpa mengalaminya. Itu adalah iman, itu adalah sebuah bukaan/pintu.

Dimanakah para orang shalih seperti itu? Mereka tidak ada lagi. (Sebetulnya) Mereka ada sampai Hari Pengadilan. Tetapi manakala kamu menolak mereka, kamu tidak lagi bisa melihat (menemui) mereka lagi. Ketika kamu bilang iyyaka nabud kamu berada di sana dalam Hadhirat Ilahiyya. Dia akan menarik mu keluar (dari kegelapan). Dia memanggil kamu. Adhkurunee , adhkurukum. Bila Allah mengingat kamu, apakah kamu tidak mendengarnya? Jika Dia menyebut (nama) mu dan menyebut mu dengan cara yang lebih baik, apakah kamu mendengarnya?

Ketika sayyidina   Musa a.s. ditanya Allah “Apa yang ada dalam genggaman tanganmu?” Dia menjawab, “Ini adalah tongkat saya..dan saya ….” Dia memanjangkan jawabannya dan mengulurnya. Ketika mereka bertanya kepadanya mengapa dia memanjangkan uraiannya, dia menjawab, “Ketika saya mendengar manisnya panggilan Tuhanku (haatif), saya mencoba menambah panjang waktu bicara dalam Hadhirat itu, maka saya berbicara lebih.” Bila Allah mengingat kamu, maka itu akan menjadi begitu manisnya sehingga kamu tidak akan mau mendengar apapun lainnya lagi. Itu artinya telinga kita diisolasi (diblokir). Ketika jiwa mendengar “ya ayyyuha an-nafs al-mutma”inna irji`ee ila rabbiki” Jika kamu mendengar itu, maka jiwamu akan segera meninggalkan ragamu. Jiwa mu akan segera pergi menjumpai cinta dari empat sifat itu. Begitulah caranya jiwa diambil dari raga pada waktu kematian seseorang, karena Allah membuatmu mendengar suara manis itu.

“Apakah kamu melihat seseorang yang mencegah qalbunya dari hasrat buruk? Sesungguhnya Aku akan membuat hidupnya bak dalam surga.” Jika qalbumu adalah surga, maka ketika kamu mendengar Tuhanmu memanggilmu dengan irji`i ila rabbikee, kamu mendengar pada saat itulah ukhrawi dan kamu akan mendengar sebuah nida khass min jamali mulkih.

Ketika orang shalih mengalami mushahada dari kerajaan langit seperti itu, maka dunya ini menjadi tidak ada harganya buat mereka. Qalbu terkait dengan akhira, dan nafs itu terkait dengan dunya dan spirit adalah qurba, adalah dengan melalui dialah kamu beribadah. Bahwa ruh mencapai kembali kepada muasalnya, kepada maqam//levels tertinggi dari hadhirat ilahiyya.

Ketika kamu mencapai level qurba, kedekatan, maka Allah akan memberimu  sebuah rahasia khusus (as-sirr) – maka tak ada lagi yang menghalangi antara kamu dengan Tuhan mu. Tidak seorangpun yang mengetahui apa yang terjadi antara kamu dengan Tuhanmu. Hanya Nabi s.a.w. dan mereka yang lebih tinggi (maqamnya), pembimbingmu, shaykh mu, yang membimbingmu kepada maqam itu, yang tahu rahasia itu.

Untuk abdi itu, rahasia itu adalah Hadhirat Ilahiyya dari Allah baginya. Pada saat itu dia benar benar beribadah kepada Tuhannya. Sebagaimana Nabi (s.a.w.) berkata atas nama Tuhannya, “Kesungguhan (sincerity) adalah rahasia di antara Aku Sendiri dengan abdi Ku. Ketika dia mencapai level rahasia yang demikian itu, tidak lagi ada sesuatu lainnya menyela di antaranya, tidak juga Nabi s.a.w. tidak juga malaikat.” Itu adalah antara Aku dan abdi Ku. Nabi (s.a.w.) berkata bahwa Allah bersabda, “Aku telah membagi shalat antara Aku Sendiri dan abdi Ku. Separuh untuk Ku, “iyyaka nabudu”. Separuh untuknya iyyaka nasta`een..Pada saat itu apapun permintaan abdi Ku, Aku akan berikan kepadanya. Wa li-abdi ma s’al. Apabila dia datang kepada Ku dengan menyempurnakan yang separuh (tugas bagian) nya, maka Aku akan memberikan separuh bagiannya yang dari Aku.

Apa yang telah kamu perbuat? Kamu mendekati Tuhanmu setengah jalan, dan Dia mendekati kamu lebih dari separuh. Ketika kamu bilang, “Engkau saja yang kami sembah”, maka Dia menjawab kepada “Iyyaka nasta`een” separuh al fatihah yang kamu gunakan sebagai sebuah pendekatan kepada Allah. Dan Nabi s.a.w. atas nama Tuhannya mengatakan, “ketika seorang abdi mendekati Ku sehasta …”

Apabila kamu diambil dari kegelapan menuju cahaya, diambil dari kendali ego, dan kini Dia mengambilmu keluar dari kesengsaraan perhambaan kepada ego, kepada pencerahan perhambaan  kepada Tuhan. Dia akan mengambil kamu dari kegelapan dunya ini dan hasrat buruk, kepada yang dicari oleh qalbu, karena qalbu selalu ukhrawi (surgawi). Pada saat itu ruh akan meninggalkan segalanya selain Allah (ma siwa allah), dan akan menyambungkan dirinya kepada Ke Esa an Tuhannya. Dengan mengakui ke-Esa-an mutlak, itulah visi dari tawhid yang sesungguhnya, benar benar muwahhid. Ketika kamu mencapai pintu (bukaan) surat al-fatihah yang sesungguhnya, maka Dia akan menyambungkan kita dengan cahaya Ke Esaan Nya dan Dia akan membuka bagi kita visi dari ke Esa an Nya, wahdaniyyat. Pada saat itu fajar diri-tenang (nafs muthmainah) akan muncul dan langit dan surga qalbu dan tahta ruhaniah dan singgasana dari rahasia akan dicerahkan oleh “nuri rabbiha” dan semua mereka akan berserah-diri dan menerima iman kepada Tuhan mereka pada saat itu, ketika visi itu dibuka, dan segeralah mereka memasuki level tertinggi dari iman, al-ihsan an tabud allah ka-annaka taraah,.. dan mereka akan mengingkari ego mereka, hasrat mereka pada diri-buruk dan shaytan. Dan mereka akan memegang teguh tali Allah dan mereka akan bersama sama semua orang shalih, saling berpegang erat dan menjadi seperti satu, dan itulah sebabnya dikatakan, “iyyaka nabud wa iyyak nasta`een”: karena semua yang kepada mereka visi itu terbuka, telah menjadi satu, untuk alasan itulah kalimat itu dalam bentuk jamak. Mereka banyak namun mereka semua bersuara satu.

Apabila awliya berdoa/shalat, mereka shalat pada bayt al-mamur. Ketika Nabi (s.a.w.) shalat dalam al-isra, mereka shalat bersama, mereka semua berbeda dan mereka semua adalah satu, karena qalbu mereka menyatu. Nabi s.a.w. adalah pemimpin mereka.Al-ulama warithat al-anbiya. Itu artinya para orang shalih adalah pewaris (ahli waris) Nabi s.a.w. artinya para orang shalih mewarisi Nabi s.a.w.. Allah bersabda, in kuntum tuhiboon allah…. Mereka akan mengikuti Nabi s.a.w. dan qalbu mereka adalah satu. Mereka memiliki sebuah shalat dimana mereka shalat bersama, dan pada saat itu mereka berkata dengan satu suara., Wahai Tuhan kami, kami menyembah Engkau dan kami mencari pertolonganmu, tunjuki kami jalan yang lurus. Ketika mereka mengatakan itu dalam satu suara dan (padahal) mereka banyak, apa yang kamu pikir akan diberikan Allah kepada mereka? Apakah sirat al-mustaqeem – itu adalah surga dan hadhirat ilahiyya. Dia membuat mereka bergerak dalam jama’ah, padahal mereka masih di dunia ini.

Iyyaka nabudu memperlihatkan dalam satu suara, ke-Esa-an mutlak Allah. Itu adalah sesungguh sungguh tawhid pada saat itu. Kini kita berada dalam ke-Esa-an tiruan. Dalam talab al-`aun, Allah akan menjawab dan mendukung kita. Ihdina as-sirat… itu memiliki makna lain, pertahankan apa yang telah Engkau bukakan untuk kami dan jangan mengambilnya kembali dari pandangan kami.

Al-fatiha.

September 3, 2001, petang

Kita akan melanjutkan tafsir surat al-fatiha, yang telah kita selesaikan sampai tafsir iyyaka nabud wa iyyaka nastaeen. Surah ini yang membuat Nabi s.a.w. sangat bahagia ketika Allah menurunkan surah ini kepadanya. Sekali waktu dia s.a.w. duduk duduk bersama para shahabatnya mengamati caravan Abu Jahl yang datang ke Makkah al-mukarrama, membawa barang dagangan yang buanyaaak sekali itu dan dia s.a.w. berpikir betapa para shahabatnya sangat miskin dan laparnya mereka itu. Allah bersabda, “Wahai Nabi Ku, Aku telah memberimu sesuatu yang lebih (bagus dari seluruh dunia?), bersama 70,000 malaikat.

Dalam hamada dan bukharee dan kitab kitab sahih lainnya, dan ibn sa`eed ibn al-mu`alla berkata, “Saya sedang shalat dan Nabi s.a.w. memanggil saya dan saya tidak menjawab karena saya sedang shalat.” Dan Nabi (s.a.w.) berkata, “Ya Aba Sa`eed, mengapa kamu tidak menjawab panggilan saya?” Dia berkata, “Saya sedang dalam shalatku.” Nabi (s.a.w.) berkata, “Tidakkah kamu bereaksi ketika Allah dan Nabi s.a.w. memanggil mu” [8:??] Jawablah Allah dan Rasul Nya. Allah bukan hanya menyuruh untuk menjawab Allah ketika Dia memanggil kamu, namun Dia menambahkan juga  Nabi Nya. Maka bahkan ketika kamu dalam shalat, kamu harus menjawab Nabi s.a.w..

Dia memanggilku dan saya datang. Aku akan mengajarimu surah paling agung dalam al Quran sebelum kamu meninggalkan masjid.  Dan dia s.a.w. mengambil tanganku. Sebelum saya meninggalkan masjid, saya berkata, “Wahai Nabi s.a.w., engkau berkata akan mengajari saya surah teragung dalam al Quran. Apakah itu?\’ dan Nabi s.a.w. berkata, “bismillah ir-rahman ir-raheem, Alhamdulillah. Ini adalah 7 mathaani yang disebutkan dalam wal-quran il-`Adheem.

Jika kamu melihat pada al Fatiha, kamu melihat al Fatiha terdiri atas enam ayat.. Dan Ibn Abbas berkata, “bismillah ir-rahman ir-raheem” adalah satu di antara ayat al-Fatiha. Dan dikatakan dalam hadith lainnya, Abi bin K`ab meriwayatkan dan Abi Huraryra menyebutkannya, … dalam sebuah hadith yang panjang, yang akan aku berikan bagian akhirnya saja. Nabi (s.a.w.) berkata “Maukah kamu aku mengajarimu sebuah surah yang tidak pernah diungkapkan yang seperti itu dalam taurat, injeel dan zaboor, tidak juga dalam quran suci.” Mereka menjawab, “ya”. Dia berkata, “ itu tidak diungkapkan dalam taurat, injeel, zaboor dan dalam al Quran sebelum ini, bahwa tidak pernah diungkapkan yang seperti itu sebelumnya.”

XXX dalam musnad nya dan al-faryabi bahwa ibn Abbas berkata bahwa al Fatiha adalah sepertiga al Quran. Itulah sebabnya bila kamu membaca al Fatiha tiga kali itu adalah seperti kamu membaca seluruh al Quran. Ad-daylami dalam al-musna al-firdaus bahwa … Nabi s.a.w. berkata, tak seorangpun membaca surat al-fatiha dan ayat al-kursi,  (dalam) rumahnya, tidak satu matapun yang dengki (dari manusia dan jinn) akan mempengaruhinya.

Dan Malik dalam Muwatta dan Sufyan ibn al-Uyayna dan Bukhari dan Muslim dari Abi Hurayra, saya mendengar Nabi (s.a.w.) berkata, “Allah swt bersabda, ‘Aku telah membagi shalat abdi Ku antara Aku dan abdi Ku. Separuh untuk nya dan separuh untuk Ku. Separuh yang untuknya Aku berikan kepadanya. Abdi itu berkata, ‘alhamduilillahr rabbil alameen” Allah swt bersabda, “abdi Ku memuja Aku.” Kemudian kamu berkata “rabbil `alamaeen” – Dia berkata, Ar-rahman irraheem, dan Dia bersabda, “Abdi Ku memuja Ku.” Dan ketika dia membaca Maliki  yawmiddeen – abdi Ku mengagungkan Aku (majaddanee).” Iyyaka nabudu wa iyyaka nasta`een – ini adalah antara Aku dan abdi Ku. Bagian pertama adalah untuk Ku dan bagian kedua adalah untuk abdi Ku. Dan Aku memberikan apa yang dimintanya “ihdina as-sirat al- mustaqeem….mereka yang tidak tersesat.”

Ini artinya ketika Allah bersabda Aku memberikan sesuatu kepada abdi Ku, Dia tak akan mengambilnya kembali. Apakah kamu kira bahwa ketika kamu mencari bimbingan Allah, Dia akan menolakmu atau mengambilnya kembali? Ketika kamu bilang, “sirat alladheena an`amta alayhim ghayril maghdoobi `alayhim wa laa ad-daaleen. Kamu akan dihiasi dengan petunjuk itu …

Ibn Abbas berkata, bahwa yang pertama diturunkan Allah kepada Muhammad (s.a.w.) melalui Jibreel a.s. adalah membaca dengan bismilllah. Itu artinya mulailah dengan mengingat Allah. Ibn Abbas “isma al-`adham hua Allah” (ibn al-mardawayh seperti yang disebut dalam tafsir as-suyuti) Itulah sebabnya mengapa dhikr Naqshbandi adalah Allah. Ibn abi shayba dan bukhari dalam tafsir nya, bahwa Jabir mengatakan, bahwa asma teragung Allah adalah Allah. Dalam seluruh al Quran dari awal sampai akhir, Nama itu disebutkan sebelum Sifat Nya yang manapun. [hua –Allahu alladhee laa ilaha illa hua,…. Hua –Allahu… azeez ul-hakeem.”

Sebelum menyebut Sifat (asma ul husna), Dia bersabda, HU-Allah. Itu adalah nama yang meliputi/mencakup seluruh sifat dan karakteristik Nya. Iyyaka nabudu wa iyyaka nasta`een – satu bagian adalah untuk Allah dan separuh lagi adalah untuk abdi. Apa yang kamu minta” Tunjukkan saya jalan lurus. Dalam Bukhari, Ibn Abbas mengatakan, bahwa dia membaca ihdinas-sirat al-mustaqeem menggunakan “sin” bukannya “sad”.

Dalam makna yang demikian itu artinya memberi inspirasi kepada kita tentang agama, jalan yang benar, jalan yang adil (just), jalan yang haqq lawannya yang baatil. Tentang ini Ibn `Abbas menambahkan, as-sirat al-mustaqeem adalah al-Islam dalam keseluruhan. Disebutkan dalam (?)ibn Mas`ud berkata, bahwa jalan ini adalah jalan yang benar dan berpegang teguh padanya, al quran suci.  Setelah uraian ini, bahwa Islam adalah jalan Allah, jalan yang Allah kehendaki kita ikuti. Inna ad-deen ind-Allahi al-islam.

Ibn Abbas berkata, Allah bersabda, bahwa in kuntu tuhiboon Allah. Jalan sirat adalah mengikuti jalan Nabi (s.a.w.) Dan Allah bersabda, qad ja’akum min wa kitabin mubeen. Allah mengirimkan Nabi s.a.w. dan kemudian buku/kitab yang jelas. Seorang yang membawa cahaya kepada kemanusiaan adalah jalan yang benar, jalan yang hendaknya diikuti. [Abu Aliyya Sahaha qawlihi] Ibn Abbas berkata, bahwa sirat al-mustaqeem adalah Nabi (s.a.w.) dan dua orang shahabatnya (Abu Bakr ® dan `Umar ®).

Bimbinglah kami dengan hadiah itu. Dari sejak hari Allah mengajarkan al Quran, dalam Hari Perjanjian, ketika Dia bersabda, ‘Bukankah Aku Tuhan mu?’ dari sejak hari itu kami selalu memohon ‘berikan kami Muhammad Wahai Tuhan kami.’ Dalam riwayat lainnya dikatakan, “sirat al-mustaqeem adalah Nabi dan kedua orang Shahabatnya” dan kami bertanya kepada al-Hassan dan dia menegaskannya dengan mengatakannya  “sadaqa Abu Aliya wa rasakh” Itu ada dalam ad-durr al-manthur.

Itulah yang diperintahkan Allah untuk kita mohonkan dalam surat al-fatiha. Dia perintahkan kita untuk mengatakan, “Pertolongan Mu kami mohonkan.” Apakah pertolongan Ku kepada mu – itu adalah Muhammad(s.a.w.). Jalan mereka yang kepada mereka Engkau berikan nikmat. Kepada siapa Allah telah memberikan nikmat Nya? Kepada ummat Muhammad. Dialah nikmat itu – itu adalah karena  Muhammad, bukan karena seseorang lainnya. Ghayr il-maghdoobi alayhim wa la ad-daaleen. Jadi sirat (ayat) alladheena ana`mta alayhim – hadiah bagi kemanusiaan adalah Muhammad – bersama Muhammad kami akan berada di antara mereka yang Engkau telah berikan karunia (nikmat) Mu. Dan ibn abi hatim dan … mereka yang Dia berikan nikmat Nya adalah para malaikat, nabiyyin, siddiqeen, shuhada dan mereka yang mematuhi Mu dan memuja Mu.

Sept.6, 2001

Kita akan mencoba untuk membungkus/menyelesaikan penjelasan tentang al-Fatiha dalam sessi ini. Dalam sessi yang lalu kami menjelaskan makna “sirat alladheena an`amta alayhim…\ menurut banyak tafsir yang berbeda, itu dibaca dengan “sad”, dengan “sin” dan dengan “zein” dalam dialect berbeda beda dari al Quran. Haakim and adhd-dhahabi sahah, bahwa Abu Hurayrah meriwayatkan bahwa Nabi (s.a.w.) membaca ihdinas – sirat al-mustaqeem dengan Sad. Menurut tarikh al-bukhari menurut … Nabi s.a.w. membaca itu dengan “sin” Dan menurut Hamza, dia membaca itu dengan zany.

Ibn `Abbas berkata, As-sirat al-mustaqeem hua rasulullah wa sahibayh.. As-sirat al-mustaqeem juga berarti al-Islam. Itu adalah agama Allah. Inna ad-deen inda-Allah al-islam. Itu adalah jalan yang lurus, itu adalah jalan yang benar, jalan kejujuran yang Nabi s.a.w. datang dengan nya (kejujuran itu). Dan dalam ungkapan “ihdina” itu artinya kami memohon” – Engkaulah yang kami mengabdi. Dan kami jelaskan bahwa kita dapat datang ke pintu Nya melalui pemujaan/pengabdian kepada Nya. Dan kita datang untuk memohon pertolongan Nya. Dan Dia bertanya apa yang kamu minta.

Allah meminta kita untuk menegaskan permohonan kita bahwa Dia membimbing kita. Membimbing kita pada apa? Ketika kita berkata Ya Rabbi, lalu membaca al Fatihah, memohon Dia untuk membimbing kita. Separuh al Fatiha yang itu adalah untuk abdi, sebagaimana diriwayatkan dalam hadith. Membimbing kita kepada apa. Kepada sirat al-mustaqeem. Itu artinya seimbangnya setiap amal, seimbangnya setiap amal ragawi (physical)mu, seimbangnya setiap amal spiritualmu, seimbangnya kesehatanmu, seimbangnya kekayaanmu. Jika kamu memiliki uang, kamu tidak boleh memboroskannya, atau itu akan menyimpang dari jalan yang benar. Maka kamu yashuz, menyimpang. Setiap tetes darah dalam tubuhmu memiliki sebuah sirat. Setiap tetes memiliki sebuah aliran yang harus dialirkan, itu tidak dapat pergi ke tempat yang lain lagi. Darah itu harus pergi kemana dia ditetapkan dan jika tidak, kamu mempunyai sebuah masalah aliran dalam urat nadi dan urat kapiler. Setiap kapiler memiliki sebuah sirat di dalamnya dimana darah itu harus mengalir. Jika dia berhenti, maka kamu mendapatkan darah tersumbat. Perhatikan pada susunan syaraf, perhatikan pada otak. Jika jalan yang manapun itu tersumbat itu menyebabkan sebuah aneurism, maka tidak terdapat lagi oxygen dan akan terjadi kerusakan, kamu akan koma, kamu akan masuk kegelapan, sebuah mala petaka.

Jadi itu artinya bahwa jalanmu hendaknya harus selalu terbuka. Bila (jalan)  kamu tersumbat, maka kamu memiliki sebuah masalah. Itu artinya setiap karya (`amal) yang kamu kerjakan, jika itu tidak membuka jalan untuk istiqamat, maka setiap sumbatan, setiap dosa, setiap penyimpangan, maka kamu melihat sebuah hambatan di hadapan mu dan kamu jatuh. Itulah sebabnya sirat al mustaqeem adalah setiap amal yang kamu kerjakan, itu memiliki sebuah sirat. Itu bukan hanya jembatan melintasi neraka menuju surga, sebagaimana banyak orang mengatakannya. Apakah kamu mengejakan kegiatan itu dengan kehendak (iradah?) Allah atau dengan keinginan shaytan. Apakah kamu mengerjakan dengan jalan kepatuhan murni atau dengan jalan ego. Setiap gigitan yang kamu makan, apakah itu dimakan dengan jalan benar, menyebut bismillah, kamu mengunyahnya dan menelannya dan mengatakan alhamdulillah. Apakah kamu membiarkan itu terjadi atau tidak? Jika tidak, maka kamu bermasalah. Karena ketika kamu duduk dan makan, adalah ketika kamu duduk dan mengucapkan bismillah untuk setiap gigitan dan alhamdulillah untuk setiap yang ditelan, pada saat itulah kamu tidak ditulis dalam dosa apapun karena dalam hal ini setiap gigitan adalah untuk Allah semata.

Ihdinas-sirat.. artinya ath-thibat, taat asas/tetap (constancy), dalam mengikuti agama Allah, ibada yang sesungguhnya, dan untuk memohon pertolongan Nya untuk tetap menjadikan kita pada jalan yang benar. Karena sirat al-mustaqeem, ketika kamu mengatakan ihdina.. hari ini dengan karya / amal mu memasuki surga, ketika kamu melakukan amal baik. Besok jika kamu meninggal kamu mungkin gagal dan (akan) dihukum. Itu artinya Wahai Allah tetapkanlah hidaya Mu untuk kami sampai ajal menjemput kami. Jangan biarkan kami melakukan amal baik satu hari dan amal buruk hari lainnya. Tetapkanlah kami mantap pada jalan kebenaran sampai ajal menjemput kami.

Itulah sebabnya ucapkanlah doa Nabi Yusuf a.s. “tawafanee musliman” untuk mencapai akhir sebagai seorang Muslim. Kamu tak dapat (tak boleh) melintasi sirat al-mustaqqeem hanya sampai di tengah tengah. Kamu harus mencapai akhir itu. Tetaplah bertahan dari sejak hari pertama sampai akhirnya pada jalan/jalur yang benar. Bila kamu membaca itu dengan niat seperti itu dalam pikiranmu, kamu akan diberi busana dengan tajalli itu setiap kali kamu membacanya. Itu artinya pada Hari Pengadilan kamu akan langsung  berada di ujung jembatan itu. Itulah sebabnya para Imam Besar meniru para shahabat yang meniru Nabi s.a.w. membaca al Fatiha untuk segala sesuatu. Dan itulah sebabnya Nabi s.a.w. mengatakan bahwa al Fatiha adalah untuk apapun, dia dibaca. Itulah sebabnya kita membaca al Fatiha sebelum kita membaca doa dan sesudah kita berdoa kita membaca al Fatiha. Itu adalah (semacam) pembungkus doa itu. Itu adalah seperti sebuah bungkus untuk paket itu, sehingga itu tak dapat dibuka dan dibuang. Kalau tidak begitu itu akan menjadi haba’in manthura.

Apa yang dikatakan sahabat : tawafana muslimeen dan sahaba mengatakan tawafana ma` al-abrar. Semua mereka memohon untuk tetap tinggal pada jalan kesempurnaan dan tidak melenceng darinya bahkan sesaatpun. [ la takilnee ila nafsi tarfat `aynin wa laa `aqal min dhalik]

Ketika kamu mulai menyeberang dari satu pantai ke pantai lainnya, menyeberangi jembatan itu, kamu akan mulai melihat samudera ilmu tentang Nama dan Sifat sempurna Allah. Ketika kamu menyeberang, kamu akan diberi busana dalam 99 asma ul husna sempurna Allah. Itulah sebabnya mengapa para awliya ketika mereka mencapai ayat ke 6 Surat al-Fatiha, mereka mulai berbusana dengan tajalli itu. Mengapa? Karena itu berbunyi, sirat alladheena an`amta alayhim.. siapakah mereka itu? an-nabiyyin was-siddiqeen …saliheen. Apa yang terjadi kepada orang orang ini dalam kehidupan mereka? Dia tidak berkata bimbinglah kami kepada jalan kesukaran, konflik, masalah. Dia menyingkat dalam (bentuk) nama nabiyyin, bukankah para nabiyyin juga mengalami konflik, kesukaran, …? Mereka disiksa oleh kaum mereka sendiri. Sejak mulai sayyidina Adam, sayyidina Nuh, sayyidina Salih, sayyidina Hud, sayyidina Musa, sayyidina Dawud,… sampai kepada sayyidina Muhammad s.a.w.

Mereka terus menjalani jalan kesukaran, membawa beban dan kesukaran ummat mereka. Siddiqeen membawa beban kaum mereka. Shuhada meninggal fee sabeel allah. Saliheen membawa beban komunitasnya ketika mereka bicara buruk di belakangnya, mencederai nya. An`amta alayhim artinya mereka mengusung/menanggungnya. Cara mereka menanggung bebanmu itu memberikan mereka barakah Mu (The way they went through you bestow on them your grace?). Hendaknya kamu tahu bahwa abdi Ku mengusung kesukaran (dari?) Ku. Janganlah mengetuk sebarang pintu, kecuali pintu Ku. Sebagaimana mereka mendatangi Ku, datanglah kamu kepada Ku. Sirat alladheena an`amta alayhim.

Orang orang terpilih ini, mereka yang terhormat dan ditinggikan, dan di atas mereka itu adalah manusia sempurna, Sayyidina Muhammad, mereka mengetahui jalan Allah swt. Karena mereka berada pada sirat almustaqeem. Mereka tidak pernah mendekati apa apa yang salah, selalu menjaga apa apa yang benar. Apa yang terjadi. Allah meninggikan mereka dalam mi’raj. In kuntum tuhiboonallah… ikuti jalan itu, dan kamu akan diangkat bukan dalam bentuk fisik mi’raj seperti saya (s.a.w.), namun dalam sebuah mi’[raj spiritual, dalam sebuah mi’raj dimana Allah membuka sebuah cahaya dalam jantung (qalbu) kita. Sirat al-mustaqeem adalah sesuatu yang harus diseberangi dalam suatu scone (?). Tidak seperti sebuah bacaan beo, itu memiliki makna yang dalam. Itu adalah sebuah cara hidup, di dunya dan di akhira. Itu adalah jalan sukar dan jalan cinta kepada Allah swt. Membaranya cinta, cinta itu yang setiap wali mencoba untuk mendapatkannya. Semakin seseorang mendekati api itu, cinta itu semakin berkobar. Semakin kamu dekat kepada Sang Pencinta, waktu terasa lebih panjang, karena waktu menjadi seperti dahr, sebuah  waktu yang besar sekali. Lihatlah bagaimana mereka menderita.

Lihatlah kepada sayyidina Ismail. Sayyidina Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih puteranya. Kamu menginginkan jalan yang benar – baiklah, sembelihlah  puteramu. Dia menginginkan jalan yang benar. Doa menerima perintah untuk menyembelih puteranya. Dia melihatnya sekali (dalam mimpi) dan tidak yakin. Dia melihatnya dua kali. Dia melihatnya tiga kali. Dia menerima. Pada usia 9 tahun, atau mungkin sekitar 13 tahun, pada umur itu dia telah mendapat bimbingan. Wahai ayahku kerjakan apa yang diperintahkan kepadamu. Dia tetap pada sirat almustaqeem. Dia melanjutkan, dia tidak meninggalkan (tidak menyimpang dari) nya.

Dia bilang saya siap. Jika kini kamu berbicara dengan anak lelakimu sepatah katapun yang dia tidak suka, dia menjawab dengan ratusan kata kepadamu. Dan (jika) kamu berkata sepatah kata lagi maka dia tidak akan kembali (kepadamu) lagi. Atau kamu berkata sepatah kata lagi maka dia akan datang dengan senjata dan datang untuk membunuhmu. Apa yang dikatakan sayyidina Ismail, “Wahai ayahku kerjakan apa yang diperintahkan kepadamu.” Sayyidina  Musa memohon dibimbing ke sirat almustaqeem. Allah mengirimkan sayyidina Khidr. Apapun yang dikerjakan sayyidina Khidr, dia menentangnya. Dia melubangi perahu, dia bertanya apa yang kamu kerjakan. Dia membunuh anak lelaki itu. Apa yang kamu kerjakan. Bukan yang kamu harapkan. Itu adalah jalan ku. Bukan yang kamu harapkan. Jalanku adalah yang tidak kamu harapkan.

Sayyidina Musa adalah di atas itu, tetapi Allah menghendaki untuk mendidik kita melalui riwayat nya, itulah sebabnya dicantumkan dalam al Quran Suci. Qala ara’ita in …bahra ajaba…. Wajada abdan min ibadina.

Dia menemui seorang abdi Ku, yang telah Kami anugerahi Rahmat Kami. Apakah Rahmat Nya itu – sirat al mustaqeem. Musa berkata, “dapatkah saya mengikuti kamu agar supaya kamu dapat mengajari kami apa yang telah kamu pelajari tentang hikmah” dia adalah perintis hikmah. Dia menunjukkan kepada kita bahwa kita harus berserah diri kepada kehendak Allah dan dapat mengharap yang tidak diharapkan.

Dia melubangi– dia dipertanyakan, dia membunuh seorang anak lelaki, dia dipertanyakan, dia membangun dinding, dia dipertanyakan. Lain halnya dengan Nabi s.a.w., tidak satupun pertanyaan (dia ajukan).Tidak satu kalipun  dalam keseluruhan al Quran (yang diturunkan kepada nya s.a.w.) Nabi mengajukan pertanyaan. Jika terjadi sesuatu, dia menunggu wahi (wahyu). Ketika datang wahi itu penuh dengan bimbingan/petunjuk. Dia tidak mengatakan sirat alladheena mereka yang telah dihukum dan disiksa dan dibunuh dan dirajam (dilempari batu). Tidak, dia berkata, mereka yang kepadanya  Engkau berikan Rahmat Mu. Namun makna aslinya adalah mereka yang dibunuh, disiksa, dan dihukum. Itu artinya jalan kesukaran melawan ego. Allah memberikan Rahmat Nya karena mereka berada dalam kesukaran.

Nabi s.a.w. berkata, “tidaklah pernah seorang nabi pun yang dicelakai ummatnya sebagaimana saya dicelakai ummatku.” Itu adalah sirat alladheeena ana`mta alayhim. Mereka berada dalam kesukaran dan bahaya. Jadi apa yang kamu harapkan dari masyarakat Muslim hari ini. Apakah kamu mengharapkan mereka dalam keadaan damai di dalam istananya, menghasilkan jutaan dollars, dalam limosine (mobil mewah), segala macam hiburan, menyenangi berbohong dan mereka ingin dibimbing kepada jalan lurus? Islam artinya berjuang di jalan Allah. Itu artinya berjuang melawan egonya. Itu bukan berarti keluar ke jalan dan bertempur.Bukan, yang itu adalah haram. Itu artinya janganlah duduk dalam istana dan keadaan nyaman. Tidak, lihat kepada mereka yang mengalami masalah dan kesukaran dan menolong mereka. Janganlah menggunakan kedudukanmu untuk menjadi lebih berkuasa dan lebih kaya, tetapi tolonglah. Itu (bermewah mewah) bukanlah jalannya Nabi s.a.w. dan para Shahabatnya. Sekarang mereka menjadi martyrs. Orang di seantero dunia terbunuh, tak seorangpun mengucapkan sepatah kata. Apakah itu sirat almustaqeem?

Dan mustaqeem dibagi dalam beberapa bagian : apapun yang dikatakannya, apapun yang dikerjakannya dan apapun keadaannya. Jadi pertama-tama kita mengatakan apa apa yang lurus, kemudian kita melakukan apa yang kita katakan, akhirnya kita menegaskannya dengan qalbu kita. Qalbu adalah (berasal?) dari kehidupan nanti. Lidah adalah awal dari sirat, di tengahnya adalah amal, dan akhirnya adalan haalan, ketika kamu mengalami sebuah mi’raj dalam qalbumu. Istiqama memiliki 3 bagian : qawlan (lidah), filan (perbuatan), haalan (hakikat). Beberapa mungkin mengerjakan sebagian jalan, qawl dan fil tanpa qalb. Beberapa mengerjakan dengan qawl (dengan lidah) dan fil (dengan perbuatan)  dan itupun masih dalam taraf / level pertama.

Sebuah contoh dari hal ini adalah seseorang yang telah belajar bagaimana shalat dengan baik dan mengajari orang lain bagaimana melakukan itu. Orang itu berusaha sebaik mungkin melalui lidahnya, menyatakan apa yang telah dia pelajari kepada orang lain. Itu artinya mengerjakan sebaik mungkin secara langsung dengan lidahnya. Ketika seseorang mengajari kamu shalat dan seorang (lain) memanggilmu ketika kamu sedang shalat, kamu tinggalkan shalat itu untuk berbicara dengan orang yang memanggilmu itu. Itu adalah untuk kasus panggilan oleh Nabi (s.a.w.) – “fastajeebu lillahi wa rasulihi” karena perintah ini hanyalah untuk Nabi s.a.w. dalam al Qur’an. Jadi kamu sedang shalat, kamu capat cepat menyelesaikan ketika mendengar tilpun berdering. Siapa yang lebih  baik : berbicara kepada Allah atau kepada sesamamu sendiri? Kadang kadang kamu mendengarkan mesin penjawab (di pesawat tilpunmu) seseorang bercakap dan kamu menghentikan shalatmu dan pergi untuk menjawabnya. Maka kamu saat itu jatuh (dari jembatan siratal mustaqeem) ke dalam neraka.

Seseorang datang dan tahu sangat baik bagaimana shalat dan mengajari (shalat) kamu dengan sangat baik. Dia menjaga sirat al-qawli. Maka ketika saat dhuhr datang. Kamu pergi dan mangambil wudu dengan sebaik baiknya dan shalat dengan adab yang sempurna. Dia akan mendapat manfaat dari qawl dan fil kamu. Bila dia juga melakukan itu semua dia akan mendapat keuntungan ganda. Jika dia tidak shalat kamu mendapat hadiah (ajr) dari al-qawl. Jika dia melakukannya dia berada di tengah jembatan. Lahu ajrayn.

Dia menyeberangi jembatan itu. Kemudian jika mereka berdua melakukan shalat, dia yang mengajarkannya dan dia yang belajar itu, si pengajar mendapat hadiah dari mengajar dan melakukannya. Jika kemudian orang itu menjadi focus ke shalatnya dan mulai focus pada Allah dan menjaga pikiran bahwa Allah selalu mengawasi dia pada saat itu dia akan mencapai ujung lain (jembatan itu), dalam qawl, fil dan qalb atau hal. Dia  berkata, “bimbinglah kami ke jalan lurus, dan kemudian mengulanginya lagi, sirat alladheena an ‘amta alayhim. Itu artinya terdapat dua sirats. Satu antara abdi dan Tuhannya dan satu antara Allah dan abdi Nya.

Jalan antara abdi dan Tuhan nya, adalah seperti sudah kami sebutkan, penuh dengan hambatan dan kesukaran. Allah menghendaki melihat kamu akan tetap mantap patuh atau tidak, akankah kamu menjaga taat asas atau berhenti. Jadi itu penuh dengan hambatan yang menghadang kamu. Jika kamu dapat mencapai dan menghancurkan shaytan maka kamu … karena shaytan berkata, “la aq`adanak as-sirat al-mustaqeem’ aku akan tetap menentang mereka dan mencegah mereka mencapai jalan lurus itu. Meletakkan hambatan antara abdi dengan Allah.

Jalan antara Allah dan abdi Nya adalah sebuah jalan keselamatan. Pada saat itu Allah akan mengangkatmu dan membawa kamu kepada kedekatan. Jalan itu tidak memiliki hambatan. Sirat alladheena anamta alayhim –jalan mereka yang kepada mereka Dia menganugerahkan Rahmat /Barakah Nya. Pada saat itu Dia akan mengangkatmu dari jalan kesukaran, (karena) melihat betapa  keras  kamu berpegang kepada jalan itu, meskipun ada semua hambatan itu, dan menghadiahkan kepada kamu jalan kemudahan dan kesempurnaan.

Alladheena ana`mat alayhim min an-nabiyyin

Jalan ini ya dhahir ya bathin. Seperti mengirim utusan, mengirim risalah, mengikuti sunna dan menghindari bid’a, meninggalkan yang dilarang dan melakukan yang halal. Atau itu adalah kemurahan sisi bathin (dalam) dalam jalan ini, sirat al-mustaqeem apa yang Allah telah memberi kehormatan kepada ruh dan spiritmu. Apa yang diberikan Allah kepada ruh dan spirit mereka, bukan kepada raga mereka dan bentuk fisik mereka. Itu adalah penyerahan barakah, ketika dia mengurung (mewadahi?) para spirit suci (tak berdosa) itu (when he crated them innocent spirits). Apa yang Dia berikan kepada mereka itu adalah sisi dalam (bathin) mereka, sisi yang tidak nampak. Itu disebutkan dalam hadith, Allah mengurung ciptaan dalam kegelapan, kemudian Dia siramkan kepada mereka dari cahaya Nya, dan barang siapa terkena siraman cahaya itu akan terbimbing dan barang siapa tidak mendapat siraman cahaya, (akan) menyimpang. Maka pembukaan jalan itu, pintu itu adalah cahaya yang menyentuh mu pada saat kamu masih dalam alam ruh, ketika Dia menyiram mereka dengan cahaya itu. Itu adalah pintu pertama sirat al-mustaqeem. Itulah sebabnya Muslims menemukan diri mereka berada pada sirat itu, karena mereka mengikuti sunna Nabi s.a.w..

Orang beriman dengan jalan cahaya yang disiramkan pada mereka dan mengenai diri mereka, mereka mencoba untuk menampakkan (visualize) Dia  yang menyiram mereka dengan cahaya itu. Cahaya itu adalah sirat al-mustaqeem yang menghubungkan kamu langsung dengan Dia, yang menyiramimu dengan cahaya al bahr al qudra. Inna lillahi wa inna ilayhi rajiun Melalui cahaya itu mereka melihat asal usul mereka. Dan mereka menunggu al ghayth, pertolongan dan menunggu dukungan. Sirat alladheena an`amta layhim min an-0nabiyyin

Ya Allah tetapkanlah kami dalam jalan itu, bukan jalan mereka yang bagiannya adalah laknat dan mereka yang sesat. Janganlah menaruh kami bersama mereka yang sesat – mereka adalah orang tak beriman. Mereka yang sesat dan menyimpang. Mereka yang tidak mengikuti jalan Allah swt dan sungguh sungguh tersesat.

Surat al-fatiha 25 kata 123 huruf.

Penjelasan lain menyatakan 27 kata dan 142 huruf.

Dengan menambahkan basmala kepada nya.


[1] version lainnya yakni: inni astashfi`u bika `ala rabbi fi raddi basari – saya mencari syafa’atmu kepada Tuhanku untuk pulihnya penglihatan saya.

[2] Diriwayatkan oleh Ahmad (4:138 #17246-17247), Tirmidhi (hasan sahih gharib — Da`awat Ch. 119), Ibn Majah (Book of Iqamat al-salat wa al-sunnat, Ch. on Salat al-hajat #1385), Nasa’i (`Amal al-yawm wa al-laylat p. 417-418 #658-660), al-Hakim (1:313, 1:526), Tabarani in al-Kabir, and rigorously authenticated as sound (sahih) by nearly fifteen hadith masters including Ibn Hajar, Dhahabi, Shawkani, and Ibn Taymiyya.

About kekji

i am nothing and will stay that way. i live only to serve Allah SWT
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s